Home » » Masa Pemerintahan Khalifah Utsman Bin Affan

Masa Pemerintahan Khalifah Utsman Bin Affan

Masa Pemerintahan Khalifah Utsman Bin Affan

A. Biografi Singkat Utsman Bin Affan

1. Kelahiran Khalifah Utsman Bin Affan
Nama lengkap Utsman Bin Affan yaitu Abi ‘Ash bin Umayyah bin Abdu Syamsi bin Abdu Manaf bin Qashy al-Qurasy. Ia dilahirkan di  Mekah di tahun 576 M. tahun keenam tahun Gajah. Ia enam tahun lebih muda dari nabi Muhammad SAW. Garis keturunan Utsman Bin Affan dan keturunan Muhammad SAW bertemu di Abdu Manaf.Di masa kanak-kanak dan masa remaja ia hidup berkecukupan sebagaimana orang-orang Kuraisy di umumnya, khususnya Bani Umayyah. Sebelum masuk Islam Utsman Bin Affan merupakan  seorang yang kaya, pedagang besar dan masyhur. Setelah Muhammad diangkat sebagai nabi dan rasul oleh Allah SWT, ia termasuk orang yang mula-mula meyakini ajaran Muhammad dan masuk Islam. Ia memeluk Islam atas ajakan Abu Bakar as-Shiddiq.


 beberapa sumber yang menerangkan tentang penyebabkeIslaman Utsman Bin Affan. Diantaranya Ibnu Hasyim menyebutkan bahwa setelah Abu Bakar masuk  Islam, orang-orang  dari masyarakatnya sendiri  yang memyakininya dan yang suka mengunjunginya dan duduk-duduk dengan dia, diajaknya beriman kedi Allah dan masuk Islam. Diantara sahabat yang diajaknya yaitu Utsman Bin Affan , Zubair bin Awwam dan Talhah bin ‘Ubaidillah. Oleh Abu Bakar mereka yang sudah memenuhi ajakannya itu diajak untuk menemui Rasulullah dan menyatakan masuk Islam. Sumber lain Ibn Sa’d menerangkan bahwa Utsman Bin Affandan Talhah bin Ubaidillah pergi mengikuti Zubair bin Awwam menemui Rasulullah SAW.  Ia menawarkan Islam kedi keduanya dan membacakan beberapa ayat Qur’an serta memberitahukan kedi mereka tentang ketentuan-ketentuan Islam dan menjanjikan kemuliaan Allah bagi mereka. Utsman Bin Affan dan Talhah kemudian beriman dan masuk Islam.
2. Perawakan dan Sifat Khalifah Utsman Bin Affan Bin Affan
Utsman Bin Affan tergolong orang yang masyhur karena ia termasuk golongan pedagang yang kaya serta dermawan. Di perang Tabuk melawan kerajaan  Bizantium, Utsman Bin Affan pernah memberikan sepertiga dari kekayannya untuk kepentingan kaum muslimin.Ketika beliau dibaiat menjadi khalifah sepeninggal Umar bin Khattab, di saat itu umur  Utsman Bin Affan telah mencapai 70 tahun. Menurut beberapa catatan Utsman Bin Affan berperawakan sedang, tidak tinggi dan tidak pendek, berwajah tampan, berkulit cerah dengan warna sawo matang. Janggutnya lebat dengan tulang-tulang persendian yang besar. Ia senantiasa mengenakan pakaian yang indah, bagus dan bermutu tinggi karena ia memang salah seorang Arab Kuraisy yang kaya di waktu itu.Sifat yang paling menonjol dari seorang Utsman Bin Affan lah dia sangat pemalu. Dalam sebuah riwayat disebutkan:
حد ثنا محمد بن على جيش, حد ثنا عمر بن أيوب, حد ثنا أبو معمر, حد ثنا هشيم, عن الكوثر بن حكيم, عن نافع, عن ابن عمر قال: قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم: أشد أمتى حياء عثمان ابن عفان.
Dalam riwayat di atas disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW. telah bersabda yang artinya : “diantara ummatku yang paling pemalu lah Utsman Bin Affan bin Affan”.

Rasa malu yang Utsman Bin Affan miliki semakin bertambah di waktu ia dilihat oleh orang lain. Sehingga terkng sifat pemalunya itu membuat orang lain juga malu kedinya. Dari Aisyah Ummulmukminin disebutkan: bahwa ketika Rasulullah sedang duduk-duduk dan pahanya terbuka, Abu Bakar meminta izin akan masuk diizinkan tanpa mengubah posisi duduknya, ketika Umar datang meminta izin Nabi pun mengizinkan tanpa merubah posisi duduknya. Tetapi ketika Utsman Bin Affan meminta izin, maka Nabi segera merubah posisi duduk beliau dan memperbaiki pakaiannya. Setelah ketiganya pergi Aisyah bertanya: “Ya Rasulullah, Anda mengizinkan Abu Bakar  dan Umar masuk dengan kean anda tetap begitu, tetapi ketika Utsman Bin Affan yang meminta izin Anda menurunkan pakaian anda”. Rasulullah menjawab kedi Aisyah, Ya Aisyah:
يا عائشة: ألا أستحى من رجل تستحى منه الملا ئكة          
“Tidakah aku malu kedi seseorang yang malaikat pun malu terhpnya”

Karena sifat pemalu itulah Utsman Bin Affan takut berbicara. Dikisahkan bahwa diantra sekian sahabat  Rasulullah tak  seorang pun yang cara bicaranya lebih baik dan lebih sempurna daridi Utsman Bin Affan. Hanya saja ia takut (baca: berhati-hati) untuk berbicara. Karena takutnya berbicara ini ia segan berdialog dan berdebat berpanjang-panjang. Kalau ia sudah mengambil sebuah keputusan ia gigih mempertahankan dan tidak mudah menyerah. Utsman Bin Affan lah orang yang sangat jujur, dermawan dan murah hati. Dia berasal dari keturunan Bani Umayyah, kalangan suku Kuraisy yang terbanyak jumlah dan yang terkuat. Tetapi keenggananya berbicara yang  terbawa oleh perasaan malu membuatnya menjadi sangat lemah lembut. Kedermawanan dan kelembutannya membuat ia  disenangi banyak orang. Di samping itu karena yakin diri dan rasa bangga kedi kerabat, ia sangat dihormati dan dihargai. Utsman Bin Affan memiliki tulisan tangan yang indah. Oleh karenanya Rasulullah menunjuk ia menjadi salah seorang penulis wahyu.

B. Kekhalifaan Utsman Bin Affan 

1. Pembentukan Majelis Syura dan Pelantikan Utsman Bin Affan 
Diawal-awal masa Nabi menyerukan Islam, semenanjung Arab terbagi di antara kabilah-kabilah yang masing-masing berdiri sendiri, dengan penduduk yang selalu dalam konflik dan pertentangan. Sebagian besar daerah itu ber di bawah kekuasaan Persia atau pengaruh Rumawi. Setelah Rasulullah wafat, setelah dua puluh tiga tahun kerasulannya, pengaruh Persia dan Rumawi di semenanjung Arab sudah menyusut. Kabilah-kabilah Arab mulai berbondong-bondong masuk ke dalam agama Islam. Tetapi tak lama kemudian mulai muncul gejala-gejala kemurtn dan perpecahan di sebagian kabilah Arab. Ketika Abu Bakar terpilih sebagai khalifah, ia memerangi orang-orang Arab yang murtad dari Islam sampai mereka kembali kedi Islam. Setelah itu kesatuan agama dan politik bisa kembali tertib. Ketika itulah Abu Bakar mulai merintis berdirinya kedaulatan Islam. Tetapi ajal tak dapt ditunda untuk menyelesaikan rencana  yang sudah dimulainya itu.

Setelah meninggal Abu Bakar, Umar dibaiat menjadi khalifah berikutnya dan ia mulai meneruskan kebijakan Abu Bakar. Kedaulatan Islam di masa Umar membentang luas ke Tiongkok di Timur sampai ke seberang Barkah di Barat. Dari laut Kaspia di utara sampai ke Nubia di selatan, yang mencakup juga Persia, Irak, Syam dan Mesir. Dengan demikian, kedaulatan Arab telah merangkul bangsa-bangsa dengan segala unsur budayanya yang  sangat beragam. Setelah Umar terbunuh, di negeri Arab sendiri timbul suatu gejala yang agaknya tak akan terjadi  kalau tidak karena berdirinya  kedaulatan Islam. Sejak Umar ditikam oleh Abu lu’lu’ah kaum muslimin dicekam oleh rasa ketakutan, khawatir akan nasib mereka sendiri kelak. Terpikir oleh mereka siapa yang menggantikan Umar jika dengan takdir Allah dia meninggal. Beberapa orang kemudian membicarakan masalah ini kedi umar yang  waktu itu sedang sakit, mereka meminta Umar untuk mencalonkan penggantinya kelak.

Di mulanya Umar masih ragu, tetapi setelah dikipirkan bahwa kalau dibiarkan persoalan pemilihan khalifah penggantinya akan menjadi penyebab perpecahan ummat dan kean akan menjadi kacau. Dalam peperangan melawan Persia dan Rumawi semua kabilah Arab sudah ikut serta dalam perang itu sehingga setiap kabilah mengaku dirinya sama dengan kaum Muhajirin dan Anshar, sehingga mereka berhak memilih khalifah. Bahkan di antara mereka  yang mengaku berhak mencalonkan pimpinannya  sebagai khalifah. Jika Umar tidak memberikan pendapat, pengakuan seperti itu akan sangat membahayakan kedaulatan yang beru ia ciptakan di tanah Arab. Karenanya , umar segera membentuk Majelis Syura yang terdiri dari dari enam orang dengan tugas memilih di antara mereka seorang khalifah setelahnya.  pun keenam orang itu Utsman Bin Affan bin Affan, Ali bin Abi Talib, Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, Abdur-Rahman bin Auf dan Sa’d bin Abi Waqqas. Setelah menyebut nama-nama mereka kemudian Uamr berkata: “Tak  orang lebih berhak dalam hal ini daridi mereka itu; Rasulullah SAW. Wafat sudah merasa puas dengan mereka. Siapapun yang terpilih dialah khalifah setelah saya”.

Dari keenam orang yang dipilih oleh Umar sebagai    anggota Majelis Syura tak seorangpun diantara mereka  orang Anshar dari Madinah atau dari kabilah-kabilah Arab yang lain. Semua mereka dari kaum Muhajirin dan Kuraisy. Sungguhpun begitu dari pihak Anshar dan orang-orang Arab yang berdatangan ke Medinah sepulang menunaikan ibh haji, tak seorang pun  yang marah, memproters pemilihan Umar itu. Kean tetap demikian sampai kemudian Umar meninggal dunia, sampai khalifah penggantinya dibaiat. Rasa puas pihak Anshar dan orang-orang Arab lainnya atas pilihan Umar terhp keenam orang itu mengingatakan kita di peristiwa Saqifah Bani Sa’idah setelah Nabi wafat dan jasadnya masih dirumah dan belum dikebumikan.

Anggota Majelis Syura langsung mengkan pertemuan begitu mereka ditunjuk. Tugas mereka sangatlah berat yaitu memilih dan menentukan salah seorang diantara mereka yang kelak menjadi khalifah sepeninggal Umar. Dalam proses musyawarah, diriwayatkan dari enam orang yang terpilih sebagai anggota Majelis Syura kemudian mengerucut menjadi tiga orang yaitu Abdur-Rahman bin Auf, Utsman Bin Affandan Ali bin Abi Talib. Kemudian Abdur-Rahman bin Auf mengudurkan diri dari pencalonan karena sr bahwa Utsman Bin Affan dan Ali lah calon utama yang harus bersaing. Kemudian Majelis Syura hanya menyisahkan dua calon tersisa Utsman Bin Affan dan Ali. Abdur-Rahman bin Auf yang melepaskan pencalonannya, maka kemudian hak memilih salah seorang diantara Utsman Bin Affan ataukah Ali kini ber ditangannya. Dalam prosesnya kemudian Abdur-Rahman bin Auf kemudian membaiat Utsman Bin Affan bersama orang-orang di dalam mesjid yang hadir di waktu itu.
2. Pemerintahan Utsman Bin Affan
Pemerintahan Utsman Bin Affan berlangsung selama 12 tahun. Perjalanann roda pemerintahan tahun-tahun pertama dilaksanakan oleh Utsman Bin Affan sesuai dengan kebijaksanaan yang telah ditempuh oleh pendahulunya. Suatu pesan yang disampaikan Umar bin Khattab kedi Utsman Bin Affan lah bahwa wali-wali (gubernur) yang diangkat oleh Umar selama jangka waktu setahun jangan dimutasikan. Pesan ini didasarkan atas kekhawatiran akan terjadinya kegoncangan dan gangguan stabilitas keamanan dan ketentraman bagi khalifah sendiri. Berdasarkan pertimbangan yang matang terhp pesan Umar bin Khattab, Utsman Bin Affan tetap mengukuhkan gubernur untuk wilayah, Mesir, Syam (Suriah), Irak yang di dalamnya termasuk daerah-daerah Azarbaijan, Armenia,  dan beberapa daerah lain yang berpusat di kota Kufah dan Iran yang di dalamnya tercakup daerah Khurasan dengan Basra sebagai pusat pemerintahannya.

Dibiarkannya Nafi’ bin Abdul Haris al-Khuza’I untuk Mekah, Sufyan bin Abdullah as-Saqafi untuk Ta’if, Ya’la bin Mu’yam untuk San’a,  Utsman Bin Affan bin Abi al-As as-Saqafi untuk Bahrain dan sekitarnya, Mughirah bin Syu’bah untuk Kufah, Abu Musa al-Asy’ari untuk Basrah, Mu’awiyah bin Abi Sufyan untuk Damsyik, Umar bin Sa’d untuk Hims, Amr bin al-As untuk Mesir dan Abdullah bin Rabi’ah untuk Janad. Setelah satu tahun berlalu, pesan yang disampaikan Umar bin Khattab dipatuuhi dan dilaksankan oleh Utsman Bin Affan, selanjutnya ia mulai mengubah kebijaksanaannya dengan memutasikan hampir semua pejabat yang telah dikukuhkan sebelumnya. pun pejabat baru yang diangkat untuk menggantikan pejabat yang lama berasal dari kaum keturunannya dari kalangan Bani Umayyah. Kebijaksanaan itu mengantarkan Utsman Bin Affanke suatu pisisi yang tidak menguntungkan, baik bagi dirinya maupun bagi kepentingan pemerintahan Islam.

Pengangkatan beberapa pejabat yang berasal dari kaum keturunannya telah menimbulkan  reaksi negative dari masyarakat di beberapa wilayah. Reaksi itu tak dapat dibendung  khalifah dan pemerintahan pusat di Medinah. Satu hal yang belum pernah terjadi di masa dua khalifah sebelumnya lah bahwasanya  Utsman Bin Affanlebih banyak dipengaruhi kaum keturunannya, khususnya  Marwan bin Hakam yang diangkatnya sebagai sekretaris negara. Marwanlah di dasarnya yang menjalankan pemerintahan, sedangkan Utsman Bin Affan hanya menyandang gelar khalifah.Setelah banyak anggota keturunannya yang duduk dalam jabatan-jabatan penting, Utsman Bin Affan laksana boneka dihpan kerabatnya itu. Dia tidak dapat berbuat banyak dan terlalu lemah terhp keturunannya.

Sejak diangkat sebagai sebagai pejabat Negara semacam menteri sekretaris Negara yang mengepalai ad-Dawawin (beberapa dewan), pengaruh Marwan bin Hakam terhp kebijaksanaan khalifah  makin lama makin besar. Di kemudian dialah yang menjadi motor penggerak dan pemegang kakuasaan. Sebagai akibat dari keyakinan besar yang diberikan khalifah kedi  Marwan, muncullah kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintahan yang didominasi oleh rasa keketurunanan. Kenyataan ini tampak di pengangkatan keturunan sendiri untuk menduduki jabatan tinggi di setiap wilayah serta pengawasan yang longgar terhp  sikap hidup mewah  dikalangan para keturunan Marwan bin Hakam dan keturunan khlifah sendiri. Hal inilah yang melahirkan berbagai ketidak senangan beberapa kelompok terhp khalifah dan keturunannya.
3.  Prestasi Khalifah Utsman Bin Affan
Di masa pemerintahan Utsman Bin Affantercatat  beberapa prestasi yang sangat berharga baik bagi pemerintahan Islam maupun bagi kaum muslimin di umumnya, diantaranya:
a. Perluasan Kekuasaan

perluasan daulah Islamiyah di masa Utsman Bin Affan telah mencapai daerah yang belum dapat ibebaskan di masa Umar bin Khattab.
b. Pembentukan arm laut pertama dalam sejarah islam

Di masa pemerintahan Umar bin Khattab, Mu’awiyah sudah mengusulkan agar khalifah bias membuat arm laut pasukan muslim. Usulan Mu’awiyah itu baru bias terwujud dan dipergunakan untuk   melakukan perluasan melalui jalur laut.
c. Membangun kembali Masjid Nabawi di Medinah dengan bentuk baru.

Setelah kekhalifaan beralih ketangannya, maka yang pertama yang disampaikannya kedi kaum muslimin di Medinah ialah rencana memperluas mesjid. Tidak saja diperluas, mesjid Nabawi dibangun kembali dengan menggunakan bahan-bahan yang baik tapi juga mesjid diperindah dengan berbagai ornamen. Utsman Bin Affan melengkapi Mesjid Nabi itu dengan lambing dan symbol kewibawaan, sebab kini  sudah menjadi pusat pemerintahan.
d. Usaha penyeragaman dalam bacaan Qur’an.

Sebuah langkah yang berani ditunjukkan oleh Utsman Bin Affan mengumpulkan orang-orang untuk menyeragamkan bacaan Qur-an. Ketika itu Huzaifah bin al-Yaman bersama pasukan muslimin yang lain terlibat dalam perang di Armenia dan Azarbaijan, di tahun ketiga kekhalifaan Utsman Bin Affan. Dalam perang itu banyak orang Syam yang membaca menurut bacaab Miqdad bin Aswad dan Abu ad-Darda, jamaah dari Irak membaca menurut bacaan Ibnu Mas’ud dan Abu Musa al-Asy’ari. Yang lain, orang-orang  yang baru masuk Islam lebih menyukai bacaan Zaid bi Sabit. Dalam mengutamakan bacaan itu sebagian mereka  yang sudah melampaui batas sehingga timbul perselisihan yang membuat mereka tercerai berai.

Utsman Bin Affan melihat ini sebagai suatu yang berbahaya. Ia mengumpulkan beberapa orang untuk membicarakan masalah ini. Utsman Bin Affan kemudian berkata: Menurut hemat saya orang harus sepakat dengan hanya  satu macam bacaan. Kalau sekarang kita berselisih, maka perselisihan generasi setelah kita akan lebih parah lagi.”Inilah awal mula pengumpulan Mushaf Utsman Bin Affan dan penyeragamannya dalam bacaan Qur’an. Setelah usaha penyeragaman dan penulisan selesai yng didasarkan di satu macam bacaan, Utsman Bin Affan memerintahkan untuk mengirim satu mushaf ke Syam, satu untuk Mesir, Sabuah Mushaf untuk Basrah, satu mushaf untuk Kufah, ke Mekah dan juga ke Yaman satu buah mushaf. Satu mushaf lagi ditinggalkan di Medinah. Umat sudah puas dengan semua mushaf ini, dan orang menamakannya Mushaf Utsman Bin Affan. Sebab ditulis atas perintah Utsman Bin Affan, kendati tidak ditulis dengan tangannya sendiri.
4. Lahirnya Pemberontakan  dan Terbunuhnya Khalifah Utsman Bin Affan Bin Affan
Enam tahun pertama pemerintahan Utsman Bin Affan merupakan masa-masa keemasan dan kejaan, berbagai prestasi diraih oleh khalifah. Enam tahun kedua merupakan masa-masa yang sulit dan penuh tantangan bagi kekhalifaan Utsman Bin Affan. Mulai muncul usaha merongrong pemerintah dari berbgai pihak. Salah satu penyababnya ialah kebijksanaan pemerintah yang dinilai tidak benar dan lebih menguntungkan keturunan khalifah sendiri.

Diantara penyebab munculnya reaksi negatif  terhp pemerintahan Utsman Bin Affan yang berpotensi menimbulkan pemberontakan ialah:
1. Ketidakpuasan Bani Hasyim atas kekhalifaan Utsman Bin Affan. Persaingan antara Bani Hasyim dengan Bani Umaayah sedah berlangsung sejak seratus tahun sebelum kedatangan Rasulullah, dan semakin menjadi-jadi di persaingan antara Utsman Bin Affan(wakil Bani Umayyah) dengan Ali bin Abi Thalib (wakil Bani Hasyim) di pemilihan khalifah pengganti Umar bin Affan. Ketika Utsman Bin Affan dibaiat timbul kekecewaan dari pihak Bani Hasyim. Menurut Bani Hasyim setelah Rasulullah meninggal, Bani Hasyim merasa merekalah yang lebih layak dan pantas menggantikan Beliau, karena merekalah yang merupakan ahlu bait yang berhak menjadi ahli waris Nabi.
2. Ketidakpuasan orang-orang Arab atas dominasi Kuraisy. Ketidaksenangan kabilah-kabilah Arab di luar Kuraisy atas kekuasaan Utsman Bin Affan (Kuraisy) berdampak dalam pemerintahan Utsman Bin Affan. Kaum  Muhajirin dan Ansar serta kaum veteran pembebasan yang telah meniggalkan Mekah dan Medinah sudah menetap di Syam. Mereka yang meninggalkan Yaman dan Najd atau kabilah-kabilah Arab yang lain di selatan dan timur Semenanjung Arab pergi ke Irak dan menetap disana. Tatkala para penanggung jawab di masa ketiga Khalifah yang mula-mula itu dari  tokoh-tokoh Mekah dan Medinah, yang lain telah pula mulai bertanya: apa kelebihan orang Kuraisy atas kita, dihal andil mereka tidaklah lebih besar dari kita dalam pembebasan dan dalam pembentukan Kedaulatan Islam.
3. nya Perasaan superioritas dan dominasi Arab terhp bangsa yang lain, dalam hal ini datang dari orang-orang Persia, Yahudi dan Nasrani. Dua puluh tahun sebelum kedatanagn Rasulullah bangsa Arab tak punya kekuasaan apa-apa dan telah menjelma menjadi sebuah kekuatan yang sangat besar, yang merongrong dan merebut semua kekuasaan yang mereka miliki.
4.Ketidakpuasan terhp pemerintahan Utsman Bin Affan. Telah dipaparkan sebelumnya bahwa  ketika pemerintahan khalifah Utsman Bin Affan sudah berjalan  beberapa kebijakan yang dilakukan Utsman Bin Affan yang menimbulkan ketidaksenangan masyarakat khalifah. Utsman Bin Affan mengganti beberapa pejabat yang sudah  dengan pejabat baru yang merupakan keturunan dan kerabat Utsman Bin Affan. Puncaknya ketika Marwan bin Hakam yang diangkatnya sebagai sekretaris negara.
Di awalnya reakasi atas kebijaksanaan pemerintahan Utsman Bin Affan hanya dalam bentuk pembicaraan-pembicaraan sekelompok masyarakat yang merasa tidak puas. Walaupun demikian kean ini dari waktu ke waktu betambah besar wujudnya. Kemudian, reaksi ketidaksenangan terhp pemerintahan Utsman Bin Affanmenjadi nyata dan berkobar di setiap daerah. pun reaksi yang  bersifat terbuka  bermula di Irak di tahun 30H. Reaksi ini ditujukan  kedi panglima  Wahid bin Uqbah, gubernur wilayah Irak, Azarbaijan dan Armenia. Peristiwa ini diawali oleh dijatuhinya hukum mati terhp tiga pemuda  yang membunuh Ibnu Haisuman al-Khuzai. Hukuman mati itu telah membuat kemarahan Bani Azad, keturunan pemuda yang dihukum, terhp Walid bin Uqbah. Sebagaimana di Irak, di Medinah juga timbul pergolakan sebagai akibat munculnya  pemberitaan bahwa Khalifah Utsman Bin Affan mundur dari kursi pemerintahan dan akan digantikan akan digantikan oleh Marwan bin Hakam. Berita ini menimbulkan reaksi dsn tanggapan kurang senang dari setiap wilayah, sehingga muncullah suasana yang tak terkedadlikan, kecuali diwilayah Suriah yang diperintah oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
Di tahun 35H. berangkatlah sekitar 500 orang dari Mesir menuju Mekah dengan dalih menunaikan ibh haji. pun tujuan yang sebenarnya  lah mengepung pusat pemerintahann dan memaksa Khalifah untuk melepaskan jabatannya. Beriringan dengan rombongan itu, berangkat pula sebuah gerakan dari Kufah dengan jumlah anggota yang di bawah pimpinan Asham Amiri dan dari Basrah dengan jumlah yang sama pula. Tujuan kedua rombongan ini sama dengan rombongan Mesir, yakni penyerangan terhp Khalifah.Kean semacam ini memaksa Utsman Bin Affanmengambil tindakan tegas. Akan tetapi tindakan itu mendapat perlawanan pula dari pihak pemberontak. Rombongan dari Mesir mendapat dukungan dari sebagian besar masyarakat muslim yang datang dari Kufah dan Basrah. Tuntutan pemberontak yang datang dari   Mesir di bawah pimpinan Muhammad bin Abu Bakar as-Shiddiq membuat kean tidak menentu. Mereka menuntuk khalifah  unruk menyerahkan Marwan bin Hakam atau Khalifah mundur dari jabatannya. Satu tuntutanpun tidak mendapat tanggapan dari Khalifah. Pemberontak kemudian  mengepung rumah Utsman Bin Affan dan terus melakukan teror kepadanya. Disebutkan bahwa pengepungan itu berlangsung hingga empat puluh hari. Kemudian terjadilah suatu peristiwa dan tragedi yang memilukan dalam sejarah Islam tepatnya di hari Jum’at 18 Zulhijjah tahun 35H. Utsman Bin Affan terbunuh di tangan pemberontak yang datang dari Mesir.
Terimakasih telah membca artikel berjudul Masa Pemerintahan Khalifah Utsman Bin Affan

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 5/22/2017

0 komentar Masa Pemerintahan Khalifah Utsman Bin Affan

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak