Home » » Dasar-Dasar Pemikiran Filosof Yunani Kuno

Dasar-Dasar Pemikiran Filosof Yunani Kuno

Dasar-Dasar Pemikiran Filosof Yunani Kuno

Pemikiran Filosof Yunani Kuno

Masalah ketetapan dan ketidaktetapan, atau masalah yang tetap dan yang berobah merupakan masalah yang paling dipersoalkan dalam filsafat sejak zaman Yunani hingga zaman modern. Begitu pula masalah badan dan jiwa termasuk masalah yang sering diperbincangkan para ahli filsafat yang tidak hany pada zaman Yunani klasik saja (Socrates, Plato, dan Aristoteles), namun pada zaman modern ini orang memperasalkan badan dan jiwa terutama sejak munculnya psikologi modern.


Heracleitus menyatakan semuanya menjadi berbeda dan berobah (teori phanta rei). Orang tidak akan dua kali mengarungi sungai yang sama karena tidak ada yang sama., Semua yang ada dalam kosmos selalu berobah. Sebaliknya Parmenides mempersoalkan segala sesuatu itu tetap tidak berobah. Jika dalam alam semesta terdapat elemen yang tetap, maka elemen yang tetap Ini tidak akan berobah. Zeno lebih ekstrim, ia mengemukakan bahwa hanya perobahan dalam dunia nyata yang permanen, yang mustahil terjadi, tetapi juga perobahan konsep mustahil terjadi.

Democretos (460-360 SM), seorang pelopor filsafat materialisme mencoba memecahkan pertentangan yang timbul antara teori perobahan dengan teori permanen, yaitu dengan mengemukakan karakteristik baru tentang dunia realitas secara fundamental. Menurut Deemocretos karakteristik dasar alam semesta adalah tidak bisa berobah di satu pihak dan di pihak lainnya secara konstan berobah. Ia  mengatakan bahwa bagaian akhir dari dunia nyata adalah satu bagian yang tidak dapat diuraikan, yaitu atom. Setiap atom memiliki karakteristik yang tetap dalam hal bentuk, ukuran, dan selalu sama. Tetapi di samping keadaannya yang tidak berobah, atom dianggap mengalami perobahan posisi yang secara terus-menerus tetap bergerak melalui ruang yang kosong. Setiap saat atom tersebut jatuh melalui  ruang, bertabrakan dengan atom lainnya, dan terlempar kedalam sususnan dan garis gerakan yang sama. 

Pada tahun 550 SM telah terjadi suatu revolusi intelektual, yaitu berkembangnya rasa individualisme dan tuntutan pemecahan masalah yang bersifat praktis menyebabkan para filosuf Yunani menekuni persoalan filsafat yang menyangkut manusia itu sendiri. Mereka itu disebut sebagai aliran Shopist atau Sofia. Di antara mereka itu adalah Protagoras, Georgias, Hippias dan Prodikos.

Protagoras berpendapat bahwa ukuran dari segala sesuatu itu bersifat relatif tergantung pada kebutuhan dan minat manusia, jadi manusia menentukan segalanya. Agaknya pemikiran inilah yang menjadi dasar pemikiran humanisme.

Gorgias mengatakan bahwa kebenaran itu tergantung pada tempat dan waktu, yang paling penting adalah penglihatan, tetapi penglihatan itu pun sangat subjektif. 

Dari uraian tadi dapat dilihat bahwa ciri-ciri alam pikiran sophist itu adalah sebagai berikut:
1.  Relativisme,  artinya kebaikan, kebenaran, keadilan dan keindahan itu relatif, tergantung kebutuhan dan minat seseorang.
2.  Skeptisisme, pendapat Protagoras yang dikutip oleh Gorgias dan dikembangkan menjadi doktrin bahwa akal manusia tidak pernah mengetahui sesuatu kecuali hal-hal yang ditangkap berdasarkan subjektivitas seseorang.
3.  Individualisme, bahwa semua undang-undang dan aturan-aturan hanyalah ekspressi keinginan yang paling kuat dari kepentingan manusia.

Pendapat dari aliran Sophist tersebut akhirnya dibantah oleh para filosuf yang datang kemudian, seperti Socrates, Plato dan Aristoteles yang dikemudian hari sesungguhnya telah merealisasikan filsafat baru dari revolusi yang telah dikumandangkan oleh kaum Sophist, yakni mengambil manusia sebagai subjek pemikiran filsafat.

Socrates (469-399)SM., mengemukakan bahwa pengetahuan itu bersifat universal. Kebenaran itu tetap dan harus dicari. Manusia menurutnya, dapat memperoleh pengetahuan jika menggunakan metoda yang benar. Muridnya adalah Plato (427-347)SM., keduanya lahir di Athena.

Plato (427-347)SM. Menurut Plato, nafsu dan emosi harus dikendalikan oleh pikiran. Kebaikan adalah penguasa tertinggi alam semesta yang dipimpin oleh pikiran, Dia menolak pendapat yang mengatakan bahwa alam semesta ini adalah alam sempurna. Menurut dia, ada seuatu yang lebih tinggi dari alam semesta ini, yaitu alam idea yang hanya ditangkap oleh akal, setiap sesuatu adalah tiruan dari ide.

Aristoteles mengajarkan bahwa kebaikan tertinggi manusia terdapat dalam kesadaran diri. Kesadaran diri identik dengan berpikir, tetapi kehidupan berpikir tergantung pada kombinasi antara kondisi fisik dan mental seseorang. Tubuh harus tetap dalam kondisi sehat dan emosi dalam kontrol yang terkendali. Pemecahannya ditentukan dalam prilaku manusia dalam memelihara keseimbangan antara nafsu yang menggelora dan ketenangan jiwa.


DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Zainal Arifin, Perkembangan Pikiran Terhadap Agama, Jilid 2, Jakarta: Penerbit  Al-Husna, 1984.
Bertens, Karl, Sejarah Filsafat Yunani, Kanisius, Cet. XII, Yogyakarta, 1995.
Brubacher,  John S., Modern Philosophy of Education, Mc.Graw Hill Book Company,  Inc. New York, 1950.
Burns, Edward McNall, Western Civilization: Their History and Their Culture , W.W.Norton and Co, New York, 1955.
Terimakasih telah membca artikel berjudul Dasar-Dasar Pemikiran Filosof Yunani Kuno

Kumpulan Makalah
Kumpulan Makalah Updated at: 9/26/2017

0 komentar Dasar-Dasar Pemikiran Filosof Yunani Kuno

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak