Kumpulan Berbagai Jenis Makalah

PENGARUH AKHLAH TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA

1.   Pengertian Akhlak
a.   Akhlak Menurut Etimologi
Menurut bahasa (etimologi) perkataan akhlak ialah bentuk jama’ dari Khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kalimat Khuluq sangat berhubungan dengan “khalqun” yang berarti kejadian, serta erat hubungannya dengan “khaliq” yang berarti Pencipta dan “makhluq” yang berarti
yang diciptakan.[1]
Ibnu Athir dalam Annihayah menerangkan bahwa “ Pada hakekatnya makna Khuluq ialah gambaran batin manusia yang paling tepat (yaitu jiwa dan sifatnya), sedangkan Khalqun merupakan gambaran bentuk luarnya (raut muka, warna kulit, tinggi rendah tubuhnya, dan lain sebagainya)”[2]
Imam Ghozali mengatakan bahwa “ Bilamana orang mengatakan si A itu baik kholqunya   dan  khuluq-nya,   berarti   si   A   itu   baik   sifat   lahirnya   dan   sifat
bathinnya”.[3]
Sementara itu, Barmawy Umary berpendapat bahwa penggunaan kata akhlak seakar dengan kata khaliq (Allah Pencipta) dimaksudkan agar terjadi hubungan baik antara manusia sebagai makhluk dengan Allah sebagai Khaliq-nya, dan antara manusia sebagai makhluk dengan makhluk-makhluk lain.
Terlepas dari analisis-analisis diatas, yang jelas kata akhlak telah digunakan oleh al-Qur’an untuk mengungkapkan makna budi pekerti dan perangai,  saat mengemukakan perangai Rasulullah saw, dalam surat al-Qalam ayat ke-4, yang berbunyi :
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

 “Dan Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti dan perangai yang agung ".[4]
Dengan demikian, penggunaan akhlak untuk makna budi pekerti, perangai, serta tingkah laku itu, telah dimulai oleh Allah sendiri dalam al-Qur’an, kemudian
Rounded Rectangle: 6oleh Rasulullah dalam haditsnya,   yang berbunyi :

"Tiada diutus aku kecuali untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia".[5]Kata akhlaq sering diidentifikasikan pada kata etika dan kata moral, dimana kata etika mempunyai pengertian secara bahasa sebagai kata yang diambil dari kata ethos yang berarti adat kebiasaan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata etika diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang asas asas akhlaq, sedangkan menurut istilah diartikan sebagai ilmu yang menjelaskan tentang baik dan buruk, tentang apa yang harus dilakukan oleh manusia.sedangkan moral diambil dari kata yang berasal dari bahasa latin, yang mempunyai arti sebagai tabiat atau kelakuan. Sehingga dapat difahami bahwa antara etika, moral dan akhlaq mempunyai pengertian yang sama secara bahasa, yaitu kelakuan atau kebiasaan.[6]

b.  Akhlak Menurut Terminologi
Pengertian akhlaq menurut istilah banyak dipaparkan oleh berbagai pakar, yang kesemuanya memiliki keragaman pemahaman yang berbeda satu dengan yang lain.
Beberapa pakar mengemukakan definisi akhlak sebagai berikut:
1)      Di dalam Ensiklopedi Pendidikan dikatakan bahwa akhlak ialah budi pekerti, watak, kesusilaan (kesadaran etika dan moral) yaitu kelakuan baik merupakan akibat dari sikap jiwa yang benar terhadap Khaliqnya dan terhadap sesama manusia.[7]
2)      Abdullah Dirros dalam menegaskan, akhlaq adalah suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, dimana keduanya saling berkombinasi membawa kecenderungan pemilihan pada sesuatu yang benar ataupun yang salah[8]
Ahmad amin mengatakan bahwa akhlak ialah kebiasaan baik dan buruk. Contohnya apabila kebiasaan memberi sesuatu yang baik, maka disebut akhlaqul karimah dan bila perbuatan itu tidak baik maka disebut akhlaqul
madzmumah.[9]
4)      Farid ma’ruf mendefinisikan akhlak sebagai kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan dengan mudah karena kebiasaan, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu.[10]
5)      Maskawaih berpendapat bahwa akhlaq merupakan keadaan jiwa seseorang yang mendorong untuk melakukan suatu perbuatan tanpa memerlukan pemikiran.[11]

6)   Menurut Imam Al-Ghozali, akhlaq ialah suatu sifat yang tetap pada jiwa

seseorang, yang mendorongnya untuk melakukan suatu perbuatan dengan
mudah tanpa membutuhkan pemikiran[12]
Karena akhlak merupakan suatu keadaan yang melekat dalam jiwa, maka suatu perbuatan baru disebut akhlak kalau terpenuhi beberapa syarat :
1)      Perbuatan itu dilakukan berulang-ulang. Kalau suatu perbuatan hanya dilakukan sesekali saja, maka tidak dapat disebut akhlak. Misalnya, orang yang jarang berderma tiba-tiba memberikan uang kepada orang lain karena alasan tertentu. Dengan tindakan ini ia tidak dapat disebut murah hati atau berakhlak dermawan karena hal itu tidak melekat dalam jiwanya.
Perbuatan itu timbul dengan mudah tanpa dipikirkan atau diteliti lebih dahulu sehingga ia benar-benar merupakan suatu kebiasaan. Jika perbuatan itu timbul karena terpaksa atau setelah dipikirkan dan dipertimbangkan secara matang, maka hal itu tidak disebut akhlak.[13]Jadi, pada hakikatnya akhlak adalah suatu sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian. Dari sini timbullah berbagai macam perbuatan dengan cara spontan tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pikiran.

2.   Sumber-sumber dan Akhlak Islami
a.   Sumber-sumber akhlak
1) Al qur’an dan Hadits
Sumber ajaran akhlak ialah al-Qur’an dan hadits.[14]Sebagai sumber akhlak, al-Qur’an dan hadits menjelaskan bagaimana cara berbuat baik. Atas dasar itulah keduanya menjadi landasan dan sumber ajaran Islam secara keseluruhan sebagai pola hidup dan menetapkan mana hal yang baik dan mana hal yang tidak baik.[15]
Al-Qur’an bukanlah hasil renungan manusia, melainkan firman Allah yang Maha pandai dan Maha bijaksana. Oleh sebab itu, setiap muslim berkeyakinan bahwa isi al-Qur’an tidak dapat dibuat dan ditandingi oleh pikiran manusia.
Sebagai pedoman kedua sesudah al-Quran adalah Hadits Rasulullah yang meliputi perkataan dan tingkah laku beliau. Jika telah jelas bahwa Al-qur’an dan hadits Rasul adalah pedoman hidup yang menjadi asas bagi setiap muslim, maka teranglah keduanya merupakan sumber akhlak Islam. Dasar akhlak yang dijelaskan dalam al-Qur’an adalah sebagai berikut :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah ".[16]
Tentang akhlak pribadi Rasulullah dijelaskan pula oleh ‘Aisyah ra. Diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dari ‘Aisyah ra. Berkata : “Sesungguhnya akhlak Rasulullah itu adalah Al-qur’an”. (HR. Muslim). Hadits Rasulullah meliputi perkatan dan tingkah laku beliau, merupakan sumber akhlak yang kedua setelah al-qur’an.  Segala ucapan dan prilaku beliau senantiasa mendapatkan bimbingan Allah.[17]    Allah berfiman :
إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ   وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ.
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) ". (QS. An-Najm (53): 3-4).

Rasulullah saw hanyalah mengucapkan apa yang diperintahkan kepada-Nya supaya ia sampaikan kepada umat manusia dengan sempurna seadanya tanpa ditambahi maupun dikurangi.
Dalam ayat lain Allah memerintahkan agar selalu mengikuti Rasulullah dan tunduk apa yang dibawa oleh beliau. Allah berfirman :

مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya". (QS. Al-Hasyr (59):7)
Jika jelas bahwa al-Qur’an dan hadits Rasul adalah pedoman hidup yang menjadi asas bagi setiap muslim, maka teranglah keduanya merupakan sumber akhlakul karimah dalam ajaran Islam. Al-qur’an dan Sunnah Rasul adalah ajaran yang paling mulia dari segala ajaran manapun hasil renuangan dan ciptaan manusia. Sehingga telah menjadi keyakinan (akidah) Islam bahwa akal dan naluri manusia harus tunduk mengikuti petunjuk dan pengarahan Al-qur’an dan As-sunnah. Dari pedoman itulah diketahui criteria mana perbuatan yang baik dan mana yang buruk. Dinyatakan dalam sebuah hadits Nabi :
“Dari Anas bin Malik berkata: Bersabda Nabi Saw: Telah kutinggalkan atas kamu sekalian dua perkara yang apabila kamu berpegang kepada keduanya, maka tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya”.
Di samping berbagai ajaran yang dikemukakan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah sebagaimana dikemukakan di atas, norma-norma akhlak juga bisa digali dan dipelajari dari perbuatan dan kebiasaan Rasulullah saw yang tidak tergolong hadits, yakni kebiasaan kulturalnya sebagai bangsa arab dizaman beliau hidup, karena semua prilaku dan perangainya itu menunjukkan akhlak baik dan patut juga untuk ditiru.[18]
b.  Akhlak Islami
Akhlak Islami secara sederhana dapat diartikan sebagai akhlak yang berdasarkan ajaran Islam atau akhlak yang bersifat Islami.[19]
Adapun konsep dasar akhlak menurut ajaran Islam adalah sebagai berikut :
1)      Tujuan hidup setiap muslim ialah mengharamkan makanan dan minuman yang dilarang agama, tunduk dan taat menjalankan syariat Allah untuk mencapai keridhaan-Nya.
2)      Berkeyakinan terhadap kebenaran wahyu Allah dan sunnah, membawa konsekuensi logis sebagai standart dan pedoman utama bagi setiap muslim.
3)      Berkeyakinan terhadap hari pembalasan, mendorong manusia berbuat baik dan berusaha menjadi manusia sebaik-baiknya (akhlakul karimah).

4)      Berbuat baik, mencegah segala kemungkaran yang bertentangan dengan ajaran Islam berasaskan Al-qur’an dan hadits.
5)             Ajaran akhlak dalam Islam meliputi segala kehidupan manusia berasaskan pada kebaikan dan bebas dan segala kejahatan.

Demikian bahwa akhlak Islami mencakup berbagai makhluk yang diciptakan oleh Tuhan, yakni akhlak manusia dengan Tuhan, akhlak pada diri sendiri, hubungan antara manusia dengan sesamanya dan akhlak terhadap alam sekitar.
Adapun semua itu akan dijelaskan secara terperinci dibawah ini:
1)  Akhlak terhadap Tuhan
Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang diberikan kesempurnaan dan kelebihan dibanding makhluk lainnya. Manusia diberikan akal untuk berpikir, perasaan dan nafsu, maka sepantasnyalah mempunyai akhlak yang baik terhadap Allah.
Allah telah banyak memberikan kenikmatan yang tidak ada bandingannya dan kenikmatan dari Allah tidak akan dapat terhitung. Sesuai dengan firman Allah:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." .(QS. An-Nahl: 18)[20]
Akhlak kepada Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk kepada Allah sebagai khalik.
Qurish Shihab mengatakan bahwa titik tolak akhlak terhadap Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji, demikian agung sifat itu jangankan manusia, malaikat pun tidak mampu menjangkaunya.
Bertolak dari prinsip ketauhidan itu, manusia kemudian berkewajiban untuk menghamba atau mengabdi kepada-Nya. Allah berfirman:
وَما خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ الْإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku ".
Adapun kewajiban manusia terhadap Allah pada garis besarnya ada dua, yaitu:
a)              Mentauhidkan-Nya
b)      Beribadah kepada-Nya
Sebagai implikasi lebih lanjut dari dua kewajiban tersebut adalah bahwa manusia harus berbuat atau beramal sesuai dengan syari’at Islam (amal saleh). Ini termasuk kewajiban kepada Allah SWT. Sebagaimana tercantum dalam firman Allah:
Akhlak kepada Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk kepada Allah sebagai khalik.
Qurish Shihab mengatakan bahwa titik tolak akhlak terhadap Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji, demikian agung sifat itu jangankan manusia, malaikat pun tidak mampu menjangkaunya.[21]
Adapun kewajiban manusia terhadap Allah pada garis besarnya ada dua, yaitu:
c)              Mentauhidkan-Nya
d)     Beribadah kepada-Nya
Sebagai implikasi lebih lanjut dari dua kewajiban tersebut adalah bahwa manusia harus berbuat atau beramal sesuai dengan syari’at Islam (amal saleh). Ini termasuk kewajiban kepada Allah SWT. Sebagaimana tercantum dalam firman Allah:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk". (QS Al Bayyinah:7).[22]
Beriman dan beramal saleh itu dalam istilah lain disebut takwa, yang dipenntahkan Allan kepada hamba-Nya,    sebagaimana Allan berfirman:

يَاأَيُّهَاالَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّاوَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَاتَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءًفَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْعَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُلَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam ".(Ali Imran [3]: 102.)
Jadi, cara ber-akhlaqul karimah kepada Allah adalah beriman kepada Allah, meninggalkan segala larangan-Nya dan menjalankan segala perintah-Nya. Orang yang sudah mengaku beriman kepada-Nya, sebagai kesempurnaannya takwa.[23]Oleh sebab itu amal ibadah merupakan satu kewajiban manusia terhadap Allah mutlak ditegakkan, yaitu dengan menjalankan segala perintah dan meningggalkan larangan-Nya.  Sifat yang merupakan manifestasi iman dan takwa itu adalah syukur atas nikmat yang dibenkan dan sabar pada bencana yang ditimpanya.
2)  Akhlak terhadap Diri Sendiri
Manusia terdiri dari dua unsur, yaitu jasmani dan rohani. Jasmani merupakan badan kasar yang kelihatan, sedangkan rohani ialah badan halus yang bersifat abstrak seperti akal, hati dan sebagainya.
Dalam hubungannya terhadap jasmani, manusia berkewajiban memenuhi kebutuhan primer, yaitu makanan, pakaian dan tempat tinggal sesuai dengan tuntuan fitrahnya, sehingga ia mampu menjalankan kewajibannya dengan baik.
Kewajiban manusia terhadap dirinya juga disertai dengan larangan merusak, membinasakan dan menganiaya diri, baik secara jasmani (memotong dan merusak badan), maupun secxara rohani (membiarkan larut dalam kepedihan). Hal tersebut diatur dalam ajaran agama Islam, sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah 195:
وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
"Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, Karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik".[24]
Tegasnya islam menganjurkan penggunaan benda-benda bersih, sehat dan bermanfaat dan melarang penggunaan benda yang merugikan dan merusak fisik seperti memakai tatoo, penyalahgunaan narkoba dan Iain-lain.
Adapun kewajiban manusia dalam hubungannya dengan kebutuhan batin atau rohani, terkait dengan unsure akal dan hati. Kewajiban manusia terhadap aspek rohani bagi dirinya sendiri dapat dikatakan lebih berat karena sifatnya yang abstrak. Namun demikian, kebutuhan dalam bidang ini dapat dianggap sebagai kebutuhan yang esensial. Mengabaikan kebutuhan ini memang tidak akan menyebabkan kematian, tetapi pasti akan menyebabkan kehinaan dan kemstaan.
Kewajiban untuk memenuhi kebutuhan akalnya berupa ilmu. Dengan demikian, manusia berkewajiban untuk belajar sehingga terus menghidupkan akalnya dengan bekal pengetahuan yang cukup. Tanpa berfungsinya akal-karena ketiadaan ilmu-manusia menjadi bodoh dan menyebabkan dirinya menjadi nista atau berderajat rendah. Dalam surat az-Zumar ayat 39 dinyatakan dengan tegas perbedaan antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu, sementara dalam surat al-Mujadilah ayat 58 dinyatakan bahwa derajat orang yang beriman dan berilmu ditingkatkan oleh Allah SWT dengan sendirinya, tentu saja melebihi orang kafir dan orang bodoh. Karena itu dari sudut agama, menuntut ilmu berarti
memenuhi kebutuhan akal yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan.[25]
Manusia juga berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan hati yang merupakan sumber rasa. Hati yang tentram akan menciptakan rasa aman dan bahagia. Sebaliknya, hati yang hampa dan tidak terbina akan menghasilkan rasa gundah, marah, dan tersiksa. Manusia yang mengabaikan kebutuhan hati akan kehilangan rasa yang menghancurkan jati dirinya. Rasa kasih saying, rasa aman, rasa harga diri, rasa bebas, dan rasa berani, pada kenyataannya merupakan kebutuhan nuramah yang wajib dipenuhi oleh setiap manusia . Dalam Al-qur an surah al-Fajr 27-30 ditegaskan:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي
"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam syurga-Ku ".
Kebutuhan jasmani dan rohani harus menjadi perhatian yang serius sehingga manusia mampu dapat menjalankan tugasnya dengan baik yakni menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai khalifah di muka bumi

3)  Akhlak terhadap Sesama Manusia
Manusia adalah makhluk sosial yang kehidupannya tidak dapat diisolasikan secara permanen dari sesamanya. Kelahiran manusia di muka bumi ini dimungkinkan dari kedua orang tuanya yang kemudian menjadi lingkungan pertamanya di dunia. Perkembangan manusia kemudian tergantung pada interaksi dengan kelompok masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Pada akhirnya, manusia menempati posisi dan memerankan tugas tertentu. Dalam kaitan ini, maka kewajiban manusia dengan sesama harus dipenuhi sehingga tercipta kondisi yang harmonis dan dinamis yang menjamin kelangsungan hidupnya. Dalam Al-qur’an surat Ali Imran ayat 112, Allah berfirman:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ
"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia".[26]
Dari ayat diatas menjelaskan bahwa manusia tidak bisa lepas dari ikatan (agama) Allah dalam hal menjalankan perintah Allah dan meningggalkan larangan-Nya yang termasuk dalam etika (akhlak) terhadap Allah, dan manusia juga tidak bisa terhindar dari urusan kemanusiaan, karena manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan antar sesamanya.
Islam memerintahkan manusia untuk memenuhi hak-hak pribadinya dan berlaku adil terhadap dirinya sendiri, dalam memenuhi hak-hak pribadinya juga tidak boleh merugikan hak-hak orang lain.
Islam mengimbangi hak-hak pribadi, hak-hak orang lain dan hak masyarakat sehingga tidak timbul pertentangan. Semuanya harus bekerja sama dalam mengembangkan  hukum-hukum  Allah.   Akhlak terhadap  manusia merupakan sikap seseorang terhadap orang lain.
Adapun akhlak terhadap sesama manusia dapat diperincikan sebagai berikut:
a)  Akhlak sebagai Anak
Sebagai seorang anak, wajib berbakti kepada orang tua, setelah takwa kepada Allah. Orang tua telah bersusah payah memelihara, mengasuh, mendidik sehingga menjadi orang yang berguna dan berbahagia. Karena itu anak wajib mentaatinya, menjunjung tinggi titahnya, mencintai mereka dengan ikhlas, berbuat baik kepada mereka, lebih-lebih bila usia mereka telah lanjut, jangan berkata keras dan kasar kepada mereka.[27]
Allah berfirman dalam surah Al-Isra’ ayat 23, yang berbunyi:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia ".[28]
Di dunia ini tidak seorang pun yang menyamai kedudukan orang tua. Tidak ada satu usaha dan pembalsan yang dapat menyamai jasa kedua orang tua terhadap anaknya. Perbuatan yang harus dilakukan seorang anak terhadap orang tua menurut Al-qur an sebagai benkut   :
1)             Berbakti kepada kedua orang tua
2)      Mendoakan keduanya
3)             Taat terhadap segala yang diperintahkan dan meninggalkan segala yang dilarang mereka, sepanjang perintah dan larangan itu tidak bertentangan dengan ajaran agama
4)      Menghormatinya, merendahkan diri kepadanya, berkata yang halus dan yang baik-baik supaya mereka tidak tersinggung, tidak membentak dan tidak bersuara melebihi suaranya, tidak berjalan di depannya, tidak memanggil dengan nama, tetapi memanggil dengan ayah (bapak) dan ibu.
5) Memberikan penghidupan, pakaian, mengobati jika sakit, dan menyelamatkan dari sesuatu yang dapat membahayakannya.[29]
Apabila kedua orang tuanya telah tiada, seorang anak masih berkewajiban berbakti kepadanya, yaitu dengan cara:
1)      Mendoakan keduanya dan memintakan ampun atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan keduanya
2)      Jika meninggalkan utang-piutang segerakan untuk membayarnya
3)      Jika meninggalkan wasiat segera penuhi wasiatnya, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran agama
4)      Menyambung kembali tali silaturrahim kepada sanak famili dan sahabat dekatnya serta menghormatinya
5)      Menepati janji keduanya, umpamanya keduanya ingin menunaikan ibadah haji, berjanji akan membangun madrasah, serta janji-janji lain yang tidak bertentangan dengan Al-qur’an dan hadist.
b) Akhlak sebagai orang tua
Anak adalah amanah yang dititipkan Allah kepada orang tuanya. Sebagai amanah, orang tua berkewajiban untuk memelihara dan mendidiknya agar ia menjadi orang yang baik dan berguna dikemudian hari.[30]
Adapun kewajiban orang tua terhadap anaknya, secara terinci sebagai berikut42:
1)      Memberi nama yang baik
2)      Menyembelih hewan aqiqah hari ketujuh dari kelahirannya
3)      Mengkhitankannya
4)      Memberi kasih sayang
5)      Memberi nafkah
6)      Memberikan pendidikan, pengajaran, terutama hal-hal yang berhubungan berkenaan dengan masalah agama
7)      Mengawinkan setelah dewasa
c)   Akhlak terhadap Tetangga
Dalam ajaran agama Islam, manusia berkewajiban untuk memelihara dan mengembangkan hubungan baik dengan tetangga, termasuk ikut memperhatikan kebutuhannya. Kewajiban ini dipandang sangat penting karena berpengaruh pada kualitas keimanan seseorang.[31]Rasulullah SAW bersabda: “Tiada sempurna iman seseorang, apabila orang itu tidur lelap dengan perut yang kenyang, sedangkan ada tetangganya yang tidak tidur karena kelaparan”.(HR. Al-Bukhari)
Kewajiban terhadap tetangga dapat dibedakan menurut klasifikasi tetangga itu
sendiri.   Jika   tetangga   itu   muslim   dan   famili,   maka   ada   tiga   kewajiban menunaikannya[32]
1)      Kewajiban memuliakan tetangga
2)      Kewajiban menghormati hak keislamannya
3)      Kewajiban kesamaan hak karena adanya hubungan famili Jika tetangga muslim saja (tidak famili) ada dua kewajiban yang ditunaikan:

1)      Kewajiban memuliakan tetangga
2)      Kewajiban menghormati keislamannya
Jika ia tidak muslim dan tidak famili maka hanya satu kewajiban saja, yaitu: 1)  Kewajiban memuliakan tetangga.

d) Akhlak terhadap Lingkungan Masyarakat
Lingkungan masyarakat ialah lingkungan kelompok manusia yang berada di sekelilingnya, bekerja sama, saling menghormati, saling membutuhkan dan dapat mengorganisasikannya dalam lingkungan tersebut.[33]
Lingkungan masyarakat menjadikan situasi dan kondisi sosial cultural berpengaruh terhadap perkembangan fitrah manusia secara individu.[34]Setiap orang tidak dapat melepaskan dirinya dari lingkungan masyarakat sekitarnya. Dalam pergaulan masyarakat itu ditentukan oleh tata cara bermasyarakat agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan.
Dalam hal ini ada beberapa kewajiban yang harus diperhatikan oleh masing-masing, antara lain[35]:
1)      Menunjukkan wajah yang jernih terhadap mereka
2)      Tidak menyakiti mereka, baik dengan lisan maupun perbuatan
3)      Menghormati dan tenggang rasa terhadap mereka
4)      Memberi pertolongan apabila mereka membutuhkan Akhlakul karimah kepada lingkungan masyarakat hendaknya dapat diterapkan
dalam    kehidupan    sehari-hari    agar    ketentraman    dan    kerukunan    hidup bermasyarakat dapat tercapai sesuai dengan apa yang kita inginkan bersama.
Untuk meningkatkan hubungan baik terhadap lingkungan masyarakat kita tinggal, yang wajib dilakukan sebagai anggota masyarakat adalah sebagai benkut   :
1)   Ukhwah dan persaudaraan
Di dalam lingkungan masyarakat hams menjalin hubungn ukhwah dan persaudaraan dengan baik. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
"Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat".(QS. Al-Hujarat [49]:10)[36]
2)   Tolong-menolong
Tolong-menolong untuk kebaikan dan takwa kepada Allah adalah perintah Allah. Wajib kepada setiap orang islam untuk tolong-menolong dengan cara yang sesuai dengan keadaan obyek orang yang bersangkutan. Allah berfirman:
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya".(QS. Al-Maidah [5]:2)[37]
3)  Musyawarah
Jika ada masalah rumit dalam masyarakat, maka musyawarah di dalam lingkungan adalah cara yang tepat dan dianjurkan untuk mendapatkan keputusan yang adil. Allah berfirman:
وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
"Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat,  sedang urusan mereka  (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka ".
4)  Akhlak terhadap Alam sekitar
Manusia sebagai khalifah diberi kemampuan oleh Allah untuk mengelola bumi dan mengelola alam semesta ini. Manusia diturunkan ke bumi untuk membawa rahmat dan cinta kasih kepada alam seisinya. Oleh karena itu, manusia mempunyai tugas dan kewajiban terhadap alam sekitarnya, yakni melestarikan dan memeliharanya dengan baik.    Allan berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
"Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan". (QS. Al-Qashash [28]:77)
Dalam ajaran Islam akhlak terhadap alam seisinya dikaitkan dengan tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi. Manusia bertugas memakmurkan, menjaga dan melestarikan bumi ini untuk kebutuhannya. Akhlak manusia terhadap alam bukan hanya semata-mata untuk kepentingan alam, tetapi jauh dari
itu untuk memelihara, melestarikan dan memakmurkan alam ini. Dengan kemakmuran alam dan keseimbangannya manusia dapat mencapai dan memenuhi kebutuhannya sehingga kemakmuran, kesejahteraan, dan keharmonisan hidup dapat terjaga.

3.   Macam-Macam Akhlak
Ada dua penggolongan akhlak secara garis besar, yaitu akhlak mahmudah (fadhilah) dan akhlak madzmumah (qabihah). Di samping istilah tersebut Imam Al-Ghazali menggunakan istilah munjiyat untuk akhlak mahmudah dan muhlihat untuk akhlak madzmumah. Di kalangan ahli tasawwuf dikenal dengan system pembinaan mental, dengan istilah takhalli, tahalli, dan tajalli.[38]
Takhalli adalah mengosongkan atau membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela, karena sifat itulah yang dapat mengotori jiwa manusia. Tahalli adalah mengisi jiwa dengan sifat-sifat yang terpuji (mahmudah).[39]
Jadi, dalam rangka pembinaan mental, penyucian jiwa hingga dapat berada dekat dengan Tuhan, maka pertama kali yang dilakukan adalah pembersihan jiwa dari sifat-siat yang tercela, kemudian jiwa yang bersih diisi dengan sifat-sifat yang terpuji hingga akhirnya sampailah pada tingkat berikutnya yang disebut tajalli, yaitu tersingkapnya tabir sehingga diperoleh pancaran Nur Ilahi.[40]
Sedangkan yang dimaksud dengan akhlak mahmudah adalah segala macam sikap dan tingkah laku yang baik (yang terpuji).53Sebaliknya akhlak madzmumah ialah segala macam sikap dan tingkah laku yang tercela. Akhlak mahmudah dilahirkan oleh sifat-sifat mahmudah yang terpendam dalam jiwa manusia, demikian pula akhlak madzmumah dilahirkan oleh sifat-sifat madzmumah.oleh karena itu, sikap dan tingkah laku yang lahir merupakan cermin atau gambaran dari sifat batin.[41]
a.   Akhlak Madzmumah
Akhlak madzmumah ialah perangai atau tingkah laku pada tutur kata yang tercermin pada diri manusia, cenderung melekat dalam bentuk yang tidak menyenangkan orang lain.[42]
Adapun contoh-contoh sifat akhlak madzmumah sebagai berikut:
1) Sifat pasif
Biasanya orang pasif cenderung menanti orang lain menghampiri dirinya dan siap menyodorkan bantuan. Namun orang pasif tidak mengutarakan atau tidak mampu mengutarakan keinginannya, orang lain hampir mustahil bersedia atau membantu mewujudkan keinginan yang tidak dimengerti. Itulah sebabnya orang pasif sering tidak bisa memanfaatkan kesempatan.[43]
Pada umumnya orang pasif sama sekali tidak bisa menyuarakan keinginan atau seandainya mereka mencoba menyampaikan keinginannya, mereka menyampaikannya dengan rasa pesimis. Orang pasif biasanya cepat menyerah,
putus asa, dan mengalah pada pendapat orang lain. Padahal sebagian kunci orang yang sukses adalah mampu mempertahankan pendapatnya ketika orang lain menyanggahnya, dan kunci kesuksesan itu tidak dimiliki oleh orang yang mempunyai sifat pasif.
2)   Sifat pesimis
Orang yang pesimis selalu memandang realitas dengan kaca mata negative, dan menimbulkan masalah besar yang akan menjadi beban baru dalam kehidupannya. Terlebih lagi jika orang pesimis memiliki pengalaman gagal dalam hidupnya, maka kegagalan yang pernah dialami dianggapnya akan berulang kembali terhadap aktivitas baru yang akan dilakukan.[44]
Orang pesimis biasanya lemah dan lamban mensikapi keadaan, mereka menghadapi situasi mudah dengan sikap yang sulit dinalar, dalam diri orang pesimis selalu muncul pertanyaan diantaranya (aku malu, aku takut, aku tidak bisa, aku nanti gagal dll). Sifat pesimis dapat menguburkan semua kemampuan atau potensi yang dimiliki manusia sebab mereka mempunyai motivasi yang rendah.
3)   Sifat picik
Picik dalam pengertian ini adalah sempit pemikiran, kurang pengetahuan, serta tidak luas pandangan ataupun wawasan.[45]
Islam merupakan agama yang konsen dalam memberantas sifat picik. Di dalam al-Qur’an banyak ditemui ayat-ayat yang mendorong umat Islam untuk mencari ilmu pengetahuan agar tidak mempunyai berlaku picik. Allah swt berfirman:
ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَخَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِعَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
"Bacalah dengan (menyebut) noma Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan pena, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. " (Q.S. al- 'Alaq [96]: 1-5)[46]
Mempelajari dan mendalami ilmu pengetahuan dapat menghilangkan kepicikan dan wawasannya menjadi luas, sehingga seseorang bersedia mendengarkan pendapat orang lain dan dapat menerima segala perbedaan yang dihadapinya.
4)   Sifat khianat
Khianat adalah sikap hidup manusia yang tidak bisa dipercaya dan tidak bertanggung jawab terhadap apa yang telah menjadi tanggungannya.
Sifat khianat sangat merugikan orang lain. Banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari, antara lain: “siswa sering melanggar ketertiban disekolah, tidak bersungguh-sungguh dalam belajar, ia menghianati kepercayaan orang tuanya dan juga gurunya”. Sebagai orang yang beriman harus meninggalkan prilaku khianat ini, sebagaimana firman Allah swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu Mengetahui". (Q.S. al-Anfal [8]: 27)[47]
b.   Akhlak Mahmudah
Akhlak Mahmudah (terpuji) berarti sifat-sifat atau tingkah laku yang sesuai dengan norma-norma atau ajaran Islam. Adapun contoh-contoh sifat akhlak mahmudah sebagai berikut:
1)  Sifat Kreatif
Ada beberapa pendapat tentang apa itu kreatif, namun demikian setiap pendapat yang mengungkapkan makna kreatif memiliki keterkaitan dan saling melengkapi serta menguatkan. Menurut kamus bahasa Indonesia, kretif diartikan; “Memiliki daya cipta atau memiliki kemampuan untuk menciptakan”.Menurut kamus istilah Manajemen LPM, kreatif disamakan dengan daya cipta yaitu; “Kemampuan menciptakan atau menghasilkan sesuatu yang membawa sifat baru atau mengkombinasikan ide maupun metode lama dengan cara-cara yang baru”. Sedangkan dalam perspektif Islam, kretif dapat diartikan sebagai kesadaran keimanan seseorang untuk menggunakan keseluruhan daya dan kemampuan diri yang dimiliki sebagai wujud syukur akan nikmat Allah, guna menghasilkan sesuatu yang terbaik dan bermanfaat bagi kehidupan sebagai wujud pengabdian yang tulus kehadirat Allah swt.
Sifat kretif memiliki 2 bagian dalam diri manusia, diantaranya adalah:
a)  Sifat kretif yang berupa emosi
Ciri-ciri manusia kretif dari aspek emosinya adalah:
(1)   Memiliki hasrat yang kuat untuk mengubah hal-hal yang ada disekelilingnya menjadi lebih baik ataupun lebih bermakna.
(2)   Memiliki minat yang tinggi, yaitu kemauan untuk menggali lebih dalam dari apa yang tampak di permukaan untuk mendapatkan nilai dan manfaat yang lebih besar bagi kemaslahatan hidup manusia.
(3)   Memiliki rasa ingin tahu yang menggelora dan tidak pernah berhenti untuk mempertanyakan segala hal yang dilihat ataupun didengar.
(4)   Mendalam dan konsentrasi dalam berpikir.
(5)   Memiliki gairah dan optimisme untuk menjalani kehidupan dan menghadapi semua tantangan yang menhadang.
(6)   Tidak mudah puas dengan keberhasilan yang dicapai.

b) Sifat kretif yang berupa intelektual
Sedangkan ciri-ciri manusia yang kretif dari aspek intelektualnya berupa:
(1)   Memilki kemampuan berpikir lancar, orang kreatif lebih banyak mengajukan pertanyaan dan jawaban serta gagasan solutif dalam berbagai keadaan.
(2)   Berpikir luwes, artinya mampu menghasilkan gagasan, jawaban atau pertanyaan kreatif dan dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda.
(3)   Memiliki ketelitian dalam mengevaluasi, orang kreatif memiliki tolok ukur penilaian sendiri yang lebih akurat dan mampu mengambil keputusan pada situasi yang terbuka.
 (4) Memiliki sifat kritis,  orang kreatif selalu terdorong untuk mengetahui secara mendalam segala hal yang ada dihadapinya.
2)   Sikap Dinamis
Dinamisme merupakan kemampuan melihat sisi terang kehidupan dan memelihara sikap positif, sekalipun ketika berada dalam kesulitan. Dinamisme mengasumsikan adanya harapan dalam cara orang menghadapi kehidupan. Dinamisme adalah pendekatan yang positif terhadap kehidupan sehari-hari untuk mencapai keberhasilan yang berguna dalam kehidupan. Allah memberi isyarat betapa pentingnya manusia untuk melakukan berbagai ragam ikhtiar secara optimal dan tetap memilki keyakinan dan ketentuan Allah. Sebagaimana Allah berfirman:
Dan Ya'qub berkata: "Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian Aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah Aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri".QS. Yusuf [12]:67
Ayat ini memberikan isyarat betapa pentingnya dalam menjalani kehidupan, manusia perlu mencari berbagai terobosan untuk mencapai tujuan dengan tetap yakin akan ketentuan Allah. Hal ini merupakan wujud komitmen dari setiap muslim, bahwa pada satu sisi kita harus mengembangkan cara-cara berikhtiar sebagai konsekuensi hidup dan pada sisi lain harus menerima ketentuan Allah.
Orang dinamis memandang kemunduran dalam hidup tidak akan berlangsung selamanya, akan tetapi situasi pasti akan berbalik membaik. Pada dasarnya, mereka melihat kesulitan sebagai kesuksesan yang tertunda, bukan sebagai kekalahan telak.
3) Tawakkal
Tawakkal ialah sikap bersandar dan mempercayakan diri kepada Allah. Tawakkal bukanlah sifat pasif dan bersemangat melarikan diri dari kenyataan tawakkal adalah sikap aktif dan tumbuh hanya dari pribadi yang memahami hidup dengan benar serta menerima kenyataan hidup dengan tepat.
Kesadaran bertawakkal itu tidak saja merupakan suatu “realisme metafis”, tetapi juga memerlukan keberanian moral, karena bersifat aktif. Yaitu keberanian moral untuk menginsafi dan mengaku keterbatasan diri sendiri setelah usaha yang optimal, dan untuk menerima kenyataan bahwa tidak semua persoalan dapat dikuasai dan diatasi tanpa bantuan (inayah) Allan SW1. Allah SWT berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. Q.S. Ali imran [3]: 159[48]

4)  Sabar
Sabar dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu sabar dalam melaksanakan ketaatan, sabar ketika dilanda malapetaka, sabar menghadapi kesulitan, sabar terhadap maksiat dan sabar dalam perjuangan.
Sabar adalah kemampuan menahan diri, di kala ada godaan untuk tidak marah atau tidak pasrah. Sedangkan orang yang sedang mendapatkan cobaan biasanya pikirannya kacau, marah dan akhirnya putus asa, karena itu seseorang perlu terus berlatih untuk meningkatkan kemampuan bersikap sabar. Orang yang sabar akan tahan menderita dalam menghadapi berbagai musibah, tidak lekas putus asa dalam menunaikan kewajiban serta meraih cita-cita. Allah berfirman:
 “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun", Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang Sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. Q.S.Al-baqarah [2]: 155-157

4.   Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Akhlak
Setiap manusia itu memiliki sifat yang berbeda-beda dan sifat-sifat itu dapat berubah-ubah setiap saat, terkadang timbul sifat sifat yang baik dan terkadang timbul sifat buruk, hal itu terjadi karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Dibawah ini akan dibahas beberapa faktor yang mempengaruhi akhlak, yaitu:
a.   Insting
Insting ialah suatu kesanggupan untuk melakukan perbuatan yang tertuju kepada sesuatu pemuasan pendorong nafsu atau dorongan batin yang telah dimiliki manusia maupun sejak lahir. Insting pada hewan bersifat tetap, tidak berubah dari waktu ke waktu, sejak lahir sampai mati. Insting pada manusia dapat berubah-ubah dan dapat dibentuk secara intensi.
Pengertian lebih lanjut adalah sifat jiwa yang pertama yang membentuk akhlak, akan tetapi suatu sifat yang masih primitive, yang tidak dapat dilengahkan dan dibiarkan begitu saja, bahkan wajib dididik dan diasuh.[49]
Dalam ilmu akhlak insting berarti akal pikiran. Akal dapat memperkuat akidah, namun harus dibekali dengan ilmu, amal dan takwa pada Allah. Di samping itu, banyak insting yang mendorong perilaku perbuatan yang menjurus kepada akhlaqul karimah maupun akhlaqul madzmumah, tergantung orang yang
mengendalikannya.[50]
b.  Keturunan
Sifat-sifat asasi anak merupakan pantulan sifat-sifat asasi orang tuanya. Kadang-kadang anak itu mewarisi sebagian besar dari salah satu sifat orang tuanya.
Dalam mewarisi sifat pokok dari kedua orang tua,si anak menerimanya tidak 100  persen,  sebab  antara  kedua  orang   tua  terkadang   memiliki  sifat   yang berlawanan.
Adapun sifat yang diturunkan orang tua terhadap anaknya itu bukanlah sifat yang tumbuh dengan matang    melainkan sifat-sifat bawaan (persediaan) sejak lahir.[51]
Sifa-sifat yang biasa diturunkan itu pada garis besarnya ada dua macam:
1)      Sifat-sifat jasmaniah, yakni sifat kekuatan dan kelemahan otot dan urat syaraf orang tua dapat diwariskan kepada anak-anaknya. Orang yang berbadan tinggi kemungkinan akan menurunkan kepada anaknya.
2)      Sifat-sifat rohaniah, yakni lemah dan kuatnya suatu naluri dapat diturunkan pula oleh orang tua yang kelak mempengaruhi tingkah laku anak cucunya71. Orang yang cerdas kemungkinan akan menurunkan kecerdasannya itu pada anaknya.
c.   Lingkungan
Lingkungan ialah ruang lingkup luar yang berinteraksi dengan insan yang dapat berwujud benda-benda seperti air, udara, bumi, langit dan matahari. Berbentuk selain benda seperti insan, pribadi, kelompok, institusi, system, undang-undang, dan adat kebiasaan.[52]
Lingkungan dapat memainkan peranan dan pendorong terhadap tingkah laku, karena dorongan lingkungan seseorang bisa berakhlaqul karimah, sebaliknya seseorang berakhlaqul madzmumah juga dari dorongan lingkungan yang dapat mempengaruhinya.
Lingkungan merupakan salah satu faktor pendidikan Islam yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap anak didik. Lingkungan yang dapat memberi pengaruh terhadap anak didik dapat dibedakan, yaitu:
1)      Lingkungan yang acuh tak acuh terhadap agama
2)      Lingkungan yang berpegang teguh kepada tradisi agama
3) Lingkungan yang mempunyai tradisi agama dengan sadar dan hidup dalam lingkungan agama.[53]
Jadi, bisa dilihat dengan siapa ia berhubungan, di mana beradaptasi, jika akal tidak bisa membedakan dan menempatkannya maka seseorang akan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya,
d.  Kebiasaan
Kebiasaan adalah setiap tindakan dan perbuatan seseorang yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan.[54]
Kebiasaan merupakan rangkaian perbuatan yang dilakukan dengan sendirinya, tetapi masih dipengaruhi oleh akal pikiran. Pada permulaan sangat dipengaruhi oleh pikiran, tetapi makin lama pengaruh pikiran itu makin berkurang karena sering dilakukan. Kebiasaan merupakan kualitas kejiwaan, keadaan yang tetap, sehingga memudahkan pelaksanaan perbuatan.[55]
Kebiasaan dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan yang baik mendukung kebiasaan yang baik sedangkan lingkungan yang buruk mendorong kepada perbuatan yang buruk.
Semua perbuatan yang baik dan buruk itu menjadi adat kebiasaan karena adanya kecenderungan hati terhadapnya dan menerima kecenderungan tersebut dengan disertai perbuatan yang berulang-ulang.[56]
e.   Kehendak
Kehendak, yaitu fungsi jiwa untuk dapat mencapai sesuatu yang merupakan kekuatan dari dalam hati, bertautan dengan pikiran dan perasaan. Kehendak merupakan salah satu fungsi kejiwaan dari kekuatan aktifitas jiwa, suatu kekuatan yang dapat melakukan gerakan, kekuatan yang timbul dari dalam jiwa manusia. Melakukan suatu perbuatan yang diingini maupun yang dihindari itu dinamakankehendak.[57]
Kehendak mempunyai dua macam perbuatan, yaitu sebagai berikut:
1)      Perbuatan yang menjadi pendorong, yakni kadang-kadang mendorong kekuatan manusia supaya berbuat seperti membaca, mengarang atau pidato.
2)      Perbuatan menjadi penolak, terkadang mencegah perbuatan tersebut seperti melarang berkata atau berbuat.[58]
Kehendak masih dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan, begitu juga sebaliknya pikiran dan perasaan dipengaruhi oleh kehendak dalam suatu perbuatan, meskipun perbuatan itu dinilai baik atau buruk.
f.    Pendidikan
Pendidikan sangatlah besar sekali pengaruhnya terhadap perubahan sikap seseorang. Berbagai ilmu diperkenalkan agar siswa memahaminya dan dapat melakukan suatu perbuatan pada dirinya. Semula anak tidak mengerti bagaimana perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia di dunia ini. Dengan adanya ilmu akhlak maka memberitahu bagaimana seharusnya manusia bertingkah laku, bersikap terhadap Allah dan terhadap sesamanya.
Demikian strategisnya fungsi pendidikan dalam merubah prilaku yang kurang baik untuk diarahkan menuju prilaku yang baik. Maka dibutuhkan beberapa unsur dalam pendidikan untuk bisa dijadikan agen perubahan sikap dan prilaku manusia.
Dari pendidik perlu memiliki kemampuan profesionalitas dalam bidangnya. Dia harus mampu memberi wawasan, materi, mengarahkan dan membimbing anak didiknya hal yang baik.[59]
Unsur lain yang perlu diperhatikan adalah materi pengajaran. Apabila materi pengajaran yang disampaikan oleh pendidik menyimpang dan mengarah keperubahan sikap yang menyimpang, inilah suatu keburukan pendidikan. Tetapi sebaliknya, apabila materinya baik dan benar setidaknya siswa akan terkesan dalam sanubari pribadinya, bekasan materi tersebut akan memotivasi bagaiman harus bertindak yang baik dan benar.[60]
Dalam dunia pendidikan, khususnya sekolahan merupakan tempat berkumpulnya berbagai semua watak, perilaku dari masing-masing anak berlainan, ada yang nakal dan adakalanya mempunyai sifat yang baik dan sopan. Kondisi yang sedemikian rupa, dalam berinteraksi antara anak satu dengan yang lainnya dapat saling mempengaruhi prilakunya, yang semula anak itu baik bisa terpengaruh oleh temannya yang mempunyai sifat buruk, dan sebaliknya anak yang awalnya mempunyai sifat buruk bisa terpengaruh oleh temannya yang mempunyai sifat baik sehingga mempunyai sifat baik dalam berperilaku.

B. Pembahasan tentang Prestasi Belajar
1.   Pengertian Prestasi Belajar
Seluruh aktifitas manusia untuk memiliki tujuan tertentu, dalam rangka untuk mencapai tujuan tersebut selalu disertai dengan pengumpulan dan penilaian sebagai tolak ukur keberhasilan dalam mencapai tujuan tersebut. Demikian pula dalam proses belajar mengajar, senantiasa diadakan pengukuran dan penilaian terhadap proses belajar mengajar tersebut agar dapat diketahui hasil atau prestasi belajar siswa.
Dengan mengetahui prestasi belajar anak, akan diketahui pula kedudukan anak di dalam kelas, apakah siswa tersebut termasuk anak pandai, sedang, atau kurang. Prestasi belajar ini biasanya dinyatakan dalam bentuk angka atau huruf dalam raport.
Arti kata prestasi menurut Poerwodarminto dalam bukunya kamus umum bahasa indonesia adalah hasil yang dicapai, dilakukan atau dikerjakan. Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai dalam belajar, dalam kata lain prestasi belajar adalah hasil pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh siswa selama mengikuti pembelajaran yang dinyatakan dalam bentuk angka atau huruf. Prestasi belajar dapat dievaluasi melalui pengamatan, lisan maupun tulisan yang biasanya dievaluasi dalam bentuk raport. Dan raport inilah yang dijadikan rumusan terakhir yang diberikan oleh guru mengenai kemajuan atau hasil belajar murid-muridnya selama masa tertentu.
Setiap siswa ingin agar prestasi belajar yang diperolehnya baik. Oleh karena itu mereka perlu mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dalam mencapai prestasi belajar yang diinginkan.

2. Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
Adapun faktor-faktor tersebut menurut Drs. H. Abu Ahmadi dan Drs. Widodo Supriyono adalah berasal dari dalam diri siswa (faktor intern) maupun dari diri luar siswa (faktor ekstern).
Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu :
a.   Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri anak itu sendiri, menurut Ngalim Purwanto, faktor ini meliputi :
1)      Faktor   fisiologis,   yaitu   bagaimana   kondisi   fisik,   panca   indra   dan sebagainya.
2)      Faktor psikologis yaitu minatnya, tingkat kecerdasannya, motivasi dan lain
sebagainya.[61]
Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan sebagai berikut :
1)  Faktor fisiologis
Faktor fisiologis adalah sebagaimana kondisi fisik dan kondisi indranya. Dan diantara faktor fisiologis yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah kondisi fisik dan alat indranya.
a)   Kondisi fisik
Keadaan fisik atau jasmani yang sehat akan membantu aktifitas siswa. Sebagaimana oleh Sumadi Suryabrata dikatakan bahwa “keadaan jasmani pada umumnya dikatakan melatarbelakangi kegiatan belajar”[62]
b)   Alat indra
Alat indra (panca indra) dapat dimisalkan sebagai gerbang masuknya pengaruh kedalam individu. Orang mengenal dunia sekitarnya dan belajar dengan menggunakan alat indra. baik dan berfungsinya alat indra merupakan syarat agar alat belajar itu berlangsung dengan baik.[63]
Orang memiliki alat indra sehat akan lebih baik dari pada mereka yang sakit. Hal tersebut disebabkan adanya pihak yang bisa menangkap dan bisa memahami belajar terhadap pelajaran yang diajarkan, sedang mereka yang sakit kurang bisa memahami dan menangkap pengetahuan yang diberikan.
2)  Faktor Psikologis
Faktor psikologis adalah minat, tingkat kecerdasan, motivasi, bakat, emosi serta sikap mental. Faktor psikologis yang memberikan kondisi tertentu pada peristiwa belajar sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar, antara lain :

a)   Minat

Minat adalah “kemampuan untuk memberikan stimulus yang mendorong kita untuk memperhatikan seseorang, suatu barang atau kegiatan”.[64]
b)   Tingkat kecerdasan (intelgensi)
Intelegensi merupakan salah satu faktor yang besar, pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar anak. Setiap individu memiliki intelgensi yang berbeda. Ada yang pintar, agak pintar, ada yang biasa-biasa saja, bahkan ada yang bodoh.hal ini biasanya dipengaruhi oleh heriditas ayah dan ibunya.
Zakiah Darajat menyatakan :
“Kecerdasan   itu   memang   diwarisi,   kecerdasan   seseorang   anak dipengaruhi oleh kecerdasan ibu bapaknya atau oleh nenek moyangnya sesuai   dengan   hukum   warisan   atau   keturunan,   maka   orang   cerdas kemungkinan besar anaknya akan cerdas pula”[65]
Jadi pada dasarnya faktor tingkat keturunan ini berperan sekali sedang perkembangan   selanjutnya   tergantung   pada   kesempatan   lingkungan   dalam mencapai perkembangan yang semaksimal mungkin, selama masih ada jalan yang memberi kesempatan dan kondisi yang menunjang.
c)   Motivasi
“Motivasi adalah sebagai sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu”[66]
Untuk bisa belajar dengan baik seseorang perlu motivasi, maksudnya dengan adanya motivasi, baik yang diberikan oleh orang tua, guru, atau timbul dari diri sendiri, merasa butuh terhadap pelajaran yang diberikan maka seseorang akan berusaha bersungguh-sungguh untuk mempelajari sesuatu.
d)   Bakat
Bakat adalah salah satu diantara beberapa faktor psikologis yang berupakemampuan manusia untuk melakukan keinginan yang telah ada sejak anak itu lahir termasuk salah satu faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar anak.
Masalah bakat ini dapat dilihat melalui beberapa anak disekolah, diantara mereka ada yang berprestasi lebih tinggi dari yang lain untuk mata pelajaran tertentu.
Anak-anak yang memiliki daya prestasi yang tinggi untuk mata pelajaran tertentu itu karena mereka memiliki bakat pada mata pelajaran tertentu tersebut.
Dari definisi tersebut dapat diambil pengertian bahwa bakat yang dibawa anak sejak lahir mempunyai peranan yang sangat besar dalam pertumbuhan selanjutnya. Dengan demikian menunjukan bahwa masing-masing individu mempunyai bakat yang berbeda. Ketidaksamaan ini akan menentukan seseorang berhasil dalm belajarnya semua itu tergantung dalam usaha pengembangan yang sesuai dengan bakatnya.

e)   Emosi

Yang dimaksud dengan emosi adalah suatu perasaan anak dalam situasi belajar. Emosi juga merupakan salah satu faktor psikis yang dapat mempengaruhi terhadap prestasi belajar anak.
Kelangsungan belajar anak atau siswa yang bersikap efektif sangat diperlukan adanya sikap emosi atau perasaan tenang dan stabil. Dengan demikian anak akan merasa lebih mudah dalam menerima dan memahami bahan pelajaran yang disajikan, sebagai hasil belajarnya sesuai dengan yang diharapkan.
f)   Sikap mental                                                                                                   
Sikap mental merupakan sikap psikologi yang tidak kalah pentingnya dengan faktor kecerdasan atau intelgensi. Tanpa kesedian sikap mental siswa pada umumnya tidak akan bertahan terhadap berbagai kesulitan yang akan selalu dijumpai selama belajar.
b.  Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor yang sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa yang berasal dari luar diri anak seperti kebersihan rumah, udara yang panas, lingkungan dan sebagainya.
Adapun faktor-faktor yang termasuk dalam faktor ekstern ini antara lain adalah : lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat:
1)  Lingkungan keluarga
Lembaga pendidikan keluarga merupakan pendidikan yang pertama, tempat anak didik pertama-tama menerima pendidikan dan bimbingan dari orang tuanya atau keluarga lainnya.didalam keluarga inilah tempat meletakkan dasar-dasar kepribadian anak didik pada usia yang masih muda, karena pada usia-usia ini anak lebih peka terhadap pengaruh dari pendidiknya (orang tuanya dan anggota yang lainnya).[67]
Lingkungan merupakan tempat dimana anak banyak terlibat dalam pergaulan didalamnya. Sebagian besar waktunya berada ditengah-tengah keluarga oleh karena itu faktor kehidupan turut menentukan keberhasilan belajar anak. Anak tergantung pada orang tua baik moral maupun materialnya. Orang tua harus selalu berusaha memahami sekaligus membimbing anaknya dengan bijaksana. Mengingat hubungan antara anak dengan orang tua tidak terbatas pada kewibawaan sebagai pendidik dan terdidik, tetapi lebih jauh dari itu ada hubungan kasih sayang yang sangat kuat.
Adapun sebab-sebab yang mempengaruhi prestasi belajar anak yang ditimbulkan dari lingkungan keluarga antara lain :

a)   Status Sosial Ekonomi

Dalam hubungannya dengan kegiatan belajar anak tidak lepas dari status
ekonomi orang tua, karena anak membutuhkan biaya, peralatan dan prasarana sebagai penunjang keberhasilan belajar anak. Bila ekonomi keluarga tidak memungkinkan, kadang kala menjadi penghambat anak dalam belajar. Maka anak diberi pengertian. Namun bila keadaan memungkinkan hendaknya apa yang diperlukan anak dipenuhi, sehingga mereka dapat belajar dengan tenang.

b)   Tingkat Pendidikan Orang Tua

Orang tua adalah sebagai pendidik pertama dan utama bagi anaknya ini
tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan pendidikan yang lainnya oleh karena itu pengetahuan secara mendidik anak yang sesuai dengan tingkat perkembangan anakpun perlu dimiliki. Hal ini dimaksudkan agar pendidikan yang dilaksanakan secara informal tersebut akan dapat berhasil dengan baik.
Bagi orang tua yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi mempunyai pengetahuan yang luas dalam mendidik anaknya. Segala keperluan pendidikan anak telah diperhitungkan mulai dari pemnerian bimbingan, pengawasan, penyediaan fasilitas belajar dan mengerti pentingnya belajar secara teratur.
Sedangkan orang tua yang berpendidikan rendah atau tidak berpendidikan sama sekali biasanya kurang mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh anak-anaknya atau akan sulit memberikan pengarahan kepada anak dalam belajar.dan hal ini disebabkan mereka belum perna mendapatkan teori untuk memecahkan persoalan atau permasalahan. Jadi anak yang berasal dari keluarga yang berpendidikan tinggi prestasi belajarnya cenderung baik. c)   Bimbingan Belajar Orang Tua
Dalam kegiatan belajar kadang kala anak dihadapkan pada program-program yang tidak mampu dipecahkan sendiri, dalam hal ini peran orang tua untuk memberikan bimbingan sangat diharapkan oleh anak, khususnya dalam belajar sebab kemungkinan anak akan banyak mengalami kesulitan belajar. Untuk itu orang tua perlu mengenal kesulitan-kesulitan anak dalam belajar, dengan begitu orang tua dapat membantu persoalan anak, maka anak akan merasa dihargaisehingga akan membuat anak menjadi lega dan tenang karena ada yang memperhatikan mereka.
Sebagai konsekwensinya anak akan belajar dengan tekuntanpa merasa ada beban menghantuinya. Berdasarkan hal ini maka selaku orang tua perlu senantiasa menambah pengetahuan agar anak mudah bertanya apabila mereka menemukan kesulitan dalam belajarnya. Jelaslah bahwa bimbingan belajar yang diberikan orang tua mempunyai pengaruh yang besar terhadap berhasilnya proses belajar mengajar anak.
d)  Suasana Rumah Tangga
Keadaan rumah tangga dilihat dari suasana dirumah, maka ada keluarga yang tenang ada keluarga yang ribut atau cekcok suasana rumahnya. Dalam keluarga, apabila suasana rumah sangat ramai atau gaduh dan kacau tidak mungkin anak belajar dengan baik. Anak akan terganggu konsentrasinya pada buku pelajaran.
Demikian pula suasana rumah yang selalu tegang, hubungan diantara keluarga kurang harmonis, maka akan menjadikan anak selalau sedih dan tidak bersemangat dalam belajar dan lebih jauh lagi akibatnya anak akan tidak betah tinggal dirumah. Suasana yang tenang tentu lebih menjamin anaknya bisa belajar dengan baik daripada suasana yang kacau akan menghilangkan konsentrasinya. Sehubungan dengan itu Dr. Zakiah Darajat mengatakan :
“Jika didapati anak-anak bodoh disekolah, tidak mau belajar, pelupa dan sebagainya belum tentu akibat dari kecerdasannya yang terbatas,akan tetapi    mungkin    sekali(dan    ini    banyak    terjadi)    ia    tidak    mampu menggunakan kecerdasannya, bukan karena bodohnya tapi karena tidak ada ketenangan jiwa si anak, disebabkan karena ibu bapaknya”.[68]
Suatu kehidupan keluarga yang baik, sesuai dan tetap menjalankan agama  yang dianutnya merupakan persiapan yang baik untuk memasuki pendidikansekolah, oleh karena itu melalaui suasana keluarga yang demikian itu tumbuh perkembangan  efektif  anak  secara   “benar”  sehingga  ia  dapat   tumbuh  dan berkembang secara wajar. Keserasian yang pokok harus terbiasa adalah keserasian antara ibu dan ayah, yang merupakan komponen pokok dalam setiap keluarga.
Seorang ibu secara intuisi mengetahui alat-alat pendidikan apa yang baik dan dapat di gunakan. Sifatnya yang halus dan perasa itu merupakan imbangan terhadap sifat seorang ayah. Keduanya merupakan unsur yang saling melengkapi dan isi mengisi yang membentuk suatu keserasian dan keseimbangan dalam kehidupan suatu keluarga.[69]
Untuk itu suasana rumah hendaknya dibuat menyenangkan, tentram, damai dan penuh kasih sayang agar anak betah tinggal dirumah. Keadaan ini akan sangat menguntungkan bagi prestasi anak disekolah. e)   Tersedianya Fasilitas Belajar
Penyediaan fasilitas belajar anak dirumah erat kaitannya dengan kondisi sosial ekonomi orang tua. Bagi orang tua yang mempunyai penghasilan yang memadai maka ia akan menyediakan fasilitas belajar anak yang memadai, sebaliknya orang tua yang memiliki ekonomi yang rendah akan sulit memenuhi kebutuhan-kebutuhan belajar anak.
Seorang anak yang duduk dibangku sekolah jelas tidak akan dapat memperoleh prestasi belajar dengan baik, jika alat-alat belajar yang menunjang pendidikannya tidak lengkap. Ketidak lengkapan alat-alat atau bahan-bahan yang diperlukan anak menjadi penghalang baginya untuk belajar. Lebih jauh lagi akan menyebabkan tertekannya bathin anak jika ia membandingkan dirinya dengan kawannya sekelas, konsentrasi pikirannya tidak dapat dipusatkannya kepada pelajaran atau belajarnya.
Kurang lengkapnya buku-buku yang diperlukan anak-anak akan menyebabkan malas belajar, dan menghalanginya untuk belajar dengan sungguh-sungguh bila buku-buku yang diperlukannya sebagai alat penunjang tidak pernah ada atau tidak lengkap.
Oleh karena itu perlu kiranya orang tua memikirkan kelengkapan buku-buku anaknya. Dengan demikian juga alat-alat tulis lainnya seperti : pensil, bulpen, stip, dan lainnya yang berguna dalam menunjang dalam kelancaran pendidikan anak. Percuma saja menyuruh anak belajar dengan rajin bila alat untuk belajar tidak pernah disediakan baginya. Tapi mengingat fasilitas belajar sangat dibutuhkan anak dalam belajar, untuk itu orang tua harus berusaha menyediakan meskipun sederhana.

3.   Perlunya Peningkatan Prestasi Belajar Siswa
Masalah dasar dan tujuan pendidikan adalah merupakan suatu masalah yang sangat fondamentil dalam pelaksanaan pendidikan. Sebab dari dasar pendidikan itu akan menentukan corak dan isi pendidikan. Dan dari tujuan pendidikan akan menentukan kearah mana anak didik itu dibawa.
Masalah pendidikan itu merupakan masalah yang sangat penting dalam kehidupan. bukan saja sangat penting, bahkan masalah pendidikan itu sama sekali tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Baik dalam kehidupan keluarga, maupun dalam kehidupan bangsa dan negara.. maju mundurnya suatu bangsa sebagian ditentukan oleh maju mundurnya pendidikan di negara itu.
Mengingat pentingnya pendidikan itu bagi kehidupan bangsa dan negara, maka hampir seluruh negara didunia ini menangani secara langsung masalah-masalah yang berhubungan dengan pendidikan. Dalam hal ini masing-masing negara itu menentukan sendiri dasar dan tujuan pendidikan dinegaranya. Masing-masing bangsa mempunyai hidup sendiri, yang berbeda-beda satu dengan yang lain.
Demikian pula masing-masing orang mempunyai bermacam-macam tujuan pendidikan, yaitu melihat kepada cita-cita, kebutuhan dan keinginannya. Ada yang mengharapkan supaya anaknya kelak menjadi orang besar yang berjasa kepada nusa dan bangsa ada yang menginginkan anaknya menjadi dokter, insinyur atau seorang ahli seni. Dan ada pula yang mengharapkan supaya anaknya menjadi ulama besar, panglima perang dan lain-lain.
Semua itu tergantung kepada tiap-tiap orang untuk mengarahkan anaknya agar tercapai hajatnya itu. Berhasil tidaknya tiap-tiap orang ada sangkut pautnya dengan bakat dan kadang-kadang keinginannya itu tidak sesuai dengan pembawaanya, maka sukarlah akan mencapai tujuannya.
Maka hal ini perlu adanya peningkatan prestasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam menghadapi :
1)  Tantangan Zaman
Mengingat pendidikan adalah proses hidup dan kehidupan manusia, maka tujuannya pun mengalami perubahan dan perkembangan zaman. Dalam hal ini, dituntut untuk senantiasa siap memberi hasil guna, baik bagi keperluan menciptakan dan mengembangkan ilmu-ilmu baru, lapangan-lapangan kerja baru,
maupun   membina   sikap   hidup   kritis   dan   pola   tingkah   laku   baru   serta kecenderungan-kecenderungan baru.[70]
Dalam tuntutan zaman sejak awal penyebarannya didunia ini adalah mengajak dan mendorong manusia agar bekerja keras mencari kesejahteraan hidup dengan supaya mungkin meningkatkan dalam berbagai bidang, salah satunya adalah segi pendidikan agama dimana dengan keadaan yang semakin bersaing maka ia harus mampu dan siap dalam menghadapi berbagai tuntutan zaman.
2)  Masa Depan
Dalam hal pendidikan masyarakat bersikap positif terhadap pendidikan. Hal ini terlihat dari membanjirnya anggota-anggota masyarakat yang ingin memasuki lembaga-lembaga pendidikan dari segala tingkah dan jenis. Dari celah-celah aspirasi masyarakat tersebut pendidikan yang sangat membesarkan hati ini masih terlihat adanya anggota-anggota masyarakat yang masih mempunyai sikap yang kurang menguntungkan pendidikan dalam mewujudkan tugas dan fungsinya.
Mereka menganggap bahwa tujuan pendidikan adalah untuk memajukan perkembangan pendidikan yang mempengaruhi kehidupan masyarakat dengan memberikan ilmu, keterampilan, pendidikan akal, budi pekerti dan kerohanian kepada anak didik atau generasi muda yang langsung atau tidak langsung menentukan jenis pekerjaanya dikemudian hari : profesinya akan menempatkan dia pada tingkat sosial ekonomi tertentu dan mempengaruhi perkembangan seterusnya.   Di   negara-negara   yang   sedang   berkembang,   program-program
pembangunan termasuk program pendidikan di arahkan kepada perbaikan mutu hidup. Pemerintahan dan masyarakat percaya bahwa hanya dengan pendidikanlah negara akan mencapai kemajuan-kemajuan. Dengan pendidikan dapat dihasilkan bentuk kehidupan masyarakat yang lebih baik karena dilengkapi dengan ahli-ahli dari berbagai bidang seperti industri dan teknologi, kesehatan, pertanian, keuangan, manajemen, dan ahli pendidikan.
Pendidikan bukan lagi milik golongan atau kelompok masyarakat tertentu di negara-negara ini dan karena itu aspirasi masyarakat terhadap pendidikan menjadi semakin tinggi.
Pendidikan merupakan salah satu alat yang paling efektif untuk menaikkan status sosial seseorang..seorang petani melihat bahwa putranya menjadi seorang dokter melalui pendidikan yang baik.

C. Hubungan Antara Ahlak Dengan Prestasi Belajar
Sebagaimana yang telah peneliti paparkan pada bagian terdahulu bahwa untuk mendapatkan prestasi belajar yang baik maka faktor-faktor penentu tercapainya prestasi belajar haruslah terpenuhi termasuk faktor internal dari seseorang yakni fisiologi dan psikologi yang meliputi perhatian, minat, bakat dan
motivasi.91
Dari hal tersebut diatas, maka akhlak sangat menentukan sekali terhadap keberhasilan serta prestasi belajar seseorang sebab akhlak mampu mendorong atau memotivasi seseorang untuk selalu kreatif dalam menciptakan hal yang baru, mendorong sifat mandiri atau tidak bergantung pada orang lain, mendorong sifat
optimis terhadap apa yang dikerjakan berdasarkan pertimbangan yang matang, mendorong sikap dinamis atau berpikir positif terhadap segala problematika, mendorong sifat aktif dalam merespon keadaan sekitarnya, mendorong sifat sabar dan tawakkal sehingga akhlak mampu menciptakan kestabilan mental atau psikologis seseorang untuk selalu memiliki semangat berprestasi dan tidak terpengaruh dengan berbagai masalah, tidak hanya itu, bahkan dia mampu menjadi motivator bagi yang lainnya.
Dengan demikian akhlak sangat mempengaruhi prestasi belajar seseorang.

BAB III
METODE PENELITIAN

A.  Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Madrasah Aliyah Negeri 1 Bulukumba. Penelitian dan pengambilan data dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Juni 2013 dan dilanjutkan dengan analisis data serta penulisan laporan akhir.
evaluasi diarahkan untuk pengambilan keputusan dan prosesnya terfokus pada aspek tertentu yang terkait dengan program yang sedang berjalan.

B. Populasi dan Sampel
"Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Sedangkan sampel adalah sebagian wakil populasi yang akan diteliti".[1]Dalam penelitian ini, yang menjadi populasi adalah siswa kelas VII Madrasah Aliyah Negeri 1 Bulukumba 2013. yang berjumlah 225 orang dari 3 kelas.
Rounded Rectangle: 49Dalam menentukan sampel yang diambil, penulis mengacu kepada pendapat Suharsimi Arikunto, yaitu : “Apabila subjeknya kurang dari 100 orang, lebih baik jumlah populasi tersebut diambil semuanya sehingga menjadi penelitian populasi, namun apabila jumlah sumbernya besar atau lebih dari seratus orang dapat diambil antara 10 – 15 % atau 20 – 25 % atau lebih".[2]Berdasarkan pendapat di atas, maka penulis hanya mengambil 17 % dari keseluruhan populasi tersebut, atau sebanyak 38 orang, dengan perhitungan sebagai berikut : 17 x 225 = 38,25 dibulatkan menjadi 38 100 orang.
Teknik penarikan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara acak (random sampling), "yaitu pengambilan atau penentuan ukuran jumlah anggota sampel dan teknik pemilihan anggota yang masuk ke dalam sampel tersebut dipilih secara acak".[3]
Pemilihan sampel ini penulis lakukan dengan sistem undi, yaitu dengan cara menuliskan nama-nama seluruh responden dalam potongan-potongan kertas, kemudian dikocok seperti arisan. Nama yang keluar yang kemudian penulis jadikan sebagai sampel.
C. Kriteria Evaluasi
Penentuan kriteria adalah hal yang penting dalam kegiatan evaluasi karena tanpa adanya kriteria evaluasi seorang evaluator akan kesulitan dalam mempertimbangkan suatu keputusan. Tanpa kriteria, pertimbangan yang akan diberikan tidak memiliki dasar. Karena itu, dengan menentukan kriteria yang akan digunakan akan memudahkan evaluator dalam mempertimbangkan nilai atau harga terhadap komponen program yang dinilainya, apakah telah sesuai dengan yang ditentukan sebelumnya atau belum.
Kriteria evaluasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti sebelum terjun ke lapangan mengumpulkan data. Kriteria ini dikembangkan dengan mengacu kepada kriteria yang sudah ditetapkan oleh Madrasah Aliyah Negeri 1 Bulukumba dan kajian pustaka yang relevan.
Penentuan keberhasilan program memerlukan suatu kriteria penilaian, kriteria penilaian meliputi:
1. Aspek Antecendent
Aspek antencendent ditujukan untuk karakteristik siswa, tenaga pengajar, sarana dan prasarana dan pengelolah pendidikan. Pembelajaran pada madrasah ma’arif dikatakan efektif apabila:
a.   Tersedia tenaga pengajar yang memiliki keahlihan sebagai guru dalam menunjang tugasnya sebagai pengajar.

b.    Tersedia    sarana   dan    prasarana    yang    dibutuhkan   dalam    proses

pembelajaran.
c.   Siswa yang mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar
2. Aspek Transaction
Aspek    Transaction    mencakup    seluruh    pelaksanaan    pembelajaran, komponen proses dikatakan efektif apabila:

a.   Pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru berjalan dengan

baik.
b.    Tingginya partisipasi siswa dalam pembelajaran
c.    Terjadinya hubungan antar pribadi yang baik dalam pembelajaran
3. Aspek Outcome
Penilaian outcome dilakukan pada akhir masa pembelajaran, komponen ini dikatakan efektif apabila:

a.   Siswa mampu mencapai prestasi akademik yang sesuai dengan target

pembelajaran
b.    Siswa mempunyai akhlak yang baik
D. Objek Penelitian
Adapun yang menjadi Objek penelitian dalam penelitian ini adalah Kepala Sekolah, Guru dan siswa dari Madrasah Aliyah Negeri 1 Bulukumba.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan suatu hal yang penting dalam suatu penelitian, yang bertujuan untuk mendapatkan data yang diperlukan. Pengumpulan data dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi Implementasi program pendidikan terkait dengan pembelajaran, sehingga didapatkan gambaran yang utuh tentang program.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner (angket), observasi, dokumentasi, dan wawancara. Angket merupakan seperangkat pertanyaan tertulis yang diberikan kepada siswa, dengan maksud untuk mengungkapkan pendapat, keadaan, kesan yang ada pada diri responden maupun di luar dirinya tentang karakteristik siswa, motivasi belajar, pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan guru, partisipasi siswa dan hubungan antar pribadi dalam pembelajaran. Observasi yang dilengkapi dengan pedoman observasi digunakan untuk mengungkapkan data tentang keadaan sarana dan fasilitas penunjang program pembelajaran. Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data tentang perangkat persiapan pembelajaran yang dilakukan guru, karakteristik guru dan prestasi akademik siswa. Wawancara digunakan untuk memperoleh data tentang tentang kondisi akhlak siswa dan data-data lain terkait dengan seluk beluk madrasah.
Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
Aspek antencendent, untuk mengumpulkan data tentang karakteristik siswa dan motivasi belajar siswa digunakan angket, dan untuk mengumpulkan data tentang persiapan pembelajaran maka digunakan dokumentasi terhadap rencana pengajaran, sedangkan untuk mengumpulkan data tentang ketersediaan sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan pembelajaran juga digunakan instrumen pedoman observasi tentang kesiapan bahan dan alat, kesiapan fasilitas ruangan dengan cara membubuhkan tanda cek (V) pada salah satu pernyataan yang tersedia.
Aspek transaction, untuk mengumpulkan data tentang pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan guru, partisipasi siswa dan hubungan antar pribadi yang digunakan adalah angket.
Aspek outcome, untuk mengetahui prestasi akademik siswa digunakan teknik dokumentasi terhadap hasil ujian semester dan prestasi non akademik peserta didik menyangkut aspek akhlak siswa di madrasah setelah dilakukan dengan cara wawancara dengan kepalah sekolah madrasah.
F. Uji Coba Instrumen
1. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Angket
Instrumen/angket kepada siswa yang akan digunakan dalam penelitian ini diujicobakan kepada 149 siswa Madrasah Aliyah Negeri 1 Bulukumba, yang dilaksanakan pada bulan April 2013. Sedangkan instrumen yang berupa angket kepada guru diberikan kepada 5 orang guru
Bukti validitas instrumen yang digunakan adalah validitas isi dan validitas konstruk. Untuk mengetahui validitas isi (content validity) instrumen dilakukan rational judgement, yaitu apakah butir tersebut telah menggambarkan indikator yang dimaksud. Untuk mengetahui bukti validitas konstruk instrumen dilakukan analisis faktor (Faktor Analysis) dengan program SPSS for Windows 11,0. Teknik analisis dengan program ini digunakan untuk mengetahui muatan faktor atas butir, mengetahui banyaknya faktor melalui ekstraksi. Secara empirik, validitas instrumen diteliti untuk melihat apakah instrumen tersebut telah mengukur apa yang seharusnya diukur menurut konstuk trait yang membentuknya (validitas konstruk).
Untuk mengetahui bukti validitas konstruk instrumen dilakukan analisis faktor (Factor Analysis) dengan program SPSS for Windows 11,0. Teknik analisis dengan program ini digunakan untuk mengetahui muatan faktor atas butir, mengetahui banyaknya faktor melalui ekstraksi. Secara empirik, validitas instrumen diteliti untuk melihat apakah instrumen tersebut telah mengukur apa yang seharusnya diukur menurut konstruk trait yang membentuknya (validitas konstruk). Validitas konstruk mengarah seberapa jauh suatu instrumen mengukur isi dan makna dari konsep atau konstruk teoritik.
Ada dua hal yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan analisis faktor. Pertama, matrik korelasi yang dihasilkan merupakan matrik korelasi yang tidak cacat, yang ditandai dengan angka indeks diterminant yang besarnya tidak sama dengan nol atau ditandai dengan nilai statistik uji Bartlett's Test of Sphericity dengan taraf signifikansi < 0,05. Kedua harga Kaiser-Meyer Olkin (KMO) lebih besar daripada 0,50.
Kriteria yang dijadikan dasar untuk melihat bukti validitas instrumen ujicoba di dasarkan atas konstruks trait yang membentuk varibel yang diukur pada instrumen ujicoba diasumsikan telah sesuai dengan konstruks trait yang seharusnya diukur. Menurut Kerlinger (1996: 1005), muatan faktor pada tiap-tiap butir minimal 0,30. Hal ini didasarkan pertimbangan bahwa muatan faktor < 0,30 menunjukkan adanya korelasi yang lemah, dengan demikian digugurkan.
Butir pengukur trait harus berdimensi tunggal, apabila ada satu butir yang mengukur lebih dari satu faktor, maka koefisien korelasi yang tertinggi pada salah satu faktor tersebut diasumsikan mengukur trait yang semestinya. Begitu pula apabila satu butir mengukur lebih dari satu faktor, dengan muatan faktor yang mendekati sama, butir tersebut tidak berdimensi tunggal, dengan demikian butir tersebut perlu direvisi atau digugurkan.
Sesuai dengan uraian di atas, untuk melihat bukti validitas instrumen yang peneliti buat, telah dilakukan ujicoba instrumen dan kemudian dilakukan pengolahan datanya dengan menggunakan program SPSS for windows 11.00.
Setelah mengetahui validitas instrumen, langkah berikutnya adalah menghitung reliabilitas instrumen. Reliabilitas internal diperoleh dengan cara mengujicobakan satu kali kemudian diestimasi dengan menggunakan formula Koefisien Alpha (a) Cronbach, yaitu untuk mengetahui besarnya koefisien reliabilitasnya. Dari analisis ini dapat diketahui apakah instrumen itu memiliki tingkat kehandalan yang tinggi atau tidak. Tinggi rendahnya kehandalan instrumen ini secara empirik dibuktikan dengan besarnya koefisien reliabilitas yang diperoleh berdasarkan hasil ujicoba instrumen.



[1] 2Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta : Rineka Cipta, 1996), h.115-117

[2] Ibid., h. 99

[3] Wardi Bachtiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, (Jakarta : Logos, 1997), h. 88


[1] Zahruddin AR, M. dan Hasanuddin Sinaga, Pengantar Studi Akhlak, PT. Raja GrafindoPersada, Jakarta 2004, Hal. 1
[2] Ibid, Hal. 2.
[3] Loc.cit
[4] Departemen Agama RI, Mushaf al-Qur’an dan Terjemahannya, Edisi Tahun 2012, al-Huda. Jakarta,2012. Hal.565
[5] HR Bukhori dalam Muhammad Jamaluddin Qosimi. Mauidhotul Mu’minin, Darul Kitab Al-Islami. Libanon 2005, Juz 2 Hal 3.

[6] Manan Idris, DKK. Reorientasi Pendidikan Islam , Hilal Pustaka: Pasuruan 2006 Hal. 107
[7] Soegarda Poerbakawatja, Ensiklopedi Pendidikan, Gunung Agung, Jakarta, Hal. 9. 19.
[8] . Manan Idris, DKK Op.cit. Hal 109

[9] M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an, AMZAH, Jakarta, 2007 Hal. 3

[10] Ibid, Hal. 4.
[11] Taufik Abdullah DKK,Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, PT Ichtiar Baru van Hoeve, Cetakan kedua, Jakarta, 2003, Hal. 326.

[12] Loc.cit

[13] Azyumardi Azra, Ensiklopedi Islam, PT Ichtiar Baru van Hoeve, Cetakan kesembilan, Jakarta, 2001, Hal. 102.

[14] M. Yatimin Abdullah, Op. cit, Hal. 4.

[15] Ibid, Hal. 198.
[16] Departemen Agama RI, Mushaf al-Qur’an dan Terjemahannya.Op.Cit.Hal.
[17] Ibid, Hal. 4.

[18] Depag, Op. cit, Hal. 62.

[19] M.Solihin dan M. Rosyid Anwar, Akhlak Tasawwuf, Penerbit Nuansa, Bandung,2005, Hal.96
[20] Departemen Agama RI, Mushaf al-Qur’an dan Terjemahannya.Op.Cit.Hal.
[21] 32 . Ibid. Hal. 200.
[22] Departemen Agama RI, Mushaf al-Qur’an dan Terjemahannya.Op.Cit.Hal.
[23]  A. Musthafa. Akhlak Tasawwuf, Pustaka Setia, Bandung, 1997. Hal. 159.

[24] Departemen Agama RI, Mushaf al-Qur’an dan Terjemahannya.Op.Cit.Hal.
[25] Loc.cit..

[26] Departemen Agama RI, Mushaf al-Qur’an dan Terjemahannya.Op.Cit.Hal.
[27] M. Yatimin Abdullah, Op. cit, Hal. 212.

[28] Departemen Agama RI, Mushaf al-Qur’an dan Terjemahannya.Op.Cit.Hal.
[29] Ibid. 216.

[30] Asmaran As. Pengantar Studi Akhlak, Cetakan ke-3, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002. Hal. 178

[31] Ibid. 178-179.

[32] Taufik Abdullah DKK. Op.cit. Hal. 331.

[33] Ibid. 223.

[34] Loc.cit..

[35] Asmaran As. Op. cit. Hal. 181

[36] Departemen Agama RI, Mushaf al-Qur’an dan Terjemahannya.Op.Cit.Hal.
[37] Departemen Agama RI, Mushaf al-Qur’an dan Terjemahannya.Op.Cit.Hal.
[38] Ibid. 25.
[39] A. Musthafa. Op. cit Hal. 197.

[40]Loc.cit..
[41] M. Yatimin Abdullah, Loc.cit..
[42] Ibid. Hal. 56.

[43] Taufiqurrahman dan Moch. Edy Siswanto, Akidah Akhlak, MDC Jatim, 2005, Hal: 68.

[44] Ibid. Hal.77.

[45] Ibid. Hal. 158..

[46] Departemen Agama RI, Mushaf al-Qur’an dan Terjemahannya.Op.Cit.Hal.
[47] Departemen Agama RI, Mushaf al-Qur’an dan Terjemahannya.Op.Cit.Hal.
[48] Departemen Agama RI, Mushaf al-Qur’an dan Terjemahannya.Op.Cit.Hal.
[49] . M. Yatimin Abdullah, Op. cit, Hal. 80-81.

[50] Zahruddin AR, M. dan Hasanuddin Sinaga, Op. cit, Hal.97.

[51] Zahruddin AR, M. dan Hasanuddin Sinaga, Op. cit, Hal.97-98.
[52] Ibid. Hal. 98.

[53] M. Yatimin Abdullah, Op. cit, Hal. 89.

[54] Zahruddin AR, M. dan Hasanuddin Sinaga, Op. cit, Hal.95.
[55] M. Yatimin Abdullah, Op. cit, Hal. 86.
[56] Ibid. Hal. 87.

[57] Ibid. Hal. 92.

[58] Loc.cit..

[59] A. Musthafa. Op. cit Hal. Hal 109-110.

[60] Ibid. Hal. 110.

[61] Ngalim Purwanto, Psikology Pendidikan, Penebit Remaja Karya CV, Bandung, 1988, Hal. 122
[62] Sumadi Suryabrata, Psikology Pendidikan, Penerbit Reneka Cipta, Jakarata, Hal. 251

[63] Ibid, Hal. 252

[64] Lester D. Crow dan Alice Crow, PH. D, Psikology Pendidikan, Buku I, Bina Ilmu, Hal. 351

[65] Zakiyah Darajad, Kesehatan Mental, Penerbit PT Gunung Agung, Jakarta, Hal. 20

[66] Ngalim Purwanto, Op.Cit, Hal. 69

[67] Zuhairini, dkk. Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1995, Hal. 177
[68] Zakiyah Darajad, Op. Cit, Hal. 21

[69] Loc.cit..
[70] Zuhairini, Op.Cit., Hal. 162


[1] Zahraddin AR, M. dan Hasanuddin Sinaga, Pengantar Studi Akhlak, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta 2004, Hal. 2

[2] Marian Idris, DKK. Reorientasi Pendidikan Islam , Hilal Pustaka, Pasuruan 2006, Hal. 109
[3] M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur 'an, AMZAH, Jakarta, 2007 Hal. 4

[4] Departemen Agama RI, Mushaf al-Qur’an dan Terjemahannya, Edisi Tahun 2012, al-Huda. Jakarta,2012. Hal.175
[5] Zahruddin AR, M. dan Hasanuddin Sinaga, Op.Cit., Hal. 80

[6] Ibid, hal. 15
[7] Desmita, Psikologi Perkembangan, PY. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006, Hal.206.
7Ibid.Hal. 208

[9]Ibid.Hal. 208

Labels: MAKALAH PENDIDIKAN

Thanks for reading PENGARUH AKHLAH TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA. Please share...!

0 Comment for "PENGARUH AKHLAH TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA"

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak

Back To Top