Home » » Konsep Pendidikan Akhlak Dalam Islam

Konsep Pendidikan Akhlak Dalam Islam

Konsep Pendidikan Akhlak Dalam Islam

A. Arti Pendidikan Akhlak Dalam Islam

Berbicara masalah pembentukan akhlak sama dengan berkata tentang destinasi pendidikan, karena tidak sedikit sekali pendapat para berpengalaman yang menuliskan bahwa destinasi pendidikan ialah pembentukan akhlak. Muhammad Athiyah al-Abrasyi misalnya menuliskan bahwa edukasi budi pekerti dan akhlak ialah jiwa dan tujuan edukasi Islam. Akhlak memiliki peranan urgen dalam menyusun perbuatan manusia, bahkan apa saja yang bermunculan dari manusia tersebut sendiri, baik berupa sikap, ucapan atau perbuatan ialah lahir dari pembawaan dan sifat jiwanya.
Berdasarkan keterangan dari sebagian ahli, akhlak tidak butuh dibentuk, sebab akhlak ialah insting (garizah) yang dibawa insan sejak lahir. Selanjutnya pendapat beda mengatakan, akhlak ialah hasil dari pendidikan, latihan, pembinaan dan perjuangan keras dan sungguh-sungguh. Ibnu Miskawaih, IbnSina, al-Ghazali dan lain-lain termasuk kumpulan yang menuliskan akhlak ialah hasil usaha (Muktasabahah).

Pada kenyataanya dilapangan, usaha pembinaan akhlak melalui sekian banyak  lembaga edukasi dengan sekian banyak  macam cara terus dikembangkan. Ini mengindikasikan bahwa akhlak memang butuh dibina, dan pembinaan ini ternyata membawa hasil berupa terbentuknya pribadi-pribadi muslim yang berakhlak mulia, taat untuk Allah dan Rasul-Nya, hormat untuk orang tua, sayang untuk sesama makhluk Tuhan dan seterusnya. Keadaan pembinaan ini semakin terasa dibutuhkan terutama pada ketika dimana semakin tidak sedikit tantangan dan godaan sebagai akibat dari peradaban dibidang iptek.

Dengan demikian pembentukan akhlak dapat ditafsirkan sebagai usaha betul-betul dalam rangka menyusun pribadi, dengan memakai sarana edukasi dan pembinaan yang terprogram baik serta dilakukan dengan betul-betul dan konsisten. Pembentuksn akhlak ini dilaksanakan menurut asumsi bahwa akhlak ialah hasil usaha pembinaan, bukan terjadi dengan sendirinya. Potensi rohaniah yang terdapat pada diri manusia, tergolong didalamnya akal, nafsu amarah, nafsu syahwat, fitrah, kata hati, hati nurani dan intuisi dibina secara optimal dengan teknik dan pendekatan yang tepat. 

B. Metode Pendidikan Akhlak dalam Islam

Pembinaan akhlak adalahtumpuan perhatian kesatu dalam Islam. Hal ini dapat disaksikan dari di antara misi kerasulan Nabi Muhammad  SAW. yang utama ialah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Perhatian Islam yang demikian terhadap pembinaan akhlak bisa pula disaksikan dari perhatian Islam terhadap pembinaan jiwa yang mesti didahulukan dari pada pembinaan fisik, sebab dari jiwa yang baik inilah bakal lahir tindakan yang baik yang selanjutnya bakal mempermudah menghasilkan kebajikan dan kebahagiaan pada semua kehidupan manusia, bermunculan dan batin. Perhatian Islam dalam pembinaan akhlak selanjutnya dapat diteliti pada muatan akhlak yang ada pada semua aspek doktrin Islam. Ajaran Islam mengenai keimanan contohnya sangat sehubungan erat dengan menggarap serangkaian amal salih dan tindakan terpuji. Seperti dalam al-Qur’an:

Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu merupakan mereka yang beriman untuk Allah dan Rasul-Nya, kemudian tersebut mereka tidak ragu-ragu dan senantiasa berusaha dengan harta dan dirinya di jalan Allah. Itulah orang-orang yang benar (imannya).” (QS. Al-Hujurat, 49: 15).

Pembinaan akhlak dalam Islam pun terintegrasi dengan pelaksaan rukun iman. Hasil analisis Muhammad al-Ghazali terhadap rukun Islam yang lima telah mengindikasikan dengan jelas, bahwa dalam rukun Islam yang lima tersebut terkandung konsep pembinaan akjlak. Misalnya, rukun Islam yang kesatu ialah mengucapkan dua kalimat syahadat. Kalimat ini berisi pengakuan bahwa sekitar hidupnya manusia melulu tunduk untuk aturan dan tuntutan Allah. Orang yang tunduk dan patuh pada aturan Allah dan rasul-Nya telah dapat dijamin akan menjadi orang yang baik. Begitu pun pada butir-butir rukun Islam yang lain, setiap berisia konsep mengenai akhlak.

Berdasarkan analisis tersebut. Kita dapat menuliskan bahwa Islam paling memberi perhatian yang besar terhadap pembinaan akhlak, tergolong cara-caranya. Hubungan antara rukun iman dan rukun Islam terhadap pembinaan akhlak yang ditempuh islam ialah menggunakan teknik atau system yang integrated, yakni system yang menggunakan sekian banyak  sarana peribadatan dan lainnya secara simultan untuk ditunjukkan pada pembinaan akhlak.

Cara beda yang bisa ditempuh guna pembinaan akhlak ini ialah pembiasaan yang dilaksanakan sejak kecil dan dilangsungkan secara kontinyu. Berkenaan dengan ini Imam al-Ghazali menuliskan bahwa jati diri manusia tersebut pada dasrnya bisa menerima segala usaha pembentukan melewati pembiasaan. Dalam tahap-tahap tertentu, pembinaan akhlak, terutama akhlak lahiriah bisa pula dilaksanakan dengan teknik paksaan yang lama kelamaan bukan lagi terasa dipaksa. Cara beda yang tak kalah ampuhnya ialah melalui keteladanan. Pendidikan tersebut tidak bakal sukses, melainkan andai disertai dengan pemberian misal teladan yang baik dan nyata. Cara yang demikian tersebut telah dilaksanakan oleh Rasulullah. Keadaan ini ditetapkan dalam ayat yang berbunyi:

Artinya:
”Sungguh pada diri Rasulullah tersebut terdapat misal teladan yang baik untuk kamu sekalian, yaitu untuk orang yang menginginkan (keridlaan) Allah dan (berjumpa dengan-Nya di) hari kiamat, dan selalu tidak sedikit menyebut nama Allah.” (QS. Al-Ahzab, 33: 21).

Selain tersebut pembinaan akhlak bisa pula ditempuh dengan teknik senantiasa memandang diri ini sebagai yang tidak sedikit kekurangannya dari pada kelebihannya. Pembinaan akhlak secara efektif bisa pula dilaksanakan dengan memperhatikan hal kejiwaan sasaran yang bakal dibina.

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendidikan Akhlak dalam Islam

Untuk menyatakan faktor-faktor yang memprovokasi pembentukan akhlak pada terutama dan edukasi pada umumnya, terdapat tiga aliran yang amat popular. Pertama aliran natifisme. Kedua, aliran empirisme, dan ketiga aliran konvergensi. Berdasarkan keterangan dari aliran nativisme bahwa hal yang paling dominan terhadap pembentukan diri seseorang ialah faktor pembawaan dari dalam yang bentuknya bisa berupa kecenderungan, bakat, akal, dll.

Berdasarkan keterangan dari aliran empirisme bahwa hal yang paling dominan terhadap pembentukan diri seseorang ialah faktor dari luar, yakni lingkungan sosial,termasuk edukasi dan pembinaan yang diberikan. Selanjutnya pada aliran konvergensi berasumsi pembentukan akhlak diprovokasi oleh hal internal, yakni pembawaan si anak, dan hal dari luar yaitu edukasi dan pembinaan yang dinuat secara khusus, atau melewati interaksi dalam lingkungan sosial.

Aliran yang ketiga ini tampak cocok dengan doktrin Islam. Hal ini dapat dicerna dari ayat berikut:    
Artinya:
“Dan Allah mengeluarkan anda dari perut ibumu dalam suasana tidak memahami sesuatupun, dan Dia memberi anda pendengaran, penglihatan dan hati, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Nahl, 16: 78).

Dengan demikian hal yang memprovokasi pembinaan akhlak pada anak terdapat dua, yakni dari dalam adalahpotensi fisik, imtelektual dan hati (rohaniah) yang diangkut anak semenjak lahir, dan hal dari luar yang dalam urusan ini ialah kedua orang tua dirumah, guru di sekolah, dan tokoh-tokoh serta pemimpin dimasyarakat. Melalui kerja sama yang baik antara tiga lembaga edukasi tersebut, mala aspek kognitif (pengetahuan), afektif (penghayatan) dan psikomotorik (pengamalan) doktrin yang diajarkan bakal terbentuk pada diri anak.

D. Macam- Macam Pendidikan Akhlak dalam Islam

1. Berbakti untuk ibu dan bapak
Ibu ialah orang yang paling tidak sedikit menanggung kesengsaraan dan kesusahan guna kepentingan anaknya. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Ahqaf yang berbunyi :

Artinya:
“Kami perintahkan kapada insan supaya melakukan baik untuk dua orang ibi-bapaknya, ibunya berisi dengan sulit payah (pula). Mengandungnya hingga menyapihnya ialah tiga puluh bulan.” (QS. Al-Ahqaf : 15)

Kemudian orang kedua yang besar jasanya terhadap anak ialah bapaknya. Bapak bekerja di rumah, di ladang, di pabrik, di kantor dan di tempat-tempat lain ialah untuk ongkos anak dan isterinya. Oleh sebab tersebut manusia mesti berbakti untuk ibu bapaknya, dan mentaati suruhannya, sebagai pembalas budi terhadap jasa-jasa keduanya. Pada hakekatnya walaupun bagaimana besarnya balas budi yang diserahkan kepada ibu bapaknya tidak bakal dapat mengimbangi jasa-jasa keduanya.

Berbuat baik untuk ibu bapak tidak melulu semasa hidupnya saja, namun sesudah dua-duanya meninggalpun anda harus melakukan baik. Cara melakukan baik untuk ibu bapak yang telah meninggal, telah ditata dalam Islam.

Diriwayatkan :
Artinya:
“Telah datang seorang laki-laki (kepada  Rasulullah) kemudian ia bertanya: Ya Rasulullah, masih adakah kebajikan yang bisa saya lakukan untuk ibu bapak sesudah dua-duanya meninggal ?”
“Ada jawab Rasulullah : Yaitu menyembahyangkan (jenazah) meminta ampun untuk Tuhan, menyempurnakan janjinya, menghormati sahabatnya dan tidak jarang kali bersilaturrahmi dengan family yang terdapat hubungan dengan keduanya.” (H.R. Abu Daud).

Adapun cara-cara memuliakan ibu bapak menurut keterangan dari KH. Abdullah Salim yaitu:
a. Berbicara dengan ucapan-ucapan yang baik
b. Lindungi dan doakan
c. Hormat dengan sikap terima kasih
d. Menghubungkan silaturrahmi
e. Menunaikan washiyat kecuali yang ma’shiyat
f. Durhaka pada orang tua ialah dosa besa
g. Membantu ibu dan bapak

2. Sopan terhadap guru
Guru ialah menjadi pengganti dari orang tua guna mendidik dan menuntun anaknya. Tidak masing-masing orang tua dapat mendidik dan melatih anaknya. Oleh sebab tersebut sudah sepantasnya siswa bersikap sopan santun terhadap gurunya. Murid hendaknya bersikap merendahkan diri, tidak mengindikasikan sikap angkuh, congkak dan acuh tak acuh terhadap gurunya.
Rasulullah bersabda :
وَقِّرُوْامَنْ نَتَعَلَّمُوْنَ مِنْهُ (رواه ابوالحسن الماوردى)

Artinya:
“Muliakanlah orang yang anda belajar dari padanya (gurunya).” (HR. Abu Hasan al-Mawardi).

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani sudah menetapkan untuk murid sejumlah adab yang mesti diterapkannya dalam berperilaku terhadap gurunya yaitu:
a. Mentaatinya dan tidak menentangnya baik secara bermunculan maupun batin.
b. Harus menutupi aib gurunya.
c. Selalu mengekor gurunya dan tidak lepas darinya.
d. Harus bersikap sopan di depan gurunya dan mesti menggunakan ucapan-ucapan yang sangat halus ketika berkata dengannya serta mengerjakan sesuatu yang mempermudah gurunya.
e. Murid mesti yakin dan percaya bahwa gurunya ialah ahli guna ditimba ilmu dan pengetahuannya.
Supaya proses pendidikan sukses dengan baik karena tersebut harus adanya tanggung jawab bareng antara siswa dan guru. Untuk tersebut Abdul Qadir Al-Jailani pun menetapkan adab-adab dan keharusan yang mesti dilaksanakan seorang guru merupakan:
a.   Hendaknya guru menerima murid tersebut karena Allah.
b.  Guru mesti senantiasa menyimak perilaku muridnya.
c.  Jika guru memahami kesungguhan muridnya, maka dia jangan memberinya keringanan.
d.   Guru hendaknya menuntun muridnya supaya memegang prinsip-prinsip kebajikan dan menjauhi tindakan keji, baik dalam ucapan maupun akhlak.

3. Bersikap baik untuk saudara
Agama Islam memerintahkan, supaya berbuat baik untuk sanak saudara atau kaum kerabat, sesudah membayar kewajiban untuk Allah dan ibu bapak. Kalau anda di takdirkan Allah SWT. terdapat mempunyai keunggulan rezeki, sedekahkanlah sebagiannya untuk saudara atau karib kerabat kita. Sebagaimana firman Allah dalam surah an-Nisa’ : 36 yang berbunyi:
Artinya:
“Sembahlah Allah dan janganlah anda mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan melakukan baiklah untuk dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan rekan sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyenangi orang-orang yang congkak dan membangga-banggakan diri.” (an-Nisa’: 36).

4.  Berbuat baik untuk tetangga
Tetangga ialah orang yang terdekat dengan kita. Agama Islam telah menciptakan suatu ketentuan, bahwa orang mesti menghormati tetangganya, tidak mengganggu dan menyusahkan mereka. Nabi Muhammad bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْ مِنُ بِا للهِ وَالْيَوْمِ الْاَخِرِفَلْيُكْرِمْ جَارَهُ. (رواه لبحارى)

Artinya:
“Barangsiapa beriman untuk Allah dan untuk hari kemudian, hendaklah ia menghormati tetangganya.” (HR. Bukhari).

5. Cita untuk Allah
Sekurang-kurangnya terdapat empat alasan mengapa insan perlu berakhlak untuk Allah, yaitu:
a. Karena Allah-lah yang membuat manusia.
b. Karena Allah-lah yang telah menyerahkan perlengkapan panca indera.
c. Karena Allah-lah yang sudah menyediakan sekian banyak  bahan dan sarana yang diperlukan untuk kelangsungan hidup manusia.
d.  Allah-lah yang sudah memuliakan insan dengan diberikannya keterampilan menguasai daratan dan lautan.
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Konsep Pendidikan Akhlak Dalam Islam

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 10/05/2017

0 komentar Konsep Pendidikan Akhlak Dalam Islam

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak