Home » » Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan

A. Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Abad sekarang sering disebut abad ilmu pengetahuan dan teknologi, karena berkembangnya ilmu pengetahuan yang merupakan kekuatan besar dari berbagai kegiatan kebudayaan Barat pada zaman modern sekarang ini.  Kebudayaan-kebudayaan lain tentu saja telah memberikan sumbangan yang sama pentingnya pada kemajuan umat manusia. Tetapi dalam bidang non ilmiah, Yunani Kuno membuat banyak perkembangan atau kemajuan dalam bidang filsafat, seni dan pemerintahan.

Ketika mereka menunjukkan adanya perubahan perhatian pada bidang ilmu pengetahuan, maka mereka menunjukkan minatnya ke arah masalah yang bersifat teoritis. Orang Yunani Kuno dikenal dengan pandangan-pandangan mereka dalam bidang agama dan moralitas. Teologi merupakan salah satu bidang yang sangat diminati pada abad pertengahan. Sejak zaman renaissance[2] suasana Barat telah menyuburkan pertumbuhan ilmu pengetahuan dan aplikasinya.

Ilmu disebut cammon sense yang teruji dan terorganisasi. Keistimewaan ilmu terletak pada pandangan-pandangannya yang lebih kritis, observasi dan diskripsi yang lebih teliti dalam melukiskan benda-benda dan peristiwa-peristiwa. Istilah ilmu berasal dari bahasa Latin Sciro yang artinya mengetahui. Dewasa ini kata science dipergunakan dalam arti yang sempit  menunjuk pada pengetahuan tentang alam dalam lingkup kuantitas dan objektif. Pengetahuan ini merupakan pengetahuan itu sendiri, tanpa menunjukkan pandangan tentang penerapannya di dalam praktek.

Perkembangan ilmu merupakan salah satu prestasi besar dari pikiran manusia. Tanpa pengetahuan tentang perkembangan atau pertumbuhan ilmu adalah sukar untuk mengerti sejarah modern dewasa ini. Kebudayaan Kuno dengan pertanian dan seni industrinya yang primitif muncul dan berasal dari dekat lembah-lembah sungai yang besar seperti sungai Nil, Euphrat dan sungai Kuning, tanahnya subur dan airnya cukup untuk kehidupan manusia dan ternaknya.

Lebih dari 2000 tahun sebelum Masehi, orang-orang Babylon Mesir memiliki kerangka pengetahuan, termasuk di dalamnya tentang satuan pengukuran seperti panjang, berat, dan isi; penjumlahan, ukuran tentang persegi dan kubus; mereka juga tahu tentang sistem desimal, dibuat berdasarkan pada sepuluh jari manusia. Di Mesir masalah menaiknya air pada sungai Nil dengan tanda-tanda yang telah jelas, mengarah kepada usaha penelitian tentang tanah yang kemudian menstimulasi tumbuhnya ilmu geometri. Kemudian dengan menggunakan berbagai alat tentang luas pengukuran permukaan, keseimbangan cahaya dan unting-unting beserta sejumlah pengetahuan lainnya tentang matematik, semua hal ini digunakan dalam pembangunan piramida. Seni tentang menenun dan memintal benang dengan ilmu-ilmu tersebut menjadi lebih praktis. Di samping itu mereka juga telah menggunakan kereta roda berkuda[3].

Orang Mesir dan Babylon memandang dunia seperti kotak, yang menjadi dasar dari kotak ini adalah bumi. Mereka mengetahui pula sedikit tentang astronomi berdasarkan pengamatan manusia tentang keteraturan benda-benda langit. Hari-hari dalam seminggu diberi nama sesudah matahari , bulan dan lima planet lain yang telah diketahuinya serta menentukan bulan dan tahun berdasarkan peredaran bulan dan matahari. Pada abad keenam sebelum Masehi, gerhana telah dapat diramalkan dan mereka memiliki kalender satu tahun yang terdiri dari 365 hari.

Di India dan Cina, kemajuan yang sama telah terjadi pula. Di Cina ditemukan kertas dan kompas. Lambang bentuk angka yang kita pergunakan sekarang ini berasal dari India melalui bangsa Arab. Dengan pengalaman bangsa Yunani , kesatuan manusia dan perhatiannya tentang manusia dan alam bercabang terus, dan ilmu menjadi sesuatu yang terpisah dan mempunyai aktivitas yang otonom.

Bangsa Yunani berkeinginan  untuk mengetahui tentang pengetahuan itu dan kemudian semangat ilmiah  dilahirkan . Sumbangan  bangsa Yunani adalah sangat besar. Banyak sekali istilah-istilah ilmiah dan filosofis yang dipergunakan sekarang ini berasal dari bangsa Yunani.

B. Pengaruh Pemikiran Yunani Dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Thales, seorang filosuf semesta alam dari suku Ionia yang pertama yang hidup pada daerah yang dikuasai Yunani, yaitu di kota Miletus di Asia Kecil melaporkan bahwa ia telah mengunjungi Mesir dan mereka telah mengenal sistem survei tanah. Kemudian  Thales mengimbangkan ilmu tentang geometri dan menjelaskan pandangan-pandangannya tentang semesta alam yang sifatnya cair.

Terlepas dari sumbangan Aristoteles, kita dapat membuat daftar yang lebih banyak lagi tentang berbagai sumbangan bagsa yunani, termasuk di dalamnya the atomic theory of matter (Leucippus dan Democritus), obat-obatan (Hippecrates), deduktif geometri (Thales, Euclid), astronomin (Ptolemy dan Aristarchus), mekanika (Archimmedes), dan teori tentang angka (Pythagoras). Melalui Pythagoras dan para ahli filsafat serta ilmu pengetahuan yang mempengaruhinya, orang-orang Yunani percaya bahwa di dalam angka dan matematika mereka telah menemukan petunjuk tentang hakekat alam semesta ini.

Aristoteles (384-322 SM) telah mengorganisasi atau menyusun pengetahuan pada zamannya dan perkembangannya. Sampai pada zaman renaissance tidak seorang pun bangsa Eropa dapat menyamainya dalam bidang pengetahuan ilmiah. Ia mempelajari tentang 500 jenis hewan dengan sistem klasifikasinya, hal ini memberi pengaruh besar pada pemikiran dalam bidang ilmu-ilmu biologi.

Ia tentu saja banyak membuat kesalahan, karena menempatkan kedudukan kecerdasan pada hati dan memandang otak sebagai sistem pendingin. Ia menolak teori atom dari Democritus dan menyatakan bahwa bumi adalah bulatan, juga ia secara diam-diam menolak teori Pythagoras bahwa matahari merupakan pusat dari alam semesta. Akantetapi, ia sendiri telah banyak menunjukkan pada sumbangan-sumbangan dalam cara berpikir ilmiah. Barangkali yang hebat dari mereka adalah cara mengatur peraturan berpikir itu sendiri. Dalam hal ini Aristoteleslah yang telah menciptakan logika formal atau logika silogistis.

C. Filsafat Sebagai Tonggak Kebudayaan Hellinistik

Filsafat Hellinistik dalam perkembangannya telah mengalami perubahan yang unik. Pada awalnya akal mendapat posisi kunci dalam memecahkan berbagai persoalan. Pada fase kedua, skeptisisme dianggap sebagai sumber kebenaran dan tata nilai. Dan pada fase terakhir, muncul suatu kecenderungan baru, yaitu kegandrungan masyarakat kepada hal-hal yang bersifat mistik. Dengan demikian tradisi intelektual dicampakkan. Namun, para filosuf Hellinistik sepakat dalam satu hal, yaitu perlunya menawarkan jalan keselamatan bagi umat manusia dari kekerasan dan kejahatan di dalam kehidupan.

Dari fenomena di atas, muncullah aliran filsafat Epikurisme dan Stoisme di kalangan Hellinistik, yaitu pada sekitar tahun 300 SM. Keduanya sama-sama berkembang di Athena. Epikurisme  dibangun oleh Epicurus, agaknya nama aliran ini dinisbatkan pada sang pendiri. Ia lahir di pulau Samos. Sedangkan Stoisme didirikan oleh Zeno yang berasal dari Cyprus, ia keturunan Phoenisia. 

Dari urauian di atas, terlihat sekali pengaruhnya terhadap perkembangan pemikiran filsafat modern yang bercorak materialisme dengan aliran-alirannya seperti  pragmatisme dan existensialisme[4]. John S. Brubacher dalam bukunya Modern Philosophy of Education, mengemukakan bahwa teori pragmatisme mengkaitkan kebenaran pada daya guna objek. Jadi kebenaran itu menurutnya adalah proses pemeriksaan terhadap benar tidaknya sesuatu dalam praktek pelaksanaan. Karena itu kebenaran tidak pernah sempurna dan abadi, melainkan dalam proses berubah-ubah. Sesuatu disebut benar, hanya kapan berguna, mampu memecahkan problem yang ada. [5]   Hal seperti ini sudah menjadi corak pemikiran modern.

Dalam beberapa hal kedua aliran tersebut terdapat perbedaan, seperti Zeno dan kedua muridnya, Cleanthes dan Chrysippus yang mengajarkan bahwa cosmos merupakan aturan-aturan yang digunakan untuk mencari kebaikan tertinggi dalam keragaman kontradiksi. Kejahatan bersifat relatif, ketidak beruntungan merupakan penyempurnaan dunia ini. Segala sesuatu yang terjadi merupakan determinan dari kadar rasionalitas yang lemah. Manusia bukanlah pencipta takdirnya. Kebahagiaan tidak lain manakala manusia dapat menyelesaikan keputusan yang sempurna dalam hidupnya sesuai dengan kosmik dan membersihkan dirinya dari seluruh kebencian dan terus melawan keburukan untuk mencapai keberuntungan.[6]  Filsafat Stoisme ini merupakan produk terkenal dari Hellinistik  yang intinya mengajarkan  equalitarianism, pacifism dan humanitarianism  yang diakses oleh filsafat modern.

Berkenaan dengan konsepsi alam, Stoisme mengambil dari Heraclitus dan Epicurisme mengambil dari Democritus yang pada intinya beranggapan bahwa segala sesuatu berasal dari atom yang tidak dapat dibagi-bagi lagi. Jadi atom merupakan partikel yang paling kecil. Perubahan tidak lain adalah hasil dari kombinasi partikel-partikelnya. Sungguhpun demikian, Epicurisme menolak atomisme absolut, ayitu gerak atom yang mekanik. Tetapi mereka mengakui bahwa gerak atom tidak lain adalah gerakan ke bawah dalam garis tegak lurus karena berat masa atom. Karena jika atom bergerak mekanik, maka manusia juga akan bergerak secara atomatis. Di sini Epicurisme lebih terbuka dibandingkan dengan Stoisme.

D. Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada Masa  Hellinistik

Era yang sangat cemerlang  dalam sejarah ilmu pengetahuan sebelumnya sampai abad ketujuh sebelum Masehi adalah era peradaban Hellinistik. Tentu saja  banyak prestasi-prestasi era modern tidak didapatkan tanpa penemuan-penemuan saintis Alexandria, Syracuse, Pergamum dan kota besar lainnya dari alam Hellinistik.  Alexander sendiri memberikan dorongan untuk meningkatkan penelitian. Banyak stimulus penting yang disediakan untuk penelitian dengan cara menyatukan ilmu  orang-orang Kaldea dan orang-orang Mesir dengan ilmu orang-orang Yunani.

Ilmu-ilmu yang terkenal pada era Hellinistik adalah astronomi, matematika, geografi, kedokteran, fisika dan kimia[7]. Pada umumnya  adalah ilmu-ilmu murni. Sedangkan ilmu-ilmu yang bersifat praktis kurang begitu dikenal, kecuali untuk karya Theophrastus yang merupakan orang pertama memperkenalkan masalah gender pada tumbuh-tumbuhan. Biologi juga secara umum tidak begitu dipedulikan. Kajian biologi dan kimia terbatas pada aspek-aspek yang berhubungan dengan perdagangan. Rupanya mereka menganggap bahwa ilmu-ilmu tersebut tidak mengandung nilai praktis.

Astronom yang paling terkenal pada masa ini adalah Aristarchus (310-230 SM) dari Samos yang kadang-kadang dipanggil sebagai Copernicus Hellinistis. Hasil penemuannya yang terkenal adalah ketidakbergerakan bintang-bintang yang sudah mati karena jauh dari bumi. Ia adalah orang yang pertama yang mempunyai konsep yang memadai tentang ukuran raksasa jagat raya. Walaupun demikian, sebenarnya yang membuat ia terkenal adalah deduksinya tentang bumi dan planet-planet lainnya berputar mengelilingi matahari. Sayang deduksi ini tidak diterima oleh masyarakat karena dianggap bertentangan dengan ajaran Aristoteles dan ide-ide antroposentris orang-orang Yunani.

Astronom terkenal lainnya pada era ini adalah Hipharcus, karya-karyanya dihasilkan ketika ia berada di Alexandria pada pertengahan abad kedua sebelum Masehis. Sumbangannya yang terpenting adalah penemuan astrolob dan peta raksasa.  Ilmu yang berhubungan dengan astronomi adalah matematika dan geografi. Ahli matematika terkenal pada masa ini adalah Euclid (323-285 SM). Ia juga dianggap sebagai penemu geometri, cabang matematika. Sedangkan ahli geografi yang terkenal adalah Eratoshnes (276-194 SM), ia juga dikenal sebagai seorang astronom, penyair, filolog dan pustakawan yang berasal dari Alexanria.

Menurut catatan yang dibuat oleh Burns, kemajuan yang lebih penting pada zaman ini adalah kemajuan ilmu kedokrteran. Karya yang paling utama adalah yang ditulis oleh Herophiluis dari Chalcedon. Ia telah mengemukakan gagasannya tentang pembedahan terhadap manusia. Di antara prestasinya yang penting  adalah deskripsinya tentang otak.  Ia telah membedakan fungsi-fungsi bagian yang berbeda, menemukan nadi dalam tubuh, diagnosis tentang penyakit, pembedaan urat daging dengan urat syaraf dan hubungannya dengan otak.[8]


DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Zainal Arifin, Perkembangan Pikiran Terhadap Agama, Jilid 2, Jakarta: Penerbit  Al-Husna, 1984.
Bertens, Karl, Sejarah Filsafat Yunani, Kanisius, Cet. XII, Yogyakarta, 1995.
Brubacher,  John S., Modern Philosophy of Education, Mc.Graw Hill Book Company,  Inc. New York, 1950.
Burns, Edward McNall, Western Civilization: Their History and Their Culture , W.W.Norton and Co, New York, 1955.
Hadiwijono,  Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Penerbit Kanisius,  Yogyakarta, Cet. XI, 1995.
Hamersma, Harry, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, Penerbit PT Gramedia, Jakarta, 1986.
Titus, Harold H., Living Issues in Philosophy, American Book Campany, New York, 1959.
Watt, Watt Montgomery, Pemikiran Teologi dan Filsafat Islam,  Jakarta, P3M, 1987.


[1]Zainal Arifin Abbas, Perkembangan Pikiran Terhadap Agama, Jilid 2, Jakarta: Penerbit  Al-Husna, 1984, h. 111.
[2]Kata renaissance ini berasal dari bahasa Prancis yang berarti “kelahiran kembali” merupakan terjemahan kata Itali rinascimento. Dalam era ini antara sekitar tahun 1400-1600 manusia seakan-akan “lahir kembali” dari tidur abad pertengahan. Seluruh kebudayaan Barat dibangunkan dari suatu keadaan statis yang berlangsung seribu tahun. Lihat, Harry Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, Penerbit PT Gramedia, Jakarta, 1986, h. 3.
[3] Refrensi lebih lengkap dapat dibaca pada Edward McNall Burns, Western Civilization: Their History and Their Culture , W.W.Norton and Co, New York, 1955, h. 33-60.
[4] Pragmatisme adalah suatu aliran filsafat di zaman modern yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pegangan pragmatisme adalah logika pengamatan. Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, asal saja membawa akibat yang praktis.  Sedangkan existensialisme adalah filsafat modern yang memandang segala gejala dengan berpangkal kepada existensi, yaitu cara manusia berada di dalam dunia  di mana ia  berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya. Lihat Harun Hadiwijono,  Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Penerbit Kanisius,  Yogyakarta, Cet. XI, 1995, h. 130 dan 148.

[5] John S. Brubacher,  Modern Philosophy of Education, Mc.Graw Hill Book Company,  Inc. New York, 1950, h. 345.
[6]  Uraian ini memperlihatkan bahwa sesungguhnya Stoisme berusaha mengembangkan teori etika sosial yang diakui baik dengan penjelasan filsafatnya. Mereka percaya bahwa kebaikan tertinggi berada pada ketenangan jiwanya. Lihat, Edward Mc. Nall Burns, loc.cit.
[7] Tentang ilmu kimia ini, Prof. Dr. Ahmad Baiquni, salah seorang pakar fisika dan kimia kontemporer, mengatakan bahwa ilmu kimia yang diajarkan di sekolah-sekolah kita di Indonesia potensial untuk merong-rong  peran agama. Hal ini terjadi karena kimia mengajarkan hukum kekekalan masa. Jika hukum kekekalan masa ini diajarkan apa adanya
[8] Burns,  loc.cit.
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 9/26/2017

0 komentar Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak