Home » » ILMU FORENSIK

ILMU FORENSIK

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Hasil gambar untuk ILMU FORENSIK
Dalam investigasi kasus kriminal, penyelidik akan mengumpulkan material bukti dari tempat kejadian perkara (TKP), korban dan atau tersangka. Ilmuwan forensik kemudian akan memeriksa material ini dengan seksama menggunakan prinsip-prinsip sains. Hasilnya lantas dijadikan bahan pendukung proses penyidikan polisi dan persidangan. Tidak heran, ilmuwan forensik berkerja sama secara erat dengan polisi. Ilmuwan forensik senior, yang biasanya memiliki keahlian khusus pada satu atau beberapa ilmu kunci forensik bisa mengunjungi langsung TKP dan menjadi saksi ahli di persidangan.
Salah satu contoh aplikasi ilmu forensik Salah satunya menggunakan ilmu pemisahan gas (kromatografi) untuk mengidentifikasi narkoba. Contoh lainnya adalah membuat profil DNA dari bercak darah di TKP untuk membantu identifikasi tersangka pembunuhan. Selain itu, mengidentifikasi jenis cat dalam sebuah fragmen lukisan menggunakan spektroskopi laser.
Hal yang membuat ilmu ini menyenangkan untuk dipelajari adalah tantangan untuk memecahkan masalah. Penekanannya bukan hanya pada meningkatkan kemampuan menganalisa dan memeriksa sesuatu secara forensik, tetapi juga menyampaikan temuan kepada orang lain. Ilmu forensik melibatkan banyak disiplin ilmu
B.    Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan memberikan gambaran terkait masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu:
1.       Apakah yang dimaksud ilmu forensik?
2.      Bagaiman cabang ilmu forensik?
3.      Apa manfaat ilmu forensik?
C.    Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu:
1.       Mengetahui pengertian ilmu forensuk
2.      Mengetahui cabang-cabang ilmu forensik
3.      Mengetahui manfaat ilmu forensik


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Ilmu Forensik
Forensik (berasal dari bahasa Yunani ’Forensis’ yang berarti debat atau perdebatan) adalah bidang ilmu pengetahuan yang digunakan untuk membantu proses penegakan keadilan melalui proses penerapan ilmu (sains). Dalam kelompok ilmu-ilmu forensik ini dikenal antara lain ilmu fisika forensik, ilmu kimia forensik, ilmu psikologi forensik, ilmu kedokteran forensik, ilmu toksikologi forensik, komputer forensik, ilmu balistik forensik, ilmu metalurgi forensik dan sebagainya.
Ilmu forensik (biasa disingkat forensik) adalah sebuah penerapan dari berbagai ilmu pengetahuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang penting untuk sebuah sistem hukum yang mana hal ini mungkin terkait dengan tindak pidana. Namun disamping keterkaitannya dengan sistem hukum, forensik umumnya lebih meliputi sesuatu atau metode-metode yang bersifat ilmiah (bersifat ilmu) dan juga aturan-aturan yang dibentuk dari fakta-fakta berbagai kejadian, untuk melakukan pengenalan terhadap bukti-bukti fisik (contohnya mayat, bangkai, dan sebagainya). Atau untuk pengertian yang lebih mudahnya, Ilmu Forensik adalah ilmu untuk melakukan pemeriksaan dan pengumpulan bukti-bukti fisik yang ditemukan di tempat kejadian perkara dan kemudian dihadirkan di dalam sidang pengadilan.
Dengan demikian dapat disimpulkan Ilmu forensik adalah penerapan ilmu pengetahuan dengan tujuan penetapan hukum dan pelaksanaan hukum dalam sistem peradilan hukum pidana maupun hukum perdata.
B.    Jenis-jenis Ilmu Forensik
Terdapat beberapa jenis ilmu forensik, diantaranya:
1.       Patologi dan Biologi Forensik.
Forensik patologi dan biologi adalah dokter umum yang dilatih spesial dalam bidang patologi klinis dan anatomis, yang berfungsi untuk menentukan penyebab kematian dimana kematian yang terjadi secara mencurigakan atau dalam keadaan tidak alami. Patologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari mengenai penyakit dan trauma. Patologi klinis berhubungan dengan pemeriksaan laboratorium sampel yang diambil dari tubuh jenazah, sedangkan patologi anatomis berhubungan dengan perubahan struktural tubuh manusia. Forensik patologi dan biologi sering melibatkan kerja tim dengan autopsi atau pemeriksaan postmortem dari jenazah. Penyelidiknya sering dipanggil ke tempat kejadian perkara untuk membuat observasi awal termasuk estimasi waktu kematian, menghipotesiskan jenis senjata yang dipakai yang menyebabkan kematian, membedakan apakah kematian itu merupakan pembunuhan atau bunuh diri, dan mendapatkan identitas jenazah.
2.      Antropologi Forensik.
Forensik antropologi adalah cabang ilmu antropologi fisik, yaitu studi mengenai manusia, biologinya, dan leluhur mereka. Forensi antropologi berhubungan dengan identifikasi tubuh yang sudah tidak bisa diidentifikasi melalui sidik jari atau foto. Biasanya forensik anthropologist menganalisa sisa tulang untuk menentukan apakah tulang tersebut merupakan tulang manusia atau bukan. Jika ia tulang itu adalah tulang manusia, maka anthropologist akan menganalisa usia, jenis kelamin, tinggi badan, dan karakteristik lain dari jenazah tersebut. Forensik anthropologist merupakan bagian utama yang mengidentifikasi korban massal seperti kasus pengeboman, kecelakaan pesawat, dan lain lain. Forensik anthropologist biasanya akan bekerja sama dengan forensik pathologist dan dokter gigi dalam mengidentifikasi korban bencana massal tersebut.
3.      Forensik Engineering.
Forensik engineering menganalisis mengapa sesuatu gagal terjadi, misalnya terjadi kesalahan listrik yang menyebabkan seseorang kontak hingga meninggal, mengapa bangunan dan jembatan dapat rubuh dan membunuh banyak orang, dan sebagainya. Forensik engineering juga membantu merekonstruksi kecelakaan lalu lintas. Hal ini berdasarkan dari jejak ban, kerusakan pada kendaraan dan item disekelilingnya. Berdasarkan hukum fisika, dapat ditentukan juga arah kendaraan, jalur, kecepatan kendaraan dan tipe tubrukan yang terjadi.
4.      Questioned Document.
Orang yang bekerja pada bidang ini akan menganalisa tentang dokumen yang kebenarannya dipertanyakan. Para teknisi nantinya akan mempelajari dan menyediakan testimoni mengenai cetakan, tulisan tangan, tipe penulisan, tinta, dan hal-hal lain yang dapat dilihat dari dokumen tersebut.
5.      General Forensik.
Melibatkan spesialis lain yang terkualifikasi untuk menganalisis bukti spesifik seperti desainer, fotografer, dan ahli mesin. Mereka nantinya akan melaporkan kasus yang misalnya berhubungan dengan pertanggungjawaban sebuah produk yang berhubungan dengan kematian atau injuri pada seseorang.
6.      Radiologi Forensik.
Radiologi forensik adalah area spesialisasi medical imaging yang menggunakan teknik radiologi untuk  membantu dokter dan patologist dalam mendapatkan hukum. Patologist biasanya memakai radiologi selama proses autopsi untuk membantu mengidentifikasi jenazah asing atau menentukan penyebab kematian tersebut. Penggunaannya seperti CT Scan dan MRI. Bersama dengan catatan dental dan analisis DNA, radiograf dapat digunakan dalam identifikasi korban yang tidak diketahui identitasnya. Radiologi forensik membutuhkan pemeriksaan antemortem seperti x-ray individu yang dicurigai dan pencocokan detail anatomi dengan studi postmortem.
7.      Forensik Entomology.
Melibatkan ilmu serangga untuk investigasi kematian yang tidak diketahui waktunya. Pengetahun entomologi dapat memperlihatkan lokasi kematian, juga bisa mnentukan waktu kematian. Hal ini dapat ditentukan dari pertumbuhan larva serangga yang memakan jenazah korban. Entomologi forensik digunakan pada kondisi tubuh korban dengan estimasi kematian lebih dari 3 hari.
8.     Forensik Psychiatry and Behavioral Sciences.
Psikiatri forensik akan memeriksa dan menyediakan opini legal yang berhubungan dengan kewarasan, motivasi manusia, dan profil kepribadian yang berhubungan dengan investigasi kasus kejahatan.
9.      Criminalistic.
Merupakan ilmu forensik yang menganalisa sidik jari, peluru, dan bekas pisau, gergaji, palu, dan alat-alat lain. Forensik krimialitas juga menganalisa bukti fisik lain yang didapatkan dari tempat kejadian perkaran yang sudah diinvestigasi untuk merekonstruksi kejahatan atau kejadian lain dan untuk memastikan dan menghilangkan hubungan antara tersangka dan korban.
10.  Toxicology.
Menggunakan ilmu kimia, foto, dan ilmu biologi untuk mengidentifikasi zat atau senyawa berbahaya ditubuh korban, seperti obat-obatan, racun, dan obat terlarang.Kebanyakan kasus toksikologi forensik berhubungan dengan mengendarai kendaraan saat mabuk atau mengendarai kendaraan saat fly karena obat-obatan terlarang. Toksikologi nantinya akan menentukan apakah pada darah dan mulut terdapat alkohol atau tidak.
11.   Forensik Jurisprudence
Melibatkan pengacara kriminal dan pengacara sipil untuk menuliskan laporan dan testimoni untuk melanjutkan kasusnya ke sistem hukum yang lebih lanjut.
12.  Odontologi Forensik.
Odontologi forensik adalah penggunaan ilmu kedokteran gigi terhadap hukum. Odontologi forensik termasuk beberapa area studi ilmiah, dimana sistem hukum dan ilmu kedokteran gigi bertemu. Bidang kedokteran gigi ini melibatkan pengumpulan dan interpretasi bukti dental bukti lain yang berhubungan dalam semua bidang kriminalitas.

C.    Manfaat Ilmu Forensik
Di negara yang berlandaskan hukum, maka sudah selayaknya jika hukum di jadikan supremasi, dimana setiap orang di harapkan tunduk dan patuh terhadap hukum tersebut. Hal ini terjadi bila tersedia perangkat hukum yang mengatur seluruh sektor kehidupan, diantaranya adalah sektor kesejahteraan rakyat. Salah satu dari bagian sektor kesejahteraan yaitu kesehatan, maka di sini di perlukan perangkat hukum kesehatan guna mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Dalam upaya mewujudkan masyarakat sejahtera khususnya melalui hukum kesehatan, dokter merupakan salah satu faktor penting yang harus di soroti bersama. Karena dalam praktik kedokteran kesalahan dokter dalam menjalankan tugas dapat mengakibatkan sesuatu yang fatal.
Peranan dari kedokteran forensik dalam penyelesaian perkara pidana di Pengadilan adalah membantu hakim dalam menemukan dan membuktikan unsur-unsur yang di dakwakan dalam pasal yang diajukan oleh penuntut. Serta memberikan gambaran bagi hakim mengenai hubungan kausalitas antara korban dan pelaku kejahatan dengan mengetahui laporan dalam visum et repertum. Disamping itu, diperoleh hasil bahwa dalam setiap praktek persidangan yang memerlukan keterangan dari kedokteran forensik, tidak pernah menghadirkan ahli dalam bidang ini untuk diajukan di sidang pengadilan sebagai alat bukti saksi. Implikasi teoritis persoalan ini adalah bahwa hakim dalam menjatuhkan putusan suatu perkara yang memerlukan keterangan dokter forensik, hanya memerlukan keterangan yang berupa visum et repertum tanpa perlu menghadirkan dokter yang bersangkutan di sidang pengadilan. Sedangkan implikasi praktisnya bahwa hal ini dapat dijadikan pertimbangan bagi hakim dalam menangani perkara yang memerlukan peran dari kedokteran forensik.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dengan demikian dapat disimpulkan Ilmu forensik adalah penerapan ilmu pengetahuan dengan tujuan penetapan hukum dan pelaksanaan hukum dalam sistem peradilan hukum pidana maupun hukum perdata.
Adapun jenis-jenis ilmu forensik diantaranya:Patologi dan Biologi Forensik, Antropologi Forensik, Forensik Engineering, Questioned Document, General Forensik, Radiologi Forensik, Forensik Entomology, Forensik Psychiatry and Behavioral Sciences, Criminalistic, Toxicology, Forensik Jurisprudence, Odontologi Forensik.
Adapun manfaat ilmu forensik yaitu membuat suatu perkara menjadi jelas, yaitu dengan mencari dan menemukan kebenaran materiil yang selengkap-lengkapnya tentang suatu prbuatan ataupun tindakan pidana yang telah terjadi.
B.    Saran
Kepada para pembaca yang budiman kami sarankan untuk tetap merujuk pada referensi lain terkait judul makalah ini mengingat makalah ini masih sangat sederhana. Olehnya itu kami sangat terbuka dalam menerima masukan yang bersifat membangun. semoga bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA
Karagiozis MF, Sgaglio R. Forensik Investigation Handbook. Illinois: Charles Thomas Publisher. 2005. p.3, 9-12
Houck MM. Forensik Science: Modern Methods of Solving Crime. USA: Praeger Publishers. 2007. p.2, 9-11
Utomo MPB. Peranan Ilmu Forensik dalam Usaha untuk Memecahkan Kasus-Kasus Kriminalitas (Ditinjau dari Segi Ilmu Hukum Pidana). Surakarta: Universitas Sebelas Maret. 2005 (Skripsi)
Schied RC, Weiss G. Woelfel’s Dental Anatomy. 8th Edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. 2012. p.345-6
Senn DR, Stinson PG. Forensik Dentistry. 2nd Edition. USA: Taylor & Francis Group. 2010. p.4

Terimakasih telah membca artikel berjudul ILMU FORENSIK

SL Blogger
Kumpulan Makalah Updated at: 11/28/2016

0 komentar ILMU FORENSIK

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak