Gerakan Pendidikan Pada Masa Bani Umayyah

Gerakan Pendidikan Pada Masa Bani Umayyah
Gerakan Pendidikan Pada Masa Bani Umayyah
Pada masa Bani Umayyah ada tiga gerakan yang berkembang, yaitu : Gerakan Ilmu Agama, karena didorong semangat agama sendiri yang sangat kuat pada waktu ituGerakan Filsafat, karena ahli agama di akhir Bani Umayyah mempergunakan filsafat untuk melawan Yahudi dan Naṣrani;Gerakan Sejarah, karena ilmui-ilmu agama memerlukan riwayat.

A. Gerakan Ilmu Agama

Gerakan di dalam bidang ini dapat dipisahkan menjadi beberapa bagian, yaitu :
1. Pusat pendidikan Islam
Perluasan negara Islam bukanlah perluasan dengan merobohkan dan menghancurkan, bahkan perluasan dengan teratur diikuti oleh ulama-ulama dan guru-guru agama yang turut bersama-sama tentara Islam. Pusat pendidikan telah tersebar di kota-kota besar sebagai berikut: di kota Makkah dan Madinah (Hijaz), di kota Baṣrah dan Kufah (Irak), di kota Damsyik dan Palestina (Syam), di kota Fistat (Mesir).
Madrasah-madrasah yang ada pada masa Bani Umayyah adalah sebagai berikut:
a. Madrasah Makkah: Guru pertama yang mengajar di Makkah sesudah penduduk Makkah takluk ialah Mu’ādh bin Jabal. Ialah yang mengajarkan Al-Quran dan mana yang halal dan haram dalam Islam. Pada masa khalifah ‘Abd al-Mālik bin Marwān ‘Abdullah  bin Abbās pergi ke Makkah, lalu mengajar disana di Masjidil Harām. Ia mengajarkan tafsir, fiqh dan sastra. ‘Abdullah  bin Abbāslah pembangun madrasah Makkah yang termasyhur di seluruh negeri Islam.
b. Madrasah Madinah: Madrasah Madinah lebih termasyhur dan lebih dalam ilmunya, karena di sanalah tempat tinggal Ṣahabat-Ṣahabat Nabi Ṣalāllahu ‘alaihi wa sallam. Berarti disana banyak terdapat ulama-ulama terkemuka.
c. Madrasah Baṣrah: Ulama sahabat yang termasyur di Baṣrah ialah Abu Musā al-Ash’ari dan Anas bin Mālik. Abu Musā al-Ash’ari adalah ahli fiqih dan ahli hadīth, serta ahli Al-Quran. Sedangkan Abbās bin Mālik termasyhur dalam ilmu hadīth. Al-Hasan Baṣry sebagai ahli fiqih, juga ahli pidato dan kisah, ahli fikir dan ahli tasawuf. Ia bukan saja mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada pelajar-pelajar, bahkan juga mengajar orang banyak dengan mengadakan kisah-kisah di masjid Baṣrah.
d. Madrasah Kufah: Madrasah Ibnu Mas’ud di Kufah melahirkan enam orang ulama besar, yaitu: ‘Alqamah, Al-Aswād, Masroq, ‘Ubaidah, Al-Hāris bin Qais dan ‘Amr bin Syurahbil. Mereka itulah yang menggantikan ‘Abdullah  bin Mas’ud menjadi guru di Kufah. Ulama Kufah, bukan saja belajar kepada ‘Abdullah  bin Mas’ud menjadi guru di Kufah. Ulama Kufah, bukan saja belajar kepada ‘Abdullah  bin Mas’ud, bahkan mereka pergi ke Madinah.
e. Madrasah Damsyik (Syam): Setelah negeri Syam (Syria) menjadi sebagian negara Islam dan penduduknya banyak memeluk agama Islam. Maka negeri Syam menjadi perhatian para Khilafah. Madrasah itu melahirkan imam penduduk Syam, yaitu ‘Abdurrahman al-Auza’iy yang sederajat ilmunya dengan Imam Mālik dan Abu Hanīfah. Madhabnya tersebar di Syam sampai ke Magrib dan Andalusia. Tetapi kemudian madhabnya itu lenyap, karena besar pengaruh madhab Syāfi’i dan Māliki.
f. Madrasah Fistat (Mesir): Setelah Mesir menjadi negara Islam ia menjadi pusat ilmu-ilmu agama. Ulama yang mula-mula madrasah di Mesir ialah ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘As, yaitu di Fisfat (Mesir lama). Ia ahli hadith dengan arti kata yang sebenarnya. Karena ia bukan saja menghafal hadith-hadith yang didengarnya dari Nabi Ṣalāllahu ‘alaihi wa sallam, melainkan juga dituliskannya dalam buku catatan, sehingga ia tidak lupa atau khilaf meriwayatkan hadith-hadith itu kepada murid-muridnya. Oleh karena itu banyak sahabat dan tabi’in meriwayatkan hadith-hadith dari padanya.
Karena pelajar-pelajar tidak mencukupkan belajar pada seorang ulama di negeri tempat tinggalnya, melainkan mereka melawat ke kota yang lain untuk melanjutkan ilmunya. Pelajar Mesir melawat ke Madinah, pelajar Madinah melawat ke Kufah, pelajar Kufah melawat Syam, pelajar Syam melawat kian kemari dan begitulah seterusnya. Dengan demikian dunia ilmu pengetahuan tersebar seluruh kota-kota di Negara Islam.
2. Materi bidang ilmu pengetahuan.
Materi atau ilmu-ilmu agama yang berkembang pada zaman ini dapat dimasukan dalam kelompok Al-Ulumul Islāmiyyah yaitu ilmu-ilmu Al-Quran, Al-Hadith, Al-Fiqih, At-Tarīkh, Al-Ulumul Lisaniyyah dan Al-Jughrofi. Sedangkan Al-Ulumul Islamiyah dapat dibagi menjadi tiga bagian : Al-Ulumul Syar'iyah, yaitu ilmu-ilmu agama Islam; Al-Ulumul Lisaniyyah, yaitu ilmu-ilmu untuk memastikan bacaan Al-Quran, menafsirkan dan memahami Hadith; At-Tarīkh wal Jughrofi.
a. Ilmu Qiraāt, yaitu ilmu cara membaca Al-Quran. Orang yang pandai membaca Al-Quran disebut Qurrā. Pada zaman ini pula yang memunculkan tujuh macam bacaan Al-Quran yang terkenal dengan " Qiraat Tujuh " yang kemudian ditetapkan menjadi dasar bacaan (Ushulul Lil Qira'ah). Pelopor bacaan ini terdiri dari kaum Malawy yaitu antara lain : ‘Abdullah bin Kathir, Ashim bin Abu Nujud, ‘Abdullah bin Amir, Ali bin Hamzah dan lain-lain.
b. Ilmu Tafsir, ilmu yang berusaha untuk memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Quran dengan tujuan untuk menghasilkan hukum dan undang-undang. Ahli tafsir yang pertama yaitu Ibnu Abbās, seorang Ṣahabat terkenal yang wafat pada tahun 68 H. Menurut riwayat yang mutawatir beliau adalah orang yang pertama menafsirkan Al-Quran dengan cara riwayat dan isnad. Ahli tafsir lainnya adalah Mujāhid yang wafat pada tahun 109 H dan ulama Syi'ah yaitu Muḥammad al-Baqir bin Ali bin Husain.
c. Ilmu Hadith, Untuk membantu di dalam memahami ayat-ayat Al-Quran. Karena terdapat banyak hadith maka timbullah usaha untuk mencari riwayat dan sanad yang hadith yang akhirnya menjadi Ilmu Hadith dengan segala cabang-cabangnya. Para ahli hadith yang terkenal pada zaman ini adalah: Abu Bakar bin Muḥammad bin ‘Ubaidillah bin Zihab az-Zuhri (123 H). Ibnu Abi Malikiyyah, yaitu ‘Abdullah bin Abi Malikiyyah (119 H). Pada masa khalifah ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz barulah hadith dibukukan yang dirintis oleh Ibnu Zihab az-Zuhri yang kemudian disusul oleh ulama lain.
d. Ilmu Nahwu, yaitu ilmu tentang perubahan bunyi pada kata-kata yang terdapat di dalam Al-Quran. Pengarang ilmu nahwu yang pertama dan membukukannya seperti halnya sekarang, yaitu Abu Aswad ad-Dualy (W. 69 H). Beliau belajar dari ‘Ali bin Abi Ṭālib sehingga ada ahli sejarah yang mengatakan bahwa ‘Ali bin Abi Ṭālib adalah Bapak Ilmu Nahwu.
e. Ilmu Jughrofi. Tentang ilmu jughrofi sekalipun bukan berasal dari bangsa arab, namun bangsa Arab muslim telah membuat ilmu ini menjadi satu ilmu yang tersendiri oleh karena tiga sebab: Al-Haj yang menjadi salah satu rukun Islam. Untuk menunaikan rukun haji kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia harus mengetahui ilmu bumi; Al-Ilmu, kewajiban menuntut ilmu bagi kaum muslimin, mengharuskan mereka melakukan Rihlah Ilmiyah untuk menuntut ilmu, hal mana mengharuskan kaum muslimin mengetahui ilmu bumi; Dakwah, keharusan berdakwah dan berjihad untuk mengembangkan Islam, juga mengharuskan kaum muslimin mengetahui ilmu bumi. Tiga sebab ini disamping sebab-sebab lain yang mendorong orang Yunani lama untuk membuat ilmu bumi yaitu kepentingan dagang dan perang. Ilmu Jughrofi dalam masa Bani Umayyah baru dalam taraf merintis jalan.
Sedangkan ilmu-ilmu yang di salin dari bahasa Asing ke dalam bahasa Arab dan di sempurnakan untuk kepentingan keilmuan umat Islam dikelompokan dalam Al-Ulumud Dākhilah yang terdiri dari :
a.    Ilmu Kima. Khalifah Yazīdh bin Yazīdh bin Mu’āwiyyah adalah yang menyuruh penerjemahannya ke dalam bahsa Arab. Beliau mendatangkan beberapa orang Romawi yang bermukim di Mesir, di antaranya Maryanis seorang pendeta yang mengajarkan ilmu kimia. Penerjemahan ke dalam bahasa Arab dilakukan oleh Isthafun.
b.    Ilmu Bintang. Masih dalam masa Khālid bin Walīd, beliau sangat menggemari ilmu ini sehingga dikeluarkan sejumlah uang untuk mempelajari dan membeli alat-alatnya. Karena gemarnya setiap akan pergi ke medan perang selalu dibawanya ahli ilmu bintang.
c.    Ilmu Kedokteran. Penduduk Syam di jaman ini telah banyak menyalin bermacam ilmu ke dalam bahasa Arab seperti ilmu-ilmu kedokteran, mislanya karanganm Qis Ahrun dalam bahasa Suryani yang disalin ke dalam bahasa Arab oleh Masajuwaihi.

B. Gerakan Filsafat

Gerakan filsafat muncul di akhir zaman Bani Umayyah untuk melawan pemikiran Yahudi dan Nasrani. Pemikiran teologis dari agama Kristen sudah berkembang lebih dulu sebelum datangnya Islam dan masuk ke lingkungan Islam secara sengaja untuk merusak akidah Islam. Karena itu timbul dalam Islam pemikiran yang bersifat teologis untuk menolak ajaran-ajaran teologis dari agama Kristen yang kemudian disebut Ilmu Kalam.
Ilmu kalam dalam perkembangannya menjadi ilmu khusus yang membahas tentang berbagai macam pola pemikiran yang berbeda dari ajaran Islam sendiri, karena dalam Al-Quran terdapat banyak ayat yang memerintahkan untuk membaca, berfikir, menggunakan akal dan sebagainya yang kesemuanya mendorong umat Islam, terutama para ahlinya untuk berfikir mengenai segala sesuatu guna mendapatkan kebenaran dan kebijaksnaan.

C. Gerakan Sejarah

Pada zaman Bani Umayyah gerakan sejarah menghasilkan tarīkh yang terbagi dalam dua bidang besar :
a.    Tarīkh Islam, yaitu tarīkh kaum muslimin dengan segala perjuangannya, riwayat hidup pemimpin-pemimpin mereka. Sumber tarīkh dalam bidang ini adalah dari amal perbuatan mereka sendiri.
b.    Tarīkh umum, yaitu tarikh bangsa-bangsa lain yang dipelajari dan disalin dengan sungguh-sungguh sejak zaman Bani Umayyah. Hal ini karena khalifah mereka termasuk orang-orang yang paling gemar untuk mengetahui orang-orang ternama dari tarīkh bangsa lain.

DAFTAR PUSTAKA
Badri, Yatim, Sejarah Peradaban Islam, cet. 22, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010).
Langgulung, Hasan, Pendidikan Islam Menghadapi Abad-21(Jakarta: Pustaka Al Husna, 1980).
Lukman hakim, “Pertumbuhan dan Perkembangan Pendidikan Islam Masa Bani Umayyah” dalam http//pai_bani_umayyah.html., (diakses 09-11-11).
Ran in World, “Pendidikan Islam Masa Bani Umayyah (Filsafat Pend. Islam)” dalam http//pendidikan-islam-masa-bani-umayyah.htlm., (diakses 23-09-11).
Silsīlah Ta’mi al-Lughoh al -‘Arobiyyah al-Mustawa ar-Rōbi’ ṣṵroh min at-Tarīkh al-Islamī,(Riyad: 1994).
Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, cet.9, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008).

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Gerakan Pendidikan Pada Masa Bani Umayyah"

Post a Comment

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak