thumbnail

Konsep Pemikiran Jamaluddin Al-Afghani

KONSEP PEMIKIRAN JAMALUDDIN AL-AFGHANI

A, Biografi Jamaluddin al-Afghani

Jamaluddin al-Afghani lahir di Afghanistan pada tahun 1839 M dan meninggal dunia pada tahun 1897 M. dalam sislsilah keturunannya, al-Afghani adalah keturunan Nabi melalui saidina Ali ra.[4] Pendidikannya sejak kecil sudah diajarkan mengkaji al-qur’an dari ayahnya  sendiri, kemudian dilanjutkan dengan bahasa Arab dan sejarah. Ayahnya mendatangkan seorang guru ilmu tafsir, ilmu hadis dan ilmu fiqhi yang dilengkapi pula dengan ilmu taswuf dan ilmu ketuhanan, kemudian dikirim ke India untuk mempelajari ilmu pengetahuan modern (Eropa).[5]
Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 12/04/2016
thumbnail

Tafsir Al-Qur'an Birra'yi

Tafsir Al-Qur'an Birra'yi

A.  Pengertian Tafsir Brra'yi

Berdasarkan pengertian etimologi, Ra’yi berarti keyakinan (I'tiqad), dan Ijtihad. Dan ra’yi dalam terminologi tafsir adalah Ijtihad.[1] Sedangkan menurut terminologi sebagaimana didefinisikan oleh Manna Qathan,[2] ialah :
التفسير بالرأى هو ما يعتمد فيه المفسر فى بيان المعنى على فهمه الخاص واستنباطه بالرأي المجرد-وليس منه الفهم الذى يتفق مع روح الشريعة

“ Tafsir Birra’yi ialah tafsir yang didalam menjelaskan maknanya mufassir hanya berpegang pada pemahaman sendiri dan penyimpulan (istinbath) yang didasarkan pada ra’yu semata yakni bukan pemahaman yang sesuai dengan ruh syari’ah. ” Dengan demikian, tafsir birra’yi sebagaimana didefinisikan Husen Adz-dzahabi adalah tafsir yang penjelasannya diambil berdasarkan ijtihad dan pemikiran mufassir yang telah mengetahui bahasa arab dan metodenya, dalil hukum yang ditunjukkan, serta problema penafsiran seperti asbab an-nuzul, nasakh-mansukh, dan sebagainya.[3] Al-farmawi mendefinisikan tafsir birra’yi sebagai penafsiran al-Qur’an dengan ijtihad setelah mufassir yang bersangkutan mengetahui metode yang digunakan orang-orang arab ketika berbicara dan ia pun mengetahui kosakata Arab beserta muatan artinya.[4]
Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 12/03/2016
thumbnail

Paham Murji'ah


Paham Murji'ahA. Pengantar Paham Murji'ah 


Ketika peperangan Shiffin antara  Ali Bin Abi Thalib dengan Muawiyah ra. Pihak Muawiyah hampir kalah lalu mereka mengangkat Mushaf pada ujung tombak dan menyerukan perhentian peperangan dengan bertahkim.Akibat itu golongan Ali terbagi menjadi dua golongan yaitu golongan yang setuju dengan tahkim dan golongan yang tidak setuju dengan tahkim. Mereka yang tidak setuju dengan tahkim beralasan bahwa orang yang mau berdamai pada ketika pertempuran adalah orang yang ragu akan pendiriannya, dalam kebenaran peperangan yang ditegakkannya. Hukum Allah sudah nyata kata mereka, siapa yang melawan khalifah yang sah harus diperangi. Kaum inilah yang dinamakan kaum Khawarij yaitu kaum yang  memisahkan diri dari barisan Ali.Kemudian selain Khawarij, umat islam juga mengenal aliran Murji’ah. Aliran Murji’ah ini merupakan golongan yang tak sepaham dengan kelompok Khawarij dan Syi’ah. Pengertian Murji’ah sendiri adalah penangguhan vonis hukuman atas perbuatan seseorang sampai di pengadilan Allah SWT, sehingga seorang muslim sekalipun berdosa besar dalam kelompok ini tetap diakui sebagai muslim dan mempunyai harapan untuk bertobat.
Baca juga paham aliran kalam yang lain diantaranya:

             B. Sejarah dan Latar Belakang Munculnya Murji’ah

Murjiah merupakan aliran yang muncul di Damasyik, Ibu kota Kerajaan Umayyad , di sebabkan beberapa pengaruh Masehi pada masa pertengahan  kedua abad pertama Hijriah. Nama Murji’ah diambil dari kata irja atau arja’a yang bermakna penundaan, penangguhan, dan pengharapan.Kata arja’a mengandung pula arti memberi harapan, yakni memberi harapan kepada pelaku dosa besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah. Selain itu, arja’a berarti pula meletakan di belakang atau mengemudikan, yaitu orang yang mengemudikan amal dari iman. Oleh karena itu, Murji’ah artinya orang yang menunda penjelasan kedudukan seseorang yang bersengketa yakni Ali dan Muawiyah serta pasukannya masing-masing ke hari kiamat kelak.
Aliran Murji’ah ini muncul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak mau terlibat dalam upaya kafir mengkafirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar, sebagaimana hal itu dilakukan oleh aliran khawarij. Mereka menangguhkan penilaian terhadap orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim itu dihadapan Allah, karena hanya Allah-lah yang mengetahui keadaan iman seseorang. Demikian pula orang mukmin yang melakukan dosa besar masih dianggap mukmin dihadapan mereka.
Awal mula timbulnya Murji’ah adalah sebagai akibat dari gejolak dan ketegangan pertentangan politik yaitu soal khilafah (kekhalifahan) yang kemudian mengarah ke bidang teologi. Pertentangan politik ini terjadi sejak meninggalnya Khalifah Usman yang berlanjut sepanjang masa Khalifah Ali dengan puncak ketegangannya terjadi pada waktu perang Jamal dan perang Shiffin. Setelah terbunuhnya Khalifah Utsman Ibn Affan, umat islam terbagi menjadi dua golongan yaitu kelompok Ali dan Muawiyyah. Kelompok Ali lalu terpecah menjadi dua yaitu Syi’ah dan Khawarij.
Setelah wafatnya Ali, Muawiyyah mendirikan Dinasti Bani Umayyah (661M). Kaum Khawarij dan Syi’ah yang saling bermusuhan, mereka sama-sama menentang kekuasaan Bani Umayyah itu. Syi’ah menganggap bahwa Muawiyyah telah merampas kekuasaan dari tangan Ali dan keturunannya. Sementara itu, Khawarij tidak mendukung Muawiyyah karena ia dinilai telah menyimpang dari ajaran islam. Di antara ke tiga golongan itu terjadi saling mengkafirkan. Dalam suasana pertentangan ini, timbul satu golongan baru yaitu Murji’ah yang ingin bersikap netral, tidak mau turut dalam praktek kafir mengkafirkan yang terjadi antara golongan yang bertentangan itu. Bagi mereka, sahabat-sahabat yang bertentangan itu merupakan orang-orang yang dapat dipercayai dan tidak keluar dari jalan yang benar. Oleh karena itu, mereka tidak mengeluarkan pendapat tentang siapa yang sebenarnya salah dan memandang lebih baik menunda penyelesaian persoalan ini ke hari perhitungan di hadapan Tuhan.
Dari persoalan politik mereka tidak dapat melepaskan diri dari persoalan teologis yang muncul di zamannya. Waktu itu terjadi perdebatan mengenai hukum orang yang berdosa besar. Persoalan dosa besar yang ditimbulkan kaum Khawarij mau tidak mau menjadi bahan perhatian dan pembahasan bagi mereka. Terhadap orang yang berbuat dosa besar, kaum Khawarij menjatuhkan hukum kafir sedangkan kaum Murji’ah menjatuhkan hukum mukmin. Karena, yang dipentingkan oleh Murji’ah bukan perbuatan tetapi keimanan. Penghukuman atas suatu perbuatan, ditangguhkan pada hari kebangkitan nanti. Pandangan yang dikemukakan oleh Murji’ah itu berangkat dari latar belakang kemunculan yang ingin bersikap netral. Mereka tidak ingin melibatkan diri secara praktis dalam pertentangan antara khawarij dan syiah. Aliran Murji’ah ini berkembang sangat subur pada masa pemerintahan Dinasti bani Umayyah, karena bersifat netral dan tidak memusuhi pemerintahan yang sah. Dalam perkembangan berikutnya, lambat laun aliran ini tak mempunyai bentuk lagi, bahkan beberapa ajarannya diakui oleh aliran kalam berikutnya.

C. Doktrin dan ajaran Murji’ah

Ajaran  pokok Murji’ah pada dasarnya bersumber dari gagasan  irja atau arja’a yang diaplikasikan dalam banyak persoalan, baik persoalan politik maupun persoalan teologis. Ajaran dan pemikiran Murji’ah yang dikembangkan antara lain:
1. Bidang  i’tiqodiyah bahwa tidak akan memberi  dasar dan memudaratkan perbuatan maksiat itu terhadap keimanan. Demikian juga kebalikannya.
2. Di bidang politik Prinsip-prinsip politik dari kaum Murji’ah dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Dilarang menentang khalifah yang zhalim sebab masalah khalifah bukanlah urusan manusia tetapi urusan Allah semata-mata.
b. Baik buruknya sesuatu pemerintahan atau khalifah bukanlah urusan manusia, tetapi terserah kepada Tuhan karena masalah itu adalah urusan Tuhan.
c.  Tidak mau menjatuhkan Nabi.
d.  Jadi dipandang dari segi politik kaum Murji’ah ini lebih menguntungkan pemerintah waktu itu, yakni Bani Umayah, karena dengan dogmatika ini dapat mencegah umat Islam berontak terhadap pemerintah.
      3. Di bidang Teologi
Dalam bidang Teologi, Murji’ah mempunyai faham tersendiri berbeda dengan kaum Khawarij, Syi’ah, dan Ahlussunnah wal Jsama’ah. Adapun pokok-pokok pikiran kaum Murji’ah di bidang teologi antara lain:
      a.       Imam itu ialah mengenal Tuhan dan rasul-rasulny-Nya.
Orang beriman dalam hatinya bila berbuat dosa besar orang tersebut masih tetap mukmin. Orang beriman bila ia berbuat dosa besar, maka hukum baginya ditangguhkan atau menunggu sampai kemuka Allah pada hari kiamat. Sebagian kaum Murji’ah yang ekstrim beri’tikad, bahwa asal seorang mengakui dalam hati atas wujudnya Tuhan dan kepada rasul-rasulnya maka orang itu telah disebut mukmin meskipun ia berbicara hal-hal yang menjadikan seorang kafir, seperti menghina nabi, al-Qur’an dan sebagainya.

3.  Sekte-Sekte dalam murji’ah.

Secara garis besar, kelompok Murji’ah terbagi kepada dua golongan yakni golongan moderat dan golongan ekstrim. Golongan Murji’ah moderat berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka,tetapi akan dihukum sesuai dengan besar kecilnya dosa yang dilakukan. Sementara golongan Murji’ah ekstrim,yaitu pengikut Jaham Ibn Sofwan, berpendapat bahwa orang islam yang percaya kepada Tuhan kemudian menyatakan kekufuran secara lisan, tidaklah menjadi kafir, karena iman dan kufur tempatnya didalam hati. Bahkan orang yang menyembah berhala,menjalankan agama Yahudi dan demikian, menurut pandangan Allah,tetap merupakan seorang mukmin yang sempurna imannya.
  
DAFTAR PUSTAKA

Muchtar Adeng,Perkembangan ilmu kalam dari klasik hingga modern,Bandung:Pustaka Setia,20003
Rozak Abdul,Master Agama Ilmu Kalam,Bandung :CV.Pustaka Setia,2010
http://kurnia-yalid.blogspot.co.id/p/bab-i-pendahuluan-a_13.html



Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 12/03/2016
thumbnail

Paham Khawarij

Paham Khawarij

A. Sejarah Munculnya Khawarij

Nama Khawarij berasal dari kata kharaja yang berarti keluar. Nama itu diberikan kepada mereka karena mereka keluar dari barisan ‘Ali. Tetapi ada pula pendapat yang menyatakan bahwa pemberian nama itu didasarkan pada surah an-Nisa’ ayat 100, yang didalamnya disebutkan “keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya”. Dengan demikian kaum Khawarij memandang diri mereka sebagai orang yang meninggalkan rumah dari kampung halamannya untuk mengabdikan diri kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dalam Ensiklopedi Islam, terungkap bahwa kharijiyyah jamak Khawarij, berarti “orang-orang yang melepaskan diri”. Sebuah sekte yang muncul sebagai penentang kelompok ‘Ali dan Mu’awiyah sebagai akibat kebijakan perundingan damai yang berlangsung menjelang berakhirnya perang Shiffin (37/657). Semula Kharijiyyah berpihak kepada ‘Ali, tetapi ketika terjadi kesepakatan bahwasannya masalah suksesi khalifah hendaknya diselesaikan melalui meja perundingan, mereka melepaskan diri dari pihak ‘Ali, karena itulah mereka dikenal sebagai Khawarij (Orang-orang yang melepaskan diri). Kharijiyyah berpendapat bahwa permasalahan yang sedang diperselisihkan tidak dapat diselesaikan melalui perundingan, mereka meneriakkan prinsipnya La hukma illa Allah (Tiada keputusan melainkan hukum Allah, yakni perang).
Kaum Khawarij juga dinamakan Haruriyah, karena mereka pergi berlindung ke suatu kota kecil dekat Kufah yang bernama Harura. Sebagaimana mereka dinamakan Muhakkimah, karena mereka selalu menggunakan semboyan La hukma illa Allah.

B. Konsep Ajaran Khawarij

Kaum Khawarij yang sebelumnya mengkafirkan Mu’awiyah karena melawan ‘Ali sebagai khalifah yang sah, juga mengkafirkan ‘Ali. Kedua tokoh itu dianggap oleh golongan Khawarij telah melakukan dosa besar. Pelaku dosa besar menurut golongan Khawarij adalah kafir.
Kaum Khawarij adalah kelompok masyarakat Badui yang tekenal dengan kegersangan jiwa dan berhati batu serta berpikiran kaku, sulit dilunakkan dan dijinakkan, tetapi mereka sangat konsekuen dengan penghayatan dan pengamalan agama. Semboyan mereka adalah La hukma illa Allah (tidak ada hukum selain hukum Allah).
Menurut kalangan Kharijiyyah, setiap orang dapat tampil sebagai pimpinan umat jika memenuhi persyaratan moral. Pimpinan Kharijiyyah juga bergelar imam yang ditetapkan berdasarkan pemilihan. Kharijiyyah berpegang teguh pada pandangan bahwa terdapat kewajiban untuk melawan dan memberontak terhadap imam yang berbuat dosa. Bahkan menurut doktrin mereka, perbuatan sejumlah dosa besar melepaskan seseorang dari status mukmin. Dengan berbuat dosa besar secara otomatis menjadi kafir. Tanpa adanya jalan penyelesaian melalui tobat. Menurut mereka, iman yang tidak disertai perbuatan adalah tidak ada gunanya (sia-sia).
Dalam buku Teologi Pembangunan Paradigma Baru Pemikiran Islam, juga dipaparkan bahwa, kelompok Khawarij itu kemudian berkembang menjadi golongan ekstrim dan eksklusif. Sebagai dasar legitimasinya, kaum Khawarij menciptakan doktrin teologisnya berdasarkan ayat-ayat Alquran sebagai pegangan formal yang sesungguhnya merupakan manifestasi dari nilai-nilai budaya kaum Baduwi. Kaum Khawarij berpendapat bahwa orang-orang yang berbuat dosa itu adalah kafir, dan karena itu tidak bisa disebut kaum mukmin dan harus dikeluarkan dari lingkungan umat.
Aqidah yang dianut oleh golongan Khawarij atau oleh kebanyakan mereka adalah :
1. Khilafah atau kepemimpinan negara tertinggi bukanlah hak-hak orang tertentu, tetapi harus diadakan pemilihan umum oleh umat Islam. Apabilah khalifah menyimpang dari kebenaran, wajiblah dipecat atau dibunuh. Khalifah boleh dari gologan Quraisy, boleh dari golongan lain, bahkan lebih baik dari golongan yang lain supaya mudah dipecat. Yang mula-mula diangkat menjadi Amir adalah Abdullah Ibn Wahab ar-Rasibi, sedangkan ia bukan orang Quraisy.
2. Mereka berpendapat bahwa mengerjakan shalat, berpuasa, berhaji dan ibadah-ibadah yang lain, serta menjauhi segala yang dilarang adalah suatu suku dari iman. Orang yang tidak melaksanakan yang demikian itu dan tidak menjauhi larangan tidak disebut mukmin, hanya dinamakan fasiq.
Harun Nasution dalam Teologi Islam membagi sekte Khawarij ke dalam enam golongan, yaitu : golongan al-Muhakkimah, al-Azariqah, al-Najdat, al-‘Ajaridah, al-Sufriah, dan al-Ibadah. Sementara dalam Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid/ Kalam yang disusun oleh T.M. Hasbi ash-Shiddieqy membagi partai Khawarij menjadi empat kelompok yang terkenal di antara lebih dari 20 mazhab Khawarij, yakni golongan Azariqah, Najdah, Ibadliyah dan Shaffariyah.
Dalam lapangan ketatanegaraan, mereka mempunyai paham yang berlawanan dengan paham yang ada pada waktu itu. Mereka lebih bersifat demokratis, karena menurut mereka khalifah atau imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat Islam. Yang berhak menjadi khalifah bukanlah anggota suku bangsa Quraisy saja, bahkan bukan hanya orang Arab, tetapi siapa saja yang sanggup asal orang Islam, sekalipun ia hamba sahaya yang berasal dari Afrika. Khalifah yang terpilih harus terus memegang jabatannya selama ia bersikap adil dan menjalankan syariat Islam. Tetapi kalau ia menyeleweng dari ajaran-ajaran Islam, ia wajib dijatuhkan atau dibunuh.
Ajaran-ajaran Islam sebagaimana yang terdapat dalam Alquran dan hadis, mereka artikan menurut lafaznya dan harus dilaksanakan sepenuhnya. Oleh karena itu, iman dan paham mereka merupakan iman dan paham orang yang sederhana dalam pemikiran lagi sempit akal serta fanatik.
Dalam perkembangan selanjutnya, karena aliran ini terlalu ekstrim, maka dengan cepat terpecah ke dalam beberapa sekte-sekte dengan corak yang ekstrim pula.

C. Tokoh-tokoh Khawarij

Di antara tokoh-tokoh golongan khawarij yang terkenal adalah ‘Abdullah bin Wahhab ar-Rasyidi, Urwah bin Hudair, Mustarid bin Sa’ad, Hausarah al-Asadi, Quraib bin Maruah, Nafi’ bin al-Azraq, ‘Abdullah bin Basyir.
Adapun pentolan kaum khawarij kelompok muta’akhhirin di antaranya adalah Al Yaman bin Rabab, Tsa’by, Baihaqi, Abdullah bin Yazid, Muhammad bin Harb, Yahya bin Kamil, Ibadliyah, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA
Amin, Ahmad. Duha al-Islam Juz III. Cet. VIII, t.d.
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. Ensiklopedi Islam. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994.
Glasse, Cyril. Ensiklopedi Islam. Jakarta : P.T. Raja Grafindo Persada, 1999.
Hasymy, A. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta : Bulan Bintang, 1979.
Nasution, Harun. Teologi Islam : Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1986.
Ash-Shiddieqy, T. M. Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid / Kalam. Jakarta: Bulan Bintang, 1992.
Soetrisno, Loekman et.al. Teologi Pembangunan Paradigma Baru Pemikiran Islam. Jakarta : Menara Mas Offset, 1989.
Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, Jilid I. Kairo : Mustafa al-Baby al-Halabiy, 1967.
Syihab, Tgk. H.Z.A. Aqidah Ahlus Sunnah. Cet. I; Jakarta ; Bumi Aksara, 1998.
Watt, W. Montgomery. Theology and Philosophy, diterjemahkan oleh Umar Basalim dengan judul Pemikiran Teologi dan Filsafat Islam. Cet. I; Jakarta: P3M, 1987.
Abu Zahrah, Muhammad. Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam, Cet. I; Jakarta: Logos, 19
Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 12/02/2016