KONSEP PEMIKIRAN SYEKH YUSUF AL-MAKASSARI

Hasil gambar untuk BIOGRAFI SYEKH YUSUF AL-MAKASSARI

     A.    Biografi Syekh Yusuf Al-Makassari


Syekh Yusuf adalah putera asli Makassar, lahir di Kerajaan Gowa pada tahun 1626 M. Dari asal usulnya, beliau merupakan keturunan bangsawan di kalangan suku bangsa Makassar dan mempunyai pertalian kerabat dengan raja-raja Banten, Gowa dan Bone. Dalam sumber lain disebutkan bahwa Syeikh Yusuf lahir tahun 1626 di Gowa, Sulawesi Selatan. Ayahnya, Abdullah, bukan bangsawan, tetapi ibunya, Aminah, keluarga Sultan Ala al-Din. Dia dididik menurut tradisi Islam, diajari bahasa Arab, fikih, tauhid. Pada usia 15 tahun dia belajar di Cikoang pada seorang sufi, ahli tasawuf, mistik, guru agama, dan dai yang berkelana. Saya tahu dari sejarawan Belanda, Van Leur, betapa agama Islam dibawa ke Indonesia pada mulanya oleh pedagang-pedagang Islam yang sekaligus adalah sufi. Kembali dari Cikoang Syeikh Yusuf menikah dengan seorang putri Sultan Gowa, lalu pada usia 18 tahun dia naik haji ke Mekkah sekalian memperdalam studi tentang Islam.
 Menurut Dagboek der Vorsten van Gowa en Tallo dikeluarkan oleh Ligvoet, Syekh Yusuf Makasar dilahirkan di GowaSulawesi Selatan3 Juli 1626 meninggal di Cape TownAfrika Selatan23 Mei 1699 pada umur 72 tahun) adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia yang lahir dari pasangan Abdullah dengan Aminah dengan nama Muhammad Yusuf. Nama ini diberikan oleh Sultan Alauddin, raja Gowa, yang juga adalah kerabat ibu Syekh Yusuf. Nama lengkapnya setelah dewasa adalah Tuanta' Salama' ri Gowa Syekh Yusuf Abul Mahasin Al-Taj Al-Khalwati Al-Makassari Al-Banteni.
Menurut sejarah Gowa, Syekh Yusuf al-Makassari dilahirkan 1037/1627 di Tallo wilayah kerajaan Gowa dan meninggal di Tanjung Harapan Afrika Selatan pada 22 Zulkaidah 1111 H/22 Mei 1699 M, dikuburkan di Faure di perbukitan pasir False Bay tidak jauh dari tanah pertanian Zandvliet. Pusaranya dikenal sebagai Karamat tempat beribu-ribu peziarah yang menghormati tokoh yang mulia ini. pada tahun 1699 keturunan dan pengikutnya kembali ke Nusantara. Pada 1705 kerangka jenazah Syekh Yusuf al-Makasari tiba di Gowa, lalu dimakamkan di Lakiung. Pusara al-Makassari kedua inipun menjadi tempat ziarah di Sulawesi Selatan.

     B.    Perjalanan Hidup Syekh Yusuf Al-Makassari

Seorang ulama besar tidak mungkin lahir dengan sendirinya, tanpa melalui tempaan-tempaan yang berat. Termasuk tempaan dalam mencari ilmu. Mengetahui guru-gurunya juga sebagai pemetaan jaringan ulama dan corak paham kegamaan yang dikembangkannya. Begitu juga dengan Syekh Yusuf. Sejak agama Islam menjadi pengangan masyarakat di tanah Bugis, sistem pendidikan awal kepada anak-anak mereka adalah menyampaikan ayat-ayat al-Quran al-Karim melalui cara tradisional dalam pengajaran baca tulis al-Quran. Maka Syekh Yusuf al-Makassari pun tidak lepas dengan sistem itu. Sejak kecil beliau mulai diajarkan hidup secara Islam. Beliau dididik menurut tradisi Islam, diajari bahasa Arab, fikih, tauhid dan ilmu-ilmu keagamaan lainnya sejak dini. Sebagai seorang putera keluarga bangsawan dia berkesempatan mengenyam pendidikan yang sangat bagus dengan belajar kepada ulama-ulama ternama pada zamannya, termasuk berkesempatan menimba ilmu di pusat-pusat pendidikan ternama pada zamannya. Salah satu pusat pendidikan keagamaan yang bagus pada waktu itu berada di Cikoang, yang saat itu merupakan perkampungan para guru-guru agama. Mereka adalah keluarga-keluarga sayyid Arab yang diyakini sebagai keturunan (dzurriyat) Rasulullah Muhammad SAW.  Pada usia 15 tahun Muhammad Yusuf belajar di Cikoang pada seorang sufi, ahli tasawuf, mistik, guru agama, dan dai yang berkelana yaitu Syeikh Jalaludin al-Aidit, selain itu beliau mendapatkan pendidikan mengenai bacaan al-Quran melalui seorang guru mengaji yang bernama Daeng ri Tasammang hingga khatam al-Qur’an.
Setelah fasih membaca al-Quran, beliau dibawa oleh orang tuanya ke pondok Pesantren Bontoala untuk menuntut ilmu-ilmu Islam dan ilmu alat, seperti Nahw, sarf, Balaghah, dan Mantiq. Pondok atau pusat pendidikan Bontoala yang didirikan pada tahun 1634, pada masa itu dipimpin oleh seorang ulama yang berasal dari Yaman yang bernama Syed Ba’Alawy bin Abdullah, yang dikenal sebagai al-Allamah Tahir.
Setelah beliau menamatkan pelajarannya di pondok pesantren Bontoala, gurunya Syed Ba’ Alawy menyarankan kepadanya agar terus melanjutkan pengajian di pondok Cikoang. Ada beberapa tahun lamanya Syekh Yusuf belajar di pondok Cikoang di bawah bimbingan dan asuhan Syekh Jalaluddin. Karena kecemerlangan dan kecerdesan otaknya dalam mengikuti  pengajian, akhirnya beliau disarankan oleh gurunya untuk meneruskan pelajarannya di Jazirah Arabia. Walaupun hidup di lingkungan istana, namun semangat untuk menuntut ilmu tidak padam oleh tawaran-tawaran kehidupan enak ala istana. Di usia yang masih tergolong remaja (18 tahun), beliau berencana menuntut ilmu ke Makkah. Sebelum niatan itu terwujud, ada satu adat saat itu yang “harus dipenuhi” oleh Syekh Yusuf sebagai bagian dari keluarga kerajaan, yaitu supaya membekali diri dengan berguru kepada “Para Paku Bumi” di 3 gunung (G. Latimojong wilayah kerajaan Luwu, G. Balusaraung wilayah kerajaan Bone, G. Bawakaraeng wilayah kerajaan Gowa) sebagai puncak 3 kerajaan yang memiliki ciri khas dan tradisi budaya tersendiri.
Tepat pada tanggal 22 September 1644 diusia 18 tahun Yusuf muda berangkat menumpang kapal melayu, dengan tujuan menuntut ilmu-ilmu Islam di Jazirah Arabiah terutama di Mekah dan Madinah sebagai pusat pendidikan Islam pada masa itu. Oleh karena jalan pelayaran niaga pada waktu itu mesti melalui laut Jawa dan transit di Banten,Dalam persinggahan inilah ia berkenalan dengan ulama dan tokoh agama serta orang-orang besar di Banten, Disini dia bersahabat dengan Pangeran Surya anak dari Sultan Mufahir Mahmud Abdul Kadir, Sultan kerajaan Banten pada masa itu. Kemudian dia berangkat ke Aceh dan berguru pada Syekh Nuruddin Ar-Raniri salah seorang penasihat Sultonah Shofiyatuddin, raja perempuan Aceh. Syeikh Nuruddin Ar-Raniri adalah negarawan, ahli fikih, teolog, sufi, sejarawan dan sastrawan penting dalam sejarah Melayu pada abad ke-17. Yang lahir di Ranir Gujarat India, setelah dari Aceh lalu beliau melanjutkan perjalanannya ke Timur Tengah untuk melaksanakan ibadah Haji sekaligus berguru dengan ulama disana.
Negeri Yaman adalah persinggahan beliau pertama dan berguru kepada Sayed Syekh Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi bin Syekh al-Kabir Mazjaji al-Yamani Zaidi al-Naqsyabandy. Lalu ke kota Zubaid berguru kepada Syekh Maulana Sayed Ali al-Baalawiyah Gurunya yang kedua ini adalah seorang muhaddits dan tokoh sufi, dan beliau lebih dikenal sebagai ulama Ahl  al-Sunnah  wa al-Jamâ’ah di negeri Yaman pada zamannya.
Musim haji pun tiba maka beliau berangkat ke Mekkah. Setelah menunaikan ibadah Haji maka beliau berangkat ke Madinah untuk menziarahi makam Rasulullah SAW. Sekaligus meneruskan pengajiannya di sana. Beliau berguru kepada Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin al-Kurdi al-Kaurani. dan Hassan al-Ajamiy. Dari situ Yusuf muda masih melakukan perjalanan studinya ke Negeri Syam (Damaskus) kepada Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al-Qurasyi seorang tokoh dakwah dan ulama Sufi serta pakar hadits yang amat masyhur di zamannya, disini Syekh Yusuf mendapatkan predikat “Summa Cum Laude” bergelar Tajul Khalwati Hadiyatullah. tercatat juga bahwa beliau mempelajari tarekat Dasuqiyah, Syaziliyah, Hasytiah, Rifaiyah, al-Idrusiyah, Suhrawardiyah, Maulawiyah, Kubrawiyah, Madariyah, Makhduniyah.

      C.    Konsep Pemikiran Syekh Yusuf Al-Makassari

Sebagai seorang penganut tarekat Syekh Yusuf Makasar adalah sufi yang luar biasa, karena begitu banyak tarekat yang telah beliau pelajari, diantaranya ialah Khalwatiyah, Nakshabandiyah, Shatariyah, Dasukiyah, Shadiliyah, Jistiyah, Rifaiyah, Aidurisyah, Ahmadiyah, Suhrawardiyah, Kabrutiyah, Maduriyah, Mahdumiyah, Madyaniyah, Kawabiyah, dan syekh-syekh kepercayaan bangsa Arab.
Diantara pemikiran Syaikh terdapat dalam risalah kecil, antara lain al-Barakah al-Sailaniyyah, Bidayah Al-Mubtadi’, Qurrah Al-‘Ain, Sirr al-Asraar, Daf al-Bala’, Ghayah al-Ikhtisar wa Nihayah al-Intizhar, dll. Berikut beberapa petikan paragraf ungkapannya:
“ Apabila seseorang mengatakan kepada kamu, ‘Bagaimana kamu memungkiri wujud alam, sedangkan kamu melihat dengan mata kepalamu sendiri adanya itu, tanpa sedikitpun keraguan?” jawaban orang-orang ‘arif adalah, “wujud hakiki ialah wujud yang berdiri sendiri, sedangkan wujud yang kita jalani bukan wujud hakiki, melainkan wujud bayangan saja.” Kemudian syaikh melanjutkan uraian tentang konsep al-a’yan al-tsabitah, yang seluruhnyab mengacu pada Ibn ‘Arabi.
Syekh Yusuf Al-Makassari adalah seorang ulama yang luar biasa, terutama adalah seorang sufi, juga seorang mujadid dalam sejarah Islam Nusantara. Tasawufnya tidak menjauhkan dari masalah-masalah keduniawian, ajaran dan amalan-amalannya menunjukan aktivitas yang berjangkauan luas. Ia banyak memainkan peran dalam bidang politik di Banten, bahkan memimpin perlawanan terhadap Belanda setelah sultan Ageng Tirtayasa tertangkap.
Konsep Utama Tasawuf Syekh Yusuf Al-makassari adalah pemurnian kepercayaan (aqidah) pada keesaan Tuhan. Ini merupakan usahanya dalam menjelaskan transendensi Tuhan atas ciphtaan-Nya. Meskipun berpegang teguh pada Transendensi Tuhan, al-Makassari percaya Tuhan itu mencakup segalanya (al-ahathah) dan ada dimana-mana (al-maiyyah) atas ciptaannya. Dengan konsep al-ahathah dan al-ma’iyyah, Tuhan turun (Tanazzul), sementara manusia naik (Taraqqi), suatu proses spiritual yang membuat keduannya semakin dekat. Tuhan tidak dapat diperbandingkan dengan apapun (laisa kamitslihi syai’un).
Ciri yang menonjol dari teologi al-Makassari mengenai keesaan Tuhan adalah usahannya untuk mendamaikan sifat-sifat Tuhan yang tampaknya saling bertentangan. Selain itu, dalam teologinya al-Makassari sangat patuh kepada doktrin Asy’ariyah.
Syekh Yusuf Al-Makasari membagi kaum beriman ke dalam empat kategori. Pertama, orang yang mengucapkan syahadat (pernyataan iman) tanpa benar-benar beriman, dinamakan orang munafik (al-munafiq). Kedua, orang yang mengucapkan syahadat dan menanamkannya dalam jiwa mereka, disebut orang awam (al-Mu’min al-‘awwam). Ketiga, orang yang beriman dan benar-benar memahami implikasi lahir dan batin dari pernyataan keislaman mereka. Disebut kelompok elite (ahl al-khawashsh). Keempat adalah kategori tertinggi orang beriman yang keluar dari golongan ketiga, dengan jalan bertasawuf dengan tujuan menjadi lebih dekat dengan Tuhan, mereka ini yang dinamakan “yang terpilih  dari golongan elite” (khashsh al-khawashsh). Dari keterangan al-Makassaari menunjukan bahwa tasawuf hanya untuk golongan elite dan golongan orang-orang yang terpilih.
Dari tulisan-tulisannya kita mengenal Syekh Yusuf al-Makassari sebagai seorang guru tarekat, tetapi tidak ada bukti ia menyebarluaskan ajarannya di kalangan masyarakat Banten. Syekh Yusuf menulis lebih dari 20 tulisan terutama tentang tasawuf. Salah satunya yang dari Srilangka alias Ceylon itu. Ditulis memenuhi keinginan para jamaah dan sahabat, risalah ini memuat antara lain keharusan mempersatukan syariat dan hakikat. Misalnya mengutip pendapat guru-guru tasawuf yang menyatakan, ''Siapa yang berilmu tetapi tidak bertasawuf, ia fasik. Siapa yang bertasawuf namun tidak berfikih, ia zindik.''
Syekh yusuf al-makassari merupakan orang pertama yang memperkenalkan tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia. Hal ini disebutkan di dalam bukunnya Safinah Al-Najah.Ia menerima ijazah dari Syaikh Muhammad ’Abd Al-baqi di Yaman, kemudian mempelajari tarekat ketika berada di Madinah di bawah bimbingan Syaikh Ibrahim al-Kurani. Beliau bermukim di Negara Arab, belajar dan mengarang sekitar seperempat abad. Jadi tidak aneh apabila sebagian besar karangannya berbahasa Arab dengan gaya bahasa sebagaimana lazimnya karangan orang-orang Arab. 
Di Afrika Selatan, Syeikh Yusuf al-Makassari tetap berdakwah, dan memiliki banyak pengikut. Ketika ia wafat pada tanggal 23 Mei 1699 M. para pengikut Syeikh Yusuf al-Makassari menjadikan hari wafatnya sebagai hari peringatan. Bahkan, Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan, menyebut Syeikh Yusufal-Makassari yang juga salah seorang pahlawan nasional Indonesia ini sebagai 'Salah Seorang Putra Afrika Terbaik. Dari ungkapan-ungkapan Syaikh Yusuf terkesan bahwa dia memang banyak berafiliasi kepada berbagai tarekat, tetapi mengkhususkan satu risalah tentang tarekat Naqsyabandiyah merupakan indikasi kecendrungannya kepada tarekat tersebut lebih besar ketimbang yang lain. Akan tetapi, dia cukup kreatif dalam melaksanakan ajaran-ajaran tarekat lain ke dalam tarekat yang diajarkan kepada muridnya.
Seperti kita perhatikan juga bahwa dia cenderung pada mazhab wahdah-nya Ibn ‘Arabi dan berusaha mengukuhkan mazhab ini dengan mengutip pertanyaan pemuka-pemuka sufi. Dalam hal ini, syaikh Yusuf tidak banyak berbeda dengan Syaikh Hamzah Fansuri. Seperti juga kita amati, bukanlah hal yang aneh menggabungkan dua tarekat dalam satu tarekat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KONSEP PEMIKIRAN SYEKH YUSUF AL-MAKASSARI"

Post a Comment