PEMIKIRAN FILSAFAT IBNU MISKAWAIH

      A. Biografi Ibnu Maskawaih      

IBNU MASKAWAIH
             Nama lengkap Ibn Miskawaih adalah Abu Ali Ahmad bin Muhammad bin Ya’qub bin Maskawaih. Ia lahir di Rayy (Teheran, ibu kota Republik Islam Iran sekarang) pada tahun 320 H/932 M dan wafat pada usia lanjut di Isfahan pada tanggal 9 Shafar 421 H/16 Pebruari 1030 M. Ibnu Maskawaih hidup pada masa pemerintahan dinasti Buwaihi di Baghdad(320-450 H/932-1062 M) yang sebagian besar pemukanya bermazhab Syi’ah.
Puncak prestasi kekuasaan Bani Buwaih adalah pada masa ‘Adhud Al-Daulah yang berkuasa tahun 367-372 H, perhatiannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kesusastraan amat besar, sehingga pada masa ini Maskawaih memperoleh kepercayaan untuk menjadi bendaharawan ‘Adhud Al-Daulah dan pada masa ini jugalah Maskawaih muncul sebagai seorang filosof, tabib, ilmuwan dan pujangga. Tetapi keberhasilan politik dan kemajuan ilmu pengetahuan pada masa itu tidak dibarengi dengan ketinggian akhlak, bahkan dilanda kemerosotan akhlak secara umum, baik dikalangan elite, menengah, dan bawah. Tampaknya hal inilah yang memotivasi Maskawaih untuk memusatkan perhatiannya pada etika Islam.
            Pada zaman raja ‘Adhudiddaulah, Ibu Maskawaih juga mendapat kepercayaan besar dari raja karena diangkat sebagai penjaga (khazin) perpustakaannya yang besar, disamping sebagai penyimpan rahasianya dan utusannya ke pihak-pihak yang diperlukan.[2] 

      B.     Riwayat Pendidikan Miskawaih


Dari segi latar belakang pendidikannya tidak dijumpai data sejarah yang rinci. Namun dijumpai keterangan, bahwa ia mempelajari sejarah dari Abu Bakar Ahmad Ibn Kamil al-Qadhi, mempelajari filasafat dari Ibn al-Akhmar, dan mempelajari kimia dari Abu Tayyib.[3] Karena leahliannya daam berbagai ilmu, Iqbal mengelompokkannya sebagai seorang pemikir, moralis, dan sejarawan Parsi paling terkenal.[4] Ibnu Maskawaih lebih terkenal dalam bidang filsafat dibandingkan dengan ilmu yang lain, apalagi karya beliau yang sangat terkenal adalah tentang pendidikan dan akhlak. Sehingga beliau lebih banyak menghabiskan waktunya untuk memikir dan belajar secara otodidak tanpa harus berguru kepada yang ahlinya.

Dalam bidang  pekerjaan Ibn Miskawaih adalah bendaharawan, sekretaris,  pustakawan, dan  pendidik anak para pemuka dinasti Buwahi. Selain akrab dengan  penguasa, ia juga banyak bergaul dengan ilmuan seperti Abu Hayyan  at-Tauhidi, Yahya Ibn  ‘Adi dan Ibn Sina. Selain itu Ibnu Miskawaih juga dikenal sebagai sejarawan  besar  yang  kemasyhurannya melebihi  para pendahulunya, at-Thabari (w. 310 H./ 923 M.)  selanjutnya  juga  ia dikenal sebagai dokter, penyair dan ahli bahasa. Keahlian Ibn Miskawaih dalam berbagai bidang ilmu tersebut antara lain dibuktikan dengan karya tulisnya berupa buku dan artikel.[5]
Ibnu Maskawaih seorang yang tekun dalam melakukan percobaan-percoabaan unuk mendapatkan ilmu-ilmu baru. Selain itu beliau dipercayakan oleh penguasa untuk mengajari dan mendidik anak-anak penjebat pemerintah, hal ini tentu menunjukkan bahwa ibnu maskawaih dikenal keilmuannya oleh masyarakat luas ketika itu.
Ibnu Miskawaih juga digelari Guru ketiga ( al-Mualimin al-Tsalits ) setelah al-Farabi yang digelari guru kedua ( al-Mualimin al-Tsani) sedangkan yang dianggap guru pertama (al-Mualimin al-Awwal ) adalah Aristoteles. Sebagai Bapak Etika Islam, beliau telah merumuskan dasar-dasar etika dalam kitabnya Tahdzib al-Akhlak wa Tathir al-A’raq (pendidikan budi dan pembersihan akhlak). Sementara itu sumber filsafat etika Ibnu Miskawaih berasal dari filasafat Yunani, peradaban Persia, ajaran Syariat Islam, dan pengalaman pribadi.[6] Ibnu Maskawaih adalah seoarang teoritis dalam hal-hal akhlaq artinya ia telah mengupas filsafat akhlaqiyah secara analisa pengetahuan. Ini tidaklah berarti bahwa Ibnu Maskawaih tidak berakhlaq, hanya saja persoalannya ditinjau dari segi pengetahuan semata-mata.

      C.    Hasil karya Ibnu Miskawaih 

Ibn Miskawaiah selain dikenal sebagai pemikir (filosuf), ia juga sebagai penulis produktif. Dalam buku The History of the Muslim Philosophy seperti yang dikutip oleh Sirajuddin Zar disebutkan beberapa tulisannya sebagai berikut:
a.       Al Fauz al Akbar
b.      Al Fauz al Asghar
c.       Tajarib al Umam (sebuah sejarah tentang banjir besar yang ia tulis pada tahun   369 H/979 M)
d.      Uns al Farid (Koleksi anekdot, syair, pribahasa, dan kata-kata hikmah)
e.       Tartib al Sa`adat (tentang akhlak dan politik)
f.       Al Mustaufa (tentang syair-syair pilihan)
g.      Jawidan Khirad (koleksi ungkapan bijak)
h.      Al Jami`
i.        Al Siyab
j.        Kitab al Ashribah
k.      Tahzib al Aklaq
l.        Risalat fi al Lazzat wa al Alam fi Jauhar al Nafs
m.    Ajwibat wa As`ilat fi al Nafs wa al `Alaq
n.      Thaharat al Nafs dan lain-lain.[7]
Menurut Ahmad Amin sebagaimana dikutip oleh Abuddin Nata, bahwa semua karya Ibn Miskawaih tidak  luput dari kepentingan filsafat dan akhlak. Sehubungan dengan itu Ibnu Miskawaih dikenal sebagai moralis.[8]

      D.    Pemikiran Filsafat Ibnu Miskawaih

Sama dengan para tokoh islam yang lain, pemikiran ibnu maskawaih juga sangat bermanfaat untuk manusia pada umunya dan umat Islam pada khususnya. Namun pemikiran beliau adalah:
1. Metafisika
a. Ketuhanan
Tuhan menurut Ibnu Maskawaih adalah zat yang tidak berjisim, Azali, dan Pencipta. Tuhan Esa dalam segala aspek. Ia tidak terbagi-bagi dan tidak mengandung kejamakan dan tidak satu pun yang setara dengan-Nya. Ia ada tanpa diadakan dan ada-Nya tidak bergantung kepada yang lain. Sementara yang lain membutuhkan-Nya.[9] Kalau dilihat sekilas pemikiran Ibnu maskawaih ini sama dengan pemikiran Al-kindi.  
Menurut De Boer dalam bukunya Tarikh al-Falsafat fi Islam disana ibnu maskawaih menyatakan, Tuhan adalah zat yang jelas dan zat yang tidak jelas. Dikatakan zat yang jelas bahwa ia adalah yang hak (Benar). Yang benar adalah terang. Dikatakan tidak jelas karena kelemahan akal pikiran kita untuk menangkapnya, disebabkan banyak dinding-dinding atau kendala keberadaan yang menutupi-Nya.[10] Pendapat ini bisa diterima karena wujud manusia berbeda dengan wujud Tuhan.
b. Emanasi
Sebagaimana Al-farabi, Ibnu Maskawaih juga menganut faham Emanasi yakni Allah menciptakan alam secara pancaran, namun Emanasi nya ini berbeda dengan Emanasi Al Farabi. Menurut nya entitas pertama yang memancarkan dari Allah ialah ‘aql Fa’al’ ( akal aktif ). Akal aktif ini timbullah jiwa dan dengan perantaraan jiwa pula timbullah planet (al-falak). Pancaran yang terus-menerus dari Allah dapat memelihara tatanan alam ini. Andaikan Allah menahan pancaran-Nya, maka akan terhenti kemajuan dalam alam ini.
Dari Akal Aktif ini timbullah jiwa dan dengan perantaraan jiwa pula timbullah planet. Pelimpahan atau pemancaran yang terus menerus dari Allah dapat memelihara tatanan didalam alam ini. Andaikan Allah menahan pancaran-Nya, maka akan berhenti kemaujudan dalam alam ini. Berikut perbedaan emanasi antara Al-Farabi dan Ibnu Maskawaih, yaitu:
1. Bagi Ibnu Maskawaih, Allah menjadikan alam ini secara pancaran ( emanasi ) dari tiada menjadi ada. Sementara itu, menurut Al-farabi alam dijadiakan Tuhan secara pancaran (emanasi) dari sesuatu atau bahan yang sudah ada menjadi ada.
2. Bagi Ibnu maskawaih ciptaan Allah yang pertama ialah Akal Aktif. Sementara bagi Al-farabi ciptaan Allah yang pertama ialah Akal pertama dan Akal Aktif adalah akal kesepuluh.[11]
                           c. Tentang Kenabian              
Sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Miskawaih juga Menginterpretasikan kenabian secara Ilmiah.Usahanya ini dapat memperkecil perbedaan antara nabi dan pilosof dan memperkuat hubungan dan keharmonisan antara akal dan wahyu.Menurut Ibnu Miskawaih,nabi adalah seorang muslim yang memperoleh hakikat hakikat kebenaran  seperti ini juga  diperoleh oleh para pilosof. Perbedaannya hanya terletak pada tehnik memperolehnya.[12]

d. Tentang Jiwa
    Kata jiwa berasal dari bahasa arab (النفس) atau nafs’ yang secara harfiah bisa diterjemahkan sebagai diri atau secara lebih sederhana bisa diterjemahkan dengan jiwa.[13] Para filsuf Islam memandang jiwa merupakan sesuatu yang mengandung daya yang terdapat dalam diri manusia.[14].Pada manusia itu terdapat materi tubuh dan jiwanya. Tubuh dan jiwa itu mempunyai perbedaan.
Jiwa, menurut Ibnu Miskawaih, adalah jauhar rohani yang tidak hancur  dengan sebab kematian jasad. Ia adalah satu kesatuan  yang tidak dapat terbagi bagi.ia akan hidup selalu ia tidak dapat diraba dengan panca Indra karena ia bukan jism dan bagian dari jisim.jiwa dapat menangkap keberadaan zatnya dan mengetahui keaktivitasnya.[15] Ibnu Maskawaih untuk memahami tentang jiwa beliau membedakan antara jiwa dan materi, jiwa sebagaimana dapat dipahami lebih condrong kepada yang tidak dapat ditangkap dan diraba sedangkan materi adalah yang berbentuk dan memiliki berbagai unsur yang dapat diraba, selanjutnya materi dapat dilihat dengan panca indra sebaliknya jiwa manusia itu sendiri artinya jiwa tidak dapat bermateri, sekalipun ia bertempat pada materi, karena materi  hanya menerima satu bentuk dalam waktu tertentu.
Ibn Miskawaih dalam kitab Tahzib al-Akhlaq, menggambarkan bagaimana bahwa jika daya-daya jiwa manusia bekerja secara harmonis dan senantiasa merujuk pada akal dapat melahirkan perbuatan-perbuatan moral yang akan menguntungkan bagi manusia dalam kehidupannya di dunia. Stabilitas fungsi daya-daya jiwa ini pun sangat tergantung pada factor pendidikan yang sedemikian rupa akan membentuk tata hubungan fungsional daya-daya jiwa dalam membuat keputusan-keputusan yang memang diperlukan manusia dalam  merealisasikan nilai-nilai moral dalam kehidupan. Dan oleh karena penjagaan kerja akal agar selalu berjalan sesuai dengan naturalnya merupakan prasyarat bagi perwujudan nilai-nilai moral, maka pembinaannya merupakan suatu kemestian dalam dunia pendidikan. [16]
Sehubungan dengan kualitas dari tingkatan-tingkatan jiwa yang tiga macam tersebut, Ibn Miskawaih mengatakan bahwa jiwa yang rendah atau buruk (al-Nafs al-Bahimiyyah, nafsu kebinatangan) mempunyai sifat-sifat: ujub, sombong, pengolok-olok, penipu dan takabur. Sedangkan jiwa yang cerdas (an-Nafs an-Nathiqah) mempunyai sifat adil, harga diri, berani, pemurah, benar dan cinta.[17]
2. Dasar-dasar Etika
Ibnu Maskawaih juga digelari sebagai guru yang ketiga sesudah Aristoteles sebagai guru pertama dan Al-Farabi sebagai guru yang kedua. Ibnu Maskawaih dianggap sebagai guru etika salah satunya adalah karangan beliau yang berjudul Tahzibul Akhlak (Pendidikan Budi) yang sudah dipakai oleh para pakar pendidikan agama islam untuk dijadikan teori terutama tentang adab manusia. Sementara itu sumber filsafat etika ibnu Miskawaih berasal dari filsafat Yunani, peradaban Persia, ajaran Syariat Islam, dan pengalaman pribadi. Dalam menjelaskan Etika Islam Menurut Ibn Miskawaiah, akan dijelaskan poin-poin penting yang relevan dengan pembahasan ini.
a. Pengertian Akhlak
Akhlak menurutnya adalah suatu sikap mental atau keadaan jiwa yang mendorongnya untuk berbuat tanpa pikir dan pertimbangan. Sementara tingkah laku manusia terbagi menjadi dua unsur, yakni unsur watak naluriah dan unsur kebiasaan dan latihan.[18] Ibnu Maskawaih adalah seorang moralis terkenal. Hampir setiap pembahasan akhlak dalam Islam, filsafatnya selalu mendapat perhatian utama. Akhlak adalah jamak dari khuluq yang artinya sikap, tindakan, tindak-tanduk dan sikap, inilah yang akan membentuk sikap kita dan inilah yang bisa dikomentar oleh orang lain berbeda dengan khalq atau ciptaan karena tidak bisa dikomentar dalam artian langsung ciptaan Allah swt semata seperti fisik manusia itu sendiri.
Menurut Ibnu Maskawaih, akhlak merupakan bentuk jamak dari khuluq,         الخلق حال للنفس داعية لها إلى أفعالها من غير فكر ولا روية  
yang berarti keadaan jiwa yang mengajak atau mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa difikirkan dan diperhitungkan sebelumnya.[19] 
Dengan kata lain akhlak adalah keadaaan jiwa yang mendorong timbulnya perbuatan-perbuatan secara spontan. Sikap jiwa atau keadaan jiwa seperti ini terbagi menjadi dua; ada yang berasal dari watak (bawaan) atau fitrah sejak kecil dan ada pula yang berasal dari kebiasaan latihan.[20] Dengan demikian, manusia dapat berusaha mengubah watak kejiwaan pembawaan fitrahnya yang tidak baik menjadi baik.
Ibn Miskawaih memandang manusia adalah makhluk yang memiliki keistimewaan karena dalam kenyataannya manusia memiliki daya pikir dan manusia juga sebagai mahkluk yang memiliki macam-macam daya. Ibn Miskawaih menonjolkan kelebihan jiwa manusia atas jiwa binatang dengan adanya kekuatan berfikir yang menjadi sumber tingkah laku, yang selalu mengarah kepada kebaikan.
Dari defenisi di atas jelaslah bahwa Ibn Maskawaih menolak pendapat sebagian pemikir Yunani yang mengatakan bahwa akhlak atau moralitas manusia berasal dari watak dan tidak mungkin dapat berubah. Ia menegaskannya bahwa kemungkinan perubahan akhlak dan moralitas itu selalu terbuka lebar terutama bila dilakukan melalui pendidikan (tarbiyyah). Mengawali pembahasan tentang akhlak ini, Ibn Maskawaih membahas atau memberi beberapa prinsip dasar tentang akhlak, yakni:[21]
Ø   Tujuan ilmu akhlak adalah membawa manusia kepada kesempurnaan. Kesempurnaan manusia terletak pada pemikiran dan amal perbuatan. Yaitu kesempurnaan ilmu dan kesempurnaan amal. Tugas ilmu akhlak terbatas pada sisi amal perbuatan saja, yakni meluruskan akhlak dan mewujudkan kesempurnaan moral seseorang, sehingga tidak ada pertentangan antar berbagai daya dan semua perbuatannya lahir sesuai dengan daya berpikir.
Ø   Kelezatan indrawi hanya sesuai dengan hewan tidak dengan manusia. Bagi manusia kelezatan akali adalah yang lebih sesuai dengan martabatnya sebagai manusia. Anak-anak harus di didik sesuai dengan akhlak yang mulia, disesuaikan dengan rencananya dengan urutan daya-daya yang mula-mula lahir padanya. Jadi, dimulai dengan jiwa keinginan, lalu jiwa marah, dan akhirnya jiwa berpikir. Rencana pendidikan juga dimulai dengan adab makan, minum, berpakaian (jiwa keinginan), lalu sifat-sifat berani dan daya tahan (jiwa marah) dan akhirnya sifat bernalar, sehingga akal dapat mendominasi segala tingkahlaku (jiwa pikir).

b. Kebahagiaan (Sa’adah)

Maskawaih membedakan antara al-khair (kebaikan) dengan al-sa’adah (kebahagiaan). Dimana kebaikan menjadi tujuan semua orang: kebaikan umum bagi seluruh manusia dalam kedudukan sebagai manusia. Sedangkan kebahagiaan adalah kebaikan bagi seseorang, tidak bersifat umum, tetapi relatif tergantung kepada orang per orang.[22]
Ada dua pandangan pokok tentang kebahagiaan (sa`adah). Yang pertama diwakili oleh Plato yang mengatakan bahwa hanya jiwalah yang mengalami kebahagiaan. Karena itu selama manusia masih berhubungan dengan badan ia tidak akan memperoleh kebahagiaan. Pandangan kedua dipelopori oleh Aristoteles, yang mengatakan bahwa kebahagiaan dapat dinikmati di dunia walaupun jiwanya masih terkait dengan badan. Hanya saja, kebahagiaan berbeda menurut masing-masing orang seperti orang miskin memandang kebahagiaan itu pada kekayaan, dan orang sakit pada kesehatan, dan seterusnya.
Ibnu Miskawaih mencoba mengompromikan kedua pandangan yang berlawanan itu. Menurutnya, karena pada diri manusia ada dua unsur, yaitu jiwa dan badan, maka kebahagiaan meliputi keduanya. Hanya kebahagiaan badan lebih rendah tingkatnya dan tidak abadi sifatnya jika dibandingkan dengan kebahagiaan jiwa. Kebahagiaan yang bersifat benda mengandung kepedihan dan penyesalan, serta menghambat perkembangan jiwanya menuju ke hadirat Allah swt. Kebahagiaan jiwa merupakan kebahagiaan yang sempurna yang mampu mengantar manusia menuju derajat malaikat.

c. Pendidikan Akhlak
Dalam karangan-karangan beliau banyak menunjukkan hal-hal yang sifatnya material dalam kontek moral seperti pokok pendidikan akhlaknya ketika mengangkat persoalan-persoalan yang wajib bagi kebutuhan manusia dan jiwa sebagai hal wajib akan menentukan perubahan psikologis ketika terjadi interaksi sesama manusia.[23] Dari beberapa uraian diatas memberikan konsekwensi logis, dimana seluruh materi pendidikan pada umumnya merupakan hal yang wajib dipelajari didalam pendidikan moral/akhlak, seharusnya ilmu-ilmu yang diajarkan dalam proses pendidikan moral tidak hanya diperuntukkan sebagai tujuan akademik semata tetapi akan lebih bermamfaat ketika hal-hal yang bersifat subtansial/esensial dipenerapannya dalam hubungan sosial.
Dapat disimpulkan bahwasanya sifat utama itu antara lain: hikmah, berani, dan murah yang apabila ketiga sifat utama ini selaras, maka sifat keempat akan timbul darinya, yakni keadilan. Sedangkan lawan dari semua sifat itu adalah bodoh, rakus, penakut, dan zalim.
Tujuan pendidikan akhlak yang dirumuskan Ibn Miskawaih memang terlihat mengarah kepada terciptanya manusia agar sebagai filosuf. Karena itu Ibn Miskawaih memberikan uraian tentang sejumlah ilmu yang dapat di pelajari agar menjadi seorang filosuf. Ilmu tersebut ialah:
a)       Matematika
b)       Logika dan
c)       Ilmu kealaman
Jadi, jika dianalisa dengan secara seksama, bahwa berbagai ilmu pendidikan yang diajarkan Ibn Miskawaih dalam kegiatan pendidikan seharusnya tidak diajarkan semata-mata karena ilmu itu sendiri atau tujuan akademik tetapi  kepada tujuan yang lebih pokok yaitu akhlak yang mulia. Dengan kata lain setiap ilmu membawa misi akhlak yang mulia dan bukan semata-mata ilmu. Semakin banyak dan tinggi ilmu seseorang maka akan semakin tinggi pula akhlaknya[24]

Referensi

[1] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosuf dan Filsafatnya, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2009). Hal. 127.
[2] Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992). Hal. 56.
[3] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam,(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003). Hal. 5.
[4] M.M. Syarief, Para Filosof of Muslim, (Bandung : Mizan, 1998). Hal. 84.
[5] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam ,...Hal. 6.
[6] Muhaimin, Kawasan dan Wawasan Studi Islam. (Jakarta: Fajar Interpratama Offset, 2005). Hal.  327-328.
[7] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosuf  dan Filsafatnya,... Hal. 128-129.
[8] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam,...Hal.  6.
[9] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam (Jakarta : Gaya Media Pratama,1999), Hal. 58.
[10] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam ( Filosof dan Filsafatnya),... Hal. 130.
[11] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam ; Filosof dan Filsafatnya....,hlm. 131
[12] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam ; Filosof dan Filsafatnya....,hlm. 132
[13] Munawwir dan Muhammad Fairuz, Kamus Al-Munawwir versi Indonesia-Arab, cet. I, (Surabaya: Pustaka Progressif, 2007). Hal. 366.
[14] Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, ( Jakarta: UI Press, 1983). Hal. 8.

[16] Ibn Miskawaih, Tahzib al-Akhlaq, (Beirut, Mansyurat Dar Maktabat Al-Hayat, 1398H). Hal. 32.
[17]  Abu Bakar Atjeh, Sejarah Filsafat Islam, 1970. Hal. 150.
[18] Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1986), Hal. 61.
[19] Ibn Miskawaih, Tahzib Al Aklaq wa Tathhir A`raq, (Kairo: Muassasat AlKhaniji, 1967), Hal. 9.
[20] A.Mustofa, Filsafat Islam....., Hal. 177.
[21] Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam,.... Hal. 62.
[22] A.Mustofa, Filsafat Islam....., Hal. 179.
[23] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam,...Hal. 13.

[24] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam,...Hal. 94.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PEMIKIRAN FILSAFAT IBNU MISKAWAIH"

Post a Comment

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak