Home » » Makalah - Perkembangan Moral

Makalah - Perkembangan Moral

A. Pengertian Perkembangan Moral

Makalah - Perkembangan Moral
             Moral : Mores : tata cara, kebiasan, dan adat. Perilaku moral : perilaku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial. Perilaku moral dikendalikan oleh konsep- konsep moral. Perilaku amoral atau non moral adalah perilaku yang tidak sesuai dengan harapan sosial yang disebabkan oleh ketidak acuhan terhadap harapan
sosial ( pelanggaran secara tidak sengaja terhadap standar kelompok ). Perilaku tak bermoral : perilaku yang tidak sesuai dengan harapan sosial, karena tidak setuju dengan standar sosial atau kurang menyesuaikan diri dengan harapan sosial.[1]
Konsep-konsep moral antara lain:
  1. peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan anggota kelompok atau anggota suatu budaya
  2. peraturan perilaku yang menentukan pola perilaku yang diharapkan dari seluruh anggota kelompok
Pola perkembangan moral antara lain :
  1. bayi yang baru lahir tidak membawa aspek moral sehingga dianggap amoral atau non moral
  1. aspek moral merupakan sesuatu yang berkembang dan dikembangkan ( teori psikoanalisa dan teori belajar )

B. Teori perkembangan moral

Teori teori perkembangan moral[2]
1.      Teori psikoanalisa
a.       Perkembangan moral adalah proses internalisasi norma norma masyarakat dan kematangan organik biologik
b.      Seseorang telah mengembangkan aspek moral bila telah menginternalisasikan aturan aturan atau kaidah kaidah kehidupan di dalam masyarakat dan dapat mengaktualisasikan dalam perilaku yang terus menerus atau dengan kata lain telah menetap
c.       menurut teori psikoanalisa perkembangan moral dipandang sebagai proses internalisasi norma norma masyarakat dan sebagai kematangan dari sudut organic biologik
2.      Menurut teori psikologi belajar. Perkembangan moral dipandang sebagai hasil rangkaian stimulus respons yang dipelajari oleh anak, antara lain berupa hukuman dan hadiah yang sering dialami oleh anak
3.      Konsep teori belajar dan psikoanalisa. Konsep ke dua teori , tentang proses perkembangan moral adalah bahwa seseorang telah mengalami perkembangan moral apabila ia memperlihatkan adanya perilaku yang sesuai dengan aturan aturan yang ada didalam masyarakatnya. dengan kata lain perkembangan moral berkorelasi dengan kemampuan penyesuaian diri individu
4.      Menurut piaget dan Kohlberg. menurut mereka perkembangan moral berkolerasi dengan perkembangan kecerdasan individu, sehingga seharusnya  
bila perkembangan kecerdasan telah mencapai kematangan, maka perkembangan moral juga harus mencapai tingkat kematangan

C.       Teori Perkembangan Moral Kohlberg

      Kohlberg menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap. Kohlberg sampai pada pandangannya setelah 20 tahun melakukan wawancara yang unik dengan anak-anak. [3]
    Berdasarkan hasil wawancaranya, Kohlberg percaya terdapat tiga tingkat perkembangan moral, ialah internalisasi (internalization), yakni perubahan perkembangan dari perilaku yang dikendalikan secara eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara internal.
a. Tingkat Satu: Penalaran Prakonvensional
    Penalaran prakonvensional (preconventional reasoning) adalah tingkat yang paling rendah dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral – penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman eksternal.
Tahap 1
 Orientasi hukuman dan ketaatan (punishment and obedience orientation) ialah tahap pertama dalam teori perkembangan moral Kohlberg.  Pada tahap ini, penalaran moral didasarkan atas hukuman. Anak-anak taat karena orang dewasa menuntut mereka untuk taat.

Tahap 2
  Individualisme dan tujuan (individualism and purpose) ialah tahap kedua dalam teori perkembangan moral Kohlberg.  Pada tahap ini, penalaran moral didasarkan atas imbalan (hadiah) dan kepentingan sendiri. Anak-anak taat bila mereka ingin taat dan bila yang paling baik untuk kepentingan terbaik adalah taat. Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan hadiah.
a.       Tingkat Dua: Penalaran Konvensional
  Penalaran konvensional (conventional reasoning) ialah tingkat kedua atau tingkat menengah dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, internalisasi individual ialah menengah. Seseorang menaati standar-standar (internal) tertentu, tetapi mereka tidak menaati standar-standar orang lain (eksternal), seperti orang tua atau aturan-aturan masyarakat.

Tahap 3
Norma-norma interpersonal (interpersonal norms) ialah tahap ketiga dalam teori perkembangan moral Kohlberg.   Pada tahap ini, seseorang menghargai kebenaran, keperdulian, dan kesetiaan kepada orang lain sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral. Anak-anak sering mengadopsi standar-standar moral orangtuanya pada tahap ini, sambil mengharapkan dihargai oleh orangtuanya sebagai seorang “perempuan yang baik” atau seorang “laki-laki yang baik”.
Tahap 4
Moralitas sistem sosial (social system morality) ialah tahap keempat dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tahap ini, pertimbangan-pertimbangan didasarkan atas pemahaman aturan sosial, hukum-hukum, keadilan, dan kewajiban.
b.      Tingkat Tiga: Penalaran Pascakonvensional
     Penalaran pascakonvensional ialah tingkat tertinggi dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seseorang mengenal tindakan-tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi.
Tahap 5
 Hak-hak masyarakat versus hak-hak individual (community rights versus individual rights) ialah tahap kelima dalam teori perkembangan moral Kohlberg.
 Pada tahap ini, seseorang memahami bahwa nilai-nilai dan aturan-aturan adalah bersifat relatif dan bahwa standar dapat berbeda dari satu orang ke orang lain. Seseorang menyadari bahwa hukum penting bagi masyarakat, tetapi juga mengetahui bahwa hukum dapat diubah. Seseorang percaya bahwa beberapa nilai, seperti kebebasan, lebih penting daripada hukum.
Tahap 6
    Prinsip-prinsip etis universal (universal ethical principles) ialah tahap keenam dan tertinggi dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tahap ini, seseorang telah mengembangkan suatu standar moral yang didasarkan pada hak-hak manusia yang universal. Bila menghadapi konflik antara hukum dan suara hati, seseorang akan mengikuti suara hati, walaupun keputusan itu mungkin melibatkan resiko pribadi.
    Kohlberg percaya bahwa ketiga tingkat dan keenam tahap tersebut terjadi dalam suatu urutan dan berkaitan dengan usia:
  1. Sebelum usia 9 tahun, kebanyakan anak-anak berpikir tentang dilema moral dengan cara yang prakonvensional.
  1. Pada awal masa remaja, mereka berpikir dengan cara-cara yang lebih konvensional.
  2. Pada awal masa dewasa, sejumlah kecil orang berpikir dengan cara-cara yang pascakonvensional.
Pada suatu investigasi longitudinal 20 tahun, penggunaan tahap 1 dan 2 berkurang. Tahap 4, yang tidak muncul sama sekali dalam penalaran moral anak berusia 10 tahun, tercermin dalam 62 persen penalaran moral manusia berusia 36 tahun. Tahap 5 tidak muncul sampai usia 20 hingga 22 tahun dan tidak pernah dialami lebih dari 10 persen individu.
Dengan demikian, tahap-tahap moral muncul agak kemudian dari yang dibayangkan semula oleh Kohberg, dan tahap-tahap yang lebih tinggi, khususnya tahap 6, benar-benar sangat sulit untuk dipahami. Baru-baru ini tahap 6 dibuang dari pedoman skor Kohlberg, meskipun masih dianggap sebagai sesuatu yang penting secara teoretis dalam skema perkembangan moral Kohlberg.
Kritik terhadap Kohlberg
Teori perkembangan moral Kohlberg yang provokatif tidak berlalu tanpa tantangan. Kritik mencakup hubungan antara penalaran moral dan perilaku moral, kualitas penelitian, pertimbangan yang memadai tentang peran kebudayaan dalam perkembangan moral, dan pengabaian perspektif pengasuhan.
1. Pemikiran Moral dan Perilaku Moral
Teori Kohlberg dikritik karenamemberi terlalu banyak penekanan pada penalaran moral dan kurang memberi penekanan pada perilaku moral. Penalaran moral kadang-kadang dapat menjadi tempat perlindungan bagi perilaku immoral. Seperti para penipu, koruptor, dan pencuri mungkin mengetahui apa yang benar, tetapi masih melakukan apa yang salah.
2. Kebudayaan dan Perkembangan Moral
Kritik lain terhadap pandangan Kohlberg ialah bahwa pandangan ini secara kebudayaan bias. Suatu tinjauan penelitian terhadap perkembangan moral di 27 Negara menyimpulkan bahwa penalaran moral lebih bersifat spesifik kebudayaan daripada yang dibayangkan oleh Kohlberg dan bahwa sistem skor Kohlberg tidak mempertimbangkan penalaran moral tingkat tinggi pada kelompok-kelompok kebudayaan tertentu. Penalaran moral lebih dibentuk oleh nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan suatu kebudayaan daripada yang dinyatakan oleh Kohlberg.
3. Gender dan Perspektif Keperdulian
Carol Gilligan percaya bahwa teori perkembangan moral Kohlberg tidak mencerminkan secara memadai relasi dan keperdulian terhadap manusia lain. Perspektif keadilan (justice prespective) ialah suatu perspektif moral yang berfokus pada hak-hak individu; individu berdiri sendiri dan bebas mengambil keputusan moral.
Teori Kohlberg ialah suatu perspektif keadilan. Sebaliknya, perspektif kepedulian (care perspective) ialah suatu perspektif moral yang memandang manusia dari sudut keterkaitannya dengan manusia lain dan menekankan komunikasi interpersonal, relasi dengan manusia lain, dan kepedulian terhadap orang lain. Teori Gilligan ialah suatu perspektif kepedulian. Menurut Gilligan, Kohlberg kurang memperhatikan perspektif kepedulian dalam perkembangan moral. Ia percaya bahwa hal ini mungkin terjadi karena Kohlberg seorang laki-laki, karena kebanyakan penelitiannya adalah dengan laki-laki daripada dengan perempuan, dan karena ia menggunakan respons laki-laki sebagai suatu model bagi teorinya.
Altruisme
   Altruisme ialah suatu minat yang tidak mementingkan diri sendiri dalam menolong seseorang. Timbal balik dan pertukaran (reciprocity and exchange) terlibat dalam altruisme. Timbal balik ditemukan di seluruh dunia manusia. Timbal balik mendorong anak-anak untuk berbuat baik kepada orang lain sebagaimana mereka mengharapkan orang lain berbuat yang sama kepada mereka. Sentimen-sentimen manusia disarikan dalam timbal balik ini.
  William Damon menggambarkan suatu urutan perkembangan altruisme anak-anak, khususnya berbagi (sharing). Hingga usia 3 tahun, berbagi dilakukan karena alasan-alasan yang nonempatis; pada kira-kira 4 tahun, kombinasi kesadaran empatis dan dukungan orang dewasa menghasilkan suatu rasa kewajiban untuk berbagi; pada
tahun-tahun awal sekolah dasar, anak-anak mulai secara sungguh-sungguh memperlihatkan gagasan-gagasan yang lebih obyektif tentang keadilan.

D.      Teori Perkembangan Moral Piaget

Perkembangan moral berkaitan dengan aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh orang dalam berinteraksi dengan orang lain. Minat terhadap bagaimana perkembangan moral yang dialami oleh anak membuat Piaget secara intensif mengobservasi dan melakukan wawancara dengan anak-anak dari usia 4-12 tahun.
Ada dua macam studi yang dilakukan oleh Piaget mengenai perkembangan moral anak dan remaja:
  1. Melakukan observasi terhadap sejumlah anak yang bermain kelereng, sambil mempelajari bagaimana mereka bermain dan memikirkan aturan-aturan permainan.
  2. Menanyakan kepada anak-anak pertanyaan tentang aturan-aturan etis, misalnya mencuri, berbohong, hukuman dan keadilan.[4]
Dari hasil studi yang telah dilakukan tersebut, Piaget menyimpulkan bahwa anak-anak berpikir dengan 2 cara yang sangat berbeda tentang moralitas, tergantung pada kedewasaan perkembangan mereka. Antara lain:

a.       Heteronomous Morality
  1. Merupakan tahap pertama perkembangan moral menurut teori Piaget yang terjadi kira-kira pada usia 4-7 tahun. Keadilan dan aturan-aturan dibayangkan sebagai sifat-sifat dunia yang tidak boleh berubah, yang lepas dari kendali manusia.
  2. Pemikir Heteronomous menilai kebenaran atau kebaikan perilaku dengan mempertimbangkan akibat dari perilaku itu, bukan maksud dari pelaku.
  3. Misal: memecahkan 12 gelas secara tidak sengaja lebih buruk daripada memecahkan 1 gelas dengan sengaja, ketika mencoba mencuri sepotong kue.
  4. Pemikir Heteronomous yakin bahwa aturan tidak boleh berubah dan digugurkan oleh semua otoritas yang berkuasa.
  5. Ketika Piaget menyarankan agar aturan diganti dengan aturan baru (dalam permainan kelereng), anak-anak kecil menolak. Mereka bersikeras bahwa aturan harus selalu sama dan tidak boleh diubah.
  6. Meyakini keadilan yang immanen, yaitu konsep bahwa bila suatu aturan dilanggar, hukuman akan dikenakan segera.
  7. Yakin bahwa pelanggaran dihubungkan secara otomatis dengan hukuman.
b.      Autonomous Morality
  1. Tahap kedua perkembangan moral menurut teori Piaget, yang diperlihatkan oleh anak-anak yang lebih tua (kira-kira usia 10 tahun atau lebih). Anak menjadi sadar bahwa aturan-aturan dan hukum-hukum diciptakan oleh manusia dan dalam menilai suatu tindakan, seseorang harus mempertimbangkan maksud-maksud pelaku dan juga akibat-akibatnya
  2. Bagi pemikir Autonomos, maksud pelaku dianggap sebagai yang terpenting.
  3. Anak-anak yang lebih tua, yang merupakan pemikir Autonomos, dapat menerima perubahan dan mengakui bahwa aturan hanyalah masalah kenyamanan, perjanjian yang sudah disetujui secara sosial, tunduk pada perubahan menurut kesepakatan.
  4. Menyadari bahwa hukuman ditengahi secara sosial dan hanya terjadi apabila seseorang yang relevan menyaksikan kesalahan sehingga hukuman pun menjadi tak terelakkan.
  Piaget berpendapat bahwa dalam berkembang anak juga menjadi lebih pintar dalam berpikir tentang persoalan sosial, terutama tentang kemungkinan-kemungkinan dan kerja sama. Pemahaman sosial ini diyakini Piaget terjadi melalui relasi dengan teman sebaya yang saling memberi dan menerima.
Tabel Teori Dua Tahap Perkembangan Moral Piaget
Umur
Tahap
Ciri Khas
4-7 tahun
7-10 tahun
11 tahun
Ke atas
Realisme moral
(pra operasional)
Masa transisi (konkret-operasional)
Otonomi moral, realisme dan resiprositas (formal operasional)
1. Memusatkan pada akibat-akibat perbuatan
2. Aturan-aturan tak berubah
3. Hukuman atas pelanggaran bersifat otomatis
Perubahan secara bertahap ke pemilikan moral tahap kedua
1.Mempertimbangkan tujuan-tujuan perilaku moral
2.Menyadari bahwa aturan moral adalah kesepakatan tradisi yang dapat berubah


Teori piaget tentang perkembangan moral

Perkembangan moral berlangsung dalam dua tahap :
  1. Tahap realisme moral -> moralitas oleh pembatasan ( < 12 tahun ) :
    Usia 0 – 5 tahun : pada tahap ini perilaku anak ditentukan oleh ketaatan otomatis terhadap peraturan tanpa penalaran / penilaian. Anak menilai tindakan berdasar konsekuensinya.
    usia 7/8 – 12 tahun : pada tahap ini anak menilai perilaku atas dasar tujuan. konsep tentang benar/salah mulai dimodifikasi (lebih luwes/ fleksible ), Konsep tentang keadilan mulai berubah.
  2. Tahap operasional formal -> Moralitas dengan analisis ( >12 tahun )
    anak mampu mempertimbangkan segala cara untuk memecahkan masalah
    anak bernalar atas dasar hipotesis dan dalil -> melihat masalah dari berbagai sudur pandang.
Tentang lawrence kohlberg :
  1. Lahir tahun 1927 dan dibesarkan di Brouxmille, New York
  2. menamatkan sekolah menengah di Andover academy di Massachusetts
  3. Tahun 1948 masuk universitas chicago, setahun kemudian bachelor diraih, ia mengambil bidang psikologi dan tertarik dengan teori piaget.
  4. Tahun 1958 lulus S3 disertai : the development of modes of thingking and choice in the year 10 to 16 ( merupakan teroi landasan perkembangan moralnya )
  5. Tahun 1962 – 1968 mengajar di universitas chicago
  6. Sejak tahun 1968 mengajar di havard
  7. menurut kholberg ketika dilahrikan, anak belum dan tidak membawa aspek moral
  8. Kohlberg juga berpendapat, bahwa aspek moral merupakan sesuatu yang berkembang dan dikembangkan
  9. Kohlberg mengemukakan teori perkembangan moral berdasar teori piaget, yaitu dengan pendekatan organismik ( melalui tahap tahap perkembangan yang memiliki urutan pasti dan berlaku secara universal ). Selain itu kohlberg juga menyelidiki struktur proses berpikir yang mendasari perilaku moral ( moral behavior )[5]
DAFTAR PUSTAKA
Http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/2009/06/29/perkembangan-moral
Http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/2009/02/22/teori-piaget-tentang-perkembangan-moral
Http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/2009/02/16/teori-perkembangan -moral-piaget
Http://wangmuba.com/2009/02/16/teori-perkembangan-moral-hohlberg/



[1] Http://Kuliahpsikologi.Dekrizky.Com/2009/06/29/Perkembangan-Moral

[2] Http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/2009/02/16/Teori-perkembangan -moral-piaget

[3] Http://wangmuba.com/2009/02/16/teori-perkembangan-moral-hohlberg/

[4] Http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/2009/02/16/teori-perkembangan -moral-piaget

[5] http://wangmuba.com/2009/02/22/perkembangan-sosial-pada-masa-anak-anak-akhir-dan-remaja/

Terimakasih telah membca artikel berjudul Makalah - Perkembangan Moral

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 4/18/2017

0 komentar Makalah - Perkembangan Moral

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak