Skip to main content

Konsep Pemikiran Nurkholis Madjid

Nurkholis Madjid merupakan salah satu tokoh agama sekaligus tokoh nasional yang memiliki pemikiran rasional terkait moderenisasi, sekularisasi dan sakralisasi. Terlepas dari beberapa konsep pemikirannya yang dianggap kontroversial oleh beberapa kalangan tertentu, Nurkholis Madjid paling tidak memberikan warna tersendiri dalam memberikan kesimpulan dari perspektif yang berbeda.

Biografi Nurkholis Madjid

Nurkholis Madjid lahir di Mojoanyar-Jombang, sebuah desa di Jawa Timur, 17 Maret 1939 M (26 Muharram 1358 H) dari kalangan keluarga santri. Dia memasuki Sekolah Rakyat (SR) dan Madrasah Ibtidaiyah, Pasantren Darrul Ulum, kemudian melanjutkan ke KMI (Kullityul Mu 'allimin) Pondok Modern Gontor. Lulus di Pondok Hidayatullah, Fakultas Bahasa Arab dan berhasil mencuri gelar sarjana. Kemudian ia melanjutkan studinya di Universitas Chicago sampai ia memperoleh gelar Ph. D. Di bidang pemikiran Islam dengan disertasinya yang berjudul Ibn Taimiya tentang Kalam dan Filsafat: Masalah Resonansi dan Wahyu dalam Islam (Ibn Taimiya pada Kalam dan Filsafat: Masalah Hubungan antara Alasan dan Wahyu dalam Islam).

Di berbagai organisasi, Nurkholis Madjid melakukan banyak kegiatan. Dari latar belakang ayahnya, ia harus masuk HMI, bukan PMII dan organisasi lain.
Pada Tahun 1960-an, Nurkholis Madjid menjadi Ketua Ikatan Pelajar Islam kemudian menjadi Ketua PB HMI selama periode 1966-1969 dan 1967-1971 dan juga presiden pertama Pelajar Islam Asia Tenggara Asosiasi (PEMIAT) Tahun 1967-1969, sebagai wakil sekretaris jenderal Organisasi Federasi Islam Internasional (IIFSO) pada tahun 1967-1971.
Sejak tahun 1986, bersama dengan beberapa temannya di Jakarta, ia telah mendirikan dan memimpin Yayasan Wakaf Paramadina, dengan kegiatan yang mengarah ke Gerakan Intelektual Islam Indonesia, sejak tahun 1991 ia telah menjabat sebagai dewan ahli dari Asosiasi Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) , anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, dan terdaftar sebagai salah satu anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Indonesia. Karya-karyanya yang diterbitkan meliputi Kekayaan Intelektual Islam, Modernitas Islam dan Indonesianisme, Doors to God, Peradaban Agama Islam, Cakrawala Peradaban Islam, Komunitas Keagamaan dan banyak lagi oleh karya Nurkholis Madjid dalam bahasa asing.
Itulah biograsfi singkat Nurkholis Madjid yang ditulis dalam makalah ini. Ia memang layak menjadi tokoh intelektual Islam karena sejak awal ia dididik dalam pendidikan agama, mulai dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi, selain keterlibatannya dalam organisasi gerakan mahasiswa. Pengakuan perannya dalam arena pemikiran Islam di Indonesia terbukti dalam kenyataan bahwa pemikiran tokoh-tokoh ini dibuat sebagai bahan untuk beberapa tesis master dan disertasi doktoral serta di samping diskusi dalam setiap makalah tentang masalah ini.

Konsep Pemikiran Nurkholis Madjid

Nurkholis Madjid menggagas konsep pemikiran tentang Modernisasi, Sekularisasi, dan Desakralisasi. Berkut penjelasan terkait hal tersebut.

1. Modernisasi

Dalam kamus bahasa Indonesia, modernisasi dapat diartikan sebagai gerakan untuk merombak cara hidup lama untuk mengarah pada kehidupan bentuk / model kehidupan baru, penentuan model baru.
Dalam masyarakat barat, modernisasi berarti pemikiran, gerakan dan upaya untuk mengubah ide, kebiasaan, situasi lama dan sebagainya, sehingga mereka menjadi kompatibel dengan pendapat dan kondisi baru yang disebabkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Pikiran dan tradisi ini muncul antara 1650-1800 M.
Menurut Nurkholis Madjid, pemahaman yang mudah tentang modernisasi adalah pemahaman yang identik atau hampir identik dengan rasionalisasi. Dan itu berarti proses perombakan pola pikir lama dan prosedur kerja yang tidak rasional (rasional), dan menggantinya dengan pola berpikir baru dan sistem kerja yang nyata (rasional).
Tujuannya adalah untuk memperoleh efisiensi dan efisiensi maksimum. Ini dilakukan dengan membuat penemuan manusia terbaru di bidang sains. Sedangkan untuk sains, tidak lain adalah hasil dari pemahaman manusia tentang hukum objektif yang mengatur sifat ideal dan material, sehingga sifat ini beroperasi sesuai dengan kepastian dan harmoni tertentu. Orang yang bertindak sesuai dengan sains (ilmiah), artinya mereka bertindak sesuai dengan hukum kodrat, alih-alih menggunakan hukum kodrat itu sendiri, maka ia mendapat kegunaan yang tinggi. Jadi sesuatu bisa disebut modern jika itu rasional, ilmiah dan sesuai dengan hukum sesuai dengan alam.
Selanjutnya, menurut Nurkholis Madjid bahwa modernisasi adalah suatu keharusan, bahkan merupakan kewajiban mutlak. Modernisasi adalah aktualisasi dari perintah dan ajaran Allah SWT. Dan modernisasi yang dimaksud di sini sesuai dengan pengertian di atas.
Sikap dasarnya adalah sebagai berikut:

  1. Allah menciptakan semua sifat ini dengan hak (kanan), bukan salah (salah), (QS. 16: 3, 38: 2)
  2. Dia mengaturnya dengan aturan Ilahi (sunnatullah) yang mengatur dan pasti (Q. 7:54, 25: 2)
  3. Sebagaimana diciptakan oleh Allah Sang Pencipta, sifat ini baik, menyenangkan (membawa kebahagiaan dunia) dan harmonis (Pertanyaan 21: 7, 67: 3).
  4. Manusia diperintahkan oleh Allah untuk mematuhi dan mempelajari hukum-hukum yang telah Dia ciptakan (QS. 10: 101)
  5. Tuhan menciptakan seluruh alam semesta untuk kepentingan manusia, kesejahteraan dan kebahagiaannya, sebagai rahmat dari-Nya. Namun, hanya mereka yang berpikir atau rasional akan mengerti dan kemudian menggunakan hadiah (QS. 45:13).
  6. Karena perintah untuk menggunakan rasio, Allah melarang segala sesuatu yang menghalangi pemikiran, yaitu mempraktikkan tradisi lama yang bertentangan dengan nilai-nilai esensial dari ajaran Islam.
Dengan demikian, jelas bahwa modernisasi yang berarti rasionalisasi untuk mendapatkan penggunaan maksimal dalam berpikir dan bekerja, untuk kebahagiaan umat manusia, adalah perintah dasar Tuhan. Modernisasi berarti berpikir dan bekerja sesuai dengan kodrat dan sunnatullah (hukum ilahi) yang merupakan hak, karena alam adalah hak. Sunnatullah telah memanifestasikan dirinya dalam hukum kodrat, sehingga untuk menjadi modern, manusia harus terlebih dahulu memahami hukum yang terjadi di alam (perintah Tuhan). Pemahaman manusia tentang hukum-hukum alam, melahirkan ilmu pengetahuan, sehingga modern berarti ilmiah. Dan pengetahuan manusia diperoleh melalui akal sehingga modern berarti ilmiah, juga berarti rasional. Tujuan dari sikap rasional adalah untuk mendapatkan kegunaan maksimal untuk memanfaatkan sifat ini untuk kesejahteraan manusia.
Memanfaatkan rasio secara maksimal baik yang ditujukan untuk hak dan sunnatullah adalah sesuatu yang perlu diwujudkan, karena sikap ini dapat melahirkan kemajuan dan modernitas. Sikap modern ini juga melahirkan sikap ilmiah. Orang modern menurut Nurkholis Madjid adalah orang yang progresif dan dinamis. Jika dia tidak melakukan itu, dia akan ketinggalan zaman. Demikian pula, seorang Muslim yang tidak memiliki sikap seperti itu, ia akan ketinggalan zaman. Namun demikian, modernitas itu sendiri adalah relatif karena itu adalah hasil dari transformasi manusia. Sesuatu yang dikatakan modern saat ini, mungkin di masa depan yang mungkin kuno dan ketinggalan zaman. Yang absolut hanya modern adalah Allah SWT. Singkatnya, modernisasi sedang dalam proses yang panjang dan tak ada habisnya, kecuali ke titik utama dan puncak keabadian, yang merupakan mutlak itu sendiri, Allah SWT.
Dari pandangan Nurkholis Madjid, dapat dipahami bahwa tidak ada manusia yang dapat mengklaim kebenaran manusia sebagai kebenaran absolut, dan kemudian dengan segala kekuatannya membela kebenaran yang dimilikinya dari setiap perubahan. Sebaliknya, karena sadar akan relativitas manusia, setiap orang harus mau menerima dan mendengarkan kebenaran dari orang lain.

2. Sekularisasi

Gagasan utama tentang diskusi dalam Islam yang dipicu oleh Nurkholis Madjid adalah sekularisasi. Semua ide lain dapat dikatakan keluar dari ide mendasar ini. Untuk memahami itu, pertama-tama kita perlu melihat apa yang dimaksud dengan sekularisasi dan sekularisme.
Menurut Harun Nasution, bahwa gagasan sekularisme dan sekularisasi adalah melepaskan diri dari ikatan agama. Dalam proses pengembangan lebih lanjut, ia dapat berorientasi pada pelepasan agama dan akhirnya pada ateisme.
Sementara itu, Cox memberikan perbedaan mendasar pada sekularisasi dan sekularisme. Sekularisme menurut Cox adalah ideologi yang mengandung ajaran yang mengikat, sehingga sekularisme dapat menyerupai sifat tertutup dan sekularisme karena ideologi memiliki sifat yang tertutup dan mengikat, sedangkan sekularisasi memiliki sifat kebebasan dan transparansi. Dengan kata lain, jika sekularisme sebagai ideologi adalah statis dan tidak berubah, maka sekularisasi, di sisi lain, adalah dinamis dan mengarah pada perubahan dan perubahan.
Karena sekularisasi terbuka, menurut Nurkholis Madjid, sekularisasi ini diperlukan karena Muslim Indonesia dalam perjalanan sejarah, tidak lagi dapat membedakan nilai-nilai yang dianggap oleh Islam, yang transenden dan temporal.
Sekularisme yang ditawarkan oleh Nurkholis tidak dimaksudkan untuk menjadi sekularisme dan untuk mengubah umat Islam menjadi sekularis. Tetapi yang dimaksudkan adalah sesuatu yang duniawi, dan mencoba untuk melepaskan (kecenderungan) kecenderungan Muslim yang transenden.
Gagasan Nurkholis Madjid adalah respons terhadap ideologi kuno (statis) yang banyak dipegang oleh umat Islam. Pemahaman ini muncul pada abad ke-18, di mana budaya barat, terutama Prancis, mulai menarik perhatian orang Turki. Buku-buku Barat mulai dibaca dan otoritas negara mulai memiliki perpustakaan yang berisi buku-buku yang berkaitan dengan agama, tetapi juga buku-buku yang berkaitan dengan non-agama. Pada waktu itu, membaca atau bahkan memiliki buku selain dari buku-buku agama dianggap bertentangan dengan ajaran agama. Oleh karena itu fatwa dikeluarkan oleh mufti Turki yang melarang perpustakaan perdana menteri menjadi wakaf karena buku-buku tersebut berisi buku-buku filosofis, historis, dan lainnya yang berkaitan dengan sains.

3. Desakralisasi

Dekalisasi secara harfiah berarti menghilangkan pemurnian sesuatu selain Allah SWT. Desakralisasi juga dapat diartikan sebagai upaya untuk memberantas tradisi lama yang menjadikan benda suci ciptaan Tuhan.
Sakralisasi (pemurnian / penyembahan) benda atau manusia (perwakilan) pernah muncul pada Abad Pertengahan. Pada waktu itu, sebagai Muslim, kuburan suci para suci adalah suci dan meminta perlindungan dari kuburan. Perbuatan seperti itu muncul karena mereka menganggap bahwa orang-orang kudus itu suci, dan dari kekudusan mereka, para penjaga dapat bertindak sebagai wasilah (perantara) antara Allah dan manusia untuk meminta bantuan dan perlindungan mereka bagi keselamatan akhirat.
Deskripsi di atas adalah bentuk penyimpangan dari umat Islam terhadap ajaran agamanya. Dalam hal ini, Nurkholis Madjid menawarkan, mungkin, umat Islam tidak keberatan meninjau kembali paradigma dan aktualisasi ajaran Islam kemudian kembali ke ajaran Islam yang sebenarnya. Dia pernah memperkenalkan gagasan sekularisasi ajaran dalam arti desakralisasi ajaran Islam dalam berbagai dimensi kehidupan.
Dengan kata lain, Nurkholis Madjid ingin mewujudkan proses pemahaman sosiologi sekularisasi dengan konteks pemikiran rasional modern, artinya ada upaya untuk menghapuskan pemahaman bid'ah, takhayul, khurafat dan sebagainya. Singkatnya, desentralisasi yang digunakan dalam istilah ini lebih menekankan pada nilai-nilai baru dalam konteks memurnikan ajaran Islam berdasarkan Al-Qur'an dan sebagai 'Sunnah, bukan pada yang lain.
Dari konteks pemikiran Nurkholis Madjid tentang desakralisasi, dapat dipahami bahwa ia ingin mengingatkan umat Islam untuk secara sempurna memahami dan mengaktualisasikan apa yang dituntut oleh ajaran Islam.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar