Skip to main content

Pengertian dan Teori-teori Agresi

Pengertian dan Teori-teori Agresi

A. Pengertian Agresi

Robert Baron dalam Tri Dayakisni menyatakan bahwa agresi adalah tingkah laku individu yang ditunjukkan untuk melukai atau mencelakakan individu lain, yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut.[1] Definisi dari Baron ini mencakup empat faktor tingkah laku yaitu ; tujuan untuk melukai atau mencelakakan, individu yang menjadi pelaku, individu yang menjadi korban, dan ketidakinginan sikorban menerima tingkah laku si pelaku. Defenisi ini juga membawa pengertian pada prilaku agresi yang bersifat individual. Sementara ada prilaku agresi yang bersifat kolektif (antara kelompok, ras atau negara) yang popular disebut dengan istilah “ perang “.
Bandura dalam Adam Kuper menyatakan bahwa agresi adalah tindakan-tindakan yang menyebabkan terlukanya orang bersifat orang fisik maupun psikologis.[2] Dari defenisi ini tampaknya Bandura ingin menambahkan bahwa kerugian yang ditimbulkan oleh prilaku agresi tidak hanya bersifat fisik tetapi juga bisa bersifat psikologi. Sementara Kartini Kartono dalam menjelaskan pengertian agresi membagi menjadi dua bentuk, yaitu agresi keluar dan agresi kedalam. Agresi keluar adalah ledakan-ledakan emosi dan kemarahan hebat meluap-luap dalam bentuk tindakan sewenang-wenang, peyerangan, penyergapan, serbuan, kekejaman, perbuatan-perbuatan yang menimbulkan penderitaan dan kesakitan, pengrusakan orang lain, tindakan permusuhan ditujukan kepada seseorang atau benda.[3] Sedangkan agresi kedalam terjadi ketika saluran untuk pelontaran agresi keluar terhambat sama sekali, melalui pendesakan dan bunuh diri.[4] Defenisi ini lebih menekankan bahwa prilaku agresi tidak hanya terbatas pada tindakan-tindakan melukai atau mencelakakan orang lain tetapi prilaku mencelakakan diri sendiri juga termasuk bagian dari agresi.
Dari beberapa pengertian di atas tampak belum ada kesepakatan diantara para ahli Psikologi dalam memberikan pengertian tentang agresi, akan tetapi dapat ditemukan satu unsur penting dari agresi yang harus ada, yaitu adanya tujuan atau kesenjangan dalam melakukannya. Suatu yang terjadi secara kebetulan walau menghasilkan agresi bagi orang lain, maka ini tidak dapat dimasukan dalam agresi. Sebagai contoh, dengan tergesa-gesa seseorang berlari mengejar bis kota yang hendak berangkat, sehingga menabrak orang lain sampai jatuh dan kesakitan. Dalam hal ini, orang yang menabrak tersebut tidak dapat dikatakan berperilaku agresif. Lain halnya dengan seseorang dengan sengaja menabrak orang sehingga orang itu kehilangan keseimbangan dan jatuh, maka perilaku orang tersebut dapat dikatakan sebagai agresif apapun tujuannya. Dengan demikian agresi dapat definisikan sebagai tindakan yang melukai orang lain, dan yang dimaksudkan untuk itu bahwa tindakan  agresi dapat bersifat individual atau kolektif, tergantung apakah tindakan itu terjadi antara individu atau antar kelompok. Perilaku agresi dapat berbentuk keluar (mencelakakan orang lain) atau agresi bentuk ke dalam (mencelakakan diri sendiri).

B. Teori-teori Agresi

Banyak teori tentang agresi yang dikemukakan oleh ahli-ahli psikologi yang masing-masing dilandasi oleh keahliannya. Setidaknya ada tiga teori tentang agresi- agresi yang dianggap cukup berpengaruh yaitu :

a.   Teori Insting

Teori ini terbagi menjadi tiga, yaitu:
1. Teori Psikoanalisa
Menurut Freud teori psikoanalisa berpandangan bahwa pada dasarnya pada diri manusia terdapat dua macam insting yaitu insting untuk hidup dan insting untuk mati. Insting kehidupan ditunjukan kepada pemeliharaan hidup individu sedangkan insting kematian memiliki tujuan sebaliknya yakni untuk menghancurkan hidup individu. Menurut Freud, agresi dapat dimasukan dalam insting mati yang merupakan ekspresi dari hasrat kematian yang berada pada taraf tidak sadar. Dalam pengungkapan “ death wish “ ini dapat berbentuk agresi yang ditujukan kepada diri sendiri ( misalnya, bunuh diri ) atau ditujukan kepada orang lain.[5]
2. Teori Etologi
Menurut Lorenz dalam bukunya David L. Witson yang dipandang sebagai bapak Etologi, mengatakan bahwa “ that humans have a basic aggressive instinct and that this instinct enables the human species to survive “[6] artinya dorongan agresi ada di dalam diri setiap mahluk hidup yang memiliki fungsi dan peranan penting bagi pemeliharaan hidup atau dengan kata lain memiliki nilai survival. Jalan yang digunakan untuk itu adalah dengan cara menyingkirkan mahluk lain, yaitu dengan agresi.
3. Teori Sosio biologi
Struktur fisik tertentu ternyata berkaitan erat dengan agresivitas. Disamping struktur fisik agresi juga berkaitan dengan struktur otak, karena ada bagian tertentu pada otak yang apabila terkena stimulasi akan membangkitkan agresi, Ada hipotesis lain yang mengatakan bahwa agresi juga berkaitan dengan hormonal. Bukti dengan adanya kaitan tersebut ditujukan oleh Maccoby dan Jecklin yang menyebutkan bahwa laki-laki lebih agresi dari pada wanita  karena ada perbedaan hormonal. Pendapat lain mengkaitkan agresi dengan genetic. Disebutkan bahwa pada orang-orang yang agresif ternyata struktur kromosomnya XYY pria, sehingga disimpulkan bahwa faktor genetic berpengaruh terhadap agresivitas.[7]

b. Teori Frustasi Agresi

Kelompok Psikologi di Yale University: Dollar, Doob, Miller, Mower dan Sears mengemukakan hipotesis bahwa frustasi menyebabkan agresi. Hipotesis tersebut kemudian dijadikan postulat “agresi selalu berarti frustasi”.[8] Postulat ini diterima dengan cepat dan meluas oleh para ahli psikologi. Tetapi teori ini akhirnya tidak dapat bertahan lama karena : pertama, bahwa individu yang frustasi tidak selalu agresif, karena frustasi dapat menghasilkan berbagai reaksi, dan dalam beberapa kasus besar kemungkinannya frustasi lebih menimbulkan reaksi depresi dari pada agresi terbuka. Kedua, tidak semua agresi hasil dari frustasi.[9]

c.  Teori Belajar Sosial

Teori belajar sosial menekankan kondisi lingkungan yang membuat seseorang memperoleh dan memelihara respon-respon agresif. Asumsi dasar teori ini adalah sebagian besar tingkah laku individu diperoleh sebagai hasil belajar melalui pengamatan (observasi) atas tingkah laku yang ditampilkan oleh individu-individu yang menjadi model.[10] Dengan demikian para ahli teori ini percaya bahwa observational dan social modeling adalah metode yang lebih sering menyebabkan agresi. Anak-anak yang melihat model orang dewasa agresi secara konsisten akan lebih agresif bila dibandingkan dengan anak-anak yang melihat model dewasa non agresif.[11] Ketiga teori tersebut, dapat dipahami bahwa pada teori insting terjadinya agresi lebih banyak dipengaruhi oleh faktor internal pelaku. Oleh karena itu pandangan ini tampaknya mengarah ke pesimistis, terutama dalam usaha mereduksi agresi. Sedangkan teori frustasi dan teori belajar sosial, terlihat kurang sependapat menolak konsep-konsep yang menekankan pentingnya faktor internal dalam pembicaraan agresi.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Hajjaj, Abu al-Husain Muslim ibn. Shahih Muslim. Juz IV, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1992
Custer, CF. Martin.  Muslim in the Netherlands, t.t, t.tp, t.th.
Dayakisni, Tri dan Hudaniah. Psikologi Sosial. Cet. II; Malang: Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang, 2003
Departemen Agama RI, al-Quran dan Terjemahannya. Semarang: PT. Karya Toha Putra, 2002.
Faturochman. Pengantar Psikologi sosial. Cet. I ; Yogyakarta: Penerbit Pinus, 2006.
Kuper, Adam dan Jessica Kuper. The Social Science Encyclopedia diterjemahkan oleh Haris Munandar dengan judul Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000
Kartono, Kartini. Psikologi Sosial untuk Manajemen Perusahaan dan Industri. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002
Malek, CF. Anuoar Abdul. Orientalism in Crisis, 1963, Edward W. Said dengan 3 bukunya: Orientalism, 1979, Orientalism Reconsidered, 1985
Orientalism: Western Conceptions of the Orient, CF. Alef Theria Wasim, “Trend Mutakhir Studi Agama-agama”, makalah, 2000.
Sears, David O. Social Psycology, Diterjemahkan oleh Michael Ardiyanto dengan judul Psikologi Sosial. Jakarta : Penerbit Erlangga, 1994.
Watson, David L. Social Psychology Science and Aplication. United States Of America; Scott, Foresman and Company, 1984.


[1]Tri Dayakisni dan Hudaniah, Psikologi Sosial (Cet. II; Malang: Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang, 2003), h. 195
[2]Adam Kuper dan Jessica Kuper, The Social Science Encyclopedia, diterj. oleh  Haris Munandar, dengan judul Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000), h. 14
[3]Kartini Kartono, Psikologi Sosial untuk Manajemen Perusahaan dan Industri (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), h. 262
[4]Ibid.
[5]Tri Dayakisni dan Hudaniah, op. cit., h. 196-197
6David L.Watson, Social Psychology Science and Aplication (United States Of America; Scott, Foresman and Company, 1984), h. 306
[7]Fathurochman, Pengantar Psikologi Sosial (Cet. I; Yogyakarta: Penberbit Pinus, 2006), h. 84
[8]David L. Wotson, op. cit., h. 307
[9]Tri Daykisni dan Hudaniah, op. cit., h. 200
[10]Robert S. Feldman, Social Psycology Theorie Research, and Applications (Singapore: McGraw-Hill Book Co, 1985), h. 302
[11]Tri Daykisni dan Hudaniah, op. cit. h. 201
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar