Home » » Makalah Mukjizat Alquran

Makalah Mukjizat Alquran

A. Pengertian Mukjizat Alquran

Makalah Mukjizat Alquran
Seperti diketahui bahwa mukjizat adalah suatu peristiwa yang luar biasa, terjadi pada diri nabi dan atau rasul. Mukjizat tak dapat dipisahkan dengannya karena merupakan pembuktian atas kebenaran kenabian dan atau kerasulannya, demikian pula Alquran pada diri Nabi Muhammad saw.

           Kata mu’jizah (i’jaz), secara etimologi berasal dari kata أعجز  (melemahkan atau menjadikan sesutau tidak berdaya) atau lawan dari al-    qudrah (memiliki kemampuan), seperti firman Allah swt.(QS. 6:31) أعجزتُ أن أكون مثل هذا الغراب فأُوَارِىَ سَوْءَةَ أَخِى ... (Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, kalau aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini ...).[1] Pelaku yang melemahkan dinamai مُعْجِز, maka pada pihak lawan menjadilah ia lemah. Kemudian kata ini dibubuhi akhiran ta al-marbuthah yang mengandung arti mubalaghah (superlatif), maksudnya, para penantang samasekali tak berdaya (sangat lemah) karenanya.[2]

            Kata mukjizat tersebut telah diserap ke dalam bahasa Indonesia, artinya kejadian (peristiwa) ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia.[3] Pengertian ini agaknya sejalan pengertian terminologis yang dikemukakan oleh M. Quraish Shihab yaitu :
“Suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seorang yang mengaku nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, namun mereka tidak mampu melayani tantangan itu”.[4]
            Menurut al-Zarqھnج, mukjizat ialah sesuatu yang tidak mungkin ditandingi oleh manusia, baik secara pribadi maupun secara kolektif.  Ia merupakan sesuatu yang berbeda dari kebiasaan, diciptakan oleh Allah kepada nabi-nabi-Nya sebagai bukti kebenaran risalahnya.[5]
            Al-Suyٌthج memberi pengertian mukjizat ialah perkara luar biasa yang disertai tantangan dan tidak ada yang sanggup menjawab tantangannya.[6]
            Jadi, mukjizat yang diberikan kepada seorang nabi atau rasul intinya merupakan alat pamungkas untuk membuktikan kebenaran dirinya sebagai utusan Allah, dan sekaligus melemahkan pihak lawan pihak yang tidak benar.
            Perkara luar biasa yang terjadi pada diri nabi dan rasul itu dianggap menyalahi hukum alam (hھriq al-ھdah), karena memunculkan sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia. Mereka berada pada posisi yang lemah, sama sekali tidak memiliki daya untuk menandinginya.
            Bentuk-bentuk mukjizat yang diberikan kepada nabi-nabi terdahulu umumnya bersifat lokal, temporal dan material, yakni sesuai kelebihan yang trendi di tengah-tengah umat masa itu. Misalnya, pada masa Nabi Isa as. berkembang filsafat materialisme, masyarakat hanya percaya kepada materi dan mengingkari kepada yang gaib, percaya kepada hukum kausalitas dan mengingkari tidak adanya sesuatu yang berwujud tanpa kausalitas.
            Nabi Isa as. sebagai rasul diberi mukjizat dalam dua bentuk, yaitu menunjukkan kekuasaan Allah Yang Maha Gaib, yakni dapat menghidupkan orang mati dan membantah hukum kausalitas semacam dirinya diciptakan tanpa bapak (QS. 3:49; 5:10). Demikian juga yang terjadi pada Nabi Musa as. Ahli sihir dan tukang tenung merebak, maka diberikanlah mukjizat Nabi Musa as. tongkat yang dapat berubah menjadi ular yang dapat mengalahkan sihir-  sihir mereka (QS. 7:106-107). [7]
            Berkenaan uraian di atas, maka mukjizat yang dimaksud adalah suatu peristiwa penting terkait diturunkannya wahyu atas diri Nabi Muhammad saw. (mukjizat Alquran). Wahyu (kitab samawi) itu cukup mengagumkan adanya, karena tidak terjadi pada orang lain kecuali pada orang-orang tertentu, misalnya Injil kepada Nabi Isa as., Taurat kepada Nabi Musa as., dan Zabur kepada Nabi Daud as. Sungguhpun demikian, kitab-kitab yang diturunkan itu semuanya telah mengalami perubahan dan pemalsuan. Lain halnya, mukjizat Nabi Muhammad saw., Alquran mendapat jaminan/penjagaan dari Allah  swt.[8] Di samping itu, juga merupakan bukti kebenaran kerasulannya dan merupakan terbesar di antaranya, sebagaimana dikemukakan oleh Ibn Khaldun:
إن أعظم المعجزات وأشرفها وأوضحها دلالة القرآن الكريم المنزل على نبينا محمد صلى الله عليه وسلم، فإن الخوارق فى الغالب تقع مغايرة للوحى الذى يتلقاه النبى، ويأتى بالمعجزة شاهدة بصدقه.[9]
       Alquran sebagai mukjizat, dalam arti senjata Nabi Muhammad saw. untuk melumpuhkan sastrawan-sastrawan Arab Jahiliyah yang konon terkenal tiada taranya.  Ayat-ayatnya mengandung nilai-nilai sastra yang amat tinggi, sehingga tak ada seorang pun yang dapat membuat serupa dengannya, baik secara terpisah-pisah, berkelompok dan maupun bersatu. Mukjizat Alquran yang dimaksudkan bukan berarti melemahkan manusia dengan pengertian yang sebenarnya, tetapi melemahkan mereka untuk mendatangkan semisal Alquran.  Jadi kemukjizatannya tidaklah lain kecuali untuk melahirkan kebenaran bahwa yang dibawa itu (Alquran) benar-benar wahyu yang bersumber dari Allah swt

B. Syarat-syarat Mukjizat Alquran

            Hal yang perlu diperhatikan pada syarat-syarat mukjizat, antara lain: Pertama; ia merupakan perkara luar biasa yang tidak mampu ditandingi oleh manusia, baik secara keseluruhan maupun sebahagian saja; Kedua; ia menantang siapa saja yang meragukan kebenarannya; Ketiga; ia pada hakikatnya bersumber dari ciptaan Allah swt.; Keempat;  ia khusus diberikan kepada nabi dan rasul untuk menguatkan kenabian dan kerasulannya.  Berikut ini akan dikemukakan pandangan al-Shھbٌnج:
1.  Adanya unsur kelemahan manusia untuk membuat sesuatu yang serupa dengan Alquran. Alquran mengandung kebenaran mutlak di luar kemam-  puan akal dan imajinasi manusia, meskipun mereka semuanya bekerja sama untuk mewujudkan tandingan Alquran, sudah pasti tidak akan mampu membuatnya. Hal ini seperti ditegaskan pada surah al-Baqarah 23.
2.  Mukjizat itu datang tidak sesuai dengan adat kebiasaan dan berlawanan dengan hukum alam.
3. Mukjizat berupa hal yang dijadikan saksi oleh seorang pembawa risalah ilahi sebagai bukti atas kebenaran dakwahnya.  Apabila seseorang mengaku sebagai nabi dan mukjizatnya berupa benda padat yang dapat berubah menjadi binatang atau manusia, namun tidak dapat dibuktikannya, maka kenabiannya itu tidak dapat dipercaya karena tidak dapat menunjukkan kebenaran.
4.  Mukjizat itu harus sesuai dengan dakwahnya.  Dalam suatu riwayat, Musailamah al-Kazzھb ketika  disuruh oleh kawan-kawannya untuk meludahi sumur agar airnya menjadi banyak, tetapi kenyataannya air tidak bertambah, maka nampaklah kebohongannya.
5.  Tidak ada seorang pun yang dapat menandinginya dalam lomba ciptaan tentang mukjizat.  Mukjizat tidak dapat ditandingi.  Seandainya Alquran dapat ditandingi, maka gugurlah kedudukannya sebagai mukjizat.
            Kelima syarat-syarat tersebut di atas sesuai dengan contoh-contoh mukjizat yang telah dijelaskan sebelumnya.  Baik mukjizat Nabi Musa as.,  Isa as. ataupun Nabi Muhammad saw. Namun demikian, terdapat sedikit perbeda-  an antara mukjizat Nabi Muhammad saw. dengan mukjizat nabi-nabi sebelumnya.  Mukjizat yang diberikan kepada nabi-nabi terdahulu bersifat hissiyah yang dibatasi oleh ruang dan waktu.[10]  Sedangkan mukjizat Nabi Muhammad saw. bersifat universal dan berlaku sepanjang masa.[11] Di samping itu, ia juga bersifat filosofis (akliah) yang tidak dapat dipahami kecuali dengan pemahaman mendalam yang dapat dibuktikan kebenarannya oleh akal manusia.[12]

C. Unsur-unsur Mukjizat Alquran

            Setelah kita memeperoleh gambaran bahwa Alquran adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw. yang bersifat universal dan eternal, maka timbul pertanyaan sekitar apa saja unsur-unsur mukjizat itu?
            Dalam mengemukakan unsur-unsur mukjizat Alquran, para ulama berbeda pendapat.  Hal ini karena perbedaan sudut pandang mereka dalam melihat kemukjizatan itu. Ada yang mengatakan Alquran secara keseluruhan adalah mukjizat, baik ditinjau dari segi  balaghah, fasھhah, isi kandungan, susunan bahasa maupun dari segi lain-lainnya. Namun demikian, ada juga di antara mereka yang mencoba mengkajinya lebih rinci dan melihat dalam aspek-aspek tertentu.
            Satu golongan ulama berpendapat bahwa, mukjizat Alquran itu terletak pada nazamnya.  Nazam itu dianalisis dari tiga elemen linguistik, yaitu huruf dan bunyinya, kata-kata dan bunyinya, dan kalimat dengan susunan kata-katanya.  Mustafa Sadiq al-Rafi’i menyimpulkan bahwa nazam Alqur’an nilainya amat tinggi karena ia datang dari kesempurnaan penciptanya.[13]
            Golongan lain berpendapat bahwa kemukjizatan Alquran itu terletak pada pemberitaan tentang hal-hal ghaib yang akan datang yang tidak mungkin diketahui kecuali dengan pemberitaan dari wahyu, dan pada pemberitaannya tentang hal-hal yang sudah terjadi sejak masa penciptaan makhluk, yang tidak mungkin dapat diterangkan oleh seorang nabi yang ummi yang tidak pernah berhubungan dengan ahli kitab. Misalnya ramalan Alquran tentang kemenang-  an akhir kerajaan Romawi melawan kerajaan Persia.  Sejarah ini terbukti menjadi kenyataan setelah 7 tahun adanya ramalan Alquran (QS. 30: 2-3).
            Al-Baqillھnج menyimpulkan bahwa Alquran unggul dalam seluruh kesusastraannya,[14]  sehingga tiada seorang pun di antara pujangga Arab yang sanggup menciptakan yang serupa dengannya.  Ketinggian mutu sastra Alquran meliputi segala segi.  Ia kaya dengan perbendaharaan kata-kata, padat akan makna yang dikandungnya, serta sangat indah dan bijaksana dalam menyampaikan pesannya sehingga sesuai untuk semua golongan strata intelektual manusia.[15]  Keindahan dan ketelitian redaksi-redaksi Alquran hanya dapat dirasakan melalui perasaan, bukan melalui nalar.[16]  Ini terlihat ketika manusia dihadapkan pada perintah dan larangan.  Sangat manakutkan bila mengancam atau menghardik, namun sebaliknya sangat menggairahkan dan membangkitkan semangat serta penuh harapan bila mendengarkan uraian tentang kenikmatan yang akan diperoleh orang beriman dalam surga nanti.
            Aspek lain dari kemukjizatan Alquran adalah isyarat-isyarat ilmiahnya.   Banyak sekali isyarat ilmiah yang ditemukan dalam Alquran yang kebenaran-  nya terbukti sebelum pengetahuan itu sendiri sanggup menemukannya.  Misalnya diisyaratkan bahwa “Ia menciptakan kamu dalam perut ibumu, penciptaan demi penciptaan dalam tiga kegelapan” (QS. 39:6). Dahulu zulumھt tsalھts dipahami perut, rahim dan tulang belakang. Sekarang setelah kemajuan ilmu pengetahuan kedokteran, tiga kegelapan itu merupakan tiga selaput dalam rahim, yaitu amnio, dinding dan uterus.[17]
            Kemukjizatan ilmiah Alquran bukanlah terletak pada cakupannya tentang teori-teori ilmiah yang selalu baru dan berubah-ubah sebagai hasil usaha dalam penelitian dan pengamatan, tetapi ia terletak pada dorongannya untuk berpikir dan menggunakan akal dalam memahami ayat-ayat Allah.
            Selain itu, masih ada lagi ulama yang melihat keistimewaan Alquran sebagai wahyu dari aspek susunannya yang utuh. Hal ini membuktikan bahwa Alquran yang diturunkan dalam masa 23 tahun secara berangsur-angsur dapat tersusun secara utuh tanpa terlihat adanya kesan bahwa ia diturunkan dalam tempo yang berangsur-angsur dan terpilah antara satu dengan yang lainnya.  Surah al-Baqarah misalnya, diturunkan dengan frekuensi 18 kali dalam beberapa tahun, begitu juga dengan surat pendek, seperti surah al-Dhuhھ, al-  Mھ’ٌn dan al-’Alaq, yang masing-masing surah itu turun dua kali.  Baik surah yang panjang  seperti al-Baqarah maupun ketiga surah pendek di atas, tidak jauh berbeda susunannya dengan surah yang diturunkan sekaligus seperti surah al-An’ھm.[18]
            Terlepas dari sisi mana mukjizat Alquran, satu hal penting yang harus diresponi yaitu berupa tantangan dari Alquran kepada manusia. Al-Shabٌnج mengemukakan ada tiga faktor yang harus dipenuhi supaya mukjizat itu dapat dibuktikan:
Pertama; adanya tantangan (ajakan bertanding atau berlomba).
Kedua; yang mendorong untuk menangkis tantangan itu masih ada
Ketiga; yang mengahalang-halangi sudah tidak ada.[19]
            Alquran akan terbukti kamukjizatan bagi orang-orang yang tidak percaya dan menantangnya.  Di dalam Alquran ditemukan empat tahap tantangan Alquran dengan uslub yang berbeda-beda. Pertama; menantang siapa pun yang meragukannya untuk menyusun semacam Alquran secara keseluruhan, sebagai berikut :
قُلْ لَئِنْ اجْتَمَعَتْ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا.
Katakanlah (wahai Muhammad): "Sesungguhnya jika sekalian manusia dan jin berhimpun dengan tujuan hendak membuat dan mendatangkan sebanding dengan Alquran ini, mereka tidak akan dapat membuat dan mendatangkan yang sebanding dengannya, walaupun mereka bantu-membantu sesama sendiri".
            Ternyata orang Arab tidak mampu menjawab tantangan ini meskipun mereka termasuk ahli sastra terkenal. Kemudian Allah mengurangi permintaan-  Nya agar mereka membuat sepuluh surah yang serupa dengannya:
أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنْ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنتُمْ صَادِقِينَ.
Bukan itu sahaja kata-kata mereka bahkan mereka menuduh dengan mengatakan: "Ia (Muhammad) yang mereka-reka Alquran itu!" katakanlah (wahai Muhammad): "(Jika demikian tuduhan kamu), maka cubalah buat serta datangkan sepuluh surah rekaan yang sebanding dengan Alquran itu, dan panggilah siapa sahaja yang kamu sanggup memanggilnya, yang lain dari Allah, jika betul kamu orang-orang yang benar".
            Juga mereka tidak mampu menjawab tantangan ini, sehingga Alquran menyederhanakan tantangannya dengan menyuruh mereka membuat satu surah saja seperti Alquran.
أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنْ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ.
(Orang-orang kafir tidak mengakui hakikat yang demikian itu) bahkan mereka mengatakan: "Dia lah (Muhammad) yang mengada-adakan Alquran menurut rekaannya". Katakanlah (wahai Muhammad): "Kalau demikian, datangkanlah satu surah yang sebanding dengan Alquran itu, dan panggilah siapa sahaja yang kamu dapat memanggilnya, yang lain dari Allah (untuk membantu kamu), jika betul kamu orang-orang yang benar!".
            Dan terakhir Alquran menantang mereka untuk menyusun sesuatu pembicaraan lebih kurang sama dengan satu surah dari Alquran (QS. 2: 23).
- وَإِنْ كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنتُمْ صَادِقِينَ.
Allah berfirman: "Wahai Adam! Terangkanlah nama benda-benda ini semua kepada mereka". Maka setelah Nabi Adam menerangkan nama benda-benda itu kepada mereka, Allah berfirman: "Bukankah Aku telah katakan kepada kamu, bahawasanya Aku mengetahui segala rahsia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?".
            Akhirnya nyatalah bahwa Alquran itu datangnya dari Allah swt. sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Syu’rھ 19:192:
- وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ(192)نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ(193)عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنْ الْمُنذِرِينَ(194)بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ(195)وَإِنَّهُ لَفِي زُبُرِ الْأَوَّلِينَ(19(
Dan sesungguhnya Alquran (yang di antara isinya kisah-kisah yang tersebut) adalah diturunkan oleh Allah Tuhan sekalian alam. Ia dibawa turun oleh malaikat Jibril yang amanah. Ke dalam hatimu, supaya engkau (wahai Muhammad) menjadi seorang dari pemberi-pemberi ajaran dan amaran (kepada umat manusia). (Ia diturunkan) dengan bahasa Arab yang fasih serta terang nyata. Dan sesungguhnya Alquran (tersebut juga perihalnya dan sebahagian dari pengajaran-pengajarannya) di dalam Kitab-kitab ugama orang-orang yang telah lalu.
            Sehubungan dengan tantangan di atas, al-Shھbٌnج membaginya ke dalam 2 kelompok.
            Pertama; tantangan umum yang ditujukan kepada semua makhluk.
            Tantangan yang bersifat umum ini inklusif golongan filosofis, cendikiawan, ulama dan hukama serta didatangkan untuk manusia tanpa kecuali, bangsa Arab atau bangsa Ajam, ras putih atau hitam, mukmin atau kafir.[20]
            Kedua; tantangan khusus ditujukan kepada bangsa Arab dan lebih khusus lagi kafir Quraiys.[21]
            Tantangan khusus ini terbagi dua, yaitu tantangan secara umum yang mencakup seluruh isi Alquran, mengenai hukum-hukumnya, keindahannya, balaghahnya dan kejelasannya, seperti tertera dalam firman Allah surah al-Thur 34. Ayat tersebut (al-Thur 34) yang dimaksud بحديث adalah Alquran, yakni hendaklah mereka mendatangkan satu bacaan yang menyerupai Alquran yang dibawa Nabi Muhammad saw., yang mereka duga ciptaannya.[22] Dan Tantangan secara juz’i yang ditujukan untuk membuat sebagiannya saja, seperti firman Allah dalam surah Hud 13.
            Namun setelah itu, terbuktilah bahwasanya Alquran  benar-benar ciptaan Allah swt., tak seorangpun manusia yang sanggup membuat yang serupa dengannya, baik satu surah saja terlebih-lebih satu Alquran.
            Akan tetapi, kedudukan Alquran ini dijelaskan sebagaimana kedudukannya sebagai mukjizat, karena itu, ketika diperhadapkan kepada siapa saja, Alquran tak dapat tertandingi oleh siapapun saja, baik dari segi keindahan uslub-nya, kedalaman ilmunya, maupun berita-berita yang diungkapkannya.


Daftar Pustaka

Abٌ Zayd, Nashr Hھmid. Mafhٌm al-Nash. T.t.: al-Hayah al-Mishriyyah al-Amah li al-  Kutub, 1993.
As-Shouwy, Ahmad (et. al),“Mukjizat Alquran dan As-Sunnah tentang IPTEK’ . Jilid I-II. Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 1995.
Ashfahھnج, Al-Rھghib. Mu’jam Mufradھt al-Alfھzh al-Qurھn.  Bairut: Dھr al-Fikr, t.th.
Boulatta, Issa J. The Rethorical Interpretation of The Quran: Ijaz and Related Topics”. Dalam Andrew Rippin (ed.). Approaches to The History of The Interpretation of The Quran, (Oxford: 1988.
Chatibul Umam “Kemukjizatan Qur’an dari segi Uslub dan Isi”.  Dalam Bustami A. Gani dan Chatibul Umam (ed.), Beberapa Aspek Ilmiah tentang Qur’an. Jakarta: PTIQ, 1994.
Al-Munawar, Said Aqil Husin. I’jaz al-Qur’ھn dan Metodologi Tafsir. Semarang: Dimas 1994.
Nasution, Harun. Falsafat Agama. Jakarta: Bulan Bintang, 1987.
Al-Sa’جdج, Muhammad Jawھd. Buhٌts Hawl ‘Ulٌm al-Qur’ھn al-Karجm. T.t.: Mathba’ah al-Adھb; al-Najf al-Asyraf, t.th.
Al-Shھbٌnج, Muhammad Ali. al-Tibyھn fج ‘Ulٌm al-Qur’ھn. Mekah: t.tp., t.th.
Shihab, M. Quraish. Membumikan al-Qur’ھn. Bandung: Mizan, 1992.
----------, Mukjizat Alquran; Ditinjau dari Aspek Kebahasaan Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib. Cet. I; Bandung: Mizan, 1997.
Al-Suyٌthج, Jalھl al-Dجn. al-Itqھn fج ‘Ulٌm al-Qur’ھn.  Juz II, T.t.: Dھr al-Fikr, t.th.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan  dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cet. III; Jakarta, Balai Pustaka, 1994.
Al-Zarqھnج, Muhammad ‘Abd al-’A’zhim. Manھhil al-’Irfھn fج ‘Ulٌm al-Qur’ھn, Juz I, Mesir: al-Bھbج al-Halabج, 1988.

                                                    


[1] Al-Rھghib al-Ashfahھnج, Mu’jam Mufradھt al-Alfھzh al-Qurھn (Bairut: Dھr al-Fikr, t.th.), h. 334.
[2] Lihat pengertian mukjizat dan penjelasannya dalam M. Quraish Shihab, Mukjizat Alquran; Ditinjau dari Aspek Kebahasaan Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib, (Cet. I; Bandung: Mizan, 1997), h.23.
[3] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan  dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Cet. III; Jakarta, Balai Pustaka, 1994), h. 670.
[4] M. Quraish Shihab, op. cit.,  h. 23.
[5] Muhammad ‘Abd al-’A’zhim al-Zarqھnج, Manھhil al-’Irfھn fج ‘Ulٌm al-Qur’ھn, Juz I (Mesir: al-Bھbج al-Halabج, 1988), h. 73.
[6] Jalھl al-Dجn al-Suyٌthج, al-Itqھn fج ‘Ulٌm al-Qur’ھn, Juz II (t.t.: Dھr al-Fikr, t.th.), h. 116.
[7] Lihat Muhammad Jawھd al-Sa’جdج, Buhٌts Hawl ‘Ulٌm al-Qur’ھn al-Karجm (t.t.: Mathba’ah al-Adھb; al-Najf al-Asyraf, t.th.), h.17.
[8] Lihat QS. al-Hijr 9:. إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
[9] Lihat pernyataan Ibn Khaldun dalam Nashr Hھmid Abٌ Zayd, Mafhٌm al-Nash (t.t.: al-Hayah al-Mishriyyah al-Amah li al-Kutub, 1993), h. 155.
[10] Al-Suyٌthج, op. cit., h. 116.
[11] Lihat QS. al-Hijr 9.
[12] M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’ھn (Bandung: Mizan, 1992), h. 28.
[13] Issa J. Boulatta, The Rethorical Interpretation of The Quran: Ijaz and Related Topics”. Dalam Andrew Rippin (ed.). Approaches to The History of The Interpretation of The Quran, (Oxford: 1988), h. 148.
[14] Ibid., h. 145.
[15] Said Aqil Huin Al-Munawar, I’jaz al-Qur’ھn dan Metodologi Tafsir (Semarang: Dimas 1994),  h., 10
[16] M. Quraish Shihab, op. cit., h. 29; lihat juga Chatibul Umam “Kemukjizatan Qur’an dari segi Uslub dan Isi”.  Dalam Bustami A. Gani dan Chatibul Umam (ed.), Beberapa Aspek Ilmiah tentang Qur’an, (Jakarta: PTIQ, 1994), h. 34 - 63.
[17] Harun Nasution, Falsafat Agama  (Jakarta: Bulan Bintang, 1987), h. 1987.
[18] Al-Zarqھnج, op. cit., h. 236.
[19] Muhammad Ali Al-Shھbٌnج, al-Tibyھn fج ‘Ulٌm al-Qur’ھn (Mekah: t.tp., t.th), h. 103-104.
[20] Lihat QS. al-Isra’ 88.
[21] Al-Shھbٌnج, loc. cit.
[22] Lihat QS. al-Qashash 49.
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Makalah Mukjizat Alquran

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 4/17/2017

0 komentar Makalah Mukjizat Alquran

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak