Home » » Konsep Akal Dalam Al-Qur'an

Konsep Akal Dalam Al-Qur'an

A. Pengertian Akal

Hasil gambar untuk akalAkal adalah daya berfikir yang ada dalam diri manusia dan merupakan salah satu daya dari jiwa serta mengandung arti berfikir, memahami, dan mengerti. Kata akal berasal dari bahasa Arab, kata asalnya عقل yang berarti mengingat dan memahami. Pada zaman jahiliya orang yang berakala (عقل) adalah orang-orang yang dapat menahan amarahnya dan mengendalikan hawa nafsunya, sehingga karenanya dapat mengambil sikap dan tindakan yang bijaksana dalam menghadapi persoalan yang ia hadapi.
         Alkindi mengemukakan bahwa dalam jiwa manusia terdapat tiga daya, yaitu daya bernafsu yang bertempat di perut, daya berani yang bertempat di dada, dan daya berfikir yang bertempat di kepala. Akal sebagai daya berfikir yang terdapat di kepala dibagi dua. Yaitu akal praktis dan akal teoretis. Akal praktis adalah yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indra pengingat sedangkan akal teoritis menangkap arti-arti murni, yaitu arti yang tidak pernah ada dalam materi, sedangkan akal teoretis sebaliknya bersifat matematis, mencurahkan perhatian pada alam immateri.

B. Pembagian Akal

akal manusia dibagi menjadi:
1.      Akal Awan
Yaitu akal yang dimiliki oleh orang kebanyakan atau pada umumnya. Kerja akal pada tingkatan ini sangat bersifat normative dan terbatas menurut apa adanya, belum dapat memahami dibalik apa adanya. Sebagaimana diisyaratkan Allah Swt. Dalam Firman-Nya,
 أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
          Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (Q.S al-Baqarah[2];44)

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya ayat Ini adalah tentang adanya kaum yahudi madinah yang ketika itu berkata kepada menentunya, kaum kerabatnya, dan saudara sesusunya yang telah masuk Islam, “Tetaplah kamu pada agama yang kamu anut (Islam) dan apa-apa yang telah diperintahkan oleh Muhammad, karena perintahnya benar.” Ia menyuruh orang lain berbuat baik, tetapi dirinya sendiri tidak mengerjakannya.
Dalam al-Qur’an kata “akal” dengan bentuk fi’il madhi  (kata kerja lampau) عقلوه dan khususnya bentuk fi’il mudhari’, (kata kerja sedang/akan) seperti   بعقلون-يعقلها-نعقلdan تعقلونberjumlah 49 buah. Penggunaan kata-kata ini menunjukkan makan yang ditunjukkan kepada akal manusia yang masih terbatas dan belum berkembang. Seperti pada contoh ayat di atas, penggunaan kata akal dengan “Apakah kamu tidak berfikir?”mengandung arti mengapa kamu tidak menggunakan akal. Artinya tersirat makna kembangkanlah akalmu. Apabila seseorang memiliki akal yang berkembang, tentu saja tidak hanya menyuruh orang lain berbuat kebaikan, akan tetapi ia pun terlebih dahulu telah mengamalkan kebaikan kebaikan itu. Dalam firman Allah Swt. Yang lain,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. (Q.S Ali Imran[3]; 118)
            Dalam ayat ini juga Allah Swt. Mengajak orang-orang yang telah beriman agar menggunakan akal, mengapa dia melarang mereka mengangkat orang kepercayaan dari orang-orang munafik, fisik, atau kafir. Ayat ini diturunkan kepada sebagian kaum muslim yang sedang mengadakan hubungan dengan segolongan kaum yahudi, karena di zaman jahiliyah pernah menjadi tetangga dan bersekutu dalam peperanan (Diriwayatakan oleh Ibnu Jabir dan Ibnu Ishaq dari Ibnu abbas Ra).
            Sekelompok kaum muslimin yang sedang mengadakan hubungan ketika itu adalah mereka yang masih sangat awam dan belum mampu untuk mengetahui akibat dari terjadinya hubungan yang erat dengan orang-orang Yahudi. Dalam firman-Nya yang lain,
Ayat-ayat ini ditunjukkan kepada orang-orang penyembah setan dan hawa nafsu. Mereka yang bermain-main dan bersahabat dengannya merupakan suatu kejahatan dan sumber bencana. Akan tetapi karena akal mereka belum mampu memahami dan mengetahui akibat dan bahayanya persekutuan dengan setan dan hwa nafsu, maka perbuatan itu tetap mereka lakukan. Itulah tanda-tanda dari orang-orang yang tindak berpikirnya masih dalam tahap awam dan belum berkembang.
Sering kita temukan di dalam kehidupan masyarakat masyarakat kita di Indonesia, sebagian dari mereka sangat mempercayai mitos-mitos tertentu, kultus individu, dan tradisi teetentu yang seolah-olah membuat  mereka melupakan bahwa itu semua adalah makhluk dan kealaman biasa yang suatu saat akan lenyap dan hancur. Dan mereka terlupakan bahwa dirinya adalah mengapa justru ia tunduk kepada apa-apa yang harus tunduk dalam tugas-tugas kekhalifahannya.
Yang lebih menyeramkan lagi di antara mereka banyak yang telah memperoleh pendidikan tinggi, terbukti dengan beberapa title yang disandang di depan dan di belakang namanya. Sikap dan tindakan mereka serta orang-orang yang bukan intelektual dan jalan berpikir mereka sangat pendek, seperti ; yang mereka pikirkan adalah bagaimana untuk meraih jabatan, kedudukan, harta, pengaruh dengan cepat tanpa mempertimbangkan dampak negative dan positif, distruktif dan konstruktifnya, manfaat dan mudharatnya, halal dan harmnya, atau haq dan bathilnya.
Akal awam adalah pandangan prophetic (kenabian) dan batiniah bukan dilihat dari titel, status social, ras,natau kebangsaan akan tetapi awam dalam memahami hakikat dari kebenaran yang hakiki, hasil dan maksud dari ilmu pengetahuan yang telah diraihnya. Pengetahuan luas, gelarnya banyak, keturunannya ningrat, harta bendanya berlebihan, putra-putrinya sehat-sehat dan cerdas, kawan dan sahabatnya di mana-mana, akan tetapi hingga tua dan akhir hayatnya ia belum menemukan hakikat dirinya apalagi Tuhannya. Lalu, apa artinya dengan semua yang telah diraihnya selama hayatnya? Itulah orang-orang yang terawam diantara orang-orang yang awam.
Adapun orang-orang yang berakala awam di mata manusia, mereka secara lahir tidak menyakinkan bagi penglihatan lahir, pendidikan formalnya tidak jelas, ras, dan keningratannya pun tidak diketahui. Akan tetapi setelah kita bergaul dan bersahabat dengan mereka dalam beberapa waktu, akan terasa jelas bahwa orang itu memiliki ilmu dan pengetahuan yang sangat luas lagi mendalam.
·         Tahap perenungan dan penghayatan dengan kekuatan Tafakkur (تفكر)
Yaitu merenungkan dan menghayati secara terperinci dari apa yang telah ditangkap oleh nazhar dan bashar untuk memperoleh pemahaman. Sebagaiman diisyaratkan dalam firman Allah Swt,
كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. (Q.S. al-Baqorah[2]; 266)

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.(Q.S.al-A’’raf [7]; 176)

·         Tahap penganalisaan dan pengambilan hikmah atau kesimpulan yang bermakna tadabbur (تدبر). Yaitu kerja akal pikiran pada tahap analisis, perbandingan, dan pengambilan hikmah dari apa-apa yang telah dikaji secara mendalam. Sehingga menghasilkan kemantapan hati dan keyakinan dari kebaikan dan kebenaran yang dihasilkan dari kerja akal itu. Padanya terdapat segala sesuatu atau hal-hal yang dapat memberikan manfaat secara nyata dan dapat dirasakan oleh jiwa serta diyakini oleh hati. Sebagaiman diisyaratkan dalam firman Allah Swt.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (Q.S. an-Nisa’[4]; 82)
Alquran merupakan kalam dan ayat-ayat Allah yang tertulis dengan bahsa yang mudah. Siapa saja dapat melakukan tadabbur, yaitu mengkaji, menganalisa, membandingkan, dan mengambil himah sebanyak-banyanya dari al-Quar’an itu. Penggunaan kata kata tadabbur dalam ayat ini menunjukkan pesan bahwa al-Qur’an merupakan keterangan-keterangan dan data yang lengkap, jelas, dan nyata. Sehingga tidak perlu lagi dengan menggunakan pengamatan nazhar, bashar, maupun tafakkur. Mengapa demikian?
Al-Qur’an selalu mendorong akal pikiran dan menekankan pada upaya mencari ilmu pengetahuan serta pengalaman dari sejarah, dunia alamiah, dan diri manusia sendiri, karena Allah menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya dalam diri mansuia sendiri, ataupun di luar dirinya. Oleh karena itu menjadi kewajiban manusia untuk menyelidiki dan mengemati ilmu pengetahuan yang dapat menghasilkan kecakapan dalam semua segi dari pengalaman manusia. Al-Qur’an memberikan isyarat tentang sumber ilmu pengetahuan lainnya bagi manusia berdasarkan rujukan dari waktu Ilahi dibandingkan dengan waktu manusia dalam penelitian sejarah yang menekan bahwa manusia harus merefleksikan pengalaman masa lampau dan masa kini,” kami mengutus musa dengan tanda-tanda kami yang jelas (dan perintah kami): ‘bawalah ummatmu keluar dari kegelapan kepada cahaya terang, dan ajarlah mereka supaya ingat hari-hari Allah; sesungguhnya dari hari-hari Allah itu terdapat kebesaran-Nya, bagi orang yang sunggu-sungguh berbesar lagi bersyuk.
2.      Akal Khawas bil Khawas
Yaitu akal yang dimiliki oleh para nabi, rasul, dan ahli waris mereka(auliyah) Allah Swt. Daya berpikir pada tingkatanakala ini bukan melalui usaha sebagaimana pada tingkatan awam dan khawas, akan tetapi tingkat akal ini merupakan anugerah dan karunia Allah Swt. Atas ketaatan dan ketakwaan hamba-Nya. Tingkatan akal pada tingkat ini dapat pula desebut dengan akal Ilahiah. Artinya, akal itu bekerja karena adanya bketajalian Nur Ilmu-Nya ke dalam otak dan fikiran hambna-Nya. Inilah tingkat akal tertinggi yang dianugrahkan-Nya kepada orang-orang-Nya,(Rabbaniyyun).
Dalam Al-Quran tingkatan akal ini disebut didalam dengan رشد dan لب , yang artinya berpikir dengan petunjuk-Nya dan hati nurani. Sebagaimana diisyaratkan dalam firman-Nya.
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
 Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Q.S.al-Baqaroah [2]; 186)
وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِن قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ
  Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Q.S. al-Anbiya’ [21];51)
وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ ۖ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَٰئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا
 Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. (Q.S. al-jin [72]; 14)
Tiga ayat diatas memberikan isyarat untuk dapat memperoleh anugrah rusyd, yaitu memperbanayk berdo’a, melaksanakan segala perintah-Nya. Sebagaimana diisyaratkan dalam firman-Nya yang lain menggunakan kata Lubb,
Jadi perbedaan akal ilmiah dan akal ilahiyah adalah akal Ilmiaah hanya dapat dicapai melalu belajar dan berlatih keras dengan cara atau metode-metode. Tertentu tertentu yang dibangun oleh akal manusia itu sendiri,sehingga dengan itu ia memperoleh kebenaran dan keyakin yang hakiki, apakah iaberiman atau tidak. Sedangkan akal Ilahiyah hanya dapat diperoleh melalui kasih saying Allah Swt. Dengan cara meningkatkan keimanan ketauhidan, serta ketaatan yang sempurna di hadapan-Nya.

C. Kedudukan Akal Dalam Islam

kedudukan akal dalam islam sebagai berikut:
1.   Kedudukan akal sebagai pengijtihad
Kedudukan akal dalam dunia islam adalah sebagai pengijtihad. Maksudnya para mujtahid menggunakan akal fikiran mereka untuk mencari satu keputusan dalam syariat. Sesuai dengan difinisinya juga ijtihad adalah usaha yang sungguh-sungguh dari seorang ahli hukum (Al-Faqih) dalam mencari tahu tentang hukum-hukum syari’at. Jadi bagi para mujtahid akal sangatlah penting peranannya, dalam memikirkan sesuatu masalah membutuhkan akal yang cemerlang supaya mendapatkan hasil yang maksimal dalam menentukan hukum.
Ijtihad didalam islam telah melahirkan mazhab-mazhab fiqh yang menggambarkan kecemerlangan akal pemikiran, namun fiqh pun masih membutuhkan pemikiran lebih lanjut tentang hukum-hukum yang ada didalamnya. Dengan menggunakan akal yang cemerlang para mujitahid akal memutuskan segala perkara dengan maksima dan tanpa mengada-ada. Karena itu seorang mujitahid jika hendap mengijtihadkan suatu perkara maka akalnay harus tenang dan tidak semerautan. Karena ketenangan akal mempengaruhi hasil dari ijtihad itu sendiri. Seorang mujitahid bahkan tidak akan mampu mengijtihadkan suatu perkara jika akal fikirannya belum tenang. Jika akal fikirannnya sudah tenanga maka para mujitahid akan mampu memecahkan segala perkara dengan mudah dan maksimal. Dari itu sangat luarbiasa sekali fungsi dan peranan akal dalam islam. Denga menggunakan akal fikiran para mujitahid bisa memutuskan suatu perkara dengan baik dan maksimal. Jadi akal dapat difungsikan sebagai pengijtihad atau kedudukannya sebagai pengijtihad.
2.   Kedudukan akal untuk mengenal diri manusia sendiri.
Otak dan akal dapat menjadi jalan masuk untuk mengenal diri manusia. Buka saja karena akal merupakan komponen tubuh tertinggi dari manusia, karena juga karena akal mencitrakan dan memberikan ciri khas dari manusia.  Dalam hadits dinyatakan bahwa:
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
Artinya: Barang siapa yang mengenal dirinya maka sudah mengenal Tuhannya.
Dari hadits ini kita bisa ambil kesimpulan bahwa jika jika seseorang sudah mengenal dirinya maka dia sudah mengenal tuhannya. Mengenal diri sendiri bagi manusia bukan hanya mengenal dari fisiknya saja tapi harus mengenal dari mana ia datang dan kemana ia kembali. Semua itu mutlak menggunakan akal fikiran. Seseorang menggunakan akalnya untuk memikirkan dirinya darimana mereka datang. Dengan akal mereka akan menerawang jauh sejauh aklanya bisa berfikir darimana dia datang. Setelah mnggunakan akal fikirannya dengan maksimal maka seseorang akan dapat mengenal jati dirinya bahwa kita semua itu datang karena ada yang menciptakan. Seseorang akal mengambil contoh dari benda-benda disekelilingnya yang dapat mereka buat, benda tersebut ada karena ada yang membaut atau ada yang menciptakan. Dari itu seseorang akan berfikir dirinya ada karena ada yang menciptakannya. Tapi siapa yang bisa menciptakan dirinya yang begitu sempurna bagi pengelihatan mereka? Dari penikiran itu seseorang pasti akan berfikir kepada tuhan yang bisa menciptakan segala sesuatu denga kekuasaannya. Maka haidits diatas sangatalah benar sekali jika seseorang sudah mengenal dirinya maka sungguh mereka suda mengenal tuhannya. Namun jika seseorng hanya bisa mengenal dirinya sendiri, maka mereka belum bisa mengunkan akal fikiran mereka untuk memikirkan adanya Dzat yang telah menciptakan dia. Atau karena mereka mengelak dari kebenaran itu, mereka tidak mau mengakui tentang adanya sang pencipta yang maha kuasa yang mampu menciptkan segala sesuatu denan hanya mengucapkan “Kunfaakun” maka jadilah.
Akal manusia sangatlah terbatas sekali, karena itu ada batasan-batasan kemampuan untuk berfikir yang dijelaskan oleh Rsulallah SAW. Karena tu Rasulallah SAW. telah memberikan suatu batasan didalam hadits yang berbunyi:
تَفَكَّرُوْا فِيْ خَلْقِ اللهِ وَلَا تَفَكَّرُوْا فِى الله وَكُلُّ مَا وَرَدَ فِى بَالِكَ فَا للهُ بِخِلَافِ ذَلِكَ
Artinya: Berfikirlah tentang ciptaan Allah, dan janganlah berfikir tentang Dzat Allah. Setiap yang terlintas dibenakmu tentang Allah, sungguh dia berbeda dari hal itu.
Dari hadits diatas jelas sekali bahwa akal manusia itu sangatlah terbatas. Akal manusia yang diberikan oleh Allah hanya mampu memikirkan apa-apa yang menjadi ciptaan Allah SWT. Akan tetapi akal manusia tidak akan pernah mampu memikirkan tentang Dzat Allah. Karena keterbatasan akal yang digariskan oleh Allah yang maha kuasa lagi maha bijaksana. Memikirkan tentang Dzat Allah adalah kegilaan yang tidak sesuai dengan metode yang sehat, sebab bagaimana mungkin sesuatu yang terbatas (mkhluk) memikirkan yang tidak terbatas (kholik), yang fana memikirkan yang maha kekal, yang lemah memikirkan yang maha kuat, yang bakal mati memikirkan yang maha hidup.
Sebenarnya akal pun tidak akan dapat menjangkau seluruh makhluk yang memenuhui alam kosmos ini, baik matahari, bintang-bintang, bulan, pelanet dan semua peristiwa yang terjadi didalamnya. Lalau bagaimana mampu mengenal atau memikirkan Dzat pencipta makhluk-makhluk itu. Sesumggunya dia:

لَاتُدْرِكُهُ الْاَبْصَرُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَبْصَرُ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ (الانعام : 103
Artinya: “Tidak dapatt dicapai oleh pengelihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui (QS. Al-An’am : 103)
Islam meletakkan tangan manusia diatas papan alam raya agar dengan akalnya menggapai iktibar dan pelajaran dari penomena-penomena kosmik ini. Namun apabila akal melampaui batas-batasnya akan terjerat didalam pemikiran yang dipaksakan, rancu dan terjatuh. Islam membina akal berdasarkan makna tersebut. Didalam banyak tempat islam menjelaskan berbagai persoalan berdasarkan sebab akibat, premis dan konklusi. Metode ini tidak mudah ditempuh oleh akal tanpa menyelaminya lebih dahulu.
Pembinaan ini dimaksudkan agar akal mengetahui bahwa kekuasaan Allah SWT tidak terbatas, namun dapat dipahami dengan  menguraikan antara premis dan konklusi, dan merajut hubungan antara sebab dan akibat.
3.   Kedudukan akal untuk meyakini alam gaib atau mahluk gaib.
Akal diberikan kepada manusia untuk kehidupan ini. Ia menciptakan gerak dan kegiatan hidup didalamnya. Apakah ia dapat menembus semua rashasia kehidupan dan misteri alam raya ini? Dibidang alam nyata saja, bagaimanakah akal menafsirkan bahwa langit dibangun tanpa tiang, dan sistem tata surya yang teratur ini? Bagaimanakah akal menafsirkan rahasia kehidupan yang timbul dari benda mati?
Itulah yang harus dijawab oleh akal. Sangat  mudah menebaknya, karena secara intuitif akal adalah mahluk yang terbatas. Bagaimanapun kehebatan dan kesempurnaan temuan-temuan akal, pada puncak tertentu, namun jarak atara yang ada (wujud) dan tiada (‘adam) adalah jarak yang tidak dapat digambarkan oleh akal manusia. Akal akan sulut menjawabnya karena jarak ini berhubungan dengan kehendak pencipta.
Kalaulah akal tidak mengakui kehendak pencipta ini, ia akan kehilangan dirinya, atau akan terjatuh sepanjang masa.
Abu Al-Hasan al-Nadwi mencoba menganalisis kelemahan akal manusia untuk mengetahui rahasia-rahasia alam dan bidang-bidang gaib. Didalam analisisnya Al-Nadwi meletakkan akal pada bentuka alamiah dan ruang materialnya: “kalau kita lakukan kritik terhadap akal secara logika dan cermat. Terlepas dari dominasi akal atas akal, kita akan melihat kelemahan akal menjalankan tugas alamiahnya, dan bahkan keterpaksaannya mencari bantuan dari sesuatu yang tidak lebih berarga daripadanya. Misalnya untuk mengenal seseuatu yang belum pernah diketahui, akal membutuhkan data-data  yang telah dihasilkan sebelumnya. Premis-premis ini tidak lain hanyalah obyek-obyek inderawi (mahsusat). Kalau kita melilhat pada obyek-obyek akal (ma’kulat) dan pengembaraannya yang panjang, nampak bahwa sarana yang dipergunakan oleh akal untuk mengungkapkan dunia-dunia baru dan menyelam didalam lautan majhul (tidak nampak) adalah obyek inderawi yang muncul secara tidak sempurna. Data-data permulaan yang sangat membantu akal mencapai konklusi, mempunyai nilai yang tinggi karena indera manusia lemah dan manusia sendiri tidak mempunyai simpanan data”. Disitulah akal tidak akan mampu menerobos jalan kedepan untuk sampai kepada sesuatu konklusi didalam masalah metafisik (gaib), sebagaimana tidak seorangpun diantara kita yang lemah dapat mengarungi lautan tanpa perahu, atau hendak terbang tanpa pesawat.
Jelas sekarang  persoalan yang dikemukakan diatas, disekitar kemungkinan akal untuk memecahkan misteri langit dan bumi, misteri bermula dan berakhirnya alam, misteri alam ghaib, dan misteri di luar medan akal yang sempit. Akal tidak mungkin akan mampu mencapainya, sebab  kalau mungkin tentu unta dapat mampu masuk kedalam lubang jarum. Karena itu, sebaiknya akal berdiam diri mengenai masalah-masalah tersebut. Abu Bakar ibn Al-‘Arabi melepaskan akal dari obyek-obyek tidak dapat dijangkau oleh pemikiran, karena obyek-obyek ini jauh lebih besar daripada akal sendiri. Dia membantah filsuf-filsuf yang meletakkan akal pada kedudukan dan medan diluar jangklauannya, disamping menyatakan sebagai klaim-klaim mereka tentang akal sebagai suatu ketololan. “ Sulit untuk dipertanggungjawabkan, asumsi bahwa akal berkuasa mutlak untuk atau mencapai semua obyek. Kami tidak mengklailm bahwa akal dapat mengetahui segala sesuatu dengan sendirinya dan secara bebas. Ia terikat dan terbatas pada persepsinya sendiri, sedangakan medan siluar lintasannya tidak mungkin dicapai. Adapun orang-orang yang dapat mengertuk pintunya dalam menembusnya adalah para nabi yang memang dianugrahi sarana untuk mengetahui hakikatnya dan mengungkapkan aturan-aturannya.  

4.   Kedudukan akal untuk memikirkan penciptaan Allah SWT
Sudah pasti bahwa akal adalah anugrah yang palaing mulia yang Allah berikan kepada manusia. Dengan akal manusia bisa memikirkan apa-apa yang menjadi ciptaan Allah SWT. Bagaimana langit dibentangkan tanpa adanya tiang yang menyanggahnya, bagaimana bergulirnya waktu hingga terjadinya pergantian siang dan malam, semua itu bisa manusia ketahui dengan akal yang diberikan oleh Allah SWT. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:
اِنَّ فِىْ خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَفِ اَّلليْلِ وَالنَّهَارِ لَاَيَتٍ لِاُولِى الْاَلْبَابُِ اَلَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللَهَ قِيَمًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلَى جُنُوُبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِىْ خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَلْأَرْضِ رَبَّنا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطلاً...ال عمران: 190-191
Artinya: sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata)“Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. (QS. Ali Imran: 190-191)
Demikianlah yang difirmankan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Bahwasanya dari semua apa yang diciptakan Allah adalah ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Dari itu sebagai manusia hendaknya mempergunakan akal kita untuk memikirkan apa yang telah Allah ciptakan, bagaimana terjadinya penciptaan langit dan bumi yang begitu luas dan besar ini, bagaimana sang pencipta bisa merancang sedemikiran rupa apa yang ada didalamnya. Dan bagaimana pula langit yang begitu luas dan panjang yang dibentangkan dari masyrik ila magrib yang tidak ada satupun tiang yang menyanggannya. Inilah kebesara yang Allah perlihatkan kepada kita semua. Inilah kebesaran kekuasaan yang dipertontonkan Allah kepada semua mahluknya, agar supaya mau berfikir bahwa dari yang demikian itu adalah tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
Demikian pula dijelaskan didalam ayat diatas bahwa bagaiman silih bergantinya siang dan malam. Bagaiman pada pagi hari matahari mulai memancarkan sinarnya yang keemasan, dan pasa sore hari matahari itu akan tenggelam dengan sendirinya. Akankah kita memungkiri semua kebenaran yang diperlihatkan oleh Alllah kepada setiap mahluknya? Siapakah yang mampu memutar dunia ini sehingga terjadinya pergantian singa dan malam?
Lagi-lagi kita disuruh mempergunakan akal kita untuk memikirkan semua itu. Hanya Allahlah yang mampu mengatur semua itu, hanya Allahlah yang mempunyai kekuasaan mengatur sulih bergantinya siang dan malam.
Didalam akhir ayat diatas diterangakan yang artinya.....”Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptkan ini dengan sia-sia”. Dari ayat diatas sudah jelas sekali bahwa apapun yang Allah ciptakan tidak ada yang sia-sia. Manusia diperintahkan oleh Allah untuk mempergunakan akal mereka untuk memikirkan setiap apa yang terjadi di alam ini. Jikalau manusia telah menggungakan akal mereka, maka semua yang diciptakan Allah tidak ada yang sia-sia. Karena Allah Maha Tahu atas segala sesuatu.
5.   Fungsi akal sebagai sarana kebebasan berfikir.
Islam sangat mengharagai kebebasan berfikir, karena suatu peradaban tidak akan pernah bangun tanpa kebebasan ini. Pemikiran bebas dapat membuka pintu pengetahuan sehingga karenanya bangsa-bangsa dan peradabannya tumbuh berkembang.
Pemikitan adalah buah akal. Akal salah satu nikmat Tuhan yang dianugrahkan kepada manusia. Islam menganggap akal sebagai salah satu unsur keberadaannya dan suatu energi hidup didalam bangunannya yang tinggi. Karena itu islam selalu mengontrolnya dan memberinya batas-batas tertentu yang harus dilalui gerakannya, dan tidak boleh melangkah lebih jauh melalui batas-batas itu, agar tidak terjadi kerusakan dan kemudaratan di dalam kehidupan ini. Akal harus bergerak di bawah sinar roh islam yang datang untuk menyelamatkan manusia seluruhnya dari mara bahaya dan kerusakan.
Pada dasarnya dan gerak alamiahnya, pemikiran merupakan dialog antara tidak dan yaKarena itu sikap menolak dan menerima secara mutlak dan buta tidak dipandang sebagai pemikiran. Sikap menolak secara mutlak adalah sikap kebandelan anak kecil, dan sikap menerima secara mutlak merupakan sikap budak. Allah-lah yang maha luas ilmu-Nya dan mengetahui kebenaran secara ilmulyakin, yaitu pengetahuan  yang tidak mengenal “kalau....kalau....kalau..”. Sedangkan oengetahuan kita sebagai manusia, paling tingginyapun adalah pengetahuan yang memungkinkan penggantian dan perubahan, kita masih dapat menguatkan suatu pengganti atas pengganti yang lain. Tidaklah suatu pemikiran kecuali memberikan kemungkinan benar bagi pemikiran-pemikiran lain.
Pendapat yang kita kemukakan adalah pendapat yang mungkin diterima dan ditolak melalui dialog-dialog, dan kita sendiri dapat menolak dan menerima pendapat-pendapat lain yang muncul.
Adalah watak pemikiran bebas untuk selalu tanpak sebagai suatu dialog yang seimbang. Seseorang tidak dapat memaksakan pemikirannya kepada orang lain, dan tidak mengikutinya kecuali dengan benar.
Dalam hubungannya dengan manusia, Abu A’la Al-Mawdudi membagi kebebasan berfikir kepada tiga kelompok:
Pertama, kelompok yang semata-mata berdasar kepada kebebasan akal dalam segala urusan kehidupan. Mereka mempercayai sepenuhnya dan merasa cukup dengan apa yang dihasilkan oleh akal manusia.
Kedua, kelompok yang pada lahirnya mengikuti suatu agama, namun mereka lebih suka mengikuti pemikiran dan pendapat sendiri. Dalam masalah kepercayaan dan aturan-aturan kehidupan, mereka tidak lebih suka kembali kepada agamanya.
Ketiga, kelompok yang tidak mempergunakan akal, mengkebirinya, dan dengan serta merta berdiri di belakang orang lain, bertaklid buta.
Kelompok pertama sangat menghargai kebebasan, akan tetapi tidak mengetahui batasan-batasannya yang benar. Kebebasan berfikir jenis ini berbahaya bagi peradaban, karena diantara yang dituntut oleh kebebasan ialah agar seseorang tidak mempercayai sesuati kecuali benar menurut pendapatnya sendiri, dan tidak menempuh suatu jalan kecuali yang dibenarkan oleh akalnya sendiri.
Berbeda dengan kebebasan ini, kebebasan menuntut kesepakatan semua pihak terhadap unsur-unsur dan aturan-aturan peradaban, pemikiran dan sebagian kepercayaan, kemudian mewujudkannya di dalam kehidupan mereka. Kebebasan berfikir yang tidak terbatas bertentangan dengan watak peradaban.
Kelompok kedua lebih jelek !keadaanya dari kelompok pertama. Kelompok pertama sekedar sesat, namunkelompok kedua ini pembohong, munafik, penipu, penyembunyi sesuatu.
Kelompok ketiga, tingakt terendah dipandang dari sudut kemampuan akalnya. Dua kelompok pertama membawa akal keluar kemampuannya, sedangkan kelompok ketiga tidak memfungsikan akal.
Di dalam khazanah fiqh islam, dapat dijumpai rumusan-rumusan hukum yang menggambarkan kebebasan berfikir di dalam islam. Ibn Taymiyah yang kendatipun mengakui kelebihan dan keutamaan imam-imam fiqh yang dihormati oleh kaum muslimin, menyatakan: “Tidaklah benar apabila seseorang berpegang pada suatu mazhab tertentu yang dipilihnya, padahal ia mendapatkan kebenaran pada mazhab lain. Ia harus menjadi pencari kebenaran, tidak boleh panatik kepada seorang imam dan tidak melihat syariat kecuali dengan dan dari pandangannya sendiri. Sebab seseorang dapat diambil dan ditinggalkan pendapatnya kecuali seiring dengan taman muliaMuhammad SAW.
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Konsep Akal Dalam Al-Qur'an

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 2/27/2017

0 komentar Konsep Akal Dalam Al-Qur'an

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak