Home » » PENTINGNYA KECERADASAN EMOSIONAL

PENTINGNYA KECERADASAN EMOSIONAL

A. Pengantar Kecerdasan Emosional 


Sebuah kecenderungan klasik, sepanjang sejarah manusia, bahwa konflik-konflik intelektual yang besar, berlangsung menurut oposisi biner (dua posisi yang bersebrangan). Sebutlah misalnya, iman yang berhadapan dengan rasio, liberalisme dengan sosialisme, EQ versus SQ atau IQ yang berkompetensi dengan EQ. kemutlakan peran IQ yang dulu begitu diagungkan, kini sedikit tergeser posisinya dengan keberadaan EQ yang begitu menghebohkan.
Menurut seorang psikolog dari Yale, Robert Stemberg, seorang ahli dalam bidang successfully Inteligences yang mengatakan: “ Bila IQ yang berkuasa, ini karena kita membiarkannya berkuasa, kita telah memilih penguasa yang buruk.” Fakar itu juga mengemukakan beberapa hal lain, sebagai berikut: “Salah satu sikap paling membahayakan yang telah dilestarikan oleh budaya kerja modern adalah bahwa kita tidak boleh, dalam situasi apapun, mempercayai suara hati atau persepsi kita. Kita dibesarkan untuk meragukan sendiri, untuk tidak memperdulikan intuisi, dan mencari peneguhan dari luar untuk hampir segala sesuatu yang kita perbuat. Kita kondisikan untuk mengandaikan bahwa orang lain lebih tahu dari pada kita dan dapat memberitahu kebenaran sejati dengan lebih jelas dibanding yang dapat kita ketahui sendiri.
Sebaliknya, pendidikan di Indonesia selama ini, terlalu menekankan arti penting nilai akademik, kecerdasan otak atau IQ saja. Mulai dari tingkat sekolah dasar sampai ke bangku kuliah, jarang sekali ditemukan pendidikan tentang kecerdasan emosi yang mengajarkan tentang integritas, kejujuran, komitmen, ketahanan mental, kebijaksaan, keadilan, prinsip kepercayaan, penguasaan diri. Padahal justru inilah yang terpenting. Mungkin kita bisa melihat hasil dari bentukan karakter manusia dan kualitas sumber daya manusia di era ini yang patut dipertanyakan, yang berbuntut kepada krisis ekonomi yang berkepanjangan saat ini. Hal ini ditandai dengan krisis moral atau  buta hati yang terjadi di mana-mana. Meskipun mereka memiliki pendidikan yang sangat tinggi dan gelar-gelar di depan atau belakang namanya, mereka hanya mengandalkan logika, namun mengabaikan suara hati yang sebenarnya mampu memberikan informasi-informasi maha penting untuk mencapai keberhasilan.
Kemudian di tengah kekeringan tersebut , buku-buku barat modern masuk ke Indonesia. Pada awalnya memberikan pencerahan pikiran dan hati, sehingga seakan-akan kiblat dan prinsip telah berpindah, padahal sebenarnya apa yang mereka cari saat itu, sangat dekat dengan dirinya. Namun seringkali mereka lakukan ritualnya yang telah mereka kenal sejak lahir. Suara-suara hati Ilahiyah yang fitrah sebagai perwujudan kecerdasan emosi Sang pencipta yang tak pernah disadari walau sebenarnya dekat dengan urat lehernya.

B.     Hubungan  Kecerdasan Emosional dengan Kecerdasan Spiritual 

Pada prinsipnya kita harus sadar bahwa; “setiap manusia memiliki segudang kecerdasan, tetapi jika tidak dibarengi dengan kecerdasan spiritual, jiwa manusia tidak akan merasakan kebahagiaan.[7] Sebagaimana Toto Tasmara mengemukakan bahwa betapapun banyak kecerdasan yang dimiliki seseorang tetapi tidak dibarengi dengan kecerdasan spiritual maka dengan sendirinya kecerdasan yang lain tersebut tidak akan berguna sama sekali.[8] Hal tersebut senada dengan pandangan Ary Ginanjar bahwa kecerdasan emosional dan spiritual semestinya tidak boleh dipisahkan karena kecerdasan emosional yang tidak dibarengi kecerdasan spiritual akan menyebabkan manusia menjadi sesat dan spekulatif.[9] Oleh karenanya mengabaikan potensi kecerdasan spiritual, akan membawa masalah di kemudian hari. Kecerdasan spiritual yang dimaksud di sini, bukan berarti seseorang tersebut mampu melakukan ritual keagamaan dengan baik, tetapi harus percaya akan adanya kekuatan nonfisik yang lebih dari kekuatan diri manusia. Sebuah kesadaran yang menghubungkan manusia dengan Tuhan lewat hati nurani. Kecerdasan spiritual jangan hanya mampu melaksanakan ritus-ritus keagamaan tetapi yang lebih penting adalah pemahaman terhadap nilai-nilai ritualisme tersebut.[10] Sebagai contoh kesalah pahaman tentang kecerdasan spiritual hanya berhenti pada ritus adalah fenomena krisis kemanusiaan yang melanda bangsa Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim. Bangsa yang kelihatan sangat agamis, justru terkenal tindak kriminalnya, lebih menyedihkan lagi di tengah semaraknya aktivitas formal keagamaan, sering dipertontonkan prilaku-prilaku brutal seperti pembakaran tempat ibadah, perusakan rumah orang yang tak seagama, saling menjelek-jelekkan satu agama dengan lainnya yang sering berakhir dengan konflik dan peperangan.[11] Semua itu bisa terjadi karena mereka salah dalam memaknai  keberagamaan. Ibadah mereka yang tampak khusyuk tidak menimbulkan spiritual apapun.
Fungsi agama (iman) yang ditumbuhkan  sejak kecil, dan menyatu ke dalam kepribadian itulah yang membawa ketentraman batin dan kebahagiaan. Orang yang mempercayai benda-benda keramat, jimat dan sebagainya biasanya tenang selama benda tersebut ada padanya. Akan tetapi jika benda keramat itu hilang maka yang bersangkutan akan gelisah. Obyek keimanan yang tidak pernah hilang dan tidak akan berubah manfaatnya, adalah iman yang ditentukan oleh agama. Iman yang berlandaskan agama akan selalu mendatangkan ketentraman.
Dorongan berlebihan untuk mencapai sesuatu yang diinginkan, seperti harta, kedudukan, dan kehormatan, dengan mengabaikan keseimbangan hukum ketetapan Tuhan, terbukti hanya akan menghasilkan kegagalan bahkan sesuatu kehancuran. Dorongan untuk menjadi yang terbesar tanpa memperdulikan faktor-faktor lain, akan mengakibatkan seluruh sistem menjadi terganggu. Jauh dalam hati kecil, sebenarnya manusia telah mengetahui bahwa hal ini kelak akan terjadi, misalnya bencana gampa bumi, tsunami, banjir, gunung meletus yang terjadi secara beruntung di Indonesia, khususnya di Sumatera. Namun manusia mengabaikan suara hati tersebut, yang justru sebenarnya membisikkan informasi maha penting.
Di sinilah kepekaan terhadap kecerdasan emosional (EQ) sangat dibutuhkan, karena mungkin saja menurut perhitungan di atas kertas semua tampak baik dan sempurna. Hati yang jernih tetap akan menyuarakan informasi yang jauh lebih penting.  Memang tak akan mampu membuat alasan apa saja secara logis dan masuk akal, sehingga siapapun bisa dikalahkan secara argumentative, bahwa hitungan di atas kertas itu benar. Tetapi, suara hati tidak akan pernah bohong, ia sangat jujur untuk mengatakan yang sebenarnya. Ini karena sifat Tuhan Yang Maha Besar yang telah terekam dalam hati manusia. Ketika sujud dalam shalat, doa yang diucapkan adalah “Maha suci Allah Yang Maha Tinggi”. Ini artinya bahwa untuk mencapai suatu ketinggian harus dimulai dengan hati yang suci dan jernih terlebih dahulu, sebelum menuju dan mengarah pada ketinggian sebagai suatu landasan keseimbangan. [12]
Ringkasnya, jikalau suara hati tampak baik seperti gema dari Allah di dalam diri kita, maupun sebagai sumber kewajiban-kewajiban yang mengkibatkan pernyataan kebenaran hakikat kita sejauh kewajiban-kewajiban tersebut dilaksanakan, maka itu berarti, bahwa manusia adalah makhluk yang secara structural terbuka terhadap sesuatu yang transenden. Keterbukaan semacam itulah membuat kita mengerti mengapa manusia tak bisa merealisir dirinya kecuali dengan melampaui dirinya.
DAFTAR PUSTAKA 
Hasrat Inayat Khan, Spiritual Dimensions of Psycholoy, diterjemahkan oleh Andi Haryadi, Dimensi Spiritual Psikologi, Bandung : Pustaka Hidayah, 2000
Imam Al-Ghazali, Ihya` Ulumuddin, diterjemahkan oleh Moh. Zuhri dkk, Semarang : CV. Asy-Syifa, 1413 H
Lihat, Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah Jakarta: Gema Insani Press, 2001
Lois Leahy, Manusia, Sebuah Misteri (Sintesa Filosofis Tentang Makhluk Paradoksal),  Jakarta : PT.  Gramedia, 1984
Sumarkan , Misteri Hati dalam Diri Manusia PerpektifJakarta : Lintas Pustaka, 2008
Syamsul Ma’arif, Revitalisasi Pendidikan Islam, Yogyakarta:Graha Ilmu, 2007




[1] Sumarkan , Misteri Hati dalam Diri Manusia Perpektif, (Cet. I; Jakarta : Lintas Pustaka, 2008), h. 9
[2] Imam Al-Ghazali, Ihya` Ulumuddin, diterjemahkan oleh Moh. Zuhri dkk, (Cet. I ; Semarang : CV. Asy-Syifa, 1413 H), h. 582
[3]  Hasrat Inayat Khan, Spiritual Dimensions of Psycholoy, diterjemahkan oleh Andi Haryadi, Dimensi         Spiritual Psikologi, (Cet. I; Bandung : Pustaka Hidayah, 2000), h. 94-

[4] Ibid, h. 96
[5] Lois Leahy, Manusia, Sebuah Misteri (Sintesa Filosofis Tentang Makhluk Paradoksal), (Cet. I: Jakarta : PT.  Gramedia, 1984), h. 287
[6] Ary Ginanjar, loc.cit, h. 15
[7]Ibid., h. 139-140

[8]Lihat, Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah (Cet.I; Jakarta: Gema Insani Press, 2001), h. 49

[9]Ary Ginanjar Agustian,  op. cit., h. 47

[10]Syamsul Ma’arif, Revitalisasi Pendidikan Islam, Edisi I (Yogyakarta:Graha Ilmu, 2007) h. 139

[11]Ibid., h. 142

[12]Ary Ginanjar Agustian, op. cit., h. 65 
Terimakasih telah membca artikel berjudul PENTINGNYA KECERADASAN EMOSIONAL

SL Blogger
Kumpulan Makalah Updated at: 12/20/2016

1 komentar : PENTINGNYA KECERADASAN EMOSIONAL

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak