Home » » Sejarah Dinasti Buwaihi

Sejarah Dinasti Buwaihi

Sejarah Dinasti Buwaihi

A.Masa Pembentukan Dinasti Buwaihi

Kehadiran Bani Buwaihi berawal dari tiga orang putra Abu Syuja’buwaihi yaitu ali, Hasan, dan Ahmad. Abu Syuja’ adalah seorang rakyat kecil yang miskin, pekerjaan sehari-hari sebagai nelayan. Sejak Istrinya meninggal ia menitipkan anaknya, ali, hasan, dan ahmad kepada sahabat karibnya, syahrir, Syahir, ibn Rustman al-Dailami supaya mereka di pelihara dan di didik[5]. Dan Dinasti ini muncul pada awal ke 10 atau tepatnya pada tahun 945-1055 M.[6]
Mereka berasal dari Suku Dailan yaitu suku bangsa pegunungan dari daerah sebelah barat darat daya laut kaspia. Rasulullah telah mengutus Abdullah bin Muzaifah untuk menghadap dengan membawa surat ke raja Persia yaitu Chorsoe II, namun raja itu merobeknya. Penghinaan ini sampai kepada Rasulullah SAW.
 Di tenggara laut Kaspia itu terletak negeri tabarestan dan agama Islam telah tersebar di kalangan rakyatnya, berbeda dengan negeri Dailan yang pada saat itu belum menganut agama Islam. Suatu sengketa telah tercetus di antara tabarestan dengan golongan thahiriyah yang memerintah di Khurasan. Rakyat thabarestan memintah seorang dari golongan Alawiyah bernama al-Hasan bin Zaid untuk memimpin mereka dan ia berhasil membawa kemenangan dengan rakyat Tabarestan. Pengaruh rohaniah telah menyerap ke seluruh negeri Dailan. Negeri Dailan telah membantu Jirannya negeri Tabarestan menentang golongan Tahiriyah, semuanya bergabung di bawah pimpinan al-Hasan bin Zaid. Dari situlah mula-mula Islam tersebar di kalangan negeri Dailan[7].
Di Negeri tersebutlah hidupnya Buwaihi beserta keluarganya juga penganut syi’ah. Setelah mereka dewasa, mereka masuk dalam ketentaraan yang biasa berkembang di antara suku-suku Dailan. Mereka menjadikan lapangan kertentaraan sebagai mata pencaharian dan telah bergabung dengan tentara, Malkan bin kali salah seorang panglima terkenal di Dailan[8]. Dalam menjalankan tugasnya sebagai prajurit, mereka memperlihatkan kedisiplinan, kepandaian dan keberanian yang tinggi, sehingga yang oleh atasannya mereka sangat di hargai dan di perhatikan. Mereka telah membuktikan kecakapan yang tinggi dalam tugasnya masung-masing.
Ada suatu keyakinan yang berkembang di kalangan sejarawan, bahwa setiap generasi pasti akan melahirkan keturunan, besar atau sebaliknya. Sehingga para sejarawan berusaha mencari silsilah bani Buwaihi ini, akan tetapi terjadi banyak pendapat tentang silsilah dan pangkal kebesaran yang di warisi Dinasti ini, ada yang mengatakan bahwa Dinasti ini berpanglkal kepada seorang raja dari keluarga  sasania, suatu generasi yang terkenal cerdik dan banyak akal, ada yang mengatakan sebagai keturunan salah satu menteri  (pembesar) Mahr Nurs, ada juga yang mengaitkannya dengan Yahuza bin Ya’kub bin Ibrahim melalui salah seorang raja[9].

B. Masa Kemajuan Dinasti Buwaihi

Kemajuan yang di capai oleh dinasti Buwaihi sangat di tentukan oleh adanya penguasa-penguasa yang kuat dan berwibawa yang mampu mempersatukan wilayah-wilayah kerajaan, seperti halnya dengan masa pemerintahannya ketiga saudara buwaihi ini yang masih di segani oleh lawan dan musuhnya. Penguasa generasi pertama dinasti buwaihi dan puncaknya pada masa addu-al Daulah mencapai keemasan.
Pada masa kemajuan, mereka di tandai dengan pengembangan ilmu pengetahuan. Mereka pula memperhatikan pula di bidang pertanian, perdagangan dan perindustrian sebagai sumber keuangan negara[10]. Kesungguhan dinasti buwaihi dalam memajukan peradaban Islam pada saaat itu dapat di buktikan dengan banyaknya pembangunan yang di laksanakan, seperti pembangunan kanal-kanal, mesjid, dan beberapa Rumah Sakit dan sejumlah sarana umum lainnya[11]. Usaha-usaha yang telah di lakukan oleh Dinasti Buwaihi ini menunjukkan bahwa mereka memiliki pengetahuan dan keahlian yang luar biasa pada zamannya dalam bidang perekonomian dan ini tentu tidak lepas dengan kemajuan ilmu pada masa itu.
Dari sinipun dapat di pahami bahwa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan pada zaman tersebut, tidak hanya di bidang ilmu yang berkaitan dengan ilmu-ilmu keagamaan saja, tetapi juga di bidang ilmu yang bersifat Duniawi, seperti ilmu ekonomi, biologi, fisiologi, metafisika, fisika, zoologi, botani, logika, gramatika, astronomi, serta ilmu kedokteran. Hal ini dapat di buktikan dalam himpunan ilmu pengetahuan yang di nisbahkan pada masa  Ikhwan as-Syafa’ yang terdapat dalam lima puluh Risalahnya[12].
Pada masa Bani Buwaihi banyak bermunculan Ilmuan besar dan terkenal antara lain: Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, al-Farhgani, Abdur-Rahman as-Sufi’ dan Abu al-Ma’arif. Al-Qohi dan Abdul Wafa’ adalah dua fakar yang paling tergohor dalam bidang astronomi[13]. Pada masa khalifah al-Mustakfi’ urusan keuangan di serahkan kepada Ahmad ibn Buwaihi selaku Amiril Umara’, maka mulailah saat itu namanyalah yang tercetak dalam mata uang dan dengan demikian, kekuasaan ekonomi benar –benar berada di tangan iunasti Buwaihi dan mereka dapat mengendalikan dan secara konsekwen Dinasti Buwaihi ini membangun bidang perekonomian dengan segala kemajuannya terutama pada masa Amir al_Umara’ Addu ad-Daulah.

C. Kemunduran Dinasti Buwaihi

Sudah merupakan hukum siklus, sebagai konsekwensi yang diciptakan yang notabene tidak qadim, maka kebangkitan suatu kaum beserta peradabannya cepat atau lambat, mau atau tidak mau pasti mengalami kemunduran yang berujung pada kehancuran. Inilah warna dan gerak langkah kehidupan manusia yan telah mengisi lembaran sejarah dari waktu ke waktu, dari generasi kegenerasi.
Hal seperti inilah yang di alami oleh dinasti Buwaihi, dinasti yang di rintis dari bawah pendahulunya (tiga bersaudara) tak mampu di pertahankan oleh generasi selanjutnya. Adapun penyebab kemundurannya di sebabkan oleh dua faktor yakni faktor internal dan eksternal.
  1. Faktor Internal
    1. Perebutan kekuasaan Intern bani Buwaihi.
Setelah berlalunya generasi pertama tiga bersaudara (Ali, Hasan, dan Ahmad), kekuasaan menjadi ajang pertikaian antara anak-anak mereka. Masing-masing merasa paling banyak atas kekuasaan pusat. Misalnya perebutan jabatan Amirul al-Umara’ antara Izza al-Daulah (putra Muiz ad-daulah) dengan Addad al-Daulah (putra Imad ad-Daulah)[14]
b.  Pertentangan dalam tubuh militer.
Pertentangan di tubuh militer antara golongan yang berasal dari Dailam keturunan Turki juga membawa kemunduran dan kehancuran dinasti Buwaihi. Ketika Amir al-Umara’ di jabat oleh Muiz ad-Daulah, persoalan itu dapat di atasi, tetapi manakala jabatan itu diduduki oleh orang-orang yang lemah, maka masalah tersebut muncul kepermukaan, mengganggu stabilitas dan menjatuhkan wibawa pemerintah.[15]
Konflik intern antara penguasa Buwaihi telah mengurangi kekuatan pemerintah pusat lantaran dinasti ini memberikan hak kepada pasukan militer untuk memungut pajak dari sejumlah wilayah tertentu sebagai ganti gaji mereka.
    1. Lemahnya Penguasa yang Ada.
Kondisi ini di mulai sejak Izza al-Daulah memegang tampuk kekuasaan menggantikan ayahnya. Penguasa tersebut lebih mementingkan bersenang-senang ketimbang mengurus negara. Berbagai kekacauan dan pertikaian bukannya membuat ia sadar, bahkan makin banyak ia membuat kontroversi dengan penguasa-penguasa setempat sekitar Baghdad, sehingga sering pecah pertempuran-pertempuran yang semakin melemahkan posisinya.[16]
  1. Faktor Eksternal.
Dengan makin melemahnya kekuatan politik bani Buwaihi, makin banyak pula gangguan dari luar yang membawa kemunduran dan kehancuran dinasti ini. Faktor-faktor eksternal tersebut antara lain :
    1. Adanya Serangan Bizantium ke Dunia Islam.
Pada tahun 355 H/964 M, pecahlah peperangan terdahsyat antara Imperium Abbasyah dengan Imperium Bizantium dan peperangan itu berkelanjutan belasan tahun. Darah mengalir tiada terkira pada setiap medan pertempuran di Asia kecil. Sejarah mencatat kemenangan Bizantium yang terus menerus berhasil membebaskan wilayah Lycaonia, Galatia Cappadocia menjelang tahun 965 M.[17]
    1. Banyaknya Dinasti-dinasti kecil membebaskan diri dari kekuasaan pusat di Baghdad.[18]
Pada dasarnya dinasti-dinasti kecil tersebut menambah kejayaan sejarah Islam, tetapi di sisi lain, dalam konteks politik dinasti bani Abbas sebagai simbol kemajuan peradaban Islam,maka ia mengalami gangguan karena upaya-upaya di nasti ini melepaskan diri.
            Jika kita memperhatikan beberapa penyebab kemunduran dan kehancuran dinasti buwaihi ini, maka kita dapat mengatakan bahwa kedudukan/kekuasaan adalah potensi politik, persaingan tidak hanya datang dari luar, tapi bahkan dati kalangan keluarganya sendiri.
Demikianlah beberapa penyebab kemunduran dunasti buwaihi yang berujung yang berujung pada kehancuran. Dinasti buwaihi di tandai kejatuhannya pada saat di gulingkan oleh tughril dari dinasti Saljuk pada tahun 1055 M[19]
                                                                    
                                                             DAFTAR PUSTAKA

C. Israr,   Sejarah Kesenian 2, (Cet II; Jakarta: Bulan Bintang, 1978).
Dewan Redaksi, Ensiklopedia Islam, (Cet II; Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994).
Deoareteman Agama RI Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Proyek Peningkatan Sarana dan Prasarana, Ensiklopedia Islam Jilid III, PT. IAIN Jakarta, 1992/1993.
Glasse,  Cyril, The cincise Encyclopedia of Islam, di terjemahkan oleh Ghufron A.Mas’adi,  dengan Judul Ensiklopedia Islam, (Cet I;Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999).
Hasan, Hasan Ibrahim, Sejarah Kebudayaan Islam, (Cet I; Yogyakarta: Kota Kembang, 1989).
K. Ali,   Sejarah Islam, (Tharikh Islam), (Cet I; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996).
Lapidus, Ira, A.History of Islamic Societes, di terjemahkan oleh Ghufron A.Mas’adi dengan judul, Sejarah Sosial Umat Islam Bagian Kesatu dan Kedua, (Cet I; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999).
Mufrodi, M.Ali, Islam di Kawasan Arab, (Cet I; Jakarta: Logos, 1997).
Mughni, Syafiq A, Sejarah Kebudayaan Islam di Turki (Cet I; Jakarta: Logos, 1997).
Nasution, Harun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya Jild I, (Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan), (Cet V; Jakarta : Universitas Indonesia, 1986).
Nurhakim, Muhammad, Sejarah dan Peradaban Islam, (Cet I; Malang: Universitas Muhammadiyah, 2003).
Syakir, Muhammad, Tharikh al-Islam ad-Daulat Usmaniyah  Jilid VIII, (Mesir:Dar al-Nahdah, 1980).
Sou’yb, Yousoef, Sejarah Daulat abbasyah II, (Jakarta: Bulan Bintang, t.th).
Sya’labi, Ahmad, Sejarah Kebudayaan Islam 3, (Cet I; Jakarta: Pustaka al-Husna, 1993).
Team Penyusun Tex Book, Sejarah dan Kebudayaan Islam Jilid I, (Ujungpandang: IAIN Alauddin, 1983).
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, (Cet III; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994). 






[6]Joesoef Syoeaib, Sejarah Daulat Abbasyah II, (Cet I; Jakarta: Bulan Bintang, 1987) h. 172
[7]A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, di terjemahkan oleh Muh.Labib Ahmad, jilid III ((Jakarta: Pustaka al-Husna, 1993) h. 323
[8]Ibid, h. 324
[9]Op.cit h. 218
[10] Ensiklopedia Islam Jilid III, Depag RI Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Islam Proyek Peningkatan Prasarana dan Sarana Pergruan Tinggi Agama / IAIN Jakarta 1992/1993, h. 1026
[11] Hasan Ibarahim Hasan, Islamic Idistory and Culture (Sejarah dan Kebudayaan Islam),m(Yogyakarta; Kota Kembang, 1989) h. 71
[12]Team Penyusun Tex Book, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid I (Ujungpandang: IAIN Alauddin, 1983) h. 162
[13] IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedia Islam, (Cet I;Jakarta, 1992) h. 218
[14] Lihat Badri Yatim loc. cit
[15] Ibid.
[16] Lihat Joesouf Souaib, op.cit, h. 204
[17] Ibid, h.185
[18] Dinasti-dinasti itu antara lain dinasti Fatyimiyah yang memproklamasikan dirinya sebagai pemegang jabatan khalifah di Mesir, dinasti Ikhsidiyah di Mesir dan Syria, dinasti Hamdan di Aleppo dan Lembah Furat, dinasti Ghaznawy di Ghaza, dan dinasti Saljuk yang berhasasil merebut kekuasaan dari tangan bani Buwaihi, lihat Badri Yatim, op,cit, h. 72
[19] Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Cet V; Jakarta: Universitas Indonesia, 1986) h. 74 
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Sejarah Dinasti Buwaihi

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 4/18/2017

0 komentar Sejarah Dinasti Buwaihi

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak