Home » » Al-Makkiy Wa Al-Madaniy

Al-Makkiy Wa Al-Madaniy

Al-Makkiy  Wa Al-Madaniy

A. Pengartian al-Makkiy wa al-Madaniy

Dalam kitab mabahits fi ulum al-Qur'an karya Manna' Khalil al-Qaththan, beliau mengemukakan tiga perspektif dalam mendefinisikan terminologi Makkiyah dan Madaniyyah, ketiga perspektif itu adalah         اعتبار زمن النزول (masa turunnya al-Qur'an), اعتبارمكان النزول المخاطب  (obyek pembicaraan al-Qur'an).
Dari perspektif masa turunnya al-Qur'an didefinisikan sebagai  berikut :
المكي : ما نزل قبل الهجرة وان كان بغيرمكة والمدني: ما نزل بعد الهجرة
وان كان بغيرالمدينة فما نزل بعد الهجرة ولو بمكة
Artinya :
Makkiyah    adalah     ayat-ayat     yang   diturunkan    sebelum   Nabi Muhammad  saw  hijrah  ke  Madinah,  meskipun   bukan    turun    di  Mekah,  sedangkan  Madaniyyah  adalah   ayat-ayat  yang diturunkan  Sesudah  Nabi  Muhammad saw  hijrah ke Madinah,  meskipun  tidak  turun di Madinah.
Contoh ayat al-Qur'an yang turun di Mekah, dan dikategorikan sebagai ayat madaniy, karena ayat ini turun pada masa fathu Mekah, padahal peristiwa fathu Mekah terjadi setelah hijrah. Seperti pada firman Allah SWT dalam QS an-Nisa (4) : 8 sebagai berikut :

ان الله يامر كم ان ثؤدوا الامانات الي اهلها
اليوم اكملت لكم دينكم واتممت عليكم .....المائدة :3
Ayat ini turun ketika haji Wada'
Adapun perspektif tempat turunnya didefinisikan sebagai berikut :
المكي : مانزل بمكة وماجاورهاكمني وعرفات الحديبية والمدني مانزل بالمدينة
وماجاورها كاحد و قباع وسلع.
Artinya :
Makkiyah  adalah  ayat-ayat  yang  turun di Mekah  dan sekitarnya seperti  Mina,  Arafah  dan  Hudaebiyah,  sedangkan  Madaniyyah adalah  ayat-ayat  yang  turun  di  Madinah  dan  sekitarnya seperti Uhud, Quba dan Sul'a.
Dari definisi tersebut nampak kekurangan, karena adanya ayat-ayat tertentu turun bukan di Mekah dan sekitarnya, dan bukan pula di Madinah dan sekitarnya sehingga jika disandarkan pada definisi ini, maka ayat seperti ini tidak dapat dikategorikan sebagai ayat Makkiy dan Madaniy. Misalnya ; dalam riwayat ditemukan ada ayat yang turun dalam berbagai perjalanan Nabi seperti ketika Beliau berada di Tabuk, atau di  Bait al-Muqaddas pada malam isra' mi'raj.
Dari perspektif obyek pembicaraan didefenisikan sebagai berikut :
المكي: ماكان خطابا لاهل مكة والمدني: ماكان خطابا لا المدينة
Artinya:
Makkiy   adalah   ayat-ayat   yang   khithab-nya   ditunjukkan  kepada penduduk  Mekah  dan  Madaniy  adalah  ayat-ayat  yang khithab-nya ditunjukkan pada penduduk Madinah.
Dari definisi tersebut, maka yang dimaksudkan adalah bahwa ayat/surah yang dimulai dengan ياايهاالناس  adalah Makkiyah, karena penduduk Mekah pada waktu itu umumnya masih kafir, sekalipun seruan itu ditujukan pula kepada selain penduduk Mekah. Sedang ayat/surah yang dimulai denganياايها الذين امنوا adalah madaniyah, karena penduduk Madinah pada waktu itu umumnya sudah beriman, meskipun seruan itu ditujukan kepada selain penduduk Madinah.
Defenisi tersebut terdapat kelemahan-kelemahan, yaitu :
Tidak selalu ayat/surah dimulai dengan seruan ياايهاالناس adalah Makkiyah. Demikian pula tidak selalu ayat/surah yang dimulai dengan seruan ياايها الذين امنوا adalah Madaniyyah. Misalnya surah an-Nisa adalah madaniyah padahal permulaannya ياايهاالناس adalah  demikian pulah surah al-Baqarah digolongkan surah Madaniyah padahal didalamnya ada seruan ياايهاالناس pada ayat 21 surah al-Baqarah tersebut.

B. Ciri-ciri ayat Makkiyah dan Madaniyah

Persoalan-persoalan Makkiyah dan Madaniyah adalah studi sejarah, sirah dan studi tentang kejadian-kejadian tertentu yang memerlukan penyaksian langsung terhadap kejadian tersebut, sehingga untuk mengetahui ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah, riwayat para sahabat dan Rasul Saw. Sangat dibutuhkan, karena merekalah yang mengikuti perjalanan hidup Nabi Muhammad Saw. Baik ketika Rasul berada di Mekkah maupun berada di Madinah.  Dengan merujuk pada riwayat-riwayat yang valid yang berasal dari para sahabat ataupun dari para generasi tabi'in, inilah yang disebut dengan pendekatan transmisi (Periwayatan), dan pendekatan lain yang biasa juga digunakan untuk mengklasifikasi Makkiy atau Madaniy adalah pendekatan Qiyas (analogi) .
Sesuai dengan dhabit qiasi yang telah ditetapkan, maka ciri-ciri khas untuk surah Makkiy dan Madaniy ada dua macam, yaitu:
1. Ciri-ciri khas yang bersifat Qaht'i
2. Ciri khas yang bersifat Aghlabi.
Adapun ciri khas yang bersifat Qaht'i bagi surah Makkiyah adalah 6 yaitu;
a. Setiap surah yang terdapat ayat Sajadah didalamnya, adalah surah Makkiyah. Sebagian ulama berpendapat, bahwa sejumlah ayat sajadah ada 16 ayat (baca al-Ihtqan Juz Islam, h. 29).
b. Setiap surah yang terdapat didalamnya terdapat lafal "Kalla", adalah makkiyah. Al-Ummani dalam kitabnya, al-Mursyidu fi waqfi 'nda tilawatil al-Qur'an, menerangkan bahwa bagian dari separuh al-Qur'an yang terakhir itu sebagian besar turun di Mekah, dan sasarannya pada umumnya golongan-golongan yang keras kepala atau yang menentang ajaran Islam, maka lafal "kalla" digunakan untuk memberi peringatan yang tegas dan keras kepada mereka.
c. Setiap surah yang terdapat dalamnya lafal ياايها الناس dan tidak ada  ياايها الذين امنوا adalah Makkiyah, kecuali surah al-Hajj. Surah al-Hajj ini sekalipun pada ayat 7 terdapat ياايها الذين امنوا tetapi surah ini tetap dipandang Makkiyah.
d. Setiap surah yang terdapat kisah-kisah para nabi dan umat manusia terdahulu, adalah Makkiyah, kecuali surah al-Baqarah.
e. Setiap surah yang terdapat didalamnya kisah nabi Adam dan Iblis adalah Makkiyah kecuali surah al-Baqarah.
f. Setiap surah yang dimulai dengan hurup Tahajji  (huruf abjad) adalah Makkiyah kecuali surah al-Baqarah dan al-Imran.
Adapun ciri-ciri khas yang bersifat Ahglabi bagi surah Makkiyah yaitu;
a. Ayat dan surah-surahnya pendek-pendek (ijaz), nada perkataannya keras dan agak bersanjak.
b. Mengandung seruan untuk beriman kepada Allah dan Hari Kiamat dan menggambarkan surga dan neraka.
c. Mengajak manusia untuk berakhlak yang baik dan berjalan diatas jalan yang baik (benar).
d. Membantah orang-orang musyirik dan menerangkan kesalahan-kesalahan kepercayaan dan perbuatan.
e. Terdapat banyak sumpah
Adapun ciri-ciri yang bersifat qath'i bagi surah Madaniyyah antara lain adalah;
a. Setiap surah yang mengandung izin berjihad (berperang) atau menyebut hal perang dan menjelaskan hukum-hukumnya, adalah Madaniyah.
b. Setiap surah yang memuat penjelasan secara rinci tentang hukum pidana, Faraid (warisan), hak-hak perdata peraturan-peraturan yang berhubungan dengan perdata (sipil), kemasyarakatan dan kenegaraan adalah Madaniyah.
c. Setiap surah yang menyinggung al-Ihwal orang-orang munafiq adalah Madaniyah, kecuali surah al-Ankabut yang dirunkan di Mekkah. Hanya sebelas ayat yang pertama dari surah al-ankabut ini adalah Madaniyah, dan ayat-ayat tersebut menjelaskan perihal orang-orang munafiq.
d. Setiap surat yang membantah kepercayaan / pendirian / tata cara keagamaan Ahlul Kitab ( Kristen dan Yahudi ) yang dipandang salah dan mengajak mereka agar tidak berlebih-lebihan dalam menjalankan agamanya adalah Madaniyah. Seperti surah al-Baqarah, al-Imran, an-Nisa, al-Maidah dan at-Taubah.
Adapun ciri-ciri khas yang bersifat Aghlabi untuk Madaniyah, yaitu :
a. Sebahagian surah-surahnya panjang-panjang, sebagian ayat-ayatnya pun panjang-panjang (ithnab) dan gaya bahasanya cukup jelas di dalam menjelaskan dan memnerangkan hukum-hukum agama.
b. Menerangkan secara rinci bukti-bukti dan dalil yang menunjukkan hakekat-hakekat keagamaan.
Dengan demikian, maka nampaklah perbedaaan antara surah Makkiyah dan surah Madaniyah baik secara analogi maupun secara tematis, menunjukkan bahwa sistem basis kultural antara orang-orang Mekah dan Madinah tampat berbeda. Mekah dihuni oleh komunitas atheis yang keras kepala dengan aksinya yang selalu menghalangi dakwah nabi dan para sahabatnya, sehingga ayat-ayat yang turun di Mekkah banyak yang bernada kecaman terhadap kaum musyrikin dan mencela keras alam pikiran mereka dengan nada yang sangat (keras) dan surahnya berlainan.
Sedangkan di Madinah setelah Nabi hijrah ke sana, paling tidak terdapat tiga komunitas masyarakat, yakni komunitas muslim yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar, komunitas Ahlul Kitab yang terdiri dari orang-orang Nasrani dan Yahudi dan komunitas orang-orang Munafik. Al-Qur'an menyadari perbedaan sosio kultural tersebut, oleh karena itu, alur pembicaraan ayat yang diturunkan di Mekkah sangat berbeda dengan alur pembicaraan ayat yang diturunkan di Madinah.
Terhadap orang-orang Yahudi, al-Qur'an menyanggah kepercayaan mereka dan menyerukan agar supaya mereka jujur dan mengikuti agama yang lurus, terhadap kaum Munafik, al-Qur'an membuka kedok dan niat jahat mereka, sedangkan terhadap orang-orang Islam, al-Qur'an di satu pihak memberikan dorongan supaya tetap maju ke jalan yang lurus, dan di lain pihak menetapkan perundang-undangan mengenai soal-soal yang berkaitan dengan masalah perang dan damai, masalah individu sosial politik ekonomi, dan lain-lain sebagainya.
Zakat misalnya, tak akan ada artinya jika kewajiban itu ditetapkan berlakunya bagi kaum muslimin pada masa Rasulullah tinggal di Mekkah, karena mereka itu kaum melarat dan hidup tertindas, sehingga dapatlah diyakini bahwa ayat-ayat yang berkenaan dengan perintah tentang zakat itu adalah ayat-ayat Madaniyah.

C. Tujuan Pengklasifikasian Ayat-ayat Makkiy wa al-Madaniy

Tujuan dari pada ilmu Makkiy dan Madaniy antara lain adalah untuk membedakan antara nasikh dan mansukh, hal ini bisa terjadi bila diketemukan ada dua ayat atau beberapa ayat dari al-Qur'an yang membicarakan tentang satu persoalan, dimana antara satu ayat dengan ayat lainnya terdapat kontradiksi dalam menetapkan satu hukum, kemudian diketahui bahwa satu ayat termasuk kategori Makkiy dan yang lainnya Madaniy, maka kita akan menetapkan hukum berdasarkan ayat Madaniy, karena ayat madaniy me-nasakh ayat makkiy dengan pertimbangan ayat madaniy turun belakangan.
Hal lain yang mungkin dipahami dari makkiy dan madaniy adalah mengenai strategi dakwah Rasulullah Saw. Oleh Manna' Qaththan dikatakan bahwa setiap tempat menghendaki penyampaian dakwah yang relevan, mulai dari cara menuturkan bahasanya, sehingga nampak adanya perbedaan antara uslub-uslub makkiy dan madaniy, agar dakwah ini dapat berhasil mengetuk hati orang yang diserunya. Disamping itu, setiap langkah dakwah memiliki obyek kajian dan metode tertentu seiring dengan perbedaan dan kondisi sosio kultural manusia. Periodesasi makkiy dan madaniy telah memberikan contoh hal seperti ini.
Dan yang lebih penting lagi adalah memberikan informasi tentang sejarah nabi khususnya di sela-sela turunnya ayat al-Qur'an, mulai diturunkannya wahyu pertama sampai diturunkannya wahyu terakhir. Penurunan wahyu al-Qur'an yang demikian rapi, teratur dan dilakukan secara bertahap, namun juga tuntas, dapat dijadikan landasan bagi napak tilas perjalanan sejarah dakwah dan perjuangan Nabi Muhammad Saw.
Adapun kegunaan ilmu ini meurut al-Zarkaniy dalam kitabnya Manahil al-Irfan sebagaimana dikutif oleh Masjfuk Zuhdi sebagai berikut:
1. Kita dapat membedakan dan mengetahui antara nasikh mansukh.
2. Kita dapat mengetahui sejarah hukum Islam dan perkembangannya yang bijaksana secara umum.
Dapat meningkatkan keyakinan kita terhadap kebesaran, kesucian, dan keaslian al-Qur'an, karena melihat besarnya perhatian umat Islam sejak turunnya, terhadap hal-hal yang berhubungan dengan al-Qur'an. Sampai hal-hal yang sedetail-detailnya, sehingga mengetahui mana ayat yang turun sebelum hijrah dan sesudahnya; nabi berada dikota tempat tinggalnya (domisilinya), bepergian (perjalanan), malam hari dan siang hari, ayat-ayat yang turun pada musim panas dan musim dingin, dan sebagainya.
Dengan demikian siapapun yang ingin berusaha kesucian dan keaslian al-Qur'an pastilah dengan mudah dapat diketahui oleh umat Islam.


DAFTAR PUSTAKA


Anwar, Rosihan, Ulumul al-Qur'an untuk IAIN,  STAIN,  PTAIS. Cet. I; Bandung: Pustaka Setia. 2000.

Ash-Shiddieqiy, Hasbi, Ilmu-Ilmu al-Qur'an Cet. III; Jakarta : Bulan Bintang, 1993.

Marzuki, Kamluddin. Ulum al-Qur'an Cet. II, Bandung PT. Remaja Rosdakarya, 1994.

Qaththan, Manna'. Mabahits Fi Ulum al-Qur'an tt: Mansyurat al-Ashar al-Hadits, t.th

Shalih, Dr. Subhi. Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur'an Cet. VII; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999.

Shihab, M. Quraish. Membumikan Al-Qur'an : Funsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat,  Cet. XII ; Bandung : Mizan, 1996.

Summa, Muhammad Amin. Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur'an I. Cet. I; Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000.

Zarkaniy, Muhammad Abdul Adzim.  Manahil al-Irfan Fi' Ulumil al-Qur'an,  Bairut Libanon: Dar al-Fikr, 1988.

Zuhaily, Wahbah. al-Qur'an al Karim Bunaituhu al-Tasyri'iyatWa Khashaishuhu al-Hadriayat diterjemahkan oleh M. Thaohir dan Tiem Titian Ilahi dengan judul Paradigma Peradaban  Cet, I; Yogyakarta: Dinamika, 1996.








Terimakasih telah membca artikel berjudul Al-Makkiy Wa Al-Madaniy

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 8/23/2017

0 komentar Al-Makkiy Wa Al-Madaniy

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak