Home » » Hubungan antara Salaf dengan Wahabi

Hubungan antara Salaf dengan Wahabi

Hubungan antara Salaf dengan Wahabi

A. Awal Kemunculan Aliran Salaf

Aliran Salaf adalah salah satu aliran yang terdapat dalam kajian ilmu kalam. Pada awalnya ilmu kalam lahir banyak persoalan yang timbul dikalangan masyarakat, karena itulah muncul berbagai pendapat dan pemikiran, sehingga terbentuk aliran-aliaran pemikiran para ulama. termasuk aliran teologi yang untuk menyelesaikan masalah-masalah kalam tersebut. Diantara aliran-aliran tersebut adalah aliran Salaf. Aliran salaf merupakan aliran yang muncul sebagai kelanjutan dari pemikiran Imam Ahmad ibn Hanbal yang kemudian pemikirannya diformulasikan secara lebih lengkap oleh imam Ahmad Ibn Taimiyah. Sebagaimana aliran Asy’ariyah, aliran Salaf memberikan reaksi yang keras terhadap pemikiran-pemikiran ekstrim Mu’tazilah.
Kata salaf secara etimologi dapat diterjemahkan menjadi "terdahulu" atau "leluhur". Sedangkan menurut terminologi terdapat banyak difinisi yang dikemukakan oleh para pakar mengenai arti salaf, sebagaimna yang dikutif rosihon anwar dalam bukunya. diantaranya adalah:
1. Menurut Thablawi Mahmud Sa’ad, salaf artinya ulama terdahulu. Salaf terkadang dimaksudkan untuk merujuk generasi sahabat, tabi’, tabi’ tabi’in para pemuka abad ke-3 H, dan para pengikutnya pada abad ke-4 yang terdiri dari para muhadditsin dan lainnya. Salaf berarti pula uluma-ulama shaleh yang hidup pada tiga abad pertama Islam.
2. Menurut As-Syahrastani, ulama salaf adalah yang tidak menggunakan ta’wil (dalam menafsirkan ayat-ayat mutasabbihat) dan tidak mempunyai faham tasybih (antropomorphisme).
3. Mahmud Al-Bisybisyi menyatakan bahwa salaf sebagai sahabat, tabi’in, dan tabi’ tabi’in yang dapat diketahui dari sikapnya menampik penafsiran yang mendalam mengenai sifat-sifat Allah yang menyerupai segala sesuatu yang baru untuk mensucikan dan mengagungkan-Nya.[1]
Asal penamaan Salaf dan penisbahan diri kepada manhaj Salaf adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada putrinya Fatimah az-Zahra:
فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ
Artinya: "Karena sesungguhnya sebaik-baik salaf bagi kamu adalah saya".
Pada zaman modern, kata Salaf memiliki dua definisi yang kadang-kadang berbeda. Yang pertama, digunakan oleh akademisi dan sejarahwan, merujuk pada "aliran pemikiran yang muncul pada paruh kedua abad sembilan belas sebagai reaksi atas penyebaran ide-ide dari Eropa," dan "orang-orang yang mencoba memurnikan kembali ajaran yang telah di bawa Rasulullah serta menjauhi berbagai ke bid'ah an, khurafat, syirik dalam agama Islam”.
Berbeda dengan aliran mu’tazilah yang cenderung menggunakan metode pemikiran rasional, aliran salaf menggunakan metode tekstual yang mengharuskan tunduk dibawah naql dan membatasi wewenang akal pikiran dalam berbagai macam persoalan agama termasuk didalamnya akal manusia tidak memiliki hak dan kemampuan untuk menakwilkan dan menafsirkan al-Qur’an. Kalaupun akal diharuskan memiliki wewenang, hal ini tidak lain adalah hanya untuk membenarkan, menela’ah dan menjelaskan sehingga tidak terjadi ketidak cocokan antara riwayat yang ada dengan akal sehat.[2]
Namun dalam penerapannya di kalangan para tokoh aliran ini sendiri, metode ini tidak selalu membuahkan hasil yang sama. Hal ini disebabkan mereka tidak luput dari pengaruh situasi kultural dan struktural pada masanya. Misalnya, di kalangan aliran salaf ada golongan yang disebut al-Hasyawiyah, yang cenderung kepada anthropomorfisme dalam memformulasikan sifat-sifat Tuhan, seperti mereka berpandangan bahwa ayat-ayat al-Qur’an dan hadits yang bersifat mutasyabbihat harus difahami menurut pengertian harfiyahnya. Akibatnya ada kesan bahwa Tuhan memiliki sifat-sifat seperti bertangan, bermuka, datang, turun, dan sebaginya.[3]
W. Montgomery Watt menyatakan bahwa gerakan salafiyah berkembang terutama di Bagdad pada abad ke-13. Pada masa itu terjadi gairah menggebu-gebu yang diwarnai fanatisme kalangan kaum Hanbali. Sebelum akhir abad itu terdapat sekolah-sekolah Hanbali di Jerusalem dan Damaskus. Di damaskus, kaum Hanbali makin kuat dengan kedatangan para pengungsi dari Irak yang disebabkan serangan Mongol atas Irak. Diatara para pengungsi itu terdapat satu keluarga dari Harran, yaitu keluarga Ibn Taimiyah. Ibnu Taimiyah adalah seorang ulama’ besar penganut imam Hanbali yang ketat. Menurut Harun Nasution secara kronologis salafiyah bermula dari Imam Ahmad bin Hanbal kemudian dikembangkan oleh Ibnu Taimiyah dan disuburkan oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahab hingga akhirnya berkembang secara sporadis di dunia Islam.

B. Aqidah Pokok AliranWahabi

Muhamad bin Abdul Wahab lahir dan besar di lingkungan keluarga dan masyarakat yang bermazhab Hambali. Bahkan, sebagaimana disebutkan terdahulu, ayahnya adalah kadi mazhab Hambali di daerahnya. Karena itu wajarlah jika Muhammad bin Abdul Wahab menjadi penganut dan pemgikut setia Ahmad bin Hambal. Oleh karena itulah, Muhammad bin Wahab disebut-sebut sebagai tokoh salafiah abad ke-18 M sebab salafiah mengacu kepada pemikiran Ahmad bin Hambal. Sebagai pengikut setia Ahmad bin Hambal tentu pola pikir dan amaliahnya menikuti mazhab Hambali. Ahmad bin hambal yang terkenal dengan gigih mempertahankan dan memperjuangkan iktikad dan amaliah salaf al-shalih dan menantang keras pemikiran-pemikiran rasional. Kekerasan dan kekuatan pendirian Ahmad bin Hambal nampaknya juga terlihat pada diri Muhammad bin Abdul Wahab yang berjuang membrantas kemusrikan, bid’ah, Khurafat dan tahayul yang melanda umat islam.
Dalam hubungannya dengan tauhid, Muhammad bin Abdul Wahab mengemukakan tiga aspek ketauhidan:
1. Tauhid rububiah adalah pengakuan bahwa Allah satu-satunya pencipta, pemelihara, pemberi rizki, pengatur, yang menghidupkan dan mematikan.
2. auhid al-asma wa al-shifat adalah keimanan kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagaimana tercantum dalam Al-qur’an,tanpa tamsil, tasbih dan takwil.
3. Tauhid ibadah adalah segala bentuk amal dan ibadah manusia semata-mata dilakukan untuk berbakti kepada Allah SWT.[9]
Aspek ketauhidan memang merupakan perhatian utama Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia ingin memurnikan Ajaran islam yang dianggapnya sudah rusak dan bercampur baur dengan ajaran lain yang tidak sesuai dengan tauhid Islam, akibat ulah umat islam sendiri. Ia tidak ingin umat Islam terjerumus kedalam kemusyrikan, sesuatu dosa yang tidak terampunkan. Aspek ketauhidan mendapat perhatian besar dari Muhammad bin Abdul Wahab karena disamping tauhid merupakan ajaran islam paling mendasar, ia menyaksikan di daerah banyak umat islam melakukan aktifitas yang menurut pendapatnya menyimpang dari ajaran tauhid. Aspek tersebut antara lain pengkultusindividuan syekh-syekh tarekat atau orang-orang yang dianggap wali, Ziaroh ke kubur-kubur para syekh atau wali dan meminta pertolongan kepada syaekh atau wali tersebut, dan ziaroh ketempat tertentu yang dianggap memiliki kekuatan gaib yang dapat membamtu dan menyelesaikan problema kehidupan mereka, seperti batu-batu besar dan pohon-pohon

C. Hubungan antara Faham Salaf dengan Wahabi

Aliran wahabi sebenarnya merupkan kelanjutan dari aliran salaf, yang berpangkal kepada pikiran-pikiran Ahmad bin Hambal dan yang kemudian direkonstruksikan oleh Ibnu Taimiah, bahkan aliran wahabi telah menerapkan dengan lebih luas dan memperdalam arti bid’ah, sebagai akibat dari keadaan masyarakat dan negeri Saudi Arabia yang penuh dengan aneka bid’ah, baik yang terjadi pada musim upacara agama ataupun bukan.
Akidah-akidah yang pokok dari aliran wahabi pada hakekatnya tidak berbada dengan apa yang telah dikemukakan oleh Ibnu Taimiah. Perbedaan yang ada hanya dalam cara melaksanakan dan menafsirkan beberapa persoalan tertentu. Akidah-akidahya dapat disimpulkan dalam dua bidang, yaitu tauhid dan “bidat”.
Dalam bidang ketauhidan mereka berpendirian berikut :
1. Penyambahan kepada selain Tuhan adalah salah, dan siapa yang berbuat demikian ia dibunuh.
2. Orang yang mencari ampunan Tuhan dengan mengunjungi kuburan orang-orang saleh, termasuk golongan musyrikin.
3. Termasuk dalam perbuatan musyrik memberikan kata pengantar dalam sholat terhadap nama Nabi-Nabi atau wali atau Malaikat (seperti Sayyidina Muhammad).
4. Termasuk kufur memberikan suatu ilmu yang tidak didasarkan atas Qur’an  dan Sunah, atau ilmu yang bersumber akal pikiran semata-mata.
5. Termasuk kufur dan Ilhadjuga mengingkari qadar dalam semua perbuatan dan penafsiran qur’an dengan jalan ta’wil.
6. Dilarang memakai buah tasbih dan dalam mengucapkan nama Tuhan dan doa-doa (wirid) cukup dengan menghitung jari.
7. Sumber syariat islam dalam soal halal dan haram hanya Qur’an semata-mata dan sumber lain sesudahnya ialah sunnah Rasul.
8. Pintu ijtihad tetap terbuka dan sipapun boleh melakukan ijtihad, asal sudah memenuhi syarat-syaratnya.[10]
Hal-hal yang dipandang bid’ah oleh mereka dan harus diberantas antara lain: berkumpul bersama-sanma dalam mau’idan, orang wanita mengiring jenazah, mengadakan pertemuan Zikir, bahkan mereka merampas buku-buku tawassulat,bahkan kegiatan sehari-hari juga dikategorikan dalam bid’ah seperti rokok, minum kopi, memakai pakaian sutra bagi laki-laki, bergambar,memacari kuku.

Kalau Ibnu Taimiah, sebagai pembangun aliran salaf, menanamkan paham-pahamnya dengan cara menulis buku-buku dan megadakan pertukan pikiran serat perdebatan, maka
Muhammad bin abdul wahab merasakan sendiri bahwa khuratfat-khurafat yang menimpa kaum muslimin di negerinya, bukan saja terbatas kepada pemujaan kuburan-kuburan, sebagai tempat orang-orang saleh dan memberikan nazar kepadanya, tetapi juga menjalar kepada pemujaan benda-benda mati. Juga tidak sedikit dari kota dar’iah,tempat ia mulai melancarkan dawhnya senang mengunjungi sebuah gua yang terletak disana. Perbuatan tersebut dipandang olehnya sebagi suatu macam perbuatan syirik.
Tindakan kekerasan yang pertama-tama dilakukannya ialah memotong pohon kurma yang dianggap keramat. Kemudian setiap kali golongan wahabiyah memasuki suatu tempat atau kota mereka membongkar kuburan dan diratakan dengan tanah, bahkan masjid-masjidpun turut dibonhkar sehingga penulis-penulis Eropa menyebutkan mereka sebagai pembongkar tempat-tempat ibadah (huddamul ma’abid). Tindakan mereka tidak hanya seperti itu tetapi lebih jauh lagi, ketika mereka dapat menguasai Makkah, banyak banyak tempat-tempat sejarah yang dimusnahkan.
Akan tetapi gerakan wahabi yang bertulang punggungkan kekuatan raja Muhammad bin Saud, dipandang oleh penguasa (khalifah) Usmaniah yang menguasai negeri Arabia pada waktu itu, sebagiai perlawanan dan pemberontakan terhadap kekuasaannya. Oleh karena itu penguasa tersebut mengirim tentaranya ke negeri Arabia untuk menumpas gerakan tersebut, akan tetapi tidak berhasil, kemudian diserahkan penumpasannya kepada Muhammad Ali, gubernur  Turki, dan ternyata yang kuat dapat mengalahkan golongan wahabiyah serta dapat melumpuhkan kekuatannya. Dengan kemunduran Khilafat turki, maka gerakan tersebut menjadi kuat, sehingga menjadi aliran resmi negeri Saudi Arabia sampai sekarang ini.


DAFTAR PUSTAKA

Asmuni, Yusran, Ilmu Tauhid, Jakarta:PT Raja Grafindo persada,1993
Ghazali, Adeng Muhtar, Perkembangan Ilmu Kalam dari Klasik Hingga Modern, Bandung: CV PUSTAKA SETIA ,2003
Hanafi, A. M.A Penantar Theologi Islam Yogyakarta:Al Husna Zikra,1967
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/21/salaf-ala-ibnu-taimiyah/diakses pada tanggal 30, januari 2013.
Rozak, Abdul dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, Bandung : CV Pustaka Setia, 2007
------------------------------------------, Ilmu Kalam untuk UIN, STAIN, PTAIS, Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2001
Yusuf, Abdullah, Pandangan Ulama tentang Ayat-ayat Mutasyabihat. Bandung:Sinar Baru, 1993
Nasution, Harun, Pembaharuan Dalam Islam: sejarah, pemikiran dan Gerakan, Bulan Bintang, Jakarta,1991


[1] Abdul Rozak dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam untuk UIN, STAIN, PTAIS, (Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2001), 109
[2] Adeng Muhtar Ghazali, Perkembangan Ilmu Kalam dari Klasik Hingga Modern, (Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2003), 101
[3] Ibid. 101-102
[4] Ibid, h. 115
[5] Abdullah Yusuf, Pandangan Ulama tentang Ayat-ayat Mutasyabihat. (Bandung:Sinar Baru, 1993), h. 58-60
[6] Abdul Rozak dan Rosihon Anwar, Op. Cit. h. 115- 117
[7] http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/21/salaf-ala-ibnu-taimiyah/diakses pada tanggal 30, januari 2013.
[8] A.Hanafi M.A Penantar Theologi Islam (Yogyakarta:Al Husna Zikra,1967), h. 149
[9] Yusran Asmuni, Ilmu Tauhid, (Jakarta:PT Raja Grafindo persada,1993), h. 147
[10] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam: sejarah, pemikiran dan Gerakan, (Bulan Bintang, Jakarta,1991), h 24
[11] A.Hanafi M.A Penantar Theologi Islam (Yogyakarta:Al Husna Zikra,1967), h. 149

Terimakasih telah membaca artikel berjudul Hubungan antara Salaf dengan Wahabi

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 9/23/2017

0 komentar Hubungan antara Salaf dengan Wahabi

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak