Home » » Kepemimpinan Wanita Dalam Perspektif Islam

Kepemimpinan Wanita Dalam Perspektif Islam

Kepemimpinan Wanita Dalam Perspektif Islam

A. Kepemimpinan Wanita Dalam Perspektif Islam

Politik dalam Islam dikenal menggunakan as-siyasah yang artinya segala kegiatan insan yg berkaitan menggunakan penyelesaian aneka macam permasalahan dan menciptakan keamanan bagi warga .Sedangkan pemimpin merupakan seorang yang memiliki kecakapan & kelebihan, khususnya kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga beliau sanggup mensugesti orang-orang lain buat bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas eksklusif demi pencapaian satu atau beberapa tujuan. 
Dikalangan fuqoha atau pakar fiqih menyatakan bahwa kiprah perempuan   pada politik masih menjadi perdebatan & disparitas pendapat. Tetapi pendapat banyak ulama terutama para fuqoha salaf sepakat bahwa wanita dilarang sebagai pemimpin. Kesepakatan ini didasari oleh firman Allah pada surat An-Nisa ayat 34 yg berbunyi:

Artinya: ”Kaum laki-laki  itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan  , sang Lantaran Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki ) atas sebahagian yg lain (wanita), & Karena mereka (pria) Telah menafkahkan sebagian berdasarkan harta mereka. Karena itu Maka perempuan   yg saleh, adalah yg taat pada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya nir terdapat, sang Lantaran Allah Telah memelihara (mereka) perempuan  -wanita yg engkau  khawatirkan nusyuznya. Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka pada loka tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian apabila mereka mentaatimu, Maka janganlah engkau  mencari-cari jalan buat menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha akbar.”

Hal yg senada jua dapat ditemui pada hadist yg diriwayatkan oleh Imam Bukhari “Tidak akan beruntung  suatu kaum yg meyerahkan kepemimpinannya kepada seseorang wanita”. Inilah yg sebagai dasar kesepakatan  para ulama terhadap kepemimpinan perempuan  . 

Pernyataan & kesepakatan  ulama ini menjadi pertanyaan dan pernyataan bahwa Islam mendeskriditkan atau mengenyampingkan & menganggap perempuan   itu lebih rendah kedudukannya pada Islam. Berdasarkan pandangan inilah mulai bermunculan adanya aneka macam faham yang menyatakan diri menjadi kaum feminisme yg bercita-cita memajukan Islam.

B. Pandangan Ulama Kontemporer Mengenai Kepemimpinan Wanita   

Ulama pada masa ini ternama Yusuf Al-Qordhawi memiliki pandangan dan pendapat yang tidak sinkron terhadap kepemimpinan perempuan. Beliau menjelaskankan bahwa penafsiran terhadap surat an-nisa ayat 34 bahwa pria merupakan pemimpin bagi perempuan   pada lingkup keluarga atau rumah tangga. Jika ditinjau tafsir surat An-Nisa ayat 34 bahwa laki-laki  adalah pemimpin perempuan  , bertindak sebagai orang dewasa terhadapnya, yg menguasainya, & pendidiknya tatkala dia melakukan penyimpangan. “Karena Allah sudah mengunggulkan sebagian mereka atas sebagian yg lain. Yakni, karena kaum pria itu lebih unggul dan lebih baik daripada perempuan  . Oleh karena itu kenabian hanya diberikan pada kaum laki-laki .

Laki-laki menjadi pemimpin perempuan   yg dimaksud ayat ini merupakan kepemimpinan dirumah tangga, lantaran laki-laki  sudah menginfakkan hartanya, berupa mahar, belanja & tugas yang dibebankan Allah kepadanya buat mengurus mereka. Tafsir ibnu katsir ini menyebutkan bahwa perempuan   nir tidak boleh dalam kepemimpinan politik, yang dilarang adalah kepemimpinan perempuan   dalam puncak  tertinggi atau top leader tunggal yang mengambil keputusan tanpa bermusyawarah, & pula wanita dilarang menjadi hakim. Hal inilah yg mendasari Qardhawi memperbolehkan wanita berpolitik.

Qordhawi juga menambahkan bahwa wanita boleh berpolitik dikarenakan pria & wanita pada hal mu’amalah mempunyai kedudukan yang sama hal ini dikarenakan keduanya sebagai manusia mukallaf yang diberi tanggung jawab penuh buat beribadah, menegakkan kepercayaan , menjalankan kewajiban, & melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Pria dan wanita mempunyai hak yang sama buat menentukan dan dipilih, sebagai akibatnya nir ada dalil yang kuat atas embargo perempuan   untuk berpolitik. Tetapi yg menjadi larangan bagi wanita adalah sebagai imam atau khilafah (pemimpin negara).

Quraish Shihab jua menambahkan bahwa pada Al-Qur’an banyak menceritakan persamaan kedudukan perempuan   dan pria, yg membedakannya merupakan ketaqwaanya pada Allah. Tidak terdapat yang membedakan berdasarkan jenis kelamin, ras, rona kulit & suku. Kedudukan wanita & laki-laki  merupakan sama & diminta buat saling berhubungan untuk mengisi kekurangan satu menggunakan yg lainnya, menjadi mana pada jelaskan pada surat At-Taubah ayat 71 yang berbunyi:
  
Artinya: ”Dan orang-orang yg beriman, lelaki & perempuan  , sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yg lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah & Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat sang Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Islam sebenarnya tidak menempatkan wanita berada didapur terus menerus, namun bila ini dilakukan maka ini merupakan sesuatu yang baik, hal ini di nyatakan oleh imam Al-Ghazali bahwa dalam dasarnya istri tidak berkewajiban melayani suami dalam hal mengolah, mengurus rumah, menyapu, menjahid, dan sebagainya. Akan tetapi bila itu dilakukan oleh istri maka itu merupakan hal yang baik. Sebenarnya suamilah yg berkewajiban buat memberinya/menyiapkan pakaian yang telah dijahid dengan sempurna, kuliner yang telah dimasak secara paripurna. Artinya kedudukan perempuan   & laki-laki  adalah saling mengisi satu menggunakan yg lain, tidak terdapat yg superior. Hanya saja laki-laki  bertanggung jawab buat mendidik istri sebagai lebih baik di hadapan Allah SWT.

Sebenarnya hanyalah permainan kaum feminis saja yg menyatakan bahwa laki-laki  superior dibandingkan dengan perempuan  , agar mereka bisa melakukan hal-hal yang melampaui batas, dengan dalih bahwa perempuan   dapat hidup tanpa laki-laki , termasuk pada hal seks, sehingga muncullah fenomena lesbian percintaan sesama jenis, banyaknya kenyataan kawin cerai lantaran sang istri menjadi durhaka terhadap suami, padahal dalam rumah tangga pemimpin keluarga merupakan pria, sedangkan pada hal berpolitik nir terdapat larangan pada islam buat berpolitik dan berkarier.

Taqiyuddin al-Nabhani menyebutkan terdapat tujuh syarat seorang kepala negara atau (Khalifah) bisa di bai’at yaitu muslim, pria, baligh, berakal, adil, merdeka dan bisa. Syarat muslim merupakan kondisi absolut buat mengangkat pemimpin dalam sebuah negara yg mayaritas penduduk islam, & dilarangkan mengangkat pimpinan berdasarkan kalangan kafir. Hal ini termaktub dalam surat An-Nisa ayat 144 yang berbunyi:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu merogoh orang-orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (buat menyiksamu) ?

Kedua laki-laki , perempuan   dalam hal ini dihentikan sebagai khalifah, imam, ulil amri, atau ketua negara dalam hal ini ketua negara nir dimaksud Presiden, yg dimaksud disini adalah kepemimpinan yg bisa merogoh keputusan tanpa dimusyawarahkan terlebih dahulu, sedangkan presiden pada membuat keputusan harus dilakukan menggunakan bermusyawarah terlebih dahulu terhadap pembantu-pembantunya baik menteri, staff pakar, maupun menggunakan penasihat pribadinya.

Ketiga baligh, menggunakan kondisi baligh maka pemimpin dibebani oleh hukum, sehingga apa yang pada pikulnya atau diamanahi pada mereka maka akan bisa dipertanggung jawabkan secara hukum, baik hukum global, juga aturan dihadapan Allah.

Keempat berakal, orang yg hilang akalnya tidak boleh menjadi pemimpin lantaran akan merogoh keputusan yang tidak sempurna, dan kehilangan nalar akan membebaskan seorang dari aturan, sebagai akibatnya nir dapat dimintai pertanggung jawabannya. Kelima adil,  yaitu pemimpin yang konsisten dalam menjalani agamanya hal ini termaktub dalam surah An-Nahl ayat 90.
  
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil & berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, & Allah melarang berdasarkan perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu supaya kamu dapat merogoh pelajaran”

Keenam, merdeka terbebas dari perbudakan sebagai akibatnya dapat merogoh keputusan tanpa interfensi dari tuannya. Dan seorang hamba sahaya tidak boleh diangkat menjadi pemimpin karena dia nir memiliki kewenangan buat mengatur orang lain & bahkan terhadap dirinyapun tidak mempunyai wewenang.

Ketujuh, mampu melaksanakan amanat khilafah, bila nir mampu menjalankan amanat maka tunggulah hasilnya. Sebagaimana pada jelaskan dalam hadist yg diriwayatkan oleh Bukhari ” apabila urusan diserahkan kepada yg bukan ahlinya, maka tunggulah Kiamat” (HR Bukhari).

Qardhawi dalam hal ini balik  mempertegas bahwa kepemimpinan kepala negara dimasa sekarang ini kekuasaannya tidak sama menggunakan seorang ratu atau khalifah di sama lalu yg identik dengan seorang imam pada shalat. Sehingga kedudukan wanita dan pria dalam hal perpolitikan adalah sejajar lantaran sama-sama memiliki hak menentukan dan hak dipilih. Dengan alasan bahwa perempuan   dewasa merupakan manusia mukallaf (diberi tanggung jawab) secara utuh, yg dituntut buat beribadah pada Allah, menegakan agama, & berdakwah.

Menurut Abu Hanifah seorang wanita dibolehkan menjadi hakim, tetapi tidak boleh sebagai hakim pada perkara pidana. Sementara Imam Ath-Thabari & aliran Dhahiriyah membolehkan seorang wanita menjadi hakim dalam semua kasus, sebagaimana mereka membolehkan kaum wanita untuk menduduki semua jabatan selain zenit kepemimpinan Negara.


DAFTAR PUSTAKA

Al-qaradhawi, Yusuf, Meluruskan Dikotomi Agama & Politik “Bantahan Tuntas Terhadap Sekularisme dan Liberalisme”, Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2008.
Nasib Ar-Rifa’I, Muhammad, Kemudahan Dari Allah Ringkasan Tafsir IBNU KATSIR Jilid 1, Depok : Gema Insani Press, 2007.
Http://kepemimpinan-fisipuh.Blogspot.Com/2009/03/pengertian-pemimpin-pada-bahasa.Html
Zainuddin, Muhammad dan Maisaroh, Ismail. 2005. Posisi Wanita Dalam Sistem PolitikIslam,
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Kepemimpinan Wanita Dalam Perspektif Islam

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 11/28/2016

0 komentar Kepemimpinan Wanita Dalam Perspektif Islam

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak