Skip to main content

Sejarah Kerajaan Safawi di Persia

Sejarah Kerajaan Safawi di Persia

A. Terbentuknya Kerajaan Safawi 

Kerajaan Safawi terdiri secara resmi di Persia pada tahun 1501 M /970 H, tatkala Ismail memperoklamasikan diri sebagai Raja atau Syah di Tabriz. Namun,  event sejarah yang penting ini tidaklah berdiri sendiri. Peristiwa tersebut berkaitan dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya dalam rentang waktu yang cukup panjang, yaitu kurang lebih dua abad. Waktu yang hampir sama dengan usia kerajaan Safawi sendiri. Selama itu, cikal bakal Safawi tumbuh lambat klaun, tetapi pasti menuju zaman yang penuh dengan muatan histories yang sangat penting.
Nama kerajaan Safawi berasal dari kata Shafi, yaitu bagian dari nama Shafi al-Din Ishak al-Ardabily. Shafi al-Din al-Ardabily lahir pada tahun 1252 M/650 H, enam tahun sebelum Hulagu Khan menghancurkan Baghdad dan mengakhiri Dinasti Abbasiyah. Ia lahir dikota Ardabil, sebuah kota paling timur dari Azerbaijan. Sejak beliau ia sudah menggemari amalan dan keagamaan dan kehidupan sufistik.[4]

Hasrat yang besar untuk menekuni dunia tasawuf mendorongnya untuk mencari seorang Pir (pemimpin spiritual) di daerah Syiraz, karena tidak seorang pun Pir setempat yang memuaskan kebutuhan spiritualnya. Ketika tiba di Syiraz, ia tidak menemukan Pir yang ia cari. kemudian ia menuju ke jalan untuk berguru pada pimpinan aliran sufi setempat yang bernama Syekh Zahid al-Jilani. Kemudian ia menikahi putri Syekh Zahid. Setelah Syekh Zahid meninggal, ia menggantikan posisi gurunya sebagai pimpinan kelompok Zahidiyah. Ketika Shafi al-Din menggantikan posisi Syekh Zahid, tarekat ia pimpin lebih dikenal dengan tarekat Safawiyah dan berpusat di Ardabil.[5] Sejak Shafi al-Din mulai memimpin tarekat Safawiyah pada tahun 1301 M sampai Syekh Ismail1 memperoklamasikan berdirinya kerajaan Safawi pada tahun 1501 M, telah banyak pengalaman keluarga Safawi dalam perjuangan menegakkan cita-cita selama dua abad itu. Paling tidak ada dua tahap perjuangan yang mereka lalui. Pertama, sebagai gerakan keagamaan (cultural) dan kedua, sebagai gerakan politik (structural).

Selama masa 1301-1447 M (700-850 H ) gerakan Safawi masih murni sebagai gerakan keagamaan dengan tarekat Safawiyah sebagai sarananya. Selama masa ini, Safawi mempunyai pengikut yang besar, tidak hanya di Persia tetapi juga sampai ke Syiria dan Anatilia. Mayoritas pengikutnya adalah suku-suku Turki yang dikenal dengan sebutan Turkman, yaitu suku Ustajlu, Rumlu, Shamlu, Dulgadir, Takkalu, Ashfar dan Qajar.

Pada pase pertama ini, gerakan Safawi tidak mencampuri masalah politik, sehingga dapat berjalan dengan lancar dan aman, baik pada masa Ikhsan maupun pada masa timur Lenk. Dalam kondisi politik yang suram saat itu, dapat dimengerti mengapa kehidupan tarekat sufi dapat tumbuh subur dan mendapat simpati masyarakat banyak. Umat umumnya hidup dalam suasana apatis dan pasrah melihat anarki politik yang berkecamuk. Hanya dengan kehidupan sufisme, mereka mendapat kekuatan mental. Melalui persaudaraan tarekat, mereka merasa aman dalam menyalin persaudaraan antar sesama muslim.

Selama pase ini berlangsung, gerakan Safawi mempunyai dua warna. Pertama bernuansa sunni, yakni pada masa pimpinan Shafi al-Din Ishak (1303-1344 M) dan anaknya Shadr al-Din Musa (1344-1399 M). Kedua, berubah menjadi Syiah pada masa pimpinan Khawaja Ali anak Shadr al-Din (1399-1427 M). Perubahan tersebut tanpaknya wajar saja terjadi karena mungkin bertambahnya pengikut Safawiyah dari kalangan Syiah sehingga pemimpinnya berusaha menyesuaikan diri dengan aliran mayoritas penduduknya.[6]

B Perubahan Gerakan Safawiyah 

Pada tahun 1447 M, Gerakan  Safawi memasuki tahap atau fase kedua, sebagai gerakan politik (structural). Junaid bin Ibrahim memimpin tarekat Safawiyah menjadi gerakan politik revolusioner. Gerakan Safawi ketika dipimpin dan dijadikan momentum yang tepat untuk berubah menjadi kekuatan politik dengan memanfaatkan kehancuran rezim Timuriyah dan komplik suku-suku Turki saat itu.ada dua kerajaan turki yang saat berkuasa, Kara Koyunlu yang berkuasa di bagian Timur  dan Ak Koyunlu yang berkuasa di bagian barat. Kara Koyunlu beraliran Syiah, sedangkan Ak Koyunlu beraliran Sunni.[7]

Ambisi politik Junaid telah membawa Safawi kedalam suatu konplik dengan penguasa temporal di Persia, yaitu Kara Koyunlu. Ia terpaksa menyingkir ke Diyar Bakr dibawa perlindungan Uzun Hasan, penguasa Ak Koyunlu. Secara teoritis dan logis, bahwa gerakan Safawiyah yang beraliran Syiah seharusnya lebih banyak kecocokan dengan Kara Koyunlu yang juga beraliran Syiah. Karena pada masa itu kekuatan politik yang dominan di Persia dan sebelah timur daerah fertile Crescent berada ditangan Kara Koyunlu, sehingga Safawiyah dan Ak Koyunlu melenyapkan sementara antipati keagamaan dalam suatu aliansi politik yang diperkuat dengan perkawinan antara Junaid dengan saudara perempuan Uzun Hasan.[8] Aliansi politik yang diperkuat kekerabatan ini di perkuat lagi oleh adanya perkawinan antara Haidar putra Junaid dengan putri Uzun Hasan sendiri.

Perubahan Safawi dari gerakan keagamaan kegerakan politik cukup menarik karena sebagai tarekat sufi yang lebih bersifat ukhrawi kemudian berorientasi duniawi yang profan. Faktor penyebab adanya perubahan tersebut ada pada ajaran tarekat itu sendiri, yaitu hubungan antara pimpinan tarekat dengan pengikut-pengikutnya. Pemimpin tarekat yang disebut mursyid mempunyai wakil yang disebut khalifah di daerah-daerah tertentu tempat pengikut-pengikutnya berada. Anggota tarekat harus tunduk secara mutlak kepada mursyid dan khalifah. Oleh karena itu, ikatan antara pemimpin dengan pengikutnya sangat kuat, sehingga ada semacam hirarki spiritual. Dalam tarekat Safawi, Pemimpin tarekat yang meninggal dunia selalu di gantikan oleh anaknya seperti dalam kepemimpinan dinasti. Ini menjadi modal dasar yang mendorong perubahan tersebut. Jika sang pemimpin seperti Junaid memiliki ambisi politik, maka para pengikutnya dapat disulap menjadi tentara yang fanatic dan mendukung ambisi pemimpinnya.[9]

Kemunculan ambisi politik Junaid dapat dikatakan sebagai dorongan semangat jihad yang ada pada dirinya. Ia adalah seorang mursyid yang pertama kali menekankan pentingnya jihad kepada para pengikutnya. Seruan jihad yang dikumandangkan Junaid dilakukan untuk menghadapi perlawanan umat Kristen di Georgia dan Trebizond. Selain itu melawan Negara-negara muslim yang ia kecam sebagai rezim-rezim kafir.[10]

Sebelum cita-cita Junaid untuk mendirikan pemerintahan sendiri terwujud, ia terbunuh oleh serangan penguasa Syiwan. Ia kemudian digantikan putranya Haidar. Haidar kemudian merekrut suku-suku pendukungnya menjadi kekuatan militer dan diberi nama Qizilasy, sebuah nama yang berasal dari nama baret merahnya yang khas dengan rumbai dua belas. Rumbai dua belas ini melambangkan dua belas Imam Syiah.[11] Simbol ini berpengaruh dalam menumbuhkan Fanatisme dan militansi para pengikut Syiah.

Pada tahun 1467 M, Ak Koyunlu menyerang kara Koyunlu untuk membantu memenuhi ambisi politik dan militer Safawiyah. Tetapi aliansi keduanya kemudian berantakan, ketika Ak Koyunlu kemudian menjadi pesaing gerakan Safawiyah yang dipimpin Haidar. Pada saat Haedar berusaha menyerang sircassia (kawasan barat laut pegunungan kaukasus) dan pasukan Sirwan (kawasan tenggara kaukasus). Ak Koyunlu membantu Syirwan dan akhirnya pasukan Haidar dapat dikalahkan, Sedangkan Haidar sendiri terbunuh. Semua anak dan Istri Haidar di tawan oleh ya’qub penguasa Ak Koyunlu selama empat setengah tahun, yaitu dari 1489 sampai 1493. Anak-anak Haidar dibebaskan oleh Rustum, seorang pangerang Ak Koyunlu dengan syarat Ali harus membantu Rustum melawan saudara sepupunya untuk menduduki tahta. Setelah mengalahkan musuh Rustum, Ali kembali ke Ardabil. Tetapi karena khawatir pengaruh Ali semakin hari semakin meluas, maka Rustum pada akhirnya membunuh Ali.

Gerakan Safawiyah selanutnya dipimpin Ismail yang menerima wasiat dari Ali untuk melanjutkan kepemimpinan Safawiyah. Pada tahun 1500 M, Ia menghimpun 7000 pengikutnya di Erzinjan menuju Azerbaijan. Selanjutnya ia menyerang Ak Koyunlu dalam pertempuran di Syarur dekat Nakhchivan. Inilah peperangan yang sangat menentukan bagi revolusi Syah. Akhirnya Ismail bersama pasukan Qisilbasy berhasil mengalahkan Ak Koyunlu. Pada tahun 1501 Ismail menakjubkan Tabriz, ibukota Ak Koyunlu. Di sanalah ia memperoklamasikan berdirinya kerajaan Safawi. Ia sendiri sebagai Syah pertama kerajaan Safawi.[12]

Sejak Kerajaan Safawi resmi berdiri, secara berturut-turut dipimpin oleh para raja sebagai berikut:
Ismail 1(1501-1524 M)
Tahmasp 1(1524-1576)
Ismail II (1576-1577 M)
Muhammad Khudabanda (1577-1587 M)
Abbas I (1588-1628 M)
Shafi Mirza (1628-1642 M)
Abbas II (1642-1667)
Sulaiman (1667-1694 M)
Husain (1694-1722 M)

B. Kemajuan yang Dicapai Kerajaan Safawi

Peran Kesejahtraan Kerajaan Safawi bagi peradaban Islam begitu besar. Hal ini dapat dilihat dari sisi kemajuan dan kejayaannya. Kendati demikian, masa kemajuan dan kerajaan Safawi tidak langsung terwujud pada saat kerajaan itu berdiri di bawa pemerintahan Ismail1 sebagai raja pertama (1501-1524 M). Kejayaan Safawi yang gemilang baru di capai pada masa pemerintahan Syah Abbas 1 (1587-1629 M) Raja yang kelima. Walaupun begitu, peran Ismail sebagai pendiri Safawi sangat besar sebagai peletak pondasi bagi kemajuan Safawi di kemudian hari. Ismail1 juga telah memberi corak yang khas bagi Safawi dengan menetapkan Syiah sebagai aliran agama Negara. Di samping itu ia telah mempersembahkan karya besar bagi negaranya berupa perluasan wilayah.

Selama sepuluh tahun pertama pemerintahannya, Ismail berhasil memperluas wilayah pemerintahan Safawi sampai mencakup seluruh wilayah Persia dan sebelah timur fertileCrescent. Semua ini diperolehnya dengan perjuangan dan pengorbanan serta keberanian yang besar. Pada tahun 1502 M, Ismail berhasil menguasai Shirwan, Azerbaijan dan Irak. Pada tahun berikutnya, ia menghancurkan sisa-sisa tentara Ak Koyunlu di Hamadzan. Selanjutnya ia menduduki propinsi Kaspia dari mazandaran dan Gurgan. Diyar Bakr ditaklukkan pada tahun 1505 M. Sedangkan Khurasania kuasai setelah terlibat pertempuran dengan Uzbek. Kemenangan beruntun ini merupakan sukses mewujudkan kerajaan Safawi  yang membentang dari Heart di timur sampai Diyar Bakr di barat.[13]  

Jadi dapat di kemukakan bahwa kehadiran kerajaan Safawi dan perannya di atas pentas sejarah umat Islam merupakan sumbangsi bagi peradaban Islam. Safawi tampil ketika dunia Islam dilanda keterpurukan pasca keruntuhan Bagdad akibat serangan bangsa Mongol. Dengan kemajuan dan kejayaan yang telah diraih, Safawi telah mengangkat umat Islam dari kejatuhan.

Masa pemerintahan Syiah Abbas 1 (996-1038/1588-1629) Dapat dikatakan puncak pada kejayaan Safaiyah. Kemajuan-kemajuan yang dicapai pada masa itu antara lain:

a. kemajuan dibidang politik
kemajuan dibidang politik disini adalah terwujudnya integritas wilayah negara yang luas yang dikawal oleh suatu angkatan bersenjata yang tangguh dan diatur oleh suatu pemerintahan yang kuat, serta mampu memainkan peran dalam peraturan politik internasional.[14]

Ketika Syah Abbas I naik tahta, kondisi kerajaan Safawi dalam keadaan lemah akibat peperangan dengan kerajaan Turki Usmani yang lebih kuat dan terjadi berkali-kali pada zaman pemerintahan Tahmasp I, Ismail II, hingga zaman Muhammad Khudabanda. Selain itu, di dalam negeri sering terjadi pertentangan antara kelompok-kelompok memperebutkan kekuasaan.[15] Maka dalam rangka memulihkan kekuatan kerajaan Safawi, Syah Abbas I melakukan dua langkah, pertama, membangun angkatan bersenjata kerajaan yang kuat, besar dan modern. Tentara Gizylbasy yang pernah menjadi tulang punggung kerajaan, menurut Syah tidak bisa diandalkan lagi untuk menopang citra politik Syah yang besar. Untuk itu perlu dibangun suatu angkatan bersenjata yang baru. Inti satuan militer ini direkrut dari bekas tawanan perang bangsa Georgia, Armenia dan Sircassia. Mereka diberi nama Ghulam. Mereka dibina dengan pendidikan militer yang militan dan dipersenjatai secara modern. Sebagai pimpinannya, Syah mengangkat Allahwardi Khan, salah seorang dari Ghulam.

Dalam membangun kekuatan militer Ghulam, Syah dibantu oleh dua orang asing berkebangsaan inggeris, yaitu Sir Anthony Sherley dan saudaranya Sir Rebort Sherley. Mereka mengajari tentara Safawi membuat meriam sebagai perlengkapan tentara modern Banuan pihak inggeris itu, oleh sebagian sejarawan di pandang sebagai upaya inggeris untuk melemahkan pengaruh Turki Usmani di Eropa yang menjadi musuh besar inggeris saat itu.[16] Dengan bantuan kedua orang inggeris tersebut, Safawi membangun kekuatan militernya, sehingga terbentuk beberapa resimen di antaranya, satu resimen pengawal sejumlah 3000 orang Ghulam, sebuah resimen tempur yang terdiri dari orang-orang Persia dengan kekuatan 12.000 prajurit. Saat itu kerajaan Safawi memiliki tentara sekitar 37000 orang prajurit.[17] Langkah kedua Syah Abbas I adalah mengadakan perjanjian damai dengan Turki Usmani. Dalam perjanjian tersebut, Safawi harus menyerahkan kepada Turki Usmani wilayah Azerbajian, dan Kurj (Georgia) serta sebagian wilayah Luristan. Termasuk dalam butir perjanjian, bahwa Syah harus menjamin penghentian penghinaan terhadap tiga khalifah pertama, yaitu Abu Bakar, Umar dan Usman pada setiap khutbah diseluruh wilayah kekuasaannya. Sebagai jaminan atas janji tersebut, Syah menyerahkan saudara sepupunya Haidar Mirza sebagai Sandra di Istambul. Sejak saat itu, Syah Abbas I dapat berkonsentasi memulihkan stabilitas keamanan dalam negeri dan membentengi wilayah kekuatannya dari serangan bangsa Uzbek yang sering kali menyerang Khurasan.[18] Setelah itu, Syah Abbas I mulai mengalihkan perhatiannya keluar dengan berusaha mengembalikan wilayah-wilayah kekuasaanya yang hilang. Pada tahun 1598 M ia merebut Heart, Merv dan Balkh. Setelah kekuatannya benar-benar terbina dan sholid, ia pun merusaha merebut kembali wilayah kekuasannya dari tangan Turki Usmani. Pada akhir kekuasaan Sultan Muhammad III, Ketika Turki Usmani terlibat perang dengan Australia, Syah Abbas melancarkan serangannya terhadap Turki Usmani sehingga berhasil merebut kembali Tabriz, Syirwan dan Baghdad. Selanjutnya pasukan Abbas I merebut Nakhchivan, Erivan, Ganja, Tiflis dan kepulauan Hurmuz yang menjadi pusat lalu lintas perdagangan maritim.[19]

Dengan keberhasilan membangun angkatan bersenjata yang tangguh, lalu memulikan stabilitas dalam negeri mengembalikan wilayah-wilayah kerajaan yang pernah direbut kerajaan lain selama pemerintahan raja-raja sebelumnya, maka Syah Abbas I berhasil membawa Safawi mencapai kemajuan di bidang politik.

b. Kemajuan di bidang ekonomi
Stabilitas politik kerajaan Safawi pada masa Syah Abbas I telah mendorong kemajuan di bidang ekonomi, terutama pada sector industri dan perdagangan. Untuk menunjang kekuatan militer yang memerlukan banyak dana, Syah Abbas I melakukan usaha besar di bidang  perdagangan. Ia memacu produksi sutera dan memasarkan produk tersebut melalui para pedagang yang berada dalam pengawasan Negara. Melalui para pedagang Armenia yang membawa produk tersebut ke Isfahan dan menjadikan mereka sebagai penengah antara sang Syah dan pelanggang asing, maka pihak kerajaan memperoleh kedudukan yang kuat di dalam perdagangan Iran. Abbas I juga mendirikan Sejumlah pabrik kerajaan untuk menghasilkan barang-barang mewah untuk keperluan kalangan kerajaan dan untuk keperluan perdagangan internasional. Pembuatan karpet yang semula merupakan kegiatan industri rumah tangga, di pusatkan pabrik-pabrik besar di Isfahan. Pembuatan sutera juga di ubah menjadi industri kerajaan yang menghasilkan beludru, kain damas, satin dan kain taf untuk di perdagangkan  ke Eropa. Kerajaan juga mengembangkan produksi keramik Cina yang khas di dasarkan pada seni porselin Cina. Untuk menunjang kelancaran kegiatan perdagangan, di seluruh penjuru Iran di bangun jalan-jalan  dan cavansaries (perkampungan dagang).[20]

c.Kemajuan di bidang fisik tata kota dan seni
Pembangunan besar-besaran dilakukan Syah Abbas I terhadap kota Isfahan, Sehingga ibu kota Safawi tersebut menjadi kota yang sangat indah. Di kota Isfahan didirikan bangunan-bangunan besar lagi indah seperti mesjid-mesjid, rumah-rumah sakit, sekolah-sekolah, jembatan raksasa diatas sungai Zende Rudd an istana megah yang di sebut Chihiro l Sutun atau Istana empat puluh tiang. Kota Isfahan juga di perindah dngan aman-taman wisata yang ditata secara apik yang dikenal dengan taman bunga empat penjuru.[21]  Kota Isfahan menunjukkan puncak pencapaian artistic periode Safawi. Isfahan merupakan Paris atau Washinton pada masanya sendiri. Taman-tamannya, perpustakannya, pavilion dan mesjid-mesjidnya membuat takjub para pelancong Eropa yang tidak pernah melihat hal serupa di negeri mereka sendiri. Orang Iran menyebutkan Nish Al-jahan, yaitu separo dunia, melihatnya berarti melihat separo dunia.

Dibangun disuatu tempat sekitar 1600 meter di atas permukaan laut di dataran Iran tengah dan dikelilingi pegunungan, Isfahan menjadi salah satu  dari kota-kota elegan di dunia.[22] Syah abbas I membangun kota baru tersebut mengitari Maydan Syah, yakni sebuah alun-alun yang sangat besar dengan luas sekitar 160x 500 meter. Alun-alun tersebut berfungsi sebagai pasar, tempat perayaan dan sebagai lapangan permainan polo. Ia dikelilingi oleh sederetan tokoh bertingkat dua dan sejumlah gedung utama pada setiap sisinya. Pada sisi bagian timur terdapat mesjid Syekh Lutfullah yang merupakan sebuah sebuah oratorium yang disediakan sebagai tempat peribadatan peribadi Syah. Pada sisi bagian selatan terdapat mesjid kerajaan. Pada sisi bagian barat berdiri Istana Ali Qapu yang merupakan gedung pusat pemerintahan. Pada sisi bagian utara dari Maydan berdiri bangunan monumental yang menjadi symbol bagi gerbang menuju bazaar kerajaan dan sejumlah pertokohan, caravansacies dan sejumlah perguruan. Dari Maydan, terdapat sebuah jalan raya yang disebut Chahar Bagh sepanjang empat kilometer, degan dihiyasi taman-taman di kedua sisanya. Chahar Bagh menghubungkan istana musim panas yang di tempat inilah sang penguasa memberikan saran-saran kepada duta besar dan mengadakan upacara resmi kenegaraan. Pada sisi lain dari raya ini terdapat tempat tinggal para pegawai istana dan para duta besar asing. Seluruh ansambel ini merupakan masterpiece bagi tata kota Timur Tengah.[23]

Ketika Syah  Abbas I  wafat, di Isfahan terdapat 162 mesjid, 48 perguruan tinggi, 1802 penginapan yang luas para tamu Khalifah dan 273 pemandian umum. Di bidang seni, kemajuan tampa begitu jelas dalam gaya arsitektur Persia pada bangunan-bangunannya, seperti terlihat pada mesjid Syah yang dibangun tahun 1611 M dan mesjid Syekh Luthfullah yang dibangun pada tahun 1603 M. Unsur seni lainnya terlihat pula dalam bentuk kerajinan tangan, keramik, karpet, permadani, pakaian, tenunan, tenbikar dan benda-benda seni lainnya. Adapun seni lukis sudah ada sejak zaman Ismail I dan Tahmasp I. Pada tahun 1510 sekolah lukis Timuriyah di pindahkan oleh Ismail I dari Herat ke Tabriz. Bagdad, seorang pelukis terbesar pada masa itu dilantik menjadi kepala perpustakaan Raja sebagai pembimbing sebuah warkshop yang menghasilkan sejumlah manuskrip yang tercerahkan. Syah Tahmasp juga seorang tokoh seniman besar yang menghasilkan pakaian jubah, hiasan dinding dan sutra serta sejumlah karya seni logam dan kramik. Pada masa itu terdapat sekolah seni lukis yang menerbitkan sebuah edisi Syah Nameh (buku tentang Raja-raja ) yang memuat lebih dari 250 lukisan. Ini adalah salah satu karya besar seni manuskrip Iran dan Islam yang tercerahkan. Sementara Syah Abbas I mengembangkan lukisan-lukisan tentang peperangan, pemandangan perburuan dan upacara kerajaan. Di atas segalanya, secara peribadi Syah Abbas I mendukung dan mempelopori kegiatan seni seperti mendirikan bengkel-bengkel kerja para seniman, sehingga mencipakan suatu iklim yang kondusif bagi perkembangan seni.bahkan kisah populer menyebutkan bahwa Syah Abbas I memegang lilin, semenara pelukis kaligrafi kesayangannya, Ali Reza bekerja.

Selain lukisan, kerajinan logam, tekstil, karpet dan kramik mencapai suatu penyempurnaan yang baru. Berbagai pencapaian para era ini paling jelas terlihat bahkan hingga masa sekarang dengan sebuah kunjungan singkat ke makam-makam dan mesjid-mesjid di Iran: ubinnya, kaligrafinya, warna-warna lukisannya dan simetris bangunan-bangunannya telah bertahan menghadapi ujian masa berabad-abad.[24]

d. Kemajuan di bidang pendidikan
Guna memperlancar sosialisasi dan memapankan ajaran Syiah, Syah Abbas I mendirikan lembaga-lembaga pendidikan Syiah. Banyak sekolah-sekolah dibangun di Isfahan, Masyad dn Siraj. Di antaranya adalah sekolah teologi, sekolah Khan di Siraj (Iran Tenggara) yang terkenal dengan seorang tokoh pengajarnya, yaitu Mula Shadra. Sekolah ini mendapat pengakuan dari para wisatawan asing dari Eropa yang menyaksikan langsung sebagai tempat kehidupan akademis komherensip dan sangat aktif.[25] Ini menunjukkan adanya perubahan besar dalaam proses pengembangan lembaga dan system pendidikan Syiah pada permulaan abad ke-17 di Iran, terutama di ibukota Isfahan. Sistem pendidikan yang di bangun oleh Syah Abbas I ini merupakan rintisan yang kelak menjadi model pada masa Dinasti Qajar yang telah melahirkan pusat kajian yang sangat penting di dunia Syiah.[26]

e. Kemajuan di bidang filsafat dan Ilmu pengetahuan
Pada masa Dinasti Safawi, filsaat dan ilmu pengetahuan dan bangkit kembali khususnya dikalangan orang-orang Persia yang berminat tinggi pada perkembangan kebudayaan. Perkembangan baru ini era kaitannya dengan aliran Syiah yang ditetapkan Dinasti Safawi sebagai aliran agama resmi Negara. Dalam Syiah dua belas ada dua golongan, yaitu Akhbari dan Ushuli. Mereka berbeda dalam memahami ajaran agama. Golongan Akhbari cenderung berpegang teguh pada hasil-hasil ijtihad pada mujtahid Syiah yang sudah mapan. Sedangkan golongan Ushuli lebih utamakan mengambil langsung dari sumber ajaran Islam, Alquran dan Hadis tanpa terikat oeh para mujtahid. Golongan Ushuli inilah yang paling berperan pada masa Safawi. Pertemuan kedua elemen kelompok inilah yang berperan pada terwujudnya perkembangan baru dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan yang kemudian melahirkan beberapa filosof dan ilmuwan.

Pada masa Safawi berkembang dua aliran filsafat. Pertama, aliran filsafat perifatetik sebagaimana yang dikemukakan oleh Aristoteles dan Al-farabi. Kedua, filsafat Isyragi yang dibawa oleh Suhrawardi  pada abad XII. Kedua aliran ini banyak dikembangkan di perguruan tinggi Isfahan dan Syiraz. Di bidang filsafat ini muncul beberapa nama filosof di antaranya, Mir Damad alias Muhammad Baqir Damad (wafat 1631 M) yang diaggap sebagai guru ketiga (mu’allim salis) sesudah Aristoteles dan Al-farabi. Selain dikenal sebagai filosof, ia juga adalah seorang teolog ahli sejarah serta seorang ilmuwan yang pernah mengadakan penelitian tentang kehidupan lebah. Tokoh filsafat lainnya adalah Mullah Shadraatau Shadr al-Din al-Syirazy. Ia adalah seorang dialektikus yang paling cakap di zamannya. Selain itu, Ia dianggap mempunyai kemampuan untuk mengambil jalan tengah antara filsafat perifatetik Ibnu Sina dengan filsafat esoteric Ibnu Arabi, sehingga karyanya dipandang monumental sebagai tingkat perjalanan agnostic yang sistematis dengan baju logika. Berkembangnya tipe filsafat semacam ini sesuai dengan minat besar mereka terhadap ilmu pengetahuan dan cara berfikir mendalam atau filsafat.[27]

Kemajuan yang dicapai oleh kerajaan Safawi pada masa pemerintahan Syah Abbas I di atas, menempatkan Syah  Abbas I sejajar dengan Sultan Akbar Agung dari Dinasti Mughal di India, Ratu EIisabeth I dari kerajaan inggeris, Sulaiman Agung dari Dinasti Turki Usmani dan Charles V dari Perancis.[28] Walaupun kemajuan  yang dicapai tidak setaraf dengan kemajuan Islam di masa klasik, kerajaan ini telah memberikan kontribusinya mengisi peradaban Islam melalui kemajuan-kemajuan di berbagai bidang, baik ekonomi, ilmu pengetahuan, seni dan filsafat.

C. Kemunduran Kerajaan Safawi

Setelah Syah Abbas wafat, ia digantikan oleh cucunya Syam Mirza yang diumumkan sebagai raja dengan gelar Syah Shafi pada tanggal 23 Jumadil Akhir 1038/17 Pebruari 1629. Masa pemerintahannya merupakan awal kemunduran pada masa pemerintahan Syah Shafi disebabkan oleh kebijakannya merubah administrasi pemerintahan dalam negeri atas saran wazirnya Saru Taqi. Selama ini pemerintahan daerah-daerah propinsi dibawa dominasi Qizilbasy, tetapi Karena ulah mereka yang enggan mengisi kas pemerintah pusat, maka Syah menetapkan pemerintahan propinsi-propinsi tersebut, terutama propinsi kaya seperti Fars langsung dibawa pemerintahan pusat.[29]

Hal yang sama masih terus berlangsung hingga masa pemerintahan selanjutnya, yaitu pemerintahan Syah Abbas II (1052-1077/1642-1666). Propinsi-propinsi yang selama ini dikuasai kelompok Qizilbasy, khususnya Khurasan, Qazvin, Azerbaijan, Yazd, Qirman, Gulan dan Mazandaraan semuanya diperintah langsung oeh Syah. Kebijakan ini  membawa akibat-akibat negatif bagi kerajaan sendiri. Kelompok Qizilbas, dilemahkan peran mereka dalam pemerintahan. Akibatnya ialah Negara-nagara kehilangan kekuatannya, baik pemerintahan maupun militer. Kelemahan dan kekuatan militer yang terdiri dari kelompok Qizilbasy dan para Ghulam tidak segera ditanggulangi. Kelompok Ghulam tidak memiliki kualitas tempur seperti yang dimiliki oleh kelompok Qizilbasy.

Setelah Syah Abbas II wafat, kemorosotan kerajaan semakin tak tertahan lagi. Hal ini disebabkan adanya campur tangan para harem dalam urusan politik, yaitu dalam pengangkatan seorang Syah. Telah menjadi kebiasaan sejak Ismail I dan Thahamasp menunjuk calon putra mahkota sebagai Gubernur di Khurasan. Calon putra mahkota tersebut ditempatkan dibawah asuhan seorang lala (pengasuh). Pangeran muda, calon putra mahkota itu mendapat pendidikan dan latihan untuk bekal menduduki singgasana kelak. Saudara-saudaranya yang lain juga diangkat sebagai Gubernur di propinsi yang berbeda  dengan diasuh oleh seorang lala serta mendapat perlakuan yang sama pula. Sistem ini sangat berbahaya karena seorang lala tidak jarang merencanakan pemberontakan terhadap ayah yang memerintah. Terjadilah intrik dan rivalitas antar pangeran untuk memperoleh kekuasaan. Karena para pangeran itu lahir dari ibu yang berbeda, maka terjadi pula intrik dan persaingan antara ibu-ibu pangeran tersebut yang di latar belakangi oleh ambisi masing-masing untuk memperoleh kekuasaan sebagai Syah. Hal itu terjadi pada penetapan Syah Sulaiman adalah melalui pertarungan antara wanita-wanita istana itu, Demikian pula halnya dengan Syah Husain.[30]

Pengganti Syah Abbas II adalah Syah Sulaiman (1070 H-1666 M-1106 H-1694 M). Seperti Syah Shafi, Syah Sulaiman bukan saja tidak cakap dalam masalah politik kenegaraan, tetapi juga perhatiannya sangat kecil terhadap pemerintahan dan kemasyarakatan. Ia lebih senang berhura-hura dengan para wanita dan mabuk-mabukan hingga kecanduan minuman keras. Kondisi ini menyebabkan munculnya gejala keruntuhan kerajaan Safawi. Kelemahan Syah Sulaiman memerintah dimanfaatkan kalangan ulama untuk memainkan peran politiknya. Gerakan politik ulama ini dimotori oleh Muhammad Baqir Majlisi yang menjadi Syekh al-Islam Isfahan pada 1098 H/1687 M dan Mullabasyi (pemimpin Mullah) pada 1106 H/1698 M.[31] selanjutnya Syah Sulaiman digantikan oleh Syah Husain (1694-1722). Ia juga lemah dan tidak cakap menjalankan pemerintahan. Ia malah menyerahkan urusan pemerintahan kepada kaum agamawan yang sangat fanatic Syiah, seperti Majelisi. Keputusan Syah Husain tersebut membuat pemerintah semakin kacau. Ulama fanatic Syiah semakin menekan kelompok sunni secara membabi buta. Demikian pula perlakuan yang diterima kelompok Sufi yang diintimidasi habis-habisan.[32]

Di antara sebab-sebab kemunduran kerajaan Safawi adalah sebagai berikut:
a. Pemimpin yang lemah dan tidak cakap dalam menjalankan roda pemerinahan. Kemorosotan kerajaan Safawi mulai teradi setelah Abbas I digantikan cucunya Syah Shafi yang lemah. Demikian pula Syah Sulaiman yang tidak cakap dalam urusan politik dan pemerintahan. Keadaan yang sama juga terjadi ketika Syah Husain mrenyerahkan urusan pemerintahan  kepada para ulama Syiah.
b. Dekadensi moral yang menimpa sebagian para pemimpin sehingga merusak wibawa penguasa, bahkan penguasa bejat tersebut bertindak kejam terhadap siapapun yang dicurigai. Syah Sulaiman adalah pecandu minuman keras dan sangat menyenangi kehidupan malam. Demikian juga Syah Husain.[33]
c. Perbuatan kekuasaan dalam pemerintahan yang melemahkan kerajaan. Peran para Harem acap kali mewarnai perbuatan kekuasaan tersebut. Seperti yang terjadi ketika penetapan Sulaiman  dan Husain menjadi Syah.[34]
d. Kelemahan angkatan bersenjata yang tidak dapat diatasi berakibat pula pada melemahnya sistem pertahanan kerajaan. Terjadi penurunan kualitas tempur angkatan bersenjata sejak wafatnya Syah Abbas I. Bahkan ketika Syah Husain berkuasa, ia tidak mempercayai kelompok Qisilbasy dan kelompok Ghulam dalam mengamankan negara.[35]
e. Penentangan ulama terhadap teori kesucian para raja melemahkan kepercayaan masyarakat pada penguasa. Menjelang pada abad ke-18 para ulama Syiah mulai menentang teori tentang hak suci para raja, suatu kongsep yang menyatakan bahwa Syah merupakan reinkarnasi Imam, bayangan tuhan di bumi. Hal ini berakibat melunturnya kepatuhan rakyat terhadap Syah.[36]
f. Fanatisme golongan Syiah berkuasa yang selalu mengintimidasi dan menyingkirkan kelompok sunni, memicu perlawanan dalam bentuk pemberontakan terhadap kerajaan. Semangat Syiah yang dibangkitkan dan dipertahankan oleh  kerajaan memeng tidak mengenal balas kasihan, sehingga Syiahisme justru mengikis vitalitas kehidupan masyarakat dan pemerintahan.[37]
g. Serangan silih berganti dari berbagai kerajaan seperti Turki Usmani dan Afganistan.[38]    

DAFTAR PUSTAKA

Ahmed, Akbar S., Discovering Islam, Making Sence of Muslim History and Society, di terjemahkan Nunding Ram dan Ramli Yaqub, Citra Muslim, Tinauan Sejarah dan Siosologi, Cet. I;Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama,1992.
.........................., From Samarkand to Stornoway: Living Islam, di terjemahkan  Pangestuningsih, Living Islam, Cet. I; Bandung: Penrbit Mizan,1997.
Azra, Azyumardi, dkk., Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005.
Brockelmann, Carl, Tarikh al-Syu’ub al-Islamiyyah, Cet. V; Beirut: Dar al-Ilm li al-Malayin,t.t.
Depag RI, Tim Penyusun Textbook Sejarah dan Kebudayaan Islam Dirjen Binbaga Islm, Sejarah dan Kebudayaan Islam jilid II, Ujung Pandang: IAIN Alauddin, 1983.
Karim M, Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Cet. I; Yokyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007.
Lapidus, Ira M., A History of Islamic Society, di terjemahkan Ghufron A. Mas’udi, Sejarah Sosial Ummat Islam, Bagian Kesatu dan Dua, Cet. II; Jakarta: PT. Raja Grafindo, Persada,2000.
Mughni, Syafiq A., Dinamika Intelektual Islam Pada Abad Kegelapan, Cet. I; Surabaya: lembaga opengkajian Agama dan Masyarakat, 2002.
Al-Syuti, Jalaluddin, Tarikh al-Khulafa’, Cet. I; Kairo: Dar al-Fajr li al-Turas,1999.
Thohir, Ajid, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, Cet. I; Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2004.
Nasution, Harun, Islam Ditinjau dari Beberapa Aspeknya Jilid I, Jakarta; Ul Press 1985.
Team Penyusun Kamus Pustaka dan Pengembangan bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. II; Jakarta: Balai Pustaka, 1989.
Bosworth C.E., et. al The Ensiklopedi Of Islam, Vol VII. Leiden New York; E.J. Brill, 1993.
Hassan, Ibrahim, Islamic History and Culture di terjemahkan oeh Djahdan Humam dengan judul : Sejarah dan Kebudayaan Islam, Yokyakarta: Kota Kembang, 1989.
Muhammadunnasser, Syed, Islam Its Consepts and History, di terjemahkan oleh Adang Affandi dengan judul Islam Konsepsi dan Sejahtranya, Bandung: Yokyakarta, 1991   
Sushtery, A.M.A., Outlines Of Islamic Culture, Vol I, Bangalore City The Bangalore Press, 1938.
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam Cet. IX; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999.
......................., Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Edisi I (Cet. XII; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persaa, 2001.
Ikram, S.M. , Muslim Civiliztion In India New York: Colunmbia University Press t.th.      


[4] Taufiq Abdullah dkk, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Ajaran (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, t,th), h 181  
[5] Tim Penyusun Textbook Sejarah dan Kebudayaan Islam dan Dirjen Binbaga Islam Depag RI, selanjutnya disebut Tim, Sejarah dan Kebudayaan Islam Jilid II  (Ujung Pandang: IAIN Alauddin, 1983), h.64
[6] Ajid op. cit.,169-170.
[7] Azyumardi Azra dkk, selanjutnya disebut Azyumardi, Ensiklopedi Islam JilidI III (Jakarta:PT.Ikhitiar Baru Van Hoeve,2005), h.101
[8] Op.cit.,h.65
[9] Op. cit.,h.171
[10] Lihat Syafiq A. Muqhni, Dnamika Intelektual Islam pada Abad Kegelapan  (Cet. I; Surabaya:Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat, 2002), h.19
[11] Carl Brockelmann, selanjutnya disebut Carl, Tarikh al-Syu’ub al-Islamiyah  (Beirut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin tt),h.495
[12] Op. cit.,h.66-67
[13] Asyumardi, Loc.cit.
[14] Ajid,op. ct.,h.174
[15] Badri yatim, Sejarah Peradaban Islam (Cet. IX; Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 1999), h.142
[16] Ajid,op cit.,h.175
[17]   Op. cit.,h. 75
[18] Carl,op cit.,h.503
[19] Badri, op. cit.,h. 143
[20] Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societas, di terjemahkan Ghubron A. Mas’ud Sejarah social Umat Islam (Cet. II;Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada, 2000), h.449
[21] Carl, loc.cit.
[22] Akbar S. Ahmed, From Samarkand to Stornoway: Living Islam, diterjemahkanPangestuningsi, Living Islam (Cet.I;Bandung: Penerbit Mizan, 1997), h. 130
[23] Ira, op. cit., h. 453
[24] Akbar S. Ahmed, loc. cit.
[25] Abd Karim, Sejarah Pemikiarn dan Peradaban Islam (Cet. I; Yokyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007), h.308   
[26] Azyumardi, op. cit., h. 103
[27] Lihat Ajid, op. cit., h.177-178., lihat juga Badri Yatim, op cit., h.144
[28] Abd Kadir, loc. cit
[29] Tim, op.cit., h. 78
[30] Tim, op. cit., h. 79
[31] Azyumardi, op. cit., h. 103  
[32] Carl, op. cit., h.506
[33] Ibid
[34] Tim, loc. ci.t
[35] Badri Yatim, op. cit., h.158
[36] Akbar S. Ahmed, Discovering Islam, Makin sence of muslim History and Society, di terjemahkan Nunding Ram dan Ramli Yakub, Citra muslim, Tinjauan Sejarah dan Sosologi (Cet.I; Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama, 1992),h. 77    
[37] Ibid, h. 78
[38] Badri Yatim, op.cit., h.157-158.
[39] Harun Nasution, Priode Sejarah Islam di bagi dalam tiga periode :a. Priode Klasik (kemajuan Islam, 650-1250 M), b. Periode Pertengahan (kemunduran Islam 1250-1800 M), c. Periode mederen 1800 M dan seterusnya, Lihat Harun Nasution, Islam ditinjau dari beberapa Aspeknya ilid I (Jakarta; UL Press1985), h. 84  
[40] Monachi adalah bentuk pemerintahan yang dikepalai oleh raja dengan memiliki ketentuan-ketentuan atau undang-undang dasar. Lihat team penyusun kamus pustaka dan pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet.II; Jakarta: Balai Pustaka,1989), h. 590  
[41] C.E. Bosworth et. Al The Ensiklopedi Of Islam, Vol VII (Leiden New York; E.J. Brill, 1993), h.313. Lihat pula, Fuad moh. Fachruddin, Perkembangan Kebudayaan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), h185-186
[42] Syed Muhammadunnaser, Islam its Consepts and History diterjemahkan oleh Adang  Affandi denan judul Islam konsepsi dan sejatranya (Bandung: Yokyakarta, 1991), h. 384 
[43] Ibid., h. 349-350
[44] Shushtery, Outlines Of Islamic Culture, Vol I (Bangalore City The Bangalore Press, 1938), h. 268
[45] Lihat  Ibid., h. 360
[46] Lihat   Ibid., h.362
[47] Lihat, Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada), h. 148
[48] Lihat, Iqtdar Husain Siddqy, Islam and Muslims Indonesia South Asia: Historical Perspective  (Delhi: Adam Publisher, 1987), h. 30. Lihat juga Harun Nasution, op. Cit., h.85
[49] Marshal G.S. Hodgson, The Venture of Islam, Vol III (Chicago: The University of  Chicago Press, 1974), h. 96, Lihat juga Tutik Nuria Erwin, Asia Selatan Dalam Sejarah  (Jakarta: Fak. Ekonomi UI, 1990), H. 40 
[50] Lihat, C.E. Bosworth, op.cit., h.240
[51] Lihat, Badri Yatim, op. cit., h. 150
[52] Lihat, Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam (Cet. I; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999), h. 695
[53] Lihat, Ibid.,
[54] Lihat, Ibid., h.696
[55] Lihat, Ibid.,
[56] Lihat, Ibid.,
[57] Taufik Abdullah dkk, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Ajaran op. cit., h. 299
[58] Ibid.
[59] Ibid., h. 300-301
[60] Lihat,Badri Yatim, op. cit., h.159
[61] S.M, Ikram, Muslim Civilistion in India (New York:Columbia University Press t.th), h. 255. 
[62] Badri Yatim, op.cit., h.162-163
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar