Home » » Penyebab Penyakit Kelamin dan Cara Mengatasinya

Penyebab Penyakit Kelamin dan Cara Mengatasinya

Penyebab Penyakit Kelamin dan Cara Mengatasinya

A. Penyebab Penyakit Kelamin

Penyakit kelamin disebabkan oleh empat hal berikut:

1.  Bakteri
Bakteri adalah suatu organisme yang jumlahnya paling banyak dan tersebar luas dibandingkan dengan organisme lainnya di bumi. Bakteri umumnya merupakan organisme uniseluler (bersel tunggal), prokariota/prokariot, tidak mengandung klorofil, serta berukuran mikroskopik (sangat kecil).
Bakteri berasal dari kata bahasa latin yaitu bacterium. Bakteri memiliki jumlah spesies mencapai ratusan ribu atau bahkan lebih. Mereka ada di mana-mana mulai dari di tanah, di air, di organisme lain, dan lain-lain juga berada di lingkungan yang ramah maupun yang ekstrim. Dalam tumbuh kembang bakteri baik melalui peningkatan jumlah maupun penambahan jumlah sel sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni seperti ph, suhu temperatur, kandungan garam, sumber nutrisi, zat kimia dan zat sisa metabolisme. Ciri-Ciri Bakteri :
a.     Umumnya tidak berklorofil
b.    Hidupnya bebas atau sebagai parasit / pathogen
c.     Bentuknya beraneka ragam
d.    Memiliki ukuran yang kecil rata-rata 1 s/d 5 mikron
e.     Tidak mempunyai membran inti sel / prokariot
f.     Kebanyakan Uniseluler (memiliki satu sel)
g.    Bakteri di lingkungan ekstrim dinding sel tidak mengandung peptidoglikan, sedangkan yang kosmopolit mengandung peptidoglikan

2.  Virus
Virus adalah parasit mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis. Virus bersifat parasit obligat, hal tersebut disebabkan karena virus hanya dapat bereproduksi di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan seluler untuk bereproduksi sendiri. Biasanya virus mengandung sejumlah kecil asam nukleat (DNA atau RNA, tetapi tidak kombinasi keduanya) yang diselubungi semacam bahan pelindung yang terdiri atas protein, lipid, glikoprotein, atau kombinasi ketiganya. Genom virus akan diekspresikan menjadi baik protein yang digunakan untuk memuat bahan genetik maupun protein yang dibutuhkan dalam daur hidupnya.
Istilah virus biasanya merujuk pada partikel-partikel yang menginfeksi sel-sel eukariota (organisme multisel dan banyak jenis organisme sel tunggal), sementara istilah bakteriofag atau fag digunakan untuk jenis yang menyerang jenis-jenis sel prokariota (bakteri dan organisme lain yang tidak berinti sel). Virus sering diperdebatkan statusnya sebagai makhluk hidup karena ia tidak dapat menjalankan fungsi biologisnya secara bebas jika tidak berada dalam sel inang.

3. Jamur
Fungi merupakan organisme eukariot heterotrof yang memerlukan senyawa organik untuk nutrisinya yang bersifat uniseluler maupun multiseluler. Nama yang diberikan untuk cendawan berasal dari wakilnya yang mencolok, yaitu cendawan topi (Yunani): mykes, latin: fungus) (Schlegel dan Schmidt, 1994). Fungus berarti tumbuh dengan subur. Istilah ini selanjutnya ditujukan kepada jamur yang memiliki tubuh buah serta tumbuh atau muncul di atas tanah atau pepohonan (Tjitrosoepomo, 1991). Ilmu yang mempelajari tentang jamur disebut mikologi (Mycota = mykes, logos = ilmu).
Jamur adalah eukariota yang mencerna makanan secara eksternal dan menyerap nutrisi secara langsung melalui dinding sel-nya. Jamur adalah heterotrof dan, menyerupai hewan, yaitu memperoleh karbon dan energi dari organisme lain. Beberapa jamur mendapatkan nutrisi mereka dari host hidup (tanaman atau hewan) dan disebut biotrophs; yang lain mendapatkan nutrisi dari tanaman mati atau hewan dan disebut saprotrophs (saprophytes, saprob). Beberapa jamur menginfeksi host hidup, tetapi membunuh sel inang untuk mendapatkan nutrisi mereka; ini disebut necrotrophs (Carris et al., 2012).

4. Kutu
Penyakit kutu kemaluan disebabkan oleh parasit Pthirus pubis. Parasit ini menyebar melalui kontak tubuh jarak dekat dengan orang lain yang terinfeksi, umumnya dari hubungan seksual pada vaginal, anal, dan oral, baik menggunakan alat kontrasepsi atau tidak. Kutu kemaluan juga dapat berpindah melalui kontak nonfisik, seperti berciuman, dan berpelukan. Pada kasus yang jarang terjadi, organisme ini dapat menyebar melalui penggunaan pakaian, seprai, atau handuk secara bergantian.
Penyebarannya paling banyak terjadi di daerah yang memiliki iklim dingin dan area padat yang memiliki angka kemiskinan tinggi serta sistem sanitasi yang berkualitas rendah. Kutu kemaluan juga dapat menyebar dengan mudah jika Anda jarang berganti atau mencuci pakaian, misalnya bagi para tuna wisma. Kehadiran kutu pada anak-anak umumnya terdapat di area alis dan bulu mata. Kutu kemaluan pada anak-anak dapat juga menandakan kemungkinan adanya pelecehan seksual sehingga perlu diselidiki lebih lanjut.
Kutu kemaluan berukuran sangat kecil, bahkan yang dewasa hanya memiliki ukuran sepanjang 2 mm. Walau sangat kecil, kutu kemaluan dapat terlihat dari warnanya yang kuning keabu-abuan, cokelat, atau merah. Kutu kemaluan juga sering disebut crabskarena memiliki dua capit di bagian depan untuk mencengkeram bulu atau rambut. Kutu kemaluan tidak dapat terbang atau loncat sehingga dia akan merayap dari rambut ke rambut untuk mengisap darah manusia.

D.   Cara Mengatasi Penyakit Kelamin

Beberapa penyakit menular seksual dapat diobati, namun sebagian belum dapat disembuhkan secara total. Penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri seperti chlamydia, gonorrhea, sifilis, trichomoniasis dan bakteri vaginosis, dapat diobati dengan menggunakan antibiotik. Pada wanita yang sedang hamil dapat dipilih antibiotik yang aman bagi kandungan. Selama pengobatan, penting bagi pasien untuk mengikuti aturan selama pengobatan untuk menghindari kebalnya bakteri terhadap antibiotik tersebut.
Penyakit menular seksual yang disebabkan oleh virus, seperti herpes, hepatitis B, dan HIV belum memiliki pengobatan yang dapat menyembuhkan hingga tuntas. Pengobatan sekarang yang menggunakan antivirus hanya bertujuan untuk memperlambat perjalanan penyakit tersebut. Bila seseorang telah diperiksa dan dinyatakan positif terinfeksi, maka harus segera dilakukan pengobatan. Pasangan seksual pasien tersebut juga harus diperiksa dan mendapat pengobatan bila hasilnya positif. Hal ini bertujuan akan infeksi tidak terjadi berulang. Selama pengobatan, pasien dan pasangan diharapkan tidak berhubungan seksual terlebih dahulu sampai keduanya dinyatakan sembuh.
Penyakit menular seksual dapat dicegah dan dihindari. Beberapa strategi efektif yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit menular seksual yaitu:
1.       Tidak berhubungan seksual, baik  melalui alat kelamin, melalui anus, dan melalui mulut. Hal ini merupakan cara terbaik dalam menghindari penyakit menular seksual.
2.      Melakukan vaksinasi, di mana cara ini merupakan cara yang aman, efektif dan direkomendasikan dalam mencegah penyakit menular seksual. Beberapa penyakit yang sudah tersedia vaksin adalah hepatitis B dan HPV. Bagi wanita, vaksin HPV tidak hanya melindungi dari penyakit menular seksual namun juga mengurangi risiko terjadinya kanker serviks di kemudian hari. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan vaksin HPV untuk anak laki-laki dan perempuan usia 11 dan 12 tahun. Bila tidak mendapat vaksin pada usia 11-12 tahun, maka dapat diberikan vaksin pada usia 13-26 tahun. Vaksin hepatitis B diberikan pada bayi baru lahir.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan dalam upaya mencegah penyakit kelamin, yaitu:
1.       Monogami Monogami artinya Anda setia pada satu pasangan dalam berhubungan seksual, di mana pasangan tersebut juga hanya berhubungan seksual dengan satu partner yaitu Anda. Hal ini merupakan salah satu cara yang efektif, namun sebelumnya harus dipastikan bahwa kedua pasangan tidak terinfeksi kuman penyebab penyakit menular seksual.
2.      Mengurangi jumlah partner seksual Mengurangi jumlah partner seksual dapat mengurangi risiko terkena penyakit menular seksual.
3.      Kondom pria atau wanita Penggunaan kondom secara rutin dalam berhubungan seksual dan dengan cara yang benar dapat menurunkan risiko penularan penyakit menular seksual. Namun, perlu diingat bahwa tidak ada alat pengaman yang  100% melindungi dari penularan.
4.      Memeriksakan diri untuk penyakit menular seksual Dengan memeriksakan diri, kita dapat mengetahui status kita dan merupakan langkah penting dalam menghentikan penularan penyakit menular seksual. Jika ternyata terinfeksi, langkah selanjutnya dapat segera diambil untuk perlindungan diri, yaitu pengobatan dan perlindungan terdapat pasangan.
5.      Sirkumsisi atau sunat pada pria Dibandingkan dengan pria yang tidak menjalani sirkumsisi, pria yang menjalani sirkumsisi memiliki risiko penularan penyakit menular seksual yang lebih rendah. Hal ini berlaku dalam pasangan yang hetero seksual.
6.      Pencegahan penularan dari ibu hamil ke janin
7.      Pemeriksaaan awal dan pengobatan merupakan langkah penting dalam pencegahan komplikasi serius untuk ibu dan bayi. Semakin cepat seorang wanita mendapat penanganan medis, semakin baik hasilnya untuk dia dan bayi dalam kandungannya.
8.     Hal penting yang perlu diperhatikan adalah sang ibu bisa meminta kepada dokter untuk pemeriksaan penyakit menular seksual karena tidak semua dokter melakukan pemeriksaan penyakit menular seksual pada wanita yang sedang hamil.
9.      Mengajari anak-anak kita Saat anak-anak menjadi usia di mana mereka aktif secara seksual, risiko mereka untuk terkena penyakit menular seksual meningkat. Sementara kita tidak dapat mengontrol tindakan mereka, kita bisa membantu mereka dengan memberi pengertian tentang risiko dari hubungan seksual yang tidak aman.
Terimakasih telah membca artikel berjudul Penyebab Penyakit Kelamin dan Cara Mengatasinya

Kumpulan Makalah
Kumpulan Makalah Updated at: 9/29/2017

0 komentar Penyebab Penyakit Kelamin dan Cara Mengatasinya

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak