Skip to main content

Prinsip-Prinsip Ajaran Islam

Islam merupakan agama yang memiliki ajaran mengatur kehidupan manusia secara keseluruhan dengan perinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya. Sebelum memahami lebih jauh tentang prinsip-prinsip ajaran islam terlebih dahulu harus dipahami makna dari kata islam itu sendiri.

Pengertian Islam

Islam mengandung arti kepatuhan, kepatuhan, kepatuhan sesuai dengan kehendak Tuhan, berasal dari kata yang berarti Salama patuh atau menerima. Pada dasarnya kata salima berarti makmur tanpa cela dan tanpa cacat. Dalam bentuk kata masdar, islam berarti salamat. Dari akar kata salm, silm, yang berarti kedamaian, menyerah, menyerah terbentuk. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa makna yang terkandung dalam kata-kata Islam adalah perdamaian, kemakmuran, bertahan hidup, menyerah, tunduk, dan taat. Dari kata salamat, salm muncul ungkapan "Assalamualaikum" yang telah berakar di masyarakat Indonesia. Berarti bahwa Anda akan aman dan damai.

Prinsip-Prinsip Ajaran Islam

Seperti dijelaskan di atas bahwa islam memiliki ajaran yang mengandung prinsip-prinsip untuk mengatur kehidpan manusia yang lebih bermakna dan bermartabat. Berikut ini adalah prinsip-prinsip ajaran Islam yang dimaksud.

1. Menurut sifat manusia

Kata fitrah harfiyah berarti keadaan kemurnian. Yag berarti bahwa alam adalah kecenderungan atau pengakuan perasaan mereka untuk mengendalikan kekuatan mereka dan alam semesta. Seperti dicatat oleh para ahli, itu bukan hanya sifat religius tetapi juga sifat keingintahuan tentang sesuatu, sifat cinta dan cinta seni. Dengan sifat religius manusia menjadi tidak beriman dan mulia, dengan sifat keingintahuan manusia itu menjadi pengetahuan yang dipelajari, dan dengan sifat seni manusia itu menjadi cinta yang halus dan indah.

2. Ketuhanan

Manusia terdiri dari unsur fisik dan unsur spiritual. Fisikitas bumi atau bumi melambangkan kerendahan hati, sedangkan kerohanian berasal dari Tuhan, dan bahkan ia adalah elemen ilahi dari diri manusia yang melambangkan ketinggian yang berkilauan. Kehidupan yang seimbang adalah kehidupan yang memperhitungkan kepentingan fisik dan spiritual, tetapi kekuatan spiritual harus mengarahkan kekuatan fisik. Selain itu, kehidupan yang seimbang juga dikaitkan dengan upaya manusia dalam menyiapkan makanan untuk kehidupan di dunia dan akhirat. Dunia di tangan seseorang harus digunakan dengan visi transendental, yaitu dunia sebagai kepercayaan yang harus dipertanggungjawabkan dan harus digunakan untuk mencapai kebahagiaan di akhirat.

3. Menurut kondisi zaman dan tempat

Islam adalah agama akhir zaman, setelah itu tidak ada lagi agama yang diungkapkan oleh Allah SWT. Dengan sifat ini, Islam yang didasarkan pada Alquran dan al-Hadits sebagaimana disebutkan sebelumnya akan terus berlaku sepanjang masa. Meskipun sumber ajaran Islam adalah Al-Quran dan al-Hadits, tetapi dalam memahami dan menerapkan perbedaan yang selaras dengan perkembangan masyarakat. Namun, perbedaan ini bukan dengan mengubah teks Alquran dan al-hadits dan menolak hal-hal yang qat'i yaitu, dalam hal aqidah, ibadah, dan moralitas rahmat.

4. Tidak Menggangu manusia

Ajaran-ajaran Islam turun untuk meningkatkan martabat, kasih sayang, menarik orang dari kegelapan menuju terang, dan dari kebiadaban ke peradaban. Ajaran Islam juga memberikan toleransi kepada bangsa dalam hal ibadah, sholat, puasa, dan makanan. Keberadaan berbagai fasilitas atau dispensasi menunjukkan bahwa Islam tidak menjadikan manusia, jika itu terjadi bertentangan dengan visi, misi, dan tujuan ajaran Islam itu sendiri, yaitu untuk memberi makan jiwa, agama, pikiran, kekayaan dan keturunan.

5. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

Islam adalah satu-satunya agama yang sejak kelahirannya mengharuskan setiap orang untuk membaca, karena membaca kita akan dengan mudah mendapatkan informasi yang sedang terjadi atau yang sedang berkumandang di masanya, selain membaca kita akan mendapat ilmu, pengetahuan manusia. Akan mendapatkan kemudahan dan kecepatan dalam mencapai tujuan agama. Ibn Ruslan Zubad halaman 68 dalam buku mengatakan "siapa pun yang bekerja tanpa sepengetahuan, maka amal itu ditolak, tidak diterima.

6. Berdasarkan penelitian

Penelitian ini adalah pengembangan ilmu pengetahuan, pengumpulan fakta dan data untuk membuktikan sesuatu yang diatur secara sistematis dalam teori buntu. Ajaran Islam didasarkan pada hal-hal ini dan berhati-hati dalam menentukan suatu kebijakan, dan kebijakan tersebut tidak hanya didasarkan pada dugaan atau dugaan, atau bahkan sebagai bagian dari itu untuk orang lain tanpa mengetahui mengapa.

7. Berorientasi ke masa depan

Islam adalah agama yang mengajarkan penganutnya bahwa situasi mereka jauh lebih baik daripada masa lalu dan sekarang. Orang yang berorientasi masa depan akan lebih kreatif, optimis, dan tidak akan memuliakan masa lalu hanya untuk menghibur diri mereka sendiri atau kemalasan di dekat masa kini. Kemudian seorang pria akan berusaha untuk meningkatkan kualitas pekerjaan mereka, sehingga itu akan tetap bermanfaat dan dapat bersaing secara adil.

8. Prinsip Kesetaraan

Prinsip doktrin kesetaraan Islam itu penting selain membawa manfaat juga akan mengarah pada saling menghormati, menghargai, akan menghilangkan praktik penjajahan dan berbagai tindakan ketidakadilan manusia satu sama lain, dan akan membangun citra Islam sebagai agama kasihanilah seluruh dunia.

9 Keadilan

Keadilan dapat didefinisikan sebagai orang lain berdasarkan perasaan memberi kesempatan yang sama, seimbang, profesional, sesuai dengan peran, tugas, tanggung jawab, dan prestasi mereka. Diskusi Dengan diskusi ini, ide dan pemikiran dari berbagai pihak akan diakomodasikan, sehingga berbagai kemungkinan ketidakpuasan yang dapat mengarah pada demonstrasi, demonstrasi, dll dapat dihindari.

10. Persaudaraan

Dalam hal persaudaraan, ajaran islam memandang bahwa meskipun manusia memiliki latar belakang yang berbeda tetapi mereka tetap memiliki unsur yang sama dalam hal asal, proses, kebutuhan hidup, tempat tinggal, dan leluhur.

11. Keterbukaan

Sikap yang percaya pada kebenaran suatu agama atau ideologi dan berusaha mempertahankan dan mempraktikkannya, tetapi pada saat yang sama ia ingin mendapatkan masukan dari luar, dan menghargainya. Dengan kata lain, bukan sikap keterbukaan untuk menerima segala sesuatu yang berasal dari penelitian dan penyaringan eksternal, tetapi akan menerima atau memperbaiki informasi apa pun, untuk tetap waspada, berhati-hati, dan menyesuaikannya dengan pedoman Al-Qur'an dan Al-Hadits .
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar