Home » » Konsep Keadilan Tuhan Dalam Pandangan Mutakallimin

Konsep Keadilan Tuhan Dalam Pandangan Mutakallimin

Konsep Keadilan Tuhan Dalam Pandangan Mutakallimin

A. Pengertian Keadilan Tuhan

Al-‘Adl atau keadilan Tuhan merupakan suatu wacana yang tidak asing lagi dalam dunia Islam khususnya dalam bidang Teologi atau ilmu Kalam. Masing-masing firqah dan kelompok punya pendapat dan argumen dalam melihat masalah keadilan dalam berbagai dimensinya sekaligus memaknai hal tersebut berdasarkan sudut pandang yang berbeda-beda. Apakah keadilan Tuhan memiliki kesesuaian berdasarkan pandangan keadilan manusia ataukah sebaliknya, Tuhan menempatkan dirinya sebagai pemilik keadilan mutlak, sehingga bebas berbuat apa saja terhadap makhluk-Nya, menjadi pertanyaan penting dalam konsep ini.
Secara garis besar terdapat dua aliran yang mempunyai pandangan yang berseberangan mengenai ‘keadilan Tuhan.’ Pertama, golongan rasional yang menyatakan bahwa keadilan Tuhan harus dilihat dari sudut pandang kebebasan manusia dalam setiap tindakan dan perbuatannya serta menafikan sifat-sifat yang bertentangan dengan sifat keadilan Tuhan, seperti sifat zalim, lalai, aniaya dan sebagainya. Pembela pandangan ini adalah kaum Mu’tazilah yang terkenal dengan sebutan ahlal-‘adl wa al-tauhid. Kedua, golongan tradisional atau ahli hadis yang menekankan keadilan Tuhan berdasarkan kekuasaan mutlak Tuhan sebagai pemilik alam semesta dan menafikan keadilan Tuhan berdasarkan sudut pandang keadilan manusia.

B.Pandangan Mutakallimin Tentang Keadilan Tuhan

Paham keadilan Tuhan dalam pemikiran kalam banyak tergantung pada pandangan, apakah manusia mempunyai kebebasan dalam berkehendak dan berbuat ataukah manusia itu hanya terpaksa saja. Perbedaan pandangan terhadap

bebas atau tidaknya manusia ini menyebabkan munculnya makna “keadilan,” yang sama-sama disepakati mengandung arti meletakkan sesuatu pada tempatnya, menjadi berbeda.
Aliran kalam rasional yang menekankan kebebasan manusia cenderung memahami keadilan tuhan dari sudut pandang keadilan manusia. Sedangkan aliran kalam tradisional yang memberi tekanan pada ketidak bebasan manusia di tengah kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, cenderung memahami keadilan Tuhan dari sudut Tuhan sebagai pemilik alam semesta, Ini berarti bahwa keadilan Tuhan terkait dengan kebebasan manusia dalam berkehendak dan berbuat, selanjutnya juga terkait dengan kehendak dan kekuasaan mutlak Tuhan. Secara umum, pandangan mengenai konsep keadilan Tuhan dibagi menjadi aliran.

1. Aliran kalam Rasional
Konsep keadilan bagi kalangan rasional banyak didominasi oleh pendapat aliran Mu’tazilah. Bagi Mu’tazilah, Konsep keadilan bagi mereka mempunyai dua sisi pembahasan, pertama; menyangkut hak dan kewajiban; dalam konteks ini keadilan berarti lawan dari kezaliman. Kedua; berkaitan dengan perbuatan Tuhan, dengan pengertian bahwa segala perbuatannya adalah baik dan mustahil ia melakukan perbuatan buruk.
Mewakili aliran mu’tazilah, menurut Abd al-Jabbar bahwa “keadilan Tuhan mengandung arti Tuhan tidak berbuat dan tidak memilih yang buruk, tidak melalaikan segala kewajiban-Nya kepada manusia, dan segala perbuatan-Nya adalah baik”. Tuhan dalam pandangan mu’tazilah, mempunyai kewajiban-kewajiban yang ditentukan-Nya sendiri buat diri-Nya. Ayat al-Qur’an yang menjadi sandaran dalam memperkuat pendapat Mu’tazilah antara lain
“Kami menggunakan neraca yang adil pada hari kiamat maka sesorang tidak akan dirugikan walau sedikitpun. Jika ada masalah yang seberat biji sawi pun pasti akan kami datangkan. Cukuplah kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. al-Anbiya:47)
“Pada hari itu seseorang tidak akan dizalimi sedikit pun dan kamu tidak akan diberi balasan kecuali sesuai dengan apa yang kamu kerjakan.”(QS. Yasin:54)
Sama dengan sikap dasar terhadap kebebasan manusia dalam kehendak dan perbuatan yang dipahami Mu’tazilah, aliran Maturidiah Samarkand menggaris bawahi makna keadilan Tuhan sebagai lawan dari perbuatan zalim Tuhan terhadap manusia. Tuhan tidak akan membalas kejahatan, kecuali dengan balasan yang seimbang dengan kejahatan itu. Tuhan tidak akan menganiaya hamba-hamba-Nya dan tidak akan memungkiri segala janji-Nya yang telah disampaikan kepada manusia. Abu Mansur al-Maturidi memberi dalil pandangan di atas dengan firman ALLAH  surat al-An’am ayat 160 dan surat Ali Imran 9,
“Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya, dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya, mereka sedikitpun yidak dirugikan (dizalimi)”. (QS Al an’am 160).
“ Ya Tuhan kami engkaulah yang mengumpulkan manusia pada hari yag tidak ada keraguan padanya, Sungguh ALLAH tidak menyalahi janji nya”. (QS Al imran 9)

 2. Aliran Kalam Tradisional Atau Ahli Sunnah
Adapun aliran kalam tradisional disebut juga ahli Sunnah atau ahli Hadits, yang menekankan kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, memberi makna keadilan Tuhan dengan pemahaman bahwa Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak terhadap makhluk-Nya dan dapat berbuat sekehendak hati-Nya dalam kerajaan-Nya. Itulah makna adil bila dikaitkan dengan Tuhan dalam pandangan Asy’ariyah.Dengan demikian, ketidak adilan dipahami dalam arti Tuhan tidak bisa berbuat sekehendak-Nya terhadap makhluk-Nya. Atau dengan kata lain, dikatakan tidak adil bila yang terpahami adalah Tuhan tidak lagi berkuasa mutlak terhadap milik-Nya.
Tidak ditemukan secara khusus ayat-ayat yang dijadikan dalil oleh Asy’ari dalam memperkuat pandangan tentang keadilan Tuhan ini. Hal ini disebabkan paham keadilan Tuhan dalam pandangan Asy’ari lebih bertitik berat pada makna kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, sehingga ayat-ayat yang sering dipakai untuk menopang paham keadilan Tuhan ini adalah ayat-ayat yang juga dipergunakan untuk memperkuat pandangan tentang kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan tersebut.
Terkait hubungan antara kekuasaan mutlak Tuhan dengan keadilan Tuhan maka al-Baghdadi mengatakan, “Tuhan bersifat adil dalam segala perbuatan-Nya. Tidak ada suatu larangan pun bagi Tuhan. Ia berbuat apa saja yang dikehendakinya. Seluruh makhluk milik-Nya dan perintah-Nya adalah di atas segala perintah. Ia tidak bertanggung jawab tentang perbuatan-perbuatan-Nya kepada siapa pun.
Dengan demikian jika kaum Mu’tazilah menempatkan keadilan Tuhan sebagai keadilan raja konstitusional yang kekuasaannya dibatasi oleh hukum-hukum, walaupun hukum tersebut adalah buatannya sendiri, maka kaum Asy’ariyah menempatkan keadilan Tuhan sebagai keadilan raja absolut, yang memberikan hukuman menurut kehendak mutlaknya, tidak terikat pada suatu kekuasaan, kecuali
kekuasaannya sendiri.

C. Solusi Persoalan “Keadilan Tuhan”

Perdebatan mengenai “keadlian Tuhan” antara kaum Mu’tazilah dan Asy’ariyah menjadi terbentang antara dua kutub yang berlawanan. Dengan begitu, argumen-argumen yang dikemukakan kaum Mu’tazilah maupun Asy’ariyah dua-duanya memiliki kelebihan, sekaligus kelemahan. kelebihan masing-masing aliran
adalah ketika mengajukan keberatan-keberatan yang diajukan kepada pihak lawan-nya.
Sedangkan kelemahannya tampak sewaktu masing-masing aliran menjadikan mazhabnya sebagai yang paling benar yang kemudian dipertahankannya habis-habisan.
Adanya pertentangan yang terjadi di antara mazhab-mazhab kalam menimbulkan respon atau sikap dari sebagian ulama khususnya ulama mutaakhirin, cenderung menghindari perdebatan berkaitan tentang esensi zat Allah, sifat-sifat dan hal-hal yang membawa perdebatan sengit yang tak kunjung selesai. Sayid Sabiq mengatakan, “perdebatan-perdebatan tentang Tuhan merupakan sesuatu yang bid’ah dan harus dilenyapkan dari lubuk hati kaum muslimin. Sebab tidak lain hanyalah karena zat Allah ta’ala masih jauh lebih luhur dan lebih agung dari yang dipecahkan dengan pemikiran persoalan-persoalan tersebut. Allah tidak memaksa kita untuk mencapainya, sebab persoalan-persoalan seperti di atas sudah keluar dari batas kemampuan akal fikiran manusia sekalipun sepandai-pandainya manusia tersebut. Akal manusia amat terbatas sedangkan zat Allah SWT adalah jauh dari apa yang dicapai manusia.”
Sebagai mencoba menjadi penengah, Seyyed Hossein Nasr menuliskan, “Sebagai suatu ‘kebenaran dan realitas absolut’ dan akhirnya ‘realitas satu-satunya’ tanpa pembagian dan batasan apapun pada esensi-Nya, Tuhan adalah keadilan itu sendiri. Karena dia adalah dirinya sendiri dan tidak ada sesuatupun kecuali dirinya sendiri. Tidak mungkin ada ketidakadilan dan ketidakteraturan dalam diri-Nya, karena memang tidak ada realitas lain baik di dalam atau di luar diri-Nya yang akan memunculkan kondisi-kondisi tersebut. Secara filosofis dan teologis, hanya Tuhan kenyataannya yang merupakan ‘keadilan tak berhingga dan sempurna’ serta ‘Pemberi keadilan sempurna’.

Selama berabad-abad, ahli teologi muslim memperdebatkan apakah segala perbuatan Tuhan dikatakan adil semata-mata karena perbuatan itu adalah perbuatan tuhan, atau karena Tuhan sebagai Tuhan, tidak bisa tidak harus bertindak adil, dan apakah sifat keadilan Tuhan dapat dipahami dan dirasakan oleh kita sesuai dengan kecerdasan pikiran kita yang diberikan oleh Tuhan? Golongan Asy’ari yang mendominasi teologi Sunni, mendukung pendapat pertama. Sedangkan Mu’tazilah dan Syi’ah mendukung pendapat kedua. Namun hasil akhirnya, sejauh pandangan dunia Islam yang umum adalah sama, yaitu bahwa Tuhan adalah benar-benar maha adil dan pengelola keadilan yang sempurna bagi seluruh makhluk-Nya.

D. Benarkah Allah Berbuat Adil Dalam Kehidupan Ini?

Dalam kehidupan ini, kita sering mendengar pertanyaan dari orang-orang yang merasa bahwa dalam hidupnya ia tidak mendapatkan keadilan dari Tuhan. Ini adalah sebuah kesimpulan yang ia ambil setelah merasakan dan melihat dalam kehidupannya sebuah kenyataan hidup yang pahit, baik itu bencana, musibah, dan hal-hal lainnya yang tidak diinginkan, misalnya musibah kematian, kelaparan, sakit yang tak kunjung sembuh walaupun sudah berusaha maksimal dan musibah lainnya.
Secara teologi, hal tersebut perlu dijelaskan dengan sebaik mungkin karena bila pertanyaan tersebut tidak terjawab secara memuaskan, maka hal tersebut dapat membawa kerusakan akidah seorang muslim, karena telah berprasangka buruk terhadap Allah.
Persolan masalah keadilan dalam hal ini terkait dengan setiap usaha manusia dan pandangan manusia terhadap konsep takdir. Takdir sebagaimana yang diketahui di bagi menjadi dua, yaitu taqdir yang tetap (mubram) dan yang dapat diubah dan diusahakan (mu’allaq). Jadi, perlu diketahui oleh setiap muslim bahwa dalam kehidupan ini wilayah yang mu’allaq lebih besar porsinya dari wilayah yang mubram. Taqdir yang dapat diusahakan tersebut berada dalam setiap sisi kehidupan ini dan terkait dengan hukum sebab akibat (kausalitas).

Sebagai contoh, misalnya, jika seseorang ingin menjadi orang pintar maka ia harus belajar dengan rajin dan tekun; jika ingin menjadi pengusaha kaya, maka harus berusaha semaksimal mungkin dan berusaha mencari setiap peluang usaha yang dapat mendatangkan uang; atau, jika tidak ingin mendapat musibah tsunami, maka carilah tempat tinggal yang jauh dari wilayah pantai yang rawan tsunami. Jadi, apa yang terjadi dalam kehidupan kita sekarang, tidak terlepas dari apa yang kita lakukan dan usahakan pada waktu terdahulu. Oleh sebab itu, sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk berprasangka baik terhadap Tuhan (husnun al-zhann) dalam kehidupannya.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Munjid, Dar al-Masyriq, Beirut, 1998
Abdul Karim Utsman, Syarh al-Ushul al-Khamsah, Maktabah Wahbah, Kairo, 1996
Murtadha Muthahhari, Keadilan Ilahi, terjemahan: Agus Effendi, Mizan, Bandung, 1992
Harun Nasution, Islam Rasional, Mizan, cetakan keempat, Bandung, 1996
Seyyed Hossein Nasr, Intelektual Islam, terjemahan: Suharsono & Djamaluddin MZ, Yogyakarta, 1984
 Ali Ya’kub Matondang, Pemikiran Kalam Mu’tazilah, Jabal Rahmat, Medan, 1996
Terimakasih telah membca artikel berjudul Konsep Keadilan Tuhan Dalam Pandangan Mutakallimin

SL Blogger
Kumpulan Makalah Updated at: 1/02/2017

0 komentar Konsep Keadilan Tuhan Dalam Pandangan Mutakallimin

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak