Home » » Makalah - Etos Kerja Islami Dalam Mengelola Lembaga Pendidikam

Makalah - Etos Kerja Islami Dalam Mengelola Lembaga Pendidikam

Makalah - Etos Kerja Islami Dalam Mengelola Lembaga Pendidikam
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lembaga pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan proses pendidikan karena lembaga berfungsi sebagai mediator dalam mengatur jalannya pendidikan. Dan pada zaman sekarang ini tampaknya tidaklah disebut pendidikan jika tidak ada lembaganya.

Lembaga pendidikan dewasa ini juga sangat mutlak keberadaannya bagi kelancaran proses pendidikan. Apalagi lembaga pendidikan itu dikaitkan dengan konsep Islam. Lembaga pendidikan Islam merupakan suatu wadah dimana pendidikan dalam ruang lingkup keislaman melaksanakan tugasnya demi tercapainya cita-cita umat Islam.
Keluarga, masjid, pondok pesantren dan madrasah merupakan lembaga-lembaga pendidikan Islam yang mutlak diperlukan di suatu negara secara umum atau di sebuah kota secara khususnya, karena lembaga-lembaga itu ibarat mesin pencetak uang yang akan menghasilkan sesuatu yang sangat berharga, yang mana lembaga-lembaga pendidikan itu sendiri akan mencetak sumber daya manusia yang berkualitas dan mantap dalam aqidah keislamannya.
Namun demikian,  untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dengan akidah keislaman yang kuat maka managemen pengelolaan lembaga pendidikan, khusunya pesantren, madrasah dan perguruan tinggi Islam  hendaknya professional dan memiliki etos kerja Islami. Etos kerja Islamilah yang dapat mengantar manusia mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, sebagaimana Firman Allah dalam surah Al-Qashash ayat 77 :
Terjemahnya :
Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat secara seimbang agama Islam mengajarkan agar ummatnya melakukan kerja keras baik dalam bentuk Ibadah maupun dalam bentuk Amal Shaleh. Ibadah adalah merupakan perintah-perintah yang harus dilakukan oleh ummat Islam yang berkaitan langsung dengan Allah SWT dan telah ditentukan secara terperinci tentang tata cara pelaksanaannya. Sedangkan Amal Sholeh adalah perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan oleh ummat Islam, dimana perbuatan-perbuatan tersebut berdampak positif bagi diri yang bersangkutan, bagi masyarakat, bagi bangsa dan negara serta bagi agama Islam itu sendiri.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang sebagaimana tersebut diatas maka yang menjadi rumusan masalah adalah :
1. Apakah pengertian etos kerja Islami ?
2. Bagamana  etos kerja Islami dalam mengelolah  Lembaga Pendidikan ?

BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Etos Kerja Islam

Menurut kamus, perkataan “etos” yang berasal dari bahasa Yunani (ethos) bermakna watak atau karakter. Secara lengkapnya, pengertian etos ialah karakteristik dan sikap, kebiasaan serta kepercayaan, dan seterusnya, yang bersifat khusus tentang seorang individu atau sekelompok manusia. Dari perkataan “etos” terambil pula perkataan “etika” dan “etis” yang merujuk kepada makna “akhlaq” atau bersifat “akhlaqi”, yaitu kualitas esensial seseorang atau suatu kelompok, termasuk suatu bangsa. Juga dikatakan bahwa “etos” berarti jiwa khas suatu kelompok manusia, yang dari jiwa khas itu berkembang pandangan bangsa tersebut tentang yang baik dan yang buruk, yakni, etikanya.[1] Taufik Abdullah mendefinisikan etos kerja dari aspek evaluatif yang bersifat penilaian diri terhadap kerja yang bersumber pada identitas diri yang bersifat sakral yakni realitas spiritual keagamaan yang diyakininya.[2]
Menurut Nurcholish Madjid, etos kerja dalam Islam adalah hasil suatu kepercayaan seorang Muslim, bahwa kerja mempunyai kaitan dengan tujuan hidupnya, yaitu memperoleh perkenan Allah swt.[3] Sedangkan Toto Tasmara, dalam bukunya Etos Kerja Pribadi Muslim, menyatakan bahwa “bekerja” bagi seorang Muslim adalah suatu upaya yang sungguh-sungguh, dengan mengerahkan seluruh asset, fakir dan zikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang harus menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik (khaira ummah), atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa dengan bekerja manusia itu memanusiakan dirinya.[4]
Dengan demikian bila mengaitkan makna etos kerja di atas dengan agama, maka etos kerja merupakan sikap diri yang mendasar terhadap kerja yang merupakan wujud dari kedalaman pemahaman dan penghayatan religius yang memotivasi seseorang untuk melakukan yang terbaik dalam suatu pekerjaan. Dengan kata lain, etos kerja adalah semangat kerja yang mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap pekerjaannnya yang bersumber pada nilai-nilai transenden atau nilai-nilai keagamaan yang dianutnya.
Sementara itu, Rahmawati Caco, berpendapat bahwa bagi orang yang beretos kerja Islami, etos kerjanya terpancar dari sistem keimanan atau aqidah Islami berkenaan dengan kerja yang bertolak dari ajaran wahyu bekerja sama dengan akal. Sistem keimanan itu, menurutnya, identik dengan sikap hidup mendasar (aqidah kerja). Ia menjadi sumber motivasi dan sumber nilai bagi terbentuknya etos kerja Islami. Etos kerja Islami di sini digali dan dirumuskan berdasarkan konsep iman dan amal shaleh, tanpa landasan iman dan amal shaleh, etos kerja apa pun tidak dapat menjadi Islami. Tidak ada amal saleh tanpa iman dan iman akan merupakan sesuatu yang mandul bila tidak melahirkan amal shaleh. Kesemuanya itu mengisyaratkan bahwa iman dan amal shaleh merupakan suatu rangkaian yang terkait erat, bahkan tidak terpisahkan.[5]
Dari beberapa pendapat tersebut di atas, maka dapat dipahami bahwa etos kerja dalam Islam terkait erat dengan nilai-nilai (values) yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah tentang “kerja” – yang dijadikan sumber inspirasi dan motivasi oleh setiap Muslim untuk melakukan aktivitas kerja di berbagai bidang kehidupan. Cara mereka memahami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai  dan Alsunnah tentang dorongan untuk bekerja itulah yang membentuk etos kerja Islam.

B. Etos Kerja Islami Dalam Mengelola Lembaga Pendidikan

            Kalau kita mau mencermati dan mengkaji makna-makna yang terkandung dalam al-Quran dan Alsunnah, maka kita akan menemukan banyak sekali bukti, bahwa sesunguhnya ajaran Islam sangat mendorong umatnya untuk bekerja keras, dan bahwa ajaran Islam memuat spirit dan dorongan pada tumbuhnya budaya dan etos kerja yang tinggi. Kalau pada tataran praktis, umat Islam seolah-olah beretos kerja rendah, maka bukan sistem teologi yang harus dirombak, melainkan harus diupayakan bagaimana cara dan metode untuk memberikan pengertian dan pemahaman yang benar mengenai watak dan karakter esensial dari ajaran Islam yang sesungguhnya.
Berkaitan dengan hal tersebut, Toto Tasmara merinci ciri-ciri etos kerja Muslim, sebagai berikut: (1) Memiliki jiwa kepemimpinan (leadhership); (2) Selalu berhitung; (3) Menghargai waktu; (4) Tidak pernah merasa puas berbuat kebaikan (positive improvements); (5) Hidup berhemat dan efisien; (6) Memiliki jiwa wiraswasta (entrepreneurship); (7) Memiliki insting bersaing dan bertanding; (8) Keinginan untuk mandiri (independent); (9) Haus untuk memiliki sifat keilmuan; (10) Berwawasan makro (universal); (11) Memperhatikan kesehatan dan gizi; (12) Ulet, pantang menyerah; (13) Berorientasi pada produktivitas; dan (14) Memperkaya jaringan silaturrahim.[6]
Ciri-ciri etos kerja yang dikemukakan di atas bila dikaitkan dengan dunia pendidikan maka sangat tepat bila dijadikan standar mutu dalam mengelolah lembaga pendidikan. Dismaping itu,  pengelolaan lembaga pendidikan hendaknya berdasarkan prinsip-prinsip kerja sebagaimana dipahami dari nash-nash Al-Qur’an maupun Hadis Rasulullah saw. Sebagai berikut:
1.      Bahwa perkerjaan itu dilakukan berdasarkan pengetahuan sebagaimana dapat dipahami dari firman Allah dalam Alquran, “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan mengenainya.”(Q.S, 17: 36).
2.      Pekerjaan harus dilaksanakan berdasarkan keahlian sebagaimana dapat dipahami dari hadis Nabi saw, “Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.” (Hadis Riwayat al-Bukhari).
3.      Berorientasi kepada mutu dan hasil yang baik sebagaimana dapat dipahami dari firman Allah, “Dialah Tuhan yang telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa di antara kalian yang dapat melakukan amal (pekerjaan) yang terbaik; kamu akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitahukan kepadamu tentang apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mulk: 67: 2). Dalam Islam, amal atau kerja itu juga harus dilakukan dalam bentuk saleh sehingga dikatakan amal saleh, yang secara harfiah berarti sesuai, yaitu sesuai dengan standar mutu.
4.      Pekerjaan itu diawasi oleh Allah, Rasul dan masyarakat, oleh karena itu harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, sebagaimana dapat dipahami dari firman Allah, “Katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah, Rasul dan orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu.”(Q.S. 9: 105).
5.      Pekerjaan dilakukan dengan semangat dan etos kerja yang tinggi. Pekerja keras dengan etos yang tinggi itu digambarkan dalam hadis riwayat Imam Ahmad dari Anas bin Malik sebagai orang yang tetap menaburkan benih sekalipun hari telah akan kiamat.
6.      Orang berhak mendapatkan imbalan atas apa yang telah ia kerjakan. Ini adalah konsep pokok dalam agama. Konsep imbalan bukan hanya berlaku untuk pekerjaan-pekerjaan dunia, tetapi juga berlaku untuk pekerjaan-pekerjaan ibadah yang bersifat ukhrawi. Di dalam Alquran ditegaskan bahwa: “Allah membalas orang-orang yang melakukan sesuatu yang buruk dengan imbalan setimpal dan memberi imbalan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan kebaikan.”(Q.S. 53: 31). Dalam hadis Nabi dikatakan, “Sesuatu yang paling berhak untuk kamu ambil imbalan atasnya adalah Kitab Allah.” (H.R. al-Bukhari). Jadi, menerima imbalan atas jasa yang diberikan dalam kaitan dengan Kitab Allah; berupa mengajarkannya, menyebarkannya, dan melakukan pengkajian terhadapnya, tidaklah bertentangan dengan semangat keikhlasan dalam agama.
7.      Berusaha menangkap makna sedalam-dalamnya sabda Nabi yang amat terkenal bahwa nilai setiap bentuk kerja itu tergantung kepada niat-niat yang dipunyai pelakunya: jika tujuannya tinggi (seperti tujuan mencapai riza Allah) maka ia pun akan mendapatkan nilai kerja yang tinggi, dan jika tujuannya rendah (seperti, hanya bertujuan memperoleh simpati sesama manusia belaka), maka setingkat itu pulalah nilai kerjanya tersebut.(H.R. Al-Bukhariy). Sabda Nabi saw. itu menegaskan bahwa nilai kerja manusia tergantung kepada komitmen yang mendasari kerja itu. Tinggi rendah nilai kerja itu diperoleh seseorang sesuai dengan tinggi rendah nilai komitmen yang dimilikinya. Dan komitmen atau niat adalah suatu bentuk pilihan dan keputusan pribadi yang dikaitkan dengan sistem nilai yang dianutnya. Oleh karena itu, komitmen atau niat juga berfungsi sebagai sumber dorongan batin bagi seseorang untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu, atau, jika ia mengerjakannya dengan tingkat-tingkat kesungguhan tertentu.
8.      Ajaran Islam menunjukkan bahwa “kerja” atau “amal” adalah bentuk keberadaan manusia. Artinya, manusia ada karena kerja, dan kerja itulah yang membuat atau mengisi keberadaan kemanusiaan. Jika filsuf Perancis, Rene Descartes, terkenal dengan ucapannya, “Aku berpikir maka aku ada” (Cogito ergo sum) – karena berpikir baginya bentuk wujud manusia – maka sesungguhnya, dalam ajaran Islam, ungkapan itu seharusnya berbunyi “Aku berbuat, maka aku ada.[7] Pandangan ini sentral sekali dalam sistem ajaran Islam. Ditegaskan bahwa manusia tidak akan mendapatkan sesuatu apa pun kecuali yang ia usahakan sendiri, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah An-Najm ayat 39
:Terjemahnya      
Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya      .
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.         Etos kerja dalam perspektif Islam adalah seperangkat “nilai-nilai etis” yang terkandung dalam ajaran Islam – Alquran dan Alsunnah – tentang keharusan dan keutamaan bekerja, yang digali dan dikembangkan secara sungguh-sungguh oleh umat Islam dari masa ke masa, dan itu sangat mempengaruhi tindakan dan kerja-kerjanya di berbagai bidang kehidupan dalam mencapai hasil yang diharapkan lebih baik dan produktif.
2.         Dalam mengelolah lembaga pendidikan etos kerja yang harus dimiliki yaitu niat bekerja semata karena Allah; bekerja keras dan tampa menyerah; memiliki pengetahuan dan ketrampilan, professional dalam bidang tugasnya; berorientasi pada standar mutu dan hasil yang lebih baik; merasa selalu dalam pengawasan Allah sehingga melahirkan tanggungjawab yang tinggi; setiap orang berhak mendapatkan imbalan (gaji) atas apa yang telah dikerjakannya sesuai dengan tanggungjawabnya masing-masing.  

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Taufik, Agama, Etos Kerja dan Pengembangan Ekonomi, (Jakarta: LP3ES, 1982).
Al-Mundziry, Al-Hafidh, Mukhtashar Shahih Muslim, 2 Jilid (Kuwait: Wazarat al-Awqaf wa al-Syu’un al-Islamiyyah, 1388 H/1969 M), jil. 2.
Caco, Rahmawati, “Etos Kerja” (Sorotan Pemikiran Islam),” dalam Farabi Jurnal Pemikiran Konstruktif Bidang Filsafat dan Dakwah, (terbitan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Anai Gorontalo, Vol. 3, No. 2, 2006).
Echols, John M. dan Shadily, Hassan, Kamus Inggris Indonesia, (terbitan Gramedia, 1977).
Ensiklopedia Nasional Indonesia, (1989). 
Madjid, Nurcholish, Cendekiawan dan Religiusitas Masyarakat, (Jakarta: Paramadina, 1999).
Madjid, Nurcholish, Islam Agama Kemanusiaan: Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia, (Jakarta: Paramadina, 1995).
Madjid, Nurcholish, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 1992).
Manshur, Fadlil Munawwar, “Profesionalisme dalam Perspektif Islam,” dalam Edy Suandi Hamid, dkk (peny), Membangun Profesionalisme Muhammadiyah, (Yogyakarta: LPTP PP Muhammadiyah-UAD Press, 2003).
Rahardjo, Dawam, M, Intelektual, Intelegensia, dan Perilaku Politik Bangsa: Risalah Cendekiawan Muslim, (Bandung: Mizan, 1999).
Rakhmat, Jalaluddin, “Kemiskinan di Negara-negara Muslim,” dalam Islam Alternatif, (Bandung: Mizan, 1998).
Sarsono, Perbedaan Nilai Kerja Generasi Muda Terpelajar Jawa dan Cina, (Yogyakarta: Perpustakaan Fakultas Psikologi UGM, 1998).
Tasmara, Toto, Etos Kerja Pribadi Muslim, (Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1995).



[1] Ensiklopedia Nasional Indonesia, (1989), hlm. 219.
[2] Taufik Abdullah, Agama, Etos Kerja dan Pengembangan Ekonomi, , (Jakarta: LP3ES, 1982), hlm. 3.
[3] Madjid, Nurcholish, Islam Agama Kemanusiaan: Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia, (Jakarta: Paramadina, 1995). h. 216
[4]  Toto Tasmara, Etos Kerja Pribadi Muslim, (Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1995), hlm. 27.

[5] Rahmawati Caco, “Etos Kerja” (Sorotan Pemikiran Islam),” dalam Farabi Jurnal Pemikiran Konstruktif Bidang Filsafat dan Dakwah, (terbitan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Anai Gorontalo, Vol. 3, No. 2, 2006), hlm. 68-69.

[6]Lihat Toto Tasmara, Op, Cit., h. 29.

[7]  Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 1992), hlm. 417.

Terimakasih telah membca artikel berjudul Makalah - Etos Kerja Islami Dalam Mengelola Lembaga Pendidikam

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 5/07/2017

0 komentar Makalah - Etos Kerja Islami Dalam Mengelola Lembaga Pendidikam

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak