Pengembangan Sumber Pembelajaran PAI

Pengembangan Sumber Pembelajaran PAI

Macam-macam Sumber Pembelajaran PAI

A. Pengembangan Sumber Belajar PAI

Pengembangan sumber belajar PAI dapat dilakukan diantaranya sebagai berikut:

1. Pembelajaran melalui Karya Wisata

Karyawisata adalah meluaskan wawasan siswa & guru sendiri, membawa siswa keluar sekolah/ keluar kampus ke tempat-tempat yang dapat menambah Ilmu siswa dan guru sendiri. Secara berencana 2x atau lebih dalam 1 tahun, misalnya guru bidang studi tertentu dapat membawa siswa ke museum, perpustakaan nasional, ke pabrik-pabrik tertentu yang berkaitan dengan kurikulum, museum ABRI, TMII, ke PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air), PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Udara), PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas), obyek-obyek wisata tertentu seperti ; ke kebun raya, Kebun binatang, kebun bunga, kebun the, pabrik tekstil, ke sekolah-sekolah favorit, ke masjid-masjid yang mengandung sejarh.


Pergi ke tempat-tempat tersebut memerlukan persiapan matang seperti kendaraan (bus), biaya, hari dan tanggal, guru pembimbing dari pemberitahuan sekolah, kepala orang tua siswa, sebelum berangkat ke tempat tujuan kepada siswa diberikan Informasi mengenai tujuan yang hendak dicapai, tugas-tugas siswa selama ditempat wisata, dengan demikian study tour bukan untuk tamasya saja, observasi, wawancara dengan orangtua tertentu ditempat tujuan tentang sesuatu yang telah diarahkan guru. Setelah pulang dari studi tour diadakan laporan perkelompok yang telah ditugaskan guru dan diskusi kelas sehingga siswa memperoleh manfaat dari studi tour ini.

2.  Pembelajaran melalui hukum belajar Edward L.Thorndike

“The Law of Learning” melalui Pertama‘ The Law of Readness’ yaitu mempersiapkan siswa dengan pokok bahasan, buku murid, alat-alat pelajaran. Kedua ‘ The Law of Effect’ yaitu guru memberikan nilai-nilai Ilmu yang bermanfaat bagi siswa. Dan Ketiga ‘The Law of Exercise’ yaitu banyak memberikan tugas-tugas dan latihan, sehingga siswa terbiasa mengerjakan PR atau tugas pribadi dan tugas bersama.

3. Pembelajaran melalui belajar dan banyak mendengar dan melihat

Semakin sering anak didik mengulang maka akan semakin terekam dalam pikirannya. Dibarengi dengan banyak menyaksikan dan mendengar maka pola pikirnya akan semakin terstruktur.

Sementara itu, pengembangan sumber PAI dari sudut pandang isi pembelajaran diuraikan sebagai berikut:

a.  Model Dikotomis

Pada model ini, aspek kehidupan dipandangan sangat sederhana, dan kata kuncinya adalah dikotomi atau diskrit. Segala sesuatu hanya dilihat dari dua sisi yang berlawanan. Pandangan dikotomis tersebut pada gilirannya dikembangkan dalam memandang aspek kehidupan dunia dan akhirat, kehidupan jasmani dan rohani, sehingga pendidikan agama Islam hanya diletakkan pada aspek kehidupan akhirat saja atau kehidupan rohani saja. Dengan demikian, pendidikan agama dihadapkan dengan pendidikan non agama, pendidikan keislaman dengan nonkeislaman, demikian seterusnya.

Pandangan semacam itu akan berimplikasi pada pengembangan pendidikan agama Islam yang hanya berkisar pada aspek kehidupan ukhrowi yang terpisah dengan kehidupan duniawi, atau aspek kehidupan rohani yang terpisah dari kehidupan jasmani. Pendi dikan (agama) Islam hanya mengurusi persoalan ritual dan spiritual, sementara kehidupan ekonomi, politik, seni-budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan sebagainya dianggap sebagai urusan duniawi yang menjadi garapan bidang pendidikan non agama.

Pandangan dikotomis inilah yang menimbulkan dualism dalam sistem pendidikan, yaitu istilah pendidikan agama dan non agama. Sikap dikotomi (Dualisme) ini terkait erat dengan world view umat Islam dalam memandang dan menempatkan dua sisi ilmu, yaitu ‘ilm al-dînîyah dan ‘ilm ghair al-dînîyah.


Demikian pula pendekatan yang dipergunakan lebih bersifat keagamaan yang normatif, doktriner dan absolutis. Peserta didik diarahkan untuk menjadi pelaku (actor) yang loyal, memiliki sikap commitment (keberpihakan), dan dedikasi (pengabdian) yang tinggi terhadap agama yang dipelajari. Sementara itu, kajian-kajian keilmuan yang bersifat empiris, rasional, analitis-kritis, dianggap dapat menggoyahkan iman, sehingga perlu ditindih oleh pendekatan yang normatif dan doktriner tersebut. Pola dikotomi yang demikian, telah menimbulkan sejumlah efek negatif.

Abdurrahman Mas’ud dalam salah satu penelitiannya sebagaimana dikutip Ma’arif menunjukkan bahwa cara pandang yang dikotomik tersebut akhirnya telah membawa kemunduran dalam dunia pendidikan Islam. Di antaranya adalah menurunnya tradisi belajar yang benar di kalangan muslim, layunya intelek tualisme Islam, melanggengkan supremasi ilmu-ilmu agama yang berjalan secara monotomik, kemiskinan penelitian empiris serta menjauhkan disiplin filsafat dari pendidikan Islam.

b. Model Mekanisme

Model mekanisme memandang kehidupan terdiri atas berbagai aspek, dan pendidikan dipandang sebagai penanaman dan pengembangan seperangkat nilai kehidupan, yang masing-masing bergerak dan berjalan menurut fungsinya, bagaikan sebuah mesin yang terdiri atas beberapa komponen atau elemen-elemen, yang masing-masing menjalankan fungsinya sendiri-sendiri, dan antara satu dengan lainnya bisa berkonsultasi atau tidak.

Aspek-aspek atau nilai-nilai kehidupan itu sendiri terdiri atas nilai agama, nilai individu, nilai sosial, nilai politik, nilai ekonomi, nilai rasional, nilai estetik, nilai biofisik, dan lain-lain. Demikian juga dalam proses pendidikan dibutuhkan sistem nilai agar dalam pelaksanaannya berjalan dengan arah yang pasti, karena berpedoman pada garis kebijaksanaan yang ditimbulkan oleh nilai-nilai fundamental, misalnya nilai agama, ilmiah, sosial, ekonomi, kualitas kecerdasan dan sebagainya.

Oleh karena itu, jika kita membahas nilai-nilai pendidikan, akan jelas melalui rumusan dan uraian tentang tujuan pendidikan, sebab di dalam rumusan tujuan pendidikan itu tersimpul dari semua nilai pendidikan yang hendak diwujudkan di dalam pribadi peserta didik. Demikian pula, jika berbicara tentang tujuan pendidikan Islam, berarti berbicara nilai-nilai ideal yang bercorak Islami. Hal ini mengandung makna bahwa tujuan pendidikan Islam adalah tujuan yang merealisasi idealitas Islami. Sedang idealitas Islami itu sendiri pada hakikatnya adalah mengandung nilai perilaku manusia yang didasari atau dijiwai oleh iman dan taqwa kepada Allah sebagai sumber kekuasaan mutlak yang harus ditaati. Dengan demikian, aspek atau nilai agama merupakan salah satu aspek atau nilai kehidupan dari aspek-aspek kehidupan lainnya. Hubungan antara nilai agama dengan nilai-nilai lainnya kadang-kadang bersifat horizontal-lateral (independent) atau bersifat lateral-sekuensial, tetapi tidak sampai pada vertikal linier.

Relasi yang bersifat horizontal-lateral (independent), mengandung arti bahwa beberapa mata pelajaran yang ada dan pendidikan agama mempunyai hubungan sederajat yang independen, dan tidak saling berkonsultasi. Relasi yang bersifat lateral-sekuensial, berarti di antara masing-masing mata pelajaran tersebut mempunyai relasi sederajat yang bisa saling berkonsultasi. Sedangkan relasi vertikal linier berarti mendudukkan pendidikan agama sebagai sumber nilai atau sumber konsultasi, sementara seperangkat mata pelajaran yang lain termasuk pengembangan nilai insani yang mempunyai relasi vertikal linier dengan agama.

Dalam konteks tersebut, selama ini di sekolah-sekolah masih ada proses sekularisasi ilmu, yakni pemisahan antara ilmu agama dan pengetahuan umum. Nilai-nilai keimanan dan ketakwaan seolah-olah hanya merupakan bagian dari mata pelajaran pendidikan agama, sementara mata pelajaran yang lain mengajarkan ilmunya seolah-olah tidak ada hubungannya dengan masalah nilai keimanan dan ketakwaan. Dampak berupa gejala kegersangan batin dan kejiwaan modern adalah konsekuensi dari hal itu. Bahkan pendidikan di dunia muslim pun berurat berakar mengadopsi konsep sekuler yang dikotomis dan tidak utuh. Model tersebut tampak dikembangkan pada sekolah yang di dalamnya diberikan seperangkat mata pelajaran atau ilmu pengetahuan, yang salah satunya adalah mata pelajaran pendidikan agama yang hanya diberikan 2 atau 3 jam pelajaran per minggu, dan didudukkan sebagai mata pelajaran, yakni sebagai upaya pembentukan kepribadian yang religius. Kebijakan ini sangat prospektif dalam membangun watak, moral dan peradaban bangsa yang bermartabat. Namun demikian, dalam realitasnya pendidikan agama Islam sering termarginalkan, bahkan guru PAI di sekolah pun kadang-kadang terhambat karirnya untuk menggapai jabatan fungsional tertinggi, karena tidak tersedia program studi sebagai induknya.

Kebijakan tentang pembinaan pendidikan agama Islam secara terpadu di sekolah umum misalnya, antara lain menghendaki agar pendidikan agama dan sekaligus para guru agamanya mampu memadukan antara mata pelajaran agama dengan pelajaran umum.Kebijakan ini akan sulit diimplementasikan pada sekolah yang cukup puas hanya mengembanhkan pola relasi horizontal-lateral (independent). Barangkali kebijakan tersebut relatif mudah diimplementasikan pada lembaga pendidikan yang mengembangkan pola lateral-sekuensial. Hanya saja implikasi dari kebijakan tersebut adalah para guru agama harus menguasai ilmu agama dan memahami substansi ilmu-ilmu umum, sebaliknya guru umum dituntut untuk menguasai ilmu umum (bidang keahliannya) dan memahami ajaran dan nilai-nilai agama. Bahkan guru agama dituntut untuk mampu menyusun buku-buku teks keagamaan yang dapat menjelaskan hubungan antara keduanya.

c. Model Organism/Sistemik

Organism dapat berarti susunan yang bersistem dari berbagai bagian jasad hidup untuk suatu tujuan. Dalam konteks pendidikan Islam, model organism bertolak dari pandangan bahwa aktivitas kependidikan merupakan suatu system yang terdiri atas komponen-komponen yang hidup bersama dan bekerja sama secara terpadu menuju tujuan tertentu, yaitu terwujudnya hidup yang religius atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai agama.

Pandangan tersebut menggaris bawahi pentingnya kerangka pemikiran yang dibangun dari fundamental doctrines dan fundamental values yang tertuang dan terkandung dalam al-Qur’an dan al-Sunnah al-Shahîhah sebagai sumber pokok. Ajaran dan nilai-nilai ilahi didudukkan sebagai sumber konsultasi yang bijak, sementara aspek kehidupan lainnya didudukkan sebagai nilai-nilai insane yang mempunyai hubungan vertikal-linier dengan nilai ilahi/agama.

Nilai Ilahi dalam aspek teologi tak pernah mengalami perubahan, sedangkan aspek amaliahnya mungkin mengalami perubahan sesuai dengan tututan zaman dan lingkungan. Sebaliknya nilai insani selamanya mengalami perkembangan dan perubahan menuju ke arah yang lebih maju dan lebih tinggi. Tugas pendidikan adalah memadukan nilai-nilai baru dengan nilai-nilai lama secara selektif, inovatif, dan akomodatif guna mendinamisasikan perkembangan pendidikan yang sesuai dengan tuntutan zaman dan keadaan, tanpa meninggalkan nilai fundamental yang menjadi tolok ukur bagi nilai-nilai baru. Melalui upaya semacam itu, maka sistem pendidikan Islam diharapkan dapat mengintegrasikan nilai-nilai ilmu pengetahuan, nilai-nilai agama dan etik, serta mampu melahirkan manusia-manusia yang menguasai dan menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, memiliki kematangan profesional, dan sekaligus hidup di dalam nilai-nilai agama.

Paradigma tersebut tampaknya mulai dirintis dan dikembangkan dalam sistem pendidikan di madrasah, yang dideklarasikan sebagai sekolah umum yang berciri khas agama Islam, atau sekolah-sekolah (swasta) Islam unggulan. Kebijakan pengembangan madrasah berusaha mengakomodasikan tiga kepentingan utama, yaitu: pertama, sebagai wahana untuk membina roh atau praktik hidup keislaman; kedua, memperjelas dan memperkokoh keberadaan madrasah sederajat dengan sistem sekolah, sebagai pembinaan warga negara yang cerdas berpengetahuan, berkepribadian, serta produktif; dan ketiga, mampu merespon tuntutan-tuntutan masa depan dalam arti sanggup melahirkan manusia yang memiliki kesiapan memasuki era globalisasi, industrialisasi maupun era informasi.


Maka dari itu, model organisme/sistemik dapat diimplementasikan dalam pengembangan pendidikan agama Islam di sekolah, mengingat kegiatan pendidikan agama yang berlangsung selama ini lebih banyak bersikap menyendiri, kurang berinteraksi dengan kegiatan-kegiatan pendidikan lainnya. Cara kerja semacam ini kurang efektif untuk keperluan penanaman suatu perangkat nilai yang kompleks. Selain itu, metodologi pendidikan agama kurang mendorong penjiwaan terhadap nilai-nilai kegamaan serta terbatasnya bahan-bahan bacaan keagamaan. Buku-buku paket pendidikan agama saat ini belum memadai untuk membangun kesadaran beragama, memberikan keterampilan fungsional keagamaan dan mendorong perilaku bermoral dan berakhlak mulia pada peserta didik.

Daftar Pustaka

Abdurrahmansyah,2005, Wacana Pendidikan Islam, Khasanah, Filosofi dan Implementasi Kurikulum Metodologi dan Tantangan Pendidikan Moralitas.Yogyakarta: Global PustakaUtama
Agus,Bustanuddin.1999, Pengembanga. Ilmu-ilmu Sosial Studi Banding antara Pandangan Ilmiah dan Ajaran Islam.Jakarta: Gema Insani
Departemen Agama RI, 2002,  Mushaf Al-Qur’an dan Terjemah. Depok:Al-Huda
Rohani HM, Ahmad.  Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Tafsir, Ahmad.2004,   Metode Khusus Pengajaran Agama Islam.Bandung: Raja Wali Press
Zuhairini. 1992, Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara

Baca juga:

Blogger
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak