Home » » Perbedaan Ajaran Khawarij dengan Murj'ah

Perbedaan Ajaran Khawarij dengan Murj'ah

BAB   I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perbedaan Ajaran Khawarij dengan Murj'ahPersoalan yang pertama - tama timbul dalam Islam menurut sejarah  bukanlah persoalan tentang keyakinan malahan persoalan politik. Ketika wafatnya Nabi Saw. Abu Bakar menjadi kepala Negara yang pada waktu itu dengan memakai gelar  Khalifah  yang arti lafzinya ialah pengganti. Pada masa Abu Bakar Asyidiq dan  Khalifah Umar bin Khatab ra. Persoalan belum muncul ke permukaan  karena keadilan keduanya dalam mepimpin Negara. Gejolak politik
muncul ketika kepemimpinan Khalifah Usman bin Affan disebabkan oleh gubernur  yang diangkat Khalifah Umar bin  Khatab pada wilayah  yang dikuasai  Islam diganti oleh Usman dengan mengangkat gubernur dari keluarganya sendiri. Maka terjadilah reaksi yang tidak menguntungkan Utsman. Puncaknya adalah ketika Umar Ibn al - As digantikan oleh Abdullah Ibn Sa’d Ibn Abi – Sarh,  keluarga Usman menjadi gubernur di Mesir.
Maka datanglah  pemberontak dari Mesir  sebanyak 500 orang ke Madinah Al Munawwarah. Hal ini menyebabkan terbunuhnya Khalifah tersebut oleh pemberontak. Setelah Utsman  wafat, maka kekhalifaan digantikan oleh Ali bin Abi Thalib. Tapi  ditentang oleh Talhah dan Zubair dari Mekah atas dukungan ‘Aisyah. Hal ini memicu  terjadinya pertempuran di Irak pada  tahun 656. Dalam pertempuran ini Talhah dan Zubair terbunuh sedangkan ‘Aisyah dikembalikan ke Mekah.
Ali bin Abi Thalib pun diuji dengan tantangan  berikutnya yaitu  Mu’awiyah yang menuntut supaya khalifah menghukum pembunuh – pembunuh Utsman. Bahkan  Ali dituduh terlibat dalam pembunuhan itu, karena  yang membunuh Utsman  adalah Muhammad bin Abu Bakar anak angkat Ali, bukannya dihukum tetapi justeru diangkat menjadi gubernur di Mesir. Maka terjadilah pertempuran antara Ali dan Muawiyah di Sippin. Ketika pasukan Muawiyah terdesak, saat itulah yang menjadi tangan kanan muawiyah yang licik yaitu Amar bin As minta berdamai dengan  mengangkat Al- Qur’an  ke atas”Qurra( ahli atau imam qiraat)[1]
Kelompok Ali ada yang mendesak supaya diterima tawaran damai itu, maka diadakanlah perdamaian melalaui Arbiterase/ tahkim. Sebagai akibat dari penyelesaian masalah melalui Arbiterase  ini, maka muncullah Khawarij. Inilah yang akan dijadikan obyek pembahasan dalam makalah ini.
B. Rumusan Masalah                                                                                                              Mencermati dan menelaah dari Latar belakang tersebut di atas, penulis dapat mengemukakkan permasalahan sebagai berikut :
1,  Bagimana Ajaran pokok  Khawarij  ?  
2. Bagaimana Ajaran Pokok Murj'ah
BAB  II
P E M B A H A S A N
  1. Ajaran Pokok Khawarij
Berdasarkan berbagai literatur yang dapat ditemukan, maka dapat diketahui bahwa ajaran – ajaran pokok khawarij berkisar pada masalah Khilafah  atau  Imamah, masalah kafir dan masalah dosa besar.
a.            Masalah  Khilafah
Khawarij mempunyai pendapat khusus tentang imamah, menurut mereka, imamah harus dari pemilihan  bebas umat Islam. Dan jika Imam telah terpilih, dia tidak boleh mengalah ataupun diserang. Imam menjadi pemimpin umat Islam selama ia berlaku adil, dan barang siapa meninggalkannya, maka wajib diperangi untuk membela Imam. Tetapi jika Imam cacat dan berlaku tidak adil, maka ia wajib dipecat atau dibunuh.[2] Menurut Khawarij boleh memilih Imam yang disukainya. Dan menetapkan Imam itu tidak wajib menurut syar’i, tetapi jaiz. Dan jika menetapkan Imam itu wajib, hal ini didasarkan pada kemaslahatan dan kebutuhan. Mereka membolehkan wanita menjadi Imam jika ia mampu melaksanakan tugas-tugasnya.[3]

2.    Masalah Kafir
                  Penyelesaian sengketa antara Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin  Abi    Sofyan dengan jalan tahkim/ arbitrase oleh kaum Khawarij di pandang bertentangan dengan ajaran Islan. Berdasarkan QS Al-Maidah (5): 44 yang berbunyi ;
ﻮ ﻤﻥ ﻠﻡ ﻴﺣﻛﻢ ﺒﻤﺎ ﺃ ﻨﺰ ﻞ ﺍﷲ ﻔﺄ ﻮ ﻠﺌﻚ ﻫﻢ ﺍ ﻠﮕﻔﺮ ﻮﻦ           Terjemahnya;
                        “.......Barang siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir”.[4]

                  Penyelesaian sengketa dengan arbitrase bukanlah penyelesaian menurut apa yang diturunkan  Allah, dan oleh karena itu pihak-pihak yang menyetujui arbitrase tersebut telah menjadi kafir dalam pendapat kaum Khawarij. Dengan demikian Ali, Mu’awiyah, Abu Musa al-Asy’ari dan Amr Ibn al- Aas, menurut mereka, telah menjadi kafir. Dalam arti murtad (keluar dari Islam), maka wajib dibunuh. Mereka pun memutuskan untuk membunuh ke empat pemuka itu.[5] Dalam rapat, mereka  memutuskan untuk membunuh tiga orang, yaitu Ali, Mu’awiyah dan Amru ibn Aas, tepatnya pada malam ke 21 Ramadhan tahun 40 Hijriah. Tetapi hanya Abdur Rahman ibn Muljam yang di bunuh oleh Al- Asy ja’i yang berhasil membunuh Ali bin Abi Thalib.[6]
3.      Masalah Dosa Besar
Kafir yang sebelumnya diartikan murtad ( keluar dari Islam ), menurut Khawarij dalam Islam pun ada orang yang bersifat kafir, yaitu apabila melakukan dosa besar.[7] Mereka membagi kafir ke dalam dua bagian, yaitu  kafir an ni’mah ( orang yang tidak  bersyukur terhadap nikmat – nikmat  yang diberikan Tuhan), dan al – millah ( orang yang keluar dari agama Islam ). Yang mereka maksud  disini adalah kafir an ni’mah .[8] Karena pendapat yang ekstrim  ini, maka mereka  ditolak  oleh mayoritas  umat Islam, sehingga mereka  benar – benar menjadi kelompok yang terisolir.[9] Sikap ekstrim ini juga membuat mereka terpecah menjadi beberapa  golongan, karena perbedaan dalam menyikapi apakah  orang yang berbuat  dosa besar itu, masih mukmin  atau sudah menjadi kafir ?.[10]
Karena perbedaan  pendapat tersebut, maka timbullah berbagai  golongan  dalam kalangan khawarij. Menurut  Al-Syahrastani, mereka  terpecah menjadi delapan belas sub sekte.[11] Adapun sekte – sekte  yang terkemuka adalah sebagai berikut :

a.            Al – Muhakkimah
Al – Muhakkimah  adalah  golongan khawarij asli yang keluar dari barisan Ali. Bagi mereka, Ali, Muawiyah, kedua pengantara Amar Ibn Al-As dan Abu Musa Al-Syari dan semua orang yang menyetujui arbistrase bersalah  dan menjadi kafir. Selanjutnya  orang yang berbuat dosa besar  pun dianggap kafir.[12]
b.            Al- Azariqah
Mereka adalah pengikut Nafi’ bin al-Azraq yang berhasil menyusun kekuatan kemabali setelah Al-Muhakkimah hancur.  Mereka memilih Nafi’ sebagai imam, maka diberinya gelar amir Al- mu’minin.[13] Kelompok ini  lebih ekstrim dari Al-Muhakkimah. Bagi mereka term kafir  diganti term musyrik  dan menganggap semua orang Islam   yang tidak sepaham  dengannya adalah musyrik. Bahkan anak isteri yang tidak sepaham dengannya boleh ditawan dan dijadikan budak atau dibunuh. Juga anak – anak pun dipandang  musyrik. Bahkan orang yang tinggal di laur lingkungan  mereka juga dipandang musyrik dan harus diperangi. Siapa saja yang mereka jumpai dan bukan golongan  Al-Azariqa, mereka bunuh.[14] Tidak boleh bermuamalah di luar golongan mereka. Para pezina muhshan boleh tidak dirajam karena nash hanya menyuruh cambuk.[15]
c.             Al – Najdat
Mereka ini adalah Najdat bin Amir Al- Hanafi dari Yamamah. Sekte  ini membawa paham bahwa yang berdosa besar menjadi kafir dan kekal dalam neraka, kecuali yang berasal dari golongannya. Bila pengikutnya melakukan dosa besar tetap akan disiksa tapi bukan di neraka, dan kemudian  akan masuk surga.[16] Golongan Najdat lebih moderat dari golongan Azariqah, menurutnya orang Islam bukanlah kafir atau musyrik, tetapi bila dosa kecil dikerjakan terus – menerus akan membuat pelakuknya menjadi musyrik.[17] Paham lain yang mereka bawa adalah bahwa manusia pada hakekatnya tidak  untuk memimpin mereka dan paham taqidah, yaitu merahasiakan keyakinan untuk keselamatan diri baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan.[18] Berdusta lebih jahat dari berzina dan mengerjakan dosa besar tidak terus menerus bukan syirik.[19]
d.            Al – ‘Ajariah
Mereka adalah pengikut Abdul Karim  bin Ajrad. Menurutnya, hijrah bukanlah kewajiban seperti diajarkan Azraq, melainkan hanyalah suatu kebajikan, jadi boleh tinggal di luar daerah kekuasaan dan tidak dianggap kafir. Anak tidak musyrik  karena orang tuanya. Boleh mengambil harta rampasan perang dari harta orang yang sudah mati, sedang menurut Azariqah seluruh harta musuh dapat dijadikan harta rampasan perang. Mereka tidak mengakui Surah Yusuf dalam Al – Qur’an, karena sebagai kitab suci tidak mengkin mengandung cerita cinta. Sekte ini terbagi lagi dalam beberapa golongan kecil, seperti al-Maimuniah dan al-Hamziah ( menganut paham qadariah ) serta golongan al-syu’aibiah dan al-Hazimiah menganut paham sebaliknya.[20]
e.             Al – Sufriah
Golongan ini dipimpin oleh Ziad bin al-Asfar. Paham mereka dekat dengan Azariqah, jadi yang bersifat ekstrim. Tetapi ada hal lain yang membuat mereka kurang ekstrim, yaitu:[21]
1.      Orang sufiah yang tidak berhijrah dipandang kafir.
2.      Anak-anak dan kaum musyrik tidak boleh dibunuh.
3.      Tidak semua dari mereka berpendapat bahwa pelaku dosa besar adalah musyrik. Mereka membagi dosa besar kedalam dua golongan yaitu, yang ada sanksiny di dunia dan  yang tidak ada sanksinya di dunia.
4.      Daerah galongan Islam yang tidak sepaham tidak harus diperangi dan anak – anak serta perempuan tidak boleh dijadikan tawanan.
5.      Kurf dibagi dua: Kurf bi inkar al-ni’mah ( mengingkari rahmat Tuhan ). Dan Kurf bi inkar al-rububiah ( mengingkari tuhan ).Jadi term kafir tidak selamanya keluar dari Islam.
Ada juga pendapat spesifik bagi mereka yaitu taqiah  boleh dalam bentuk perkataan dan tidak dalm bentuk perbuatan serta perempuan boleh kawin dengan lelaki kafir di daerah bukan Islam demi keamanan dirinya.[22]
f.             Al-Ibadiah 
Golongan ini adalah pengikut Abdullah bin Ibad, yang memisahkan diri dari golongan Al-Azariqah pada tahun 686 M. Golongan ini paling moderat dari seluruh golongan khawarij.[23] Paham moderat mereka dapat dilihat pada ajaran – ajarannya berikut ini :
1)      Orang islam yang tidak sepaham dengan mereka bukan mu’min dan  bukan  musyrik, tetapi kafir.Dengan  orang Islam  demikian boleh dilakukan perkawinan dan hubungan kewarisan. Membunuh mereka adalah haram.
2)      Daerah orang Islam yang tidak sepaham  dengan mereka kecuali camp pemerintahan merupakan dar al-tauhid, tidak boleh diperangi kecuali dar al-kufr yaitu mu’askar pemerintahan harus diperangi.
3)      Pembuat dosa besar tetap muwahid, tetapi bukan   mukmin, kalaupun kafir bukan kafir al-Millah.
4)      Yang boleh dirampas dalam perang hanyalah kuda dan senjata, emas dan perak harus dikembalikan kepada yang punya.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka Harun Nasution menyimpulkan ciri – ciri kaum khawarij sebagai berikut :[24]
1)      Mudah mengkafirkan orang yang tidak segolongan dengan  mereka, walaupun orang tersebut beragama Islam.
2)      Islam  yang benar adalah Islam yang mereka pahami  dan amalkan. Sedangkan  golongan Islam lain tidak benar.
3)      Orang – orang islam yang tersesat dan telah menjaddi kafir harus dibawa ke Islam yang sebenarnya seperti yang mereka pahami.
4)      Pemerintah dan ulama yang tidak sepaham dengan mereka adalah sesat,  sehingga mereka memilih imam dari golongan mereka sendiri. Imam  dalam arti pemuka agama dan pemerintah.
5)      Mereka  bersikap fanatik dalam paham dan tidak segan – segan  menggunakan kekerasan  dan pembunuhan untuk  mencapai  tujuan mereka.
Walaupun khawarij  lebih banyak ditonjolkan negatifnya, tetapi disisi laian mereka mempunyai  keistimewaan, antara lain:[25]
1.      Orang – orang khawarij mempunyai keikhlasan yang sempurna terhadap aqidahnya. Mereka suka berterus – terang, tanpa ragu – ragu.
2.      Mereka tekun beribadah dan teguh mempertahankan kebenaran dan kesetiaan serta menjauhkan  diri dari orang – orang yang suka berdusta dan mengerjakan maksiat yang nyata.
3.      Mereka mempunyai keberanian yang luar biasa dalam menghadapi musuh untuk mempertahankan kebenaran.
Sedangkan menurut M.Dawam raharjo ada beberapa pelajaran penting yang dapat diambil dari kaum khawarij, yaitu:[26] Khawarij merupakan penyelamat ide Islam yang murni, yaitu pemerintahan  yang  bersifat kerakyatan dan mengandung semangat keadilan, bahkan konstitusional.[27]
Pemerintahan yang korup, akan menimbulkan tindakan yang tidak diinginkan dari reaksi ekstrim masyarakat, yang bisa menimbulkan tindakan kekerasan dari pemerintah. Di sini khawarij memberikan ilham untuk mengembangkan budaya bernegara, untuk menghindari tindakan kekerasan.  Dari segi ilmiah bisa mengilhami penelitian  untuk memahami  hubungan elite-massa. Sebenarnya, sumber persoalan yang terjadi pada awwal sejarah Islam itu adalah , terdapatnya jurang pemisah antara nilai – nilai kerakyatan suku Baduwi dan kultur pemerintah suku Quraisy. Pokok masalahnya aktual hingga kini, terutama  di Negara – negara sedang berkembang seperti Indonesia.[28]
B.       Ajaran-Ajaran pokok Murji’ah
Pada umumnya kaum Murji’ah dapat dibagi dalam dua golongan besar, yaitu golongan moderat dan golongan ekstrim.[29]
Golongan moderat berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah kafir tetapi mukmin. Iman tiadk mempunyai sifat bertambah atau berkurang, dan tidak ada perbedaan antara manusia dalam hal iman.[30] Apabilah orang masih menyatakan dua kalimat syahadat, mereka bukan kafir dan bukan musyrik tetapi muslim. Orang yang berbuat dosa besar diserahkan keputusannya kepada Allah di hari kiamat karena mungkin saja orang itu akan diampuni. Dosa tidak membahayakan iman, karena iman adalah pengakuan, pembenaran, keyakinan dan pengetahuan (ma’rifah). Perbuatan maksiat tidak akan merusak hakikat iman. Iman terpisa dari perbuatan.[31]
Golongan ekstrim berpendapat bahwa orang yang percaya kepada Tuhan, kemudian menyatakan kekafiran dengan lidahnya, menyembah berhala, bergabung dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani diwilayah Islam, menyembah salib, menyatakan trinitas diwilayah Islam, lalu mati dalam keadaan seperti itu, ia tetap seorang mukmin yang imannya sempurna disisi Allah serta termasuk ahli surga.[32]
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa golongan moderat bersikap pasif dalam menetapkan hukum atas pertentangan yang terjadi di antara para sahabat dan yang terjadi di masa pemerintahan Bani Umayyah. Sedangkan golongan ekstrim memandang bahwa ampunan Allah sangat luas, mencakup segala sesuatu.[33]
Selain kedua golongan tersebut di atas, Murji’ah juga terpecah menjadi beberapa sekte, adapun sekte-sekte itu antara lain :                                     1.         Al- Yunusiyah
Tokoh sekte ini adalah Yunus Bin Aun Al-Namiri, dengan ajaran pokoknya sebagai berikut:
a.       Iman berarti mengetahui Allah, tunduk dan patuh kepadanya, meningglkan dosa besar dan cinta dalam hati.
b.       Seorang mukmin masuk surga bukan karena amalnya dan ketaatannya,  akan tetapi karena keikhlasan  dan kecintaannya kepada Allah.
c.       Iman tidak dapat dirinci, tidak bertambah dan tidak berkurang.
d.      Allah boleh saja memasukkan orang kafir ke dalam neraka, mengekalkan atau tidak mengekalkan.[34]
2.      Al-Ghassaniyah
Tokohnya adalh Ghassan Al-Khufi.Adapun ajaran pokoknya adalah ;
a.       Iman adalah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, ikrar terhadap apa yang diturunkan  kepada Rasul-Nya  secara keseluruhan.
b.      Iman tidak dapat bertamabh dan berkurang.[35]
3.      Saubaniyah
Tokohnya  adalah  Abd. Sauban Al-Murji. Ajaran pokoknya yaitu :
a.       Imam adalah ikrar, mengetahui Allah dan Rasul-Nya.
b.      Mengetahui  setiap apa yang wajib dikerjakan  menurut akal tidak termasuk Iman.
c.       Akal mengetahui kewajiban sesuatu sebelum adanya kewajiban dari Syara. [36]
4.      Al-Tumaniyah
Tokohnya adalah Abu Mu’az Al-Tumany. Beberapa ajaran pokoknya yaitu :
a.       Iman adalah sesuatu yang dapat menghindari diri dari kekufuran.
b.      Kafirnya orang yang membunuh Nabi, bukan karena membunuh  atau menikamnya, akan tetapi karena rasa benci, memusuhi, dan meremehkan hak Nabi.
c.       Orang yang meningggalkan ibadah fardu dengan dasar keinginan penolakan dan meremehkan menjadi kafir.
d.      Allah mempunyai kewenangan untuk menyiksa orang yang mengesakan-Nya.[37]
5.      Salihiyyah
Tokohnya adalah Abul Husain Al-Salihy. Ia berpendapat bahwa shalat bukanlah ibadat kepada Allah swt. Jadi Ibadat itu  ialah iman kepada-Nya dan mengenal-Nya. Dan Iman menurut mereka tidak bertambah dan tidak berkurang, demikian pula kekafiran. [38]
6.      Marisyiah
Tokohnya adalah : Bisyer Al-Marisyi. Ia berpendapat bahawa :
a.       Ajaran Fiqhiyah sama dengan fiqhi Abu Yusuf Al-Qadi.
b.      Alquran adalah makhluk.
c.       Iman adalah Tasdiq dalam hati Ikrar dengan lisan.
d.      Orang yang sujud pada matahari bukanlah kafir, tetapi tanda – tanda kekufuran.
e.       Allah tidak akan mengekalkan orang mukmin yang durhaka di neraka.[39]                       
BAB  III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penulis menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.      Khawarij dan Murji ‘ah adalah dua aliran dalam Islam yang timbul dengan latar belakang politik, yang kemudian berkembang menjadi gerakan teologi yang amat berpengaruh bagi timbulnya aliran-aliran teologi selanjutnya.
2.      Khawarij berasal dari kata kharaja yang berarti keluar, keluar dari barisan Ali. Dan juga pemberian nama ini berdasarkan atas ayat 100 dari surat An- Nissa, yang artinya keluar dari rumah lari kepada Allah dan Rasul-Nya.
3.      Pada umumnya kaum Murji'ah dapat di bagi dalam dua kelompok besar, golongan moderat dan golongan ekstrim.
4.      Ajaran pokok Khawarij adalah bahwa khalifah tidak harus dari kalangan Quraisy, tetapi siapa saja dari ummat Islam yang mampu untuk itu. Khawarij melihat bahwa Ali dan Mu’awiyah keduanya melakukan dosa menjadi kafir. Sedangkan Murji’ah tetap mendukung kepemimpinan Mu’awiyah.
5.      Sepanjang sejarah perkembangannya, aliran Khawarij dan sifatnya yang ekstrim terpecah menjadi beberapa sekte dengan ajaran yang ekstrim pula. Sebaliknya murji’ah  dan sekte-sektenya tampil sebagai aliran yang moderat dan dapat mentolerir dosa apapun yang dilakukan oleh manusia. Hanya Tuhanlah yang berhak memberikan balasa.

B. Saran-saran
Dalam penulisan makalah ini,  masih sangat jauh dari kesempurnaan. Maka oleh itu penulis berharap kiranya  pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini   selanjutnya.
Semoga makalah ini dapat   memperkaya khazanah  pengetahuan  kita  yang relefansi  dengan golongan khawarij dan murji’ah serta implikasi.

DAFTAR PUSTAKA
Agama, Depertemen,Al-qur’an dan Terjemahannya ( Transliterasi Arab – Latin ,Semarang : CV.Asy syifa,2001.

Amin,Mashur M, et al. Terologi Pembangunan Paradigma baru Pemikiran Islam,Cet.I;Yogyakarta:LKPSM NU,1989.

Anshari, Saifuddin Endang, Pokok – Pokok Pikiran tentang islam,Cet.II; Jakarta: Usaha Enterprises,1976.

Al-Asy’ari, Maqalah Al-Islamiyyin, Cet.I;Kairo: Maktabah al-Nahda,1950.

Ash Shiddieqy, Hasbi M, Sejarah dan Pengantar Ilmu tauhid/Kalam,Cet.IV;Jakarta: Bulan Bintang, 1992.

As-Salus, Ahmad Ali, Imamah dan Khilafah dalam Tinjauan Syar’i, Cet.I;Jakarta: Gema insani Press, 1997.

Khadduri, majid, Teologi keadilan Perspektif Islam, Surabaya: Risalah Gusti,1999.

Nasution, Harun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya,Jilid I & II,ed.,II, Cet.I; Jakarta: UI-Press, 2002.

__________ , Islam Rasional: Gagasan dan pemikiran, Cet. I; Jakarta: Mizan, 1415 H/1995 M.

__________ , Teologi Islam: Aliran – Aliran  Sejarah Analisa perbandingan,Cet.  I; Jakarta: Universitas Indonesia, 2002.

Qattan, Khalil Manna’, Studi Ilmu – Ilmu Qur’an, Cet. VIII; Jakarta: Pustaka Litera Antar Nusa, 2004.

Syahrastani, Al-Milal Wa Al-Nihal,Jilid I; Kairo : Al-Baby Al-Khalabih,1976.

Tanjung Nur Bahdin H, Ardial H, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah ( Proposal, Skrips dan Tesis),Cet.II;Jakarta, 2007.

Zahrah, Abu Muhammad Imam,Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam, Cet.I; Jakarta; Logos Pusblishing House, 1996.


[1] Manna’ Khalil Qattan, ,Studi Ilmu Qur’an (Cet. 8, Jakarta Pustaka Litera antar Nusa,2004),h.247
[2]  Ali Ahmad As-Salus, Imama dan Khilafah Dalam Tinjauan Syar’i, (Cet.I, Jakarta; Gema Insani Pres, 1997), h.32.
[3]  Ibid., h. 33
[4] Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya, dengan  Transliterasi Model Per Baris (Dicetak dan diterbitkan , CV.  Asy Syifa’ Semarang, 2001), h. 302.
[5]  Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid II ed. 2 (Cet.I; Jakarta: UI-Pres, 2002), h. 26.
[6] M. Hasbi Ash Shiddieqy, op. cit., h. 173.
[7] Harun Nasution, op. cit.,h. 27
[8] Ibid, h. 29
[9] Majid Khadduri, Teologi Keadilan Perspektif Islam, ( Surabaya : Risalah Gusti, 1999 ),h.32.
[10] Harun Nasution,loc.cit
[11] Al-syahrastani, Al Milal wa’ Al Nihal, jilid I ( Kairo: Mustafa Al-Baby Al-Khalabih,1976),h.155
[12] Harun Nasition, Teologi slam, op. Cit.,h.16.
[13] Ibid.
[14] Ibid.,h.17.
[15] M. Hasbi Ash  shiddieqy, op.cit., h. 177.
[16] Harun Nasition,op. cit., h. 18.
[17] Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, op. Cit., h. 28. 
[18] Teologi Islam , op. cit., h. 19.
[19] M. hasbi Ash Shidieqy, op. cit., h. 179
[20] Harun Nasution, op. cit., h.20.
[21]  Ibid., h. 21
[22] Ibid.
[23] Ibid., h. 22.
[24] Islam Rasional :Gagasan dan Pemikiran,( Cet.I ;Jakarta:Mizan,1415 H/1995 M), h.124.
[25] M. Hasbi Ash Shiddieqy,  op.cit.,h. 184.
[26] M. Manshur Amin, et al., Teologi Pembangunan Paradigma Baru Pemikiran Islam, ( Cet. I;Yogyakarta: LKPSM Nu,1989), h.112.
[27] Ibid.
[28] Ibid., h. 113.
[29] Teologi Islam, op.cit., h.26.
[30] Ibid., h. 27.
[31] Imam Muhammad Abu Zahrah,Aliran politik danAqidah dalam Islam,(Cet. I; Jakarta Selatan:Logos Publishing House, 1996). H. 145.
[32]  Ibid., h. 146.
[33] Ibid., h. 147.
[34] Al-Ay’ari, Maqalah Al-Islamiyyin, ( Cet. I; Kairo: Maktabah al-Nahda,1950),h.212
[35] Ibid.,h. 126.
[36] Ibid.,h.127.
[37] Ibid., h. 128.
[38]  Ibid., h. 198.
[39] Ibid., h. 205. 
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Perbedaan Ajaran Khawarij dengan Murj'ah

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 5/01/2017

0 komentar Perbedaan Ajaran Khawarij dengan Murj'ah

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak