Home » » Pengertian Akhlak dan Ruang Lingkupnya

Pengertian Akhlak dan Ruang Lingkupnya

Pengertian Akhlak dan Ruang Lingkupnya

A. Pengertian Akhlak

Menurut bahasa (etimologi) perkataan akhlak ialah bentuk jama’ dari Khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kalimat Khuluq sangat berhubungan dengan “khalqun” yang berarti kejadian, serta erat hubungannya dengan “khaliq” yang berarti Pencipta dan “makhluq” yang berarti
yang diciptakan.[1]
Ibnu Athir dalam Annihayah menerangkan bahwa “ Pada hakekatnya makna Khuluq ialah gambaran batin manusia yang paling tepat (yaitu jiwa dan sifatnya), sedangkan Khalqun merupakan gambaran bentuk luarnya (raut muka, warna kulit, tinggi rendah tubuhnya, dan lain sebagainya)”[2]

Imam Ghozali mengatakan bahwa “ Bilamana orang mengatakan si A itu baik kholqunya dan  khuluq-nya, berarti  si  A itu baik sifat lahirnya dan sifat bathinnya”.[3]

Barmawy Umary berpendapat bahwa penggunaan kata akhlak seakar dengan kata khaliq (Allah Pencipta) dimaksudkan agar terjadi hubungan baik antara manusia sebagai makhluk dengan Allah sebagai Khaliq-nya, dan antara manusia sebagai makhluk dengan makhluk-makhluk lain.

Terlepas dari analisis-analisis diatas, yang jelas kata akhlak telah digunakan oleh al-Qur’an untuk mengungkapkan makna budi pekerti dan perangai,  saat mengemukakan perangai 
Rasulullah saw, dalam surat al-Qalam ayat ke-4, yang berbunyi :
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

 “Dan Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti dan perangai yang agung ".[4]

Dengan demikian, penggunaan akhlak untuk makna budi pekerti, perangai, serta tingkah laku itu, telah dimulai oleh Allah sendiri dalam al-Qur’an, kemudian
Rounded Rectangle: 6oleh Rasulullah dalam haditsnya,   yang berbunyi :

"Tiada diutus aku kecuali untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia".[5]Kata akhlaq sering diidentifikasikan pada kata etika dan kata moral, dimana kata etika mempunyai pengertian secara bahasa sebagai kata yang diambil dari kata ethos yang berarti adat kebiasaan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata etika diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang asas asas akhlaq, sedangkan menurut istilah diartikan sebagai ilmu yang menjelaskan tentang baik dan buruk, tentang apa yang harus dilakukan oleh manusia.sedangkan moral diambil dari kata yang berasal dari bahasa latin, yang mempunyai arti sebagai tabiat atau kelakuan. Sehingga dapat difahami bahwa antara etika, moral dan akhlaq mempunyai pengertian yang sama secara bahasa, yaitu kelakuan atau kebiasaan.[6]

Pengertian akhlaq menurut istilah banyak dipaparkan oleh berbagai pakar, yang kesemuanya memiliki keragaman pemahaman yang berbeda satu dengan yang lain.
Beberapa pakar mengemukakan definisi akhlak sebagai berikut:

Ensiklopedi Pendidikan dikatakan bahwa akhlak ialah budi pekerti, watak, kesusilaan (kesadaran etika dan moral) yaitu kelakuan baik merupakan akibat dari sikap jiwa yang benar terhadap Khaliqnya dan terhadap sesama manusia.[7]

Abdullah Dirros dalam menegaskan, akhlaq adalah suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, dimana keduanya saling berkombinasi membawa kecenderungan pemilihan pada sesuatu yang benar ataupun yang salah[8]

Ahmad amin mengatakan bahwa akhlak ialah kebiasaan baik dan buruk. Contohnya apabila kebiasaan memberi sesuatu yang baik, maka disebut akhlaqul karimah dan bila perbuatan itu tidak baik maka disebut akhlaqul
madzmumah.[9]

Farid ma’ruf mendefinisikan akhlak sebagai kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan dengan mudah karena kebiasaan, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu.[10]

Maskawaih berpendapat bahwa akhlaq merupakan keadaan jiwa seseorang yang mendorong untuk melakukan suatu perbuatan tanpa memerlukan pemikiran.[11]

Imam Al-Ghozali, akhlaq ialah suatu sifat yang tetap pada jiwa seseorang, yang mendorongnya untuk melakukan suatu perbuatan dengan mudah tanpa membutuhkan pemikiran[12]

Karena akhlak merupakan suatu keadaan yang melekat dalam jiwa, maka suatu perbuatan baru disebut akhlak kalau terpenuhi beberapa syarat :

Perbuatan itu dilakukan berulang-ulang. Kalau suatu perbuatan hanya dilakukan sesekali saja, maka tidak dapat disebut akhlak. Misalnya, orang yang jarang berderma tiba-tiba memberikan uang kepada orang lain karena alasan tertentu. Dengan tindakan ini ia tidak dapat disebut murah hati atau berakhlak dermawan karena hal itu tidak melekat dalam jiwanya.

Perbuatan itu timbul dengan mudah tanpa dipikirkan atau diteliti lebih dahulu sehingga ia benar-benar merupakan suatu kebiasaan. Jika perbuatan itu timbul karena terpaksa atau setelah dipikirkan dan dipertimbangkan secara matang, maka hal itu tidak disebut akhlak.[13]Jadi, pada hakikatnya akhlak adalah suatu sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian. Dari sini timbullah berbagai macam perbuatan dengan cara spontan tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pikiran.

B. Ruang Lingkup Akhlak

Demikian bahwa akhlak Islami mencakup berbagai makhluk yang diciptakan oleh Tuhan, yakni akhlak manusia dengan Tuhan, akhlak pada diri sendiri, hubungan antara manusia dengan sesamanya dan akhlak terhadap alam sekitar.

Adapun semua itu akan dijelaskan secara terperinci dibawah ini:

1. Akhlak terhadap Tuhan

Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang diberikan kesempurnaan dan kelebihan dibanding makhluk lainnya. Manusia diberikan akal untuk berpikir, perasaan dan nafsu, maka sepantasnyalah mempunyai akhlak yang baik terhadap Allah.

Allah telah banyak memberikan kenikmatan yang tidak ada bandingannya dan kenikmatan dari Allah tidak akan dapat terhitung. Sesuai dengan firman Allah:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." .(QS. An-Nahl: 18)[20]

Akhlak kepada Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk kepada Allah sebagai khalik.

Bertolak dari prinsip ketauhidan itu, manusia kemudian berkewajiban untuk menghamba atau mengabdi kepada-Nya. Allah berfirman:

وَما خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ الْإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku ".

Qurish Shihab mengatakan bahwa titik tolak akhlak terhadap Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji, demikian agung sifat itu jangankan manusia, malaikat pun tidak mampu menjangkaunya.[21]

Adapun kewajiban manusia terhadap Allah pada garis besarnya ada dua, yaitu:
1. Mentauhidkan-Nya
2. Beribadah kepada-Nya

Sebagai implikasi lebih lanjut dari dua kewajiban tersebut adalah bahwa manusia harus berbuat atau beramal sesuai dengan syari’at Islam (amal saleh). Ini termasuk kewajiban kepada Allah SWT. Sebagaimana tercantum dalam firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk". (QS Al Bayyinah:7).[22]

Beriman dan beramal saleh itu dalam istilah lain disebut takwa, yang dipenntahkan Allan kepada hamba-Nya,    sebagaimana Allan berfirman:

يَاأَيُّهَاالَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّاوَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَاتَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءًفَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْعَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُلَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam ".(Ali Imran [3]: 102.)

Jadi, cara ber-akhlaqul karimah kepada Allah adalah beriman kepada Allah, meninggalkan segala larangan-Nya dan menjalankan segala perintah-Nya. Orang yang sudah mengaku beriman kepada-Nya, sebagai kesempurnaannya takwa.[23]Oleh sebab itu amal ibadah merupakan satu kewajiban manusia terhadap Allah mutlak ditegakkan, yaitu dengan menjalankan segala perintah dan meningggalkan larangan-Nya.  Sifat yang merupakan manifestasi iman dan takwa itu adalah syukur atas nikmat yang dibenkan dan sabar pada bencana yang ditimpanya.

2. Akhlak terhadap Diri Sendiri

Manusia terdiri dari dua unsur, yaitu jasmani dan rohani. Jasmani merupakan badan kasar yang kelihatan, sedangkan rohani ialah badan halus yang bersifat abstrak seperti akal, hati dan sebagainya.

Dalam hubungannya terhadap jasmani, manusia berkewajiban memenuhi kebutuhan primer, yaitu makanan, pakaian dan tempat tinggal sesuai dengan tuntuan fitrahnya, sehingga ia mampu menjalankan kewajibannya dengan baik.

Kewajiban manusia terhadap dirinya juga disertai dengan larangan merusak, membinasakan dan menganiaya diri, baik secara jasmani (memotong dan merusak badan), maupun secxara rohani (membiarkan larut dalam kepedihan). Hal tersebut diatur dalam ajaran agama Islam, sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah 195:

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
"Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, Karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik".[24]

Tegasnya islam menganjurkan penggunaan benda-benda bersih, sehat dan bermanfaat dan melarang penggunaan benda yang merugikan dan merusak fisik seperti memakai tatoo, penyalahgunaan narkoba dan Iain-lain.

Adapun kewajiban manusia dalam hubungannya dengan kebutuhan batin atau rohani, terkait dengan unsure akal dan hati. Kewajiban manusia terhadap aspek rohani bagi dirinya sendiri dapat dikatakan lebih berat karena sifatnya yang abstrak. Namun demikian, kebutuhan dalam bidang ini dapat dianggap sebagai kebutuhan yang esensial. Mengabaikan kebutuhan ini memang tidak akan menyebabkan kematian, tetapi pasti akan menyebabkan kehinaan dan kemstaan.

Kewajiban untuk memenuhi kebutuhan akalnya berupa ilmu. Dengan demikian, manusia berkewajiban untuk belajar sehingga terus menghidupkan akalnya dengan bekal pengetahuan yang cukup. Tanpa berfungsinya akal-karena ketiadaan ilmu-manusia menjadi bodoh dan menyebabkan dirinya menjadi nista atau berderajat rendah. Dalam surat az-Zumar ayat 39 dinyatakan dengan tegas perbedaan antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu, sementara dalam surat al-Mujadilah ayat 58 dinyatakan bahwa derajat orang yang beriman dan berilmu ditingkatkan oleh Allah SWT dengan sendirinya, tentu saja melebihi orang kafir dan orang bodoh. Karena itu dari sudut agama, menuntut ilmu berarti
memenuhi kebutuhan akal yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan.[25]

Manusia juga berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan hati yang merupakan sumber rasa. Hati yang tentram akan menciptakan rasa aman dan bahagia. Sebaliknya, hati yang hampa dan tidak terbina akan menghasilkan rasa gundah, marah, dan tersiksa. Manusia yang mengabaikan kebutuhan hati akan kehilangan rasa yang menghancurkan jati dirinya. Rasa kasih saying, rasa aman, rasa harga diri, rasa bebas, dan rasa berani, pada kenyataannya merupakan kebutuhan nuramah yang wajib dipenuhi oleh setiap manusia . Dalam Al-qur an surah al-Fajr 27-30 ditegaskan:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي
"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam syurga-Ku ".
Kebutuhan jasmani dan rohani harus menjadi perhatian yang serius sehingga manusia mampu dapat menjalankan tugasnya dengan baik yakni menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai khalifah di muka bumi

3. Akhlak terhadap Sesama Manusia

Manusia adalah makhluk sosial yang kehidupannya tidak dapat diisolasikan secara permanen dari sesamanya. Kelahiran manusia di muka bumi ini dimungkinkan dari kedua orang tuanya yang kemudian menjadi lingkungan pertamanya di dunia. Perkembangan manusia kemudian tergantung pada interaksi dengan kelompok masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Pada akhirnya, manusia menempati posisi dan memerankan tugas tertentu. Dalam kaitan ini, maka kewajiban manusia dengan sesama harus dipenuhi sehingga tercipta kondisi yang harmonis dan dinamis yang menjamin kelangsungan hidupnya. Dalam Al-qur’an surat Ali Imran ayat 112, Allah berfirman:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ
"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia".[26]

Dari ayat diatas menjelaskan bahwa manusia tidak bisa lepas dari ikatan (agama) Allah dalam hal menjalankan perintah Allah dan meningggalkan larangan-Nya yang termasuk dalam etika (akhlak) terhadap Allah, dan manusia juga tidak bisa terhindar dari urusan kemanusiaan, karena manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan antar sesamanya.

Islam memerintahkan manusia untuk memenuhi hak-hak pribadinya dan berlaku adil terhadap dirinya sendiri, dalam memenuhi hak-hak pribadinya juga tidak boleh merugikan hak-hak orang lain.

Islam mengimbangi hak-hak pribadi, hak-hak orang lain dan hak masyarakat sehingga tidak timbul pertentangan. Semuanya harus bekerja sama dalam mengembangkan  hukum-hukum  Allah. Akhlak terhadap  manusia merupakan sikap seseorang terhadap orang lain.

Adapun akhlak terhadap sesama manusia dapat diperincikan sebagai berikut:

a. Akhlak sebagai Anak
Sebagai seorang anak, wajib berbakti kepada orang tua, setelah takwa kepada Allah. Orang tua telah bersusah payah memelihara, mengasuh, mendidik sehingga menjadi orang yang berguna dan berbahagia. Karena itu anak wajib mentaatinya, menjunjung tinggi titahnya, mencintai mereka dengan ikhlas, berbuat baik kepada mereka, lebih-lebih bila usia mereka telah lanjut, jangan berkata keras dan kasar kepada mereka.[27]

Allah berfirman dalam surah Al-Isra’ ayat 23, yang berbunyi:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia ".[28]

Di dunia ini tidak seorang pun yang menyamai kedudukan orang tua. Tidak ada satu usaha dan pembalsan yang dapat menyamai jasa kedua orang tua terhadap anaknya. Perbuatan yang harus dilakukan seorang anak terhadap orang tua menurut Al-qur an sebagai benkut   :
1. Berbakti kepada kedua orang tua
2. Mendoakan keduanya
3. Taat terhadap segala yang diperintahkan dan meninggalkan segala yang dilarang mereka, sepanjang perintah dan larangan itu tidak bertentangan dengan ajaran agama
4. Menghormatinya, merendahkan diri kepadanya, berkata yang halus dan yang baik-baik supaya mereka tidak tersinggung, tidak membentak dan tidak bersuara melebihi suaranya, tidak berjalan di depannya, tidak memanggil dengan nama, tetapi memanggil dengan ayah (bapak) dan ibu.
5. Memberikan penghidupan, pakaian, mengobati jika sakit, dan menyelamatkan dari sesuatu yang dapat membahayakannya.[29]

Apabila kedua orang tuanya telah tiada, seorang anak masih berkewajiban berbakti kepadanya, yaitu dengan cara:
1. Mendoakan keduanya dan memintakan ampun atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan keduanya
2. Jika meninggalkan utang-piutang segerakan untuk membayarnya
3. Jika meninggalkan wasiat segera penuhi wasiatnya, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran agama
4. Menyambung kembali tali silaturrahim kepada sanak famili dan sahabat dekatnya serta menghormatinya
5. Menepati janji keduanya, umpamanya keduanya ingin menunaikan ibadah haji, berjanji akan membangun madrasah, serta janji-janji lain yang tidak bertentangan dengan Al-qur’an dan hadist.

b. Akhlak sebagai orang tua
Anak adalah amanah yang dititipkan Allah kepada orang tuanya. Sebagai amanah, orang tua berkewajiban untuk memelihara dan mendidiknya agar ia menjadi orang yang baik dan berguna dikemudian hari.[30]

Adapun kewajiban orang tua terhadap anaknya, secara terinci sebagai berikut42:
1. Memberi nama yang baik
2. Menyembelih hewan aqiqah hari ketujuh dari kelahirannya
3. Mengkhitankannya
4. Memberi kasih sayang
5. Memberi nafkah
6. Memberikan pendidikan, pengajaran, terutama hal-hal yang berhubungan berkenaan dengan masalah agama
7. Mengawinkan setelah dewasa

c. Akhlak terhadap Tetangga
Dalam ajaran agama Islam, manusia berkewajiban untuk memelihara dan mengembangkan hubungan baik dengan tetangga, termasuk ikut memperhatikan kebutuhannya. Kewajiban ini dipandang sangat penting karena berpengaruh pada kualitas keimanan seseorang.[31]Rasulullah SAW bersabda: “Tiada sempurna iman seseorang, apabila orang itu tidur lelap dengan perut yang kenyang, sedangkan ada tetangganya yang tidak tidur karena kelaparan”.(HR. Al-Bukhari)

Kewajiban terhadap tetangga dapat dibedakan menurut klasifikasi tetangga itu sendiri. Jika tetangga   itu   muslim   dan   famili,   maka   ada   tiga   kewajiban menunaikannya[32]
1. Kewajiban memuliakan tetangga
2. Kewajiban menghormati hak keislamannya
3. Kewajiban kesamaan hak karena adanya hubungan famili Jika tetangga muslim saja (tidak famili) ada dua kewajiban yang ditunaikan:
a. Kewajiban memuliakan tetangga
b. Kewajiban menghormati keislamannya

d. Akhlak terhadap Lingkungan Masyarakat
Lingkungan masyarakat ialah lingkungan kelompok manusia yang berada di sekelilingnya, bekerja sama, saling menghormati, saling membutuhkan dan dapat mengorganisasikannya dalam lingkungan tersebut.[33]

Lingkungan masyarakat menjadikan situasi dan kondisi sosial cultural berpengaruh terhadap perkembangan fitrah manusia secara individu.[34]Setiap orang tidak dapat melepaskan dirinya dari lingkungan masyarakat sekitarnya. Dalam pergaulan masyarakat itu ditentukan oleh tata cara bermasyarakat agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan.

Dalam hal ini ada beberapa kewajiban yang harus diperhatikan oleh masing-masing, antara lain[35]:
1. Menunjukkan wajah yang jernih terhadap mereka
2. Tidak menyakiti mereka, baik dengan lisan maupun perbuatan
3. Menghormati dan tenggang rasa terhadap mereka
4. Memberi pertolongan apabila mereka membutuhkan Akhlakul karimah kepada lingkungan masyarakat hendaknya dapat diterapkan dalam    kehidupan    sehari-hari    agar    ketentraman    dan    kerukunan    hidup bermasyarakat dapat tercapai sesuai dengan apa yang kita inginkan bersama.

Untuk meningkatkan hubungan baik terhadap lingkungan masyarakat kita tinggal, yang wajib dilakukan sebagai anggota masyarakat adalah sebagai benkut :

1. Ukhwah dan persaudaraan
Di dalam lingkungan masyarakat hams menjalin hubungn ukhwah dan persaudaraan dengan baik. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
"Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat".(QS. Al-Hujarat [49]:10)[36]

2. Tolong-menolong
Tolong-menolong untuk kebaikan dan takwa kepada Allah adalah perintah Allah. Wajib kepada setiap orang islam untuk tolong-menolong dengan cara yang sesuai dengan keadaan obyek orang yang bersangkutan. Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya".(QS. Al-Maidah [5]:2)[37]

3. Musyawarah
Jika ada masalah rumit dalam masyarakat, maka musyawarah di dalam lingkungan adalah cara yang tepat dan dianjurkan untuk mendapatkan keputusan yang adil. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
"Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat,  sedang urusan mereka  (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka ".

4. Akhlak terhadap Alam sekitar

Manusia sebagai khalifah diberi kemampuan oleh Allah untuk mengelola bumi dan mengelola alam semesta ini. Manusia diturunkan ke bumi untuk membawa rahmat dan cinta kasih kepada alam seisinya. Oleh karena itu, manusia mempunyai tugas dan kewajiban terhadap alam sekitarnya, yakni melestarikan dan memeliharanya dengan baik.    Allan berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
"Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan". (QS. Al-Qashash :77)[28]

Dalam ajaran Islam akhlak terhadap alam seisinya dikaitkan dengan tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi. Manusia bertugas memakmurkan, menjaga dan melestarikan bumi ini untuk kebutuhannya. Akhlak manusia terhadap alam bukan hanya semata-mata untuk kepentingan alam, tetapi jauh dari

itu untuk memelihara, melestarikan dan memakmurkan alam ini. Dengan kemakmuran alam dan keseimbangannya manusia dapat mencapai dan memenuhi kebutuhannya sehingga kemakmuran, kesejahteraan, dan keharmonisan hidup dapat terjaga.



[1] 2Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta : Rineka Cipta, 1996), h.115-117
[2] Ibid., h. 99
[3] Wardi Bachtiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, (Jakarta : Logos, 1997), h. 88
[1] Zahruddin AR, M. dan Hasanuddin Sinaga, Pengantar Studi Akhlak, PT. Raja GrafindoPersada, Jakarta 2004, Hal. 1
[2] Ibid, Hal. 2.
[3] Loc.cit
[4] Departemen Agama RI, Mushaf al-Qur’an dan Terjemahannya, Edisi Tahun 2012, al-Huda. Jakarta,2012. Hal.565
[5] HR Bukhori dalam Muhammad Jamaluddin Qosimi. Mauidhotul Mu’minin, Darul Kitab Al-Islami. Libanon 2005, Juz 2 Hal 3.
[6] Manan Idris, DKK. Reorientasi Pendidikan Islam , Hilal Pustaka: Pasuruan 2006 Hal. 107
[7] Soegarda Poerbakawatja, Ensiklopedi Pendidikan, Gunung Agung, Jakarta, Hal. 9. 19.
[8] . Manan Idris, DKK Op.cit. Hal 109
[9] M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an, AMZAH, Jakarta, 2007 Hal. 3
[10] Ibid, Hal. 4.
[11] Taufik Abdullah DKK,Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, PT Ichtiar Baru van Hoeve, Cetakan kedua, Jakarta, 2003, Hal. 326.
[12] Loc.cit
[13] Azyumardi Azra, Ensiklopedi Islam, PT Ichtiar Baru van Hoeve, Cetakan kesembilan, Jakarta, 2001, Hal. 102.
[14] M. Yatimin Abdullah, Op. cit, Hal. 4.
[15] Ibid, Hal. 198.
[16] Departemen Agama RI, Mushaf al-Qur’an dan Terjemahannya.Op.Cit.Hal.
[17] Ibid, Hal. 4.
[18] Depag, Op. cit, Hal. 62.
[19] M.Solihin dan M. Rosyid Anwar, Akhlak Tasawwuf, Penerbit Nuansa, Bandung,2005, Hal.96
[20] Departemen Agama RI, Mushaf al-Qur’an dan Terjemahannya.Op.Cit.Hal.
[21] 32 . Ibid. Hal. 200.
[22] Departemen Agama RI, Mushaf al-Qur’an dan Terjemahannya.Op.Cit.Hal.
[23]  A. Musthafa. Akhlak Tasawwuf, Pustaka Setia, Bandung, 1997. Hal. 159.
[24] Departemen Agama RI, Mushaf al-Qur’an dan Terjemahannya.Op.Cit.Hal.
[25] Loc.cit..
[26] Departemen Agama RI, Mushaf al-Qur’an dan Terjemahannya.Op.Cit.Hal.
[27] M. Yatimin Abdullah, Op. cit, Hal. 212.
[28] Departemen Agama RI, Mushaf al-Qur’an dan Terjemahannya.Op.Cit.Hal.
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Pengertian Akhlak dan Ruang Lingkupnya

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 9/29/2017

0 komentar Pengertian Akhlak dan Ruang Lingkupnya

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak