MACAM-MACAM KITAB HADIS DAN METODOLOGI PENYUSUNANNYA

Hasil gambar untuk Hadis Ushuly

A. Kitab Mushannaf

Mushannaf dan muwaththa  sekalipun dari segi bahasa berbeda artinya,tapi pengertian keduanya  menurut istilah ulama muhadditsin adalah sama,demikian juga dengan metode penyusunannya
1. Pengertian Mushannaf
Mushannaf dari segi bahasa adalah bentuk mufrad dari “mushannafaat yang berarti kitab-kitab atau  karya-karya.
Dan menurut pengertian ulama muhadditsin, al-Mushannafat adalah Kitab-kitab hadis yang disususun berdasarkan urutan bab-bab fiqhi dan mencakuf hadis marfu’,mauquf dan maqthu’4 didalamnya terdapat,selain hadis-hadis Nabi juga fatwa-fatwa  sahabat dan fatwa-fatwa Tabi’in .
2. Sejarah munculnya Mushannaf
Menurut Muhammad Suhudi,Pada mulanya kitab-kitab mushannaf merupakan kitab-kitab hadis yang disusun oleh Bukhari,Muslim,Abu Dawud,at-Turmudzy dan semacamnya.karena merekalah yang mula-mula menyusun kitab-kitab hadis yang susunan bab-babnya berdasarkan bab-bab fiqhi.namun ulama-ulama  muta’akhirin kemudian juga menyusun kitab-kitab hadis yang disebut mushannaf. Tapi pendapat ini dibantah oleh Muh.Zuhri bahwa jauh sebelum al-Bukhari meluncurkan kitabnya untuk mengisi khazanah intelektual muslim,para ulama telah menyusun kitab-kitab hadis dengan memuat bab-bab tertentu.Lazimnya ,kitab semacam ini disebut al-mushannaf atau al-Jami’ atau al-Majmu’.Penulisan kitab semacam ini merupakan pengalaman pertama bagi ulama islam  sekaligus merupakan kebanggaan tersendiri dalam rangka  melestarikan ajaran islam secara keseluruhan,mereka sadar bahwa kitab ini tidak boleh bercampur dengan al-Qur’an.Dalam hal ini yang mereka pentingkan adalah bagaimana merekam ajaran islam yang tidak secara langsung dimuat dalam al-Qur’an.
3. Metode penyusunan Mushannaf
Metode penyusanan kitab-kitab jenis ini dilakukan dengan mengumpulkan hadis-hadis yang memiliki tema yang sama menjadi satu judul umum yang mencakupnya atau dengan menyebutkan bab-bab Fikhi secara berurutan ,dimulai dengan kitab Thaharah,,kemudian kitab Shalat,Ibadah,Muamalat,dan seluruh bab yang berkenaan dengan hukum Fikhi dan terkadang juga menyebutkan judul yang tidak terkait dengan masalah Fiqhi seperti: kitab Iman atau Adab.dan didalamnya mencakup hadis-hadis marfu,mauquf dan maqthu.
Berikut  perbedaan metode penyusunan kitab-kitab mushannaf ulama mutaqaddimin dengan mushannaf ulama muthaakhirin:
            -Mushannaf Mutaqaddimin: Susunan babnya berdasarkan bab-bab Fikhi sedangkan mushannaf Mutaakhirin ada yang disusun berdasarkan urutan abjad dari matan yang di himpun nya
            -Mushannaf Mutaqaddimin:Berisi hadis-hadis yang langsung diriwayatkan oleh masing-masing penyusunnya sedangkan mutaakhirin hadis-hadis yang disusunnya pada umumnya dihimpun dari kitab-kitab atau riwayat-riwayat yang telah disusun atau ditakhrij oleh ulama-ulama lain.
4. Diantara kitab-kitab mushannaf adalah:
-Al-Mushannaf karya Abdul Malik ibn ‘Abdul Aziz ibn Juraij al-Bashiri (w 150 H )
 -Al-Mushannaf karya Ma’maribn Rasyid  (w 153 H )
-Al-Mushannaf karya Abdur Rahman ibn ‘Amr al-Auza’i (w 157 H )
-Al-Mushannaf karya Rabi’ ibn Shabih (w 160 H )
-Al-Mushannaf karya  Sufyan al-  Shauti (w 161 H )
-Al-Mushannaf karya Abu Salamah Hamad bin Salamah al-Bashary (w 167 H )
-Al-Mushannaf karya Abu Sofyn Wakil ibn Jarrah al-Kufi (w 196 H )
-Al-Mushannaf karya Abu Bakar  Abd Razzaq ibn Hammam as-Shan’ani (w 211 H )

Diantara kitab-kitab Mushannaf ini ,ada yang menuai kritik dari para kritikus hadis seperti  Abdur Razzaq bin Hammam al-Shan’ani penyusun sala satu kitab Mushannaf diatas karena kondisi pisik yang dianggap tidak memungkinkan karena beliau buta.(tidak dijelaskan apakah kebutaannya setelah merampungkan penyusunan kitabnya atau sebelumnya).
Imam Ahmad Mengatakan,”Barang siapa meriwayatkan  hadis setelah ia buta maka riwayatnya tidak shahih,hadis-hadis yang tertulis dalam kitabnya adalah shahih,sementara hadis-hadis yang di luar kitabnya merupakan talqin(pemberitaan dari orang lain)lalu dia terima.”

B. Al-Muwaththa

1. Pengertiannya Al-Muwaththa
            Al-Muwaththa dari segi bahasa adalah “al-Mushahhal” yang berarti memudahkan dan menurut istilah muhadditsin sama dengan al-Mushannaf,(kitab-kitab hadis yang disusun berdasarkan bab-bab fikhi).yang berbeda hanyalah peristilahan dan motivasi penamaannya (maksudnya,suatu kitab al-Mushannaf tertentu dinamai juga al-Muwaththa”,sebab penyusunnya dalam menyusun kitab itu,didorong oleh keinginan untuk memudahkan orang-orang yang membacanya) 

2. Metode Penyusunan Al-Muwaththa
Metode penyusunan kitab-kitab al-Muwththa juga berdasarkan urutan bab-bab Fiqhi sesuai dengan tema yang dikandungnya sebagaimana dengan kitab-kitab Mushannaf.
Ad-Dahlawi menempatkan kedudukan kitab al-Muwaththa pada peringkat pertama sederajat
dengan kesahihan Sahih Bukhari dan Muslim.Menurutnya,tingkatan kitab-kitab hadis ditinjau dari segi kesahihan dan kemasyhuran ,terbagi menjadi empat peringkat,Adapun  tingkatan pertama ditempati tiga kitab hadis yaitu kitab Al-Muwaththa’,Sahih Bukhari,dan Sahih Muslim

3. Karya-karya Muwaththaat yang terkenal antara lain:

-Al-Muwaththa karya Imam Malik ( w 179 H )
-Al-Muwathtah karya Abi Dzib Muhammad ibn Abdur Rahman al-Madani ( w 158 H )
-Al-Muwaththa karya Abdullah ibn Muhammad al-Marwisi ( w 293H )
Diantara kitab tersebut,yang mendapat perhatian banyak ulama adalah al-Muwaththa karya Imam Malik.Didalamnya terdapat 1726 hadis dari Nabi,sahabat dan tabi’in.dari jumlah tersebut menurut spesifikasi sebagian ulama,terdapat 600 hadis musnad,228 mursal,613 mauquf dan 285 maqthu’.

Dari segi kwalitas sanad,hadis yang terkandung didalamnya ada yang shahih,hasan dan ada pula yang dha’if.Kemudian bila dikonfirmasikan dengan hadis yang ditulis oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim,maka diketahui bahwa matan al-Muwaththa itu shahih.karenanya tidak mengherankan kalau Imam Syafi’i memberi komentar ,”Kitab yang paling shahih setelah Al-Qur’an adalah al-Muwaththa’.Tentu setelah beliau membandingkan dengan kitab-kitab hadis pada masa itu.
Untuk menulis kitab tersebut,Imam Malik menghabiskan waktu selama empat puluh tahun.Menurut al-Manshur,dinamakan Al-Muwaththa’untuk menghindari kefundamentalisan Ibnu Umar dan kemoderatan Ibnu Abbas,serta untuk diamalkan umat manusia.sedangkan menurut As-Syuthi,Imam Malik berkata saya telah menyodorkan kitabku kepada 70 orang ulama fiqhi dari Madinah ternyata semuanya mendukung hasil karya saya dan merasa dimudahkan dengan kehadirannya,karenanya saya menamainya dengan ‘al-Muwaththa’.
Diantara sekian banyak kitab hadis yang disusun pada abad ke-2 H,hanya kitab al-Muwaththa karya Imam Malik (disusun oleh Iman Malik pada pertengahaan abad ke-2 H)yang sampai pada kita sekarang.
Karena kitab tertua yang sampai pada kita adalah produk pertengahan abad ke-2 H maka tidak mengherankan kalau timbul kesan bahwa kitab hadis baru dibukukan  pada periode tersebut.

Bagi penentang Islam,angka abad tersebut besar sekali artinya.Dengan mengabaikan kegiatan kodifikasi hadis pada masa Umar bin Abdul Aziz dan catatan hadis,baik yang dilakukan para sahabat maupun para ulama generasi berikutnya,mereka mengatakan ,ada tenggang waktu yang amat panjang antara masa keluarnya hadis (masa Nabi) dengan masa pembukuannya(al-Muwaththa).Dengan teori sejarah mereka,otentisitas hadis dalam kitab al-Muwaththa’dan dalam kitab-kitab sesudahnya mereka ragukan.
Kalau saja mereka para peneliti sejarah hadis mau memperhatikan secara baik tanpa pra konsepsi tertentu tentang kode etik periwayatan hadis,bagaimana kesiapan akhlak/mental dan daya ingat serta catatan hadis(kendati sederhana)niscaya pengingkaran otentisitas hadis yang mereka dapatkan pada kitab-kitab tersebut tidak terjadi.Maka kajian terhadap kode etik ini tetap diperlukan untuk menerima atau menolak kitab hadis.
Mereka bisa memperhatikan ungkapan perintah Umar bin Abdul Aziz kepada Abu Bakar bin Hazm sebelum ibn Syihab al-Zuhri memulai kegiatan penyusunan kitab hadis.
ﻨﻈﺮ ﻣﺎﻜﺎﻦ ﻣﻦ ﺤﺪﻴﺚ ﺮﺴﻭﻞ ﺍﷲ ﺼﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺴﻠﻡ ﻔﺎﻜﺘﺑﻪ  ﻔﺈﻨﻰ ﺨﻔﺖ ﺪﺮﻮﺱ ﺍﻠﻌﻟﻡ
ﻮﺫﻫﺎﺐ ﺍﻠﻌﻟﻤﺎﺀ ﻮﻻﺘﻘﺒﻞ ﺇﻻﺤﺪﯿﺚ ﺍﻟﺭﺴﻮﻞ ﺼﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺴﻠﻡ ﻮﻟﺘﻔﺸﻮﺍ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻮﻟﺘﺠﻠﺴﻮﺍ
ﺤﺘﻰ ﻴﻌﻟﻢ ﻣﻦ ﻻﻴﻌﻟﻢ ﻔﺈﻦ ﺍﻠﻌﻟﻢ ﻻﻴﻬﻠﻚ ﺤﺘﻰ ﻴﻜﻮﻦ ﺴﺘﺮﺍ                                      
Tersebarnya ulama ke berbagai negeri dikhawatirkan hadis-hadis akan hilang bersama wafatnya mereka,sementara generasi penerus diperkirakan tidak menaruh perhatian untuk memelihara hadis.dan banyaknya berita yang diada-adakan oleh kaum mubtadi yang bisa mengancam hadis-hadis Nabi saw. 

C. Kitab-kitab Musnad

1. Pengertian Musnad 

            Musnad dari segi bahasa adalah bentuk mufrad dari “masanid”yang berarti disandarkan sedangkan menurut istilah ahli hadits adalah kitab hadis yang disusun berdasarkan urutan nama sahabat periwayatnya.
2. Sejarah munculnya Musnad
Pada periode abad ke 2-3 hijriyah,muncul persoalan baru yang berkaitan dengan perbedaan nilai hadis Nabi saw dengan patwa para sahabat dan Tabi’in.periode ini ditandai dengan adanya pemilahan antara riwayat-riwayat yang bersambung pada Nabi dengan fatwa sahabat dan Tabi’in,dengan mencabut fatwa sahabat dan Tabi’in maka tersusunlah kitab-kitab yang berisi kumpulan hadis Nabi yang diriwayatkan para sahabat saja,Kitab jenis ini kemudian dikenal dengan al-Musnad.gerakan penulisan hadis dalam bentuk ini dipelopori oleh  Abu Daud Sulaiman ibn al-Jarad al-Thayalisi.
3. Metode Penyusunan Musnad
Metode penyusunan kitab ini  didasarkan atas nama sahabat yang meriwayatkannya. Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar misalnya dikelompokkan menjadi satu, kemudian hadis-hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah,dan seterusnya.terkadang juga Urutan Sahabat itu disusun  berdasarkan urutan huruf-huruf hijaiyah atau alfabet,terkadang juga berdasarkan urutan sejarahnya masuk islam atau berdasarkan keluhuran nasabnya seperti  terlebih dahulu disebutkan riwayat-riwayat dari bani hasyim yang terdekat dengan Rasul saw kemudian yang sesudah mereka,kemudian hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sahabat yang turut serta dalam perang badar kemudian kelompok sahabat yang ikut serta dalam perdamaian Hudaibiyah,kemudian kelompok sahabat yang ketika masuk islam dimasa antara perdamaian Hudaibiya dengan Fath Makkah,dan kemudian hijra ke Madinah,kemudian kelompok sahabat yang islamnya ketika peristiwa Fath Makkah,kemudian kelompok sahabat wanita dsb.
Tehnik penyusunan seperti ini sangat membantu dalam mengetahui jumlah dan jenis hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat dari Nabi saw dan mempermudah pengecekannya dan pencarian sumber-sumber hadits yang sudah diketahui nama sahabat yang meriwayatkannya.
Adapun kitab-kitab musnad yang terkenal antara lain adalah:
-Musnad Ahmad bin Hambl (w 241 H)

-Musnad abu Daud At-Thayalisy (w 204 H)
-Musnad Abu Bakar bin Abi Syaibah (w 235 H )
-Musnad Abu Bakar Bin Amru Al-Bazzar (w 292 H)
-Musnad Abu QasimAl-Baghawiy (w 214 H)
-Musnad Abu Bakar Abdullah bin az- Zubair al-Humaidy (w 219 H)
-Musnad Abu Ya’la Ahmad bin Ali  al-Mushili (w 307 H)
-Musnad Baqiy bin Makhlad  (w 296 H)
-Musnad Asas ibn Musa al-Amawi (w 212 H)
-Musnad ‘Ubaidillah Ibn Musa al-‘Abbasi (w 213 H)
-Musnad Musaddad al-Bashri(w 224 H)
-Musnad Ishaq bin Rahawih ( w 238 H )
-Musnad al-Syafi’I ( w 240 H )dsb.

Menurut al-Biqa’i,Musnad Syafi’i karya al-Syafi’I bukan susunan beliau sendiri tetapi diambil dari al-Umm,kemudian dikumpulkan dalam kitab tersendiri oleh al-Asham.21
Sedangkan Musnad Ahmad bin Hambal dinilai para ulama hadits sebagai musnad yang paling komprehensif

D. Kitab-kitab Jami

1. Pengertian Jami
Jami dari segi bahasa berarti pengumpul/penghimpun,terkadang juga bermakna ‘as-Syamil  sedangkan dalam karya hadis,pengertian jami ada dua macam:
a.Dilihat dari pokok kandungan hadis yang dihimpunnya,pengertian kitab al-Jami adalah Kitab yang menghimpun hadis-hadis Nabi yang  berisi berbagi hal.Yaitu yang berkenaan dengan aqidah,hukum,masalah hamba sahaya,etika makan dan minum,musafir,mukim,hal –hal berkaitan dengan tafsir,sejarah ,peperangan dan sebagainya.oleh karenanya,kitab-kitab hadis yang hanya melimitasi pembahasan pada masalah fikhi saja,tidak termasuk kitab al-Jami’
b. Dilihat dari segi sumber rujukan hadis-hadis yang dihimpunnya,pengertian kitab Jami adalah kitab yang menghimpun hadis-hadis yang berasal dari kitab-kitab hadis yang telah ada. 

2. Metode penyusunan Jami
Kitab-kitab Jami’ disusun berdasarkan semua bab pembahasan agama.maka dalam kitab model ini ditemukan bab tentang iman (akidah),thahrah,ibadah,muamalat,pernikahan,riwayat hidup,adab, pensucian jiwa,fitnah dan sebagainya.(mencakup semua disiplin ilmu.

Kitab-kitab Jami yang terkenal adalah sebagai berikut:

1. Al-Jami al-Shahih al-Musnad al-Mukhtashar karya  Imam Bukhari ( w 256 H ).Kitab ini disusun berdasarkan urutan bab,diawali dengan Kitab Bad’u Al-Wahyu,dan Kitabul Iman, kemudian dilanjutkan dengan Kitabul ‘Ilm dan seterusnya hingga berakhir dengan kitab at- Tauhid. Kitab Shahih Bukhari ini mendapat perhatian besar dari para ulama ,diantaranya dengan membuat syarahnya,dan syarah yang paling baik menurut pandangan  Manna ‘Al-Qaththan adalah kitab “Fathul Bari bi Syarhi Shahihi Al-Bukhari”Karya Al-Hafiz Ibn Hajar al-Asqalani (w 852 H ).Dalam mukaddimahnya,beliau mengatakan:

ﻮﻗﺩ ﺭﺃﻳﺖ ﺃﻥ ﺃﺒﺩﺃ ﺍﻠﺸﺭﺡ ﺒﺄﺴﺎﻨﻳﺩﻯ ﺇﻠﻰ ﺍﻷﺻﻞ ﺒﺎﻠﺴﻤﺎﻉ ﺍﻭ ﺒﺎﻹﺠﺎﺯﺓ ﻭﺃﻦ ﺃﺴﻭﻗﻬﺎ ﻋﻠﻰ   
ﻧﻤﻄ ﻤﺨﺘﺭﻉ ﻓﺈﻧﻰ ﺴﻤﻌﺖ ﺑﻌﺾ ﺍﻠﻓﺿﻸ ﻴﻗﻭﻞ ﺍﻷﺴﺎﻨﻴﺪ ﺃﻨﺴﺎﺏ ﺍﻠﻛﺘﺏ ﻔﺄﺤﺑﺑﺖ ﺃﻦ ﺃﺴﻮﻖ   
ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺴﺎﻨﻴﺪ ﻤﺴﺎﻖ ﺍﻹﻨﺴﺎﺏ ﻔﺄ ﻗﻮﻝ ﺇﺗﺼﻟﺖ ﻟﻨﺎ ﺮﻮﺍﻴﺔ ﺍﻟﺑﺧﺎﺮﻯ ﻋﻨﻪ ﻤﻦ ﻄﺮﻴﻖ ﺃﺑﻰﻋﺑﺪﺍﷲ
ﻤﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻴﻮﺴﻑ ﺑﻦﻤﻁﺮﺑﻦ ﺼﺎﻠﺢ ﺑﻦ ﺑﺸﺮﺍﻠﻔﺮﺑﺮﻯ ﻮﻜﺎﻨﺕ ﻮﻔﺎﺘﻪ ﻔﻰ ﺴﻨﺔﻋﺸﺮﻴﻦﻮ ﺛﻠﺛﻤﺎﺋﺔ
“Saya mengawali tulisan ini dengam menyebut sanad yang saya miliki kepada asalnya,baik dengan mendengar atau ijazah,karena saya telah mendengar sebagian ulama berkata,”Sanad adalah dasar dari sebuah kitab ”.Oleh karenanya saya menyebutkan sanadnya dengan mengatakan :Telah sampai kepada kami riwayat Bukhari dari Imam Bukhari melalui jalur Abu ‘Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Mathr bin Shaleh bin Basyir al-Firabri yang wafat tahun 320 H”.

ﻭﻜﺎﻧﺖ ﺴﻤﺎﻋﻪ ﻠﻠﺼﺤﻴﺢ ﻤﺮﺗﻴﻦ ﻤﺮﺓ ﺑﻓﺑﺮﺮ ﺴﻧﺔ ﺛﻤﺎﻦ ﻮﺃﺮﺑﻌﻴﻦ ﻮﻤﺄﺘﻴﻦ ﻮﻤﺮﺓ ﺑﺑﺨﺎﺮﻯ ﺴﻨﺔ
 ﺍﺛﻨﺘﻴﻦ ﻮﺧﻤﺴﻴﻦ ﻮﻤﺎﺌﺘﻴﻦ
“Beliau mendengar riwayat ini dua kali.Petama di Farbar tahun 248 H dan kedua di Bukhara tahun252 H”.

Dalam kitab ini ibn Hajar menerangkan hadis-hadisnya,menjawab berbagai problema yang terkait dengan sanad dan perawi hadis,serta menerangkan perawi dan derajatnya dengan cara Jarh wa ta’dil (kritik sanad dan matan).Untuk penyusunan kitab ini,beliau membutuhkan waktu 25 tahun.
Dan  Umdatul Qari karya Badruddin al-Aini ( w 855 H ),dan Irsyad us Sari ila Shahihi al-Bukhari, karya Al-Qasthalni ( w 922 H ).
2.-Al-Jami al-Shahih karya Imam Muslim ( w 261 H ).Kitab ini berisi kumpulan riwayat hadis yang shahih saja,sesuai dengan syarat yang ditentukan Imam Muslim,dimulai dengan kitab Iman,kemudian kitab Tharah,,kitab haid,kitab shalat,dan diakhiri dengan kitab tafsir.
Menurut Jumhur ulama hadis,Shahih Muslim menempati peringkat kedua setelah Shahih Bukhari.Sedangkan menurut sebagian ulama di Maghrib bahwa Shahih Muslim lebih tinggi dari Shahih Bukhari.
Kitab ini juga mendapat perhatian yang sangat besar dari para ulama,tampak dengan munculnya beberapa kitab yang mensyarah kitab tersebut.diantaranya adalah:Kitab Al-Manhaj fi
Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj karya Abu Zakaria Muhyiddin An-Nawawi (w 676 H ),Kitab
 “Al-Ikmal fi Syarh Shahih Muslim”, Karya Al-Qadhi “Iyadh ( w 544 H),dan kitab”Ad-DibajAla Shahih Muslim bin Al-Hajjaj”’karya Imam Jalaluddin Assuyuthi ( w 911 H ).
3.-Al-Jami al-Shahih karya Imam Tirmidzi ( w 279 H ).merupakan kumpulan hadis shahih ,hasan dan dhaif.namun umumnya dijelaskan derajat hadis tersebut.dengan urutan bab-bab sebagai berikut:dimulai dengan bab Thaharah,bab Shalat,bab witir,bab Shalat Jum’at,bab Shalat ‘Idain,bab Safar,bab Zakat,bab Puasa ,bab Haji,bab Jenazah,bab Nikah,bab Thalak dan bab Jual beli,hingga diakhiri dengan bab al-Manaqib.
Diantara syarh  dari kitab Tirmidzi ini adalah: “Aridhatul AhwadziAla at-Tirmidzi” karya Abu Bakar Muhammad bin Abdullah  Al-Isybili,yang dikenal dengan Ibnu Al-‘Arabi al- Maliki ( w 543 H ).
Kitab Jami at-Tirmidzi ini juga dikenal dengan “Sunan at-Tirmidzi”.
Kitab-kitab Jami’ dalam bentuk lain diantaranya sebagai berikut:
-Al-Jam’u baina al-Shahihain karya al-Hasan ibn Muhammad ( w 650 H )
            -Al-Jam’u baina al-Shahihain karya Abi ‘Abdullah Muhammad  ibn Abi Nasr( w 488 H 
-Al-Jam’u al-Fawaid min Jami al-Ushul wa Mujma’ as-Zawaid karya Muhammad bin Muhammad ibn Sulaiman al-Maghribi ( w 1094 H ).

E.Kitab-kitab Sunan

1. pengertianSunan
Dari segi bahasa berarti “al-thoriq”atau jalan.
 Sedangkan Menurut istilah ulama hadis adalah:Kitab yang menghimpun hadis-hadis hukum yang marfu’dan disusun  berdasarkan bab-bab fiqhi
Era penyusunan kitab-kitab shahih merupakan puncak masa penyusunan kitab hadis dari segi akurasi periwayatan.sesudah itu,muncul gerakan penulisan kitab Sunan,yang didalamnya tidak hanya memuat hadis-hadis shahih tapi juga dimuat hadis-hadis dhaif,namum demikian,hadis-hadis tersebut tetap diberi komentar bahwa hadis tersebut adalah dhaif.
2. Metode Penyusunan Sunan
Kitab semacam ini disusun berdasarkan bab-bab Fiqhi yaitu dengan menyebutkan bab-bab Fiqhi secara berurutan ,dimulai dengan kitab Thaharah,,kemudian kitab Shalat,Ibadah,Muamalat,.dan seterusnya sebagaiman metode penyusunan kitab Mushannaf dan Muwaththa didalamnya juga mencakup hadis-hadis marfu,mauquf dan maqthu.
Diantara kitab-kitab sunan yang terkenal adalah sebagai berikut:
-“Sunan Abu Daud” karya Sulaiman bin Asy’ats as-Sijistani (w 275 H)
-“Sunan at-Tirmizi” (w 279 H)
-“Sunan an-Nasai”  dikenal dengan nama “al-Mujtaba”karya Imam An-Nasai (w 303 H)
-“Sunan Ibn Majah” karya Muhammad ibn Yazid ibn Majah al-Qazwini(w 275 H)
Kitab-kitab sunan yang disusun oleh empat orang ulama ini disebut juga dengan al-Jami’
Dan diantara kitab-kitab sunan yang lain adalah:
-“Sunan al-Baihaqi” karya Abu Bakar Ahmad ibn Husein al-Baihaqi  (w 458 H)
-“Sunan As-Syafi’i” karya Imam Muhammad ibn Idris as-Syafi’i (w 204 H)
-“Sunan Ad-Daruquthni karya Ali ibn Umar Ad-Druquthni (w 385 H)
-“Sunan Ad-Darimi”i karya Abdullah ibn Abdur Rahman Ad-Darimi (w 255 H) 

F. Kitab-kitab Ajza

1. Defenisi Ajza
Ajza’ bentuk jamak dari “Juz” yang berarti bahagian sedangkan menurut istilah ulama Muhaddtsin terdapat beberapa pengertian sebagai berikut:
-Kitab kecil yang berisi kumpulan riwayat seorang sahabat/perawi hadis atau berkaitan dengan satu permasalahan secara terperinci
-Kitab yang disusun untuk menghimpun hadis-hadis yang diriwayatkan oleh seorang perawi baik dari kalangan sahabat maupun dari  Tabi’in.
-Kitab yang membahas sanad-sanad sebuah hadis,seperti:Ikhtiyar al-Aula fi Hadits
Ikhtisham al-Mala’I al-A’la karya Hafiz ibn Rajab.
-Dan pengertian lain dari ‘Ajza’ adalah Kitab hadis yang memuat hais-hadis tentang suatu tema masalah cabang,seperti “Juz’ al-Qira;ah Khalfa al-Imam, karya Imam Bukhari dan “ar-Rihla fi Thalab al-Hadis karya al-Khatib al-Baghdadi.
2. Metode penyusunan Ajza
Sebagaimana pada defeniisi kitab “Ajza”diatas dapat dipahami bahwa metode penyusunan kitab jenis ini adalah metode spesifikasi pada  riwayat-riwayat tertentu atau terhadap
masalah-masalah tertentu secara mendatail.
Pada umumnya kitab jenis ini tipis,namun memiliki keistimewaan sebagai cermin bagi kedalaman ilmu seorang Imam,karena pembahasan suatu tema cabang secara khusus itu menuntut kedalaman pengetahuan penyusunnya.

Contoh-contoh lain dari kitab ‘Ajza’adalah sebagai berikut:
-“Juz’ Raf’u al-Yadaini Fi as-Shalah”karya Imam Bukhari
-“Juz’ Ma Rawahu Abu Hanifa ‘ani As-Shabah karya Abi Mu’syir ‘al-Thabhari
-“Juz fi Qiyam al-Lail karya al-Marwazi (W 227 H)
-“Juz’ fi Shala ad-Dhuha karya as-Syuthi (W 911 H)

DAFTAR PUSTAKA
Shaleh ,Subhi.Dr.Ulum al- Hadis wa Mushthalah,(Cet.17:Berut:Dar al-Ilm Lilmalayiin 1988)

Rasyid.Daud Dr,Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam sorotan,(cet I :Jakarta: Akbar Media Eka Sarana 2002)

Hasyim. Umar Dr,Qawaid Ushul al-Hadits,(cet :Cairo:Dar al-Kutub al-Mishriyah 1998)

Manna’ Al-Qaththan,Syekh.Mabahis fi Ulum Al-Hadis,Alih bahasa Mifdhal Abd.Rahman(Cet.I:Pustaka al-Kautsar 2005)

Ash-Shiddicqy,Hasybi.Pokok-pokok ilmu Dirayah Hadis,Jilid II(Cet.IV:Bulan bintang: 1994)

Shaleh ,Subhi.Dr.Ulumu al- Hadis wa Mushthalah,Diterjemahkn Tim Pustaka Firdaus Jakarta(Cet.II:Pustaka Firdaus 1995)

Al-Kattani. Al-‘Allamah Muhammad bin Ja’far,Ar-Risalah Al-Mustathrafah,(cet I:Berut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah 1995)

As-Shuyuti,Jalaluddin,Jami’u Shaghir fi Ahaditsi Al-Basyir wa An-Nadzir(Cet.I:Berut:Dar al-Kutub al-‘Ilmiah 1995)

Zuhri,.Muhammad.Dr, Hadis Nabi,Telaah Historis dan Metodologi,(cet II :Yogya: PT.Tiara Wacana 2003)

Itr. Nurdin,Dr.Manhaj an-Naqd fi Ulum al-Hadits,(cet III :Damasykus:Dar al-Fikr 1997)

Ismail, .Muhammad Syuhudi,Pembahasan Kitab-kitab Hadis,(Ujung Pandang 1989)

Al-Hasani. As Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki,Al-Manhal al-Latif fi Ushul al-Haits as-Syarif,diterjemahkan oleh Badruddin,(Cet.I:Bandung:PT.Tri Genda Karya 1995)

Al-‘Asqalani.Al-Hafidz Ahmad binAli ibn Hajar,Fathul Bariy(Cet I.Cairo:Dar Arrayyan Liltturas 1986

Al-Zafzaf,Muhammad,Al-Tarif Bi al-Qur’an wa al-Hadits,Kuwait: Al-Falah 1979)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MACAM-MACAM KITAB HADIS DAN METODOLOGI PENYUSUNANNYA "

Post a Comment

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak