Home » » Makalah - Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Makalah - Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan

A. Perkembangan Ilmu Pemgetahuan

Makalah - Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Abad sekarang sering disebut abad ilmu pengetahuan dan teknologi, karena berkembangnya ilmu pengetahuan yang merupakan kekuatan besar dari berbagai kegiatan kebudayaan Barat pada zaman modern sekarang ini.  Kebudayaan-kebudayaan lain tentu saja telah memberikan sumbangan yang sama pentingnya pada kemajuan umat manusia. Tetapi dalam bidang non ilmiah, Yunani Kuno membuat banyak perkembangan atau kemajuan dalam bidang filsafat, seni dan pemerintahan.

Ketika mereka menunjukkan adanya perubahan perhatian pada bidang ilmu pengetahuan, maka mereka menunjukkan minatnya ke arah masalah yang bersifat teoritis. Orang Yunani Kuno dikenal dengan pandangan-pandangan mereka dalam bidang agama dan moralitas. Teologi merupakan salah satu bidang yang sangat diminati pada abad pertengahan. Sejak zaman renaissance[2] suasana Barat telah menyuburkan pertumbuhan ilmu pengetahuan dan aplikasinya.
Ilmu disebut cammon sense yang teruji dan terorganisasi. Keistimewaan ilmu terletak pada pandangan-pandangannya yang lebih kritis, observasi dan diskripsi yang lebih teliti dalam melukiskan benda-benda dan peristiwa-peristiwa. Istilah ilmu berasal dari bahasa Latin Sciro yang artinya mengetahui. Dewasa ini kata science dipergunakan dalam arti yang sempit  menunjuk pada pengetahuan tentang alam dalam lingkup kuantitas dan objektif. Pengetahuan ini merupakan pengetahuan itu sendiri, tanpa menunjukkan pandangan tentang penerapannya di dalam praktek.
Perkembangan ilmu merupakan salah satu prestasi besar dari pikiran manusia. Tanpa pengetahuan tentang perkembangan atau pertumbuhan ilmu adalah sukar untuk mengerti sejarah modern dewasa ini. Kebudayaan Kuno dengan pertanian dan seni industrinya yang primitif muncul dan berasal dari dekat lembah-lembah sungai yang besar seperti sungai Nil, Euphrat dan sungai Kuning, tanahnya subur dan airnya cukup untuk kehidupan manusia dan ternaknya.
Lebih dari 2000 tahun sebelum Masehi, orang-orang Babylon Mesir memiliki kerangka pengetahuan, termasuk di dalamnya tentang satuan pengukuran seperti panjang, berat, dan isi; penjumlahan, ukuran tentang persegi dan kubus; mereka juga tahu tentang sistem desimal, dibuat berdasarkan pada sepuluh jari manusia. Di Mesir masalah menaiknya air pada sungai Nil dengan tanda-tanda yang telah jelas, mengarah kepada usaha penelitian tentang tanah yang kemudian menstimulasi tumbuhnya ilmu geometri. Kemudian dengan menggunakan berbagai alat tentang luas pengukuran permukaan, keseimbangan cahaya dan unting-unting beserta sejumlah pengetahuan lainnya tentang matematik, semua hal ini digunakan dalam pembangunan piramida. Seni tentang menenun dan memintal benang dengan ilmu-ilmu tersebut menjadi lebih praktis. Di samping itu mereka juga telah menggunakan kereta roda berkuda[3].
Orang Mesir dan Babylon memandang dunia seperti kotak, yang menjadi dasar dari kotak ini adalah bumi. Mereka mengetahui pula sedikit tentang astronomi berdasarkan pengamatan manusia tentang keteraturan benda-benda langit. Hari-hari dalam seminggu diberi nama sesudah matahari , bulan dan lima planet lain yang telah diketahuinya serta menentukan bulan dan tahun berdasarkan peredaran bulan dan matahari. Pada abad keenam sebelum Masehi, gerhana telah dapat diramalkan dan mereka memiliki kalender satu tahun yang terdiri dari 365 hari.
Di India dan Cina, kemajuan yang sama telah terjadi pula. Di Cina ditemukan kertas dan kompas. Lambang bentuk angka yang kita pergunakan sekarang ini berasal dari India melalui bangsa Arab. Dengan pengalaman bangsa Yunani , kesatuan manusia dan perhatiannya tentang manusia dan alam bercabang terus, dan ilmu menjadi sesuatu yang terpisah dan mempunyai aktivitas yang otonom.
Bangsa Yunani berkeinginan  untuk mengetahui tentang pengetahuan itu dan kemudian semangat ilmiah  dilahirkan . Sumbangan  bangsa Yunani adalah sangat besar. Banyak sekali istilah-istilah ilmiah dan filosofis yang dipergunakan sekarang ini berasal dari bangsa Yunani.

B. Pengaruh Pemikiran Yunani

Thales, seorang filosuf semesta alam dari suku Ionia yang pertama yang hidup pada daerah yang dikuasai Yunani, yaitu di kota Miletus di Asia Kecil melaporkan bahwa ia telah mengunjungi Mesir dan mereka telah mengenal sistem survei tanah. Kemudian  Thales mengimbangkan ilmu tentang geometri dan menjelaskan pandangan-pandangannya tentang semesta alam yang sifatnya cair.
Terlepas dari sumbangan Aristoteles, kita dapat membuat daftar yang lebih banyak lagi tentang berbagai sumbangan bagsa yunani, termasuk di dalamnya the atomic theory of matter (Leucippus dan Democritus), obat-obatan (Hippecrates), deduktif geometri (Thales, Euclid), astronomin (Ptolemy dan Aristarchus), mekanika (Archimmedes), dan teori tentang angka (Pythagoras). Melalui Pythagoras dan para ahli filsafat serta ilmu pengetahuan yang mempengaruhinya, orang-orang Yunani percaya bahwa di dalam angka dan matematika mereka telah menemukan petunjuk tentang hakekat alam semesta ini.
Aristoteles (384-322 SM) telah mengorganisasi atau menyusun pengetahuan pada zamannya dan perkembangannya. Sampai pada zaman renaissance tidak seorang pun bangsa Eropa dapat menyamainya dalam bidang pengetahuan ilmiah. Ia mempelajari tentang 500 jenis hewan dengan sistem klasifikasinya, hal ini memberi pengaruh besar pada pemikiran dalam bidang ilmu-ilmu biologi.
Ia tentu saja banyak membuat kesalahan, karena menempatkan kedudukan kecerdasan pada hati dan memandang otak sebagai sistem pendingin. Ia menolak teori atom dari Democritus dan menyatakan bahwa bumi adalah bulatan, juga ia secara diam-diam menolak teori Pythagoras bahwa matahari merupakan pusat dari alam semesta. Akantetapi, ia sendiri telah banyak menunjukkan pada sumbangan-sumbangan dalam cara berpikir ilmiah. Barangkali yang hebat dari mereka adalah cara mengatur peraturan berpikir itu sendiri. Dalam hal ini Aristoteleslah yang telah menciptakan logika formal atau logika silogistis.

C. Filsafat Sebagai Tonggak Kebudayaan Hellinistik

Filsafat Hellinistik dalam perkembangannya telah mengalami perubahan yang unik. Pada awalnya akal mendapat posisi kunci dalam memecahkan berbagai persoalan. Pada fase kedua, skeptisisme dianggap sebagai sumber kebenaran dan tata nilai. Dan pada fase terakhir, muncul suatu kecenderungan baru, yaitu kegandrungan masyarakat kepada hal-hal yang bersifat mistik. Dengan demikian tradisi intelektual dicampakkan. Namun, para filosuf Hellinistik sepakat dalam satu hal, yaitu perlunya menawarkan jalan keselamatan bagi umat manusia dari kekerasan dan kejahatan di dalam kehidupan.
Dari fenomena di atas, muncullah aliran filsafat Epikurisme dan Stoisme di kalangan Hellinistik, yaitu pada sekitar tahun 300 SM. Keduanya sama-sama berkembang di Athena. Epikurisme  dibangun oleh Epicurus, agaknya nama aliran ini dinisbatkan pada sang pendiri. Ia lahir di pulau Samos. Sedangkan Stoisme didirikan oleh Zeno yang berasal dari Cyprus, ia keturunan Phoenisia. Kedua aliran ini secara garis besar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a.  Sama-sama bersifat individualistik, tidak berorientasi kepada kemakmuran    rakyat banyak. Kebaikan bertumpu pada kepuasan individu.
b.  Keduanya bersifat  materialistik, mereka menolak substansi spiritualistik, dan jiwa diakui sebagai materi.
c.  Mereka juga mengajarkan fatalistik, sikap qiutis merupakan cara untuk mencapai tujuan.
d. Nominalisme dan  sensasionalisme  menjadi anggapan mereka, di mana konsep itu hanya nama, sedangkan seluruh pengetahuan berdasarkan kepada perasaan.
Dari urauian di atas, terlihat sekali pengaruhnya terhadap perkembangan pemikiran filsafat modern yang bercorak materialisme dengan aliran-alirannya seperti  pragmatisme dan existensialisme[4]. John S. Brubacher dalam bukunya Modern Philosophy of Education, mengemukakan bahwa teori pragmatisme mengkaitkan kebenaran pada daya guna objek. Jadi kebenaran itu menurutnya adalah proses pemeriksaan terhadap benar tidaknya sesuatu dalam praktek pelaksanaan. Karena itu kebenaran tidak pernah sempurna dan abadi, melainkan dalam proses berubah-ubah. Sesuatu disebut benar, hanya kapan berguna, mampu memecahkan problem yang ada. [5]   Hal seperti ini sudah menjadi corak pemikiran modern.
Dalam beberapa hal kedua aliran tersebut terdapat perbedaan, seperti Zeno dan kedua muridnya, Cleanthes dan Chrysippus yang mengajarkan bahwa cosmos merupakan aturan-aturan yang digunakan untuk mencari kebaikan tertinggi dalam keragaman kontradiksi. Kejahatan bersifat relatif, ketidak beruntungan merupakan penyempurnaan dunia ini. Segala sesuatu yang terjadi merupakan determinan dari kadar rasionalitas yang lemah. Manusia bukanlah pencipta takdirnya. Kebahagiaan tidak lain manakala manusia dapat menyelesaikan keputusan yang sempurna dalam hidupnya sesuai dengan kosmik dan membersihkan dirinya dari seluruh kebencian dan terus melawan keburukan untuk mencapai keberuntungan.[6]  Filsafat Stoisme ini merupakan produk terkenal dari Hellinistik  yang intinya mengajarkan  equalitarianism, pacifism dan humanitarianism  yang diakses oleh filsafat modern.
Berkenaan dengan konsepsi alam, Stoisme mengambil dari Heraclitus dan Epicurisme mengambil dari Democritus yang pada intinya beranggapan bahwa segala sesuatu berasal dari atom yang tidak dapat dibagi-bagi lagi. Jadi atom merupakan partikel yang paling kecil. Perubahan tidak lain adalah hasil dari kombinasi partikel-partikelnya. Sungguhpun demikian, Epicurisme menolak atomisme absolut, ayitu gerak atom yang mekanik. Tetapi mereka mengakui bahwa gerak atom tidak lain adalah gerakan ke bawah dalam garis tegak lurus karena berat masa atom. Karena jika atom bergerak mekanik, maka manusia juga akan bergerak secara atomatis. Di sini Epicurisme lebih terbuka dibandingkan dengan Stoisme.

D. Panorama  Keemasan  Filsafat Hellinistik

Era yang sangat cemerlang  dalam sejarah ilmu pengetahuan sebelumnya sampai abad ketujuh sebelum Masehi adalah era peradaban Hellinistik. Tentu saja  banyak prestasi-prestasi era modern tidak didapatkan tanpa penemuan-penemuan saintis Alexandria, Syracuse, Pergamum dan kota besar lainnya dari alam Hellinistik.  Alexander sendiri memberikan dorongan untuk meningkatkan penelitian. Banyak stimulus penting yang disediakan untuk penelitian dengan cara menyatukan ilmu  orang-orang Kaldea dan orang-orang Mesir dengan ilmu orang-orang Yunani.
Ilmu-ilmu yang terkenal pada era Hellinistik adalah astronomi, matematika, geografi, kedokteran, fisika dan kimia[7]. Pada umumnya  adalah ilmu-ilmu murni. Sedangkan ilmu-ilmu yang bersifat praktis kurang begitu dikenal, kecuali untuk karya Theophrastus yang merupakan orang pertama memperkenalkan masalah gender pada tumbuh-tumbuhan. Biologi juga secara umum tidak begitu dipedulikan. Kajian biologi dan kimia terbatas pada aspek-aspek yang berhubungan dengan perdagangan. Rupanya mereka menganggap bahwa ilmu-ilmu tersebut tidak mengandung nilai praktis.
Astronom yang paling terkenal pada masa ini adalah Aristarchus (310-230 SM) dari Samos yang kadang-kadang dipanggil sebagai Copernicus Hellinistis. Hasil penemuannya yang terkenal adalah ketidakbergerakan bintang-bintang yang sudah mati karena jauh dari bumi. Ia adalah orang yang pertama yang mempunyai konsep yang memadai tentang ukuran raksasa jagat raya. Walaupun demikian, sebenarnya yang membuat ia terkenal adalah deduksinya tentang bumi dan planet-planet lainnya berputar mengelilingi matahari. Sayang deduksi ini tidak diterima oleh masyarakat karena dianggap bertentangan dengan ajaran Aristoteles dan ide-ide antroposentris orang-orang Yunani.
Astronom terkenal lainnya pada era ini adalah Hipharcus, karya-karyanya dihasilkan ketika ia berada di Alexandria pada pertengahan abad kedua sebelum Masehis. Sumbangannya yang terpenting adalah penemuan astrolob dan peta raksasa.  Ilmu yang berhubungan dengan astronomi adalah matematika dan geografi. Ahli matematika terkenal pada masa ini adalah Euclid (323-285 SM). Ia juga dianggap sebagai penemu geometri, cabang matematika. Sedangkan ahli geografi yang terkenal adalah Eratoshnes (276-194 SM), ia juga dikenal sebagai seorang astronom, penyair, filolog dan pustakawan yang berasal dari Alexanria.
Menurut catatan yang dibuat oleh Burns, kemajuan yang lebih penting pada zaman ini adalah kemajuan ilmu kedokrteran. Karya yang paling utama adalah yang ditulis oleh Herophiluis dari Chalcedon. Ia telah mengemukakan gagasannya tentang pembedahan terhadap manusia. Di antara prestasinya yang penting  adalah deskripsinya tentang otak.  Ia telah membedakan fungsi-fungsi bagian yang berbeda, menemukan nadi dalam tubuh, diagnosis tentang penyakit, pembedaan urat daging dengan urat syaraf dan hubungannya dengan otak.[8]

E. Esensi Pengkajian Ilmu

Para filosof berusaha memecahkan masalah-masalah yang penting bagi manusia, baik secara langsung atau tidak langsung. Melalui pengujian yang kritis, filosof mencoba untuk mengevaluasi informasi-informasi dan kepercayaan-kepercayaan yang dimiliki tentang alam semesta serta kesibukan dunia manusia. Filosof mencoba membuat generalisasi, sistematika dan gambaran-gambaran yang konsisten tentang semua hal yang diketahui dan yang dipikirkan.
Dari latarbelakang kehidupan para filosuf, mulai dari zaman Yunani Kuno hingga zaman modern ini, dapat dilihat bahwa mereka berasal dari beraneka ragam profesi, atau latarbelakang sosial yang berbeda. Di antara filosof ada yang memimpin agama seperti St. Agustine, Berkeley yang mencoba untuk memberikan penjelasan filsafatnya dari sudut pandangan agama. Beberapa filosof ada yang sebagi ilmuan, sperti Rene Descartes yang mencoba menafsirkan arti pentingnya berbagai teori dan penemuan ilmiah. Kemudian John Locke, Thomas Hobbes dan Karl Marx serta yang lainnya, mereka berfilsafat dengan maksud untuk mempengaruhi perubahan tertentu di dalam organisasi politik masyarakat.
Dari sudut pekerjaannya, dapat dilihat bahwa di antara mereka ada yang menjadi guru besar seperti Thomas Aquina pada zaman Skolastik. John Dewey seorang guru besar di Universitas Columbia. Ada yang sebagai dokter medis, seperti Ibnu Sina ( telah dikukuhkan sebagai bapak kedokteran dunia oleh PBB)[9] dan John Locke. Kemudian ada yang sebagai penulis surat kabar, seperti John Struart Mill, dan ia pernah menjadi anggota parlemen sebentar. Sedangkan filosuf-filosuf terkemuka banyak sebagai ilmuan atau ahli matematika, seperti Immanuel Kant, Bertrand Russel, Enstein, Al Biruni, serta ada juga sebagai seorang sastrawan misalnya Mohammad Iqbal.
Tanpa melihat tujuan, pekerjaan dan latarbelakang sosialnya, para filosuf telah menyumbangkan suatu keyakinan mengenai pentingnya pengujian dan analisis yang kritis terhadap pandangan-pandangan manusia, baik yang bersumber dari pengalaman sehari-hari, berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah, maupun yang lebih mendalam, apakah dapat dibuktikan kebenaranpandangan-pandangan atau kepercayaan-kepercayaan manusia itu.
Filosuf ingin menemukan apa ide dasar atau konsep yang dimiliki, apa dasar pengetahuan dan standar apa yang dipakai untuk membuat pertimbangn yang baik. Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam ini, filosuf merasa bahwa ia dapat mencapai pemahaman yang lebih bermakna tentang alam semesta, dunia dan manusia. Ketiga hal ini menjadi objek filsafat mulai dari zaman Yunani Kuno haingga sekarang ini. Mereka menggali dan menanyakan hingga ke akar-akarnya tentang segala persoalan mengenai ketigal tersebut.
Titus[10] mengemukakan ada tiga tugas utama dari filsafat, yaitu :
1. Mendapatkan pandangan yang menyeluruh.
2. Menemukan makna dan nilai-nilai dari segala sesuatu.
3. Menganalisis dan mengadakan kritik terhadap konsep-konsep.
Filsafat mencoba untuk memadukan hasil-hasil dari berbagai ilmu yang berbeda ke dalam suatu pandangan dunia yang konsisten. Filosuf cenderung untuk tidak menjadi spesialist seperti ilmuan, menganalisis dengan suatu pandangan yang menyeluruh tentang benda-benda atau masalah-masalah.
Filsafat tertarik terhadap aspek kualitatif daripada benda-benda atau segala sesuatu, terutama dalam makna dan nilai-nilainya. Filsafat menolak mengabaikan setiap aspek otentik dari pengalaman manusia. Hidup mendorong untuk mebuat pilihan dan bertindak berdasarkan skala nilai-nilai. Filsafat berusaha memformulasikan makna dan nilai-nilai dalam cara yang paling dapat diterima oleh akal. Filsafat mencoba dan menentukan kebenaran dengan pengujian secara kritis asumsi-asumsi serta konsep ilmu, bahkan semua lapangan ilmu.

F. Pokok  Pembahasan Filsafat

Bahwa filsafat adalah berfikir secara radikal , sistematis, dan universal tentang segala sesuatu. Jadi yang menjadi pokok pembahasan filsafat adalah segala sesuatu yang ada. Semua yang ada menjadi bahan pemikiran filsafat. Namun karena filsafat merupakan usaha berfikir manusia secara sistematis, disini perlu mensistematisasikan segala sesuatu yang ada itu. Filsafat perlu mengklasifikasikan segala sesuatu yang ada.  
Immanuel Kant mengajukan empat pokok pertanyaan yang harus dijawab oleh filsafat, yaitu :
1). Was darf ich hoffen     : Apakah yang boleh saya harapkan ?
2). Was kann ich wissen    : Apakah yang dapat saya ketahui ?
3). Was soll ich tun                        : Apakah yang harus saya perbuat ?
4). Was is der mench         : Apakah manusia itu ?
Menurut Kant, pertanyaan pertama dapat dijwab oleh metafisika, pertanyaan kedua dijawab oleh epistemologi, pertanyaan ketiga akan dijawab oleh etika dan pertanyaan keempat dijawab oleh antropologi. Butler mengemukakan beberapa pokok masalah yang dibahas dalam filsafat. Dalam hal ini ia menyusun sistematika pembahasan filsafat yaitu :
1)  Metafisika meliputi teologi, kosmologi, dan antropologi.
2) Epistemologi meliputi hakekat pengetahuan, sumber pengetahuan dan                    metode pengetahuan.
3)  Aksiologi mencakup etika dan estetika.

Sidi Ghazalba mengemukakan bidang permasalahan filsafat sebagai berikut :
1) Teori pengetahuan berisi apa itu pengetahuan, dari mana asalnya, apa hakekatnya, bagaimana membentuk pengetahuan yang tepat dan yang benar, apa yang dikatakan pengetahuan yang benar, mungkinkah manusia mencapai pengetahuan yang benar, dan apa yang dapatt diketahui manusia serta sampai dimana batasnya.
2) Metafisika dengan pokok-pokok masalah : filsafat hakekat atau ontologi, filsafat alam atau kosmologi, filsafat manusia atau antropologi dan filsafat ketuhanan atau teologi.
3) Filsafat nilai yang membicarakan hakekat nilai, dimana letak nilai (apakah pada bendanya atau pada perbuatannya atau pada orang yang menilainya), kenapa terjadi perbedaan nilai antara seseorang dengan orang lain, siapakah yang menentukan nilai, mengapa perbedaan ruang dan waktu membawa perbedaan penilaian. Filsafat ini disebut aksiologi.

G. Dasar-Dasar Pemikiran Yunani Kuno

Masalah ketetapan dan ketidaktetapan, atau masalah yang tetap dan yang berobah merupakan masalah yang paling dipersoalkan dalam filsafat sejak zaman Yunani hingga zaman modern. Begitu pula masalah badan dan jiwa termasuk masalah yang sering diperbincangkan para ahli filsafat yang tidak hany pada zaman Yunani klasik saja (Socrates, Plato, dan Aristoteles), namun pada zaman modern ini orang memperasalkan badan dan jiwa terutama sejak munculnya psikologi modern.
Heracleitus menyatakan semuanya menjadi berbeda dan berobah (teori phanta rei). Orang tidak akan dua kali mengarungi sungai yang sama karena tidak ada yang sama., Semua yang ada dalam kosmos selalu berobah. Sebaliknya Parmenides mempersoalkan segala sesuatu itu tetap tidak berobah. Jika dalam alam semesta terdapat elemen yang tetap, maka elemen yang tetap Ini tidak akan berobah. Zeno lebih ekstrim, ia mengemukakan bahwa hanya perobahan dalam dunia nyata yang permanen, yang mustahil terjadi, tetapi juga perobahan konsep mustahil terjadi.
Democretos (460-360 SM), seorang pelopor filsafat materialisme mencoba memecahkan pertentangan yang timbul antara teori perobahan dengan teori permanen, yaitu dengan mengemukakan karakteristik baru tentang dunia realitas secara fundamental. Menurut Deemocretos karakteristik dasar alam semesta adalah tidak bisa berobah di satu pihak dan di pihak lainnya secara konstan berobah. Ia  mengatakan bahwa bagaian akhir dari dunia nyata adalah satu bagian yang tidak dapat diuraikan, yaitu atom. Setiap atom memiliki karakteristik yang tetap dalam hal bentuk, ukuran, dan selalu sama. Tetapi di samping keadaannya yang tidak berobah, atom dianggap mengalami perobahan posisi yang secara terus-menerus tetap bergerak melalui ruang yang kosong. Setiap saat atom tersebut jatuh melalui  ruang, bertabrakan dengan atom lainnya, dan terlempar kedalam sususnan dan garis gerakan yang sama. 
Pada tahun 550 SM telah terjadi suatu revolusi intelektual, yaitu berkembangnya rasa individualisme dan tuntutan pemecahan masalah yang bersifat praktis menyebabkan para filosuf Yunani menekuni persoalan filsafat yang menyangkut manusia itu sendiri. Mereka itu disebut sebagai aliran Shopist atau Sofia. Di antara mereka itu adalah Protagoras, Georgias, Hippias dan Prodikos.
Protagoras berpendapat bahwa ukuran dari segala sesuatu itu bersifat relatif tergantung pada kebutuhan dan minat manusia, jadi manusia menentukan segalanya. Agaknya pemikiran inilah yang menjadi dasar pemikiran humanisme.
Gorgias mengatakan bahwa kebenaran itu tergantung pada tempat dan waktu, yang paling penting adalah penglihatan, tetapi penglihatan itu pun sangat subjektif. Dari uraian tadi dapat dilihat bahwa ciri-ciri alam pikiran sophist itu adalah sebagai berikut:
1.  Relativisme,  artinya kebaikan, kebenaran, keadilan dan keindahan itu relatif, tergantung kebutuhan dan minat seseorang.
2.  Skeptisisme, pendapat Protagoras yang dikutip oleh Gorgias dan dikembangkan menjadi doktrin bahwa akal manusia tidak pernah mengetahui sesuatu kecuali hal-hal yang ditangkap berdasarkan subjektivitas seseorang.
3.  Individualisme, bahwa semua undang-undang dan aturan-aturan hanyalah ekspressi keinginan yang paling kuat dari kepentingan manusia.[11]
Pendapat dari aliran Sophist tersebut akhirnya dibantah oleh para filosuf yang datang kemudian, seperti Socrates, Plato dan Aristoteles yang dikemudian hari sesungguhnya telah merealisasikan filsafat baru dari revolusi yang telah dikumandangkan oleh kaum Sophist, yakni mengambil manusia sebagai subjek pemikiran filsafat.
Socrates (469-399)SM., mengemukakan bahwa pengetahuan itu bersifat universal. Kebenaran itu tetap dan harus dicari. Manusia menurutnya, dapat memperoleh pengetahuan jika menggunakan metoda yang benar. Muridnya adalah Plato (427-347)SM., keduanya lahir di Athena.[12]  Menurut Plato, nafsu dan emosi harus dikendalikan oleh pikiran. Kebaikan adalah penguasa tertinggi alam semesta yang dipimpin oleh pikiran, Dia menolak pendapat yang mengatakan bahwa alam semesta ini adalah alam sempurna. Menurut dia, ada seuatu yang lebih tinggi dari alam semesta ini, yaitu alam idea yang hanya ditangkap oleh akal, setiap sesuatu adalah tiruan dari ide.
Aristoteles mengajarkan bahwa kebaikan tertinggi manusia terdapat dalam kesadaran diri. Kesadaran diri identik dengan berpikir, tetapi kehidupan berpikir tergantung pada kombinasi antara kondisi fisik dan mental seseorang. Tubuh harus tetap dalam kondisi sehat dan emosi dalam kontrol yang terkendali. Pemecahannya ditentukan dalam prilaku manusia dalam memelihara keseimbangan antara nafsu yang menggelora dan ketenangan jiwa.[13]
 DAFTAR PUSTAKA
Abbas, Zainal Arifin, Perkembangan Pikiran Terhadap Agama, Jilid 2, Jakarta: Penerbit  Al-Husna, 1984.
Bertens, Karl, Sejarah Filsafat Yunani, Kanisius, Cet. XII, Yogyakarta, 1995.
Brubacher,  John S., Modern Philosophy of Education, Mc.Graw Hill Book Company,  Inc. New York, 1950.
Burns, Edward McNall, Western Civilization: Their History and Their Culture , W.W.Norton and Co, New York, 1955.
Hadiwijono,  Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Penerbit Kanisius,  Yogyakarta, Cet. XI, 1995.
Hamersma, Harry, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, Penerbit PT Gramedia, Jakarta, 1986.
Titus, Harold H., Living Issues in Philosophy, American Book Campany, New York, 1959.
Watt, Watt Montgomery, Pemikiran Teologi dan Filsafat Islam,  Jakarta, P3M, 1987.


[1]Zainal Arifin Abbas, Perkembangan Pikiran Terhadap Agama, Jilid 2, Jakarta: Penerbit  Al-Husna, 1984, h. 111.
[2]Kata renaissance ini berasal dari bahasa Prancis yang berarti “kelahiran kembali” merupakan terjemahan kata Itali rinascimento. Dalam era ini antara sekitar tahun 1400-1600 manusia seakan-akan “lahir kembali” dari tidur abad pertengahan. Seluruh kebudayaan Barat dibangunkan dari suatu keadaan statis yang berlangsung seribu tahun. Lihat, Harry Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, Penerbit PT Gramedia, Jakarta, 1986, h. 3.
[3] Refrensi lebih lengkap dapat dibaca pada Edward McNall Burns, Western Civilization: Their History and Their Culture , W.W.Norton and Co, New York, 1955, h. 33-60.
[4] Pragmatisme adalah suatu aliran filsafat di zaman modern yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pegangan pragmatisme adalah logika pengamatan. Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, asal saja membawa akibat yang praktis.  Sedangkan existensialisme adalah filsafat modern yang memandang segala gejala dengan berpangkal kepada existensi, yaitu cara manusia berada di dalam dunia  di mana ia  berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya. Lihat Harun Hadiwijono,  Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Penerbit Kanisius,  Yogyakarta, Cet. XI, 1995, h. 130 dan 148.

[5] John S. Brubacher,  Modern Philosophy of Education, Mc.Graw Hill Book Company,  Inc. New York, 1950, h. 345.
[6]  Uraian ini memperlihatkan bahwa sesungguhnya Stoisme berusaha mengembangkan teori etika sosial yang diakui baik dengan penjelasan filsafatnya. Mereka percaya bahwa kebaikan tertinggi berada pada ketenangan jiwanya. Lihat, Edward Mc. Nall Burns, loc.cit.
[7] Tentang ilmu kimia ini, Prof. Dr. Ahmad Baiquni, salah seorang pakar fisika dan kimia kontemporer, mengatakan bahwa ilmu kimia yang diajarkan di sekolah-sekolah kita di Indonesia potensial untuk merong-rong  peran agama. Hal ini terjadi karena kimia mengajarkan hukum kekekalan masa. Jika hukum kekekalan masa ini diajarkan apa adanya
[8] Burns,  loc.cit.
[9] Mengenai filosof muslim ini,  pada  gelombang Hellenisme pertama bersentuhan dengan pemikiran Islam memang lebih banyak terlihat dalam pemikiran teologi, tetapi pemikiran tentang filsafat pun berkembang pesat di dunia Islam, dapat dilihat seperti Alkindi, Ibnu Sina , Alfarabi dan lain-lain. Tentang hal ini baca Watt Montgomery Watt, Pemikiran Teologi dan Filsafat Islam,  Jakarta, P3M, 1987, h. 54-113.
[10]Harold H. Titus, Living Issues in Philosophy, American Book Campany, New York, 1959, h. 324.
[11] Burns, op.cit., h. 144.
[12] Karl Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, Kanisius, Cet. XII, Yogyakarta, 1995, h. 102.
[13] Burns, op.cit., h. 148-149.
Terimakasih telah membca artikel berjudul Makalah - Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 4/18/2017

0 komentar Makalah - Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak