Home » » Pengertian Tasawuf dan Keutamaannya

Pengertian Tasawuf dan Keutamaannya

Pengertian Tasawuf dan Keutamaannya

A. Pengertian Tasawuf

Setelah mempelajari arti tasawuf menurut bahasa dan defenisi-defenisi yang ditetapkan oleh para ahli dalam bidang ini dapat disimpulkan bahwa; baik menurut bahasa (etimologi) maupun  menurut istilah (terminologi) tasawuf adalah usaha untuk membersihkan rohani guna mendekatkan diri kepada Allah dengan meningkatkan amal saleh, berakhlak dan beribadah menurut yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. 
Sehubungan dengan pengertian tersebut, apakah defenisi tasawuf yang lebih jelas. Maka berikut disebutkan beberapa defenisi yang mengarah pada kebenaran dalam hal yang berkaitan dengan arti yang hakiki dari masalah ini:

Abu Sa’ad Al-Kharraz (wafat 277 H) ketika ditanya tentang siapa ahli tasawuf itu, ia menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang dijernihkan hati sanubarinya oleh Allah dan telah dipenuhi dengan cahaya. Mereka tenang bersama Allah. Mereka tidak berpaling dari Allah dan hatinya selalu mengingat-Nya (bersikir kepada Allah).

Al-Junaid Al-Baghdadi (wafat 297 H) berkata “Tasawuf artinya Allah mematikan kelalaianmu dan menghidupkan dirimu dengan-Nya.

Abu Bakar Muhammad al-Kattani berkata, “Tasawuf adalah kejernihan dan penyaksian”.

JA’far al-Khalidi (wafat 348 H) berkata “Tasawuf itu memuaskan segenap jiwa raga dalam beribadah dan keluar dari kemanusiaan serta memandang pada al-Haq secara menyeluruh.
Tetapi perlu dipahami bahwa pada perinsipnya pengertian tasawuf bila dikutif dari orang per orang yang memang berkecimpung pada bidang ini, akan ditemukan intrepretasi atau pandangan yang sering berbeda antara tokoh yang satu dengan yang lainnya sebab memang pada dasarnya mereka cenderung memberikan pengertian yang berdasarkan analisis dan logikanya sesuai pengalaman dan segenap yang dirasakan. Supaya mudah dipahami oleh kalangan mereka atau para jamaahnya. Sehingga muncul suatu kesan bahwa defenisi tentang tasawuf tidak ada dan memang itu tidak penting. (Hasil penelitian penulis; 1997 di Makassar).

Jadi tasawuf bisa melahirkan sejumlah defenisi sesuai jumlah manusia yang mengalaminya, sebab pengalaman individu dalam amalan spiritual (tarekat/tasawuf) sifatnya berbeda-beda, tergantung kepada keadaan hati dan frekuensi kekhusyuan si pengamal. Tasawuf bisa berarti penenang hati pengobat luka, penentu jalan  hidup manusia untuk dunia dan akhirat, membimbing manusia menuju Allah melalui sebuah hati yang tenang. Dan Allah hanya bersama dengan hambanya yang hatinya senantiasa selalu tenang.

Dilain pihak secara empirik ada kelompok tertentu (kelompok minoritas) tasawuf atau tarekat yang tidak sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan Sunnah Rasul, sehingga merupakan bid’ah dhalalah disebabkan oleh berlebih-lebihannya si pengamal tersebut dalam pelaksanaan amaliahnya dan cenderung dipengaruhi oleh ajaran agama lain seperti; Agama Hindu, Kristen dan Budha dan bahkan agama nenek moyangnya, yang melahirkan sebuah konsep “jenne teppettu sempajang tallukka” artinya ia selau dalam keadaan berwud’u dan shalat, akan tetapi secara syariat tidak pernah shalat tetapi menganggap selalu bertemu dengan Tuhannya. Dalam kondisi tersebut para orientalis sengaja membesar-besarkan dan menonjolkan pelaksanaan tasawuf ini, dengan tulisan-tulisannya yang licik sehingga tergambar atau terkesan pelaksanaannya sebagai suatu amalan syirik terutama dalam wasilah dan mursyid. Mereka sesungguhnya tidak mengerti dalam masalah ini, atau disalah mengertikan sehingga dia menjadi amalan yang salah (bid’ah) dan dipertentangkan dengan syari’ah.

Diakui dengan jujur memang ada sebagian kecil tasawuf/tarekat yang demikian, sehingga para ahli tasawuf/tarekat pun yang tergolong dalam kelompok muktawarah tidak mengakuinya. Adalah tidak adil mengeritik dan memvonis tasawuf/tarekat secara keseluruhan hanya dengan melihat yang salah itu. Apalagi dengan hanya melihat sebahagian dari perilaku para mustaswif (sufi gadongan). Di Indonesia ada beberapa tarekat muktawarah (tarekat yang diakui kebenaran dan keabsahannya oleh Departemen Agama/kalangan ulama muhakkikin/ulama-ulama ahli dalam bidang ini) yang mashur antara lain: Tarekat Naqsyabandiyah yang didirikan oleh Syekh Muhammad bin Bahau’ddin al-Uwaisi al-Bukhari (717-791 H.) Tarekat Qadiriyah yang didirikan oleh Syekh Abdul Qadir Jaelani (wafat 561 H.), tarekat syaziliyah yang didirikan didirikan oleh Abdul Hasan Ali Asy-Syaziliah, Tarekat Khalwatiyah yang didirikan oleh Abdul Qadir Suhrawardi (wafat 1167 M.), Tarekat Khalidiyah yang didirikan oleh Syekh Sulaiman Zuhdi al-Khalidi, Tarekat Sammaniyah yang didirikan oleh Muhammad Samman (wafat 1720 M.) dan aliran tarekat-tarekat lainnya.

Secara prinsip aliran-aliran tarekat itu berpegang teguh kepada ahlusunnah baik aqidah maupun syari’ah. Aliran-aliran tarekat ini melaksanakan peramalan-peramalan/wirid dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. yang berbeda hanya peneklanan kepada zikir, kepada salawat, istighfar, doa dan lain-lain sebagainya. Peramalan-peramalan itu dilaksanakan sebagai peramalan sunnat, disamping ia badah-iabdah wajib yang telah ditetapkan. Amalan-amalan sunnat itu sebagai realisasi pelaksanaan sabda Rasul dalam hadis Qudsi bahwa “ Barang siapa yang memusuhi seseorang peneolong-Ku maka Aku mengumumkan perang kepadanya (jelas, ia kekasih Allah adalah aparat Allah SWT. ditangan Allah karena menerima penerusan dari Nurun ala Nurin dengan sempurna), dan apa bila hamba-hamba-Ku menghampirkan diri kepada-Ku dengan sesuatu amalan, yang lebih Aku cintai, daripada hanya sekedar mengamalankan apa-apa yang telah Kuwajibkan atasnya, kemudian itu ia terus menerus mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan amalan-amalan yang nawafil (yang baik), hingga Aku mencintainya, maka apabila Aku mencintainya, adalah Aku pendengarannya bila ia mendengar, dan Akulah penglihatannya bila ia melihat, dan adalah Aku tangannya bila ia mengambil (melakukansesuatu), dan adalah Aku kakinya bila ia berjalan, demikian jika memohon, niscaya Aku perkenankan permohonannya, demi jika ia meminta perlindungan kepada-Ku pastilah Aku lindungi dia.

Jadi pengertian tarekat/tasawuf adalah jalan atau sistem yang ditempuh untuk semata-mata menuju keridhaan Allah SWT. dengan kata lain tarekat merupakan saluran atau pelaksanaan daripada tasawuf. Firman Allah SWT. “Dan bahwasannya jikalau mereka tetap berjalan di atas metodologi yang benar (tarekat) niscaya akan kami turunkan hujan (rahmat) yang lebat (nikmat, rezeki yang banyak)”. (Departemen Agama, QS [72] al-Jin: 16 

B. Keutamaan Mempelajari Tasawuf

Salah satu peramalan utama dalam tarekat adalah zikir yang dilaksanakan bisa dengan lisan, dengan qalbu dan sirr, zikir berarti menyebut nama Allah dengan lisan berdasarkan perintah Allah dalam al-Qur’an dan mengikuti contoh-contoh yang diberikan oleh Rasulullah saw. Kalimat-kalimat zikir bisa dengan menyebut ismuzzat (Allah), tahlil (la ila ha illallah), tasbih (subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), takbir (Allahu Akbar) taqdis (Quddusun), hawqalah (lahawla wala quwwata illa billaah), hasbalah (Hasbiyallah), basmalah (bismillahirrahmanirrahim), tilawatil Qur’an dan lain-lain yang diajarkan dalam al-Qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dengan demikian begitu pentingnya zikir sehingga Allah swt. berfirman bahwa “karena itu ingatlah  (berzikir) kamu  kepada-Ku niscaya Aku ingat pula (berzikir) kepadamu”. (Departemen Agama, QS [2] al-baqarah: 152.

Inti dari segala zikir yang mencakup seluruh zikir adalah shalat, seperti firman Allah SWT. “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah SWT. tidak ada Tuhan selain Aku, karena itu sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (berzikir) kepada-Ku”. dalam QS. [20] Thaha: 14

Zikir dipandang sebagai rangkaian iman yang beriman berikanlah (dengan menyebut nama Allah), zikir yang sebanyak-banyaknya dan bertasbilah kepada-Nya di waktu pergi dan petang.

Dalam pandangan al-Hallaj bahwa Allah dan manusia masing-masing memiliki aspek lahut dan nasut (Harun Nasution, Filsafat DaN Mistisisme Dalam Islam , 1987,  h. 86). Nasut Allah berada dalam bentuk Adam yang dimiliki-Nya, sedangkan lahut manusia berwujud ruh yang berasal dari-Nya. Manakala seorang sufi sudah suci jiwanya, maka Nasut Allah akan bertempat pada diri manusia yang bercampur dengan ruh (lahut) manusia. Percampuran dua aspek inilah yang disebut Hulul. (Afifi, 1963, h. 233/Krisis dan Tasawuf, h. 19). Dalam kondisi inilah manusia akan memperoleh kebahagian dan kesempurnaan serta kedamaian. (Penulis).

Seorang murid tarekat (zalik) yang tengah menempuh perjalanan rohani, mempunyai beberapa bentuk dalam perjalanannya itu, antara lain:
1. Peningkatan ibadah kepada Allah SWT. yang ditetapkan oleh Syekh Mursyid terhadap murid/zalik, guna memperbaiki kekurangan dan kelemahan yang bersangkutan dibidang syariat. Kegiatan ibadat ini dilakukan dengan berkekalan wudhu (tidak batal wudhu). Menigkatkan kuantitas dan kualitas shalat, meningkatkan peramalan zikir dan wirid.
2. Melaksanakan kegiatan riyadhah (latihan-latihan) dan mujahadah (kesungguhan hati) dalam bentuk iktilaf, zuluk dalam beberapa hari tertentu, mengurangi makan dan minum, mengurangi tidur, mengurangi berkata-kata dan lebih meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadat.
3. Melaksanakan kegiatan pengabdian dan pengkhidmatan, pemberian pertolongan dan bantuan dikalangan sendiri dan kepada sesama manusia serta menghilangkan perasaan bangga karena kekayaan, kepintaran, karena keturunan atau karena kedudukan. Bentuk ini dinamakan tarekat khidmah wabazlul jaah.
4. Latihan untuk menjadi orang yang pemberani dan tegas dalam membela agama, dan tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah SWT. Bentuk ini dinamakan tarekatul mujahadah wa ruquubul ahwal.
5. Kegiatan melakukan perjalanan yang melelahkan, seperti masuk ke dalam hutan, bukit atau gunung atau perjalanan ke negeri-negeri yang jauh, untuk mendapatkan kesempatan belajar dan beribadat yang lebih baik. (Kadirun Yahya, Syariat Dan Tarekat. 1998, h.).

Lebih tegas Allah berfirman “Dan telah kami janjikan kepada Musa (memberikan taurat) sesudah berlalu waktu (berkhalwat) tiga puluh malam, dan kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh malam lagi maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam”. (Departemen Agama, QS: al-A’raf: 142

Dalam hadis Bukhari diriwayatkan bahwa “Nabi Muhammad diberi kesenangan menjalankan khalwat di gua hirah dengan tujuan beribadat kepada Allah SWT. pada beberapa malam yang tidak sebentar.            Berdasarkan ayat al-Quran dan hadis ini, jelas suluk dan khalwat adalah sunnah Rasul.  Yakni Nabi Musa berkhalwat di Bukit Tursina dan Nabi Muhammad berkhalwat di Gua Hira.


Daftar Pustaka

Departemen Agama RI.
Saidi Syekh Kadirun Yahya. Silsila Thariqat Sufi Naqsabandiyah. Arco Bogor. Jakarta. T.Th.
____________, Syariat Dan Tarekat, Sawangan Jakarta. 1998
Abu al-A’la Afifi, al-Tasawuf al-Tsaurah al-Ruhiyah fi al-Islam, Iskandariyah: Dar al-Ma’arif. 1963
Al-Qusyairi, Abd al-Karim, al-Risalah al-Qusyairiyah. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi. 1957
Abdul Muhaya, Maqamat (Station) and Ahwal (States) According to al-Qusyairiyah and al-Hujwiri: A comparative Study. Jakarta: Departemen Agama RI. 1996
 ____________, Tasawuf Dan Krisis, Jakarta. 2001
Djamaan Nur (Drs), Peran Tasawuf Ditinjau Dari Syariat Islam, Sawangan Bogor, Jawa Barat. 1993
Hadarah, Pengaruh Sufisme Terhadap Wawasan Intelektual Muslim. Makassar Sul-Sel. 1997
Harun Nasution, Filsafat Dan Mistisisme Dalam Islam, Jakarta Bulan-Bintang. 1987
Abdul Halim Mahmud, Tasawuf di Dunia Islam, Pustaka Setia, Bandung. 2002
Terimakasih telah membca artikel berjudul Pengertian Tasawuf dan Keutamaannya

Kumpulan Makalah
Kumpulan Makalah Updated at: 9/29/2017

0 komentar Pengertian Tasawuf dan Keutamaannya

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak