Home » » Makalah - Wawasan Multikultural Dalam Konteks Penyebaran Agama

Makalah - Wawasan Multikultural Dalam Konteks Penyebaran Agama

A. Masyarakat Multikultural dan Tantangan Penyebaran Agama  

Makalah - Wawasan Multikultural Dalam Konteks Penyebaran Agama
Kata ”multikultural” terdiri dari  dua suku kata, yaitu ”Multi” berarti banyak, beragam, berbeda-beda, dan “cultural” berasal dari kata cultural yang berarti kebudayaan.[1] Jadi multikultural berarti keanekaragaman budaya.
Menurut M. Arfah Shiddiq, secara hakiki dalam kata multikultural terkandung pengakuan akan martabat manusia  yang hidup di tengah-tengah budaya, etnis dan kepercayaan yang berbeda. Dengan demikian setiap individu merasa dihargai sekaligus merasa bertanggung jawab untuk hidup bersama dalam komunitasnya. Pengingkaran suatu masyarakat terhadap kebutuhan untuk diakui, merupakan akar dari ketimpangan-ketimpangan di dalam pengembangan wawasan multikultural.

Di era globalisasi masa kini, umat beragama dihadapkan pada serangkaian tantangan baru yang tidak terlalu berbeda dengan apa yang pernah dialami sebelumnya. Pluralisme agama, konflik internal, baik terhadap agama maupun terhadap budaya dan peradaban. Kesemuanya merupakan fenomena yang nyata di permukaan. Fenomena ini kelihatannya juga berlanjut sampai masa kini.[2] Bahkan, Fenomena tersebut lahir dari ketidakmampuan para pemeluk agama memahami realitas kekinian. Akhirnya setiap agama tampil secara ekslusif dan tidak mampu memahami kemajemukan.[3]
Disadari bahwa berbagai keinginan dan kepentingan (invidual/golongan) yang berbuntut konflik yang terjadi dalam masyarakat sulit untuk dihindari. Pergolakan tersebut akhirnya  mengarah pada konflik antara peradaban, dan  inilah yang sulit untuk dielakkan. Menurut Samuel P. Huntington yang mengemukakan berbagai alasan bahwa mengapa konflik antara peradaban sulit untuk dielakkan, di antara alasannya sebagai berikut: [4]
Pertama, perbedaan antara peradaban bukan hanya satu lamunan tetapi sesuatu yang nyata dan mendasar. Peradaban  telah berkembang dan berdiferensiasi dalam sejarah, bahasa, kebudayaan, tradisi, dan agama. Perbedaan peradaban melahirkan perbedaan  di dalam hubungan manusia dan Tuhan, individu dan kelompok, warga dan negara, hubungan keluarga, hak dan kewajiban, sistem kekuasaan dan sebagainya. Perbedaan tersebut telah terjadi di dalam kurung waktu berabad-abad dan oleh sebab itu tidak mungkin dihilangkan karena lebih berakar dari suatu sistem idiologis atau sistem politik.
Kedua, dunia semakin menyempit, oleh sebab itu perbedaan antara kebudayaan semakin menonjol dan kelihatan. Interaksi dalam dunia modern menimbulkan kesadaran dan rasa perbedaan peradaban antara manusia.
Ketiga, proses modernisasi ekonomi dan perubahan sosial dunia menyebabkan orang tercabut dari identitas lokalnya. seseorang kehilangan akar dalam kebudayaannya, memperlemah negara-negara (natio state) yang mula-mula merupakan identitas seseorang. Terjadinya kekosongan dalam kehidupan manusia dan kerap kali kekosongan tersebut diisi oleh gerakan-gerakan fundamentalisme. Yang terdapat didalam agama Kristen, Yahudi, Islam, hindu yang kerap kali menimbulkan teror dari pengikutnya.
Keempat, tumbuhnya kesadaran peradaban karena peran ganda dari negara-negara barat. Negara-negara barat berada pada puncak kekuatannya yang mengakibatkan rasa untuk kembali kedalam dunia sendiri, seperti penghargaan kembali terhadap nilai-nilai Asia. Gejala-gejala perasaan anti barat atau dominasi barat mulai muncul. Ini gejala yang disebut diwesternization dan pribumisasi (indigenisation) di banyak negara non barat. Kelima, sifat dan perbedaan di dalam bidang politik dan ekonomi, kita lihat misalnya di dalam perkembangan eks komunitas tetap mempertahankan budaya sendiri.
Tentu saja sikap yang berbeda seperti yang disebutkan di atas menimbulkan perbagai problematika serius dalam masyarakat, terutama munculnya klaim kebenaran. Artinya, kebenaran tidak lagi milik semua agama, budaya, suku, ras, dan peradaban melainkan dipersepsikan dan dibatasi oleh dan untuk kalangan tertentu saja.
Suatu hal yang harus disadari adalah bahwa bagi kalangan cendikiawan atau masyarakat terpelajar, masalah pluralitas, kemajemukan, keanekaragaman dengan berbagai eksesnya biasa saja diselesaikan tanpa masalah yang cukup berarti. Tapi bagi komunitas yang masih relatif tertutup, kearifan dalam menghadapi perbedaan agama dan etnis bukanlah persoalan mudah.
Konflik seringkali timbul akibat benturan keyakinan. Benturan itu akan lebih tampak di permukaan ketika keyakinan yang dimiliki suatu umat beragama berusaha ditransformasikan (disiarkan, diserukan) kepada umat (pemeluk agama) lain. Memang secara format sudah ada aturan main yakni keputusan Menteri Agama RI No. 70 Tahun 1978  tentang Pedoman Penyiaran Agama. Namun mengapa konflik masih sering terjadi. Sebabnya adalah bukan semata-mata karena umat beragama tidak menaati peraturan itu, tetapi – lebih dari itu – karena mereka sering kali mengekspresikan keyakinan agamanya secara ekslusif dan berusaha mentransformasikan secara monolitik.[5]
Apa  yang terjadi di atas merupakan sebuah tantangan terhadap masyarakat (agama) yang plural, dan tidak menutup kemungkinan dapat pula dijumpai tantangan dan permasalahan  seperti itu kepada masyarakat multikultural. Dengan demikian, selain tantangan yang telah disebutkan juga terdapat tantangan lainnya, sebagaimana yang diungkapkan oleh H.A.R. Tilaar bahwa terdapat tiga tantangan multikulturalisme dewasa ini, yaitu:
Pertama, adanya hegemoni barat dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan ilmu pengetahuan. Komunitas, terutama Negara-negara berkembang perlu mempelajari sebab-sebab dari hegemoni barat dalam bidang-bidang tersebut dan mengambil langkah-langkah seperlunya untuk mengatasinya sehingga dapat berdiri sama tegak dengan dunia barat.
Kedua, esensialisasi budaya. Dalam hal ini multikulturalisme  berupaya untuk mencari esensi budaya itu sendiri tanpa jatuh ke dalam pandangan yang xenophobia dan etnosentrisme. Multikulturalisme dapat melahirkan tribalisme yang sempit yang pada akhirnya merugikan komunitas di dalam era globalisasi. Ketiga,  proses globalisasi. Globalisasi dapat berupa monokulturalisme karena gelombang dahsyat globalisasi yang menggelinding menghancurkan bentuk-bentuk kehidupan bersama dan budaya tradisional. Memang tidak ada budaya yang statis namun masyarakat yang kehilangan akar budayanya akan kehilangan tempat berpijak dan dia akan disapu bersih oleh gelombang dahsyat globalisasi.[6]
Berkenaan dengan tantangan multikultural yang telah diuraikan, kemudian dikorelasikan dengan penyebaran agama, maka disadari bahwa agama harus mampu memainkan perannya di tengah-tengah keragaman budaya tersebut. Sebagaimana diketahui bahwa  setiap agama memiliki agresivitas ajaran untuk disiarkan. Namun agresivitas ajaran tidak harus ditafsirkan secara monolitik dengan serta merta, atau bahkan semena-mena menganggap umat yang lain keluar dari “jalan yang lurus”. Kiranya tentang agresivitas ajaran agama ini urgen untuk didiskusikan. Sebab setiap agama meniscayakan pemeluknya untuk menyiarkan kebenaran dan keimanannya kepada orang lain, yang dalam prakteknya sering melahirkan keretakan dan konflik antar umat beragama. Bagaimana menyiarkan kebenaran keimanan tersebut dalam terminology Islam disebut dakwah.
Setiap pemeluk agama memiliki tanggungjawab untuk melaksanakan dakwah, kapan dan dimanapun ia berada. Namun yang menjadi masalah adalah bahwa dalam berbagai kasus, perilaku umat beragama tampak tidak bersesuaian dengan anjuran suci agama-agama. Suasana paradoks sering mengiringi kehidupan umat. Lebih-lebih bagi mereka yang merasa dengan melakukan “pelarangan” atau “penghalangan” terhadap sesama pemeluk agama adalah sebuah investasi pahala. Perbuatan menghalangi atau melarang adalah jihad yang didorong oleh justifikasi agama. Suasana semacam ini akhirnya membawa pada keterbelakangan kehidupan agama.
Dalam konteks seperti di atas, bagaimana wacana agama biasa kita hadirkan kembali sebagai wacana yang tidak seram dan mencekan penganut agama-agama, agaknya perlu dipikirkan bersama. Pemegang otoritas dominan atas tafsir teks suci agama barangkali perlu dikonstruksi kembali, dan bahkan kalau perlu didekonstruksi sehingga sehingga tidak membelenggu wacana agama itu sendiri.
Tugas berat menghadang para penganut agama-agama yang berkemauan untuk beragama secara saleh, mendamaikan dan menabur kesalamatan demi kepentingan semua umat manusia. Menempatkan wacana agama sebagai wacana yang berdimensi sosial-kemasyarakatan sehingga memunculkan wacana keagamaan yang adil dalam prilaku ekonomi, politik, hukum, dan aktivitas kemanusiaan.

 B. Bentuk (Model) Penyebaran Agama yang Berwawasan Multikultural

Sedikitnya terdapat dua kelompok atau mazhab pemikiran yang dominan dalam menentukan arah perspektif pluralisme.[7]
Pertama, adalah mereka yang berpandangan bahwa pluralisme merupakan cetak biru (blue print) dari Tuhan, dan karena itu harus diterima bukan saja sebagai hukum kehidupan, tetapi juga sebagai cermin keteraturan masyarakat. Tidak ada makhluk Tuhan yang berdiri sendiri dan terlepas dari kaitannya dengan yang lain. Ajaran-ajaran luhur tentang adanya titik temu agama dan perlunya sikap lapang dada menghadapi perbedaan selalu menyertai artikulasi dan ajakan dari paham ini. Ajaran yang dikembangkan paham ini ialah tercapainya kerukunan antar umat beragama dan tertib sosial yang harmonis, sehingga dengan demikian energi masyarakat bisa diarahkan untuk kerja yang lebih produktif.
Kedua, mereka yang berpandangan bahwa pluralisme agama merupakan “energi sosial” (secara positif, tetapi sekaligus bisa menjadi “komoditas politik” (secara negatif). Agama di dalam masyarakat yang bersifat pluralistis secara horizontal dilihat sebagai elemen yang sejajar belakang dengan realitas sosial lainnya seperti suku, ras dan golongan, yang dalam konstruksi negara kita sebut SARA.
Pluralisme menjadi energi sosial jika diarahkan untuk memberdayakan masyarakat dalam rangka demokratisasi dan perubahan sosial. Caranya adalah melalui apa yang oleh Peter Berger dan Richard Neuhauss disebut  mediating structures, di mana institusi-institusi medias dimanfaatkan untuk meraih tujuan bersama, bukan tujuan salah satu kelompok saja. Dalam konteks pluralisme agama, mediasi agama dimanfaatkan untuk memberdayakan masyarakat bukan dalam rangka missionaries misalnya, melainkan untuk tujuan yang lebih universal, seperti penegakan HAM, keadilan sosial, atau demokratisasi. Karena itu, kelompok-kelompok cendikiawan agama, organisasi-organisasi sosial keagamaan, dan sebagainya, bisa dimanfaatkan untuk itu.[8]
Sejalan dengan hal tersebut, dalam rangka membangun komunikasi dengan pihak lain  terutama dalam penyebaran agama dan  hubungannya dengan mengembangkan wawasan  multikultural paling tidak, ada tiga model,[9] yaitu: (1) model sosial psiklologik (social phisihologikal model) yang menitik beratkan interaksi pengaruh antara individu, memilih proses pembentukan persepsi yang telah menjadi pemandu bagi prilakunya. Analisis model ini menitik beratkan pengaruh dari lingkungan budaya maupun politik yang telah mempengaruhi seseorang, dan bagaimana interaksi sikap terjadi dalam proses pengaruh mempengaruhi;
(2) model rasional (rationale model) yang meneliti bagaimana manusia dan lingkungan/organisasi melaksanakan tugas-tugasnya dalam rangka peran-peran resminya, proses pembentukan struktur serta bagaimana insentif terhadap hasil kerja sama. Model ini menitik beratkan proses perubahan yang agak besar dalam lingkungan yang belum dikenal dan mungkin bermusuhan. Model ini menitik beratkan pada tindakan-tindakan dan kebutuhan tertentu;
(3) model humanistic (humanism model)  yang menitik beratkan pada bagaimana proses nilai berubah dalam suatu masyarakat. Apabila proses model menganggap sebagai pelaku dapat memberi reaksi yang sama terhadap situasi dan kondisi yang sama maka model humanistik  menggaris bawahi kemungkinan mencapai suatu alternatif  arah dan tujuan yang lain bagi tindakannya.[10]
Untuk mendukung hal tersebut, maka salah satu pendekatan yang relevan dalam hal ini adalah mendemonstrasikan bahasa dakwah Islam dalam menerjemahkan kegiatan pembangunan dalam berbagai aspeknya. Artinya apa yang dilakukan dalam pembangunan itu diupayakan merupakan pelaksanaan dari pesan Alqur`an, sehingga berdasarkan motivasi agama masyarakat dalam berbagai latar belakang agama, sosial, etnik dan budaya dapat menyumbangkan partisipasinya dan sekaligus mengembangkan diri secara maksimal.[11]
Menurut Dr. Franz Margin Suseno,[12] untuk menjalankan misi penyiaran agama yang tidak rawan konflik, maka dapat dilakukan sebagai berikut :
Pertama, segala usaha penjelekan agama lain atau penganut agama lain tidak dapat dibenarkan. Tentu saja kita dapat menjelaskan kepada umat kita sendiri apa keberatan agama kita terhadap agama-agama lain. Akan tetapi dengan cara menjelek-jelekkan agama lain, apalagi menceritakan hal-hal yang tidak benar.
Kedua, misi itu bukan usaha merekrut penganut semata, melainkan maklumat pesan ilahi. Jadi misi sebuah agama jangan mirip dengan usaha partai politik mencari penganut, bahkan menghitung. Misalnya, menghitung orang yang dibaptis, yang secara relegius tidak relevan. Kebenaran dan “sukses” sebuah agama tidak tergantung dari jumlah pengikutnya.
Ketiga, segala cara yang bersifat membujuk, penawaran imbalan material (orang masuk agama demi kepentingan duniawi), tekanan, apalagi paksaan, manipulasi dan sebagainya harus dibuang jauh karena mengotori tugas suci mempermaklumkan kebenaran ilahi. Maklumat itu harus benar-benar menghormati kebebasan sasaran dakwahnya. Artinya, orang yang sudah mendengar pesan itu tidak boleh tertekan dalam hati, sehingga ia bebas mendengarkan apa yang dibisikkan Tuhan kepadanya.
Dalam konteks keindonesiaan, mengingat masyarakat kita yang majemuk, maka dakwah atau penyiaran agama di Indonesia seyogyanya dilakukan dengan beberapa mekanisme yang sesuai dengan kemajemukannya. Mekanisme-mekanisme yang dimaksud antara lain.[13] Pertama, dakwah dilakukan dengan menafikan unsur-unsur kebencian. Ayat-ayat Tuhan dan risalah kenabian harus didakwahkan sesuai dengan fungsinya, yakni untuk menasehati dan meluruskan yang kurang atau tidak lurus, dan membenarkan yang kurang benar, serta bukan untuk memasuki yang salah atau melegetimasi kebenciaan terhadap orang lain atau umat agama lain.
Kedua, jika dakwah dilakukan secara lisan, maka dakwah seyogyanya disampaikan dengan tutur kata yang santun, tidak menyinggung perasaan atau menyindir keyakinan umat lain, apalagi mencaci makinya. Kekerasan ucapan dalam aktivitas dakwah bukan saja akan merusak keharmonisan hubungan antar umat beragama, tetapi juga sangat tidak diperkenankan dalam Islam.[14] 
Ketiga, dakwah seyogyanya dilakukan secara persuasif, karena sikap memaksa hanya membuat orang enggan untuk mengikuti apa yang didakwakan. Keempat, dakwah sekali-kali tidak boleh dilakukan dengan jalan menjelek-jelekkan agama atau bahkan dengan menghina Tuhan yang menjadi keyakinan umat agama lain.
Disamping itu, uraian di atas dapat pula dilengkapi dengan  pendekatan multikultural yang dibangun dalam filsafat ilmu sosial menurut Fay Pendekatan ini mencoba mendamaikan berbagai perbedaan pandangan dalam ilmu sosial dengan cara yang lebih mendalam, plural, inklusif, tanpa sekat dan subjektif.[15]
Dalam filsafat ilmu sosial terdapat pola yang bersifat dualistis yang mendominasi, pola itu terkait dengan pertanyaan: ”apakah satu pilihan atau pilihan lainnya dan kemudian salah satu di antaranya dianggap pilihan yang benar?”. Fay berusaha mengindari dualisme buruk dan berpikir secara dialektis. Sebagaimana yang disarankan oleh Fay, kita tidak boleh terjebak pada kategori-kategori yang saling bertolak belakang. Pertama, Kategori-kategori atau dikotomi-dikotomi itu harus disikapi secara terbuka dan dipikirkan secara dialektis; kedua, tidak menganggap orang lain sebagai” yang lain”. Sebenarnya  semua identitas pribadi pada hakikatnya menurut Fay bersifat diologis.  Tidak ada pemahaman diri tanpa pemahaman orang lain, dan jangkauan kesadaran diri kita dibatasi oleh pengetahuan orang lain; ketiga, mentransendensikan kesalahan memilih antara universalisme dan partikularisme, asimilasi dan pemisahan. Hendaknya kita memanfaatkan perbedaan, dengan mengambil hikmah, pembelajaran dan saling menguntungkan; Keempat, berpikir secara proses, dengan pengertian kata kerja (proses) bukan kata benda (produk).
Pendekatan dan mekanisme di atas hanyalah beberapa mekanisme yang bisa diterapkan, dan masih terdapat sejumlah mekanisme dan pendekatan yang dapat dilakukan sesuai dengan kreativitas umat dan kebutuhan situasionalnya. Yang penting adalah bagaimana setiap umat beragama bisa membangun kesamaan pandangan. Dalam hal penyiaran kebenaran dan keimanan, saya yakin bahwa setiap agama yang diturunkan Tuhan pasti melarang pertentangan dalam kebersamaan dan kemajemukan seperti realitas yang ada di Indonesia.
Realisasi dakwah pada hakikatnya merupakan upaya perbaikan kondisi, baik diri sendiri, pribadi orang lain, lingkungan atau bahkan segala fenomena kesemestaan ini yang berjalan tidak sesuai dengan prinsip keselarasan hidup dan tujuan penciptaannya. Di antara tujuan penciptaan inilah yang harus senantiasa menyertai manusia selama hidupnya, agar tetap menjaga kedamaian, keselarasan, kebersamaan, dan saling menghormati satu sama lain, bukan saja sesama manusia, tetapi juga dengan alam lingkungannya. Kita harus yakin dan sadar bahwa dakwah sebagai seruan atau ajakan menuju kebenaran harus dijalankan secara benar pula. Dan, kebenaran yang bersumber dari kemurniaan ajaran Tuhan harus senantiasa ditafsirkan secara inklusif dan diartikulasikan dalam kerangka kebersamaan yang harmonis, adil dan toleran.
Jika umat beragama atau pemukla agama memiliki wawsan multikultural atau menggunakan pendekatan multikultural di atas dalam berinteraksi, maka keberadaan agama dan perbedaan yang ada di antara agama-agama tidak akan menimbulkan pertentangan dan konflik yang membahayakan.
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Amin, Pendidikan Agama Era Multikultural Multireligius Cet. I; Jakarta : Pusat Studi Agama dan Peradaban Muhammadiyah, 2005.

Andito (ed),  Atas Nama Agama : Wacana  dalam Dialog Bebas Konflik Cet. I; Bandung Pustaka Hidayah, 1998

Azis, Amir, Neo Modernisme Islam di Indonesia; Gagasan Sentral Nurcholis Madjid dan KH. Abdurrahkan Wahid Jakarta : Rineka Cipta, 1999

Echol,John M. dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, Cet. XXIV; Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000

Fay, Brian.  Contemporary Philosophy of Social Science, Oxford: Black Well Publisher, 1996).

al-Faruqi,Isma`il, The Hijrah The Neccessity of Its Igamat or Vargegenwarting, diterjemahkan oleh Badril Saleh dengan judul Hakikat Hijrah; Strategi Dakwah Islam Membangun Tatatanan Dunia Baru Cet. II; Bandung: Mizan, 1991.

Gaus, Ahmad,  dialog Agama, dalam Andito (ed), Andito (ed), atas Nama Agama ; Wacana Agama dalam Dialog Bebas Konflik Cet. I; Bandung : Pustaka Hidayah, 1998.

Ghazali, Abd. Rahim, Agama dan Kearifan Dakwah dalam Masyarakat Majemuk, dalam Andito Ied)., Andito (ed), Atas Nama Agama; Wacana Agama dalam Dialog Bebas Konflik. Cet. I; Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya 1997.

Samuel P. Huntington, “The Clash of Civilisation.”  Foreign Affairs, 2003

Harahap, Syahrin, Islam Dinamis; Menegaskan Nilai-Nilai Ajaran Alqur`an dalam Kehidupan Modern di Indonesia Cet. I; Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1997

H.A.R.Tilaar, Multikulturalisme: Tantangan-Tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional, Cet. I; Jakarta: PT. Grasindo, 2004

Madjid, Nurcholis,  “Meninggalkan Kemutlakan Jalan Menuju Kedamaian,  dalam Prisma, No. 9 Tahun 1986


Shihab, Alwi,  Islam Inklusif; Menuju Sikap Tebuka dalam Beragama Cet. IV; Bandung : Mizan, 1998

Sutanto, Astrid S. – Sunaryo, Globalisasi dan Komunikasi, Cet. II; Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1995

Suseno, Franz Magnis, Pluralisme Keberagamaan Sebuah Tanggung Jawab Bersama, dalam Panitia Penulisan Buku 70 Tahun Prof. Dr. H. Munawir Sjadzali, MA Reaktualisasi Ajaran Islam  Cet. I; Jakarta : Paramadina, 1995

Syahrin, Harahap, , Islam; Konsep dan Implementasi Pemberdayaan  Cet. I; Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1991

Tim Penulis Paramadina, Figh Lintas Agama; Membangun Masyarakat Inklusi Pluralis  Jakarta : Paramadina, 2004

Tobroni dan Syamsul Arifin,  Islam Pluralisme Budaya dan Politik : Refleksi Teologis Untuk Aksi Keberagamaan dan Pendidikan Yogyakarya : Sipress, 1994


[1] John M. Echol dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, Cet. XXIV; Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000), h. 159
[2] Sejumlah kasus menunjukkan fenomena tantangan pluralisme dan multikulturalisme. Di Bosnia, umat – umat katolik dan Islam saling membunuh. Di Irlandia Utara, umat Katolik dan umat Protestan saling bermusuhan. Di Timur Tengah, ketiga cucu Nabi Ibrahim – Umat Yahudi, Kristen dan Islam – saling menggunakan bahasa kekerasan. Di Sudan, senjata adalah alat komunikasi antara umat Islam dan Kristen. DiKAsymir, pengikut agama Hindu dan Umat Muhammad saling bersitegang. Di Sri langka kaum Budha dan kelompok Hindu bercakar-cakaran. Semua fenomena tersebut terjadi di depan mata kita. Yang sangat menyayat hati adalah agama dijadikan elemen utama dalam mesin penghancur manusia. Kenyataan itu adalah agama dijadikan elemen utama dalam mesin penghancur permukaan bumi ini. Lihat Alwi Shihab,  Islam Inklusif; Menuju Sikap Tebuka dalam Beragama (Cet. IV; Bandung : Mizan, 1998), h. 39-40; Bandingkan dengan Syahrin Harahap, Islam Dinamis; Menegaskan Nilai-Nilai Ajaran Alqur`an dalam Kehidupan Modern di Indonesia (Cet. I; Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1997), h. 226. Lihat juga Nurcholis Madjid,  “Meninggalkan Kemutlakan Jalan Menuju Kedamaian,  dalam Prisma, No. 9 Tahun 1986, h. 41-42.
[3] Misalnya, apabila Islam diyakini sebagai agama yang benar berarti Islam adalah agama satu-satunya agama yang benar. Namun tidak cukup itu saja, kelanjutannya adalah menginginkan orang-orang yang tidak segama dengannya beruba menjadi segama serta bersikap bahwa penyebaran agama efektif jika dilaksanakan dengan meneriakkan bahwa agamanya adalah satu-satunya yang unggul dengan mencercah dan merendahkan agama lain yang diikuti dengan tindak kekerasan bahkan penghancuran sarana peribadatan agama lain. Lihat Amir Azis, Neo Modernisme Islam di Indonesia; Gagasan Sentral Nurcholis Madjid dan KH. Abdurrahkan Wahid (Jakarta : Rineka Cipta, 1999), h. 51-52.
[4]  Samuel P. Huntington, “The Clash of Civilisation.”  Foreign Affairs, 2003. sebagaimana yang dikutip oleh M. Arfah Shiddiq, Ibid.,
[5] Abd. Rahim Ghazali, Agama dan Kearifan Dakwah dalam Masyarakat Majemuk, dalam Andito (ed), op.cit, h. 133
[6] H.A.R. Tilaar, Multikulturalisme: Tantangan-Tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional, (Cet. I; Jakarta: PT. Grasindo, 2004), h. XXVIII.
[7] Ahmad Gaus, Dialog Agama dan Audio (ed)., op.cit.,  h. 291.
[8]  Ibid.,
[9]  Lihat Astrid S. Sutanto – Sunaryo, Globalisasi dan Komunikasi, (Cet. II; Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1995), h. 20.  Pendapat   yang sama  dari   Mannheim, menurutnya dalam usaha membangun keterampilan sosial memberi lima patokan. Tiga di antaranya mempunyai keterkaitan dengan pengembangan wawasan multikultural, yaitu: (1) pengendalian diri, (2) pemusatan perhatian, dan (3) pemakaian akal sehat. Lihat Ibid, h. 172.

[10] Ibid.
[11] Syahrin Harahap, Islam; Konsep dan Implementasi Pemberdayaan  (Cet. I; Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1991), h. 119
[12] Franz Magnis Suseno, Pluralisme Keberagamaan Sebuah Tanggung Jawab Bersama, dalam Panitia Penulisan Buku 70 Tahun Prof. Dr. H. Munawir Sjadzali, MA Reaktualisasi Ajaran Islam  (Cet. I; Jakarta : Paramadina, 1995), h. 473-474.

[13] Abd. Rahim Ghazali, op.cit., h. 135
[14] Pernyataan tersebut sejalan dengan firman Allah dalam QS. Ali Imran (3): 159, yang terjemahnya: “sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan lari dari lingkungan kami. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonlah ampun bagi mereka dan bermusyawaralah dengan mereka dalam segala urusan.
[15] Brian Fay, Contemporary Philosophy of Social Science, (Oxford: Black Well Publisher, 1996).  Sebagaimana yang dikutip oleh M. Arfah Shiddiq.Ibid.
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Makalah - Wawasan Multikultural Dalam Konteks Penyebaran Agama

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 4/18/2017

0 komentar Makalah - Wawasan Multikultural Dalam Konteks Penyebaran Agama

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak