Kumpulan Berbagai Jenis Makalah

AQIDAH ISLAMIYAH



   1.      Pengertian Aqidah Islamiyah

Dalam kamus Al-Munawwir, disebutkan bahwa aqidah berakar dari kata ‘aqada-ya’qudu-‘aqdan-‘aqidatan, yang berarti simpul, ikatan, perjanjian dan kokoh. Setelah terbentuk menjadi aqidah berarti keyakinan.[6] Relevansi antara arti kata ‘aqdan dan aqidah adalah keyakinan itu tersimpul dengan kokoh di dalam hati, bersifat mengingat dan mengandung perjanjian.
Secara terminologis, terdapat beberapa definisi tentang aqidah, antara lain :
a.       Menurut Hasan Al-Banna
Aqa’id (bentuk jamak dari aqidah) adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati(mu), mendatangkan ketenteraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikitpun dengan keragu-raguan.[7]
Manusia dititipkan oleh Allah Swt. dua potensi secara umum, yaitu potensi jasadiyah dan potensi rohaniah. Potensi jasadiyah bertolak pada apa-apa yang secara inderawi dapat disaksikan. Sementara pada potensi rohaniah terisolasi pada hal-hal yang sifatnya inderawi.
Ruang lingkup dari potensi rohaniah adalah hati dan pikiran. Kedua bagian itulah manusia disebut sebagai manusia. Dengan pikiran, manusia menganalisa, merasionalkan dan mengempiriskan yang kemudian diterima dan memberikan kepuasan batin. Akan tetapi, tidak semua hal harus rasional dan empiris. Di saat seperti inilah hati akan bereaksi memancarkan keyakinan dan terlukiskan dalam bentuk amaliyah.
Rukun iman merupakan pondasi berIslamnya seorang muslim adalah merupakan perkara yang kebenarannya wajib diyakini oleh hati dengan diperkuat oleh dalil-dalil aqli rasional analisis menguburkan keragu-raguan, menjadikan aqidah murni tanpa noda yang kemudian melahirkan ketenteraman jiwa.
b.      Menurut Abu Bakar Jabir Al-Jaizary
Aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum (axioma) oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fitrah. Kebenaran itu dipatrikan oleh manusia di dalam hati serta diyakini kesahihan dan keberadaannya (secara pasti) dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.[8]
Untuk lebih memahami kedua definisi tersebut di atas, perlu dikemukakan beberapa catatan tambahan, yaitu :
a.       Ilmu terbagi dua. Pertama, ilmu dharuri yaitu ilmu yang dihasilkan oleh indera dan tidak memerlukan dalil, misalnya kita melihat buku di depan mata, maka kita tidak lagi perlu dalil atau bukti bahwa benda itu ada. Kedua, ilmu nazhari yaitu ilmu yang memerlukan dalil atau pembuktian, misalnya ketiga sisi segitiga sama sisi mempunyai panjang yang sama, memerlukan dalil bagi orang yang tidak mengetahui teori itu. Diantara ilmu nazhari itu, ada hal-hal karena sudah sangat umum dan terkenal tidak memerlukan dalil lagi, misalnya sebagian lebih sedikit dari seluruh. Kalau sebuah roti kita potong sepertiganya, maka yang dua per tiga tentu lebih banyak dari yang sepertiga, tetapi hal itu pasti diketahui oleh siapa saja termasuk anak kecil sekalipun. Jadi, badiyah adalah segala sesuatu yang kebenarannya perlu dalil pembuktian, tetapi karena sangat umum dan mendarah daging maka kebenaran itu tidak lagi perlu pembuktian.
b.      Setiap manusia fitrah mengalami kebenaran (bertuhan) indera untuk mencari kebenaran, akal untuk menguji kebenaran dan memerlukan wahyu untuk mencari pedoman menentukan mana yang benar dan mana yang tidak.
c.       Keyakinan tidak boleh sedikitpun dengan keraguan. Sebelum seseorang sampai ke tingkat yakin (ilmu) dia terlebih dahulu mengalami :
1)      Syah, yaitu sama kuat antara membenarkan sesuatu atau menolaknya;
2)      Zhan, yaitu salah satu lebih kuat sedikit dari yang lainnya karena ada dalil yang menguatkannya;
3)      Ghalababuz zhan, yaitu cenderung lebih menguatkan salah satu karena sudah meyakini dalil kebenarannya. Keyakinannya yang sudah sampai ke tingkat ilmu inilah yang disebut dengan aqidah.
d.      Aqidah harus mendatangkan ketenteraman jiwa. Artinya lahirnya seseorang bisa saja berpura-pura meyakini sesuatu, akan tetapi hal itu tidak mendatangkan ketenteraman jiwa, karena dia harus melaksanakan sesuatu yang berlawanan dengan keyakinannya.
e.       Bila seseorang sudah meyakini suatu kebenaran, dia harus menolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu. Artinya seseorang tidak akan bisa meyakini sekaligus dua hal yang bertentangan.
f.       Tingkat keyakinan (aqidah) seseorang tergantung pada tingkat pemahaman terhadap dalil, misalnya :
1)      Seseorang akan meyakini adanya negeri Sudan bila ia mendapat informasi tentang negara tersebut dari seseorang yang dikenal tidak pernah bohong;
2)      Keyakinan itu akan bertambah apabila ia mendapatkan informasi yang sama dari beberapa orang lain, namun tidak terhadap kemungkinan dia akan meragukan kebenaran informasi itu apabila ada syubhat (dalil-dalil yang menolak informasi tersebut);
3)      Bila dia menyaksikan foto Sudan, bertambahlah keyakinannya, sehingga kemungkinan untuk ragu semakin kecil;
4)      Apabila dia pergi menyaksikan sendiri negeri tersebut, keyakinannya semakin bertambah dan segala keraguan akan hilang, bahkan dia mungkin ragu lagi, serta tidak akan mengubah pendiriannya sekalipun semua orang menolaknya;
5)      Apabila dia jalan-jalan di negeri Sudan tersebut dan memperhatikan situasi kondisinya, bertambahlah pengalaman dan pengetahuannya tentang negeri yang diyakininya itu.[9]
Selain itu, disebutkan bahwa aqidah ialah pendapat dan pikiran atau anutan yang mempengaruhi jiwa manusia, lalu menjadi sebagai suatu bagian dari manusia sendiri, dibela, dipertahankan, dan diitikadkan bahwa hal itu adalah benar.[10]
Sementara itu, Z.A. Syihab menyebutkan bahwa aqidah adalah kepercayaan dan keyakinan yang tumbuh dalam lubuk hati yang paling dalam.[11]
Dikaitkan dengan QS. Al-Anfal ayat 2 akan kepercayaan dan keyakinan yang tumbuh dalam lubuk hati yang terdalam yaitu dengan melihat reaksi kalbu melalui amaliyah di saat sifat-sifat keagungan Allah disebutkan dan disaat ayat-ayat Allah (ayat-ayat kauliyah dan kauniyah Allah) dibacakan.
Dari beberapa definisi tersebur di atas, maka dapat disimpulkan bahwa aqidah digerakkan oleh hati dan melahirkan suatu keyakinan yang mendalam tanpa diiringi dengan suatu keragu-raguan, dalam hal ini adalah menyangkut eksistensi Allah Swt. dengan ayat-ayat kauliyah maupun kauniah-Nya.

2.      Sumber Aqidah Islam

Sumber aqidah Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Artinya apa saja yang disampaikan Allah Swt. dalam Al-Qur’an dan oleh Rasulullah Saw. dalam sunnahnya, wajib diimani (diyakini dan diamalkan).[12]
Akal pikiran tidaklah menjadi sumber aqidah, tetapi hanya berfungsi memahami nash-nash yang terdapat dapat dalam kedua sumber tersebut dan mencoba –kalau diperlukan– membuktikan secara ilmiah kebenaran yang disampaikan oleh Al-Qur’an dan Sunnah, itupun harus didasari oleh sebuah kesadaran bahwa kemampuan akal sangat terbatas, sesuai dengan terbatasnya kemampuan semua makhluk Allah Swt. Akal tidak akan mampu menjangkau masail ghaibiyah, bahkan akal tidak akan mampu menjangkau sesuatu yang tidak terikat dengan ruang dan waktu. Misalnya akal tidak akan mampu menjawab pertanyaan kekal itu sampai kapan? Atau akal tidak akan mampu menunjukkan tempat yang tidak ada di darat, di udara, di luat dan tidak ada dimana-mana, karena kedua hal tersebut tidak terikat oleh ruang dan waktu. Oleh sebab itu, akal tidak boleh dipaksa memahami hal-hal ghaib tersebut dan menjawab pertanyaan segala sesuatu tentang hal-hal ghaib itu. Akal hanya perlu membuktikan jujurkah atau bisakah dibuktikan secara ilmiah ?
Dengan wafatnya Rasulullah Saw., berakhirlah turunnya wahyu Allah Swt. dan terhenti pulalah sunnah Rasul. Dengan kata lain, sempurnalah agama yang diturunkan Allah dalam semua aspeknya, sempurna dan tidak boleh lagi ditambah dan tidak pula untuk dikurangi.
Seandainya ada kemungkinan ada yang tidak cocok dengan akal manusia, bukanlah berarti agama itu yang salah, akan tetapi akal itu sendiri yang tidak bisa untuk menjangkaunya. Bila sepatu yang sempit janganlah kaki yang diraut, tapi carilah sepatu yang cocok dengan kaki itu. Begitu pula jika kopiah yang sempit, jangan kepala yang ditarah, tetapi carilah kopiah yang sesuai dengan kepala tersebut.[13]
Al-Qur’an dan Sunnah yang merupakan sumber aqidah Islam adalah merupakan peninggalan dan warisan bagi kita umat muslim, sesuai dengan sabdanya :
ﺍﷲ ﻋﻥ ﺃﺑﻳﻪ ﻋﻥ ﺟﺩﻩ ﻗﺎﻝ׃ ﻗﺎﻝ ﺭﺴﻭﻝ ﺍﷲ ﺼﻟﻌﻡ׃ ﺗﺭﻜﺕ ﻓﻳﻜﻡ ﺃﻣﺭﻳﻥ ﻟﻥ ﺗﺿﻟﻭﺍ ﻋﺑﺩ ﻛﺛﻳﺭﺑﻥ ﻋﻥ
ﻨﺑﻳﻪ ﻭﺳﻨﺔ ﺍﷲ ﻜﺗﺎﺐ :ﺑﻬﻣﺎ ﺗﻣﺳﻜﺗﻡ ﻣﺎ
Artinya:  Dari Katsir bin Abdillah, dari ayahnya, dari datuknya ia berkata, berkata Rasulullah Saw.: “Aku tinggalkan padamu sekalian dua pusaka, yang tidak akan sesat kamu selama-lamanya, jika kamu tetap berpegang teguh pada keduanya: kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya”.[14] (HR. Ibnu Abdil Barr)

Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. merupakan Undang-undang yang mengajarkan tentang ketauhidan (mengesakan Allah) yang merupakan pondasi atau titik dasar beragama bagi seorang muslim. Hal ini dapat dilihat dalam Al-Qur’an surah Az-Zukhruf ayat 81 sebagai berikut :
ö@è% bÎ) tb%x. Ç`»uH÷q§=Ï9 Ó$s!ur O$tRr'sù ãA¨rr& z`ƒÏÎ6»yèø9$# ÇÑÊÈ  
Artinya:  Katakanlah, jika benar Tuhan yang Maha Pemurah mempunyai anak, Maka Akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu).[15] (QS. Az-Zukhruf [43]: 81)

Jadi, dapat disimpulkan bahwa sumber aqidah Islam yaitu pusaka yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah Saw. yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Adapun akal hanyalah mediator untuk memperkuat aqidah kaum muslimin.

3.      Fungsi Aqidah Islamiyah

Aqidah adalah dasar, pondasi untuk mendirikan bangunan. Semakin tinggi bangunan yang akan didirikan, harus semakin kokoh pondasi yang dibuat. Jika pondasinya lemah, bangunan itu akan cepat ambruk, tidak ada bangunan tanpa pondasi.

0 Comment for "AQIDAH ISLAMIYAH"

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak

Back To Top