Home » » AQSAM DALAM AL-QUR'AN

AQSAM DALAM AL-QUR'AN

Hasil gambar untuk aqsam fil qur'an

A.      Pengertian Aqsam dalam al-Quran

      Aqsam dari segi etimologiا لا قسام: جمع قسم- بفتح ا لسين- بمعنى الحلف و ا ليمين[3]:
“Aqsam adalah bentuk jamak dari qasam yang berarti al-hilf dan al-yamin, yang berarti sumpah” ketika sedang bersumpah ia memegang tangan kanan sahabatnya”.
      Adapun  اقسام dan احلف yang juga oleh beberapa pendapat mengatakan dua kata sinonim, namun oleh Aisyah Abd al-Rahman mengungkapkan tentang tetap adanya perbedaan dua kata tersebut. Itu menurut penggunaannya. اقسام  digunakan dalam jenis sumpah sejati yang tentu tiada diniatkan untuk dilanggar,  sedangkan   احلفselalu digunakan dalam hal sumpah palsu (yang selalu dilanggar).[4]
      Dari segi terminologi, Aqsam diartikan memperkuat maksud disertai menyebutkan sesuatu yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi dengan memfungsikan huruf و (wawu) atau yang lain seperti  ب (ba),  ت(ta).[5]
      Sedangkan pengertian Alquran yang telah disepakati oleh para ulama dan ahli Usul dan Kalam Allah yang tiada bandigannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, penutup para nabi dan rasul dengan perantaraan malaikat Jibril ditulis dalam Mushaf-Mushaf  yang telah disampaikan secara mutawatir, serta membacanya merupakan suatu ibadah, dimulai dengan surah al-Fatihah ditutup dengan surah an-Nas.[6]

B.  Unsur-unsur Qasam

Uslub sumpah merupakan bahagian dari uslub taukid (penegasan) yang di dalamnya terdapat tiga unsur yang biasa disebut.
اركان اسلوب القسم[7] yaitu sebagai berikut:

1.    اد واة ا لقسم yaitu sesuatu atau alat yang digunakan dalam sigat sumpah yang berupa huruf الواو- الباء- التاء  yang berfungsi sebagai huruf “jar” dan berarti “demi” maupun lafaz yang menunjukkan sumpah. Oleh karena itu qasam sering digunakan dalam percakapan maka ia diringkas, yaitu fi’il qasam dihilangkan dan dicukupkan dengan huruf ب  (ba)[8], seperti firman Allah dalam Q.S. al-nur (24):53
“Dan mereka bersumpah dengan nama Allah sekuat-kuat sumpah”.[9] Kemudian “ba” pun diganti dengan “wawu” pada isim zahir, seperti firman Allah Q.S. al-Lail (92): 1ƒ  
Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),”.[10], dan diganti dengan “ta” pada lafaz jalalah, misalnya: firman Allah dalam Q.S. al-Anbiya (21): 57
“ Demi Allah, Sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu”. Namun qasam dengan “terdiri atas” ini jarang dipergunakan, sedangkan yang banyak adalah wawu”.[11]
2.    المقسم به yaitu sesuatu yang digunakan untuk bersumpah. Allah bersumpah dalam al-Quran dengan menggunakan dua macam القسم به, yaitu:
a.       Allah bersumpah dengan zatnya yang Kudus dan mempunyai sifat-sifat khusus, atau dengan ayat-ayatnya yang memantapkan eksistensi dan sifat-sifatnya.
      Adapun bentuk uslub sumpah Allah dalam al-Quran[12] yaitu, apakah bentuk jumlah khabariyah (kalimat beruta yang sifatnya informatif)- dan ini pada umumnya- seperti firman Allah dalam Q.S. Adz-dzariyaat (51): 23
Maka demi Tuhan langit dan bumi, Sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi)”.[13] Atau berbentuk  jumlah thalabiyah (kalimat yang tidak informatif yang berisi perintah, larangan pertanyaan, ancaman dan sebagainya. Dan bisa juga disebut (jumlah insya’iyyah), seperti firman Allah Q.S. Al-Hijr (15): 92-93
“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, Tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.[14]
        Allah telah bersumpah dengan Zatnya sendiri dalam al-Quran pada tujuh tempat[15]:
1. Q.S. Al-Tagabun (64): 
5. Q.S. Al-Hijr (15): 92  
6. Q.S. Al-Nisa (64): 65
7. Q.S. Al-Maarij (70): 40

Dalam ketiga ayat pertama di atas, Allah memerintahkan nabi Muhammad saw. Agar bersumpah dengan zatnya.
b.      Allah bersumpah dengan sebagian Makhluknya, untuk menunjukkan akan keagungan penciptanya, dan juga isyarat kepada keutamaan dan kemanfaatan makhluk tersebut, agar dijadikan pelajaran bagi manusia.[16]

3.    المقسم عليه  yaitu sesuatu yang karenanya sumpah diucapkan, di mana tujuan qasam adalah untuk mengukuhkan dan mewujudkan. Maka muqsam alaih haruslah berupa hal-hal yang layak didatangkan qasam baginya. Seperti hal-hal gaib dan tersembunyi . jika qasam itu dimaksudkan untuk menetapkan eksistensinya. Misalnya dalam Q.S. al-Qiyamah (75): 1                                       
Sumpah tersebut mencakup penetapan adanya balasan dari yang berhak mendapatkan balasan. Dan Allah bersumpah pada hal tersebut dengan memberikan penekanan yang sungguh-sungguh kepada kebutuhan jiwa untuk mengetahui dan menyakininya.[17]
Jawab qasam pada umumnya disebutkan, namun terkadang ada juga yang dihilangkan, sebagaimana halnya jawab “ لو “ (jika) sering dibuang. Seperti Q.S. al-takasur (102): 5
        “Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin”.
      Jadi dapat dipahami bahwa “seandainya kamu mengetahui apa yang akan kamu hadapi secara yakin, tentulah kamu akan melakukan kebaikan yang tak terlukiskan banyaknya”.[18]
      Penghilangan jawab Qasam, misalnya  
Demi fajar, Dan malam yang sepuluh.Dan yang genap dan yang ganjil, Dan malam bila berlalu.Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal. (Q.S. al-Hijr (89): 1-5

      Yang dimaksud dengan qasam di sini adalah dengan waktu yang mengandung amal-aal seperti ini pantas untuk dijadikan Allah sebagai muqsam bih, karena itu tidak memerlukan jawaban lagi.
      Pada sisi lain, jawab al-Qasam terkadang dihilangkan karena sudah ditunjukkan oleh perkataan yang disebutkan sesudahnya, sebagaimana dalam Q.S.  al-qiyamah (75): 3

“Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?
      Jadi dalam perkiraan artinya adalah “ sesungguhnya kamu akan dibangkitkan dan dihisab”.[19]

      Dalam al-Quran Allah bersumpah tentang[20]:
a.       Pokok-pokok keimanan yang wajib diketahui makhluk, dalam hal ini terkadang Allah bersumpah untuk menjelaskan tauhid, seperti Q.S. al-Saffat (37) : 1-4  
“Demi (rombongan) yang ber shaf-shaf dengan sebenar-benarnya, Dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbuatan maksiat), Dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran, Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa.
b.      Penegasan bahwa al-Quran itu hak sebagaimana Q.S. al-Waqiah (56): 75-77
“Maka aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia”.

c.       Penjelasan bahwa Rasul itu benar. Seperti Q.S. Yaa siin (36): 1-3
“Yaa siin, Demi Al Quran yang penuh hikmah, Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul.

d.      Penjelasan balasan , janji dan ancaman, seperti Q.S. al-Zariyat (51): 1-6
“Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan kuat.Dan awan yang mengandung hujan, Dan kapal-kapal yang berlayar dengan mudah. Dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan, Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar. Dan Sesungguhnya (hari) pembalasan pasti terjadi”.

e.       Penjelasan keadaan manusia, seperti Q.S. al-Lail (92): 1-4 
“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), Dan siang apabila terang benderang, Dan penciptaan laki-laki dan perempuan, Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda”.

f.       Penjelasan tentang sifat manusia, sebagaimana Q.S. al-Adiyat (100): 1-6 
Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, Dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, Maka ia menerbangkan debu, Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya.

C.  Bentuk-bentuk qasam dalam al-Quran

      Adapun  bentuk uslub sumpah Allah dalam al-Quran [21] yaitu, apakah bentuk jumlah khabariyah (kalimat berita yang sifatnya informatif) dan ini pada umumnya- seperti firman Allah dalam Q.S. al-Dzariyat (51): 23
“Maka demi Tuhan langit dan bumi, Sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi).[22] Atau berbentuk thalabiyah kalimat yang tidak informatif, seperti kalimat yang berisi perintah, larangan, pertanyaan ancaman dan sebaginya. Dan bisa juga disebut jumlah insya’iyyah, seperti firman Allah dalm Q.S. al-Hijr (15): 92-93.      
“ Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua,Tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.[23]

D.  Jenis-jenis Qasam

      Qasam itu ada kalanya zahir (jelas,tegas) dan adakalanya mudmar (tidak jeals, tersirat).[24]
1.      Zahir ialah sumpah yang di dalamnya disebutkan fi’il qasam dan muqsam bih. Dan di antaranya ada yang dihilangkan fi’il qasamnya, sebagaimana pada umunya, karena dicukupkan dengan huruf jar berupa “ ba”, wawu” dan “ta”.
      Dibeberapa tempat, fi’il qasam terkadang didahului (dimasuki) “la” nafy, seperti .   
“Aku bersumpah demi hari kiamat, Dan aku bersumpah dengan jiwa yang Amat menyesali (dirinya sendiri). Al-Qiyamah (75): 1-2.

        Dikatakan w di dua tempat ini adalah “ la” nafy yang berarti “ tidak” , untuk menafikan sesuatu yang tidak disebutkan yang sesuai dengan konteks sumpah. Dan perkiraan artinya adalah “tidak benar apa yang kamu sangka, bahwa hisab dan siksa itu tidak ada”. Kemudian baru dilanjutkan dengan kalimat berikutnya: “aku bersumpah dengan hari kiamat dan dengan nafsu lawwamah, bahwa kamu kelak akan dibangkitkan”. Dikatakan pula bahwa “la” tersebut” untuk menafikan qasam, seakan-akan ia mengatakan. “Aku tidak bersumpah kepadamu dengan hari itu dan nafsu itu. tetapi aku bertanya kepadamu tanpa sumpah, apakah kamu mengira bahwa kami tidak akan mengumpulkan tulang belulangmu setelah hancur berantakan karena kematian? Sungguh masalahnya teramat jelas, sehingga tidak lagi memerlukan sumpah”. Tetapi dikatakan pula,”la” tersebut  za’idah (tambahan). Pernyataan jawab qasam dalam ayat di atas tidak disebutkan tetapi telah di tunjukkan oleh perkataan sesudahnya . “apakah manusia mengira..”. taqdirnya ialah:” sungguh kau akan dibangkitkan dan akan dihisab.

2.      Mudmar, yaitu yang didalamnya tidak dijelaskan fi’il qasam dan tidak pula muqsambih, tetapi ia ditunjukkan oleh “lam taukid” yang masuk ke dalm jawab qasam, seperti firman Allah dalam Q.S. Ali-Imran (3): 186
“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Maksudnya, demi Allah kamu sungguh-sungguh akan diuji.

E.  Faedah Aqsam al-Quran

      Mempelajari aqsam al-Quran, menurut Manna al-Qattan memiliki beberapa faedah, sebab qasam (sumpah) merupakan sesuatu ahsab penguat perkataan yang masyhur untuk memantapkan dan memperkuat kebenaran sesuatu di dalam jiwa. Walaupun al-Quran telah diturunkan untuk manusia, namun dasar sikap yang berbeda terhadapnya, baik yang meragukan . menginkari hingga yang sangat menentangnya. Oleh karena itu, ajaran dari al-Quran itu berfaedah:
a.       Menghilangkan keraguan, misalnya Q.S. Qaf (50): 1
“ Qaaf, demi Al Quran yang sangat mulia.
b.      Melenyapkan kesalahpahaman , misalnya Q.S. al-Lail (92): 12-13
“Sesungguhnya kewajiban kamilah memberi petunjuk, Dan Sesungguhnya kepunyaan kamilah akhirat dan dunia.

c.       Menegakkan hujjah misalnya Q.S. al-Waqiah (56): 75
“Maka aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran.
d.      Menguatkan khabar seperti Q.S. al-Dzariyat (51): 23
“Maka demi Tuhan langit dan bumi, Sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti Perkataan yang kamu ucapkan.
e.       Menetapkan hukum dengan cara yang paling sempurna[25]. Misalnya Q.S. al-Nisa (4): 65
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

                                            DAFTAR PUSTAKA

Al-Jauziyah ,Ibnu al-Qayyim, al-Tibyan fi Aqsam al-Quran, Kairo; Maktabah al-Mutanabbiy

--------------------------, Al-Tibyan fi Aqsam al-Qur’an diterjemahkan oleh Asep saifullah dan Kamaluddin Sa’diyatulharamain dengan judul Sumpah dalam al-Qur’an Cet. I; Jakarta: Pustaka Azzam, 2000

Al-Usaimin, Muhammad Ibn al-Salah, Usul fi al-Tafsir, dialih bahasakan oleh H.S Agil Husain al-Munawar dan H. Ahmad Rifqi Mukhtar, Dasar-Dasar Penafsiran al-Qur’an , Semarang: Dina Utama Semarang. T.th

Al-Qattan,  Manna Khalil, Mabahis fi Ulum al-Qur’an , Cet. X; Kairo: Maktabah Wahbah, 1997/1417

Al-Sabuniy, Muhammad Ali, Al-Tibyan fi Ulum al-Qur’an, dialih bahasakan oleh H. Muhammad Chodari Umar dan Moh. Matsna H.S., Pengantar Studi Alquran al-Tibyan, Bandung: Al-Maarif. 1987

Bintu Syati, Aisyah Abdul al-Rahman, Al-Tafsir al-Bayani li al-Qur’an al-Karim,diterjemahkan oleh Mudzakkir Abdussalam dengan judul Tafsir Bintu Syati, Cet. I; Bandung: Mizan, 1996

.Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahnya. Semarang: CV: Toha Putra, 1989

Ni’mah, Fuad, Mulakhkhas Qawaid al-Lugah al-Arabiyah , Cet. XX; Kairo: Al-Maktabah al-‘Ilmiy, t.th



                [1] Manna al-Qattan, Mabahis fi Ulum al-Qur’an (Cet. X; Kairo: Maktabah Wahbah, 1997/1417), h. 284
                [2] Ibnu al-qayyim al-Jauziyah, Al-Tibyan fi Aqsam al-Qur’an diterjemahkan oleh Asep saifullah dan Kamaluddin Sa’diyatulharamain dengan judul Sumpah dalam al-Qur’an (Cet. I; Jakarta: Pustaka Azzam, 200), h. 18
                [3] Manna al-Qattan, loc. Cit

                [4] Aisyah Abdul al-Rahman Bintu Syati, Al-Tafsir al-Bayani li al-Qur’an al-Karim,diterjemahkan oleh Mudzakkir Abdussalam dengan judul Tafsir Bintu Syati (Cet. I; Bandung: Mizan, 1996), h. 21

                [5] Lihat Muhammad Ibn al-Salah al-Usaimin, Usul fi al-Tafsir, dialih bahasakan oleh H.S Agil Husain al-Munawar dan H. Ahmad Rifqi Mukhtar, Dasar-Dasar Penafsiran al-Qur’an (Semarang: Dina Utama Semarang. t.th), h. 67

                [6] Muhammad Ali al-Sabuniy, Al-Tibyan fi Ulum al-Qur’an, dialih bahasakan oleh H. Muhammad Chodari Umar dan Moh. Matsna H.S., Pengantar Studi Alquran al-Tibyan (Bandung: Al-Maarif. 1987), h. 18

                [7] Fuad Ni’mah, Mulakhkhas Qawaid al-Lugah al-Arabiyah (Cet. XX; Kairo: Al-Maktabah al-‘Ilmiy, t.th), h. 180

                [8]‘Ba’ tidak terdapat dalam al-Qur’an kecuali berangkai dengan fi’il qasam.

                [9] Departemen Agama RI, h. 553
                [10]Ibid., h. 1067
                [11] Manna al-Qattan., op.cit., h. 284-285

            [12] Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah, al-Tibyan fi Aqsam al-Quran, (Kairo; Makrabahal-Mutanabbiy. T.th), h.7

                [13] Departemen Agama RI, op.cit., h. 859

                [14] Ibid., h. 339
                [15] 1. Manna al-qattan. Op.cit., h. 286. 2. Al-Imam badr al-Din ibn Abd Allah al-Syarkasiy, loc.cit 3. Al-Imam Jalal al-Din al-Suyuthiy, Al-ithqan fi Ulum al-Qur,an, Juz. IV (Cet. II; Arab Saudi: Maktabah Nazzar Musthafa al-Baz, 1998M/1418H), h. 1033
                [16] Manna al-Qattan., op.cit., h. 287

                [17] Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, op.cit., h. 14
                [18] Manna al-Qattan, op.cit. h. 288

                [19] Ibid.
                [20] Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, op.cit., h. 8-11
                [21] Ibn al-Qayyim al-Jauziyah. Op.cit.,  h. 7

                [22] Departemen Agam RI, op.cit., h. 859

                [23] Ibid., h. 399

                [24] Manna al-Qattan, op.cit., h. 287-288
                [25] Lihat Manna al-Qattan., Op.Cit., h. 285
Terimakasih telah membca artikel berjudul AQSAM DALAM AL-QUR'AN

SL Blogger
Kumpulan Makalah Updated at: 12/17/2016

0 komentar AQSAM DALAM AL-QUR'AN

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak