Home » » Sejarah Kerajaan Mughal di India

Sejarah Kerajaan Mughal di India

Sejarah Kerajaan Mughal di India

A. Pembentukan Kerajaan Mughal

Istilah Kerajaan dalam sejarah Islam sering kali terdengar,[39] hal ini memberikan konotasi bahwa Islam sejumlah wilayah pernah hidup dan berkembang di bawah kepemimpinan seorang Raja atau Sultan. Dengan demikian, persepsi tentang kehidupan berpolitik umat Islam berbagai pemerintahan yang bercorak monarchi,[40] sebagian ada benarnya karena memeng tampak adanya pewaris tahta kepemimpinan secara turun temurun. Kerajaan-kerajaan Islam, seperti halnya pada sebuah negara sering kali mengalami kemunduran, bahkan kehancuran setelah
menikmati kejayaan. Kerajaan Mughal misalnya hanya mampu bertahan selama kurang lebih 332 tahun kemudian jatuh dalam cengkaraman Inggeris. Gambaran ini memberikan suatu indikasi bahwa peranan pelaku sejarah sangat menentukan kejayaan dan kehancuran sebuah kekuasaan. Dalam artian bahwa potret suatu bangsa sangat ditentukan oleh siapa yang melakuninya. Jika dilakuni oleh orang-orang yang cerdas dan mempunyai dedikasi moral keagamaan yang tinggi, maka dapat dipastikan bahwa bangsa tersebut mengalami kemajuan yang signifikan. Akan tetapi sebaliknya jika dilakuni oleh orang-orang yang ambisius terhadap kekuasaan, jauh dari moralitas keagamaan, apalagi jia dilakuni orang-orang yang tidak cerdas, maka dapat dipastikan bahwa bangsa itu mengalami stagnasi dalam perkembangan. Salah satu kerajaan atau Dinasti Islam yang pernah jaya ketika dunia Islam berada dalam pase kemunduran. Oleh karena itu, yang menjadi permasalahan adalah bagaimana perkembangan politik dan pemerintahan Dinasti Mughal.

Dinasti Mughal tergolong kerajaan besar Islam termuda yang pernah berdiri seperempat abad setelah kerajaan Safawi. Dinasti Mughal berkedudukan di India yang didirikan oleh Zahiruddin Babul (1482-1530 M) dari keturunan Turki Chagathai. Ayahnya bernama Umar Mizra atau Umar Syeikh Abi Said menjadi penguasa disebuah kesultanan kecil Timuriyah di Asia Tengah, yakni Farghana. Sedangkan ibunya berasal dari keturunan Jenghis Khan.[41]

Kerajaan Mughal sebagai kerajaan yang perah berkuasa, Babur adalah sosok peribadi yang disegani pada masanya tidak heran kalau ia digelar The lion King’. Peranan orang tuanya sangat mendukung dirinya sebagai pejuang dan penguasa kaliber nantinya. Ketika ayahnya wafat pada tahun 1494 M, ketika itu Babur baru berusia 14 tahun. Sebagai pewaris tahta dari nenek moyangya, Timur Lenk, ia pun memulai melakukan ekspansi ke berbagai wilayah hingga pada tahun 1504 M. Dapat merebut Kabul dan Gazni. Pada tahun 1525 M. Dengan mudah ia dapat merebut Punjab dan tak henti-hentinya bergerak untuk menguasai daerah-daerah lainnya seperti Delhi dan Panipatyang sudah lama di kuasai oleh Ibrahim Lodi.[42] Setelah perlawanan Ibrahim Lodi dikalahkan pula, Babur menghadapi serangan dari Ranasanga, penguasa Mewar yang berkoalisi dengan penguasa Amber, Gwaleor, Ajmer, Chandri dan Sultan Mahmud Lodi pada tahun 1529 M.[43]

Pertempuran ini tergolong amat dahsyat di bandingkan dengan pertempuran-pertempuran lainnya pada masa itu, Babur sebagai perwira yang gagah berani selalu memotipasi semangat bala tentaranya yang sedang panik menghadapi lawan-lawannya, sehingga pada akhirnya kemenangan itu berada di pihaknya dan kota Delhi yang telah direbut ia jadikan ibu kotanya. Demikian berdirinya kerajaan Mughal di India. Pada tahun 1530 M, Babur wafat dalam usia 48 tahun setelah pemrintah selama 30 tahun dengan meninggalkan kejayaan yang cemerlang. tahta kerajaan yang di limpahkan kepada puteranya yang tertua, yakni Humayun. Humayun memerintah selama 10 tahun (1530-1540 M). Dalam masa kepemimpinannya bukannya mengalami kemajuan akan tetapi malahan dari sebagian wilayah yang pernah di kuasai ayahnya tidak mampu di pertahankan.[44] Hal ini di sebabkan keterampilan politik Humayun tidak sebaik ayahnya. Berbeda ketika Jalal al-Din Abdul al-Tahir Muhammad Akbar (1556-1606 M). Tampil menggantikan posisi ayahnya Humayun, kerajaan Mughal kelihatan banyak mendapatkan kemajuan. Akbar, menurut sejarah, [45] tidak sempat mendapatkan pendidikan formal, namun kemauan kerasnya untuk belajar sangat tinggi, karir militernya di mulai sejak kecil hingga ia pun ditetapkan sebagai pewaris tahta kerajaan pada usia 15 tahun ayahnya mangkat pada tahun 1556 M. Sifat kecerdasan, keberanian dan kecakapan yang dimiliki oleh Akbar, menjadikan wilayah yang pernah direbut oleh ayahnya kembali ia kuasai dan ekspansi kewilayah-wilayah lainnya senantiasa di usahakan pula sampai kerajaan ini menguasai hampir seluruh wilayah India. Dari wilayah-wilayah lain ia rebut seperti Gwalior, Aimer, Janput, Gujarat, Kasmir, dan Kandahar.[46]

Di awal kepemimpinan terdapat seorang Syah yang bernama Bairam Khan,[47] ia berperang mengembangkan kerajaan, akan tetapi tatkala Bairan Khan penganjur Syiah tercium, Akbar dengan segera mengambil dan mengontrol secara penuh kerajaan. Di samping ia memeng dewasa. Pada sisi lain, Akbar juga terlihat sangat liberal, hal ini tampak ketika ia ingin menyatukan semua agama dalam satu bentuk agama baru yang diberi nama Din ilahiy.[48] 

Pada masa pemerintahan Akbar, nama kerajaan Mughal berkibar di India. Akbar tampil memperlihatkan kekuatannya dan sifat toleransinya, etnis dan agama yang  deferensial kelihatan di hormati eksistensinya, sehingga kerajaan Mughal betul-betul terkesan jaya. Selanjutnya pada tahun 1605 M Akbar wafat, kemudian digantikan oleh puteranya Jengahir. Berturut-turut tiga generasi kerajaan Mughal yag bermula dari Jengahir (1605-1628 M), Syah Jehan (1628-1658 M), dan Aurangzeb (1658-1707 M), kemajuan yang pernah di capai masih tetap mampu di pertahankan. Jehangir (1605-1628 M), berusaha mengikuti jejak ayahnya kelihatan sangat berbeda dengan program-programnya yang lain, ia memrintahkan kepada seluruh pemimpin Islam supaya melarang perkawinan campur antara agama, seorang muslimah tidak dibolehkan kawin dengan laki-laki non muslim. Instruksi seperti ini sebelumnya tidak pernah di lakukan khususnya pada masa Akbar. Selanjutnya pada masa Syah Jehan pemberlakuan syariat Islam kembali lebih ditegakkan serta stabilitas politik masih aman. Oleh karena itu, pada masa Aurangzeb, telah terjadi pemberontakan dari pihak golongan Hindu dan pihak-pihak lainnya, hal ini di akibatkan oleh kebijakan-kebijakan Aurangzeb yang terlalu memaksakan obsesinya, antara lain ingin mengislamkan seluruh orang-orang Hindu, pendiskriminasikan antara orang-orang Hindu dengan Islam,  serta melarang penambahan kuil.[49]

Adapun yang tergolong pemberontak pada saat itu adalah golongan Sikh dipimpin oleh guru Tegh Bahadur, guru Gobind Sigh dan golongan Rajput yang dipimpin oleh Undaipur serta kaum Mahratas yang dipimpin oleh Suwaji dan Sambaji. Kebijakan-kebijakan yang ditempuh justru membuka jalan bagi munculnya reaksi atau pemberontakan dari pihak lain, akhirnya dapat dikatakan bahwa pada kemajan-kemajuan yang telah dicapai tidak dapat dipertahankan oleh Raja-raja berikutnya sampai Mughal jatuh ketangan Inggeris.[50]

B. Kemajuan yang Dicapai Kerajaan Mughal

1. Perkembangan Politik dan Pemerintahan
Sebagaimana di jelaskan di atas, bahwa awal didirikannya kerajaan Mughal oleh Babur, tampak perogramnya lebih banyak tercurah pada ekspansi wilayah. Itu artinya bahwa Babur menjalankan sistem poitik agresi. Hal ini dilakukan untuk memperluas dan memperkokoh kekuasaanya. Atas usaha Babur inilah kemudian Mughal menjadi suatu imperium yang memusat di India dan diperhitungkan dalam sejarah Islam. Sebagaimana telah di sebutkan di atas bahwa pada awal kekuasaannnya Babur telah menaklukkan beberapa wilayah seperti Punjab, Rajput, Kandahar dan lain-lain. Berbeda pada masa pemerintahan Akbar, stabilitas politik mulai di mantapkan. Sistem pemerintahannya dapat berjalan dengan baik, sehingga membawa kemajuan di berbagai bidang.[51]

Dalam upaya pengembangan sistem politik dan pemerintahan, Akbar membentuk landasan institusional dan landasan geografis. Hal ini dilakukan dalam rangka membangun suatu sistem politik dan pemerintahan yang kokoh. Pemerintahan Mughal dijalankan oleh sebuah elite militer dan politik pada umumnya terdiri dari pada pembesar Afghan, Iran, Turki dan muslim India. Namun demikian, dalam rangka pengembangan Mughal, pemerintah tetap akomodatif terhadap orang-orang non muslim. Hal ini dapat kita lihat dari kebijakan Akbar yang melibatkan orang-orang Hindu sebagai aristokrasi  Mughal. Beberapa jabatan penting di berikan kepada orang-orang Hindu, seperi pejabat admiinistrasi, keuangan, pedagang dan lain-lain.[52]

Dalam pengembangan sistem politik dan pemerintahan, dikembangkan suatu sistem politik dimana pemerintah berusaha mendapatkan Legitimasi dari rakyat, Oleh karena itu, penguasa Mughal di kembangkan doktrin loyalitas dan pengabdian kepada pemerintah. Untuk mewujudkan hal ini, maka kelompok bangsawan yang disebut biradari, jati atau qawm, di kukuhkan melalui ikatan perkawinan. Di samping itu, loyalitas di bangun dengan melalui acara-acara saremonial, seperti pemberian hadiah, konsesi properti, jabatan dan lain-lain.[53] Selanjutnya dalam rangka menciptakan suatu sistem politik dan pemerintahan yang kuat, rezim Mughal membentuk klien-klien yang terdiri dari orang-orang muslim yang tengah berkuasa dan sejumlah bangsawan Hindu dan penguasa lokal, Hal ini dimaksudkan sebagai ujung tombak dan penopang bagi kekuasaan Mughal. Strategi politik ini di lakukan karena di dasari atas suatu pandangan bahwa masyarakat India merupakan sebuah kondominasi  (baca: negeri) bagi keturunan bangsawan yang mengikat penguasa melalui konsesi teritorial dan politik. Melalui ikatan perkawinan atau keluarga, pola kultural dan saremonial, pemerintahan aristokrasi Mughal dinyatakan dengan term patrimonial dan term muslim.[54] Selanjutnya dalam pengembangan sistem pemerintahan dan politik, elite penguasa di organisir sesuai dengan sistem mansabdar. Ia merupakan sebuah sistem dimana masing-masing pejabat memiliki dua kedudukan sebagai zat yang menyatakan posisinya dalam sistem hirarki tersebut dan kedudukan sebagai sawar yang menyatakan jumlah tentara yang harus di kerahkannya kemedan pertempuran. Pejabat mansab digaji baik secara tunai atau dengan pemberian sebidang tanah yang dinamakan jogir yang serupa dengan iqtiba’ di Timur Tengah. Jagir tersebut diberikan kepada pejabat-pejabat milier Kaisar, penguasa lokal.[55]

Mansabdar bertanggung jawab atas pengumpulan pendapatan negara dan atas tunjangan tentara, tetapi beberapa pejabat lainnya sebagian menangani masalah hukum dan ketertiban lokal. Masing-masing bangsawan membawahi sebuah administrasi yang terdiri dari sebuah administrasi yang terdiri dari sebuah kontingen militer, staf urusan finalsial dan administrasi, staf urusan rumah tangga, seorang herem dan sejumlah pembantuh. Keluarga seorang bangsawan dibentuk sedemikian mirip dengan keluarga sang penguasa. Bangsawan Mughal juga mengembang tanggung jawab membangun mesjid, jembatan, dan caravan saries dan atas berkembangnya kegiatan ilmiah dan sastra. Dibawa jabatan mansabdar terdapat sejumlah pimpinan lokal. Posisi tersbut terdiri dari Zamindar atau bangsawan lokal, yang berhak atas bagian tertentu dari penghasilan tanah, namun perinsipnya bukan merupakan hak pemilikan atas tanah. Hak tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari hak imperium lantaran penaklukan lokal atau lantaran dominasi kasta. Meskipun demikian, zamindar bergantung pada otoritas kaisar dan mereka dapat dipecat dari jabatannya. Penguasa Mughal terus-menerus berusaha menurunkan Raiput atau penguasa-penguasa Hindu lainnya digantikan kepada zamindar muslim.Tetapi, seorang zamindar lokal memiliki jasa besar dalam peperangan untuk mempertahankan posisinya. Setiap semindar di dukung oleh pasukan bersenjata yang sangat berperan membentuk ketaatan kaum petani dan yang melindungi kepentingan zamindar melawan campur tangan pemerintah pusat. Kecakapan zemindar dalam menguasai kaum petani dan dalam petani dan pemerintah pusat dalam memberikan kepadanya sebuah kedudukan politik dan ekonomi yang mapan.

Dalam menjalankan sistem pemerintahan dan politik, pemerintah Mughal juga menyusun sebuah pola kultural periode Mughal yang didasarkan kepada kombinasi antara peninggalan Chaghathay di Asia Tengah (yang disampaikan oleh Babur) dan warisan oleh kesultan delhi. Peninggalan Chalhaay menekankan peran penguasa sebagai seorang panglima tentara sebagai pemimpin jihad. Kepada peninggalan ini Babur menambahkan unsur perkotaan warga sedenter atau pemukiman dan tradisi Islam persia yang menjadikan ulama sebagai penasehat, pemimbing, diplomat, dan pegawai administratif bagi penguasa Changhatay. Ia berusaha meninggikan dirinya di atas peringkat pemimipin yang umum dan merebut kekuasaan atas kota dan teritorial utama yang harus diperintahnya sendiri. Dalam artian bahwa tidak melalui sebuah badan yang lebih tinggi atau yang sederajat, tetapi melalui pejabat pejabat bawahannya.[56]

Dalam konteks tersebut, dapat dikatakan bahwa sistem pemerintahan Mughal meliputi sebuah berpaduan konsep-konsep Asia Tengah Turki, dan konsep Persia tentang pemerintahan. Di samping itu, kesultanan Delhi juga turut menyumbangkan konsep-konsep tentang otoritas raja yang berasal dari tradisi monarkial Persia, dan konsep-konsep Islam tentang pertanggung jawaban politik. Dalam hal ini, Dinasti Mughal secara spesifik berusaha mengunggulkan aspek muslim dalam  tradisi ganda ini dengan mengintegrasikan Hindu kedalam resim Mughal. Resim Mughal melanjutkan seruan kesultanan Delhi terhadap elite non muslim dan mendukung sebuah kebijakan kultural yang dimaksudkan untuk membentuk sebuah kosmopolitan Islam India dari pada membentuk sebuah kultural muslim secara ekslusif.

2. Kemajuan Peradaban Kerajaan Mughal
Kerajaan Mughal juga memberikan perhatian dalam perkembangan peradaan. Kemajuan dalam bidang pendidikan, keilmuan, dan ke Islaman.[57] Antara lain dalam bidang seni Iukis, cabang seni ini juga memperoleh tempat yang paling tehormat. Raja Bubar misalnya, dikenal sebagai seorang raja yang gemar mengoleksi berbagai lukisan pemandangan telagan, air terjun, bunga dan tanaman.[58] Selain seni lukis, musik juga mendapatkan perhatian yang baik di zaman Humayun, misalnya ada seorang penyanyi yang sangat terkenal bernama Baccu. kemudian pada masa Akbar tercatat ada 36 penyanyi yang bersal dari Iran, Kashmir, dan Asia Tengah yang tinggal kerajaan, setiap hari dan setiap kelompok mempertunjukkan kebolehannya. Di antara penyanyi tersebut adalah Raja Baz Bahadur dan Tan seen. Dimasa Jahangir, musik juga mengalami perkembangan, di istananya ada ratusan penyanyi baik laki-laki maupun perempuan.

Selain seni lukis dan musik, seni bangunan juga pada masa Mughal memperoleh perhatian besar. Raja-raja Mughal di kenal sebagai raja yang gemar sekali mendirikan gedung-gedung baru. Dalam seni bangunan Mughal terdapat unsur-unsur bangunan dalam dan luar negeri.pada masa Akbar misalnya terdapat bangunan corak Iran. Bahkan Bubar dikenal sebagai seorang raja yang kurang menyukai corak bangunan setempat (India). Karena itu unsur luar tampa mendominasi seni bangunan diera Bubar. Diantara bangunan Bubar yang masih ada hingga kini adalah mesjid dikabul Bagh di penipat dan mesjid Agung di kota Sanbhal, India.

Diantara raja Mughal yang membangun gedung-gedung bersejarah India ialah Akbar. Tidak sedikit dari gedung-gedung itu yang menggambarkan kehormatannya terhadap kehidupan beragama, misalnya Fatehpur Sikri dan istana Agra yang menampilkan corak Hindu dan Islam. Di masa Akbar Istana Fatehpur Sikri merupakan bangunan yang bersejarah. Fatehpur Sikri ialah sebuah kota yang di bangun oleh Akbar pada tahun 1569 untuk mengenang seorang sufi dan wali Allah bernama Hazrat Salim Christi.

Sementara itu, di antara bangunan yang cukup indah masa Alamagir ialah mesjid Badsyahi. Mesjid ini terletak di sebelah barat Benteng Lahore. Pintu besarnya teklertak di bagian Timur yang terbuat dari batu merah. Untuk mencapai pintu ini, harus melalui 22 anak tangga. Di setiap sudut mesjid terdapat empat menara. Di setiap menara tersebut terdapat 204 anak tangga. Mesjid terbesar yang kini berada di Pakistan ini mampu menampung 75.000 orang untuk melaksanakan shalat. Namun setelah itu tidak ada lagi bangunan-bangunan baru yang besar yang dibangun oleh kerajaan Mughal dianak banua India.[59]     

C. Kemunduran dan kehancuran kerajan Mughal

Setelah satu abad setengah berada di puncak kejayaannya, para pelanjut Auragzeb tidak sanggup mempertahankan yang telah dibina oleh Sultan-sultan sebelumnya. Pada abad 18 M kerajaan ini memasuki masa-masa kemunduran. Kekuasaan politiknya mulai merosot, suksesi kepemimpinan di tingkat pusat menjadi ajang perebutan gerakan separatis Hindu di India Tengah, Sikh dibelahan utara dan Islam dibagian timur semakin lama semakin mengancam. Sementara itu para pedagang Inggeris yang pertama kali oleh Juhangir menanamkan modal di India, dengan di dukung oleh kekuatan bersenjata semakin kuat menguasai wilayah pantai.[60]

Pada masa Aurangzeb, pemberontakan pada masa pemerintahan pusat memang sudah muncul, tetapi dapat diatasi pemberontakan itu bermula dari tindakan-tindakan Aurangzeb yang dengan penerusnya rata-rata lemah tidak mampu menghadapi problema yang ditinggalkannya. Sepeninggal Aurangzeb (1707 M), tahta kerajaan di pegang oleh Muazzam, putra tertua Aurangzeb yang sebelumnya pernah menjadi penguasa di Kabul. Putra Aurangzeb ini kemudian bergelar Bahadur Syah (1707-1712 M). Ia menganut aliran Syiah pada masa pemerintahannya yang berjalan selama lima tahun, ia dihadapkan pada perlawanan Sikh sebagai akibat dari tindakan ayahnya. Ia juga diperhadapkan pada perlawanan penduduk Lahore karena sikapnya yang terlampau memaksakan ajaran Syi’ah kepada mereka.[61]

Setelah Bahadur Syak meninggal dalam jangka waktu yang cukup lama, terjadi perebutan kekuasaan dikalangan keluarga istana. Bahadur Syak diganti oleh anaknya, Azimu Syah. Tetapi pemerintahannya di tentang oleh Zulfikar Kahn, putra Azad Khan, Wasir Aurangzeb. Asimus Syah meninggal tahun 1712 M. Dan diganti oleh putranya, Juhandar Syah yang mendapat tantangan dari Farukh Syiar tahun (1713 M). Farukh Syiar berkuasa sampai tahun (1719 M). Sebagai pengganti diangkat  Muhammad Syah (1719-1748 M). Namun ia pendukungnya terusir oleh suka Asyfar dibawa pimpinan Nasir Syah untuk menundukkan kerajaan Mughal terutama karena menurutnya kerajaan ini banyak sekali memberikan bangunan kepada pemberontak Afghan di daerah Persia. Oleh karena itu tahun 1739 M, dua tahun setelah menguasai Persia. Ia menyerang kerajaan Mughal. Muhammad Syah tidak bisa bertahan dan mengaku tunduk kepada Nadir Syah. Muhammad Syah kembali berkuasa di Delhi setelah bersedia memberi hadiah yang sangat banyak kepada Nadir Syah kerajaan Mughal baru dapat melakukan restorasi kembali, terutama setelah kerajaan Wasir di pegang oleh China Qilich Khan yang bergelar Nizam al-Mulk (1722-1732 M) karena mendapat dukungan dari Marathas. Akan tetapi, tahun 1732 M Nizam Al-Mulk meninggalkan Delhi menuju Hideradab, dan menetap disana.

Konflik-konflik yang berkepanjangan mengakibatkan pengawasan terhadap daerah lemah. Pemerintah daerah satu persatu melepaskan loyalitasnya dari pemerintah pusat bahkan cenderung memperkuat posisi pemerintahannya masing-masing. Hedaradab dikuasai Nizam al-Mulk, Marathas dikuasai Shivaji, Ratpuj menyelenggarakan pemerintahan sendiri di bawah pimpinan Jay Singh dari Amber. Punjab dikuasai oleh kelompok Sikh. Oudh dikuasai oleh Sadut Khan, Begal di kuasai oleh Syuja al-Din, menantu Mursyid Qulli, penguasa Begal yang diangkat Aurangzeb. Sementara wilayah-wilayah pantai banyak dikuasai oleh para pedagang asing, terutama EIC dari Inggeris. Desintegrasi wilayah kekuasaan Mughal ini semakin diperburuk oleh sikap daerah, yang disamping melepaskan loyalitas terhadap pemerintah pusat, juga mereka senantiasa menjadi ancaman serius bagi eksistensi dinasti Mughal itu sendiri.

Setelah Muhammad Syah meninggal, tahta kerajaan dipegang oleh Ahmad Syah (1748-1745), kemudian, diteruskan oleh Alamghir II (1754-1759 M), dan kemudian dilanjutkan oleh Syah Alam (1761-1806 M). Pada tahun 1761 M, kerajaan Mughal diserang oleh Ahmad Khan Durrani dari Afghan. Kerajaan Mughal tidak dapat bertahan dan sejak itu Mughal berada di bawah kekuasaan Afghan, meskipun Syah Alam tetap diizinkan memakai gelar Sultan. Demkian seterusnya Mughal terus mengalami kemunduran sehingga akhirnya kerajaan terakhir Mughal adalah Bahadur Syah diusir dari kota Delhi, rumah-rumah ibadah banyak yang di hancurkan, dan Bahadur Syah, raja Mughal terakhir, di usir dari istana (1858 M).[62] Dengan demikian berakhirlah sejarah kekuasaan Dinasti  Mughal di daratan India dan tinggallah disana umat Islam yang harus berjuang mempertahankan eksistensi mereka.

Untuk lebih jelasnya penulis merinci beberapa faktor yang menyebabkan kekuasaan Dinasti Mughal itu mundur pada satu setengah abad terakhir dan membawa kepada kehancurannya pada tahun 1858 M, yaitu: Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga oprasi militer Inggeris diwilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatam maritim Mughal. Begitu juga kekuatan pasukan darat. Bahkan, mereka kurang terampil dalam mengoperasikan persenjataan buatan Mughal sendiri. Kemorosotan moral dan hidup mewah di kalangan elit politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara. karena konflik yang berkepanjangan pemerintah daerah satu persatu melepaskan loyalitasnya dari pemerintah pusat bahkan cenderung memperkuat posisi pemerintahnya masing-masing. semua pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.                                                           

DAFTAR PUSTAKA

Ahmed, Akbar S., Discovering Islam, Making Sence of Muslim History and Society, di terjemahkan Nunding Ram dan Ramli Yaqub, Citra Muslim, Tinauan Sejarah dan Siosologi, Cet. I;Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama,1992.
.........................., From Samarkand to Stornoway: Living Islam, di terjemahkan  Pangestuningsih, Living Islam, Cet. I; Bandung: Penrbit Mizan,1997.
Azra, Azyumardi, dkk., Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005.
Brockelmann, Carl, Tarikh al-Syu’ub al-Islamiyyah, Cet. V; Beirut: Dar al-Ilm li al-Malayin,t.t.
Depag RI, Tim Penyusun Textbook Sejarah dan Kebudayaan Islam Dirjen Binbaga Islm, Sejarah dan Kebudayaan Islam jilid II, Ujung Pandang: IAIN Alauddin, 1983.
Karim M, Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Cet. I; Yokyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007.
Lapidus, Ira M., A History of Islamic Society, di terjemahkan Ghufron A. Mas’udi, Sejarah Sosial Ummat Islam, Bagian Kesatu dan Dua, Cet. II; Jakarta: PT. Raja Grafindo, Persada,2000.
Mughni, Syafiq A., Dinamika Intelektual Islam Pada Abad Kegelapan, Cet. I; Surabaya: lembaga opengkajian Agama dan Masyarakat, 2002.
Al-Syuti, Jalaluddin, Tarikh al-Khulafa’, Cet. I; Kairo: Dar al-Fajr li al-Turas,1999.
Thohir, Ajid, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, Cet. I; Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2004.
Nasution, Harun, Islam Ditinjau dari Beberapa Aspeknya Jilid I, Jakarta; Ul Press 1985.
Team Penyusun Kamus Pustaka dan Pengembangan bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. II; Jakarta: Balai Pustaka, 1989.
Bosworth C.E., et. al The Ensiklopedi Of Islam, Vol VII. Leiden New York; E.J. Brill, 1993.
Hassan, Ibrahim, Islamic History and Culture di terjemahkan oeh Djahdan Humam dengan judul : Sejarah dan Kebudayaan Islam, Yokyakarta: Kota Kembang, 1989.
Muhammadunnasser, Syed, Islam Its Consepts and History, di terjemahkan oleh Adang Affandi dengan judul Islam Konsepsi dan Sejahtranya, Bandung: Yokyakarta, 1991   
Sushtery, A.M.A., Outlines Of Islamic Culture, Vol I, Bangalore City The Bangalore Press, 1938.
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam Cet. IX; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999.
......................., Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Edisi I (Cet. XII; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persaa, 2001.
Ikram, S.M. , Muslim Civiliztion In India New York: Colunmbia University Press t.th.      


[39] Harun Nasution, Priode Sejarah Islam di bagi dalam tiga periode :a. Priode Klasik (kemajuan Islam, 650-1250 M), b. Periode Pertengahan (kemunduran Islam 1250-1800 M), c. Periode mederen 1800 M dan seterusnya, Lihat Harun Nasution, Islam ditinjau dari beberapa Aspeknya ilid I (Jakarta; UL Press1985), h. 84  
[40] Monachi adalah bentuk pemerintahan yang dikepalai oleh raja dengan memiliki ketentuan-ketentuan atau undang-undang dasar. Lihat team penyusun kamus pustaka dan pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet.II; Jakarta: Balai Pustaka,1989), h. 590  
[41] C.E. Bosworth et. Al The Ensiklopedi Of Islam, Vol VII (Leiden New York; E.J. Brill, 1993), h.313. Lihat pula, Fuad moh. Fachruddin, Perkembangan Kebudayaan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), h185-186
[42] Syed Muhammadunnaser, Islam its Consepts and History diterjemahkan oleh Adang  Affandi denan judul Islam konsepsi dan sejatranya (Bandung: Yokyakarta, 1991), h. 384 
[43] Ibid., h. 349-350
[44] Shushtery, Outlines Of Islamic Culture, Vol I (Bangalore City The Bangalore Press, 1938), h. 268
[45] Lihat  Ibid., h. 360
[46] Lihat   Ibid., h.362
[47] Lihat, Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada), h. 148
[48] Lihat, Iqtdar Husain Siddqy, Islam and Muslims Indonesia South Asia: Historical Perspective  (Delhi: Adam Publisher, 1987), h. 30. Lihat juga Harun Nasution, op. Cit., h.85
[49] Marshal G.S. Hodgson, The Venture of Islam, Vol III (Chicago: The University of  Chicago Press, 1974), h. 96, Lihat juga Tutik Nuria Erwin, Asia Selatan Dalam Sejarah  (Jakarta: Fak. Ekonomi UI, 1990), H. 40 
[50] Lihat, C.E. Bosworth, op.cit., h.240
[51] Lihat, Badri Yatim, op. cit., h. 150
[52] Lihat, Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam (Cet. I; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999), h. 695
[53] Lihat, Ibid.,
[54] Lihat, Ibid., h.696
[55] Lihat, Ibid.,
[56] Lihat, Ibid.,
[57] Taufik Abdullah dkk, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Ajaran op. cit., h. 299
[58] Ibid.
[59] Ibid., h. 300-301
[60] Lihat,Badri Yatim, op. cit., h.159
[61] S.M, Ikram, Muslim Civilistion in India (New York:Columbia University Press t.th), h. 255. 
[62] Badri Yatim, o
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Sejarah Kerajaan Mughal di India

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 9/24/2017

0 komentar Sejarah Kerajaan Mughal di India

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak