Skip to main content

Organisasi Islam Muhammadiyah

Muhammadiyah

A. Memahami Muhammadiyah

Organisasi Islam Muhammadiyah merupakan organisasi yang gerakannya ditujukan untuk mengembangkan sistem kehidupan masyarakat seperti yang diinginkan oleh Islam yang bertujuan untuk menyebarkan Islam, baik melalui pendidikan maupun gerakan sosial. Dengan demikian, komunitas Islam sejati telah diciptakan.

B. Pendiri Organisasi Islam Muhammadiyah

K. H. Ahmad Dahlan lahir di desa Kauman, Yogyakarta pada 1285 H., atau 1868 M dengan nama Muhammad Darwis. Nama ayahnya adalah K. H. Abu Bakar bin K. H. Sulaiman dan ibunya adalah putra H. Ibrahim, sang pangeran pada saat itu. Pada awalnya, ia mempelajari Alquran pada ayahnya sendiri. setelah dia remaja, dia belajar Penafsiran dan Hadis, Bahasa Arab dan Fiqh pada tahun 1883. Ketika dia berusia 15 tahun, Muhammad Darwis pergi ke tanah suci Mekah untuk melakukan ziarah, dan hidup selama 5 tahun, dan mempelajari berbagai ilmu agama, seperti Qiraat, Tafsir, monoteisme, tasawuf, Ilmu Falak, Arab. Pada usia 20 tahun kembali ke Yogyakarta dan ia menjadi sarjana dan ahli agama dengan pengetahuan yang mendalam dan pengalaman yang luas. Dan dia bercita-cita untuk melakukan studi agama atau Majelis Ta'lim untuk memberikan pengetahuan tentang pembaruannya yang relevan dengan ajaran Islam. Di sinilah murid-muridnya mengusulkan untuk mendirikan lembaga pendidikan permanen. Organisasi Muhammadiyah didirikan pada tanggal 18 November 1912, dan berkembang di Jawa dan bahkan di berbagai daerah seperti Sumatra dan Sulawesi dan sampai sekarang Muhammadiyah berada di peringkat organisasi ke-2 terbesar di Indonesia setelah NU.

C. Faktor-faktor Kelahiran Organisasi Islam Muhammadiyah

Faktor-faktor yang menyebabkan lahirnya Muhammadiyah adalah untuk mengatasi kondisi masyarakat Indonesia yang tidak memuaskan pada saat itu, termasuk;
1. Masyarakat Islam belum sepenuhnya hidup sesuai dengan ajaran agama dan pedoman Alquran dan Hadis. Komunitas Islam tidak berkembang karena masih terhambat oleh tindakan seperti bid'ah, takhayul, khurafat dan syirik yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.
2. Masyarakat Islam hidup dalam kolonialisme yang menghambat perkembangan politik, ekonomi, sosial-budaya dan agama mereka
3. Masyarakat di negara bersatu dan kurangnya Ukhuwah Islamiyyah.
4. Komunitas Islam belum menjalankan sistem pengajaran dan pendidikan yang sesuai dengan tuntutan zaman. Pendidikan dan pengajaran Islam masih kuno, terisolasi dan belum mampu memenuhi tuntutan zaman.
5. Pemerintah Hindia Belanda menerapkan kebijakan agama yang pertama kali menguntungkan komunitas agama di luar komunitas Islam itu sendiri.
6. Ingin membentuk masyarakat di mana semua ajaran Islam yang benar berlaku.

D. Amal Usaha Organisasi Islam Muhammadiyah

Lahirnya pemikiran Muhammadiyah tampaknya dimotivasi oleh berbagai faktor yang berakar pada ketidakpuasan terhadap sistem pendidikan dualistik, yaitu sistem pendidikan Barat yang mengembangkan lebih banyak aspek intelektual, atau sistem pendidikan sekuler yang negatif terhadap agama dan membuat jarak sosial dengan mayoritas. kelompok sosial lainnya. 

1. Bidang Pendidikan

Pada saat yang sama institusi pendidikan Islam mempertahankan karakteristik pendidikan mereka yang unik, yang belum tersentuh oleh arus budaya Barat. Bahkan, pelajaran masih terpusat pada buku-buku tua dengan metode yang tidak banyak berubah sejak lembaga ini didirikan. Misalnya, di dunia pesantren; buku kuning menjadi prioritas utama, dan mengabaikan buku-buku umum yang berasal dari Barat.
K. H. Ahmad Dahlan menganggap bahwa kedua jenis pendidikan itu sangat tidak memuaskan sehingga ia tidak cenderung pada salah satu dari mereka, tetapi mencoba untuk mengkompromikan aspek-aspek positif dan kedua jenis pendidikan dan mengatasi ketidaksetaraan sosial yang terjadi di masyarakat. K. H. Ahmad Dahlan mencetuskan ide dan pemikirannya, di antara gagasan utamanya adalah:
1. Memasukkan studi agama ke dalam lembaga pendidikan Barat
Dengan membangun sekolah swasta yang meniru sekolah Negeri dengan menyediakan mata pelajaran agama di dalamnya. Dengan demikian, pemikiran Muhammadiyah memiliki andil besar dalam menjadikan pelajaran agama sebagai mata pelajaran yang diakui di sekolah negeri. Sampai sekarang, mata pelajaran agama terdaftar sebagai salah satu bidang studi di sekolah-sekolah umum dengan Keputusan MPRS No. XXVII / MPRS / 1966 pasal 2 dan 3, serta Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 008.C / U / 1975 yang menetapkan sembilan bidang studi yang harus diikuti oleh siswa yang beragama Islam.
2. Pembentukan sistem pendidikan Barat di lembaga pendidikan agama
K. H. Ahmad Dahlan mencoba untuk berkompromi antara ilmu agama dan sains yang berasal dari Barat yang bertujuan menciptakan sistem pendidikan yang melahirkan manusia yang memiliki kedua jenis pengetahuan tersebut. Pokok bahasan yang termasuk dalam bidang agama adalah:
a.Yurisprudensi dan Sekolah Syafi'i
b. Tasawuf oleh al-Gazali
c. Ilmu Kalam dan Risalat al-Tauhid oleh Muhammad Abduh
Pengetahuan umum yang diajarkan meliputi:
a. Ilmu Sejarah
b. Hitung
c. Seri
d. bahasa Melayu
e. bahasa Belanda
f. Inggris
Tujuan dari reformasi pendidikan yang dilakukan oleh Muhammadiyah adalah untuk mendidik bangsa, khususnya Islam, untuk dapat berpikir secara rasional meninggalkan kekakuan pikiran dan penghapusan buta yang sangat merugikan, tetapi masih didasarkan pada prinsip-prinsip agama Islam.

2. Bidang Dakwah

Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah berupaya mengubah pemikiran, perasaan dan perilaku orang menjadi Islami sehingga terbentuknya komunitas Islam.
Salah satu kebijakan Muhammadiyah yang perlu dicatat adalah bahwa, selain khotbah lisan, ditambah dengan dakwaan bi-dakwa. Dia mendirikan panti asuhan, bantuan kesehatan, klinik, rumah bersalin sehingga orang bisa merasakan manfaat dari kehadiran Muhammadiyah. Dua media dakwah, yaitu bi al-verbal dan bi al-hal, hanya perlu ditingkatkan dan disesuaikan dengan perkembangan modernisasi dan teknologi.

3. Bidang Ekonomi

Visi dan pandangan tentang kehidupan beragama warga Muhammadiyah juga perlu mempertajam kepekaan mereka dalam bidang kewirausahaan. Gerakan sosial keagamaan yang berjalan tanpa disertai dan diperkuat oleh kekuatan ekonomi akan timpang. Jika dulu basis kekuatan ekonomi berpusat pada industri kecil, sekarang ia bergeser ke bidang pengelolaan institusi pendidikan. Namun, pengelolaan lembaga pendidikan sebagai sumber daya ekonomi tidak dapat dikelola secara profesional.

4. Bidang Aqidah dan Ibadah

Pandangan Muhammadiyah tentang masalah agama termasuk takhayul dan khurafat adalah penyebab utama keterbelakangan umat. Karena itu, kepercayaan masyarakat terhadap takhayul dan khurafat harus benar-benar terkikis, sehingga mereka ditegakkan dan memiliki aqidah yang kuat, dan menjadikan diri mereka lebih maju.
Dalam urusan ibadah, tujuan utama Muhammadiyah di bidang bisnisnya adalah memberantas bid'ah. Menurut Muhammadiyah, bid'ah adalah kesalahan yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi. Dengan demikian, agenda pembaruan pemikiran keagamaan Muhammadiyah yang bersifat sosial, keagamaan, pluralis tetap aktual dan selaras dengan perkembangan bangsa.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar