Skip to main content

Pengertian Asbabun Nuzul dan Fungsinya

Pengertian Asbabun Nuzul dan Fungsinya

A. Pengertian Asbabun Nuzul

secara etimologis (lughawi), “asbab al-nuzul” terdiri dari dua kata yaitu asbab dan al-nuzul. Kata asbab berasal dari kata (tunggal: sabab) yang berarti sebab, alasan atau illat[6]. Dan kata al-nuzul berarti as-su’ud[7], yakni turun. Adapun pengertian “asbab al-Nuzul”  menurut terminologis (istilah) adalah pengetahuan tentang sebab-sebab diturunkannya suatu ayat. Menurut al-Zarqani, asbab al-nuzul ialah suatu kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat, atau suatu peristiwa yang dapat dijadikan petunjuk hukum berkenaan turunnya suatu ayat[8]. Shubhi al-Shalih juga memberikan suatu definisi yang hampir sama tentang asbab al-nuzul. Yaitu: Sesuatu yang dengan sebabnya turun suatu ayat atau beberapa ayat yang yang mengandung sebab itu, atau memberi jawaban terhadap sebab itu, atau menerangkan hukumnya pada masa terjadinya sebab tersebut.[9]
Definisi tersebut memberikan pengertian bahwa sebab turun suatu ayat adakalanya berbentuk peristiwa dan adakalanya berbentuk pertanyaan. Suatu ayat-ayat atau beberapa ayat turun untuk menerangkan hal yang berhubungan dengan peristiwa tertentu.
Unsur-unsur yang sangat penting diketahui tentang asbab al-nuzul adalah  adanya satu atau beberapa kasus yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat, dan ayat-ayat itu dimaksudkan untuk memberikan penjelasan terhadap kasus itu.
Jadi ada beberapa unsur yang tidak boleh diabaikan dalam menganalisis asbab al-nuzul, yaitu adanya suatu kasus atau peristiwa[10], adanya pelaku peristiwa, adanya tempat peristiwa, dan adanya waktu peristiwa. Kualitas peristiwa, pelaku, tempat, dan waktu perlu diidentifikasi dengan cermat guna menerapkan ayat-ayat itu pada kasus lain dan ditempat dan waktu yang berbeda.
Sebenarnya jika yang dimaksud asbab al-nuzul ialah hal-hal yang menyebabkan turunnya ayat-ayat al-Qur’an, semua ayat-ayat al-Qur’an mempunyai asbab al- nuzul[11]. Tujuan utama al-Qur’an adalah hendak mentransformasikan umat nabi Muhammad dari situasi yang lebih buruk ke situasi yang lebih baik menurut ukuran Tuhan. Kondisi objektif yang lebih buruk itulah yang menjadi sebab ayat-ayat al-Qur’an diturunkan bagaikan sebuah suatu paket, yang tak dapat dipisahkan antara satu ayat dengan lainnya.

B. Fungsi Asbabun Nuzul

Mempelajari dan mengetahui asbab al-nuzul mempunyai arti penting dalam menafsirkan al-Qur’an. Seseorang tidak akan mencapai pengertian yang baik jika tidak memahami ayat-ayat yang menyangkut hukum. Imam al-Wahidi (w. 468/1075), mengatakan: “tidak mungkin orang bisa mengetahui tafsir suatu ayat, tanpa mengetahui kisah dan penjelasan mengenai turunnya lebih dahulu”[12].
Pemahaman asbab al-nuzul akan sangat membantu dalam memahami konteks turunnya ayat. Ini sangat penting untuk menerapkan ayat-ayat pada kasus dan kesempatan yang berbeda. Peluang terjadinya kekeliruan akan semakin besar jika mengabaikan riwayat asbab al-nuzul.
Sebagai contoh tentang bahaya menafsirkan al-Qur’an tanpa mengetaui sebab turunnya ialah penafsiran Usman bin Mazun dan Amr bin Ma’addi  Kariba terhadap Q.S al-Maidah (5) : 93:
 Artinya:
“Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan saleh, kemudian mereka tetap bertakwa serta beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.

Mereka membolehkan minum khamar berdasarkan ayat ini. As-Suyuti berkomentar bahwa sekiranya mereka mengetahui sebab turun ayat ini, tentunya mereka tidak akan mengatakan demikian. Sebab, Ahmad, An-Nasai, dan lainnya meriwayatkan bahwa sebab turun ayat ini adalah orang-orang yang ketika khamar diharamkan mempertanyakannya nasib kaum muslimin yang terbunuh di jalan Allah sedang mereka dahulunya minum khamar.[13]
Adapun fungsi memahami asbab al-nuzul antara lain sebagai berikut:
a.       mengetahui hikmah dan rahasia diundangkannya suatu hukum dan perhatian syara’ terhadap kepentingan umum, tanpa membedakan etnik, jenis kelamin, dan agama. Jika dianalisis secara cermat, proses penetapan hukum berlangsung secara manusiawi, seperti penghapusan minuman keras, misalnya ayat-ayat al-Qur’an turun dalam empat kali tahapan, yaitu QS. al-Nahl (16): 67, QS. al-Baqarah (2): 219, QS. al-Nisa (4): 43, dan QS. Al-Maidah (5): 90-91.
b.      Mengetahui asbab al-nuzul membantu memberikan kejelasan terhadap beberapa ayat. Misalnya Urwah ibn Zubair kebingungan dalam memahami hukum fardhu sa’i antara Shafa dan Marwah, QS. al-Baqarah (2): 158.

Artinya:
“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebahagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Alla Maha mensyukuri kebaikan lagi Maha mengetahui.”

Urwah ibn Zubair kebingungan memahami “tidak ada dosa” di dalam ayat ini. Ia lalu menanyakan kepada Aisyah perihal ayat tersebut lalu Aisyah menjelaska bahwa peniadaan dosa di situ bukan peniadaan hukum fardhu. Peniadaan disitu dimaksudkan sebagai penolakan terhadap keyakinan yang telah mengakar di hati kaum muslimin ketika itu, bahwa melakukan sa’i di antara Shafa dan Marwah termasuk perbuatan jahiliyyah. Keyakinan ini didasarkan atas pandangan bahwa pada masa pra Islam di bukit Shafa terdapat sebuah patung yang disebut Isafa dan dibukit Marwah ada sebuah patung yang disebut Na’ilah. Jika melakukan sa’i di antara dua bukit itu orang-orang jahiliyyah sebelumnya mengusap kedua patung tersebut. Ketika orang-orang telah masuk Islam, maka sebahagian sahabat ada yang enggan melakukan sa’i di tempat itu. Karena takut ibadahnya itu serupa dengan peribadatan orang jahiliyyah. Kemudian turun ayat tadi untuk menolak anggapan berdosa itu. Dan sekaligus diwajibkan mereka bersa’i karena Allah. Bukan karena berhala.[14]
c.       Pengetahuan tentang asbab al-nuzul dapat menolak dugaan adanya hashr (pembatasan) dalam ayat yang menurut lahirnya mengandung hashr,  seperti firman Allah swt. Dalam QS. al-Anam (6): 145, yaitu:

Artinya:
“Katakanlah: Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkanbgai orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau daah yang mengalir atau daging babi. Karena sesungguhnya semua itukotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah…”

Imam Syafi’i berkata: ketika orang-orang kafir telah mengharamkan sesuatu yang di halalkan Allah dan menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah, maka datang ayat tersebut untuk membatalkan pendapat mereka. Seolah-olah Allah swt. Mengatakan : “yang halal justru yang telah kamu haramkan dan yang haram justru yang telah kamu halalkan“. Akan tetapi maksud ayat ini hanya menetapkan hukum halal. Imam Haramain berkata: “ini adalah (penjelasan) yang paling baik. Sekiranya Imam al-Syafi’i tidak lebih dahulu sampai kepada penjelasan yang demikian, tentunya kita tidak dapat menyalahi Imam Malik tentang pendapatnya yang membataskan segala yang haram pada apa yang disebutkan ayat itu”[15].
d.      pengetahuan asbab al-nuzul dapat mengkhususkan (takhshish) hukum terbatas pada sebab, terutama ulama yang menganut kaidah “sabab khusus”. Sebagai contoh turunnya ayat zhihar pada permulaan surat al-Mujadalah, yaitu dalam kasus Aus Ibn al-Shamit yang menzihar istrinya, Khaulah binti Hakam ibn Tsa’labah. Hukum yang terkandung dalam ayat-ayat ini khusus bagi keduanya dan tidak berlaku bagi orang lain.[16]
e.       Dengan mempelajari asbab al-nuzul diketahui pula bahwa sebab turunnya ayat tidak keluar dari hukum yang terkandung dalam ayat, apabila terdapat yang mengkhususkannya. Maksudnya adalah , bahwa suatu lafal kadang bersifat umum dan kadang dikhususkan oleh dalil-dalil tertentu, maka tidak dibolehkan mengeluarkan sebab dari hukum ayat dengan cara ijtihad dan ijma’. Karena, masuknya sebab berarti qath’i. dan keluarnya sebab dengan dalil khusus berarti ijtihad; pada hal ijtihad adalah adalah sesuatu yang zhanni (tidak pasti/tidak qath’i), maka tidak dibolehkan mengeluarkan yang qath’I bersama dengan yang zhanni. Sebagi contoh bisa disebutkan, yakni dalam firman Allah swt. QS. al-Nur (24): 23-25,
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriamn (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika), lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang benar, lagi yang menjelaskan(segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)”.

Ayat ini turun pada Aisyah secara khusus atau pada seluruh isteri nabi menurut riwayat ibn Abbas. Dari Ibn Abbas juga diriwayatkan bahwa ayat ini turun pada Aisyah dan isteri-isteri nabi lainnya. Allah tidak memberikan taubat kepada orang-orang yang melakukan demikian. Akan tetapi Allah memberikan taubat kepada orang yang menuduh perempuan mukmin selain isteri-isteri nabi. Kemudian Ibn Abbas membacakan ayat QS. Al-Nur (24): 4-5:

Artinya:
”dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka yang (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. Kecuali orang orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya) , maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang”.

Berdasarkan keterangan ini, diterimanya taubat seorang yang menuduh perempuan mukmin berzina sebagaimana yang dijelaskan ayat 4 dan 5 surat al-Nur tidak dapat mencakup orang yang menuduh Aisyah atau isteri-isteri nabi yang menjadi sebab turun ayat 23-25 dari surat al-Nur di atas. Bagi orang yang tersebut akhir ini tidak ada taubat karena masuknya sebab ke  dalam lafal umum ayat di atas qath’i (pasti). Sekiranya sebab turun ayat yang umum di atas tidak diketahui, tentunya ayat ini akan dipahami secara keliru. Bahkan ayat ini akan kehilangan maknanya dan hampa.
f.       Dengan asbab al nuzul, diketahui orang yang ayat tertentu turun padanya secara tepat sehingga tidak terjadi kesamaran. Kesamaran bisa membawa kepada penuduhan terhadap orang yang tidak bersalah dan pembebasan bagi orang yang bersalah. Berdasarkan pengetahuan tentang sabab al-nuzul, Aisyah dapat menolak tuduhanMarwan terhadap saudaranya, Abd al-Rahman ibn Abi Bakar. Marwan Mendakwahnya bahwaayat QS. al-Ahqaf (46): 17

Artinya:
“dan orang-orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “cis” bagi kamu keduanya….”
Ayat ini turun pada perihal Abd al-Rahman ibn Abi Bakar. Aisyah berkata: “Demi Allah, bukan dia itu, dan sekiranya saya mau menyebutnya saya dapat menyebutkan namanya”. Demikianlah seterusnya sampai akhir kisahnya.[17]
g. pengetahuan tentang sabab al-nuzul akan mempermudah orang menghafal ayat-ayat al Qur’an serta memperkuat keberadaan wahyu dalam ingatan orang yang mendengarnya jika ia mengetahui sebab turunnya. Sebab , pertalian antara sebab dan musabab (akibat), hukum dan peristiwanya, peristiwa dan pelakunya, masa dan tempatnya semua ini merupakan faktor-faktor yang menyebabkan mantapnya dan terlukisnya sesuatu dalam ingatan.[18]


DAFTAR PUSTAKA

Al-Qathatan, Manna’, Mabahits fi Ulumil-Qur’an. Diterjemahkan oleh Subhi as-Shalih, dengan judul Membahas Ilmu-ilmu al-Qur’an Cet. XIX; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993.
Ash-Shabuni, Syekh Muhammad Ali, Attibyan fi Ulumi Qur’an. Diterjemahkan oleh Muhammmad Qadirun Nur, dengan judul IkhtisarUlumul Qur’an Praktis. Semarang: 1988.
As-Shuyuti, Jalaluddin Abdu ar-Rahman, al-Itqan Fi Ulumil  al-Qur’an, juz I, Cet.3; Darul Fikri, 1370 H. 1951 M
Az-Zarqani, Muhammad Abd al-Azim, Manahil al- Irfan  fi Ulumil  Al-Qur’an  Juz. I. t.t.: Dar Qutaibah, t.th
Al-Misri, Muhammad ibn Mukram ibn Manshur al-Afriqi al-Misri, Lisan al-Arab, Juz 11 Baerut: Dar an-Nasr, t.th
Ar-Rumi, Fahd bin Abdurrahman, Dirasat fi Ulum al-Qur’an. Cet,I; Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1997.
Ibrahim, Anis dkk., Mu’jam al-Wasith, jilid kedua Cet.II; Dar Ihya al-Turats al-Araby: Kairo-Mesir, 1392H/1972M
Munawwir Ahmad Warson, al-Munawwir: Kamus Arab Indonesia, Cet. 14; Surabaya: Pustaka Progressif, 1997.
Qardhawi,Yusuf,  Kaifa Nata’ amalu Ma’a Al-Qur’ani al-Azhim, Diterjemahkan oleh Abdul Hayyie Al-Kattani, dengan judul Berinteraksi dengan al-Qur’an Cet. I; Jakarta: Gema Insani press, 1999.
Qadir, Muhammad al-Aruzi abd, Masalah Takhsish al-‘Am bi al-Sabab, t.t.: Jamiah Umm Al-Qur’an, 1983.
Rrofi’i, Ahmad Syadali dan Ahmad, Uluml Qur’an I Cet; 2Bandung: Pustaka Setia, 2000.
Shihab, Muhammad Qurais, dkk., Sejarah dan Ulumul Qur’an, (Cet. 3; Jakarta Pustaka Firdaus, 2001.
Wahid, Ramli Abdul, Ulumul Qur’an I Wd. I, Cet. 2; Jakarta: Raja Grafindo Perdasa, 1994


[1]Manna’ al-qathatan, Mabahits fi Ulumil-Qur’an. Diterjemahkan oleh Subhi as-Shalih, dengan judul Membahas Ilmu-ilmu al-Qur’an (Cet. XIX; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993), h. 165.
[2]Yusuf  Qardhawi,  Kaifa Nata’ amalu Ma’a Al-Qur’ani al-Azhim, Diterjemahkan oleh Abdul Hayyie Al-Kattani, dengan judul Berinteraksi dengan al-Qur’an (Cet. I; Jakarta: Gema Insani press, 1999), h. 360.
[3]Jalaluddin Abdu ar-Rahman as-Shuyuti, al-Itqan Fi Ulumil  al-Qur’an, juz I, (Cet.3; Darul Fikri, 1370 H. 1951 M)., h. 28.
[4]Syekh Muhammad Ali ash-Shabuni, Attibyan fi Ulumi Qur’an. Diterjemahkan oleh Muhammmad Qadirun Nur, dengan judul IkhtisarUlumul Qur’an Praktis.(Semarang: 1988), h. 27.
[5]Asbabun nuzul, Asbab, adalah jama’ dari kata sabab yang berarti; sebab, sedangkan kata nuzul adalah bentukan masdar dari kata nazala yanzilu (bentuk fi’il) yang bermakna; Habatha min ulwen ila suflen dikatakan, nazala fulan an al-amri wa al-hak, artinya; tarakahu (meninggalkannya). Lih. Dr. Anis Ibrahim, dkk., Mu’jam al-Wasith, jilid kedua (Cet.II; Dar Ihya al-Turats al-Araby: Kairo-Mesir, 1392H/1972M), h. 915.
[6]Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir: Kamus Arab Indonesia, (Cet. 14; Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), h. 602.
[7]Muhammad ibn Mukram ibn Manshur al-Afriqi al-Misri, Lisan al-Arab, Juz 11 (Baerut: Dar an-Nasr, t.th), h. 77.
[8]Muhammad Qurais Shihab, dkk., Sejarah dan Ulumul Qur’an, (Cet. 3; Jakarta Pustaka Firdaus, 2001), h. 656.
[9]Ahmad Syadali dan Ahmad Rrofi’I, Uluml Qur’an I (Cet; 2Bandung: Pustaka Setia, 2000), h.8.
[10]M. Quraish Shihab, dkk., op. cit., h. 78.
[11]Ibid
[12]Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni, Op.Cit, h. 29
[13]Ramli Abdul Wahid, Ulumul Qur’an I Wd. I, (Cet. 2; Jakarta: Raja Grafindo Perdasa, 1994), h. 49-50.
[14]Muhammad al-Azim az-Zarqani, Manahil al-Irfan Ulumil Qur’an, Juz I. t.t; Dar Qutaibah, t.th. h. 149.
[15]Jalaluddin Abdu ar-Rahman as-shuyuti, op. cit., h. 29.
[16]Al-Zarkani, op.cit., h. 110-111.
[17]Muhammad Abd al-Azim az-Zarqani, Manahil al- Irfan  fi Ulumil  Al-Qur’an  Juz. I (t.t.: Dar Qutaibah, t.th.), h. 152.
[18] Ibid.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar