Home » » Peradaban Islam di Timur Tengah

Peradaban Islam di Timur Tengah

Peradaban Islam di Timur Tengah

Peradaban Islam di Timur Tengah

1. Lukisan Kehidupan Islam
Hasil gambar guna masjid qubaKebudayaan Islam Timur Tengah Pada masa-masa Islam sudah berkembang luas dan Arab muslim sudah bercampur baur dengan sekian banyak  bangsa lain, terbukalah mata mereka menyaksikan kea rah seni kebiasaan lama dan lantas dikembangkan dengan jiwa agama. Demikian ufuk seni menjadi lebar meluas dalam pandangan mereka dan kesudahannya mereka pun sukses menciptakan seni kebiasaan baru yang tidak membias dari garis Islam. di mana menurut keterangan dari anggapan mereka, bahwa yang demikian tak berbeda dengan menyembah patung. Karena itu, dasar atau motif dari seni rupa mereka yakni annabatiyah (tumbuh-tumbuhan) dan al-handasiyah(gambar menurut ilmu ukur).
Setelah Arab muslim menguasai negeri-negeri Syam dan Persia, mereka mencetuskan aliran eksklusif dalam seni bangunan yang cocok dengan tata hidup mereka. Muncullah bangunan-bangunan mereka dengan gaya khas Arabnya yang berwujud pada format pilar, busur, kubah, ukiran lebah bergantung, wajah menara menjulang tinggi. Penonjolan seni bangunan Arab muslim kesatu kalinya pada mesjid-mesjid. Tipe mesjid Quba yang di bina Rasul menjadi dasar umum untuk segala mesjid Islam. kemudian lintas jama’ah haji ke Mekkah dan Madinah tiap-tiap tahun, di mana mereka mengerjakan ibadah sembahyang dalam mesjid-mesjid kota dan desa yang dilaluinya telah mengakibatkan tipe mesjid-mesjid Hijaz menjadi contoh.

2.  Al-Khithabah
Al-khithabah (seni pidato) merupakan kecerdikan khusus dan menjadi kriteria utama untuk seseorang pemimpin atau kepala kabilah. Karena itu, khithabah sudah menjadi sebuah kalangan mereka semua “khuthaba” yang mahir berpidato dalam bahasa yang estetis (bayan). Demikian pula, seni pidato berkembang pesat lagi dalam kalangan orang Arab muslim di zaman permulaan Islam, oleh sebab Dakwah Islamiyah membutuhkan para “khathib” yang petah lidahnya dan mempunyai teknik tinggi serta bahasa balaghah dalam berpidato. Karena itu, kecuali Rasul sendiri yang memang seorang khathib ciptaan Allah, pun para kawan dan semua panglima perang semuanya ialah “singa podium” yang ulung.

Perbedaan khithabah zaman Jahiliyah dengan khithabah zaman permulaan Islam, yakni bahwa khithabah terakhir ini sudah terpengaruh benar dengan uslub Qur’an yang bernilai balaghah dan hikmah, bahkan semua “khuthtbah” sudah menjadi khithabah-khithabahnya sarat dengan ayat-ayat al-qur’an yang digodok menjadi satu kesatuan yang padu. Pengaruh seni khithabah sesudah Islam dalam jiwa menjadi hebat dan mendalam dengan karena kebangkitan Arab dan kemenangan-kemenangan mereka dalam sekian banyak  medan perang, urusan mana menambahkan kebanggan mereka serta meningkat tinggi nilai dirinya yang menyebabkan tambah halus rasa balaghahnya. Pada ketika itu, nilai khithabah dalam kalangan mereka menjadi tinggi sekali, sudah sampai pada derajat yang belum pernah dijangkau oleh bangsa apapun sebelumnya, pun tidak pernah oleh bangsa Yunani dan Romawi.

Orang Arab pada permulaan Islam ialah bangsa yang paling tidak sedikit mempunyai khtahib yang mampu berpidato dengan seni bahasa yang jarang terdapat bandingannya. Karena semua khalifah semua gubernur dan semua panglima pada lazimnya semuanya khuthaba yang mahir, bahkan pun para ulama dan para berpengalaman zuhud. Ini tidak heran, sebab orang Arab memiliki impian | fantasi | angan-angan | fiksi | khayal yang kaya sekali dan memiliki jiwa perasa yang paling tajam. Kalau kita menyimak hasil-hasil dari dakwah Islamiyah dan kemenangan-kemenangan perang akan anda dapati urusan yang ajaib sekali yakni pengaruhnya khithabah dari semua khuthaba.

Satu penentangan dapat dipatahkan dengan satu pidato yang berhikmah. Umpamanya pada waktu warga Madinah berkeinginan membangkitkan revolusi berdarah pada masa-masa wafatnya Rasul, maka Khalifah Abu Bakar dapat menenangkan mereka dengan satu khithabah pendek yang berbunyi:

Saudara-saudara!
Kalau Muhammad sudah meninggal maka bahwasannya Allah tetap hidup, tidak bakal mati. Muhammad hanyalah seorang Rasul, di mana sebelumnya telah selesai rasul-rasul. Apakah bila dia meninggal atau terbunuh, lantas anda menjadi kafir kembali?.

3. Seni Bahasa
salah satu kebudayaan islam unsur timur tengah ialah seni sastra. Unsur yang tidak baik yang ada dalam syair Jahiliyah, telah dimurnikan dari syair pada permulaan Islam, laksana ashabiyah, caci maki, hasut fitnah, cabul, dan sebagainya.

Para penyair di zaman ini mendapat tuntunan Al-qur’an:
Yang menjadi pengikut semua penyair, ialah kaum petualang. Tidaklah anda lihat, bahwa mereka bertualang di lembah-lembah? Mereka berbicara yang tidak dikerjakannya. Kecuali mereka yang beriman dan beramal salih, senantiasa berzikir untuk Allah. Mereka tersebut mendapat kemenangan sesudah ditindas. Kaum penindas akan memahami ke lokasi mana mereka bakal di halau. (QS. Asy-Syu’ara [26]: 224-227).

Ayat-ayat ini ialah untuk mencela semua penyair Jahiliyah yang tiada bermoral dan untuk menuntun para penyair muslim. Rasul sendiri menyarankan umat guna menjadi penyair, khususnya untuk membela dakwah dan membangunkan semangat jihad:
Sesungguhnya keindahan bahasa ialah sihir, dan bahwasannya syair ialah kata berkhidmat. (Al-hadits).

Syair-syair di zaman ini tidak sedikit terpengaruh dengan Uslub Qur’an. Tema dari syair-syair di zaman ini yakni jihad, memuja Rasul, memaki musuh Islam, kehormatan Islam, surge dan neraka. Syair juga dipakai untuk mengartikan makna dan kandungan Al-qur’an dan Hadits. Para penyair yang terkemuka pada zaman ini antara lain yakni Hassan bin Tsabit, Abdullah bin Malik, Ka’ab bin Malik dan Ka’ab bin Zubair.

4. Seni Bangunan
Seni bangunan Islam terbagi dalam tiga bidang besar yaitu:
a.      Imarah Madaniyah (bangunan sipil) yang menjelma dalam format kota-kota dan gedung-gedung khusus.
b.      Imarah Diniyah (bangunan agama) yang berwujud dalam mesjid-mesjid dan tempat-tempat ibadah lainnya.
c.       Imarah Harbiyah (bangunan militer) yang bersemi dalam benteng-benteng dan menara-menara pertahanan.

Bangunan-bangunan Arab ialah sangat sederhana. Di Mekkah melulu sedikit sekali bangunan dan yang terpenting bangunan Ka’bah. Rumah orang-orang kaya terbikin dari batu, sedangkan rumah-rumah rakyat tidak sedikit terbuat dari batu merah. Pada lazimnya rumah-rumah terbikin satu tingkat dengan pekarangan yang luas dan bersumur di dalamnya. Setelah Daulah Islamiyah meluas di zaman Khalifah Umar dan tanah Hijaz menjadi makmur dan kaya, berdatanganlah ke Madinah para berpengalaman seni bangunan (arsitek) dari luar Jazirah Arab dan seni bangunan memuncak kemajuannya. Waktu itu, semua pembesar Arab muslim di Mekkah dan Madinah membina gedung-gedung batu yang lebar besar yang diperindah dengan marmar. Kata orang, istana Saidina usman yang terbesar di antaranya.

Berdasarkan keterangan dari Mas’udi dalam kitab sejarahnya, bahwa semua sahabat di masa Khalifah Usman telah membina rumah-rumah gedung besar, baik di Madinah, Kaufah, Fusthath, Iskandariah atau kota-kota lainnya. Khas seni bangunan Arab dengan menara, kubah, pilar dan ukiran lebah bergantung yang semuanya menuju pohon kurma yang mereka cintai, sebab kurma ialah makanan pokok mereka.

5. Pembangunan Mesjid
Selama masa permulaan Islam (masa Rasul dan Khulafaur Rasyidin), cocok dengan keperluan kaum muslimin telah tidak sedikit didirikan mesjid-mesjid, baik dalam kota-kota ataupun dalam desa-desa, lagipula bila disadari bahwa faedah mesjid bukan hanya sebagai lokasi sembahyang, namun mesjid pada permulaan Islam ialah pusat pekerjaan ibadat, politik, ekonomi dan kebudayaan.

Di antara mesjid-mesjid yang dibangkitkan di masa ini, yaitu:
a.      Mesjid Quba
Pada hari kesatu Rasul datang di Madinah, beliau hingga pada satu lokasi di luar Yasrib, yang mempunyai nama Quba. Di lokasi inilah Rasul beristirahat empat hari yakni hari Senin, Selasa, Rabu dan Kamis. Dan di lokasi inilah beliau membina sebuah mesjid kesatu dalam Islam yang disebut mesjid Quba. Mesjid Quba ini di bina pada tanggal 12 Rabiulawal 1 HIjriyah (28 Juni 622 M) secara gotong royong, di mana Rasul sendiri bareng para kawan turut mengusung batu. Batu kesatu diusung oleh Rasul, kemudian beruntun Abu Bakar, Umar dan usman. Mesjid Quba tidak begitu besar, namun arsitekturnya menjadi model untuk mesjid-mesjid yang di bina kemudiannya.
b.      Mesjid Madinah
Untuk menegakkan mesjid Madinah, Rasul memilih sebidang tanah milik dua anak yatim. Sekalipun wali dari anak-anak yatim tersebut hendak menyerahkan gratis tanah tersebut, tetapi Rasul tetap membelinya. Mesjid didirikan paling sederhana. Tembok dindingnya batu bara, sedangkan atapnya terdiri dari daun kurma yang dibaur dengan tanah liat. Di samping mesjid di bina ruangan tertutup untuk semua fakir kurang mampu kaum muslimin. Mesjid diberi pintu dua, yakni pintu Aisyah dan pintu Atiqah. Setelah perang Khaibar, nabi sendiri memperbesar mesjid ini, kemudian beruntun diperbesar lagi oleh Khalifah Umar dan Khalifah Usman, malahan oleh Khalifah Usman diperindah dengan batu-batu berukir dan batu akik berwarna.
Pada zaman Rasul dan Khulafaur Rasyidin, mesjid Madinah ini menjadi kantor besar Negara yang di dalamnya diurus segala hal pemerintahan. Mesjid bukan hanya menjadi ekonomi dan sosial. Rasul menerima duta-duta luar negeri dalam mesjid, sebagaimana mengurus urusan-urusan Negara lainnya. Di atas mimbar mesjid Rasul berpidato membentangkan urusan-urusan politik dan agama. Demikian pula semua khalifah sesudahnya, mesjid ini pun menjadi pusat pekerjaan ilmu dan kebudayaan. Tidak pernah mesjid mengasingkan urusan agama dengan hal politik, laksana halnya dengan gereja.
Di samping mesjid Nabawi, di kota Madinah tidak sedikit didirikan mesjid-mesjid sekitar masa permualan Islam diantaranya yakni mesjid al-Qiblatain, mesjid Fatah, mesjid Salman, mesjid Saiyidina Ali, mesjid Ijabah, mesjid Rayah, mesjid Suqya, mesjid Fadikh, mesjid Bani Quraizah dan mesjid Afr. Sebagian dari mesjid-mesjid ini telah tak terdapat lagi sekarang.
c.       Mesjid Al-‘Atiq
Dalam menciptakan rencana pembangunan kota Fusthath, termasuk suatu mesjid Jami’ yang berdiri di tengah-tengahnya. Demikian kehendak panglima Angkatan Perang Islam yang menaklukkan Mesir, Amr bin Ash. Mesjid yang disebut mesjid Al-‘Atiq ini kesudahannya lebih familiar dengan namanya sendiri yakni Jami’ Amr bin Ash.
d.      Mesjid-mesjid di dekat Mekkah
mesjid-mesjid di dekat mekkah adalahbukti kebudayaan islam unsur timur tengah yang dapat ditonton saat ini. Di samping mesjid Haram dengan Ka’bah di dalamnya, dalam kota Mekkah dan sekitarnya pun ada mesjid-mesjid lainnya yang dibangkitkan di zaman permulaan Islam, antaranya yakni mesjid Rayah, mesjid Mukhtaba, mesjid Abi Qubais, mesjid Haras, mesjid Ijabah, mesjid Al-Bai’ah, mesjid Nakar, mesjid Al-Kibasyi, mesjid Khaif, mesjid Dab, mesjid namrah, mesjid Al-Hiyallah, mesjid Ja’ranah dan mesjid Fathah. Dan sebagaian dari mesjid-mesjid ini telah tidak terdapat lagi.
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Peradaban Islam di Timur Tengah

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 10/03/2017

0 komentar Peradaban Islam di Timur Tengah

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak