Skip to main content

Definisi Tasawuf dan Sejarah Perkembangannya

Keutamaan Ilmu Tasawuf

A. Definisi Tasawuf

Wacana tasawuf mengarahkan pikiran kita kepada orang-orang yang saleh, banyak beribadah, untuk menjaga perilaku bersatu dengan Allah, dengan sesama manusia, dengan makhluk lain dan selalu ingin dekat dengan Allah, pencipta semua makhluk. Namun, istilah ini adalah istilah yang didasarkan pada gerakan batin dalam upaya untuk melampirkan pelayan kepada Sang Pencipta. Untuk lebih mengetahui apa itu Sufisme, pertama-tama perlu dipahami pemahamannya.

1. Definisi tasawuf secara etimologi

Asal usul istilah Sufisme mengacu pada beberapa kata yaitu:
a. صفى artinya suci. Dalam pengertian ini orang-orang yang ingin dekat dengan Allah SWT, kegiatan mereka sebagian besar diarahkan untuk menyucikan diri agar dekat dengan Allah SWT. Ini berarti bahwa Allah yang Mahakudus tidak dapat didekati kecuali oleh mereka yang memelihara kekudusan. Bishr bin al-Harith berkata: "Para sufi adalah orang-orang yang hatinya murni / tulus kepada Allah.
b. صف berarti baris atau baris depan. Orang yang ingin dekat dengan Tuhan, harus memiliki iman yang kuat. Karena itu selalu ada di garis depan dalam hal ibadah.
c. اهل الصفة artinya penghuni teras (masjid). Istilah ini didasarkan pada mereka yang ingin dekat dengan Allah SWT, sehingga mereka juga bermigrasi dengan Nabi dari Mekah ke Madinah. Di Madinah mereka tinggal di serambi masjid.
d. صوف berarti wol, bulu hewan kasar. Orang-orang yang selalu dekat dengan Allah SWT., Hanya memakai alat berpakaian bulu binatang kasar, domba, unta dan sebagainya, ini hanya pandangan saya karena para sufi tidak mengkarakterisasi diri dengan mengenakan pakaian dari bulu.
e. Pendapat lain mengatakan bahwa istilah sufisme derasal dari bahasa Yunani Sophos atau Shofia berarti kebijaksanaan atau kebijaksanaan. Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas orientalis. Sofias adalah orang-orang yang ahli dalam filsafat atau kebijaksanaan. Mereka menambahkan bahwa dalam tradisi Arab kata sofia direduksi menjadi kata shufiya untuk menunjukkan para penyembah dan filsuf agama.
Dari pendapat limat di atas, maka secara etimologis kata tasawuf lebih dekat dengan kata صوف. Seperti Ibn Khaldun berpendapat bahwa kata sufi adalah kata yang diciptakan dari kata suf. Namun perlu diingat, bukan hanya karena ia mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu dan wol, maka seseorang disebut sufi. Seseorang menggunakan wol hanya sebagai simbol kemurnian, mereka menyiksa dan menekan nafsu dan berjalan di jalan Nabi.

2. Definisis tasawuf secara terminologi

Ada banyak definisi yang telah dibuat untuk menjelaskan pemahaman tasawuf dalam terminologi. Inilah beberapa di antaranya:
Menurut Abu Qasim al-Qusyaeri (376-466), tasawuf adalah terjemahan dari ajaran Alquran, sunnah, perjuangan untuk mengendalikan hawa nafsu, menjauhi ajaran sesat, mengendalikan nafsu, dan menghindari sikap meredakan ibadah ibadah keagamaan.
Menurut Ahmad Amin, tasawuf adalah bertekun dalam beribadah, berurusan langsung dengan Allah SWT, menjauhkan diri dari kemewahan duniawi, menerapkan zuhud kepada mereka yang diburu oleh banyak orang, dan menghindari makhluk-makhluk dalam pengasingan untuk beribadah.
Sedangkan tasawuf menurut Zakaria al-Anshari adalah mengajarkan cara menyucikan diri, meningkatkan moral, menerapkan zuhud kepada mereka yang diburu oleh banyak orang, dan menghindari agar dapat beribadah lebih dekat kepada Allah dan mendapatkan hubungan langsung dengannya.
Jika Anda melihat beberapa definisi di atas, maka Anda bisa mendapatkan ekspresi singkat dan ringkas yang mencakup dua aspek yang keduanya membentuk satu kesatuan yang saling mendukung dalam mendefinisikan tasawuf yang pertama adalah jalan dan yang kedua adalah tujuannya. Caranya, termasuk melakukan berbagai rangkaian ibadah, latihan spiritual seperti zuhud. Sedangkan tujuannya adalah untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta, yang klimaksnya adalah saksi (komunitas).

B. Sejarah Perkembangan Tasawuf

Istilah tasawuf dikenal luas di wilayah Islam sejak akhir abad kedua Hijriyah, sebagai kelanjutan perkembangan kesalehan atau zahid asketis yang berkerumun di serambi masjid Madinah. Dalam perjalanan hidup, kelompok ini berspesialisasi dalam menyembah dan mengembangkan kehidupan spiritual dengan mengabaikan kesenangan duniawi.
Pola kesalehan ini merupakan awal dari pertumbuhan tasawuf yang kemudian berkembang pesat. Fase ini bisa disebut fase asketisme dan merupakan fase pertama pengembangan tasawuf yang ditandai dengan munculnya individu-individu yang lebih banyak setelah akhirat, sehingga perhatian mereka terfokus pada ibadah. Fase asketisme ini berlangsung setidaknya sampai abad kedua Hijriyah. Memasuki abad ketiga Hijriyah telah melihat transisi dari asketisme Islam ke Sufisme. Namun menurut mayoritas penulis sejarah tassawuf, cikal bakal atau keturunan tasawuf di dunia Islam sudah tampak jelas di dalam diri Nabi Muhammad, baik ketika melihat aspek kehidupan, karakter dan ibadahnya.
Untuk lebih jauh melihat bagaimana perkembangan tasawuf saat ini, menggambarkan kehidupan beberapa sahabat Nabi sebagai berikut:

a. Perkembangan Tasawuf pada Masa Khulafa 'al-Rashidin

Perkembangan tasawuf sangat terlihat dalam kehidupan khulafa 'al-rashidin berikut:

1. Abu Bakar as-Siddiq (w. 13 AH)
Sebelum ia masuk Islam, ia adalah pedagang jujur yang besar di zamannya. Setelah ia memeluk Islam, ia adalah donor permanen dalam semua kegiatan keagamaan, maka semua kekayaannya disumbangkan untuk kepentingan dan kepentingan agama Islam. Kejujuran dan kemurniannya berarti bahwa ia dapat memperdalam jiwa dan semangat Islam lebih dari Muslim lainnya.

2. Umar bin Khattab (wafat. 23 H)
Dia memiliki otoritas yang kuat dan karismatik, baik sebelum dan sesudah masuk Islam. Dan sebelum dan sesudah menjabat sebagai khalifah, ia selalu tampil dengan sopan. Ia dikenal sangat adil, memiliki keberanian yang kuat, dekat dengan kelas bawah, dan sangat takut mengambil aset negara (amanah). Dia adalah profil seorang pemimpin sejati dan sukses.

3. Usman bin Affan (w. 25 AH)
Dia adalah seorang taipan pada zamannya, dia selalu muncul sebagai pemberi dana, dia rela menyerahkan sebagian besar hartanya untuk kepentingan Islam, dia selalu membebaskan budak yang dianiaya oleh orang-orang kafir yang ditebus dengan harta milik mereka sendiri.

4. Ali bin Abi Thalib (wafat 40 H)
Dia adalah yang paling zuhud dalam hidupnya, paling berpengetahuan tentang pengetahuannya. Dia sangat berbudi luhur, terkenal karena kesalehannya, dan juga kemurnian jiwanya.
Dengan contoh nilai-nilai moral seperti kepribadian khulafa 'al-Rashidin itu dibimbing oleh para sufi dan orang-orang saleh yang ingin berlatih dan meningkatkan praktik ibadah dan melatih jiwa mereka untuk menjadi dekat dengan Allah SWT.

b. Perkembangan Tasawuf Pada Masa Ahli Suffah

Kehidupan seorang ahli Suffah yang menunjukkan praktik kepatuhan dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Salman al-Frisiy (wafat. 32 H)
Di antara para ahli tasawuf Salman al-Farisy dikenal sebagai teman yang hidupnya zuhud, berkeliaran dan hidup dalam kemiskinan, ia dianggap sebagai ahli Suffah yang diberkati dengan ilmu ladunni yang mendalam.

2. Abu Zar al-Gifariy (wafat. 22 H)
Salah satu sahabat paling zahid Nabi adalah Abu Zar al-Gifariy. Dia tidak pernah merasa menderita ketika bencana terjadi, suka menerima cobaan, dan tidak pernah memiliki apa pun, dan tidak dimiliki oleh apa pun. Abu Zar al-Gifariy menganggap cobaan itu sebagai urusan Tuhan baginya, sehingga ia selalu bersyukur dan setia.
Pernyataannya tentang pencobaan Allah adalah "Sesungguhnya aku menyadari bahwa kemiskinan lebih seperti kekayaan, lebih banyak rasa sakit daripada kesehatan, kematian lebih seperti hidup."

Dari uraian di atas, perkembangan tasawuf pada abad ini, yaitu pada masa Nabi, Khulafa 'al-Rashidin, dan masa Suffah, tampaknya istilah atau istilah penggunaan tasawuf untuk kehidupan spiritual tidak belum ada, tetapi tidak dapat disangkal fakta bahwa Nabi dan para sahabatnya adalah seorang praktisi yang dijadikan contoh para sufi sesudahnya.
Dengan demikian kehidupan Nabi dalam segala hal dianggap, sebagai embrio yang kemudian tumbuh dan dikembangkan oleh para sahabat Khulafa 'al-Rashidin dan Ahlu Suffah yang dianggap sebagai jamaah yang secara konsisten mementingkan kehidupan spiritual sebagaimana dicontohkan oleh Nabi. dan kemudian diikuti oleh orang-orang saleh dan sufi abad berikutnya.

c. Munculnya kehidupan zuhud

Dari kondisi politik yang tidak kondusif, dan dari kondisi sosial yang tidak bermoral, maka umat Islam yang merasakan kewajiban moral muncul untuk mengingatkan pihak berwenang, agar rakyat kembali hidup seperti yang dicontohkan oleh Nabi.
Ini lebih ditekankan oleh Nurchalis Madjid bahwa dampak dari perubahan ini menyebabkan beberapa orang yang merasa bahwa Islam pada saat ini tidak lagi seperti pada masa Nabi, Khulafa 'al-Rashidin, menyebabkan ledakan dan kritik terhadap penguasa Umaiyah yang bentuknya berupa oposisi agama terhadap rezim Umayyah.
Orang-orang Muslim yang memiliki kepedulian dikenal sebagai tokoh zahid, yang berarti orang-orang yang menghindari kehidupan duniawi yang ingin melihat orang menjadi aman. Tokoh-tokoh zahid yang terkenal termasuk Hasan al-Basri (wafat 728 M). Dia belajar banyak tentang ilmu moralitas sehingga ajarannya sangat memengaruhi pola pikir, sikap, dan perilaku sehari-harinya, dan dia juga dianggap sebagai tokoh oposisi moral. Karena dia berani mengirim surat kepada penguasa Abd. Malik Bin Marwan menuntut agar pihak berwenang dapat memberikan hak dan kebebasan kepada rakyat. Selain Hasan al-Basri, ada banyak lagi tokoh zahid seperti Sufyan as-Sauriy (w. 135 H), Malik bin Dinar (w. 171 H) dan lainnya.
Perkembangan istilah tasawuf saat ini (abad pertama hingga awal abad kedua H) masih belum jelas. Istilah yang dikenal saat ini hanya kehidupan zuhud ', yang berarti sikap jiwa yang lebih menyukai dan menyukai kehidupan setelah kematian dan mereproduksi lebih banyak ibadah daripada kehidupan duniawi.
Memasuki akhir abad II H, terjadi pergeseran dalam kehidupan zuhud ke istilah tasawuf. Ini ditandai oleh zahid-zahid yang mulai berbicara tentang konsep tentang kehidupan dengan dimensi spiritual. Meskipun sangat sulit untuk membedakan secara pasti dan pasti keberadaan transisi, tetapi secara umum pendapat yang mengatakan bahwa ada kecenderungan untuk membahas konsep tasawuf termasuk jalan menuju Tuhan, waktu itu disebut masa transisi.
Nicholson mengatakan bahwa sulit untuk membedakan antara kehidupan zuhud dan kehidupan beragama, karena secara umum orang-orang sufi saat ini adalah atau sebelumnya orang-orang zahid. Ini ditekankan oleh Taftazani bahwa mereka lebih layak disebut zahid daripada "sufi".
Pada abad kedua H, dalam kehidupan spiritual terjadi transformasi, dari metode zuhud ke metode tasawuf, yang ditandai dengan munculnya tokoh-tokoh sufi yang menawarkan konsep atau ide dalam bentuk teori sebagai cara untuk dekatlah dengan Tuhan, seperti Rabiahtul Adawiyah dengan konsep mahabbah atau cinta.
Keberadaan istilah tasawuf pada akhir abad kedua H, tetapi itu tidak berarti bahwa sistem tasawuf lahir sebagai ilmu yang meskipun praktiknya telah ada sejak zaman Nabi. Namun, ketika memasuki abad ketiga H., perkembangan tasawuf telah mulai menjadi jelas dan istilah tasawuf dikenal luas. Perkembangan ini disebabkan oleh prinsip-prinsip teoretis yang sudah mulai terstruktur secara sistematis, serta aturan praktisnya, sehingga melahirkan tiga jenis gaya tasawuf: Tasawuf Sufisme, Tasawuf Sufi, dan Sufisme Filsafat Sufi. Pada saat ini tasawuf mencapai puncak keemasannya sebagai gerakan yang banyak dipelajari dan dipraktikkan / dipraktikkan sebagai prinsip kehidupan.

C. Faktor Penyebab Kemunduran Tasawuf

Para cendekiawan Muslim menarik kesimpulan bahwa ada 3 faktor yang menyebabkan citra tasawuf runtuh di mata dunia Islam.
1. Sebagian besar sufi mendominasi ajaran tasawuf dengan unsur-unsur filosofis yang terlalu rasional sehingga tidak lagi relevan dengan Alquran dan Hadis. 
2. Banyak penjajah menggunakan ideologi dan filsafat sekularisme dan materialisme yang sangat bertentangan dengan ajaran tasawuf.
3. Pendapat lain mengatakan bahwa partai-partai penguasa Muslim sendiri sering menekan ulama, untuk melegalkan dan membantu dalam menjalankan kekuasaan mereka. Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa penarikan tasawuf bukan karena ajaran tasawuf itu sendiri tetapi karena orang salah untuk mengakses dan memahami tasawuf.

D. Inti Ajaran tasawuf

Pendekatan masing-masing jenis tasawuf, serta spesifikasi dan inti ajaran masing-masing jenis tasawuf. Tasawuf dengan karakter moral, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan "moral" (teori أخلاق الكريمة) atau yang biasa disebut kecerdasan emosi.
Untuk tasawuf filosofis, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan "rasio" untuk memberdayakan pikiran yang biasa disebut kecerdasan intelijen. Sedangkan mistisisme sufi, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan "amaliah", melipatgandakan kegiatan yang bersifat spiritual yang biasanya disebut kecerdasan spiritual.
Tiga bentuk tasawuf adalah perwujudan dari Esensi Tuhan yang absolut, dan itu berarti kita harus menyadari bahwa Esensi dan pemahaman tentang Tuhan tidak dapat dicapai atau didekati hanya dengan alasan atau alasan semata, tetapi memahami Tuhan harus dibantu dengan pendekatan moral atau emosional dan spiritual keduanya terletak di hati sebagai tempat tinggal iman.

Berikut ini adalah inti ajaran tasawuf yang dinyatakan menurut pembagian tasawuf itu sendiri, yaitu:

1. Sufisme Moral

Taswuf Akhlaki adalah ajaran tasawuf yang terkait dengan pendidikan mental dan bimbingan serta pengembangan moral sehingga seseorang itu berbudi luhur atau memiliki karakter yang baik. Dari pengertian ini, menurut pandangan orang sufi yang menganut aliran tasawuf sebagai berikut:
a.Bahwa satu-satunya cara untuk membawa seseorang agar dekat dengan Allah SWT adalah dengan "memurnikan jiwa".
b. Bahwa untuk mencapai kemurnian jiwa diperlukan "pelatihan mental" yang ketat al-riyadhah. Bentuk Riyadhah adalah untuk "mengendalikan" sikap dan perilaku dengan cara yang ketat untuk membentuk orang yang mulia.
c. Pelatihan mental itu bertujuan untuk mengendalikan dan mengendalikan nafsu, seperti godaan yang duniawi.
d. Kontrol nafsu diperlukan, karena nafsu dianggap sebagai penghalang atau tabir antara manusia dan Tuhan.
e. Itu untuk membuka tabir sehingga manusia bisa dekat dengan Allah SWT. Jadi para Sufi melakukan pendekatan sistematis untuk takhalli (pengosongan) dan tahalli (pengisian).

2. Amali Sufisme

Sufisme Amali adalah ajaran tasawuf yang menekankan pengalaman keagamaan baik secara fisik maupun spiritual. Sufisme Amali dianggap oleh sebagian sufi sebagai bagian dan kelanjutan dari moralitas sufi. Menurut Sufi yang berpendapat bahwa dekat dengan Allah SWT. Jadi seseorang harus menggunakan pendekatan amaliah dalam bentuk melipatgandakan kegiatan, latihan fisik dan mental.
Oleh karena itu menurut para Sufi, ajaran agama juga mengandung aspek luar dan dalam, sehingga cara untuk memahami dan mempraktikkannya juga harus melalui aspek fisik dan mental. Kedua aspek ini dibagi menjadi empat bagian.

a.Syariah
Syariah, yaitu hukum, aturan, hukum Tuhan, atau ketentuan tentang halal, haram, wajib dan sunnah, ini melibatkan aspek luar (eksoteris).
Menurut Sufi Syariah adalah praktik-praktik yang fardukan dalam agama yang biasanya dikenal sebagai "rukun Islam" yang sumbernya berasal dari Al-Qur'an dan Sunnah. Praktek ini tidak hanya wajib tetapi semua sunnah, yang dilakukan dengan penuh ketulusan sehingga metode ditentukan dalam waktu dan jumlah. Oleh karena itu, para sufi yang meninggalkan syariah dianggap sesat, karena tanpa mempraktikkan hukum Tuhan dengan benar, dan menyelesaikannya melalui praktik ibadah berarti tidak tunduk pada aturan Tuhan.
Syariah adalah esensi itu sendiri, dan esensi tidak lain adalah Syariah itu sendiri. Keduanya satu, tidak akan ada satu sisi yang sempurna tanpa sisi lainnya. Allah SWT., Telah menggabungkan keduanya, oleh karena itu tidak mungkin jika seseorang ingin memisahkan sesuatu yang telah digabungkan oleh Allah SWT.

b. Tariqah
Tariqah menurut Sufi adalah perjalanan ke Allah, dan dalam perjalanan itu perjalanan melalui metode, atau melalui cara untuk bersama Tuhan. Karena menurut sufi tanpa metode khusus atau metode yang disebut tarekat akan sulit mencapai tempat tujuan. Jadi ketentuan sifat batin ditentukan, dengan menggunakan metode langkah demi langkah yang dikenal sebagai مقام
Menurut sufi, kehidupan penuh dengan rahasia, dan rahasianya ditutupi oleh kerudung, sebenarnya kerudung itu adalah "nafsu" kita sendiri. Jilbab benar-benar dapat diungkap (terbuka) selama mengambil jalan (Tariqah) lihat Al-Qur'an surat al-Jin ayat 16, yang berarti:
"Dan itu: Jika mereka terus berjalan lurus di jalan (agama Islam). Sungguh kita akan memberi mereka air minum air tawar (banyak keberuntungan)"
Berdasarkan uraian di atas, maqamat adalah sistem atau metode untuk mengetahui dan merasakan Tuhan atau melihat Tuhan dengan mata hati.

c. Haqiqah
Haqiqah diartikan sebagai kebenaran. Haqiqah juga biasanya diartikan sebagai puncak, atau sumber dari segalanya. Sufi menurut Sufiqa adalah rahasia terdalam dari semua amal, dan merupakan esensi dari syariah. Haqiqah diperoleh sebagai bantuan dan hadiah dari Tuhan berkat pelatihan Sufi. Dengan kedatangan Sufi ke tingkat haqiqah, itu berarti bahwa ia telah membuka rahasia dalam syariat, maka Sufi dapat memahami semua kebenaran. Atau dengan kata lain haqiqah adalah mengetahui inti terpenting dalam sesuatu sehingga tidak ada yang disembunyikan untuknya.
Haqiqah tidak dapat dipisahkan dari syariah, dan terkait erat dengan tarekat dan juga ditemukan dalam ma'rifah. Dalam pandangan para Sufi, makna hukum eksternal (syariah) harus utuh dan selaras dengan makna hukum internal (haqiqah), maka setiap manusia harus tunduk pada syariah serta tunduk pada realitas batin (tariqah dan haqiqah), karena manusia sendiri berada di antara dua ruang yaitu ruang fisik dan ruang spiritual.

d. Ma'rifah
Ma'rifah adalah pengetahuan dan pengakuan. Sedangkan menurut para Sufi berarti pengetahuan tentang Tuhan melalui hati atau hati nurani. Pemahaman ini begitu lengkap sehingga jiwa seorang sufi merasa bersatu dengan apa yang dia ketahui. Dikatakan oleh para Sufi, ma'rifah berarti mengenal Tuhan dari dekat, sehingga hati sanubari melihat Tuhan. Ini adalah tujuan utama tasawuf.
Melihat deskripsi syari'ah, tariqah, haqiqah dan ma'rifah, dapat dikatakan bahwa ma'rifah hanya dapat dicapai jika melalui syari'ah dan dikejar berdasarkan tarekat dan kemudian dapat memperoleh haqiqah. Ketika Syariah dan Tariqah telah dikuasai haqiqah muncul dan kemudian tujuan sufi adalah ma'rifah.

Menurut para Sufi, pengalaman syariah Islam tidak sempurna jika tidak dilakukan secara integratif dengan urutan sebagai berikut:
1. Syariah adalah aturan
2. Tariqah adalah cara untuk melakukan aturan
3. Haqiqah adalah kondisi yang dirasakan setelah menerapkan peraturan tersebut.
4. Ma'rifah adalah tujuan yang ingin dicapai oleh para Sufi.
Jika seseorang telah melalui keseimbangan yang seimbang dengan syariah, secara fisik dan mental menuju puncak rahasia, maka kondisi mental yang disebut "kamil atau waliyullah" tercapai, yaitu, orang-orang yang selalu dekat dengan Allah SWT, dan mendapatkan Karunia-Nya sehingga mereka melakukan perbuatan. luar biasa disebut al-karamah.

3. Sufisme Falsafi

Filsafat Sufisme adalah ajaran tasawuf yang menggabungkan visi mistis dengan visi rasional. Filsafat tasawuf berbeda dari tasawuf dan moralitas. Karena tasawuf filosofis menggunakan istilah filsafat dalam mengekspresikan ajarannya. Terminologi tersebut berasal dari berbagai ajaran filosofis yang memengaruhi tokoh-tokoh sufi. Dengan adanya istilah-istilah filosofis dalam tasawuf ini menyebabkan perpaduan antara ajaran dan ajaran filosofis dari luar Islam seperti Yunani, India, Persia, Kekristenan dalam ajaran tasawuf Islam. Tetapi harap dicatat bahwa orisinalitas tasawuf masih ada dan tidak hilang. Karena para sufi menjaga independensi ajaran mereka.
Meskipun tasawuf filosofis menggunakan banyak istilah filosofis, itu tidak dapat dianggap sebagai filsafat. Karena ajaran dan metode dikombinasikan dengan rasa (zauq). Sebaliknya itu tidak dikategorikan sebagai tasawuf murni, karena ajarannya sering diekspresikan dalam bahasa filsafat yang sering condong ke pantaisme.
Contoh-contoh ajaran filosofis tasawuf meliputi teori al-fana ', al-baqa', dan al-ittihad dari Yazid Bustami, teori hulul Mansur al-Hallaj, dan teori wihdatul dari Ibn Arabi.

E. Maqamat dan Ahwal

Untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan, para Sufi menyediakan metode atau cara atau cara. Jalan itu berisi stasiun yang disebut ﻣﻗﺎﻣﺎﺕ. 

1. ﻣﻗﺎﻣﺎﺕ (Maqamat)

Berdasarkan definisi di atas, dapat dinyatakan bahwa maqamat adalah tingkat, tahap yang dicapai oleh sufi dari upaya keras dan sungguh-sungguh dan perjuangan konstan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam perkembangan lebih lanjut, ada perbedaan pendapat di antara para Sufi bahwa referensi terhadap jumlah maqamats tidak selalu sama. Tampaknya perbedaan-perbedaan ini bervariasi dalam hal jumlah dan pembentukan maqamat. Para penulis berikut menjelaskan pendapat beberapa sarjana:
Menurut Abu Bakar al-Kalabazi ada sepuluh maqatat dengan formasi sebagai berikut: Pertobatan, Zuhud, Sabar, Fakir, Tawadu ', Takwa, Tawakkal, Ridha, Mahabbah dan Ma'rifat. Sedangkan menurut al-Gazali ada delapan bentuk maqamat: Taubat, Sabar, Fakir, Zuhud, Tawakkal, Mahabbah, Ridha, dan Ma'rifat.
Berbeda dengan dua pendapat sebelumnya, Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi berpendapat bahwa maqamats hanya dari tujuh jenis: Pertobatan, Wara ', Zuhud, Fakir, Sabar, Tawakkal dan Ridha. Sedangklan menurut Abu. Qasim Abd. Hanya ada enam maqamat Karim, yaitu: Pertobatan, Wara ', Zuhud, Tawakkal, Kesabaran, dan Rida.

Berikut ini adalah penjelasan singkat tentang lima jenis maqamat:
1. ﺍﻟﺗﻭﺑﺔ (taubah)
Taubah adalah meninggalkan keinginan untuk kembali melakukan kejahatan seperti yang telah ia lakukan karena takut akan kebesaran Allah SWT, dan menjauhkan diri dari murka. Para sufi berpendapat bahwa pertobatan adalah maqamat pertama. Mengingat bahwa pertobatan adalah metode atau cara untuk mengikis semua sifat buruk. Menurut para Sufi, dosa adalah pemisahan antara manusia dan Tuhan, karena dosa itu adalah sesuatu yang kotor sedangkan Allah Maha Suci dan menyukai mereka yang selalu menyucikan diri dari dosa dengan bertobat. Ini adalah stasiun pertama yang harus dilewati oleh para Sufi.

2. ﺍﻟﺯﻫﺩ (zuhud)
Zuhud diartikan sebagai keadaan meninggalkan dunia dan menjauhkan diri dari kehidupan material. Tetapi al-Gazali mendefinisikan zuhud sebagai sikap mengurangi keinginan untuk dunia dan menjauh darinya dengan kesadaran penuh. Sedangkan al-Qusyaeri menyebut zuhud yang tidak merasa bangga dengan kehidupan dunia yang ada di tangannya dan tidak merasa sedih dengan hilangnya kemewahan dari tangannya. Dari pemahaman ini dapat dipahami bahwa zuhud pada dasarnya mengurangi keinginan untuk kesenangan dunia sehingga dapat membawa pengabdian dan dekat dengan Allah SWT.

3 ﺍﻟﺻﺑﺮ (sabar)
Kesabaran secara harfiah berarti menahan diri. Menurut al-Gazali, kesabaran adalah kondisi mental dalam mengendalikan nafsu yang tumbuh digerakkan oleh agama. Kesabaran yang dimaksudkan oleh para Sufi adalah konsisten dan konsisten dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya, bertahan dalam ujian kesulitan dan cobaan yang ditimpakan kepadanya.

4. ﺍﻟﺗﻭﻛﻞ (pengunduran diri)
Definisi pengunduran diri secara umum adalah sikap pengunduran diri total setelah menjalankan bisnis. Tawakkal juga berarti berserah sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu pekerjaan. Menurut pengunduran diri Sufi, tidak cukup hanya menyerah seperti itu, tetapi lebih dalam lagi dengan merefleksikannya melalui sikap dan tindakan dalam segala hal.

5. ﺍﻟﺮﺿﺎ (Ridha)
Ridha secara harfiah berarti kesediaan. Sementara menurut Harun Nasution, kesenangan berarti menerima qadha dan qadar Tuhan dengan kesenangan. Untuk itu, semua perasaan kebencian di hati harus dibuang sehingga yang tersisa adalah perasaan senang dan gembira meski musibah telah berlalu ia masih senang dan bahagia menerimanya seperti saat ia mendapat rahmat dan kenikmatan.

2. ﺍﻷﺣﻭﺍﻞ (Ahwal)

Selain maqamat, dalam tasawuf juga dikenal dengan istilah ahwal. Ahwal adalah kondisi mental, seperti kondisi bahagia, perasaan sedih, perasaan takut dan sebagainya. Ahwal Juga diartikan sebagai kondisi mental atau situasi mental yang diperoleh oleh Sufi sebagai hadiah dari Allah SWT. Ahwal sebenarnya merupakan manifestasi dari maqamat yang dilewati Sufi sehingga sangat sulit untuk menggambarkannya secara informal dan dideteksi secara logis, karena itu adalah pengalaman spiritual yang hanya diketahui oleh para Sufi yang telah mengalaminya. Karena itu yang paling utama adalah sangat subyektif dan pribadi.

Dalam Sufisme kemudian dikenal oleh berbagai ahli. Penjelasan berikut:
1. ﺍﻟﺧﻭﻑ: adalah sikap mental dengan merasa takut kepada Allah SWT, karena pengabdiannya yang tidak sempurna dan untuk kesalahan yang telah dibuat. Takut dan khawatir jika Allah tidak senang dengannya. Karena itu, para sufi selalu berusaha agar perilaku mereka tidak menyimpang dari yang diinginkan Allah SWT. Sikap seperti ini memberikan motivasi untuk berbuat baik dan mendorong untuk menjauh dari amoralitas.
2. ﺍﻟﺮﺟﺎﺀ: adalah sikap mental yang optimis dalam memperoleh hadiah Ilahi. Allah Maha Penyayang dan Penyayang, sehingga Sufi penuh dengan 'harapan' untuk mendapatkan rahmat dan kelimpahan rahmat. Sikap raja ini akan memberikan antusiasme dalam riyadhah dan mujahadah sehingga ia dengan bersemangat menunggu harapan akan datangnya rahmat Allah.
3. ﺍﻟﺷﻭﻖ: Kondisi psikologis yang dirasakan oleh Sufi untuk ingin bertemu dengan Tuhannya. Gairahnya melonjak untuk selalu bersama orang yang dicintai. Dalam hal ini, pengetahuan, pemahaman, dan pengakuan yang sempurna dan mendalam tentang Allah SWT, memunculkan kegembiraan yang luar biasa dan penuh gairah yang melahirkan cinta dan obsesi yang kuat untuk bertemu dengan Sang Kekasih.
4. ﺍﻷﻧﺲ: yaitu keadaan jiwa yang sepenuhnya terfokus pada Alah SWT. Jangan merasa tidak ingat dan tidak berharap kecuali kepada Alah SWT.
Dari penjelasan di atas, dapat dilihat bahwa masalah tersebut adalah kondisi mental yang dirasakan dan dinikmati secara damai dan intensif oleh para Sufi. Lebih lanjut dapat dilihat bahwa jalan yang harus ditempuh oleh sufi untuk mencapai tujuan memperoleh koneksi batin dan "persatuan" dengan Tuhan bukanlah cara yang mudah.
Maqamat dan ahwal memiliki perbedaan dalam konsep dan aplikasi. Maqamat diperoleh melalui usaha keras dan kondisi atau kondisi tetap stabil dan tidak berubah. Seperti kesabaran menerima cobaan adalah sama ketika menerima bantuan. Sikap hidupnya dapat dilihat dari perilaku sufi sehari-hari seperti kesabaran, pengunduran diri, suzud dan relativitas. Sementara akhirnya diperoleh sebagai hadiah, berkah (bukan unsur usaha dan perjuangan), kondisinya tidak stabil dan tidak kekal, mudah diubah, (kadang-kadang merasa sedih, kadang-kadang bahagia). Kondisi mental yang dirasakan bersifat abstrak (tidak dapat dilihat oleh orang lain), dan hanya dapat dirasakan dan dipahami dan diketahui oleh mereka yang mengalaminya.
Meski sama-sama memiliki perbedaan, namun keduanya sangat terkait. Karena keduanya memiliki dua sisi yang sama dan sulit untuk dipisahkan. Hal ini disebabkan semakin tinggi tingkat maqamat yang dicapai oleh seorang sufi, semakin intens hal yang ia dapatkan dan rasakan.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar