Skip to main content

Nilai Tukar Rupiah Melemah ? Kebijakan Pemerintah Untuk Mengatasinya

Nilai tukar mata uang dipengaruhi oleh kondisi penawaran-permintaan dalam mata uang tersebut. Jika permintaan semakin tinggi, maka penawaranya maka nilai tukar mata uang tersebut akan mengalami kenaikan. Sebaliknya, apabila penawaran dalam mata uang meningkat, maka nilai tukar mata uang itu akan melemah.

Faktor Penyebab Melemahnya Nilai Tukar Rupiah

Faktor penyebab melemahnya nilai tukar rupiah bisa dibagi menjadi faktor internal dan faktor eksternal. 
Baca Juga : Pengertian Uang, Fungsi dan Jenisnya
1. Faktor internal mencakup hal-hal menjadi berikut: 

  • Kebijakan transaksi berjalan yaitu total barang ekspor barang dan jasa dikurangi impor barang dan jasa.
  • Keluarnya sebagian akbar investasi portofolio asing dari indonesia yang menurunkan nilai tukar rupiah karena dalam proses ini investor asing menukar rupiah dengan mata uang primer dunia, seperti dolar AS untuk diputar dan di investasikan di negara lain.
  • Politik aturan negara terkait utang.

Melemahnya rupiah tidak hanya berdampak pada kenaikan harga komoditas impor saja, tetapi juga berdasarkan utang luar negeri, lantaran utang luar negeri ditetapkan dengan mata uang asing. Akibatnya, karena utang wajib  dibatasi dengan nilai mata uang asing, sedangkan nilai tukar rupiah dipastikan melemah, maka besaran utang otomatis meningkat.

2. Faktor eksternal Melemahnya Nilai Tukar Rupiah
Melemahnya nilai tukar Rupiah lebih disebabkan menguatnya ekonomi Amerika Serikat. Pertumbuhan ekonomi asing yang bertenaga menimbulkan spekulasi Bank Sentral yang menaikkan suku bunga. Sementara di Eropa, Jepang, dan Tiongkok justru sedang membutuhkan dukungan kebijakan moneter untuk mencegah perekonomianya jatuh ke masa resesi. Dengan istilah lain, suku bunga cenderung mengalami kenaikan, sedangkan suku bunga pada negara lain cenderung permanen atau bahkan menurun. Suku bunga yang g tinggi di AS memicu aliran dana ke aset-aset pada dolar AS selain saham dan obligasi.
Selain itu, kekhawatiran ekonomi global akan terus melambat membuat investor global mencari negara yang aman untuk investasi mereka. Turunya harga minyak dunia yang terjadi akhir-akhir ini dikhawatirkan berdampak negatif terhadap negara-negara seperti rusia sehingga memperburuk syarat perekonomian global. Dalam keadaan seperti ini, bentuk yang dipercaya paling aman untuk berinvestasi adalah aset pada bentuk dolar AS.

Kebijakan Pemerintah Dalam Mengatasi Nilai Tukar Rupiah

Paling tidak ada dua faktor yang mengakibatkan rupiah kian melemah. Dari sisi eksternal karena ekonomi AS sedang membaik sebagai akibatnya mata uangnya semakin kuat. Sedangkan dari sisi internal kebutuhan dolar terus meningkat. Ada kewajiban korporasi membayar utang diawal tahun hingga pertengahan tahun. Juga ekspor kita belum mampu digenjot lebih besar, sebaliknya impor masih begitu besar sebagai akibatnya terjadi defisit transaksi perdagangan.

Terkait dengan faktor penyebab melemahnya nilai tukar rupiah tersebut, pemerintah harus mengambil kebijakan yang tepat, diantaranya:

  • Menjaga stabilitas nilai tukar rupiah

Kehadiran BI di pasar valas domestik dalam melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah diperkuat dengan intervensi pada pasar. Disamping melakukan hegemoni di pasar spot, BI akan melakukan intervensi pada pasar forward guna menyeimbangkan penawaran dan permintaan pada pasar forward. Upaya menjaga ekuilibrium pasar forward semakin penting dalam mengurangi tekanan di pasar spot.

  • Memperkuat pengelolaan likuiditas rupiah

Pengendalian likuiditas rupiah diperkuat dengan menerbitkan Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI) tiga bulan dan Reverse Repo SBN dengan tenor dua minggu. Penerbitan instrumen operasi pasar terbuka (OPT) tersebut dimaksudkan untuk mendorong penyerapan likuiditas sebagai akibatnya bergeser ke instrumen yang bertenor lebih panjang. 
Baca Juga : Jenis-Jenis Bank dan Fungsinya
Pergeseran likuiditas  ke tenor yg lebih panjang dibutuhkan bisa mengurangi resiko penggunaan likuiditas rupiah yang hiperbola pada aktivitas yg bisa menaikkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

  • Memperkuat pengelolaan penawaran dan permintaan valuta asing

Pengelolaan penawaran dan permintaan terhadap valas diperkuat dengan berbagai kebijakan. Hal ini dilakukan dengan tujuan menaikkan penawaran dan mengendalikan permintaan terhadap valas. 

  1. Penguatan kebijakan untuk mengelola supply dan demand valas di pasar forward. Hal ini dilakukan menggunakan mempertinggi threshold forward jual yang wajib   memakai underlying menurut semula US$ 1 juta menjadi US$ lima juta per transaksi per nasabah dan memperluas cakupan underlying spesifik buat forward jual, termasuk deposito valas didalam negeri dan luar negeri. 
  2. Penerbitan Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) Valas. Penerbitan tersebut akan mendukung pendalaman pasar keuangan, khususnya pasar valas. 
  3. Penurunan holding.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar