Home » » Makalah - Tantangan Dakwah

Makalah - Tantangan Dakwah

A. Pendahuluan Tantangan Dakwah

Makalah - Tantangan Dakwah
Saat ini revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi sedang menyapu planet. Tidak ada aspek kehidupan manusia yang luput dari sentuhannya. Semua masyarakat terpengaruh olehnya dan tak sedikit di antaranya yang terguncang sendi-sendi kehidupannya. Revolusi teknologi informasi-komunikasi telah melemahkan kekuasaan pemerintah sejumlah negara, dan mengintegrasikan perekonomian dunia di dalam cara yang tidak pernah disaksikan sebelumnya.
            Arus informasi dalam segala bentuknya mengalir cepat kemana-mana dan sukar dikendalikan. Salah satu pendorong terjadinya ledakan informasi ini adalah kemajuan teknologi yang mengalami peningkatan luar biasa dalam hal kemampuan menciptakan informasi baru. Sejalan dengan itu, jenis aplikasi seperti simulasi dan virtual reality juga meningkat, sehingga membuka peluang untuk mengembangkan pengetahuan baru secara lebih pesat.

            Hebatnya ledakan informasi yang kita alami dapat dilihat dari pertumbuhan akumulasi pengetahuan dan informasi secara eksponensial. Penggandaan (doubling) informasi pertama memakan waktu 1500 tahun; penggandaan kedua sejak awal abad ke 20 menjadi 150 tahun; menurun 7 tahun sampai tahun 1967; kemudian menjadi 6 tahun pada tahun 1973. Kini, diramalkan oleh para futuris lebih singkat lagi. James Martin memperkirakan penggandaan informasi bisa berlangsung setiap 3 tahunan, sedangkan Futuris Jacques Valee menaksir lebih singkat lagi yaitu dapat berlangsung setiap 18 bulan.
            Di Amerika Serikat dalam 22 tahun terakhir, jenis pekerjaan informasi bertambah lebih dari 30.000 macam. Sebagai implikasinya, mereka yang bekerja di setiap bidang selalu menghadapi informasi baru yang belum semua mereka pahami, malahan belum tentu mereka ketahui. Hal ini menunjukkan bahwa saat ini masyarakat kita sudah menjadi masyarakat informasi (information society) yang aspek kehidupannya banyak dipengaruhi oleh jumlah, jenis, kualitas dan kompleksitas informasi yang ada.

B. Tantangan Dakwah

          Tantangan Abad XXI Banyak orang menduga, jalur globalisasi hanya melalui teknologi komunikasi transnasional, khususnya melalui televisi, film, radio dan surat kabar. Dugaan ini sangat sederhana, namun bukan satu-satunya. Jalur-jalur lain yang tak kurang pentingnya adalah melalui ekonomi perdagangan dan kepariwisataan. Memang tak dapat disangkal, bahwa yang paling umum langsung dialami dan dirasakan oleh penduduk hingga lapisan bawah adalah informasi yang bersumber dari media massa tersebut. Setiap hari, bahkan setiap waktu media yang paling populer ini membanjiri masyarakat kita dengan aneka macam informasi dan hiburan tanpa dapat dibendung.
            Globalisasi informasi yang lebih penting, telah ditunjukkan oleh media komunikasi melalui jaringan komputer yaitu internet. Jaringan ini merupakan jaringan informasi terbesar dan terluas saat ini. Sarana tersebut memungkinkan seseorang melakukan berbagai fungsi komunikasi (mengirim pesan, gambar bergerak dan tidak bergerak, musik, data, tukar pikiran, menawarkan informasi dan hiburan serta berbagai kebutuhan lainnya) dengan siapapun di seluruh dunia, tanpa dapat dibatasi atau dikendalikan oleh siapapun dari negara manapun.
            Laju pertumbuhan pemakai internet diperkirakan meningkat 10 persen per bulan tiap tahunnya. Pada tahun 1999, pemakai internet mencapai jumlah 300 juta, tahun 2000 menjadi  750 juta, tahun 2001 meningkat menjadi 1,5 milyar dan diprediksikan pada tahun 2010 nanti, semua penduduk yang diperkirakan berjumlah 5,5 milyar jiwa telah menjadi pengguna internet.
            Arus globalisasi memang lebih banyak terjadi melalui teknologi informasi dan komunikasi, dan kemudian membawa globalisasi di bidang-bidang yang lain, tak terkecuali di bidang ekonomi. Jalur globalisasi melalui ekonomi-perdagangan mewujudkan diri pada kesejagatan perekonomian bangsa-bangsa yang telah mengakibatkan penginternasionalan pasar uang, transfer modal melintasi perbatasan nasional semua negara dalam jumlah yang besar dan secara berkesinambungan dengan kecepatan yang sangat tinggi.
            Di awal millennium ketiga ini, belahan bumi Pasifik tampaknya akan menciptakan gelanggang dunia yang paling penting bagi drama-drama sejarah yang terbentang dalam dasawarsa-dasawarsa yang akan datang. Meliputi sekitar separuh penduduk dan sumber daya dunia, Asia timur dan Pasifik khususnya telah menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi yang begitu cepat. Pertumbuhan ini dengan segala permasalahannya mempunyai pengaruh dan membawa perubahan besar dan penting pada segala segi kehidupan bangsa-bangsa yang bersangkutan. Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Kesepakatan Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) dan beberapa deklarasi lainnya yang melibatkan Indonesia menjadi gerbang bagi terbukanya era perdagangan bebas ke Indonesia.
            Era perdagangan bebas adalah era penghapusan segala hambatan terhadap lalulintas perdagangan antar negara. Dengan perkataan lain, segala macam hal yang diperdagangkan (segala macam barang, jasa uang/dana, pabrik) termasuk perangkat yang terkait akan bebas keluar masuk, di antaranya pengusaha, perusahaan, dan tenaga ahli di berbagai bidang. Liberalisasi perdagangan ini mau tidak mau akan membawa dampak yang luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
            Jalur lain dari globalisasi saat ini adalah pariwisata. Turisme merupakan industri kedua setelah jasa keuangan (financial service), sedang dan akan tumbuh menjadi industri terbesar di dunia. Hari ini, diperkirakan 1 dari tiap sembilan pekerja di planet ini melakukan perjalanan wisata. Untuk tahun 2000, jumlah wisatawan mancanegara yang meninggalkan negerinya berkeliling dunia diperkirakan mencapai 637 juta orang.
            Dewan Turisme dan Perjalanan Dunia meramalkan bahwa dari sekarang hingga 2005 perjalanan turisme akan menciptakan 144 juta pekerjaan yang berskala dunia, diantaranya 112 juta berada di kawasan pertumbuhan cepat Asia-Pasifik. Melalui turisme ini terjadi kontak-kontak langsung dengan aneka ragam budaya dan cara hidup di dunia dengan budaya setempat. Semakin banyak orang terpajang pada budaya, bahasa dan pemandangan alam yang lain, semakin kuat keinginan orang untuk mengalaminya dari dekat.
            Jadi, hakekat globalisasi adalah kebebasan lalulintas dari “sesuatu” tanpa dapat dihalangi oleh batas-batas negara atau siapapun, baik berupa informasi, barang, jasa, gagasan, modal maupun orang. Datangnya era globalisasi membawa tantangan, berupa peluang maupun ancaman, membawa dampak positif dan negatif. Dari sisi positif, globalisasi memberikan platform yang sama untuk berinteraksi dan berkomunikasi menuju saling pengertian dan keserasian yang lebih baik, untuk memelihara dan melestarikan perdamaian dunia. Globalisasi memerangi isolasi dan keterbelakangan, mendorong keterbukaan, kemajuan dan demokratisasi dalam kehidupan, memacu prakarsa dan kreativitas, menawarkan peluang usaha-usaha baru yang menjanjikan dan merangsang keuletan bersaing dalam merebut setumpuk prestasi. Pendek kata, globalisasi membuka horison-horison baru yang cemerlang untuk mencapai puncak-puncak baru dalam peradaban umat manusia.
            Pada sisi lain, globalisasi juga membawa pengaruh negatif, bencana krisis sosial dan krisis budi pekerti. Hampir semua negara di dunia mengalami krisis ini, dalam wujud kemelaratan, pengangguran, dan disintegrasi sosial. Globalisasi membawa ancaman, karena kita nyaris kehilangan cara untuk melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai yang penting bagi masyarakat kita. Saat ini, kita risau karena budaya-budaya tradisional kita yang agung bisa ditenggelamkan oleh banjir film, acara televisi, video, buku-buku dan majalah dari Barat.
            Di Amerika misalnya, krisis moral menunjukkan tingkat yang sangat memperihatinkan. Kelahiran di luar nikah dalam masyarakat Amerika yang berkulit putih bertambah dari 10,7 persen di tahun 1970 menjadi 29,5 persen pada tahun 1991. Pada masyarakat kulit hitam pertumbuhan itu dari 37,5 persen pada tahun 1970  menjadi 67,9 persen pada tahun 1991. Bahkan sosiolog Harvard, Rainwater, meramalkan pada awal abad ke 21 ini 40 persen  dari semua kelahiran di Amerika terjadi di luar nikah, sedangkan pertumbuhan 80 persen terjadi untuk golongan minoritas.
            Beberapa pakar khawatir, bahwa sistem budaya dunia saat ini mengalami  sinkronisasi kultural  yang disebabkan perkembangan teknologi informasi-komunikasi. Sinkronisasi mengakibatkan kreativitas dan daya temu (keinvensian) budaya penerima dicampakkan ke dalam kebingungan atau dibinasakan, dimana dimensi-dimensi khas dalam nilai-nilai manusia lenyap dengan cepat (Hamelink, 1983). Teknologi komunikasi massa modern yang dikontrol secara sentral, dalam kenyataan telah menjadi “instrumen pembasmi keragaman kultural dan menukarnya dengan suatu budaya global tunggal”. Menurut perkiraan Arthur Koestler, dunia ummat manusia dalam bencana akibat budaya yang diseragamkan, dimekanisasi, distereotip dan disederhanakan ke suatu bentuk umum yang paling rendah.
            Hampir di semua negara mengeluh akibat perkembangan teknologi informasi-komunikasi yang begitu cepat, khususnya globalisasi budaya yang ditampilkan oleh beberapa film buatan Amerika. Perkembangan tersebut dianggap merupakan ancaman serius bagi kehidupan masyarakat.  Di Perancis, digalakkan kampanye keprihatinan tergesernya tatanan budaya lokal akibat kehadiran budaya asing yang ditawarkan melalui media televisi dan film dan dikenal di Perancis sebagai “imperialisme budaya Amerika Serikat”. Pemerintah Jacques Chirac sedang mempersiapkan agenda untuk meninjau kembali undang-undang menyangkut penayangan materi pornografi di media TV, video dan situs internet. Saat ini, TV Perancis mempertontonkan sekitar 950 film  untuk jenis film X-rated (pornografi) dan film-film kekerasan dalam sebulan. Dalam sebuah jajak pendapat yang dilakukan Watchdog Media Audiovisual (CSA) menunjukkan bahwa mayoritas responden menginginkan agar baik TV kabel maupun non kabel tidak lagi menayangkan film-film seperti itu. Sementara di Singapura, usaha yang dilakukan untuk mengantisipasi merebaknya budaya Amerika, maka mantan perdana menteri Singapura Lee Kwan Yew melancarkan kampanye penggunaan bahasa Mandarin untuk mengurangi westernisasi yang mewabah lewat bahasa Inggris. 
            Bagaimana halnya dengan Indonesia? Suara keprihatinan dan nada keresahan juga sudah agak lama terdengar dalam masyarakat, dilontarkan oleh kalangan pendidik, orang tua, pemuka agama, cendekiawan dan budayawan yang masih memiliki kepedulian dan tanggung jawab sosial yang besar. Mereka amat mengkhawatirkan pengaruh negatif dari film-film dan tayangan televisi asing yang didominasi oleh produk negeri Uncle Sam. Kebijakan Angkasa Terbuka (open sky policy) yang diterapkan pemerintah mengakibatkan banjirnya tayangan dari beberapa stasiun televisi di Indonesia.  Dalam penelitian terungkap bahwa perbandingan adegan pro-sosial dan anti-sosial dalam film cerita untuk anak-anak yang disiarkan oleh stasiun-stasiun televisi swasta di Indonesia menunjukkan lebih banyak adegan anti-sosial (52 persen)  daripada pro-sosial (48 persen). Bahkan film yang berasal dari Amerika Serikat menunjukkan angka tertinggi 54,23 persen dalam jumlah adegan anti-sosial.
            Perdebatan sekitar media dan imperialisme kebudayaan sudah berlangsung lama dan akan terus berlanjut. Williams (1982) melihat kebudayaan sebagai “the signifying system through which necessarily a social order is communicated, reproduced, experienced and explored”. (sistem yang bermakna, melalui makna tata-tertib sosial harus dikomunikasikan,  ditiru, dialami dan dijelajahi). Dalam hal ini termasuk tidak hanya aktivitas artistik dan intelektual, melainkan juga “kebiasaan-kebiasaan yang bermakna” seperti seni tradisional, bahasa, jurnalisme, mode dan periklanan. Menurut Hamelink (1983), manusia beradaptasi pada lingkungannya melalui serangkaian hubungan langsung dan tidak langsung, dan hubungan-hubungan tidak langsung ini merupakan sistem kultural dari suatu masyarakat. Hal yang menentukan bagi kelangsungan hidup masyarakat adalah kecukupan dalam sistem kultural tersebut, yang terdiri atas tiga jenis hubungan adaptif: instrumental, simbolik dan sosial.
            Sosiolog Cassirer (1977) menyatakan bahwa orang hidup dalam dunia simbolik. Di antara ciri-ciri yang paling khas dari kehidupan manusia adalah pikiran dan perilaku simbolik ini, dan bahwa seluruh perkembangan budaya manusia didasarkan pada kondisi-kondisi ini. Media dan produk budaya membawa nilai-nilai yang halus (innate values) dari tempat asalnya. Salah satu issu kultural adalah promosi yang tepat mengenai konsumerisme dan homogenitas kultural dengan meniru model produksi dan penyusunan acara media Amerika yang bernilai komersial, dengan kata lain, perjalanan nilai-nilai kebudayaan asing melaui pendekatan media massa. Stevenson (1992) mengatakan bahwa segi negatif budaya global adalah sifat komersialnya, tanpa belas kasihan, dangkal, dan barangkali mengancam kebudayaan yang nyata, yaitu kebudayaan yang unik dan telah eksis selama kurun waktu yang panjang.
            Budaya lokal yang merupakan warisan leluhur setiap bangsa nyaris terlupakan oleh generasi muda, akibat budaya pop yang merajalela melalui tayangan televisi dan film asing. Meskipun perang antar negara sudah mulai langka , namun malapetaka demoralisasi yang dihembuskan media menjadi “momok” yang lebih mengerikan. Dekadensi moral dan dehumanisasi  menggerogoti hampir semua aspek kehidupan masyarakat kita. Revolusi informasi yang tadinya diharapkan membawa berkah untuk melahirkan masyarakat yang lebih demokratis, lebih manusiawi dan tercerahkan, justru sebaliknya melemparkan banyak orang ke dalam lembah kebingungan, disorientasi dan stress berkepanjangan.
            Tepatlah kata Majid Tehranian (1993) bahwa : “the world stands at a historical juncture between the roads to self-destruction and self-renewal”. (dunia saat ini berada pada titik waktu sejarah antara jalan menuju penghancuran - diri dan jalan menuju pembaharuan diri-kembali). Salah satu kecenderungan global menurut Tehranian, adalah revivalisme (kebangkitan kembali) agama. Kebangkitan kembali kesadaran beragama di dunia hari ini dipandang sebagai krisis modernitas. Modernisasi sebagai proyek pencerahan sekuler Eropa yang didasarkan pada pandangan dunia secara ilmiah, teknologi dan instrumental dengan menaruh keyakinan penuh pada kesempurnaan dan perkembangan manusia yang tidak terhingga, nampaknya sudah mulai mengalami jalan buntu. Tunggakan kultural dan moral dalam perkembangan manusia telah membuat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi masalah dan melapateka kemanusiaan yang memerlukan perhatian tersendiri.

C.  Dakwah Penyelamat Dunia

            Nilai yang dominan dalam era globalisasi sebagai pancaran peradaban pasca-industri adalah nilai-nilai iptek dan ekonomi. Oleh karena itu, banyak hal yang terjadi dan berkembang di bumi ini  bisa saja sangat mem-prihatinkan dalam pandangan agama, moral dan kemanusiaan. Sebagaimana ditunjukkan oleh budaya sekuler yang melahirkannya, nilai iptek adalah teori (objektivitas), sedangkan ekonomi mempunyai nilai guna (utilitas). Dengan etik keobjektifan, arti hidup manusia tidak dapat diketahui, demikian juga dengan etik utilitas.
            Kedua jenis nilai tersebut sangat terbatas dan tidak dapat memberi petunjuk kepada manusia untuk memahami makna kehidupan. Hanya agama yang mampu berbicara tentang itu, karena hanya agamalah yang memiliki nilai kesucian. Dengan nilai ini manusia dapat melihat alam semesta sebagai penjelmaan sesuatu yang maha besar yang menguasai dan memenuhi segala sesuatu, penuh rahasia dan kegaiban. Maka etik agamalah yang mempunyai keistimewaan, melingkupi sekalian etik khusus dan terbatas dari semua nilai lainnya.
            Nilai sentral Islam sebagai “dien” adalah Tauhid. Nilai-nilai Islam menyatu dengan sifat manusia, dan mengakibatkan evolusi spiritual dan moralnya. Sesuatu yang menghambat jalan ini atau menjadi perintang dianggap sebagai nilai yang tidak Islami, ini semua tak sesuai dengan sifat manusia; tetapi berasal dari kebodohan dan ego, kesombongan dan dorongan manusiawi; dan merupakan sumber seluruh penyelewengan kemanusiaan (Sardar, 1991). Dengan menerapkan nilai Islam, manusia dapat menjadi khalif Allah di muka bumi dan tanpa itu, dengan mudah dapat menjadi khalif syaithon.
            Di tengah kesimpangsiuran zaman, masyarakat kita mengalami krisis akhlak dan kebudayaan yang terbesar dalam sejarah kemanusiaan. Dengan kekuasaan iptek yang membuat dunia semakin kecil dengan berbagai kreativitasnya, tidak selamanya dapat memberi jalan keluar bagi setiap persoalan yang dihadapi manusia. Ia tidak dapat memberi kepada manusia pengetahuan tentang arti hidup dan memberi manusia tanggung jawab dan solidaritas yang seluas-luasnya. Maka untuk menyelamatkan manusia dari jurang kehancurannnya dan membuat bumi ini kembali menjadi tempat kediaman yang penuh rahmat, kebahagiaan dan kesentosaan, nampaknya ilmu pengetahuan tidak boleh tidak harus berdialog kembali dengan agama, dengan kegaiban dan kesucian yang dianggapnya irrasional.
            Tidak sukar untuk ditebak, betapa hebat dan besarnya tantangan yang dihadapi oleh dakwah Islamiyah dalam era globalisasi yang sarat dengan akhlak tercela (di samping perbuatan yang baik). Gegap gempita gemuruh pesan-pesan yang mengepung dan membombardir kita sepanjang waktu, membuat seruan dakwah seolah-olah tenggelam dalam kebisingan tersebut. Banjir informasi yang tidak sedikit membawa nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam, adalah suatu hasil kerja raksasa yang dilakukan secara profesional, sistematis, terencana dan terorganisir oleh baron-baron industri informasi transnasional dengan motif kepentingan ekonomi semata.
            Untuk mengimbangi pesan-pesan yang membanjir ini, mau tidak mau, suka atau tidak suka, lembaga-lembaga dakwah harus dapat dan harus mampu menggunakan teknologi yang sama dalam menyampaikan pesan-pesan Islam. Ini merupakan masalah “to be or not to be”, apabila kita ingin tetap eksis di tengah pergolakan revolusi iptek yang semakin seru. Hal itu berarti, lembaga dakwah islam harus ikut berlomba menguasai iptek, bukan saja teknologi konsumennya melainkan juga teknologi produsennya, serta mulai memusatkan perhatian pada kelahiran basis pengetahuan dan mengembangkan lembaga informasi sendiri.
            Aktivis dakwah harus bisa memahami manfaat dan mudharat dari setiap produk teknologi, serta secara sadar memanfaatkannya untuk mencapai tujuan dakwah yang diharapkan bersama. Secara ideal, sumber daya manusia di bidang iptek ini, baik hardware, software maupun brainware-nya, merupakan sesuatu yang bersifat imperatif. Jalannya tidak lain adalah melalui pendidikan dan pelatihan. Human investmen di berbagai bidang ini merupakan “pre-requisite” (tidak hanya pada pendidikan da’inya) agar dakwah benar-benar dapat dilaksanakan secara professional dan terarah. Umat manusia dan umat Islam khususnya tidak boleh dibiarkan terus dalam kebingungan, terombang-ambing dalam disorientasi, kecemasan, frustrasi akibat laju perubahan (rangsang lingkungan) yang begitu cepat, semakin melimpah dan bertubi-tubi (over-stimulation).
            Dakwah Islam hari ini, tidak cukup lagi dilakukan secara sendiri-sendiri, tetapi sudah memerlukan pengorganisasian dan manajemen yang prima, dikelola secara modern dan professional dengan melibatkan berbagai kalangan seperti para da’i, pendidik, ulama, cendekiawan dari berbagai keahlian, pengusaha, hartawan, teknisi dan berbagai kelompok yang saling terkait dalam suatu lembaga yang kokoh dan terkoordinir rapih untuk dapat menangkis berbagai pengaruh negatif yang ditimbulkan globalisasi.
            Para da’i selaku ujung tombak atau key-rollers dalam keberhasilan dakwah menguasai pengetahuan Islam secara komperehensif, para da’i juga dituntut menguasai ilmu-ilmu sosial lainnya sebagai penunjang, seperti psikologi-sosial, antropologi-sosial, bahasa dan ilmu lain yang relevan, juga ilmu komunikasi sebagai salah satu ilmu pengetahuan yang mutlak harus dikuasai; baik komunikasi sosial maupun komunikasi massa, metode, teknik, model-model dan pendekatan-pendekatannya untuk diterapkan secara efektif dalam melaksanakan prinsip-prinsip dan tujuan dakwah.
            Dalam Al Quran surah An Nahl : 44, Allah berfirman :



            Artinya   :   Dan Kami turunkan kepadamu peringatan (al-Qur’an), agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka  dan supaya mereka memikirkan.

            Dari ayat di atas menunjukkan bahwa kegiatan dakwah adalah suatu kegiatan komunikasi massa, yaitu komunikasi yang bersifat umum atau terbuka kepada siapa saja. Selanjutnya pada ayat 125 ditegaskan oleh Allah:


            Artinya   :   Serulah (manusia) kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

            Pada surah an Nahl ayat 125 di atas, lebih jelas lagi tergambar mengenai model komunikasi yang paling tepat diterapkan dalam teknik dakwah yaitu komunikasi interaksional, dengan mengutamakan dialog yang didasarkan pada kebijaksanaan, nasehat yang baik, rasionalitas, partisipatif, pendekatan persuasif, informasional dan instruksional.
            Dari para ulama dan pemikir Islam, dibutuhkan rumusan-rumusan yang berkesinambungan mengenai kebijaksanaan-kebijaksanaan strategis dakwah menurut perkembangan waktu dan situasi yang terus menerus berubah. Dibutuhkan pula pengkajian yang cermat mengenai yang mana di antara ajaran Islam tersebut yang mengandung nilai dasar, yang mengandung nilai instrumental dan praktis. Penetapan penggolongan ini amat perlu, terutama bagi para perencana dakwah dan para da’i di lapangan, sehingga Islam sebagai ajaran modern dalam segala zaman dapat secara tepat diaktualisasikan dalam pesan-pesan dakwah dan dirasakan kelenturannya oleh para mad’u.
            Para peneliti muslim diperlukan partisipasi aktifnya dalam penyediaan baseline-data bagi para perencana dalam penyusunan strategi dakwah dan di dalam melakukan penelitian evaluatif dan sumatif pada implementasi suatu perencanaan sebagai feedback atau masukan yang dibutuhkan para perencana dakwah. Dengan manajemen dakwah yang professional diharapkan strategi dakwah masa depan dapat memanfaatkan fenomena kebangkitan agama dan kesadaran kultural di tengah arus globalisasi secara lebih efektif, sehingga perencana dakwah dapat memanaj konflik dan bencana menjadi rahmat bagi umat. 

DAFTAR  PUSTAKA


Achmad, A.S. Manusia dan Informasi. Ujungpandang: Hasanuddin University Press,  1990         
Al-Qur’anul al-Karim
Atal, Yogesh. Entering The Global Village, Media Asia, 21,1, 1985
Cassirer, E. A Clue To The Nature of  Man : the Symbol, in D.H. Wrong and H.L Gacey (ed), Reading in Introductory Sociology. New York: Macmillan (3rd.ed), 1977.
Combs, James.H, and Dan Nimmo. The New Propaganda. New York: Longman, 1993
Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Semarang: Toha Putra, 1989
Ferguson, Marjorie. Globalization and Cultural Industries: Myths and Realities, in Cultural Industries: National Policies and Global Markets. CIRCUIT Conference,  Desember 1992.
Frederick, Howard.H. Global Communication and International Relations. Belmont, CA: Wadsworth, 1993.
Hamelink,C.J.  Cultural Autonomy In Global Communications. New York: Longman, 1983.
Moerdiono. Tiga Tantangan Ideologis Kita Di Masa Depan : Konsistensi, Kontekstualisasi dan Aktualisasi. Jakarta: Sekretariat Negara RI, 1995.
Naisbitt, John. Global Paradox. New York: William Morrow and Company, Inc, 1994.
Sardar, Ziauddin. Tantangan Dunia Islam Abad 21: Menjangkau Informasi, Cet.IV; Bandung: Mizan, 1991.
Toffler, Alvin. Power Shift. New York: Bantam Books, 1990.
Williams, R. The Sociology of CultureNew York: Schocken Books, 1982.
Yeo, George. The Technological Revolution Poses Threats or Opportunities? Media Asia, 21,2, 1994.


Terimakasih telah membaca artikel berjudul Makalah - Tantangan Dakwah

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 4/18/2017

0 komentar Makalah - Tantangan Dakwah

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak