Home » » Makalah - Syarat-syarat Seorang Mufassir

Makalah - Syarat-syarat Seorang Mufassir

Makalah - Syarat-syarat Seorang Mufassir

Syarat-syarat Seorang Mufassir

BAB I
PENDAHULUAN
   A. Latar Belakang
             Al-Qur’an yang merupakan bukti kebenaran Nabi Muhammad saw. sekaligus sebagai petunjuk umat manusia.[1] Kapan dan dimana pun memeiliki
pelbagai macam keistimewaan. Keistimewaan tersebut antara lain susunan bahasanya yang unik dan mempesonakan, pada saat yang sama mengandung makna-makna yang dapat dipahami oleh siapapun yang memahami bashasanya, walaupun tentunya pemahaman mereka akan berbeda akibat berbagai faktor.
            Melihat betapa urgen dan sentralnya posisi sebuah penafsiran atas kitab suci (al-Qur’an), maka upaya untuk menemukan dan memahami pesan-pesan al-Qur’an dikenal adanya istilah tafsir.[2] Tafsir kata Muhammad Ali al-Sabuny, adalah merupakan kuci gudang simpanan yang tertimbun dalam al-Qur’an.  Tanpa tafsir, orang tidak akan dapat membuka gudang simpanan tersebut untuk mendapatkan mutiara dan permata yang ada di dalamnya.[3] Sedangkan al-Maturidy mengatakan : Tafisr berarti memastikan bahwa apa yang dikehendaki oleh Allah adalah demikian.[4]
            Namun untuk sampai kepada masalah tafsir, diperlukan ilmu tafsir, merupakan pokok dari segala ilmu agama, sebab ia diambil dari al-Qur,an, maka ia menjadi ilmu yang sangat dibutuhkan oleh manusia.[5] Dan ilmu tafsir ini membutuhkan ilmu-ilmu lain yang harus dimiliki oleh setiap orang yang hendak menafsirkan al-Qur’an.
            Al-Qur’an yang kandungannya multidimensional tersebut, bukan hanya menyodorkan ajaran-ajaran agama yang berdimensi teologis ritualistik, seperti aqidah, ibadah dan akhlak, akan tetapi juga mengungkapkan pedoman dan arahan tentang kehidupan sosial pragmatis, seperti ekonomi, politik, budaya serta hubungan antara bangsa, adalah sangat berkepentingan umat amanusia untuk mengetahui makna dan kandungan dari ayat-ayat yang ada dalam al-Qur’an.  Karena redaksi ayat-ayat al-Qur’an, sebagaimana setiap redaksi yang diucapkan atau ditulis, tidak dapat dijangkau maksudnya secara pasti, kecuali oleh pemilik redaksi tersebut,[6] maka seorang mufassir harus memiliki ilmu-ilmu tertentu yang dapat dijadikan alat untuk memahami ajaran-ajaran yang terkandung dalam al-Qur’an.
            Berdasarkan pemaparan tersebut, maka masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengertian tafsir ?
2. Ilmu apa yang diperlukan oleh ilmu tafsir, atau seorang mufassir dalam menafsirkan al-Qur’an ?
BAB II
PEMBAHASAN

     A. Pengertian Tafsir

           Secara etimologis, tafsir berarti menjelaskan dan mengungkapkan.[7] juga berarti keterangan atau penjelasan.[8] Secara bahasa tafsir juga berarti menyingkap dan menampakkan atau menerangkan makna yang abstrak.[9] Sedangkan menurut istilah, kata tafsir sebagai masdar yang berarti menguraikan apa-apa yang dikandung al-Qur’an, baik berupa makna-makna, rahasia-rahasia dan hukum-hukum. Jadi tafsir di sini dipandang sebagai kegiatan ilmiah (dalam arti sebagai metode) yang berfungsi untuk memahami dan menjelaskan al-Qur’an, bukan tafsir al-Qur’an dan bukan pula ilmu-ilmual-Qur’an.[10]   
             Disisi lain dijelaskan bahwa tafsir pada asalnya ialah membuka dan menjelaskan. Pada istilah syara’ ialah menjelaskan ma’na ayat, keadaannya, kisahnya dari sebab karenanya ayat diturunkan dengan lafadz yang menunjukkan kepadanya dengan jelas sekali.[11] Tafsir pada hakekatnya adalah mensyarahkan lafadz yang sukar dipahamkan oleh pendengar dengan uraian yang menjelaskan maksud. Yang demikian itu ada kalanya dengan menyebut muradifnya, atau yang mendekatinya, atau ia mempunyai petunjuk kepadanya melalui suatu jalan adalah (petunjuk).[12] Atau dapat juga dijelaskan bahwa istilah tafsir ialah ilmu yang membahas tentang cara mengucapkan lafadh-lafadh al-Qur’an, makna-makna yang ditunjukkannya ketika dalam keadaan tersusun.[13]
            Menurut Hasby Ash-Shiddieqy, menjelaskan bahwa tujuan mempelajari tafsir ialah memahamkan makna-makna al-Qur’an, hukum-hukumnya, hikmat-hikmatnya, akhlak-akhlaknya dan petunjuk-petunjuk yang lain untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.  Faidah mempelajarinya ialah terpelihara dari salah memahami al-Qur’an. Sedangkan maksud yang diharapkan dari mempelajarinya ialah mengetahui petunjuk-petunjuk al-Qur’an, hukum-hukumnya dengan cara yang tepat.[14]
    B. Syarat Pengetahuan yang Harus Dimiliki bagi Seorang Mufassir  
             Ilmu tafsir membutuhkan ilmu-ilmu lain yang harus dimiliki oleh setiap orang yang hendak menafsirkan al-Qur’an, ilmu-ilmu dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Ilmu bahasa Arab. Dengan ilmu ini akan dapat diketahui syarh  (penjelasan) kosa kata-kosa kata dan arti yang dikandungnya berdasarkan makna asalnya.
2. Ilmu Nahwu , penting karena arti suatu kata akan berbeda disebabkan  perbedaan i’rab  (statusnya dalam suatu kalimat)
3.  Ilmu Sharaf. Dengan ilmu ini akan dapat diketahui berbagai bentuk kata.
4.  Ilmu Ma’any. Dengan ilmu ini akan dapat diketahui
     Kekhususan-kekhususan struktur kalimat.
5. Ilmu Bayan. Dengan ilmu ini akan dapat diketahui kekhususan-kekhususan kalimat dilihat dari segi makna yang ditunjukkannya.
6.  Ilmu Badi’. Dengan ilmu ini akan diketahui segi-segi keindahan kalimat. Tiga ilmu yang terakhir, yakni Ma’any, Bayan dan Badi’, termasuk ilmu yang sangat dipersyaratkan bagi seorang mufassir.
7.  Ilmu Qiraah.  Dengan ilmu ini dapat diketahui cara mengucapkan ayat-ayat al-Qur’an dan makhraj-makhraj huruf.
8.  Sebab nuzul (turunnya ayat).  Dengan sebab nuzul ini akan diketahui arti suatu ayat al-Qur’an berdasarkan peristiwa yang melatar-belakangi turunnya.
9.  Nasikh dan mansukh, agar dapat diketahui dan dibedakan antara lafadh muhkam dari lainnya.
10.Hadis-hadis sahih yang menjelaskan penafsiran lafadh mujmal dan mubham [15]
            Seyogyanya orang yang menekuni bidang tafsir al-Quir’an adalah juga orang yang benar aqidahnya, berpegang kepada Sunnah Nabi saw, mengamalkan apa yang diketahuinya, tidak bertujuan kecuali mengharapkan ridla Allah swt. dan taqarrub kepada-Nya, bersikap wara’, hanya takut dan takwa kepada-Nya, bersikap zuhud dalam kehidupan dunia, berpaling dari keindahan dan hiasan dunia. Karena seseorang yang mencintai dunia, maka sikap itu akan merusak amalnya, sehingga amalnya itu ditujukan untuk memperoleh harta, popularitas, kekuasaan atau sanjungan manusia, atau dengan amalnya itu hendak mencapai keuntungan materil dalam kehidupan dunia fana, sehingga ia termasuk orang yang menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah.[16]
            Manna’ Khalil al-Qattan meringkas beberapa pendapat para ulama mengenai syarat-syarat yang harus dimiliki setiap mufassir seperti berikut :
1. Akidah yang benar, sebab akidah sangat berpengaruh terhadap jiwa pemiliknya dan seringkali mendorongnya untuk mengubah nas-nas dan berkhianat dalam penyampaian berita.  Apabila seseorang menyusun sebuah kitab tafsir, maka dita’wilkannya ayat-ayat yang bertentangan dengan akidahnya dan membawanya kepada mazhabnya yang batil guna memalingkan manusia dari mengikuti golongan salaf dan dari jalan petunjuk.
2. Bersih dari hawa nafsu, sebab hawa nafsu akan mendorong pemiliknya untuk membela kepentingan mazhabnya sehingga ia menipu manusia dengan kata-kata halus dan keterangan menarik seperti dilakukan golongan Qadariah, Syi’ah Rafidah, Mu’tazilah dan para pendukung fanatik mazhab sejenis lainnya.
3. Menafsirkan lebih dahulu al-Qur’an dengan al-Qur’an, karena sesuatu yang masih global pada satu tempat telah diperinci di tempat lain dan sesuatu yang dikemukakan secara ringkas di suatu tempat telah diuraikan ditempat lain.
4. Mencari penafsiran dari sunnah, karena sunnah berfungsi sebagai pensyarah al-Qur’an dan penjelasnya.
5.  Apabila tidak didapati penafsiran dalam sunnah, hendaklah meninjau pendapat para sahabat karena mereka lebih mengetahui tentang tafsir al-Qur’an; mengingat merekalah yang menyaksikan qarinah dan kondisi ketika al-Qur’an diturunkan di samping mereka mempunyai pemahaman (penalaran) sempurna, ilmu yang sahih dan amal yang saleh.
6.  Apabila tidak ditemukan juga penafsiran dalam al-Qur’an, Sunnah maupun dalam pendapat para sahabat, maka sebagian besar ulama dalam hal ini, memeriksa pendapat tabi’in (generasi setelah sahabat), seperti Mujahid bin Jabr, Said bin Jubair, ‘Ikrimah maula (sahaya yang dibebaskan oleh) Ibn Abbas, ‘Ata’ bin Abi Rabah, Hasan al-Basri, Masruq bin ajda’, Said bin al-Musayyab, ar-Rabi’ bin anas, Qatadah, Dahlan bin Muzahim dan tabiin lainnya.  Di antara tabi’in ada yang menerima  seluruh penafsiran dari sahabat, namun tidak jarang mereka juga berbicara tentang tafsir ini dengan istimbat  (penyimpulan) dan istidlal (penalaran dalil) sendiri. Tetapi yang harus menjadi pegangan dalam hal ini adalah penukilan yang sahih, berkenaan dengan hal ini Ahmad berkata :
            Tiga kitab tidak mempunyai dasar; magazi (tempat-tempat terjadinya suatu pertempuran atau sanjungan dan pujian terhadap perbuatan baik seseorang tokoh), malahim (kisah peperangan) dan tafsir (penafsiran). Maksudnya tafsir yang tidak bersandar pada riwayat-riwayat sahih dalam penukilannya.
7. Pengetahuan bahasa Arab dengan segala cabangnya, karena al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dan pemahaman tentangnya amat bergantung pada penguraian mufradat (kosa kata) lafaz-lafaz dan pengertian-pengertian yang ditunjukkan menurut letak kata-kata dalam rangkaian kalimat. Tentang syarat ini mujahid berkata: Tidak diperkenankan bagi orang yang beriman kepada allah dan hari akhir untuk berbicara tentang Kitabullah apabila ia tidak mengetahui berbagai dialek bahasa Arab.
            Makna (suatu kata dalam bahasa Arab itu) berbeda-beda disebabkan perbedaan i’rab (fungsi kata dalam kalimat).  Maka atas dasar ini sangat diperlukan pengetahuan tentang ilmu nahwu (gramatika) dan ilmu tasrif (konyugasi) yang dengan ilmu ini akan diketahui bentuk-bentuk kata.  Sebuah kata yang masih samar-samar maknanya akan segera jelas dengan mengetahui kata dasar (masdar) dan bentuk-bentuk kata turunan (musytaq)-nya.  Demikian juga pengetahuan tentang keistimewaan suatu susunan kalimat dilihat dari segi penunjukannya kepada makna, dari segi perbedaan maksudnya sesuai dengan kejelasan atau kesamaran petunjuk makna, kemudian dari segi keindahan susunan kalimat, yakni tiga cabang ilmu balaghah (retorika); ma’ani, bayan dan badi’, semua itu merupakan syarat sangat penting yang harus dimiliki seorang mufassir mengingat bahwa iapun harus memperhatikan atau menyelami maksud-maksud kemukjizatan al-Qur’an, sedang kemukjizatan tersebut hanya dapat diketahui dengan ilmu-ilmu ini.
8.  Pengetahuan tentang pokok-pokok ilmu yang berkaitan dengan al-Qur’an, seperti ilmu qiraah, karena dengan ilmu ini diketahui bagaimana cara mengucapkan (lafaz-lafaz) al-Qur’an dan dapat memilih mana yang lebih kuat di antara berbagai ragam bacaan yang diperkenankan, ilmu tauhid, dengan ilmu ini diharapkan mufassir tidak menta’wilkan ayat-ayat berkenaan dengan hak Allah dan sifat-sifat-Nya secara melampaui batas hak-Nya, dan  ilmu ushul, terutama usul tafsir dengan mendalami masalah-masalah (kaidah-kaidah yang dapat mempelajari sesuatu makna dan meluruskan maksud-maksud al-Qur’an, seperti pengetahuan tentang asbabun nuzul, nasikh-mansukh dan lain sebagainya.
9. Pemahaman yang cermat sehingga mufassir dapat mengukuhkan sesuatu makna atas yang lain atau menyimpulkan makna yang sejalan dengan nas-nas syari’at.[17]
            Menurut Imam al-Tabari pada awal-awal tafsirnya dalam bagian adab seorang mufassir, bahwa syaratnya adalah :
1. Memiliki keyakinan yang benar dan selalu kuat pada agamanya.
2. Wajib bersandar kepada tradisi Rasulullah saw.
3. Memiliki maksud/niat yang benar, dan
4. Tidak menggunakan i’jab yang memiliki perbedaan-perbedaan .[18]
             Menurut al-Suyuthi  menjelaskan bahwa seorang mufassir juga memiliki penguasaan terhadap :
1. Ilmu bahasan yang dengan ilmu ini diketahui penjelasan kosa kata dan petunjuk-petunjuknya.
2. Menguasai ilmu nahwu , karena makna berubah dan berdasarkan perbedaan i’rab.
3.  Menguasai ilmu sharaf. Karena dengan ilmu ini diketahui al-bina’ (yang tetap)  dan pembentukan kata.
4.  Menguasai ilmu al-balaghah; al-ma’ani, al-bayan dan al-badi’
5.  Menguasai ilmu qiraat
6.  Menguasai ushul fiqhi
7.  Menguasai asbab al-nuzul
8.  Menguasai nasikh mansukh,
9.  Menguasai fiqh
10.Menguasai hadis yang menjelaskan penafsiran yang mujmal dan mubham[19]
              Menurut Mashuri Sirojuddin Iqbal menjelaskan bahwa bila seorang mufassir hendak menafsirkan satu ayat, maka ia hendaklah melihat pokok-pokok pegangan sebagai berikut :
1. Mencari tafsir ayat tersebut dalam al-Qur’an  itu sendiri.. Hal ini dilakukan karena acap kali ayat itu bersifat ringkas disuatu tempat, sedangkan keterangannya terdapat ditempat lain. Tegasnya ayat itu ditafsirkan dengan ayat.
2.  Melihat as-Sunnah atau Hadis. Apabila mufassir tersebut tidak mendapati keterangan dalam ayat lain, maka ia hendaklah mencari as-Sunnah atau Hadis.
3. Melihat keterangan para sahabat. Apabila mufassir tersebut tidak mendapatkan keterangan dalam as-Sunnah, maka ia hendaklah mencari keterangan para sahabat, karena merekaitu lebih mengetahui maksud-maksud ayat yang didengarnya dari Nabi dan mereka dan merekapun menyaksikan sebab-sebab ayat itu diturunkan.
4.  Melihat undang-undang bahasa Arab.  Apabila mufassir tersebut tidak mendapat keterangan dari para sahabat, maka barulah ia menggunakan undang-undang bahasa arab atau menggunakan ijtihadnya.[20]
           Bila hendak memahamial-Qur’an, maka hendaklah menggunakan kitab tafsir yang mu’tabar serta kitab-kitab tafsir yang lain untuk mengetahui penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan oleh para ulama terhadap tafsir yang dimaksudkan.  Dan apabila hendak menerjemahkan suatu ayat, maka harus diperhatikan tentang tafsir lafaz ayat agar terjemahan tidak meleset, sungguh tidak wajar jika menerjemahkan atau menafsirkan al-Qur’an tersebut hanya melalui kekuatan bahasa saja, atau hanya melihat satu tafsir saja, karena tidak menutup kemungkinan apa yang diperpegangi adalah pendapat yang telah dibantah dengan alasan yang lebih kuat oleh orang lain.                 Selain dari empat pokok pegangan tersebut di atas, maka mufassir disyaratkan pula :
1. Mempunyai aqidah yang benar. Aqidah berpengaruh besar bagi mufassir. Apabila seorang mufassir beraqidah jelek, maka kemungkinan ia akan mengubah nas-nas dan akan berhianat dalam meriwayatkan berita, ia akan mena’wilkan ayat-ayat yang bertentangan dengan aqidahnya serta akan menjuruskan tafsirnya kepada madzhabnya yang batal.
2. Tidak dipengaruhi oleh hawa nafsunya.  Hawa nafsunya kadang-kadang mengajak mufassir untuk membela madzhabnya.  Kemudian mereka manipu manusia dengan perketaan-perkataan yang indah, seperti yang dilakukan oleh mazhab Qadariyah, Rafidlah, Mu’tazilah dan lain-lain.
3.  Mengetahui ilmu bahasa Arab dan cabang-cabangnya.
4.  Mengetahui ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan al-Qur’an.
5. Mendalamnya faham yang memungkinkan mufassir itu mentarjihkan suatu makna atas makna yang lain, atau mengistimbathkan makna yang sesuai dengan nash-nash syari’ah.[21]
            Seseorang mufassir harus memiliki berbagai ilmu sebagai alat untuk menafsirkan al-Qur’an. Ilmu-ilmu tersebut sebagaimana kata As-Suyuthi berjumlah 15 ilmu sebagai berikut :
1.  Ilmu Lughah. Dengan ilmu lughah dapat diketahui syarat mufradat-mufradat lafazh dan madlul-madlulnya menurut bentuknya.  Dalam hal ini Mujahid mengatakan bahwa haram hukumnya bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menafsirkan al-Qur’an jika tidak mengetahui seluruh bahasa Arab.
2.   Ilmu nahwu, Dengan ilmu nahwu dapat diketahui tarkib dan i’rab kata-kata tunggal.
3.   Ilmu sharaf/tashrif.  Dengan ilmu ini  dapat diketahui bina/mabni dan shigat-shigat kata-kata tunggal.
4.    Mengetahui ilmu isytiqaaq (akar kata), seperti apakah kata “almasih” itu berasal dari kata”almashu” atau dari kata “assiyahah”.
5.  Ilmu ma’ani. Dengan ilmu ma’ani dapat diketahui khasiyat-khasiyat susunan pembicara dari segi memberi pengertian.
6.  Ilmu Bayan. Dengan ilmu bayan dapat diketahui khasiyat-khasiyat susunan perkataan yang berlain-lainan dari segi jelasnya dilalah dan samarnya dilalah.
7.    Ilmu Badie.  Dengan ilmu ini dapat diketahui bentuk-bentuk keindahan pembicaraan.
8.    Ilmu Qiraat. Dengan ilmu ini dapat diketahui bagaimana membunyikan kalimat-kalimat al-Qur’an dan dapat ditarjihkan sebahagian kemuhtamilan atas sebahagiannya.
9.    Ilmu ushuluddin (ilmu tauhid). Dengan ilmu ini dapat diketahui ayat-ayat yang menunjukkan kepada sifat-sifat Allah yang jaiz, yang mustahil dan yang wajib baginya.
10.  Ilmu Ushul Fiqih. Dengan ilmu ini dapat diketahui bentuk istidlal (menjadikan dalil) bagi hukum-hukum dan cara mengistimbath hukum-hukum.
11.  Ilmu asbabun nuzul dan qisah-qisah.  Dengan ilmu ini diketahui maksud ayat yang diturunkan.
12.  Ilmu nasikh-mansukh. Dengan ilmu ini dapat diketahui ayat mana yang telah dimansukh (dihapus hukumnya) dan ayat mana yang menjadi nasikhnya (yang menghapuskannya)  agar dapat diketahui ketetapan hukumnya.
13.  Ilmu Fiqih.
14.  Hadits-hadits. Dengan hadis-hadis dapat diketahui yang mujmal dan yang mubham.
15.  Ilmu Muhabah. Yaitu ilmu yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beramal dengan ilmunya. Sebab tidak mungkin seseorang itu mengetahui/memahami wahyu/ayat jika orang itu ahli bid’ah atau suka mengerjakan dosa.[22]
            Selain syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seorang mufassir. Maka diharapkan pula memiliki adab kesopanan sebagai berikut :
1.  Berniat baik dan bertujuan benar, sebab amal perbuatan itu bergantung pada niat. Orang yang mempunyai  (berkecimpun dalam) ilmu-ilmu syari’ah hendaknya mempunyai tujuan dan tekad membangun kebaikan umum, berbuat baik kepada Islam dan membersihkan diri dari tujuan-tujuan duniawi agar Allah meluruskan langkahnya dan memamfaatkan ilmunya sebagai buah keikhlasannya.
2.  Berakhlak baik; karena mufassir bagai seorang pendidik yang didikannya itu tidak akan berpengaruh kedalam jiwa tanpa ia menjadi panutan yang diikuti dalam hal akhlak dan perbuatan mulia. Kata-kata yang kurang baik terkadang menyebabkan seseorang enggang memetik mamfaat dari apa yang didengar dan dibacanya, bahkan terkadang dapat mematahkan jalan pikirannya.
3.  Taat dan beramal.  Ilmu akan lebih dapat diterima oleh khalayak melalui orang yang mengamalkannya, ketimbang mereka yang hanya memiliki ketinggian pengetahuan dan kecermatan kajiannya.  Dan perilaku mulia akan menjadikan mufassir sebagai panutan yang baik bagi pelaksanaan masalah-masalah agama yang ditetapkannya.
4. Berlaku jujur dan teliti dalam penukilan, sehingga mufassir tidak berbicara atau menulis kecuali setelah meneliti apa yang diriwayatkannya. Dengan cara ini ia akan terhindar dari kesalahan dan kekeliruan.  
5. Tawadui’ dan lemah lembut, karena kesombongan ilmiah merupakan dinding kokoh yang menghalangi antara seorang alim dengan kemamfaatan ilmunya.
6.  Berjiwa mulia, seharusnyalah seseorang alim menjauhkan diri dari hal-hal yang remeh serta tidak mengelilingi pintu-pintu kebesaran bagai penguasa bagi peminta minta yang buta.
7. Vokal dalam menyampaikan kebenaran, karena jihat yang paling utama adalah menyampaikan kalimat yang hak dihadapan penguasa zalim.
8.  Berpenampilan baik yang dapat menjadikan mufassir berwibawa dan terhormat dalam semua penampilannya secara umum, juga dalam cara duduk, berdiridan berjalan, namun sikap ini hendaknya tidak dipaksa-paksakan.
9. Bersikap tenang dan mantap.  Mufassir hendaknya tidak tergesa-gesa dalam  berbicara tapi hendaknya ia berbicara dengan tenang, mantap dan jelas kata demi kata.
10.Mendahulukan orang yang lebih utama daripada dirinya.  Seorang mufassir hendaknya tidak gegabah untuk menafsirkan dihadapan orang yang lebih pandai pada waktu mereka masih hidup dan tidak pula merendahkan mereka sesudah mereka wafat.  Tetapi hendaknya ia menganjurkan belajar dari mereka dan membaca kitab-kitabnya.
11.Mempersiapkan dan menempuh langkah-langkah penafsiran secara baik, seperti memulai dengan menyebutkan asbabun nuzul, arti kosa kata, menerangkan susunan kalimat,  menjelaskan segi-segi balagah dan i’rab yang padanya bergantung penentuan makna. Kemudian menjelaskan makna umum dan menghubungkannya dengan kehidupan umum yang sedang dialami umat manusia pada masa itu dan kemudian mengambil kesimpulan dan hukum.[23]
BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
            Berdasarkan  uraian terdahulu, maka dapatlah diberikan kesimpulan sebagai berikut :
      1. Bagi seorang mufassir, maka harus menguasai ilmu-ilmu seperti : Ilmu Lughah atau bahasa Arab, Nahwu, Al-Balaghah (al-Ma’ani, al-Bayan dan al-Badi), Qiraat, Dasar-Dasar agama, Ushul Fiqhi, Asbab an-Nuzul, Nasikh-Mansukh, Fiqih, Hadis, Ushuluddin Sharaf/tashrif, dan Ilmu Muhabah.
      2. Selain persyaratan tersebut, seorang mufassir harus pula memiliki adab seperti ; Berniat baik dan bertujuan benar, berakhlak mulia, taat dan beramal, berlaku jujur dan teliti dalam penukilan, tawadu’ dan lemah lembut, berjiwa mulia, vokal, berpenampilan baik, bersikap tenang dan mantap, mendahulukan orang yang lebih utama, dan mempersiapkan serta menempuh langkah-langkah penafsiran secara baik.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Quranul Karim

‘Aridi, Ali Hassan al. Sejarah dan Metodologi Tafsir, Cet. I; Jakarta : CV Rajawali Press, 1992

Al-Jurjani, Al-Ta’rifat. Mesir : Mustafa al-Babi al-Halabi, 1938

As-Shiddieqy, Hasby, Sejarah dan Pengantar Ilmu Tafsir al-Qur’an, Jakarta : Bulan Bintang, 1974. 

As-Suyuthi, Al-Itqam fi Ulumil Qur,an. Beirut  Libanon : Dar al Fikr, t.th.

Iqbal, Mashuri Sirojuddin, Pengantar Ilmu Tafsir. Cet. X; Bandung : Penerbit Angkasa, 1989

Khalifah, Ibrahim Abndul Rahman Muhammad. Dirasat fiManahij al-Mufassirin. Juz I; Kairo : Maktabah al-Azhar, 1979

Qattan, Mannan Khalil al. Mabahis fi Ulumil Qur’an.Diterjemahkan oleh Muzakkir AS. Dengan judul : Studi-Studi Ilmu al-Qur’an. Cet. X; Bogor : Pustaka Lentera Antar Nusa, 2007.

Salim, Abdd. Muin, Metode Penelitian Tafsir, Selanjutnya Disebut Abdul Muin Salim, Metode Tafsir, Ujungpandang : IAIN Alauddin, 1994.

Shihab, M. Quraish. Membumikan al-Qur’an dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung : Mizan, 1993

Zahabi, Muhammad Husain al, Al-Tafsir wa al-Mufassirun. Juz I; Kairo : Dar al-Kutub al-Hadisah, 1976.

Zarqany, Muhammad Abd. Al-Aziz al. Manahil al-Irfan. Juz I; Mesir : Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, t.th. 




[1] Lihat. Q.S. al-Baqarah (2) : 185
[2] Tafsir didefenisikan sebagai keterangan dan penjelasan arti dan maksud ayat-ayat al-Qur’an sebatas kemampuan manusia. Lihat. Muhammad Husain al-Zahabiy, al-Tafsir wa al-Mufassirun, Jilid I (Kairo : Dar al-Kutub al-Hadisah, 1976), h. 15
[3] Muhammad Abd al-Aziz al-Zarqany, Manahil al-Irfan, juz I (Mesir : Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, t.th.), h. 470
[4] Ali Hasan al-‘Aridi, Sejarah dan Metodologi Tafsir, (Cet. I, Jakarta : CV RajawaI Press, 1992), h. 3
[5] Ibid., h. 4
[6] M.Quraish Shihab, Membumikan  al-Qur’an dan Peran Wahyu dalam Kehidupan masyarakat (Bandung : Mizan, 1993), h. 75
[7] Ali Hassan al-‘Aridi, Op. Cit., h. 3
[8] Mashuri Sirojuddin Iqbal, Pengantar Ilmu Tafsir, (Cet. X; Bandung : Penerbit Angkasa, 1989), h. 86
[9] Lihat Manna Khalil al-Qattan, Mabahis fi Ulumil Qur’an, diterjemahkan oleh Muzakkir AS., dengan judul : Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an. (Cet. X;  Bogor : Pustaka Lentara Antar Nusa, 2007), h.455
[10] Lihat, Abdul Muin Salim, Metode Penelitian Tafsir, Selanjutnya disebut Abdul Muin Salim, Metode Tafsir  (Ujungpandang; IAIN Alauddin,1994), h. 1
[11] Lihat, Al-Jurjani, Al-Ta’rifat  (Mesir : Mustafa al-Babi al-Halabi,1938),h.55
[12] Liha, Ibid,h. 173-174
[13] Ali Hassan Al-‘Aridi, Loc. Cit.
[14] Hasby Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Tafsir al-Qur’an, (Jakarta : Bulan Bintang, 1974), h. 174
[15] Lihat, Ali Hassan al-‘Aridi. Op. Cit.,h. 4
[16] Lihat, Ibid.
[17]Lihat,  Ibid., h. 462-465
[18] Lihat, Ibrahim abd. Rahman Muhammad Khalifah, Dirasat fi Manahij al-Mufassirin, Juz I (Kairo : Maktabah al-Azhar, 1979), h. 39-43
[19] Lihat, ibid
[20] Lihat Mashuri Sirojuddin Iqbal, Op. Cit., h. 100
[21] Ibid., h. 101
[22] Lihat, As-Suyuthi,  Al-Itqam fi Ulumil Qur’an, (beirut Libanon : Dar al-Fikr, t.th), h.180-181
[23] Lihat, Manna Khalil al-Qattan, Op.Cit., h. 465-466
Terimakasih telah membca artikel berjudul Makalah - Syarat-syarat Seorang Mufassir

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 5/04/2017

0 komentar Makalah - Syarat-syarat Seorang Mufassir

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak