Home » » Pengertian dan Penyebab Kenakalan Remaja

Pengertian dan Penyebab Kenakalan Remaja

Pengertian dan Penyebab Kenakalan Remaja

A. Pengertian Kenakalan Remaja

Kenakalan remaja ialah suatu tindakan yang melanggar norma, aturan, atau hukum dalam masyarakat yang dilaksanakan pada umur remaja atau transisi masa anak-anak ke dewasa. Kenakalan remaja mencakup semua perilaku yang membias dari norma-norma hukum pidana yang dilaksanakan oleh remaja. Perilaku itu akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

B. Penyebab Kenakalan Remaja

Kenakalan remaja yang tidak jarang terjadi di masyarakat bukanlah suatu suasana yang berdiri sendiri. Kenakalan remaja itu timbul sebab adanya sejumlah sebab dan tiap-tiap karena dapat diatasi dengan cara-cara tertentu. Adapun penyebab kenakalan remaja ialah:

1. Keluarga Sebagai Penyebab Kenakalan Remaja
Keluarga adalah lingkungan yang terdekat guna membesarkan, mendewasakan dan di dalamnya anak mendapatkan edukasi yang kesatu kali. Keluarga merupakan kumpulan masyarakat terkecil, akan namun adalahlingkungan sangat kuat dalam memperbanyak anak dan terutama untuk anak yang belum sekolah. Oleh karena tersebut keluarga mempunyai peranan yang urgen dalam pertumbuhan anak, family yang baik akan dominan positif untuk perkembangan anak, sementara keluarga yang jelek akan dominan negatif Oleh sebab sejak kecil anak diagungkan oleh family dan guna seterusnya, mayoritas waktunya ialah di dalam family maka sepantasnya bila kemungkinan munculnya delinquency tersebut sebagian besar pun berasal dari keluarga. Adapun suasana keluarga yang bisa menjadi karena timbulnya delinquency bisa berupa family yang tidak normal (broken home), suasana jumlah anggota family yang tidak cukup menguntungkan.

a. Broken Home dan Quasi Broken Home
Berdasarkan keterangan dari pendapat umum pada broken home ada bisa jadi besar untuk terjadinya kenakalan remaja, di mana khususnya perceraian atau perpisahan orang tua memprovokasi perkembagan si anak.

Sebagai dampak broken home, anak menjadi bingung, risau, sedih, malu, tidak jarang diliputi perasaan dendam benci, sampai-sampai anak menjadi kacau dan liar. Di lantas hari mereka menggali kompensasi untuk kerisauan batin sendiri di luar lingkungan keluarga, yakni menjadi anggota dari sebuah gang kriminal, kemudian melakukan tidak sedikit perbuatan brandalan dan kriminal. Anak-anak yang tidak cukup mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua tersebut selalu merasa tidak aman, merasa kehilangan lokasi berlindung dan lokasi berpijak. Di lantas hari mereka bakal mengembangkan reaksi kompensatoris dalam format dendem dan sikap bermusuh terhadap dunia luar. Anak-anak tadi mulai menghilang dari rumah, lebih suka bergelandangan dan mencari kesukaan hidup yang imaginer di tempat-tempat lain. Dia mulai berdusta dan menculik untuk unik perhatian dan mengganggu orang tuanya atau ia menjadi mulai mengembangkan reaksi kompensatoris negatif guna mendapatkan keasyikan dan kepuasan hidup dengan mengerjakan perbuatan kriminal.

Adakalanya di secara terang-terangan mengindikasikan ketidakpuasan terhadap orang tuanya dan mulai melawan atau memberontak sambil mengerjakan tindak destruktif merusak yang tidak terkendali, baik terhadap orang tua maupun terhadap dunia luar yang kelihatan tidak ramah baginya. Tegasnya, anak-anak yang merasa tidak bahagia dipenuhi tidak sedikit konflik batin serta mengalami putus asa terus menerus bakal menjadi paling agresif. Kemudian dia mulai menyelenggarakan serangan-serangan kemarahan ke dunia sekitar, menteror lingkungan, menggarong kepunyaan orang beda dan sebagainya. Semua itu dilaksanakan sebagai tindak distributor atau pelepas untuk semua ketegangan, kerisauan dan dendam hatinya. Penolakan oleh orang tua atau ditinggalkan oleh salah seorang dari kedua orang tuanya, jelas memunculkan emosi dendam, rasa tidak percaya sebab merasa dikhianati, kemarahan dan kebencian. Sentiment hebat tersebut menghambat pertumbuhan relasi manusiawi anak. Muncullah kemudia ketidakselarasan sosial dan lenyapnya kontrol diri, sampai-sampai anak dengan mudah dapat dibawa oleh arus buruk, kemudian menjadi kriminal. Anak-anak delinkuen ini memang sadar, akan namun yang dikembangkan malah kesadaran yang salah.

b. Keadaan jumlah anak yang tidak cukup menguntungkan
Aspek beda di dalam family yang dapat memunculkan anak remaja menjadi delinkuen ialah jumlah anggota family (anak) serta kedudukannya yang dapat memprovokasi perkembangan jiwa anak. Keadaan itu berupa:
1.      Keluarga Kecil.
Titik beratnya ialah anak status anak dalam keluarga contohnya anak sulung, anak bungsu dan anak tunggal. Kebanyakan anak tunggal paling dimanjakan oleh orang tuanya dengan pemantauan luar biasa, pemenuhan keperluan yang berlebih-lebihan dan segala permintaannya dikabulkan. Perlakuan orang tua terhadap anak bakal menyulitkan anak tersebut sendiri di dalam bergaul dengan masyarakat dan tidak jarang timbul konflik di dalam jiwanya, bilamana suatu saat keinginannya tidak dikabulkan oleh anggota masyarakat yang lain, kesudahannya mereka putus asa dan mudah melakukan jahat misalnya mengerjakan penganiayaan, berkelahi, dan mengerjakan pengrusakan.
2.      Keluarga Besar.
Di dalam lokasi tinggal tangga dengan jumlah anggota penduduk yang beitu besar sebab jumlah anak banyak, seringkali mereka tidak cukup pengawasan dari kedua orang tua. Sering terjadi di dalam masyarakat kehidupan family besar kadang-kadang disertai dengan desakan ekonomi yang agak berat, akibatnya tidak sedikit sekali kemauan anak-anak yang tidak terpenuhi. Akhirnya mereka mecari jalan pintas yaitu mencuri, menipu, dan memeras. Ada bisa jadi lain, dalam family besar dengan jumlah anak yang tidak sedikit biasanya pemberian kasih saying dan pemberian perhatian dari kedua orang tua sama sekali tidak sama. Akibatnya, di dalam interm family timbul kompetisi dan rasa hati satu sama beda yang pada dasarnya akan memprovokasi perkembangan jiwa anak.

Pada prinsipnya sikap negatif dari kedua orang tua terhadap anak dalam kedua format keluarga, baik family kecil maupun family besar ternyata menyesatkan anak-anak remaja dan paling merugikan masyarakatnya. Sebenarnya suasana tersebut bisa dicari teknik mendidiknya. Misalnya dalam family kecil (anak tunggal) orang tua tidak berlebih-lebihan di dalam menyerahkan kasih sayang untuk anaknya dan agar ditanamkan rasa hormat memuliakan sesama kawan. Sedangkan dalam family besar yang merasakan tekanan ekonomi seharusnya anaknya di didik hidup sederhana, diberi definisi tata teknik mencari nafkah yang besar menurut keterangan dari norma sosial, norma agama, norma susila dan norma hukum.

Orang tua, wali atau pengasuhan mesti mengetahui semua keperluan anak-anaknya, baik yang mempunyai sifat biologis maupun yang mempunyai sifat psikologis. Anak-anak di dalam hidupnya butuh makan, minum, pakaian. Di samping itu mereka memerlukan cinta (kasih sayang) serta rasa aman dalam keluarga, pun perlakuan adil dari kedua orang tua paling mereka harapkan. Keluarga mempunyai peranan guna menanamkan disiplin untuk anak-anak semenjak masih kecil supaya setelah dewasa urusan itu dapat menjadi kebiasaan

2. Masyarakat Sebagai Penyebab Kenakalan Remaja
Anak remaja sebagai anggota masyarakat tidak jarang kali mendapat pengaruh dari suasana masyarakat dan lingkungannya baik langsung maupun tidak langsung. Pengaruh yang dominan ialah akselerasi evolusi sosial yang ditandai dengan peristiwa-peristiwa yang sering memunculkan ketegangan seperti kompetisi dalam perekonomian, pengangguran, mass media, dan kemudahan rekreasi.

Pada dasarnya situasi ekonomi global mempunyai hubungan yang erat dengan munculnya kejahatan. Di dalam kehidupan sosial adanya kekayaan dan kemiskinan menyebabkan bahaya besar untuk jiwa insan sebab kedua urusan itu akan mempengaruhi suasana jiwa insan di dalam hidupnya tergolong anak-anak remaja. Dalam hidupnya tergolong anak-anak remaja. Dalam fakta ada beberapa anak remaja kurang mampu yang mempunyai perasaan rendah diri dalam masyarakat sampai-sampai anak-anak tersebut mengerjakan perbuatan melawan hukum terhadap hak kepunyaan orang lain, laksana  pencurian, penipuan dan penggelapan. Biasanya hasil dari tindakan tersebut mereka pakai untuk bersenang-senang, seperti melakukan pembelian pakaian yang bagus-bagus, nonton film dan santap yang serba lezat.

Dalam urusan ini terdapat kesan bahwa tindakan delinkuen itu timbul sebagai konpensasi guna menyamakan dirinya dengan kehidupan semua keluarga kaya yang biasa hidup gemerlapan dan berfoya-foya. Kemiskinan family ekonomi lemah bukanlah penyebab satu-satunya untuk timbulnya kenakalan remaja akan namun mempunyai titik singgung di dalamnya.

Di negara-negara yang sedang berkembang atau dalam proses membina pada lazimnya masalah penyediaan lapangan kerja dalam proses upaya maksimal. Dalam satu sisi pemerintah berjuang terus menerus membina sarana-sarana industry dan infrastrukturnya yang lebih mencukupi sedangkan di sisi beda pertambahan warga tetap melaju dengan cepat, kesudahannya pengangguran kian meningkat. Adanya pengangguran di dalam masyarakat khususnya anak-anak remaja akan memunculkan peningkatan durjana bahkan munculnya niat jahat dikalangan masyarakat maupun anak-anak remaja diakibatkan karena menganggur.

Di kalangan masyarakat sudah tidak jarang terjadi durjana seperti pembunuhan, penganiayaan, pemerkosaan, pemerasan, gelandangan, dan pencuri. Kejahatan-kejahatan tersebut dilaksanakan oleh penjahat dari tingkatan usia yang beranekaragam, terdiri dari orang lanjut usia, orang dewasa dan anak remaja. Untuk anak remaja keinginan/kehendak untuk melakukan jahat kadang-kadang timbul sebab bacaan, gambar-gambar dan film. Untuk mereka yang memenuhi waktu senggangnya dengan bacaan-bacaan yang buruk (misalnya novel seks), maka urusan tersebut akan riskan dan bisa menghalang-halangi mereka untuk melakukan hal-hal yang baik.

Demikian pula tontonan yang berupa gambar-gambar porno bakal memberi rangsangan seks terhadap remaja. Rangsangan seks itu akan dominan negative terhadap pertumbuhan jiwa anak remaja. Mengenai hiburan film adakalanya memiliki akibat kejiwaan yang baik, akan namun hiburan itu member pengaruh yang tidak menguntungkan untuk perkembangan jiwa anak remaja. Misalnya film detektif yang memilki figure penjahat sebagai peran utama serta film-film action yang sarat kekerasan dengan latar belakang balas dendam. Adegan-adegan film itu akan mudah memprovokasi perilaku anak remaja dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi yang serba distruktif ini dapat dominan negative terhadap anak remaja.
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Pengertian dan Penyebab Kenakalan Remaja

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 10/05/2017

0 komentar Pengertian dan Penyebab Kenakalan Remaja

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak