Home » » Makalah - Qawaid al - Tafsir

Makalah - Qawaid al - Tafsir

Makalah - Qawaid al - TafsirBAB I
PENDAHULUAN
    A.    Latar Belakang
Kitab suci Alquran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw merupakan sumber petunjuk dan ilham abadi bagi tingkah laku manusia, baik individual maupun kolektif. Selain itu, ia juga merupakan  pedoman yang sangat diperlukan manusia dalam mencari jalan hidup yang berdasarkan keadilan, kebenaran, kebajikan, kebaikan dan moral yang tinggi.  Kitab suci ini dapat memuaskan “kehausan akan ilmu pengetahuan para ulama dan pemikir  dari berbagai kelas, yang selama berabad-abad mencoba mengambil sifat Alquran yang menakjubkan, dari sudut pandang tata bahasa dan kesusastraannya, dan berusaha keras memahami makna yang kaya dan kebenaran yang mendalam tentang alam dan kehidupan yang termaktub di dalamnya. [1]

Alquran telah memukau banyak orang dari berbagai tingkat intelektual, dari bermacam-macam sikap dan watak, yang hidup dalam berbagai era dan zaman. Alquran juga telah menunjukkan kepada mereka tentang kecermatannya yang mendalam, keindahan tulisannya, serta sifat menakjubkannya yang tak dapat diragukan lagi.
Alquran pada hakikatnya menempati posisi sentral dalam studi-studi keislaman. Keberadaan Alquran di tengah-tengah umat Islam, ditambah dengan keinginan mereka untuk memahami petunjuk dan mukjizat-mukjizatnya, telah melahirkan sekian banyak disiplin ilmu keislaman dan metode-metode penelitian. Ini dimulai dengan disusunnya kaidah-kaidah ilmu nahwu oleh Abu Al-Aswad Al-Dualiy, atas petunjuk 'Ali ibn Abi Thalib (w. 661 M), sampai dengan lahirnya ushūl al-fiqh oleh Imam Al-Syafi'i (767-820 M), bahkan hingga kini, dengan lahirnya berbagai metode penafsiran Alquran (yang terakhir metode mawdhū’iy).[2]
Dewasa ini, sangat banyak tantangan yang dihadapi masyarakat Islam, bahkan umat manusia, yang menanti petunjuk pemecahannya. Ini harus diantisipasi, sebab bukankah kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allah berfungsi memberi jalan keluar bagi perselisihan dan problem-problem masyarakat.[3] Umat Islam, melalui para pakarnya, dituntut untuk memfungsikan Alquran sebagaimana mestinya, dan hal ini tidak mungkin dapat terlaksana tanpa pemahaman secara baik atas petunjuk-petunjuk kitab suci itu.[4]
Fungsi ideal Alquran yaitu sebagai petunjuk bagi manusia ke jalan yang diridhai Allah dan sebagai jalan keluar dari kegelapan menuju alam yang terang benderang.[5] Tetapi dalam realitasnya fungsi Alquran tersebut tidak begitu saja dapat diterapkan, tetapi membutuhkan pemikiran dan analisis yang mendalam. Karena di dalam Alquran terdapat banyak hal yang samar dan global, sehingga untuk mengatasinya diperlukan tafsir yang menjelaskan petunjuk ayat Alquran.[6]
Tafsir sangat dibutuhkan, mengingat peranannya dalam menjelaskan makna kandungan Alquran sangat besar. Setiap orang yang ingin mencapai tujuan tertentu akan berhasil dan sukses dalam mencapai tujuan tersebut, asalkan menempuh jalannya dengan cara yang sesuai. Begitu pun dalam penafsiran Alquran diperlukan aturan-aturan atau rambu-rambu sebagai pedoman, agar tidak kehilangan arah ketika menafsirkan dan tetap menemukan petunjuk Alquran.
Tafsir bukan hanya berfungsi sebagai penjelasan atas informasi kandungan ayat-ayat Alquran, tetapi juga membetulkan kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam memahami Alquran, sekaligus memotivasi dan mengarahkan kepada penerapan atau pengamalan makna ayat-ayat Alquran tersebut dalam kehidupan sehari-hari.[7] Karena posisi penafsiran Alquran yang sangat urgen sehingga diperlukan kehati-hatian dan kesungguhan, yaitu dengan tetap berpegang pada kaidah-kaidah untuk menghindari kesalahan yang fatal dalam menafsirkan.
Kaidah-kaidah yang dibutuhkan oleh serang mufassir dalam memahami Alquran berpusat pada kaidah-kaidah bahasa Arab, pemahaman terhadap dasar-dasarnya, merasakan gaya bahasanya, dan mengetahui rahasia atau hikmahnya. Karena Alquran telah diturunkan dengan bahasa Arab, sebagaimana firman Allah dalam QS Yusuf (12): 2
  !$¯RÎ) çm»oYø9tRr& $ºRºuäöè% $wŠÎ/ttã öNä3¯=yè©9 šcqè=É)÷ès? ÇËÈ 
Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Alquran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.[8]

            Oleh karena itu, dalam memahami makna kata dan ayat dalam Alquran dibutuhkan penguasaan bahasa Arab, bahkan penguasaan bahasa Arab ini dijadikan salah satu persyaratan utama bagi para mufassir atau pengkaji Alquran, di samping persyaratan yang lainnya. Dan untuk memahami kandungan Alquran diperlukan kaidah-kaidah tafsir, baik itu yang berkaitan dengan kebahasaan, ushul al-fiqh dan sebagainya, maupun yang dirumuskan dari Alquran sendiri.
A.    Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Apa pengertian Qawaid Al- tafsir?
2.      Bagaimana Tata cara menafsirkan Alquran?
3.      Bagaimana pembagian Kaidah-kaidah tafsir

BAB II
PEMBAHASAN

     A.    Pengertian Qawaid al - Tafsir

Menurut bahasa Qawa’id artinya kaidah-kaidah atau prinsip-prinsip dasar tafsir. Sedangkan yang dimaksud Qawaid Tafsir dalam hal ini ialah kaidah-kaidah yang diperlukan oleh para mufasir dalam memahami ayat-ayat Alquran. Kaidah-kaidah yang diperlukan para mufasir dalam memahami Alquran meliputi penghayatan uslub-uslubnya, pemahaman asal-asalnya, penguasaan rahasia-rahasianya dan kaidah-kaidah kebahasaan. Kaidah-kaidah tafsir dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah qawā’id al-tafsīr terdiri dari dua kata, yaitu qawā’id dan al-tafsīr. Kata قواعد merupakan bentuk jamak dari قاعدة yang berarti dasar, prinsip, asas, pondasi.[9] Sebagaimana dalam QS al-Baqarah (2): 127
øŒÎ)ur ßìsùötƒ ÞO¿Ïdºtö/Î) yÏã#uqs)ø9$# z`ÏB ÏMøt7ø9$# ã@ŠÏè»yJóÎ)ur
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail.

Secara istilah didefinisikan dengan undang-undang, sumber, dasar yang digunakan secara umum yang mencakup semua yang partikular.[10]
Adapun kata التَّفْسِيْرُ secara bahasa merupakan bentuk mashdar dari kata kerja فَسَّرَ- يُفَسِّرُ yang berarti penjelasan. Di antaranya firman Allah swt dalam QS al-Furqān (25): 33
Ÿwur y7tRqè?ù'tƒ @@sVyJÎ/ žwÎ) y7»oY÷¥Å_ Èd,ysø9$$Î/ z`|¡ômr&ur #·ŽÅ¡øÿs? ÇÌÌÈ  
Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.[11]
Kata  التَّفْسِيْرُ diambil dari kata الْفَسْرُ yang berarti penjelasan dan penyingkapan.[12] Dalam Lisān al-‘Arab الفسر berarti menyingkap, menampakkan atau membuka sesuatu yang tertutup, sedangkan التفسير mengungkapkan atau menunjukkan maksud lafadz yang musykil (sulit atau problematis). Al-fasr juga diartikan sebagai pengamatan dokter terhadap air, dan dikatakan bahwa kata al-tafsirah berarti urine yang dipergunakan untuk menunjukkan adanya penyakit, dan para dokter menelitinya berdasarkan warna urine untuk menunjukkan adanya penyakit bagi seseorang.[13] Maka kita dihadapkan pada dua hal: materi yang diamati dokter (berfungsi sebagai “medium”) untuk  menyingkapkan penyakit, yaitu tafsirah, dan tindakan pengamatan itu sendiri dari pihak dokter, yaitu tindakan yang memungkinkannya meneliti materi dan menyingkapkan “penyakit”. Ini berarti bahwa tafsīr, yaitu menemukan penyakit, menuntut adanya materi (objek) dan pengamatan (subjek).[14]
Kata tafsir terkadang digunakan dalam penyingkapan yang bersifat indrawi (hissīy) dan terkadang dalam menyingkap makna-makna yang bersifat rasional (ma’qūlah).[15]
Secara terminologi terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama.
Menurut Al-Zarkasyī tafsir adalah ilmu untuk memahami Kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, menjelaskan maknanya, serta mengambil hukum-hukum dan hikmahnya.[16]
Tafsir menurut sebagian ulama adalah ilmu yang membahas tentang petunjuk-petunjuk atau makna-makna Alquran yang dimaksudkan oleh Allah swt dan diperoleh berdasarkan atas kemampuan manusia.[17]
Sebagian ulama ada pula yang membatasi tafsir pada aspek-aspek eksternal dari teks, selain teks itu sendiri, sehingga tafsir adalah ilmu tentang turunnya ayat, surat, dan kisah-kisah yang berkenaan dengan ayat, sebab-sebab turunnya ayat, kronologi makkiyyah dan madaniyyah, muhkam dan mutasyābih, nāsikh dan mansūkh, khāsh dan ‘ām, muthlaq dan muqayyad, mujmal dan mufassar. Selain itu ada yang menambahkan ilmu tentang: halal dan haram, janji dan ancaman, perintah dan larangan, pelajaran (hikmah) dan perumpamaan.[18]
Dari pengertian-pengertian tafsir yang ada dapat disimpulkan bahwa tafsir adalah ilmu yang membahas kandungan Alquran sesuai kemampuan manusia, dan mencakup semua (pengetahuan-pengetahuan) yang diperlukan untuk memahami makna Alquran dan menjelaskan maksudnya.
 Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa kaidah-kaidah tafsir adalah pedoman-pedoman yang disusun ulama dengan kajian yang mendalam guna mendapatkan hasil yang maksimal dalam memahami makna kandungan Alquran, hukum-hukum dan petunjuk-petunjuk yang terkandung di dalamnya.[19]

     B.     Tata cara menafsirkan Alquran

Agar fungsi-fungsi Alquran dapat terwujud, maka kita harus menemukan makna-makna firman Allah saat menafsirkan Alquran. Seseorang yang hendak menafsirkan Alquran hendaknya terlebih dahulu mengetahui dan meyakini dengan baik bahwa Alquran berisi berbagai informasi keilmuwan dan mengayomi sagala bentuk kemaslahatan manusia. Mufassir dituntut untuk memperhatikan cakupan pengertian dan keserasian makna yang ditunjuk oleh redaksi ayat Alquran. Di samping itu harus tetap memelihara dan memperhatikan semua konsekuensi makna yang terkandung dalam redaksi ayat, serta makna lain yang mengarah kepadanya, yaitu makna yang tidak terjangkau oleh penyebutan redaksi ayat, tetapi relevan dengannya.[20]
Pokok pegangan dalam menafsirkan Alquran, ialah: Hadis serta kaidah-kaidah bahasa Arab dan uslub-uslubnya.
Menurut para ulama, seseorang yang hendak menafsirkan ayat Alquran, hendaklah lebih dahulu mencari tafsir ayat tersebut di dalam Alquran sendiri, karena kerap kali ayat-ayat itu bersifat global di suatu tempat, sedang penjelasannya terdapat di tempat lain (ayat lain), terkadang ayat itu bersifat ringkas di suatu tempat, dan penjelasannya ditemukan di tempat lain (ayat lain). Lantaran yang lebih mengetahui makna Alquran secara tepat hanyalah Allah. Jika tidak ada ayat yang dapat dijadikan tafsir bagi ayat itu, hendaklah memeriksa hadis-hadis Nabi. Karena sunnah merupakan penjelas makna ayat Alquran. Jika tidak menemukan di dalam sunnah hendaklah merujuk kepada perkataan sahabat, sesungguhnya mereka lebih tahu mengenai hal itu lantaran mereka mendengar sendiri dari mulut Rasulullah dan menyaksikan sebab-sebab turunnya ayat dan suasana yang meliputi ketika turunnya, mereka juga memiliki pemahaman bahasa Arab yang benar, ilmu yang benar dan amal shalih.[21]
Menurut al-Zarkasyi seseorang yang hendak menafsirkan Alquran, hendaklah terlebih dahulu memeriksa riwayat, lalu mengambil makna yang sahihnya. Sesudah itu hendaklah ia memeriksa perkataan sahabat. Kemudian dari itu barulah berpegang kepada undang-undang bahasa dan barulah menafsirkan menurut makna-makna yang dikehendaki oleh ilmu bahasa itu.

     C.    Kaidah-kaidah Tafsir

Kaidah-kaidah khusus yang dibutuhkan oleh mufassir dalam memahami ayat-ayat Alquran seperti bahasa Arab beserta cabang-cabangnya, ushulul fiqh dan yang lainnya. Alquran diturunkan dalam bahasa Arab,[22] sehingga untuk memahaminya tidak ada jalan lain bagi pengkaji Alquran dan para mufassir kecuali diperlukan adanya penguasaan kaidah-kaidah yang berpusat pada kaidah-kaidah bahasa Arab. Di antara kaidah-kaidah yang perlu dipahami adalah:
a.      Al-dhamāir (الضما ئر)
Dalam kaidah dhamīr (kata ganti) terdapat beberapa aturan, di antaranya:
1.      الأصل فى الضمير للاختصار.[23]
Dhamīr pada dasarnya untuk mempersingkat perkataan, untuk menggantikan penyebutan kata yang banyak dan sebagai ganti dari lafadz-lafadz tersebut (menempati tempatnya) tanpa merubah makna yang dimaksud dengan tanpa pengulangan. Misalnya: dalam QS Al-Ahzāb (33): 35
£tãr& ª!$# Mçlm; ZotÏÿøó¨B #·ô_r&ur $VJÏàtã
Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.  

Dhamīr (هم) di sini menggantikan kedudukan sekitar 20 kata yang ada pada sebelumnya jika disebutkan.
2.      الأصل أن يقدم ما يدل عليه الضمير Dhamīr harus mempunyai marja’ sebagai tempat kembalinya. Misalnya: dalam QS al-Baqarah (2):282
#sŒÎ) LäêZtƒ#ys? AûøïyÎ/ #n<Î) 9@y_r& wK|¡B çnqç7çFò2$$sù 4
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah,[24] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.

Dhamīr hā pada kata (فاكتبوه) kembali pada kata دين)).[25]
3.      المرجع الذي يعود إليه ضمير الغيبة, يكون ملفوظا به سابقا عليه مطابقا له [26] 
Marja’ sebagai tempat kembalinya dhamīr ghāib (kata ganti ketiga) disebutkan sebelumnya dan sepadan dengannya. Misalnya: dalam QS Hūd (11): 42
 3yŠ$tRur îyqçR moYö/$#
Dan Nuh memanggil anaknya.
4.      الأصل عود الضمير على أقرب مذكور Pada dasarnya dhamīr itu kembali pada kata yang disebutkan paling dekat. Misalnya: dalam QS al-An’ām (6): 112
y7Ï9ºxx.ur $oYù=yèy_ Èe@ä3Ï9 @cÓÉ<tR #xrßtã tûüÏÜ»ux© ħRM}$# Çd`Éfø9$#ur ÓÇrqムöNßgàÒ÷èt/
4n<Î) <Ù÷èt/ t$ã÷zã ÉAöqs)ø9$# #Yráäî

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).
Obyek pertama (al-maf’ūl al-awwal) yaitu (شياطين الإنس و الجن) diakhirkan supaya dhamīr هم dari kata (بعضهم) dapat dikembalikan padanya secara dekat.[27]
5.      الأصل توافق الضمائر في المرجع حذرا من التشتيت Jika terdapat banyak dhamīr maka marja’nya adalah sama untuk menghindari ketercerai-beraian. Misalnya dalam QS al-Fath (48): 9
(#qãZÏB÷sçGÏj9 «!$$Î/ ¾Ï&Î!qßuur çnrâÌhyèè?ur çnrãÏj%uqè?ur çnqßsÎm7|¡è@ur Zotò6ç/ ¸xϹr&ur ÇÒÈ  
Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya. dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang

Dhamīr-dhamīr ini kembali kepada lafadz (الله).[28]
b.      Al-Ta’rīf dan al-Tankīr (التعريف و التنكير)
Apabila terjadi pengulangan isim, maka akan bisa terjadi empat kemungkinan keadaan yang masing-masingnya membawa konsekwensi makna yang berbeda. Kemungkinan-kemungkinan tersebut adalah:
1.      Ma’rifah-Ma’rifah.
Misalnya dalam QS al-Fātihah (1): 6&7
$tRÏ÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ   xÞºuŽÅÀ tûïÏ%©!$# |MôJyè÷Rr& öNÎgøn=tã
Tunjukilah[8] Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka.

Lafadz (صراط) yang pertama dima’rifatkan dengan ال dan lafadz (صراط) yang kedua dima’rifatkan dengan idhāfah kepada isim mawshūl. Umumnya ma’rifah yang kedua adalah ma’rifah yang pertama, sehingga kedua lafadz tersebut mempunyai satu makna.
2.      Nakirah-Nakirah.
Misalnya dalam QS al-Rūm (30): 54
 ª!$# Ï%©!$# Nä3s)n=s{ `ÏiB 7#÷è|Ê ¢OèO Ÿ@yèy_ .`ÏB Ï÷èt/ 7#÷è|Ê Zo§qè% ¢OèO Ÿ@yèy_ .`ÏB Ï÷èt/ ;o§qè% $Zÿ÷è|Ê Zpt7øŠx©ur  
Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.

            Dalam hal ini, umumnya nakirah yang kedua dan selanjutnya memiliki makna yang berbeda dari nakirah yang pertama. Di dalam ayat tersebut ada lafadz (ضعف) berulang sampai tiga kali, yang dimaksud dengan kata (ضعف) yang pertama adalah nuthfah, yang kedua adalah  kanak-kanak, dan yang ketiga adalah lemah pada masa usia lanjut.
3.      Nakirah-Ma’rifah.
Misalnya dalam QS al-Muzammil (73): 15&16
!$uKx. !$uZù=yör& 4n<Î) šcöqtãöÏù Zwqßu ÇÊÎÈ   4Ó|Âyèsù ãböqtãöÏù tAqߧ9$# 
Sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Fir'aun. Maka Fir'aun mendurhakai Rasul itu.                              
                        Lafadz (رسول) pertama adalah nakirah dan yang kedua ma’rifah (الرسول), maka yang kedua sama dengan yang pertama. Dalam hal ini pengertiannya sama yaitu Nabi Musa as.
4.                  Ma’rifah-Nakirah.
            Jika isim yang pertama adalah ma’rifah kemudian diulang dengan menggunakan isim nakirah, maka tidak bisa dimutlakkan kepada perkataan itu, tetapi tergantung qarīnahnya (keterangan-keterangan) yang ada.
            Ada kalanya qarīnah itu menunjukkan adanya perbedaan makna. Misalnya dalam QS Ghāfir (40): 53-54
ôs)s9ur $oY÷s?#uä ÓyqãB 3yßgø9$# $oYøOu÷rr&ur ûÓÍ_t/ Ÿ@ƒÏäÂtóÎ) |=»tFÅ6ø9$# ÇÎÌÈ
   Wèd 3tò2ÏŒur Í<'rT{ É=»t6ø9F{$# ÇÎÍÈ  
Dan Sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil, untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berfikir.
            Menurut al-Zamakhsyarī, الهدى)) yang pertama ma’rifah, maksudnya adalah semua yang diberikan kepada Nabi Musa, baik itu agama, mukjizat dan syariah. Sedangkan (هدى) yang kedua nakirah, maksudnya adalah sebagai petunjuk.[29]
            Ada kalanya qarīnah itu menunjukkan kesatuan makna. Misalnya dalam QS al-Zumar (39): 27-28
ôs)s9ur $oYö/uŽŸÑ Ĩ$¨Y=Ï9 Îû #x»yd Èb#uäöà)ø9$# `ÏB Èe@ä. 9@sWtB öNßg¯=yè©9 tbr㍩.xtGtƒ ÇËÐÈ
  $ºR#uäöè% $ŠÎ/ttã uŽöxî ÏŒ 8luqÏã öNßg¯=yè©9 tbqà)­Gtƒ ÇËÑÈ 

Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini Setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran, (ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.

c.       Al-Tadzkīr dan Al-Ta’nīts (التذكير و التأنيث)
1.      Al-ta’nīts ada dua: hakiki dan non hakiki (majāzī). Umumnya untuk ta’nīts yang hakiki , huruf tā’ ta’nītsnya tetap pada fi’l (kata kerjanya), dan tidak dihilangkan. Kecuali apabila antara kata kerja dan fā’il (subyeknya) terpisah maka tā’ ta’nītsnya dihilangkan. Tā’ ta’nīts lebih diutamakan tetap pada kata kerja apabila subyeknya mu’annats hakiki. Sebaliknya, apabila  subyeknya itu mu’annats majāzī dan ada pemisah antara subyek dan predikatnya, maka tā’ ta’nīts lebih baik dibuang dari predikatnya, misalnya dalam QS al-Baqarah (2): 275
`yJsù ¼çnuä!%y` ×psàÏãöqtB `ÏiB ¾ÏmÎn/§
Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya.[30]
2.      Apabila dhamīr atau ism isyārah berada di antara mubtada’ dan khabar yang salah satunya mudzakkar (jenis laki-laki) dan yang lain muannats (jenis perempuan), maka dhamīr atau ism isyārah itu boleh dituliskan dalam bentuk mudzakkar atau  muannats. Misalnya dalam QS al-Kahfi (18): 98
tA$s% #x»yd ×puH÷qu `ÏiB În1§ 
Dzulkarnain berkata: "Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku.

3.      Setiap isim-isim jenis boleh digolongkan berjenis laki-laki (mudzakkar), karena melihat dari segi jenisnya, dan juga boleh dijadikan berjenis perempuan (mua’annats), mengingat segi  jamā’ah (kolektif). Misalnya dalam QS al-Hāqqah (69): 7
öNåk¨Xr(x. ã$yfôãr& @@øƒwU 7ptƒÍr%s{ ÇÐÈ  
Seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).

Dan dalam QS al-Qamar (54): 20
äíÍ\s? }¨$¨Z9$# öNåk¨Xr(x. ã$yfôãr& 9@øƒwU 9Ïès)YB ÇËÉÈ  
                                                                                                                                                     Yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok kurma yang tumbang.[31]

d.      Al-Suāl wa al-Jawāb (pertanyaan dan jawaban)
1.      Jawaban itu pada dasarnya harus sesuai dengan pertanyaannya jika pertanyaan tersebut sesuai arah. Kecuali ada dalil yang memungkinkannya untuk keluar dari dasar tersebut.
Tetapi terkadang ada jawaban yang tidak sesuai soalnya, sebagai peringatan bahwa yang ditanyakan seharusnya mengenai jawaban itu, dan ini disebut al-uslūb al-hakīm oleh al-Sakākīy.
Misalnya dalam QS al-Syu’arā’ (26): 23-28 mengenai jawaban Musa atas pertanyaan Fir’aun.
tA$s% ãböqtãöÏù $tBur >u šúüÏJn=»yèø9$# ÇËÌÈ   tA$s% >u ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur $tBur !$yJßgoYøŠt/ ( bÎ) LäêZä. tûüÏZÏ%qB ÇËÍÈ   tA$s% ô`yJÏ9 ÿ¼çms9öqym Ÿwr& tbqãèÉKtGó¡n@ ÇËÎÈ   tA$s% ö/ä3š/u >uur ãNä3ͬ!$t/#uä tûüÏ9¨rF{$# ÇËÏÈ   tA$s% ¨bÎ) ãNä3s9qßu üÏ%©!$# Ÿ@Åöé& óOä3ös9Î) ×bqãZôfyJs9 ÇËÐÈ   tA$s% >u É-ÎŽô³yJø9$# É>̍øóyJø9$#ur $tBur !$yJåks]øŠt/ ( bÎ) ÷LäêZä. tbqè=É)÷ès? ÇËÑÈ  

Fir'aun bertanya: "Siapa Tuhan semesta alam itu?" Musa menjawab: "Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (Itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya". Berkata Fir'aun kepada orang-orang sekelilingnya: "Apakah kamu tidak mendengarkan?" Musa berkata (pula): "Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu". Fir'aun berkata: "Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila". Musa berkata: "Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal".
            Fir’aun menanyakan tentang hakikat Tuhan dan jenis Tuhan yaitu dengan pertanyaan وما رب العالمين)), akan tetapi nabi Musa as menjawab tentang sifat Tuhan, karena pertanyaan tentang hakikat Tuhan adalah salah, sebab Tuhan tidak memiliki jenis dan dzat Tuhan tidak diketahui, tidak dapat diraba dan dibayangkan. Jadi, Nabi Musa tidak menjawab pertanyaan Fir’aun tapi menjawab dengan menjelaskan sifat Tuhan sebagai petunjuk untuk mengetahuiNya. Karena heran tehadap jawaban yang diberikan karena tidak sesuai dengan pertanyaan yang diajukannya, Fir’aun lalu bertanya kepada orang di sekelilingnya (ألا تستمعون). Atas pertanyaan itu Nabi Musa menjawab dengan ربكم و رب آبائكم الأولين)), jawaban Musa yang kedua ini membatalkan keyakinan mereka tentang ketuhanan Fir’aun. Mendapatkan jawaban itu Fir’aun semakin menghina Musa dengan perkataan (إن رسولكم الذى أرسل إليكم لمجنون). Menyadari kebodohan mereka Musa lalu menjawab dengan ...إن كنتم تعقلون)).
Kadang-kadang jawaban lebih dari yang dibutuhkan. Misalnya dalam QS Thāhā (20): 17-18
$tBur šù=Ï? y7ÎYŠÏJuŠÎ/ 4ÓyqßJ»tƒ ÇÊÐÈ   tA$s% }Ïd y$|Átã (#àsž2uqs?r& $pköŽn=tæ ·èdr&ur $pkÍ5 4n?tã ÏJuZxî uÍ<ur $pkŽÏù Ü>Í$t«tB 3t÷zé& ÇÊÑÈ  
 Apakah itu yang di tangan kananmu, Hai Musa? Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya".
            Nabi Musa menjawab dengan jawaban yang lebih dari pertanyaan Allah swt, karena menikmati dan merasa nyaman berdialog dengan Allah swt.
Kadang-kadang juga jawaban itu kurang dari pertanyaan. Misalnya dalam QS Yunus (10): 15
ÏMø$# Ab#uäöà)Î/ ÎŽöxî !#x»yd ÷rr& ã&ø!Ïdt/ 4 ö@è% $tB Ücqä3tƒ þÍ< ÷br& ¼ã&s!Ïdt/é& `ÏB Ç!$s)ù=Ï? ûÓŤøÿtR
"Datangkanlah Al Quran yang lain dari ini atau gantilah dia". Katakanlah: "Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.”

            Soal dari ayat ini berupa tantangan untuk mendatangkan yang semisal Alquran, tetapi dijawab dengan ketidakmampuan untuk mengubahnya. Jawaban itu mengisyaratkan bahwa jangankan membuat Alquran yang baru, merubahnya saja manusia tidak sanggup, maka cukup dijawab dengan yang lebih rendah yaitu merubah.[32]
2.      Muatan jawaban harus menyesuaikan dengan muatan soal. Misalnya dalam QS Yusuf (12): 90
(#þqä9$s% y7¯RÏär& |MRV{ ß#ßqム( tA$s% O$tRr& ß#ßqãƒ
Mereka berkata: "Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?". Yusuf menjawab: "Akulah Yusuf.

 Mereka bertanya dengan أنت dan dijawab dengan أنا.
3.      Pada dasarnya bentuk kalimat jawaban harus sesuai dengan bentuk kalimat pertanyaan. Apabila jawabannya berbentuk jumlah ismiyah (kalimat normatif tunggal), maka jawabannya pun berbentuk jumlah ismiyah, demikian pula jika pertanyaannya berbentuk jumlah fi’liyah (kalimat verbal) maka jawabannya juga demikian. Misalnya dalam QS Yasin (36): 78-79
 `tB ÄÓ÷ÕムzN»sàÏèø9$# }Édur ÒOŠÏBu ÇÐÑÈ   ö@è% $pkŽÍósムüÏ%©!$# !$ydr't±Sr& tA¨rr& ;o§tB (
"Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?" Katakanlah: "ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama.

4.      Jika pertanyaan itu untuk meminta pengetahuan atau pengertian sesuatu, maka terkadang ia menjangkau maf’ūl tsānī (obyek kedua) dengan sendirinya dan terkadang menggunakan ‘an (عن), misalnya dalam QS al-Isrā’ (17): 85
štRqè=t«ó¡our Ç`tã Çyr9$#
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.

Dan jika pertanyaan tersebut untuk permohonan atau meminta harta, maka ia menjangkau obyek kedua dengan sendirinya atau dengan menggunakan min (من), misalnya dalam QS al-Ahzab (33): 53
#sŒÎ)ur £`èdqßJçGø9r'y $Yè»tFtB  Æèdqè=t«ó¡sù `ÏB Ïä!#uur 5>$pgÉo
Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir.[33]
e.       Khitāb dengan menggunakan Ism dan Fi’l
Khitāb dengan menggunakan isim menunjukkan makna tetap dan terus-menerus. Sedangkan khitāb dengan menggunakan fi’l menunjukkan makna pembaharuan (menjadikan baru lagi) dan baru.[34] Misalnya dalam QS al-Kahfi (18): 18
( Oßgç6ù=x.ur ÔÝÅ¡»t/ ÏmøŠtã#uÏŒ ϊϹuqø9$$Î/
Sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua.
Kata (باسط) memberikan pengertian ketetapan sifat, bukan perbuatan yang berulang-ulang (diperbaharui). Misalnya juga dalam QS Fathir (35): 3
4 ö@yd ô`ÏB @,Î=»yz çŽöxî «!$# Nä3è%ãötƒ
Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu.
Kata يرزقكم)) menunjukkan bahwa Allah swt memberi rezki kepada kita secara berulang-ulang, memberi dan memberi lagi, demikian seterusnya.[35] Maksud tajaddud dalam fi’l mādhī adalah tercapainya sesuatu pada waktu tertentu, sedangkan dalam fi’l mudhāri’ adalah kejadian atau keadaan yang berulang-ulang dan terjadi berulang kali.[36]
f.       Mashdar (مصدر)
Menurut Ibn ‘Athiyah cara menunjukkan sesuatu yang diwajibkan adalah dengan menggunakan mashdar dengan bacaan marfū’ (         (, misalnya dalam QS al-Baqarah (2): 178
7í$t6Ïo?$$sù Å$rã÷èyJø9$$Î/ íä!#yŠr&ur Ïmøs9Î) 9`»|¡ômÎ*Î/
Hendaklah (yang mema'afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma'af) membayar (diat) kepada yang memberi ma'af dengan cara yang baik (pula).

                              Dan cara menunjukkan sesuatu yang disunahkan adalah dengan menggunakan mashdar dengan bacaan manshūb (), misalnya dalam QS Muhammad (47): 4
                              #sŒÎ*sù ÞOçFÉ)s9 tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. z>÷Ž|Øsù É>$s%Ìh9$#
Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka.[37]

g.      Al-Ifrād wa al-Jam’ (bentuk tunggal dan jamak).
Sebagian lafadz-lafadz Alquran bentuk tunggalnya memiliki makna khusus, dan bentuk jamaknya sebagai isyarat tertentu, atau bentuk jamaknya mempengaruhi bentuk tunggalnya, begitu pun sebaliknya.
Di antaranya yaitu sebagian lafadz dalam Alquran digunakan bentuk jamaknya saja, ketika bentuk tunggalnya diperlukan maka yang digunakan adalah murādifnya (sinonimnya). Misalnya dalam QS al-Zumar (39): 21
¨bÎ) Îû šÏ9ºsŒ 3tø.Ï%s! Í<'rT{ É=»t7ø9F{$# ÇËÊÈ  
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.

Tidak terdapat dalam Alquran bentuk tunggalnya (اللب), tetapi kata القلب menggantikan posisinya, misalnya dalam QS Qāf (37): 37
¨bÎ) Îû y7Ï9ºsŒ 3tò2Ï%s! `yJÏ9 tb%x. ¼çms9 ë=ù=s%  
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal.

Sedangkan kebalikannya yaitu ada lafadz-lafadz dalam Alquran yang hanya digunakan dalam bentuk tunggal saja tidak pernah digunakan bentuk jamaknya, ketika yang diinginkan bentuk jamaknya maka digambarkan dengan indah tidak ada semisalnya. Misalnya dalam QS al-Thalāq (65): 12
ª!$# Ï%©!$# t,n=y{ yìö6y ;Nºuq»oÿxœ z`ÏBur ÇÚöF{$# £`ßgn=÷WÏB ã
Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.

Tidak disebutkan bentuk jamaknya (سبع أرضين) karena sulit atau berat penyebutannya. Sedangkan lafadz السماء adakalanya menggunakan bentuk jamak dan adakalanya menggunakan bentuk tunggal, tergantung stressingnya. Ketika yang dimaksud adalah jumlah atau hitungan, maka yang digunakan adalah bentuk jamaknya yang menunjukkan keluasan keagungan dan banyaknya, misalnya dalam QS al-Hasyr (59): 1
yx¬7y ¬! $tB Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# $tBur Îû ÇÚöF{$#
Telah bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan bumi.

Maksudnya adalah seluruh penduduknya menurut banyaknya jumlah mereka.
Dan jika yang dimaksud adalah arah atau posisi maka yang digunakan adalah bentuk tunggalnya, misalnya dalam QS al-Mulk (67): 16
LäêYÏBr&uä `¨B Îû Ïä!$yJ¡¡9$# br& y#Å¡øƒs ãNä3Î/ uÚöF{$#
Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu.

Maksudnya adalah yang berada di atas kalian.[38]
h.      Muqābalat al-Jam’ bi al-Jam’ aw bi al-Mufrad
Bertemunya kedua bentuk jamak terkadang menuntut adanya pertemuan satu lawan satu (meletakkan sesuatu berhadapan dengan sesuatu yang lain).[39] Misalnya dalam QS al-Baqarah (2): 233
ßNºt$Î!ºuqø9$#ur z`÷èÅÊöãƒ £`èdy»s9÷rr&
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya

Maksudnya masing-masing ibu menyusui masing-masing anaknya.
Dan terkadang juga menuntut kepastian atau ketetapan bentuk jamaknya bagi masing-masing yang dihukumi. Misalnya dalam QS al-Nur (24): 4
tûïÏ%©!$#ur tbqãBötƒ ÏM»oY|ÁósßJø9$# §NèO óOs9 (#qè?ù'tƒ Ïpyèt/ör'Î/ uä!#ypkà­ óOèdrßÎ=ô_$$sù tûüÏZ»uKrO Zot$ù#y_
Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu)  delapan puluh kali dera.

Maksudnya adalah deralah masing-masing mereka dengan jumlah tersebut.
Terkadang juga mencakup kedua kemungkinan tersebut sehingga dibutuhkan dalil yang menunjukkan kepada salah satunya.[40]
Sedangkan pertemuan antara bentuk jamak dan mufrad, umumnya tidak perlu membuat yang mufrad menjadi umum, dan kadang-kadang juga perlu sesuai dengan keumuman bentuk jamak yang bertemu dengannya.[41]
Seperti QS Al-Baqarah (2): 184
n?tãur šúïÏ%©!$# ¼çmtRqà)ÏÜム×ptƒôÏù ãP$yèsÛ &ûüÅ3ó¡ÏB
Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.

Maksudnya bagi  masing-masing agar setiap hari memberi makan seorang miskin.

i.        Redaksi yang Bersifat Umum Mengandung Pengertian Umum

1.      Alif Lam ال pada kata sifat dan Ism al-Jins mencakup seluruh pengertian yang tercakup di dalamnya. Misalnya dalam QS Al-Ahzab (33): 35
¨bÎ) šúüÏJÎ=ó¡ßJø9$# ÏM»yJÎ=ó¡ßJø9$#ur šúüÏZÏB÷sßJø9$#ur ÏM»oYÏB÷sßJø9$#ur tûüÏGÏZ»s)ø9$#ur ÏM»tFÏZ»s)ø9$#ur tûüÏ%Ï»¢Á9$#ur ÏM»s%Ï»¢Á9$#ur tûïÎŽÉ9»¢Á9$#ur ÏNºuŽÉ9»¢Á9$#ur tûüÏèϱ»yø9$#ur ÏM»yèϱ»yø9$#ur tûüÏ%Ïd|ÁtFßJø9$#ur ÏM»s%Ïd|ÁtFßJø9$#ur tûüÏJÍ´¯»¢Á9$#ur ÏM»yJÍ´¯»¢Á9$#ur šúüÏàÏÿ»ptø:$#ur öNßgy_rãèù ÏM»sàÏÿ»ysø9$#ur šúï̍Å2º©%!$#ur ©!$# #ZŽÏVx. ÏNºtÅ2º©%!$#ur £tãr& ª!$# Mçlm; ZotÏÿøó¨B #·ô_r&ur $VJÏàtã 
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

Pengertian sifat-sifat Islam, iman, taat, benar, dan seterusnya di dalam ayat di atas mengandung semua sifat yang relevan.[42]
2.      Al-Nakirah, dalam konteks al-Nahy (larangan), al-Nafy, al-Syarth (syarat) atau al-Istifhām (pertanyaan) menunjuk pengertian umum.
Contoh nakirah yang dinafikan, dalam QS al-Infithar (82): 19
tPöqtƒ Ÿw à7Î=ôJs? Ó§øÿtR <§øÿuZÏj9 $\«øx© ( ãøBF{$#ur 7Í´tBöqtƒ °! ÇÊÒÈ  
(yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.[43]
Contoh nakirah dalam konteks larangan, dalam QS al-Nisa’ (4): 36
(#rßç6ôã$#ur ©!$# Ÿwur (#qä.ÎŽô³è@ ¾ÏmÎ/ $\«øx©
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.[44]

3.      Al-Mudhāf (kata kepunyaan) menunjuk pengertian umum sebagai Ism al-Jāmi’.
Kata-kata yang berbentuk mudhāf juga menunjukkan pengertian umum, sebagaimana halnya pengertian yang ditunjuk oleh kata berbentuk ism al-jāmi’ (kata benda yang menunjukkan bentuk jamak).[45]
Misalnya dalam QS al-Nisa’ (4): 23
ôMtBÌhãm öNà6øn=tã öNä3çG»yg¨Bé& öNä3è?$oYt/ur ... 
Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan…[46]
4.      Ism (kata benda) yang disebutkan secara tersendiri.
Apabila di dalam Alquran ada kata berbentuk ism secara tersendiri, maka menunjuk pengertian umum yang sejalan dengannya. Tetapi jika disebutkan bersamaan dengan yang lain sebagai penjelasannya, pengertian ism menjadi terbatas pada yang dijelaskan saja. Misalnyakata al-birr yang disebut secara tersendiri dalam QS al-Infithar (82): 13
¨bÎ) u#tö/F{$# Å"s9 5OŠÏètR ÇÊÌÈ  
Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh kenikmatan.

Maksudnya melakukan perbuatan kebaikan dan meninggalkan perbuatan maksiat secara umum.
5.      Peniadaan Objek kalimat menunjuk pengertian umum yang sepadan.
Apabila suatu kata kerja-atau pun yang mengandung arti kata kerja- dihubungkan dengan suatu obyek tertentu, pengertiannya menjadi terbatas hanya pada kata yang berkaitan. Akan tetapi jika obyeknya tidak disebutkan katakerja tersebut menunjuk pengertian umum. Misalnya beberapa ayat Alquran ditutup dengan kalimat أفلا تعقلون (…agar kalian memikirkan). Obyeknya tidak disebutkan untuk menunjuk pengertian umum, maksudnya yaitu agar kalian memikirkan semua yang mengarahkan dan mengajarkan, memikirkan semua ayat Alquran dan yang terkandung di dalamnya, dan berpikir tentang Allah beserta semua sifatNya.[47]
Selain kaidah-kaidah di atas masih banyak lagi kaidah-kaidah tafsir yang lain yang belum dibahas dalam
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      Kaidah-kaidah tafsir adalah pedoman-pedoman yang disusun ulama dengan kajian yang mendalam guna mendapatkan hasil yang maksimal dalam memahami makna kandungan Alquran.
2.      Menurut para ulama, seseorang yang hendak menafsirkan ayat Alquran, hendaklah lebih dahulu mencari tafsir ayat tersebut di dalam Alquran sendiri, Jika tidak ada ayat yang dapat dijadikan tafsir bagi ayat itu, hendaklah memeriksa hadis-hadis Nabi. Jika tidak menemukan di dalam sunnah hendaklah merujuk kepada perkataan sahabat, kemudian berpegang pada undang-undang ilmu bahasa dan baharulah ia menafsirkan menurut makna-makna yang dikehendaki oleh ilmu bahasa itu.
3.      Di antara kaidah-kaidah tafsir, yaitu:
a.       Kaidah Dhamāir
b.      Kaidah al-Ta’rīf dan al-Tankīr
c.       Kaidah al-Tadzkīr dan al-Ta’nīts
d.      Kaidah al-Suāl dan al-Jawāb
e.       Kaidah Khitāb dengan menggunakan Ism dan Fi’l
f.       Kaidah Mashdar
g.      Kaidah al-Ifrād dan al-Jam’
h.      Kaidah Muqābalat al-Jam’ bi al-Jam’ aw bi al-Mufrad
i.        Redaksi yang bersifat umum mengandung pengertian umum

DAFTAR PUSTAKA
‘Abd al-Rahmān, ‘Azzah Ahmad. Ittijāhāt al-Tafsīr fī al-Qarn al-‘Isyrīn. Kairo:  t.p, 2000.  
Abu Zaid, Nasr Hamid. Mafhūm al-Nash; Dirāsah fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Diterjemahkan oleh Khoiron Nahdliyyin dengan judul Tekstualitas Al-Qur’an; Kritik terhadap Ulumul Qur’an.Cet. II; Yogyakarta: LkiS, 2002.
Ayub, Mahmud. Al-Qur’an dan Para penafsirnya. Cet. I; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991. 
Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, 1990.
Dahlan, Abd. Rahman. Kaidah-kaidah Penafsiran al-Qur’an; Disusun berdasarkan al-Qawā’id al-Hisān lī Tafsīr al-Qur’ān Karya al-Sa’di. Cet. II; Bandung: Penerbit Mizan, 1998.
Ibn Manzhūr, Jamāl al-Dīn Muhammad  bin Makram. Lisān al-‘Arab, jilid III. Cet. I; Beirut: Dār al-Shādir, t.th, dalam CD Al-Maktabah Al-Syāmilah.
Lajnat Ta’līm al-Tafsīr wa ‘Ulūmih, Dirāsāt fī ‘Ulūm al-Qur’ān (Makassar: Alauddin, 2000), h. 96.
Nadwi, Abdullah Abbas. Learn The Language of the Holy Q
ur’an. Diterjemahkan oleh Tim Redaksi Penerbit Mizan dengan judul Belajar Mudah Bahasa Al-Quran. Cet. XVI; Bandung: Mizan, 2002.
Al-Qatthān, Mannā’. Mabāhits fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Cet. II; t.t: t.p, 1973.
Salim, Abd. Muin. Metodologi Tafsir; Sebuah Rekonstruksi Epistimologis. Cet. I; Makassar: Berkah Utami, 1999.
Shihab, Quraish. Membumikan al-Qur’an. Cet. XXVIII; Bandung: PT.Mizan Pustaka, 2004.
Suryadilaga, M. Alfatih, dkk. Metodologi Ilmu Tafsir. Cet. I; Yogyakarta: Penerbit TERAS, 2005.
Al-Suyūthīy, Jalāl al-Dīn ‘Abd al-Rahmān bin Abī Bakr. Al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān jilid II. Cet. I; Kairo: Maktabah al-Shafā, 2006.
__________, Al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān jilid IV. Cet. I; Kairo: Maktabah al-Shafā, 2006.
Al-Syarbāshīy, Ahmad. Qisshat al-Tafsir. Kairo: Al-Maktabah al-Tsaqāfiyyah Dār al-Qalam, 1962.
Al-Zarkasyīy, Badr al-Dīn Muhammad bin ‘Abdillāh. Al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qurān , Jilid IV. Cet. I; Beirut: Dār al-Fikr, 1988.






[1]Abdullah Abbas Nadwi, Learn The Language of the Holy Qur’an, diterjemahkan oleh Tim Redaksi Penerbit Mizan dengan judul Belajar Mudah Bahasa Al-Quran (Cet. XVI; Bandung: Mizan, 2002), h. 15.
[2]Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an (Cet. XXVIII; Bandung: PT.Mizan Pustaka, 2004), h. 150.
[3]Q.S al-Baqarah (2): 213.
[4]Quraish Shihab, op. cit., h. 151.
[5]QS al-Baqarah (2): 185, QS al-Isra’ (17): 9 dan QS Ibrahim (14): 1.
[6]Lihat Mahmud Ayub, Al-Qur’an dan Para penafsirnya (Cet. I; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991), h. 29. 
[7]Abd. Muin Salim, Metodologi Tafsir; Sebuah Rekonstruksi Epistimologis (Cet. I; Makassar: Berkah Utami, 1999), h. 30.
[8]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, 1990), h. 348.

[9]Jamāl al-Dīn Muhammad  bin Makram Ibn Manzhūr,selanjutnya disebut Ibn Manzhūr,  Lisān al-‘Arab, jilid III (Cet. I; Beirut: Dār al-Shādir, t.th, dalam CD Al-Maktabah Al-Syāmilah), h. 357.

[10]M. Alfatih Suryadilaga, dkk, Metodologi Ilmu Tafsir (Cet. I; Yogyakarta: Penerbit TERAS, 2005),  h.  54.

[11] Maksudnya: Setiap kali mereka datang kepada Nabi Muhammad s.a.w membawa suatu hal yang aneh berupa usul dan kecaman, Allah menolaknya dengan suatu yang benar dan nyata. Lihat Departemen Agama RI, op. cit., h. 564.
[12]‘Azzah Ahmad ‘Abd al-Rahmān, Ittijāhāt al-Tafsīr fī al-Qarn al-‘Isyrīn (Kairo:  t.p, 2000), h. 6.  

[13]Lihat Ibn Manzhūr, jilid V, op. cit., h. 55. 

[14]Lihat Nasr Hamid Abu Zaid, Mafhūm al-Nash; Dirāsah fī ‘Ulūm al-Qur’ān, diterjemahkan oleh Khoiron Nahdliyyin dengan judul Tekstualitas Al-Qur’an; Kritik terhadap Ulumul Qur’an (Cet. II; Yogyakarta: LkiS, 2002), h. 281.
 
[15]‘Azzah Ahmad ‘Abd al-Rahmān, op. cit., h. 7. 

[16]Lihat Jalāl al-Dīn ‘Abd al-Rahmān bin Abī Bakr al-Suyūthīy, selanjutnya disebut al-Suyūthīy, Al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān jilid IV (Cet. I; Kairo: Maktabah al-Shafā, 2006), h. 140. Lihat juga Lajnat Ta’līm al-Tafsīr wa ‘Ulūmih, Dirāsāt fī ‘Ulūm al-Qur’ān (Makassar: Alauddin, 2000), h. 96.

[17]Ibid.

[18]Al-Suyūthīy, jilid IV, op. cit., h. 139. Lihat Nasr Hamid Abu Zaid, op. cit., h. 294.

[19]M. Alfatih Suryadilaga, dkk, op. cit, h. 55.

[20]Lihat Abd. Rahman Dahlan, Kaidah-kaidah Penafsiran al-Qur’an; Disusun berdasarkan al-Qawā’id al-Hisān lī Tafsīr al-Qur’ān Karya al-Sa’di, (Cet. II; Bandung: Penerbit Mizan, 1998), h. 20-22.

[21]Ahmad al-Syarbāshīy, Qisshat al-Tafsir (Kairo: Al-Maktabah al-Tsaqāfiyyah Dār al-Qalam, 1962), h. 43-44. Al-Suyūthīy, jilid IV, op. cit., h. 144.

[22]QS al-Ra’d (13): 37.
[23]Al-Suyūthīy, jilid II, op. cit., h. 180.
[24]Bermuamalah ialah seperti berjualbeli, hutang piutang, atau sewa menyewa dan sebagainya.
[25]M. Alfatih Suryadilaga, dkk, op. cit, h. 63.

[26]Mannā’ al-Qatthān, Mabāhits fī ‘Ulūm al-Qur’ān (Cet. II; t.t: t.p, 1973), h. 197.

[27]M. Alfatih Suryadilaga, dkk, loc. cit. Lihat Al-Suyūthīy, jilid II,  op. cit., h. 182.
[28]Ibid. Al-Suyūthīy, jilid II.
[29]Ibid., h. 191.

[30]Ibid., h. 185.

[31]Ibid., h. 186.
[32]Ibid., h. 200-201. M. Alfatih Suryadilaga, dkk, op. cit, h. 66-67.


[33]Ibid, Al-Suyūthīy, jilid II, h. 202-204.

[34]Mannā’ al-Qatthān, op. cit., h. 206.

[35]Al-Suyūthīy, jilid II, op. cit., h. 204.

[36]M. Alfatih Suryadilaga, dkk, op. cit, h. 68.

[37]Lihat Al-Suyūthīy, jilid II, op. cit., h. 205-206.

[38]Mannā’ al-Qatthān, op. cit., h. 202. Al-Suyūthīy, jilid II, op. cit., h. 192-193.

[39]Lihat  Badr al-Dīn Muhammad bin ‘Abdillāh al-Zarkasyīy, selanjutnya disebut al-Zarkasyīy,  Al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qurān , Jilid IV (Cet. I; Beirut: Dār al-Fikr, 1988), h. 5.

[40]Mannā’ al-Qatthān, op. cit., h. 204.  Al-Suyūthīy, jilid II, op. cit., h. 196.

[41]Al-Zarkasyīy, op. cit., h. 7-8.

[42]Abd. Rahman Dahlan, op. cit., h. 60.

[43]Kata nafs dan syay’a dalam ayat ini adalah bentuk nakirah yang dinafikan sehingga bersifat umum, siapa pun orangnya tidak dapat memberikan apa pun kepada orang lain (pada hari kiamat).

[44]Maksudnya  larangan mempersekutukan Allah dengan cara bagaimana pun; baik berbentuk niat, perkataan, dan perbuatan, syirik besar, kecil, nyata maupun tersembunyi.

[45]Abd. Rahman Dahlan, op. cit., h. 69. Lihat Al-Suyūthīy, jilid II, op. cit., h. 189.

[46]Kata ummahāt dan banāt dan seterusnya dalam ayat di atas pengertiannya mencakup seluruh ibu yang dinisbahkan kepada ibu kita sampai berapa pun tingkatan derajatnya ke atas (ibu, nenek, dan seterusnya). Sedangkan anak mencakup seluruh anak perempuan yang dinisbahkan kepada kita, berapa pun derajat keturunannya ke bawah (anak, cucu, dan seterusnya).

[47]Abd. Rahman Dahlan, op. cit., h. 78.
Terimakasih telah membca artikel berjudul Makalah - Qawaid al - Tafsir

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 5/04/2017

0 komentar Makalah - Qawaid al - Tafsir

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak