Home » » Macam-Macam Kitab Hadis Dan Metodologi Penyusunannya

Macam-Macam Kitab Hadis Dan Metodologi Penyusunannya

Macam-Macam Kitab Hadis Dan Metodologi Penyusunannya

A. Macam-macam Kitab Hadis

1. Kitab Mushannaf
Mushannaf dari segi bahasa merupakan bentuk mufrad dari “mushannafaat yang berarti buku-buku atau  karya-karya. Dan menurut pengertian ulama muhadditsin, al-Mushannafat merupakan Kitab-buku hadis yg disususun berdasarkan urutan bab-bab fiqhi & mencakuf hadis marfu’,mauquf dan maqthu’4 didalamnya masih ada,selain hadis-hadis Nabi juga fatwa-fatwa  teman dan fatwa-fatwa Tabi’in.

Menurut Muhammad Suhudi,Pada mulanya buku-buku mushannaf merupakan kitab-kitab hadis yg disusun oleh Bukhari,Muslim,Abu Dawud,at-Turmudzy & semacamnya.Karena merekalah yg mula-mula menyusun kitab  -buku hadis yg susunan bab-babnya menurut bab-bab fiqhi.Tetapi ulama-ulama  muta’akhirin lalu jua menyusun buku-buku hadis yang dianggap mushannaf. Tapi pendapat ini dibantah sang Muh.Zuhri bahwa jauh sebelum al-Bukhari meluncurkan kitabnya untuk mengisi khazanah intelektual muslim,para ulama sudah menyusun kitab  -buku hadis dengan memuat bab-bab eksklusif.Lazimnya ,kitab   semacam ini diklaim al-mushannaf atau al-Jami’ atau al-Majmu’.Penulisan kitab   semacam ini adalah pengalaman pertama bagi ulama islam  sekaligus merupakan kebanggaan tersendiri dalam rangka  melestarikan ajaran islam secara holistik,mereka sadar bahwa buku ini tidak boleh bercampur dengan al-Qur’an.Dalam hal ini yg mereka pentingkan adalah bagaimana merekam ajaran islam yg nir secara eksklusif dimuat dalam al-Qur’an.

2. Al-Muwaththa
Al-Muwaththa menurut segi bahasa adalah “al-Mushahhal” yang berarti memudahkan dan berdasarkan kata muhadditsin sama menggunakan al-Mushannaf,(buku-buku hadis yg disusun berdasarkan bab-bab fikhi).Yg berbeda hanyalah peristilahan & motivasi penamaannya (maksudnya,suatu kitab   al-Mushannaf eksklusif dinamai pula al-Muwaththa”,karena penyusunnya dalam menyusun buku itu,didorong sang harapan buat memudahkan orang-orang yg membacanya) 

3. Kitab Musnad
Musnad berdasarkan segi bahasa adalah bentuk mufrad dari “masanid”yg berarti disandarkan sedangkan dari istilah ahli hadits adalah buku hadis yang disusun berdasarkan urutan nama sahabat periwayatnya.

Pada periode abad ke dua-3 hijriyah,muncul masalah baru yg berkaitan menggunakan disparitas nilai hadis Nabi saw menggunakan patwa para sahabat & Tabi’in.Periode ini ditandai dengan adanya pemilahan antara riwayat-riwayat yg bersambung pada Nabi menggunakan fatwa teman dan Tabi’in,dengan mencabut fatwa teman dan Tabi’in maka tersusunlah buku-buku yg berisi formasi hadis Nabi yang diriwayatkan para sahabat saja,Kitab jenis ini kemudian dikenal menggunakan al-Musnad.Gerakan penulisan hadis pada bentuk ini dipelopori oleh  Abu Daud Sulaiman ibn al-Jarad al-Thayalisi.

4. Kitab Jami
Jami menurut segi bahasa berarti pengumpul/penghimpun,terkadang jua bermakna ‘as-Syamil  sedangkan pada karya hadis,pengertian jami terdapat dua macam:

a.Dilihat berdasarkan pokok kandungan hadis yg dihimpunnya,pengertian kitab   al-Jami adalah Kitab yang menghimpun hadis-hadis Nabi yg  berisi mengembangkan hal. Yaitu yang berkenaan dengan aqidah, hukum, kasus hamba sahaya,etika makan dan minum, musafir, mukim, hal-hal berkaitan menggunakan tafsir,sejarah ,peperangan dan sebagainya.Sang karenanya, buku-kitab   hadis yang hanya melimitasi pembahasan pada masalah fikhi saja,tidak termasuk kitab   al-Jami’

b. Dilihat menurut segi asal acum hadis-hadis yg dihimpunnya,pengertian buku Jami adalah kitab   yang menghimpun hadis-hadis yang berasal berdasarkan kitab-buku hadis yg sudah terdapat.

5. Kitab Sunan
Dari segi bahasa berarti “al-thoriq”atau jalan. Sedangkan Menurut istilah ulama hadis adalah:Kitab yang menghimpun hadis-hadis hukum yg marfu’dan disusun  dari bab-bab fiqhi
Era penyusunan buku-buku shahih adalah puncak  masa penyusunan kitab   hadis berdasarkan segi akurasi periwayatan.Sehabis itu,muncul gerakan penulisan kitab   Sunan,yang didalamnya nir hanya memuat hadis-hadis shahih tapi pula dimuat hadis-hadis dhaif,namum demikian,hadis-hadis tersebut permanen diberi komentar bahwa hadis tersebut merupakan dhaif.

6. Kitab Ajza
Ajza’ bentuk jamak berdasarkan “Juz” yang berarti bahagian sedangkan menurut kata ulama Muhaddtsin terdapat beberapa pengertian sebagai berikut:
a. Kitab mini   yang berisi perpaduan riwayat seorang teman/perawi hadis atau berkaitan menggunakan satu pertarungan secara jelas
b. Kitab yang disusun buat menghimpun hadis-hadis yang diriwayatkan oleh seseorang perawi baik menurut kalangan teman maupun menurut  Tabi’in.
c. Kitab yang membahas sanad-sanad sebuah hadis,seperti:Ikhtiyar al-Aula fi Hadits
Ikhtisham al-Mala’I al-A’la karya Hafiz ibn Rajab.
d. ‘Ajza’ merupakan Kitab hadis yg memuat hais-hadis mengenai suatu tema masalah cabang,seperti “Juz’ al-Qira;ah Khalfa al-Imam, karya Imam Bukhari dan “ar-Rihla fi Thalab al-Hadis karya al-Khatib al-Baghdadi.

B. Metodologi Penyusunan Kitab-kitab Hadis

1. Metode penyusunan Mushannaf
Metode penyusanan buku-buku jenis ini dilakukan menggunakan mengumpulkan hadis-hadis yang mempunyai tema yang sama sebagai satu judul generik yang mencakupnya atau menggunakan mengungkapkan bab-bab Fikhi secara berurutan ,dimulai dengan buku Thaharah,,lalu buku Shalat,Ibadah,Muamalat,& semua bab yang berkenaan dengan aturan Fikhi & terkadang jua mengungkapkan judul yg tidak terkait menggunakan masalah Fiqhi misalnya: buku Iman atau Adab.Dan didalamnya meliputi hadis-hadis marfu,mauquf & maqthu.

Berikut  disparitas metode penyusunan buku-buku mushannaf ulama mutaqaddimin menggunakan mushannaf ulama muthaakhirin:
a. Mushannaf Mutaqaddimin: Susunan babnya dari bab-bab Fikhi sedangkan mushannaf Mutaakhirin terdapat yg disusun berdasarkan urutan abjad dari matan yang di himpun nya
b. Mushannaf Mutaqaddimin:Berisi hadis-hadis yang eksklusif diriwayatkan sang masing-masing penyusunnya sedangkan mutaakhirin hadis-hadis yang disusunnya pada umumnya dihimpun berdasarkan buku-buku atau riwayat-riwayat yang telah disusun atau ditakhrij oleh ulama-ulama lain. Diantara kitab  -kitab   mushannaf merupakan:
a. Al-Mushannaf karya Abdul Malik ibn ‘Abdul Aziz ibn Juraij al-Bashiri (w 150 H )
b. Al-Mushannaf karya Ma’maribn Rasyid  (w 153 H )
c. Al-Mushannaf karya Abdur Rahman ibn ‘Amr al-Auza’i (w 157 H )
d. Al-Mushannaf karya Rabi’ ibn Shabih (w 160 H )
e. Al-Mushannaf karya  Sufyan al-  Shauti (w 161 H )
f. Al-Mushannaf karya Abu Salamah Hamad bin Salamah al-Bashary (w 167 H )
g. Al-Mushannaf karya Abu Sofyn Wakil ibn Jarrah al-Kufi (w 196 H )
h. Al-Mushannaf karya Abu Bakar  Abd Razzaq ibn Hammam as-Shan’ani (w 211 H )

Diantara kitab  -buku Mushannaf ini ,ada yang menuai kritik menurut para kritikus hadis misalnya  Abdur Razzaq bin Hammam al-Shan’ani penyusun salah satu kitab   Mushannaf diatas lantaran syarat pisik yang dipercaya tidak memungkinkan lantaran beliau buta.(nir dijelaskan apakah kebutaannya sehabis menyelesaikan penyusunan kitabnya atau sebelumnya).

Imam Ahmad Mengatakan,”Barang siapa meriwayatkan  hadis sehabis dia buta maka riwayatnya tidak shahih,hadis-hadis yang tertulis pada kitabnya merupakan shahih,sementara hadis-hadis yg pada luar kitabnya merupakan talqin(pemberitaan dari orang lain)lalu dia terima.”

2. Metode Penyusunan Al-Muwaththa
Metode penyusunan kitab  -kitab   al-Muwththa pula dari urutan bab-bab Fiqhi sinkron menggunakan tema yang dikandungnya sebagaimana dengan kitab  -buku Mushannaf. Ad-Dahlawi menempatkan kedudukan buku al-Muwaththa dalam peringkat pertama sederajat menggunakan kesahihan Sahih Bukhari dan Muslim.Menurutnya,tingkatan buku-kitab hadis dicermati menurut segi kesahihan & kemasyhuran ,terbagi menjadi empat peringkat,Adapun  tingkatan pertama ditempati 3 kitab hadis yaitu buku Al-Muwaththa’, Sahih Bukhari,& Sahih Muslim. 

Karya-karya Muwaththaat yang terkenal diantaranya:
a. Al-Muwaththa karya Imam Malik ( w 179 H )
b. Al-Muwathtah karya Abi Dzib Muhammad ibn Abdur Rahman al-Madani ( w 158 H )
c. Al-Muwaththa karya Abdullah ibn Muhammad al-Marwisi ( w 293H )

Diantara kitab   tadi,yang menerima perhatian poly ulama adalah al-Muwaththa karya Imam Malik.Didalamnya masih ada 1726 hadis menurut Nabi,sahabat dan tabi’in.Menurut jumlah tersebut menurut spesifikasi sebagian ulama,masih ada 600 hadis musnad,228 mursal,613 mauquf dan 285 maqthu’.

Dari segi kwalitas sanad,hadis yang terkandung didalamnya terdapat yg shahih,hasan & ada jua yg dha’if.Kemudian apabila dikonfirmasikan menggunakan hadis yg ditulis sang Imam al-Bukhari & Imam Muslim,maka diketahui bahwa matan al-Muwaththa itu shahih.Karenanya tidak mengherankan bila Imam Syafi’i memberi komentar ,”Kitab yg paling shahih sehabis Al-Qur’an adalah al-Muwaththa’.Tentu selesainya dia membandingkan dengan kitab  -kitab   hadis pada masa itu.

Untuk menulis kitab   tersebut,Imam Malik menghabiskan saat selama empat puluh tahun.Menurut al-Manshur,dinamakan Al-Muwaththa’buat menghindari kefundamentalisan Ibnu Umar dan kemoderatan Ibnu Abbas,serta buat diamalkan umat manusia.Sedangkan menurut As-Syuthi,Imam Malik mengatakan aku  sudah menyodorkan kitabku kepada 70 orang ulama fiqhi dari Madinah ternyata semuanya mendukung output karya saya dan merasa dimudahkan dengan kehadirannya,karena itu saya menamainya menggunakan ‘al-Muwaththa’.

Diantara sekian poly buku hadis yang disusun dalam abad ke-2 H,hanya kitab   al-Muwaththa karya Imam Malik (disusun sang Iman Malik dalam pertengahaan abad ke-2 H)yang sampai dalam kita kini  .

Karena buku tertua yg hingga dalam kita adalah produk pertengahan abad ke-2 H maka nir mengherankan bila ada kesan bahwa buku hadis baru dibukukan  dalam periode tersebut.

Bagi penentang Islam,angka abad tadi akbar sekali ialah.Dengan mengabaikan aktivitas kodifikasi hadis pada masa Umar bin Abdul Aziz dan catatan hadis,baik yg dilakukan para sahabat maupun para ulama generasi berikutnya,mereka mengungkapkan ,terdapat tenggang waktu yang amat panjang antara masa keluarnya hadis (masa Nabi) dengan masa pembukuannya(al-Muwaththa).Dengan teori sejarah mereka,otentisitas hadis dalam buku al-Muwaththa’& pada kitab  -buku sesudahnya mereka ragukan.

Kalau saja mereka para peneliti sejarah hadis mau memperhatikan secara baik tanpa pra konsepsi tertentu tentang kode etik periwayatan hadis,bagaimana kesiapan akhlak/mental dan daya jangan lupa dan catatan hadis(kendati sederhana)niscaya pengingkaran otentisitas hadis yang mereka dapatkan pada buku-buku tadi nir terjadi.Maka kajian terhadap kode etik ini permanen dibutuhkan buat mendapat atau menolak buku hadis.

3. Metode Penyusunan Musnad
Metode penyusunan kitab   ini  berdasarkan atas nama teman yg meriwayatkannya. Hadits-hadits yg diriwayatkan oleh Abu Bakar misalnya dikelompokkan menjadi satu, lalu hadis-hadis yg diriwayatkan Abu Hurairah,dan seterusnya.Terkadang pula Urutan Sahabat itu disusun  berdasarkan urutan alfabet -huruf hijaiyah atau alfabet ,terkadang jua menurut urutan sejarahnya masuk islam atau dari keluhuran nasabnya seperti  terlebih dahulu disebutkan riwayat-riwayat menurut bani hasyim yang terdekat dengan Rasul saw kemudian yang setelah mereka,lalu hadits-hadits yg diriwayatkan sang sahabat yang turut dan dalam perang badar lalu grup teman yang ikut serta dalam perdamaian Hudaibiyah,kemudian kelompok sahabat yang ketika masuk islam dimasa antara perdamaian Hudaibiya dengan Fath Makkah,dan lalu hijra ke Madinah,lalu grup teman yang islamnya waktu peristiwa Fath Makkah,lalu kelompok sahabat wanita dsb.

Tehnik penyusunan misalnya ini sangat membantu dalam mengetahui jumlah dan jenis hadits yg diriwayatkan sang para teman menurut Nabi saw & mempermudah pengecekannya & pencarian sumber-sumber hadits yang telah diketahui nama sahabat yang meriwayatkannya.

Adapun kitab  -kitab   musnad yang populer antara lain adalah:
a. Musnad Ahmad bin Hambl (w 241 H)
b. Musnad abu Daud At-Thayalisy (w 204 H)
c. Musnad Abu Bakar bin Abi Syaibah (w 235 H )
d. Musnad Abu Bakar Bin Amru Al-Bazzar (w 292 H)
e. Musnad Abu QasimAl-Baghawiy (w 214 H)
f. Musnad Abu Bakar Abdullah bin az- Zubair al-Humaidy (w 219 H)
g. Musnad Abu Ya’la Ahmad bin Ali  al-Mushili (w 307 H)
h. Musnad Baqiy bin Makhlad  (w 296 H)
i. Musnad Asas ibn Musa al-Amawi (w 212 H)
j. Musnad ‘Ubaidillah Ibn Musa al-‘Abbasi (w 213 H)
k. Musnad Musaddad al-Bashri(w 224 H)
l. Musnad Ishaq bin Rahawih ( w 238 H )
m. Musnad al-Syafi’I ( w 240 H )dsb.

Menurut al-Biqa’i,Musnad Syafi’i karya al-Syafi’I bukan susunan beliau sendiri namun diambil menurut al-Umm, lalu dikumpulkan pada buku tersendiri oleh al-Asham.21 Sedangkan Musnad Ahmad bin Hambal dinilai para ulama hadits menjadi musnad yang paling komprehensif.

4. Metode penyusunan Jami
Kitab-kitab   Jami’ disusun menurut semua bab pembahasan agama.Maka pada kitab  contoh ini ditemukan bab tentang iman (akidah), thahrah, ibadah, muamalat, pernikahan, riwayat hidup, adab, pensucian jiwa,rekaan dan sebagainya.(mencakup semua disiplin ilmu.

Kitab-kitab   Jami yg populer adalah menjadi berikut:

a. Al-Jami al-Shahih al-Musnad al-Mukhtashar karya  Imam Bukhari ( w 256 H )
Kitab ini disusun dari urutan bab,diawali dengan Kitab Bad’u Al-Wahyu,dan Kitabul Iman, kemudian dilanjutkan dengan Kitabul ‘Ilm & seterusnya hingga berakhir menggunakan buku at- Tauhid. Kitab Shahih Bukhari ini mendapat perhatian besar  dari para ulama ,antara lain dengan menciptakan syarahnya,& syarah yang paling baik menurut pandangan  Manna ‘Al-Qaththan adalah kitab   “Fathul Bari bi Syarhi Shahihi Al-Bukhari”Karya Al-Hafiz Ibn Hajar al-Asqalani (w 852 H ).

b. Al-Jami al-Shahih karya Imam Muslim ( w 261 H )
Kitab ini berisi deretan riwayat hadis yg shahih saja,sinkron dengan kondisi yang ditentukan Imam Muslim,dimulai menggunakan buku Iman,kemudian kitab   Tharah,,kitab   haid,buku shalat,dan diakhiri dengan kitab   tafsir.

c. Al-Jami al-Shahih karya Imam Tirmidzi ( w 279 H )
Adalah formasi hadis shahih ,hasan dan dhaif.Tetapi umumnya dijelaskan derajat hadis tadi.Dengan urutan bab-bab menjadi berikut:dimulai menggunakan bab Thaharah,bab Shalat,bab witir,bab Shalat Jum’at,bab Shalat ‘Idain,bab Safar,bab Zakat,bab Puasa ,bab Haji,bab Jenazah,bab Nikah,bab Thalak dan bab Jual beli,sampai diakhiri dengan bab al-Manaqib.

5. Metode Penyusunan Sunan
Kitab semacam ini disusun menurut bab-bab Fiqhi yaitu menggunakan mengungkapkan bab-bab Fiqhi secara berurutan, dimulai dengan kitab Thaharah, kemudian buku Shalat,Ibadah,Muamalat,.Dan seterusnya sebagaiman metode penyusunan kitab  Mushannaf dan Muwaththa didalamnya juga meliputi hadis-hadis marfu,mauquf dan maqthu.

Diantara kitab  -buku sunan yang terkenal adalah menjadi berikut:
-“Sunan Abu Daud” karya Sulaiman bin Asy’ats as-Sijistani (w 275 H)
-“Sunan at-Tirmizi” (w 279 H)
-“Sunan an-Nasai”  dikenal menggunakan nama “al-Mujtaba”karya Imam An-Nasai (w 303 H)
-“Sunan Ibn Majah” karya Muhammad ibn Yazid ibn Majah al-Qazwini(w 275 H)
Kitab-buku sunan yg disusun oleh empat orang ulama ini disebut jua menggunakan al-Jami’
Dan diantara buku-buku sunan yang lain adalah:
-“Sunan al-Baihaqi” karya Abu Bakar Ahmad ibn Husein al-Baihaqi  (w 458 H)
-“Sunan As-Syafi’i” karya Imam Muhammad ibn Idris as-Syafi’i (w 204 H)
-“Sunan Ad-Daruquthni karya Ali ibn Umar Ad-Druquthni (w 385 H)
-“Sunan Ad-Darimi”i karya Abdullah ibn Abdur Rahman Ad-Darimi (w 255 H) 

6. Metode penyusunan Ajza
Sebagaimana pada defeniisi kitab   “Ajza”diatas dapat dipahami bahwa metode penyusunan buku jenis ini adalah metode spesifikasi dalam  riwayat-riwayat eksklusif atau terhadap
kasus-kasus eksklusif secara mendatail.

Pada umumnya buku jenis ini tipis,namun mempunyai keistimewaan sebagai cermin bagi kedalaman ilmu seseorang Imam,karena pembahasan suatu tema cabang secara spesifik itu menuntut kedalaman pengetahuan penyusunnya.

Contoh-model lain menurut buku ‘Ajza’adalah sebagai berikut:
-“Juz’ Raf’u al-Yadaini Fi as-Shalah”karya Imam Bukhari
-“Juz’ Ma Rawahu Abu Hanifa ‘ani As-Shabah karya Abi Mu’syir ‘al-Thabhari
-“Juz fi Qiyam al-Lail karya al-Marwazi (W 227 H)
-“Juz’ fi Shala ad-Dhuha karya as-Syuthi (W 911 H)

DAFTAR PUSTAKA

Shaleh ,Subhi.Dr.Ulum al- Hadis wa Mushthalah,(Cet.17:Berut:Dar al-Ilm Lilmalayiin 1988)
Rasyid.Daud Dr,Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam sorotan,(cet I :Jakarta: Akbar Media Eka Sarana 2002)
Hasyim. Umar Dr,Qawaid Ushul al-Hadits,(cet :Cairo:Dar al-Kutub al-Mishriyah 1998) 
Manna’ Al-Qaththan,Syekh.Mabahis fi Ulum Al-Hadis,Alih bahasa Mifdhal Abd.Rahman(Cet.I:Pustaka al-Kautsar 2005)
Ash-Shiddicqy,Hasybi.Pokok-pokok ilmu Dirayah Hadis,Jilid II(Cet.IV:Bulan bintang: 1994)
Shaleh ,Subhi.Dr.Ulumu al- Hadis wa Mushthalah,Diterjemahkn Tim Pustaka Firdaus Jakarta(Cet.II:Pustaka Firdaus 1995)
Al-Kattani. Al-‘Allamah Muhammad bin Ja’far,Ar-Risalah Al-Mustathrafah,(cet I:Berut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah 1995)
As-Shuyuti,Jalaluddin,Jami’u Shaghir fi Ahaditsi Al-Basyir wa An-Nadzir(Cet.I:Berut:Dar al-Kutub al-‘Ilmiah 1995)
Zuhri,.Muhammad.Dr, Hadis Nabi,Telaah Historis dan Metodologi,(cet II :Yogya: PT.Tiara Wacana 2003)
Itr. Nurdin,Dr.Manhaj an-Naqd fi Ulum al-Hadits,(cet III :Damasykus:Dar al-Fikr 1997)
Ismail, .Muhammad Syuhudi,Pembahasan Kitab-kitab   Hadis,(Ujung Pandang 1989)
Al-Hasani. As Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki,Al-Manhal al-Latif fi Ushul al-Haits as-Syarif,diterjemahkan sang Badruddin,(Cet.I:Bandung:PT.Tri Genda Karya 1995)
Al-‘Asqalani.Al-Hafidz Ahmad binAli ibn Hajar,Fathul Bariy(Cet I.Cairo:Dar Arrayyan Liltturas 1986
Al-Zafzaf,Muhammad,Al-Tarif Bi al-Qur’an wa al-Hadits,Kuwait: Al-Falah 1979)
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Macam-Macam Kitab Hadis Dan Metodologi Penyusunannya

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 11/05/2017

0 komentar Macam-Macam Kitab Hadis Dan Metodologi Penyusunannya

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak