Home » » Pemikiran Tasawuf Al-Hallaj

Pemikiran Tasawuf Al-Hallaj

Pemikiran Tasawuf Al-Hallaj

BAB I

PENDAHULUAN
    A.   Latar Belakang
          Perasaan manusia dengan fitranya bahwa tidaklah semua yang ada ini dapat menyadari dirinya, dibalik semua yang nyata ini ada hakikat yang Agung memeliharanya, memberikan ketenangan dalam jiwanya. Manusia senantiasa berusaha dengan sungguh-sungguh (mujahadah) untuk mendekatkan dirinya kepada yang Agung, dengan pada tingkat yang tertentu manusia ingin menyerahkan dirinya ketika berhadapan dengan yang Agung itu.[1]

          Manusia ketika halnya seperti di atas pemisah antara dirinya dengan yang diajak berhadapan sedikit demi sedikit akan terbuka hijab pemisah dengan antara dirinya dengan zat yang Agung.
          Hijab pemisah antara diri manusia dengan tuhan, ada pada diri manusia terutama pada jazadnya. Jika hal ini manusia berhasil menahan dan tidak mengfungsikan, maka ketika itu, manusia akan bisa memperoleh limpahan Nur yang masuk menghadapkan intuisinya dan menuju kepada kodisi yang lebih tenang.
          Abu al-Husein al-Nury mengatakan bahwa sufi ialah kaum yang bersih dari segala kekeruhan manusia dari penyakit batin, bebas dari pengaruh syahwat, ketika itu ia berada pada derajat tinggi, beserta kebenaran takkalah mereka meninggal selain Allah, jadilah mereka tidak dimiliki dan memiliki.[2]
          Dalam membicarakan mengenai tasawuf, Al-Hallaj dengan faham Hululnya, menjadi pembicaraan yang menarik untuk dibahas, menarik karena al-Hallaj rela menerima hukum bunuh pada pemerintah berkuasa ketika ia sebagai tanda bahwa paham yang diajarkan itu menjadi keyakinan dirinya sesudah wafatnya. Paham Hulul ini mempengaruhi ajaran Tasawuf dan tetap menjadi bahan yang menarik.
B.   Rumusan Masalah
          Sehubungan uraian diatas masalah yang akan menjadi pembicaraan adalah:
1.      Siapa Al-Hallaj itu ?
2.     Bagaimana konsep Hululnya ?
BAB II
Pembahasan

A.   Beografi Singkat al-Hallaj

          Nama lengkapnya ialah Abu Mughisy Al-Husein bin Manshur al-Hallaj. Lahir dinegeri Baida bagian Selatan Persi tahun 244 H/857-858M dibesarkan di kota Wasit (Irak). Selain terkenal sebagai seorang sufi juga ia seorang Teolog. Nama Hallaj merupakan julukan yang diberikan kepadanya karena ayahnya seorang tukang tenun wool. Nashabnya berhubungan Ibn Ayub sahabat Nabi.[3] Dalam usia 16 tahun ia belajar tasawuf pada sufi terkenal Sahl bin Abdullah at-Tustur di negeri Ahwaz, selanjutnya kepada seorang sufi terkenal di Bashrah Amr al-Makki. Pada tahun 264 H dia ke kota Baqdad belajar tentang Tasawuf pada seorang sufi al-Junaid, kemudian pada saat ketanah suci naik haji selama tiga kali. Dengan riwayat singkat ini bisa dipahami bahwa al-Hallaj memiliki dasar pengetahuan kesufian yang kuat.
          Perjalanan hidup selanjutnya, ia pernah masuk penjara sebanyak 2 kali.
          Pada kali pertama sebagai akibat konflik dengan ulama Fiqhi mengenai pandangan-pandangan tasawuf menyebabkan ulama Fiqhi Abu Daud al-Isfahani mengeluarkan fatwa untuk membantah dan memberantas pahamnya. Pada kali kedua setelah lepas, ia melarikan diri ke Sus di wilayah Ahwas bersembunyi selama 4 tahun dan tetap mengajar dan menyebarkan paham tasawuf serta tak berubah pendiriannya. Pada akhirnya di tangkap kembali, masuk penjara selama 8 tahun, akan tetapi tak menyebabkan berubah pendirian yaitu pada faham Tasawufnya. Pada akhirnya tahun 309 H pada saat pemerintahan Khalifah Mu'tashim Billah diadakan persidangan di bawah pengawasan kerajaan bani Abbas, menjatuhkan hukuman mati terhadap al-Hallaj pada tanggal 18 Zulqaidah 309 H.[4]
          Menurut Harun Nasution setidaknya ada 4 tuduhan yang dihadapkan kepadanya:
a. Hubungan dengan gerakan Qaramitah salah satu sekte Syi'ah yang berpaham komunis mengadakan terror menyerang Mekah tahun 930 M merampas Hajaratul Aswad yang dikembalikan oleh kaum Fatimi pada tahun 951 M dan menentang pemerintahan bani Abbas.
b. Keyakinan para pengikutnya bahwa ia mempunyai sifat-sifat ketuhanan.
c. Ucapannya انا الحق
d. Ibadah Haji tidak wajib.[5]
          Untuk mendapatkan gambaran pendirian al-Hallaj ketika menghadapi hukuman mati; takkala dibawa untuk di salib dan melihat tiang salib, seraya ia berdo'a di akhir doanya ia berkata: dan hamba-hamba-Mu yang bersama-sama membunuh-ku ini, demi agama-Mu dan memenangkan karunia-Mu, maka ampunilah mereka, ya Tuhan rahmatilah mereka, karena sesungguhnya, sekiranya engkau menganugerahkan kepada mereka seperti apa yang engkau anugerahkan kepada-ku, tentu mereka tidak akan melakukan apa yang mereka putuskan untuk-ku. Dan jika kusembunyikan dari diriku apa yang Engkau sembunyikan dari mereka, tentu aku tidak akan menderita begini Maha Agung Engkau dalam segala yang Kau lakukan dan Maha Agung Engkau dalam segala yang Kau kehendaki.[6]
          Versi Harun Nasution rupanya berbeda dengan yang lain, menurutnya. Al-Hallaj dituduh punya hubungan dengan gerakan Qaramitah yaitu suatu sekte Syi'ah yang dibentuk oleh Hamdan Ibnu Qaramat di akhir abad IX M. sekte ini merupakan Komunis (harta benda dan perempuan terdiri dari kaum petani milik bersama). Mengadakan terror, menyerang Mekah ditahun 930 M merampas Hajaratul Aswad yang dikembalikan oleh kaum Fatimiah ditahun 951 M dan menentang pemerintahan Bani Abbas mulai dari abad X sampai abad XI M. Jika yang dituduhkan benar adanya, maka al-Hallaj secara politis dan idologis memang salah dan patut dihukum, tetapi jika hal ini hanya tuduhan belaka, maka masalahnya kini siapa yang benar diantara mereka, apakah al-Hallaj yang di hukum bunuh atau mereka yang menjalankan hukuman, pengadilan Akhirat kelak menjadi pengadilan berlaku bijaksana dan menilai secara objektif.[7]

B.   Pemikiran Tasawuf Hulul al-Hallaj

          Hulul adalah Inkarnasi, kata ini mengisyaratkan "Penitisan" tuhan dalam diri manusia, berupa masuknya sesuatu pada sesuatu  yang lainnya.[8] Ada pula memberi pengertian Hulul ialah Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu, yaitu manusia yang telah melalui Fana[9] pendapat ini berhubungan erat dengan teori sebelumnya yaitu teori fana oleh Abu Yazid dimana manusia bisa menyatu dengan tuhan pada saat manusia fana (tidak berfungsinya sifat-sifat kemanusiaan pada dirinya). Menurut al-Hallaj manusia mempunyai dua sifat dasar yaitu sifat ke-tuhanan dan sifat ke-manusiaan. Demikian juga Allah mempunyai sifat dasar Ke-tuhanan (Lahud) dan sifat ke-manusiaan (Nasut). Apabila sifat-sifat ke-manusiaan telah dapat dilenyapkan melalui fana dan sifat-sifat ke-tuhanan dikembangkan, maka akan tercapai persatuan dengan Tuhan dalam bentuk Hulul.[10]
          Teori Lahut dan Nasut kemudian pada konsep kejadian manusia dimana al-Hallaj berpendapat bahwa Adam sebagai manusia pertama dijadikan Tuhan sebagai Copy dari diri-Nya (صورة من نفسه) dengan segala sifat dan kebesaran-Nya.[11] "setelah Tuhan menciptakan makhluk lebih dahulu melihat dirinya sendiri (تجلس الحق لنفسه).[12] Dalam kesendirian-Nya itu, terjadi dialog antara Tuhan dengan dirinya sendiri, didalam dialog itu tidak terdapat kata-kata ataupun huruf yang dilihat Allah hanyalah kemuliaan dan ketinggian zat-Nya. Allah melihat kepada zat-Nya dan iapun cinta pada zat-Nya sendiri, cinta yang tak dapat disifatkan, dan cinta itu yang menjadi sebab wujud dan sebab dari yang banyak ini. Iapun mengeluarkan dari yang tiada (من العدم) bentuk (copy) dari dirinya sendiri yang mempunyai segala sifat dan nama-Nya bentuk copy itu ialah Adam. Setelah menjadi Adam dengan cara ini, ia memuliakan dan mengagumkan Adam, ia cinta pada Adam, karena pada diri Adamlah Allah muncul dalam bentuknya.[13]
          Oleh karena yang banyak berasal dari Dia, maka pada hakikatnya manusia mempunyai sifat ke-tuhanan dan dalam dirinya hal ini dapat dipahami dengan melalui penafsiran al-Hallaj terhadap kejadian Adam sebagimana Firman Allah dalam al-Qur'an surat al-Baqara ayat 34 sebagai berikut:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ


Terjemahannya :
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat "sujudlah kamu kepada Adam" mereka bersujud kecuali Iblis, ia enggan dan takabur dan ia termasuk golongan orang-orang kafir.[14]
          Adapun makam (proses untuk sampai kepada Allah) menurut para sufi yaitu:
1.      At-taubat
2.     Al-zahada
3.     Al-sabru
4.     Al-Fikru
5.     Al-Tawadu
6.    Al-Taqwa
7.     Al-Tawakal
8.     Al-Ridha
9.    Al-Mahabbatu
10.   Al-Marifatu 
          Menurut al-Hallaj: Allah memberi perintah kepada malaikat untuk bersujud kepada Adam, karena pada diri Adam Allah menjelma sebagaimana ia menjelma dalam diri Isa.[15]
          Paham tersebut ada hubungan dengan hadits Nabi yang berbunyi:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم خلق الله ادم على صورته[16]

Artinya:
Rasulullah Saw. bersabda Allah menciptakan Adam sesuai dengan bentuknya.
          Menanggapi hadits diatas tampaknya al-Hallaj terpengaruh filsafat Aristoteles dalam pandangannya mengenai segala yang ada termasuk manusia. Menurut Aristoteles tiap-tiap benda yang dapat ditangkap dengan panca indera mempunyai materi (مادة) dan bentuk (صورة) bentuk yang dimaksud terdapat pada benda itu sendiri (bukan di luar benda-benda sebagaiman ide Plato). Dan bentuklah (صورة) yang membuat materi mempunyai bangunan atau rupa. Bentuk tidak dapat berdiri sendiri terlepas dari materi, materi dan bentuk selamanya satu. Materi tanpa bentuk tak ada.[17]
          Untuk mendapat gambaran keadaan hulul yang dialami oleh Al-Hallaj dalam menempu perjalanan kesufiannya yaitu dengan melalui syair-syairnya. Antara lain sebagai berikut:
سبحان من اظهرنا سوته  –    سرسئالاهو ته الثاقب
ثم بدالخلقه ظاهرا          -   فى صورة الاكل والشارب

Maha suci zat yang sifat kemanusiaan-Nya membukakan rahasia cahaya ketuhanan-Nya yang gemilang. Kemudian kelihatan bagi makhluknya dengan nyata dalam bentuk manusia yang makan dan minum, sebalinya manusia juga mempunyaoi sifat ketuhanan dalam dirinya.[18]
Dalam syairnya yang menjadi pernyataan al-Hallaj

مزجت روحك فىروحى كما –  تمزج الخمرة بالماء لزلال

فإذامسك شئ مسفي          -  فإذاانت انا فى كل حال


Jiwamu disatukan dengan jiwaku, sebagaimana anggur disatukan dengan air suci. Dan jika ada sesuatu yang menyentu engkau, ia menyentu aku pula, dan ketika ia dalam tiap hal engkau adalah aku.[19]
انامن اهوى ومن اهوى انا -  نحن روحان حللنا بدنا
فإذ ابصرتنى ابصرته         - واذاابصرته ابصرتنا      

Aku adalah Dia yang kucintai dan dia yang kucintai adalah aku. Kami adalah dua jiwa yang bertempat dalam suatu tubuh, jika engkau lihat aku engkau lihat Dia. Dan jika engkau lihat Dia, engkau lihat kami[20]
          Menurut al-Hallaj: cara inilah seorang sufi bisa bersatu dengan tuhan. Dalam persatuan ini diri al-Hallaj kelihatannya tidak hilang, dirinya tak hancur sebagaimana pernyataan dalam syair diatas.
          Sebenarnya sufi tidak mengakui dirinya Tuhan hal ini dapat dilihat dalam syair al-Hallaj:
اناسرالحق ما الحق انا  - بل انا حق ففرق بيننا

Aku adalah rahasia yang Maha Benar, dan bukanlah yang benar itu aku, aku hanya satu dari yang benar maka bedakanlah antara kami.[21]
          Dalam paham al-Hallaj yang dikemukakan di atas ada dua hal yang dapat dipahami; pertama paham Hulul merupakan pengembangan atau bentuk lain dari paham mahabbah dari Rabi'ah al-Adawiyyah. Hal ini dapat dilihat adanya kata-kata cinta yang dikemukakan al-Hallaj. Kedua, al-Hulul juga menggambarkan adanya ittihad atau kesatuan rohani dengan Tuhan. Namun Harun Nasution membedakan kesatuan rohani yang dialami al-Hallaj melalui Hulu, dengan kesatuan rohani yang dialami oleh Abu Yazid dalam ittihad. Hululnya al-Hallaj kelihatan tidak hilang. Sedangkan ittihadnya Abu Yazid hancur dan yang ada hanya diri Tuhan. Dalam paham al-Hallaj dirinya tak hancur, sebagaimana syair diatas.
          Jadi ketika al-Hallaj mengatakan bukan roh al-Hallaj yang mengucapkan kata itu akan tetapi yang berkata adalah roh Tuhan yang mengambil tempat dalam dirinya.
BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
          Berdasarkan dari uraian yang ada sebelumnya, maka dapat di simpulkan sebagai berukut:
a.    Al-Hallaj adalah seorang sufi yang konsisten atau istiqamah dalam mempertahankan paham kesufiannya sekalipun menghadapi tantangan, bahkan rela menghadapi hukuman mati dari pemerintah yang berkuasa pada masa itu.
b.   Hulul merupakan paham kesufian al-Hallaj berbeda dengan paham sufi sebelumnya. Akan tetapi mempunyai paham sendiri yaitu dalam diri manusia terdapat sifat ketuhanan dan dalam diri tuhan terdapat sifat kemanusiaan. Persatuan antara tuhan dengan manusia mungkin saja terjadi itulah Hulul yakni manusia harus terlebih dahulu menghilangkan sifat-sifat kemanusiaannya dengan fana, setelah sifat-sifat kemanusiaanya hilang yang tinggal hanyalah sifat ketuhanan yang ada dalam dirinya dan pada waktu itu ruh bersatu dalam diri manusia. Teori Lahut dan Nasut kemudian pada konsep kejadian manusia dimana al-Hallaj berpendapat bahwa Adam sebagai manusia pertama dijadikan Tuhan sebagai Copy dari diri-Nya (صورة من نفسه) dengan segala sifat dan kebesaran-Nya. "setelah Tuhan menciptakan makhluk lebih dahulu melihat dirinya sendiri (تجلس الحق لنفسه). 
Daftar Pustaka
         
A. J. Azberry, Sufism dan An account of the Mystex of Islamic, diterjemahkan oleh Haidar Bagir dengan judul Pasang Surut Aliran Tasawuf, Cet. Bandung, Mizan 1985

Armstrong, Amatullah, Sufi Terminologi  (al-Qarmus al-Sufi) the Mistical language of Islam di terjemahkan oleh M. S. Nasharullah dan Ahmad Baguni dengan judul, Khasanah Istilah Sufi. Kunci Memasuki Dunia Tasawuf,  Cet. 1, Bandung, Mizan 1996

Departemen Agama, al-Qur'an dan Terjemahnya, Jakarta. Bulan Bintang, 1974

H. Sahabullah, Nur Muhammad Pintu menuju Allah telaah Sufistik atas Pemikiran Syekh Yusuf al-Nabhani,  Cet. II, Jakarta, Segala Wacana Ilmu, 2002

Hamka, Tasawuf Perkembangan dan Pemurniannya, Cet XI, Pustaka Panjimas, Jakarta

Nasution, Harun. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, Cet. 9, Jakarta, Bulan Bintang, 1995

Nata, H. Abuddin, Akhlak Tasawuf, Cet 2, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam IAIN Sumatera Utara, Pengantar ilmu Tasawuf, Direktur Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam Depag, Jakarta

Muhammad Ibn Ismail al-Bukhary, Abu Abdillah., al-Jami'al Salih (Sahil al-Bukhary) Jilid IV, Bairut Dar al-Fikr, t. th.
         



                [1] Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam IAIN Sumatera Utara, Pengantar ilmu Tasawuf, ( Jakarta: Direktur Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam Depag ), h. 3
                [2] Ibid.,  h. 5

                [3] H. Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Cet.II; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, t.th ), h. 242
                [4] Hamka, Tasawuf Perkembangan dan Pemurniannya, (Cet XI; Jakarta: Pustaka Panjimas), h. 119
                [5]Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Cet. IX; Jakarta: Bulan Bintang, 1995), h. 87

                [6] A. J. Azberry, Sufism dan An account of the Mystex of Islamic, diterjemahkan oleh Haidar Bagir dengan judul Pasang Surut Aliran Tasawuf,  (Cet.I; Bandung: Mizan, 1985), h. 77
                [7] Harun Nasution, op. cit., h. 245

                [8] Amatullah Armstrong, Sufi Terminologi  (al-Qarmus al-Sufi) the Mistical language of Islam di terjemahkan oleh M. S. Nasharullah dan Ahmad Baikuni dengan judul, Khasanah Istilah Sufi. Kunci Memasuki Dunia Tasawuf,  (Cet. I; Bandung: Mizan, 1996), h. 101

                [9] Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama, Institut Agama Islam Negeri, op. cit., h. 152
                [10] Ibid., h. 88
               
                [11] Ibid., h. 88

                [12]Ibid., h. 88

                [13] Ibid., h. 89
                [14]Departemen Agama, al-Qur'an dan Terjemahnya, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), h.161

                [15] H. Sahabullah, Nur Muhammad Pintu menuju Allah telaah Sufistik atas Pemikiran Syekh Yusuf al-Nabhani,  (Cet. II; Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002), h. 66

                [16] Lihat Abu Abdillah Muhammad Ibn Ismail al-Bukhary, al-Jami'al Salih (Sahil al-Bukhary) Jilid IV (Bairut Dar al-Fikr, t. th.), h. 160
                [17] Ibid.,  h. 67
               
                [18] H. Abuddin Nata, op. cit., h. 244
               
                [19] Ibid., h. 255

                [20] Ibid., h. 256

                [21] Ibid., h. 257
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Pemikiran Tasawuf Al-Hallaj

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 5/01/2017

0 komentar Pemikiran Tasawuf Al-Hallaj

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak