Home » , » Biografi KH. Hasyim Asy'ary Sebagai Pendiri Nahdatul Ulama

Biografi KH. Hasyim Asy'ary Sebagai Pendiri Nahdatul Ulama

Biografi KH. Hasyim Asy'ary Sebagai Pendiri Nahdatul Ulama

A. Biografi KH. Hasyim Asy'ari

Biasa dinamakan KH Hasyim Asy’ary beliau dicetuskan pada tanggal 10 April 1875 atau menurut keterangan dari penanggalan arab pada tanggal 24 Dzulqaidah 1287H di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur dan beliau lantas tutup umur pada tanggal 25 Juli 1947 yang lantas dikebumikan di Tebu Ireng, Jombang, KH Hasyim Asy'ari adalahpendiri Nahdlatul Ulama yaitu suatu organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. KH Hasyim Asyari adalah putra dari pasangan Kyai Asyari dan Halimah, Ayahnya Kyai Asy’ary adalahseorang pemimpin Pesantren Keras yang sedang di sebelah unsur selatan Jombang. KH Hasyim Asy’ary adalahanak ketiga dari 11 bersaudara. Dari garis keturunan ibunya, KH Hasyim Asy’ary adalahketurunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang). dari Ayah dan Ibunya KH Hasyim Asy’ary mendapat edukasi dan nilai-nilai dasar Islam yang kokoh.

B. KH.  Hasyim Asy’ary Mendirikan Nahdatul Ulama

Tahun 1924, kumpulan diskusi Taswirul Afkar hendak mengembangkan sayapnya dengan menegakkan sebuah organisasi yang ruang lingkupnya lebih besar. Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari yang dimintai persetujuannya, meminta masa-masa untuk menggarap salat istikharah, menohon tuntunan dari Allah. Dinanti-nanti sekian lama, petunjuk tersebut belum datang juga. Kyai Hasyim paling gelisah. Dalam hati kecilnya hendak berjumpa dengan gurunya, KH Kholil bin Abdul Latif, Bangkalan. Sementara nun jauh di Bangkalan sana, Kyai Khalil telah memahami apa yang dirasakan Kyai Hasyim. Kyai Kholil kemudian mengutus di antara orang santrinya yang mempunyai nama As’ad Syamsul Arifin (kelak menjadi pengasuh PP Salafiyah Syafiiyah Situbondo), untuk mengucapkan sebuah tasbih untuk Kyai Hasyim di Tebuireng. Pemuda As’ad pun dipesani supaya setiba di Tebuireng membacakan surat Thaha ayat 23 untuk Kyai Hasyim.

Ketika Kyai Hasyim menerima kedatangan As’ad, dan mendengar ayat tersebut, hatinya langsung bergentar. ”Keinginanku untuk menyusun jamiyah agaknya bakal tercapai,” ujarnya lirih seraya meneteskan airmata. Waktu terus berjalan, akan namun pendirian organisasi tersebut belum pun terealisasi. Agaknya Kyai Hasyim masih menantikan kemantapan hati. Satu tahun lantas (1925), pemuda As’ad pulang datang mendatangi Hadratus Syaikh. ”Kyai, saya diutus oleh Kyai Kholil untuk mengucapkan tasbih ini,” ujar pemuda Asad sambil mengindikasikan tasbih yang dikalungkan Kyai Kholil di lehernya. Tangan As’ad belum pernah menyentuh tasbih sersebut, meskipun perjalanan antara Bangkalan mengarah ke Tebuireng sangatlah jauh dan tidak sedikit rintangan. Bahkan ia rela tidak mandi sekitar dalam perjalanan, sebab cemas tangannya menyentuh tasbih. Ia mempunyai prinsip, ”kalung ini yang menaruh ialah Kyai, maka yang boleh melepasnya pun harus Kyai”. Inilah di antara sikap ketaatan santri untuk sang guru. ”Kyai Kholil pun meminta untuk melaksanakan wirid Ya Jabbar, Ya Qahhar masing-masing waktu,” tambah As’ad. Kehadiran As’ad yang kedua ini menciptakan hati Kyai Hasyim semakin mantap. Hadratus Syaikh menciduk isyarat bahwa gurunya tidak keberatan andai ia bareng kawan-kawannya menegakkan organisai/jam’iyah. Inilah jawaban yang dinanti-nantinya melewati salat istikharah. Sayangnya, sebelum keinginan tersebut terwujud, Kyai Kholil telah meninggal dunia terlebih dahulu. Pada tanggal 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926M, organisasi itu secara sah didirikan, dengan nama Nahdatul Ulama, yang dengan kata lain kebangkitan ulama. Kyai Hasyim diandalkan  sebagai Rais Akbar kesatu. Kelak, jam’iyah ini menjadi organisasi dengan anggota terbesar di Indonesia, bahkan di Asia.

Sebagaimana diketahui, saat tersebut (bahkan sampai kini) dalam dunia Islam ada pertentangan faham, antara faham pembaharuan yang dilancarkan Muhammad Abduh dari Mesir dengan faham bermadzhab yang menerima praktek tarekat. Ide reformasi Muhammad Abduh antara beda bertujuan memurnikan kembali doktrin Islam dari pengaruh dan praktek keagamaan yang bukan berasal dari Islam, mereformasi edukasi Islam di tingkat universitas, dan mengkaji serta merumuskan kembali ajaran Islam guna disesuaikan dengan keperluan kehidupan modern. Dengan ini Abduh melancarakan ide supaya umat Islam terlepas dari pola pemikiran madzhab dan meninggalkan segala format praktek tarekat. Semangat Abduh pun mempengaruhi masyarakat Indonesia, banyak sekali di area Sumatera yang diangkut oleh semua mahasiswa yang belajar di Mekkah. Sedangkan di Jawa dipelopori oleh KH. Ahmad Dahlan melewati organisasi Muhammadiyah (berdiri tahun 1912). Kyai Hasyim pada prinsipnya menerima gagasan Muhammad Abduh untuk membangunkan kembali doktrin Islam, akan namun menolak mencungkil diri dari keterikatan madzhab. Sebab dalam pandangannya, umat Islam paling sulit mengetahui maksud Al Quran atau Hadits tanpa mempelajari kitab-kitab semua ulama madzhab.

Pemikiran yang tegas dari Kyai Hasyim ini memperoleh sokongan para Kyai di semua tanah Jawa dan Madura. Kyai Hasyim yang saat tersebut menjadi ”kiblat” semua Kyai, sukses menyatukan mereka melewati pendirian Nahdlatul Ulama ini. Pada ketika pendirian organisasi pergerakan kebangsaan menyusun Majelis Islam ‘Ala Indonesia (MIAI), Kyai Hasyim dengan putranya Kyai Wahid Hasyim, diusung sebagai pimpinannya (periode tahun 1937-1942). 
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Biografi KH. Hasyim Asy'ary Sebagai Pendiri Nahdatul Ulama

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 10/05/2017

0 komentar Biografi KH. Hasyim Asy'ary Sebagai Pendiri Nahdatul Ulama

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak