Home » » Biografi dan Pemikiran Ibnu Taimiyah

Biografi dan Pemikiran Ibnu Taimiyah

Biografi dan Pemikiran Ibnu Taimiyah

A. Biografi Ibnu Taimiyah

Nama lengkap Ibnu Taimiyah merupakan Taqiyuddin Ahmad bin Abi Al-Halim bin Taimiyah. Dilahirkan pada Harran dalam hari Senin tanggal 10 Rabiul Awwal tahun 661 H & mati di penjara pada malam senin lepas 20 Dzul Qaidah tahun 729 H. Kewafatannya telah menggetarkan dada semua penduduk Damaskus, Syam, & Mesir, dan engkau  muslimin pada umumnya. Ayahnya bernama Syihabuddin Abu Ahmad Abdul Halim bin Abdussalam Ibnu Abdullah bin Taimiyah, seseorang Syaikh, Khatib dan hakim pada kotanya.

Ibnu Taimiyah terkenal sangat cerdas sebagai akibatnya pada usia 17 tahun, ia sudah dianggap warga  buat menaruh pandangan-pandangan mengenai masalah hukum secara resmi. Para ulama yang merasa sangat risau oleh agresi-serangannya dan iti hati terhadap kedudukannya pada Istana Gubernur Damaskus, sudah berakibat pemikiran-pemikiran Ibnu Taimiyah sebagai landasan buat menyerangnya. Dikatakan oleh versus-lawannya, bahwa pemikiran Ibnu Taimiyah sebagai klenik, antroporpisme, sehingga dalam awal 1306 M Ibnu Taimiyah dipanggil ke Kairo lalu dipenjarakan.

Masa hidup Ibnu Taimiyah berbarengan dengan kondisi global Islam yg sedang mengalami disintegrasi, dislokasi sosial, & kemerosotan moral moral dan akhlak. Kelahirannya terjadi 5 tahun setelah Bagdad dihancurkan pasukan Mongol, Hulagu Khan. Oleh karena itu, dalam upayanya mempersatukan umat Islam, mengalami poly rintangan, bahkan dia harus wafat pada dalam penjara.

Lingkungan keluarga Ibnu Taimiyah sangat mendukung perkembangannya buat kelak menjadi seorang ulama & pemikir Islam akbar. Ayahnya, Syihab al-Din ‘Abd al-Halim merupakan seorang pakar hadits & fakih madzhab Hanbaly yang mempunyai jadwal mengajar di Mesjid Jami ‘Umawy. Ia pula kemudian menjabat menjadi kepala para ulama (masyikhah) di Dar al-Hadits al-Sukriyah. Sang ayah ini lalu tewas ketika Ibnu Taimiyah berusia 21 tahun, tepatnya di tahun 682 H.

Di samping hal itu, terdapat beberapa faktor lain yang juga bisa disimpulkan sebagai penyebab kecemerlangan pemikiran Ibnu Taimiyah di kemudian hari. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Kekuatan hafalan & pemahamannya yg luar biasa. 
Di usia yg masih sangat kecil ia berhasil menyelesaikan hafalan al-Qur’annya. Setelah itu, beliau pun mulai belajar menulis dan hisab. Kemudian membaca berbagai buku tafsir, fikih, hadits dan bahasa secara mendalam. Semua ilmu itu berhasil dikuasainya sebelum dia berusia 20 tahun.

2. Kesiapan pribadinya buat terus meneliti
Ia dikenal tidak pernah lelah buat belajar dan meneliti. Dan itu sepanjang hidupnya, bahkan ketika beliau harus berada pada penjara. Mungkin itu pulalah yang menyebabkan dia nir lagi sempat buat menikah sampai akhir hayatnya.

3. Kemerdekaan pikirannya yang tidak terikat dalam madzhab atau pandangan tertentu. Baginya dalil merupakan pegangannya dalam berfatwa. Karena itu beliau juga menyerukan terbukanya pintu ijtihad, & bahwa setiap orang siapa pun dia- dapat diterima atau ditolak pendapatnya kecuali Rasulullah saw. Itulah sebabnya dia menegaskan, “Tidak ada seseorang pun yg mengungkapkan bahwa kebenaran itu terbatas pada madzhab Imam yang empat.

B.  Pemikiran Ibnu Taimiyah

1. Ibnu Taimiyah & Tasawuf

Sering kita mendengar bahwa Ibnu Taimiyah itu anti tasawuf & penentang sufi, padahal jika diperhatikan dari perilaku & pandangannya dia merupakan seorang sufi & pengikut ajaran tasawuf suni (yg sesuai menggunakan Al-Qur’an dan Sunah), meskipun beliau nir mengistilahkan ajaran tasawuf menggunakan istilah tersebut. Istilah yang sering digunakan sang Ibnu Taimiyah merupakan kata suluk, akan tetapi substansinya adalah apa yang terdapat dalam ajaran tasawuf.

Suluk berdasarkan Ibnu Taimiyah adalah kewajiban setiap mukmin, misalnya yang diungkapkannya pada kitab   Fatawanya. “Suluk adalah jalan yang diperintahkan sang Allah & Rasulnya berupa itikad, Ibadah & Akhlak. Semua ini sudah dijelaskan pada Al-Qur’an dan Sunah, dan suluk ini kedudukannya misalnya makanan yang sebagai keharusan seseorang mukmin”.

Diantara istilah-kata Ibnu Taimiyah tentang tasawuf adalah “amal-amal hati yg diberi nama maqâmât dan ahwâl seperti: cinta kepada Allah & Rasulnya, tawakal, Ikhlas, tabah, syukur, khauf & semacamnya merupakan kewajiban setiap maklhuk, baik kaum khâsatapun orang-orang umum ”.

Kesufian Ibnu Taimiyah nir hanya terbukti menurut keilmuannya saja akan namun perbuatan dan sikapnya telah mengambarkan akan semua ini. Adz-Dzahabi pernah bercerita bahwa dia nir pernah menemukan orang yg banyak berdoa dan bertawajuh pada Allah melebihi Ibnu Taimiyah.

Ibnu Qoyyim dalam kitabnya Madarus Salikin banyak bercerita tentang Ibnu Taimiyah dalam kerohanian (baca: Tasawuf). Dalam buku Kawakibud Duriyah bahwa Ibnu Taimiyah pada malam hari sering menyepikan diri dari manusia, beliau hanya sibuk dengan tuhannya, poly bermunajat dan membaca Al-Qur’an.

Sedang ke zuhudan & ketawaduan Ibnu Taimiyah adalah tauladan yg baik, dalah hal ini terbukti menggunakan kata-ucapnya, “Aku nir punya apa-apa, dariku tak terdapat apa-apa & padaku tidak terdapat apa-apa”.

Itulah pribadi Ibnu Taimiyah dalam suluk & kerohaniannya, cukuplah kiranya Ibnu al-Qayyim & karyanya Madarus Salikin menjadi bukti tarbiah Ibnu Taimiyah pada konteks kesufian. Tidak hanya itu, Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya sangat mempercayai adanya mukjizat para wali. Di sini Baduruddin al-Aini berkata mengenai Ibnu taimiyah, “Di samping kemuliaan & ketinggian Ilmunya, dia (Ibnu Taimiyah) jua mempunyai karamah  yg nir diragukan lagi seperti yg ku dengar dari poly orang”.

Ibnul Qayyim pula poly bercerita mengenai firasat (mukasyafah) Ibnu Taimiyah pada kitabnya, “Aku telah menyaksikan firasat Syaikhul Islam berdasarkan hal-hal yg menabjubkan. Sedang hal yg nir kusaksikan tentu lebih banyak & lebih agung”.

Dengan demikian nir terdapat alasan buat menyampaikan bahwa Ibnu Taimiyah & kelompoknya anti ajaran Tasawwuf. Adapun agama-kepercayaan  yg mengatas namakan sufi dan tasawwuf akan tetapi bertentangan dengan al-Quran dan Sunnah nir hanya Ibnu Taimiyah & Madrasahnya yang menentang, para sufipun juga menentangnya.

Sebagai seseorang intelektual lumrah kalau Ibnu taimiyah seringkali melontarkan kritikan terhadap tokoh-tokoh lain, hanya saja kadang Ibnu taimiyah melampau batas pada pandangan & kritikannya sehingga berakibat dia menjadi sosok yang kontrofersi.

2. Kontroversi pemikiran Ibnu Taimiyah

Pemikiran Ibnu taimiyah sering sebagai ajang polemik di kalangan para Ulama, semenjak zaman Ibnu Taimiyah sendiri, dan gara-gara itu dia seringkali keluar masuk penjara, terutama mengenai perkara-kasus Akidah dan Fiqih. Keberanian Ibnu Taimiyah ini nir hanya berbeda dengan para ulama di zamannya, namun Ibnu Taimiyah juga sering menyalahi Ijma`. Itulah yang menciptakan ulama di zamnnya geram dalam Ibnu Taimiyah.

Pemikiran pertama yang sebagai kontrofersi terjadi dalam tahun 698 H. Hal itu gara-gara satu fatwa yang dikenal dengan kasus hamawiah. Fatwa ini menciptakan Qadhi ketika itu turun tangan, yaitu Imamauddin al-Quzwaini. Qadhi itu memberi fatwa “Barang siapa yang merogoh pendapatnya Ibnu taimiah maka beliau akan dita`zir.” Pada tahun 705 Ibnu Taimiah pulang membikin heboh yang membuat dirinya kembali masuk penjara, dan dalam tahun 709 dia dipindahkan ke Iskandariah, pada sanapaun beliau jaga mengeluarkan fatwa-fatwa aneh yg dipermasalahkan sang ulama setempat.

Begitulah seterusnya Ibnu taimiiyah, dia terus keluar masuk penjara baik ketika beliau pada Syam atau di Mesir. Dalam beberapa masalah, Ibnu Taimiyah terkesan nir konsekwen dalam pendapatnya, kadang dia mengaku bermazhab Syafii, atau bermazhab Hambali & kadang dia jua mengaku berakidah Asyairah namun pada lain kesempatan dia jua mencaci tokoh-tokoh Asya’irah, seperti Imam Ghazali & yg lainnya. Tidak hanya itu, Ibnu Taimiyah pula berani lancang mencaci sahabat Nabi. Oleh karena itulah, ulama menurut masa ke masa senantiasa memperselisihkan sosok dan pemikiran Ibnu Taimiyah, ada yang menganggapnya fasik, ada yg menganggapnya mubtadi` (ahli bid’ah) & bahkan terdapat yang menganggap kafir. Tidak hanya para penentangnyya yg mengkritik Ibnu taimiyah, murid-muridnya juga sering tidak sama dan menasehatinya, misalnya Ibnu Katsir dan adz-Dzahabi. Bahkan adz-Dzahabi menulis sebuah selebaran husus yang berisi nasehat-nasehat agar Ibnu Taimiyah pulang & bertobat. Surat ini pada kenal dengan an-Nashîhah adz-Dzahabiyah li Ibnu Taimiyah.

Penentang Ibnu Taimiyah semenjak zaman Ibnu Taimiyah sendiri hingga dalam ketika ini terus mengalir, mulai berdasarkan kalangan fuqaha madzahabil arb’ah sampai para ulama kalam. Sedang yang mengarang kitab   yang berisi kritikan pada Ibnu taimiyah pula sangat poly, misalnya as-Subki & ulama-ulama setelahnya.

3. Pemikiran kontroversi Ibnu Taimiyah

Adapun pemikiran Ibnu Taimiyah yg dipercaya bertentangan dengan Ijma`& lebih banyak didominasi ahlu sunnah wal jamaah sangat poly antara lain adalah:

a. Keyakinanya tentang Zat Allah yg mempunyai jasad 
Misalnya jasadnya makhluk, duduk seperti duduknya makhluk, bertangan, memiliki mata dang indera pendengaran. Bahkan Ibnu Taimiyah berkata bahwa Allah turun menurut langit menjadi mana turunnya beliau berdasarkan mimbar. Mazhab ini pada sebut al-Hasyawiyah al-Mujassamah.

b. Berani mencaci Ulama & Sahabat Nabi
Kelancangan Ibnu taimiyah ini menciptakan nyawanya terancam karena telah berani mencaci Imamal-Ghazali dan pengikut Asya`irah lainnya. Bukan hanya itu, Ibnu Taimiyah beranggapan bahwa Imannya Sayyidina Ali tidak absah, karena dia masuk Islam sebelum baligh, & Iman sayyidina Abu Bakar juga nir absah lantaran Abu Bakar beriman dalam keadaan pikun sampai beliau nir mengerti apa yg pada ucapkan. Imam Ali ra. Menurutnya memiliki 17 kesalahan. Dan dia berperang lantaran cinta kedudukan. Sedang sayyidina Utsman menurutnya sangat cinta dunia. Dalam kitab Durarul Kaminah dan kitab   Fatawa Ibnu Taimiyah fil-Mizandijelaskan panjang lebar perkara ini.

c. Inkar terhadap Majaz
Ibnu taimiyah berasumsi bahwa dirinya dengan pemikiran itu berada dalam Manhaj salaf. Sebab sebagaimana yg telah masyhur bahwa ulama pada menyikapi ayat-ayat musytabihat terdapat 2 kelompak, kelompok pertama merupakan Tafwidh(menyerahkan penafsirannya pada Allah sendiri) mazhab ini yg diikuti oleh kebanyakan ulama salaf. 

Dan gerombolan  kedua adalah mazhab Ta`wil (mentafsiri ayat musytabihat sinkron dengan keesaan dan keagungan Allah) cara ini dipakai sang ulama khalaf. Sedang pendapat Ibnu taimiyah dalam perkara ini berkonsekwensi dalam pemahaman yg berbahaya dalam tahu al-Quran & nama & sifat Allah, karena hanya membawa pada pengertian yg mustahil pada zat & sifat Allah. Adapun pendapat salaf tentang kasus Tafwidh, salaf tidak mau panjang lebar tentang masalah ini, sebagai akibatnya menyerahkan urusan ini pada Allah. Beda halnya dengan Ibnu taimiyah yg berani menafsiri Al-Quran menggunakan lahirnya saja, sebagai akibatnya mengakibatkan hal yg fatal. 

Disamping itu keingkaran Ibnu taymiyah dalam majaz bisa mengakibatkan pengertian yang galat terhadap teks Syariah, Ibnu Qayyim sendiri sebagai murid setia Ibnu Taimiyah merasa kebingungan menyikapi masalah ini, karena nir sedikit dari ulama salaf dan pengikut mazhab Hanafi (Ibnu Taimiyah mengaku bermazhab ini) yang mempercayai adanya majaz pada al-Quran. Seperti Ibnu Abi Ya`la, Ibnu Agil, Ibnu al-Khattab dan lain-lain sangat menduga eksistensi majaz pada al-Quran. Seseorang yang membaca buku Shawaiq al-Mursalah karya Ibnu Qayyim, maka akan tampak kebingungannya dalam menyikapi pendapat gurunya tadi.

d. Ibnu Taimiyah menyalahi Ijma` ulama. 
Seperti pendapatnya talak ketika haid itu tidak terjadi, kasus ta`liq talak, seorang haid boleh tawaf tampa membayar kaffarat, kata-kata talak tiga hanya terjadi satu & beberapa pendapat nyeleneh lainnya. Al-output banyak pendapat Ibnu taimiyah yg bertentangan dengan mayoritas ulama Ahlu sunnah wal jamaah.

Tetapi begitu sumbangan Ibnu Taimiyah terhadap pemikiran Islam tidaklah sedikit, maka sikap yang terbaik tentang Ibnu taymiyah merupakan perilaku yg disampaikan oleh Syaekh Yusuf bin Ismail an-Nabhani, “Ibnu Taimiyah adalah seorang ulama besar  yg masyhur berdasarkan salah  satu umat Muhammad, namun begitu beliau nir tanggal menurut kesalahan” Dalam buku yg sama an-Nabhani juga mengatakan, “Ibnu taimiyah ibarat samudera  besar  yg berkecamuk ombak, pada mana ombak itu kadang membawa intan permata & kadang membawa batu & pasir dan kadang pula melempar kotoran”.

4. Prinsip dasar Pemikiran Ibnu Taimiyah

Ciri khas pemikiran Ibnu Taimiyah merupakan menganut system pemikiran Ahlussunah Wal Jama'ah, yang dianut sang Ahmad bin Hambal dan tokoh mazhab hambali lainya. Sungguhpun demikian, ia pula merogoh pikiran tokoh mazhab empat & para pemuka hadits seperti, Bukhari, Syafi'I, Thabari, Ibnu Khuzaimah & lain-lain. Bahkan Ibnu Taimiyah menerima seluruh pemikiran selama itu sejala dengan kaum salaf.

Prinsip berpikir yang sebagai landasan berfikir Ibnu Taimiyah merupakan:

1. al-Tauhid
Dengan prinsip tauhid, Ibnu Taimiyah meyakini bahwa Allah adalah yg maha sahih, yg konkret, guru setiap ilmu, pencipta segala sesuatu, & pembuat hukum. Karena Allah swt mempunyai kualitas sperti pada atas maka dia memberi petunjuk kepada manusia melali mediator, yakni rasul dengan mewahyikan al-buku yg mengandung petunjukpetunjuk & penjelasan berdasarkan rasul yang diklaim menggunakan Sunnah.

2. Kembali kepada al-qur'an & sunnah
Prinsip ini dari dalam teorinya fitrah, yang mana beliau merupakan potensi yg inheren pada diri manusia yg sudah ada semenjak dia dilahirkan. Fitrah tersebut mempunyai daya potensial yang berfungsi buat menganal Allah swt, mengesakan & mencitai-Nya yg disbut al-quwwatu al-aqliyah. Sedang daya yang berfungsi buat menginduksi hal-hal yg menyenangkan diklaim quwah syahwatiah, & daya yang berfungsi buat menjaga diri dan dan menghindarkan menurut bentuk yang merusak dan membahayakan diklaim quwwah al-ghadab. Akan namun fitrah tadi tidak tidak bisa berfungsi tanpa donasi daruluar dirinya yang dianggap al-fitrah al-munazzalah.

3. Persesuaian antara logika & wahyu
Ibnu Taimiyah meletakkan nalar pikiran pada belakang nash-nash kepercayaan  yang nir boleh berdiri sendiri. Dengan istilah lain, wahyu nir dapat terpisahkan, tetapi ukuran-ukuran kesesuaian antara keduanya harus jelas, yaitu penalaran nalar yg jelas dan wahyu yg terjamin penukilannya.

4. Prinsip keadilan
Persoalan di global ini mampu baik jika diurus secara adil. Cara begini lebih banyak berhasil daripada diurus secara zhalim. Oleh karena itu, dikatakan bahwa, "Sesungguhnya Allah swt mempertahankan atau memenagkan Negara yang adil meskipun kafir & nir membantu Negara yang zhalim sekalipun Muslim.

5. Hakikat kebenaran
Menurut Ibnu Taimiyah, hakikat kebenaran itu ada dalam global empirik, bukan pada pikiran. Islam sebagai ajaran yang ditujukan unutk kebaikan umat manusia merupakan petunjuk praktis yg sinkron dengan kenyataan-kenyataan yg dihadapi penganutnya. Oleh karena itu, kebenaran yang sesui dengan ajaran kepercayaan  dapat diketahui oleh insan. Dengan istilah lain, ajaran Islam mengandung sifat empirik yg memberi peluang pada fungsi-fungsi insan.

6. Utama-pokok & cabang-cabang kepercayaan  sudah dijelaskan sang Rasul. Menurut Ibnu Taimiyah, Rasulullah sudah mengungkapkan semua aspek agama, baik prinsip-prinsipnya naupun cabag-cabangnya, segi atin dan lahirnya, segi ilmu maupun amalnya. Prinsip ini adalah  pangkal prinsip-prinsip ilmu & iman. Barang siapa yang berpegang bertenaga-kuat kepada prinsip tersebut maka beliau lebih berhak atas kebenaran, baik dari segi ilmu juga menurut segi amal.
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Biografi dan Pemikiran Ibnu Taimiyah

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 11/09/2017

0 komentar Biografi dan Pemikiran Ibnu Taimiyah

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak