Perkembangan HAM di Indonesia

A. Pengertian Hak Asasi Manusia

Secara definitif hak merupakan unsur normative yang berfungsi sebagai
pedoman berperilaku, melindungi kebebasan, kekebalan serta menjamin adanya peluang bagi manusia dalam menjaga harkat dan martabatnya.
Hak mempunyai unsur sebagai berikut :
a) pemilik hak;
b) ruang lingkup penerapan hak; dan
c) pihak yang bersedia dalam penerapan hak (James w. Nickel, 1996).
Dengan demikian hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan interaksinya antara individu atau instansi.
             Istilah yang dikenal di barat mengenai hak – hak asai manusia ialah “ right of man” , yang menggantikan istilah “natural right”. Istilah “ right of man” ternyata tidak secara otomatis mengakomodasi pengertian yang mencakup “right of women”. Karena itu istilah “right of man” diganti dengan istilah “human right” oleh Eleanor Roosevelt karena di pandang lebih netral dan universal.
            Sementara itu HAM dalam islam di kenal dengan istilah huquq al – insan ad- dhoruriyyah dan huquq Allah. Dalam islam antara huquq al – insan ad – dhoruriyyah dan huquq Allah tidak dapat di pisahkan dan berjalan sendiri - sendiri tanpa adanya keterkaitan satu dengan lainnya. Inilah yang membedakan konsep barat tentang HAM dengan konsep islam.
     Menurut Jan materson dari komisi HAM PBB, hak asasi manusia adalah hak-hak yang melekat pada setiap manusia, yang tanpa hak – hak tersebut manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia.
Hak asasi manusi adalah hak dasar atau hak pokok manusia yang di bawa sejak lahir sebagai anugerah Tuhan yang Maha Esa, bukan pemberian manusia atau penguasa. Hak ini sifatnya sangat mendasar bagi hidup dan kehidupan manusia yang bersifat kodrati yakni ia tidak bisa terlepas dari dan dalam kehidupan manusia.
     Dalam undang – undang tentang hak asasi manusia pasal 1 dinyatakan : “hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai mahluk Tuhan yang Maha Esa dan merupakan anugerah - Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh Negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindunganharkat dan martabat manusia”

B. Perkermbangan HAM di Indonesia

Wacana HAM di Indonesia telah berlangsung seiring dengan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Secara geris besar perkembangan pemikiran HAM di Indonesia dapat dibagi kedalam dua periode: sebelum kemerdekaan (1908-1945) dan sesudah kemerdekaan.
a.      Periode Sebelum kemerdekaan (1908-1945)
Pemikiran HAM dalam periode sebelum kemerdekaan dapat dijumpai dalam sejarah kemunculan organisasi Pergerakan Nasional, seperti Boedi Oetomo (1908), Serekat Islam (1911), Indisch Partij (1912), Partai Komunis Indonesia (1927), Perhimpunan Indonesia (1925), dan Partai Nasional Indonesia (1927). Lahirnya organisasi pergerakan nasional itu tidak bisa dilepaskan dari sejarah pelanggaran HAM yang dilakukan oleh penguasa kolonial, penjajahan dan pemerasan hak-hak masyarakat terjajah. Puncak perdebatan HAM yang dilontarkan oleh para tokoh pergerakan nasional, seperti Soekarno, Agus salim, Mohammad Natsir, Mohammad Yamin, K.H. Mas Mansur, K.H. Wachid Hasyim, Mr. Maramis, terjadi dalam siding-sidang Badan Persiapan Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dalam siding-sidang BPUPKI tersebut para tokoh nasional berdebat dan berunding merumuskan dasar-dasar ketatanegaraan dan kelengkapan Negara yang menjamin hak dan kewajiban Negara dan warga Negara dalam Negara yang hendak diproklamirkan.
Dalam sejarah pemikiran HAM di Indonesia, Boedi Oetomo mewakili organisasi pergerakan nasional mula-mula yang menyuarakan kesadaran berserikat dan mengeluarkan pendapat melalui petisi-petisi yang ditujukan kepada pemerintah kolonial maupun lewat tulisan di surat kabar. Inti dari perjuangan akan kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat melalui organisasi massa dan konsep perwakilan rakyat. Sejalan dengan wacana HAM yang diperjuangkan Boedi Oetomo, para tokoh Perhimpunan Indonesia, seperti Mohammad Hatta, Nazir Pamontjak, Ahmad Soebardjo, A. Maramis, lebih menekankan perjuangan HAM melalui wacan hak menentukan nasib sendiri (the right of self determination) masyarakat terjajah.
Diskursus HAM terjadi pula pada kalangan tokoh pergerakan Serekat Islam (SI), seperti Cokro Aminoto, H. Samanhudi, Agus Salim. Mereka menyerukan pentingnya usaha-usaha untuk memperoleh penghidupan yang layak dan bebas dari penindasan dan diskriminasi rasial yang dilakukan pemerintah kolonial. Berbeda dengan pemikiran HAM di kalangan tokoh nasionalis sekuler, para tokoh SI mendasari perjuangan pergerakannya pada prinsip-prinsip HAM dalam ajaran Islam.
b.      Periode setelah kemerdekaan
Perdebatan tentang HAM terus berlanjut sampai periode pasca kemerdekaan Indonesia: 1945-1950, 1950-1959, 1959-1966, 1966-1998 dan periode HAM Indonesia kontemporer (pasca orde baru).
1.      Periode 1945-1950
Pemikiran HAM periode awal pasca kemerdekaan masih menekankan pada wacana hak untuk merdeka, hak kebebasan untuk berserikat melalui orgainisasi politik yang didirikan, serta hak kebebasan untuk menyampaikan pendapat terutama di Parlemen.
2.      Periode 1950-1959
Periode 1950-1959 dikenal dengan masa demokrasi parlrmenter. Sejarah pemikiran HAM pada masa itu di catat sebagai masa yang sangat kondusif bagi sejarah perjalanan HAM di Indonesia. Sejalan dengan prinsip demokrasi liberal di masa itu, suasana kebebasan mendapat tempat dalam kehidupan politik nasional. Menurut catatan Bagir Manan, masa gemilang sejarah HAM Indonesia pada masa itu tercermin pada lima indikator HAM:
1.      Muncunya partai-partai politik dengan beragam ideologi.
2.      Adanya kebebasan pers.
3.      Pelaksanaan pemilihan umum secara aman, bebas dan demokratis
4.      Kontrol parlemen atas eksekutif.
5.      Perdebatan HAM secara bebas dan demokratis

3.      Periode 1959-1966
Periode ini merupakan masa berkhirnya Demokrasi Liberal, digantikan oleh sistem demokrasi terpimpin yang terpusat pada kekuasaan Presiden Soekarno. Demokrasi terpimpin (Guided Democrasy) tidak lain sebagai bentuk penolakan Presiden Soekarno terhadap sistem demokrasi Parlementer yang dinilai sebagai produk Barat. Menurut Soekarno, sistem demokrasi Parlementer tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia yang tela memiliki tradisinya sendiri dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
            Melalui sistem demokrasi Terpimpin kekuasaan terpusat di tangan presiden. Presiden tidak dapat dikontrol oleh Parlemen, sebaliknya Parlemen dikendalikan oleh presiden. Kekuasaan Presiden Soekarno bersifat absolute, bahkan dinobatkan sebagai Presiden RI seumur hidup. Akibat langsung dari model pemerintahan yang sangat individual ini adalah pemasungan hak-hak asasi warga Negara. Semua pandangan politik masyarakat diarahkan harus sejalan dengan kebijakan pemerintah yang otoriter. Dalam dunia seni, misalnya atas nama revolusi pemerintahan Presiden Soekarno menjadikan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekral) yang berafiliasi kepada PKI sebagai satu-satunya lembaga seni yang diakui. Sebaliknya, lembaga selain Lekra dianggap anti pemerintah atau kontra-revolusi.
4.      Periode 1966-1998
Pada mulanya, lahirnya orde baru menjanjikan harapan baru bagi penegakan HAM di Indonesia. Berbagai seminar tentang HAM dilakukan orde baru. Namun pada kenyataannya, orde baru telah menorehkan sejarah hitam pelanggaran HAM di Indonesia. Janji-janji Orde Baru tentang pelaksanaan HAM di Indonesia mengalami kemunduran amat pesat sejak awal 1970-an hingga 1980-an. Setelah mendapatkan mandat konstitusional dari MPRS, pemerintah Orde Baru mulai menunjukkan watak aslinya sebagi kekuasaan anti-HAM yang dianggapnya sebagai produk Barat. Sikap anti-HAM Orde Baru sebenarnya tidak berbeda dengan argument yang pernah di kemukakan Presiden Soekarno ketika menolak prinsip dan praktek demokrasi Parlementer, yakni sikap apologis dengan cara mempertentangkan demokrasi dan prinsip HAM yang lahir di Barat dengan budaya lokal Indonesia. Sama halnya dengan orde lama, orde baru memandang HAM dan Demokrasi sebagai produk Barat yang individualistic dan bertentangan dengan prinsip gotong-royong dan kekeluargaan yang dianut oleh bangsa Indonesia
5.      Periode pasca Orde Baru
Tahun 1998 adalah era paling penting dalam sejarah HAM di Indonesia. Lengsernya tampuk kekuasaan Orde Baru sekaligus menandai berakhirnya rezim militer di Indonesia dan datangnya era baru Demokrasi dan HAM, setelah tiga puluh tahun lebih terpasung di bawah rezim otoriter. Pada tahun ini presiden Soeharto digantikan oleh B.J. Habibie yang kala itu menjabat sebagai Wakil presiden RI. Menyusul berakhirnya pemerintahan Orde Baru, pengkajian terhadap kebijakan pemerintah Orde Baru yang bertentangan dengan prinsip-prinsip HAM mulai dilakukan kelompok reformis dengan membuat dengan membuat perundang-undangan baru yang menjunjung prinsip-prinsip HAM dalam kehidupan ketatanegaraan dan kemasyarakatan. Tak kalah penting dari perubahan peundangan, pemerintah era reformasi inin juga melakukan ratifikasi terhadap insrumen HAM International untuk mendukung pelaksanaan HAM di Indonesia.
Pada masa pemerintah Habibie misalnya, perhatian pemerintah terhadap pelaksanaan HAM mengalami perkambangan yang sangat signifikan. Lahirnya tap MPR No. XVII/MPR/1998 tentang HAM merupakan salah satu indikator keseriusan pemerintah era reformasi akan penegakan HAM. Sejumlah konvensi HAM juga diratifikasi diantaranya: konvensi HAM tentang kebebasan berserikat dan perlindungan hak berorganisasi; konvensi menentang penyiksaan dan perlakuan kejam; konvensi penghapusan segala bentuk dikriminasi rasial; konvensi tentang penghapusan kerja paksa; konvensi tentang diskriminasi dalam pekerjaan dan jabatan; serta konvensi tentang usia minimum untuk diperbolehkan bekerja.
Kesungguhan pemerintah B.J. Habibie dalam perbaikan pelaksanaan HAM di tunjukkan dengan pencanangan program HAM yang dikenal dengan istilah Rencana Aksi Nasional HAM, pada agustus 1998. Agenda HAM ini bersandarkan pada empat pilar, yaitu: (1) Persiapan pengesahan perangkat internasional di bidang HAM; (2) Diseminasi informasi dan pendidikan bidang HAM; (3) Penentuan skala prioritas pelaksana HAM; (4) Pelaksanaan isi perangkat Internasinal di bidang HAM telah diratifikasi melalui perundang-undangan nasional.
Komitmen pemerintah terhadap penegakkan HAM juga ditunjukkan denganpengesahan UU tentang HAM, pembentukan Kantor Menteri Negara Urusan HAM yang kemudian digabung dengan Departemen HUUM dan Perundang-undangan menjadi Departemen Kehakiman dan HAM, penambahan pasal-pasal khusus tentang HAM dalam Amandemen UUD 1945, penerbitan inpres tentang pengarusutamaan gender dalam pembangunan nasional, pengesahan UU tentang pengadilan HAM. Pada tahun 2001, Indonesia juga menandatangani du Protokol Hak Anak, yakni protocol yang terkait dengan larangan perdagangan, prostitusi dan pornografi anak, serta protocol yang terkait dengan keterlibatan anak dalam konflik bersenjata. Menyusul kemudian, pada tahun yang sama pemerintah membuat beberapa pengesahan UU diantaranya tentang perlindungan anak, pengesahan tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga dan penerbitan keppres tentang Rencan Aksi Nasional (RAN) HAM Indonesia tahun 2004-2009.



[1]Azyumardi Azra, Pendidikan kewargaan demokrasi,Hak asasi manusia dan masyarakat madani,(Jakarta: ICCE UIN Syarif hidayatullah, 2003), hlm.199.
[2] Tim Penyusun PUSLIT IAIN Syarif Hidayatullah. Pendidikan kewargaan demokrasi, HAM dan masyarakat madani ,(Jakarta: IAIN Jakarta press, 2000), hlm.207.
[3] A. Ubaedillah dan Abdul Rozak, Pendidikan kewargaan Demokrasi Hak Asasi Manusia dan Masyarakat madani, Jakarta: ICCE UIN Syarif Hidayatullah, 2008, hlm.151
[4] Ibid; halaman 152
[5] A. Ubaedillah dan Abdul Rozak, Pendidikan kewargaan Demokrasi Hak Asasi Manusia dan Masyarakat madani, Jakarta: ICCE UIN Syarif Hidayatullah, 2008 hlm.154


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Perkembangan HAM di Indonesia"

Post a Comment