Home » » Prinsip-prinsip Islam Tentang Kritik Ilmiah

Prinsip-prinsip Islam Tentang Kritik Ilmiah

Prinsip-prinsip Islam Tentang Kritik Ilmiah

      A.    Pengertian Kritik Ilmiah Dalam Perspektif Islam

Dalam umum Bahasa Indonesia, WJS. Poerwadarminta mengartikan bahwa kritik adalah kecaman, sanggahan, bantahan. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa kritik adalah tanggapan disertai uraian dan pertimbangan baik buruknya terhadap suatu hasil  karya, pendapat. Pendapat lain memberikan definisi bahwa kritik adalah usaha manusia untuk menetapkan apakah sesuatu (pengertian) itu benar atau tidak dengan jalan meninjaunya secara mendalam. Kata ilmiah diartikan bersifat ilmu atau secara keilmuan, atau secara pengetahuan. Dari pengertian di atas dapat memahami bahwa ilmiah dalam perspektif Islam adalah tanggapan, koreksi yang dilakukan oleh manusia yang dilandasi dengan argumentasi keilmuan dalam melihat teori atau praktek yang sesuai dengan norma agama (Islam).

      B.    Prinsip Islam Tentang Kritik Ilmiah

Adapun prinsip-prinsip Islam tentang kritik ilmiah sebagaimana dikemukakan oleh Moh. Nasir Mahmud,yaitu:
1. Prinsip perbedaan pendapat, ide atau gagasan antar manusia bahwasanya Islam menjunjung tinggi perbedaan masing-masing individu, karena Islam mengakui adanya individu tapi bukan individualisme. Perbedaan perorangan dalam memandang objek dan melahirkan teori dapat memperkaya khasanah keilmuan, maka individu berhak untuk berbeda dengan orang lain. Kritik ilmiah menyajikan pandangan yang ada, dan Islam mengakomodir perbedaan pendapat dan menganggapnya sebagai rahmat.
2. Prinsip bahwa kritik berasaskan kemanfaatan dalam melakukan kritik terhadap suatu teori atau fakta harus berpedoman pada asas manfaat bagi sesama manusia. Dan salah satu kemanfaatan kritikan seseorang adalah ketika tampil menyuarakan kebenaran di tengah ke dhaliman dan kebenaran yang disuarakan itu adalah sebagai bentuk koreksi terhadap kesalahan yang ada.
3. Prinsip bahwa kritik harus disuarakan meskipun orang lain benci meskipun pendusta. Sampaikan kebenaran itu walaupun itu pahit adalah bagian dari ajaran Islam. Terhadap teori ilmu pengetahuan maupun hal-hal yang memungkinkan  untuk dikritik, maka itu harus dilakukan meskipun akan berhadapan dengan rezim penguasa sekalipun karena mengucapkan kebenaran adalah kewajiban bagi seorang muslim terutama bila kebenaran itu terkait untuk kepentingan umum.
Kritik ilmiah bukan sekadar melontarkan sorotan, sebagai pernyataan ketidakpiuasan atau terjebak pada wilayah suka atau tidak suka, melainkan harus berdasarkan pada beberapa etika Dalam prespektif Islam, yaitu:
1. Kritik harus objektif artinya kritik harus didasarkan pada fakta-fakta yang akurat serta pengetahuan yang dapat dipertanggung jawabkan terhadap masalah yang dikritik. Dalam Islam, kritik tanpa mengetahui seluk beluk masalah yang dikritik dapat berakibat anarkis dan membawa kerugian orang lain.
2. Kritik harus rasional, artinya bahwa kritik yang dilakukan harus dapat dipertanggung jawabkan. Memberikan isi pengetahuan kita, sumber-sumbernya, proses terjadinya dan memberikan pertanggung jawaban tentang kemungkinan. Kritik yang dilakukan bukan pada terkaan rasa dan pemahaman nasional. Untuk manusia yang mendidik, seakan-akan suatu hal yang biasa bahwa kebenaran suatu fakta ditemukan oleh pengamatan, dan tidak berdasrkan pada terkaan dan tidak bisa dipertanggung jawabkan.
3. Kritik dimaksudkan untuk suatu kebenaran. artinya bahwa kritikan yang dilakukan bukan karena adanya kebenaran dan mempertahankan serta melakukan inovasi-inovasi teori keilmuan yang diperuntukkan bagi kemaslahatan umat manusia, merupakan kenyataan bagi kemaslahatan kebenaran ilmu dalam perspektif Islam. Islam adalah suatu keniscayaan.
4. Kritik disampikan secara terbuka. Artinya dalam melontarkan kritikan tidak  boleh secara sembunyi-sembunyi tapi harus terbuka diketahui oleh orang lain atau sebuah teori menjadi objek kritikan  yang mengkritik bertanggung jawab atas kritikannya dengan disertai faklta atau berlandaskan pada teori ilmiah yang solid.
5. Kritik mengutamakan kemaslahatan ilmuan. Bahwa kritik yang dilakukan harus menghindari situasi yang dapat mengakibatkan benturan dalam masyarakat karena pembentukan opini yang berlebihan. Kritik bertujuan untuk perbaikan dalam konteks universal dalam pemahaman kemaslahatan dan kepentingan ilmu yang harus diutamakan.

      C.    Fungsi Kritik Ilmiah dalam Perspektif Islam

Beberapa fungsi kritik ilmiah dalam perspektif Islam sebagaimana dikemukakan oleh Moh. Natsir mahmud, sebagai berikut:

     1.      Memupuk daya kritis

Salah satu sasaran yang harus dicapai adalah mengembangkan daya kritis. Kritis adalah kemampuan untuk memilih fenomena dan menetapkan pada posisinya untuk mengetahui sisi kebenaran dan kesalahannya. Apabila budaya kritik di kembangkan dalam masyarakat dengan sendirinya akan menumbuh suburkan pengembangan nalar dan pikiran. Dalam Islam kritik ilmiah sangat diharapkan agar pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi berdampak positif untuk kepentingan manusia.

      2.     Membina sikap keterbukaan

Dengan adanya kritik ilmiah diharapkan akan memupuk sikap keterbukaan yang berarti keterbukaan mengakui kekeliruan, kekhilafan dan mau berlapang dada untuk menerima asumsi orang lain telah dinilai adalah suatu kebenaran. dan hal tersebut ditawarkan kepadanya sebagai suatu kritik ilmiah. Dengan demikian sifat ekslusif dan ego dalam diri seorang minimal akan tertutupi.

     3.     Membentuk sikap lapang dada

Adalah realita bahwa dua hal selalu berhadapan yaitu diterima dan ditolak, senang dan tidak senang. Demikian halnya dengan kritik disatu sisi menyenangkan (diskusi, dan diterima) baik terhadap yang dikritik maupun yang mengkritik, tapi di lain segi juga menimbulkan ketidak senangan. Kritik dalam Islam menghendaki adanya sikap lapang dada atau mau menerima kritik tersebut. Dan dalam menghadapi kritikan tidak emosional.

     4.     Membentuk kepribadian intelektual yang tawadhu

Dengan adanya kritik ilmiah dapat membentuk pribadi seorang jadi rendah diri dan tidak sombong dan takabur, sikap yang selalu memandang diri lebih benar dan tidak sombong dan takabur, sikap yang selalu memandang diri lebih benar dan lebih utama dari orang lain dapat terkikis bila kritik ilmiah ditumbuh kembangkan, tidak memandang rendah orang lain dan sikap yang semacamnya adalah klimaks dari kritik ilmiah.

Jika ini Bermanfaat silahkan DIBAGIKAN. jika TIDAK abaikan saja. Salam Sukeses.. Thanks..
Terimakasih telah membca artikel berjudul Prinsip-prinsip Islam Tentang Kritik Ilmiah

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 7/25/2017

0 komentar Prinsip-prinsip Islam Tentang Kritik Ilmiah

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak