FILSAFAT ILMU ISLAM

Hasil gambar untuk filsafat ilmu islam

A.  Pengertian Filsafat Ilmu

Sebelum penulis mengemukakan Filsafat Ilmu terlebih dahulu dikemukakan pengertian Filsafat. Adapun pengertian Filsafat sebagai berikut:
Istilah "Filsafat" dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata Falsafah (Arab), Philoshophy (Inggris), Philoshophia (Latin), Philoshophie (Jerman, Belanda, Prancis). Semua istilah itu bersumber dari Yunani Philoshophia. Istilah Yunani Philein berarti "mencintai", sedang philos berarti "Teman". Selanjutnya istilah sophos berarti "bijaksana", sedangkan sophia berarti "kebijaksanaan".[1]
Adapun pengertian Filsafat menurut para Filosof antara lain : Konsep Rene Descartes.
Menurut Rene Descartes, filsafat merupakan kumpulan segala pengetahuan, dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikannya.[2]
Konsep Francis Bacon
Menurut Francis Bacon, filsafat merupakan induk agung dari ilmu-ilmu, dan filsafat mengenai semua pengetahuan sebagai bidangnya.[3]
Adapun pengertian filsafat ilmu terdapat berbagai pendapat sehingga sulit untuk memberikan suatu batasan yang positif. Misalnya perbedaan pendapat antara Ernest Nagel dengan Stephen Toulmin tentang apakah filsafat ilmu merupakan suatu studi scientific achievement in vivo atau studi tentang masalah-masalah mengenai penjelasan (problems of explanaton).
Ada beberapa titik pandang (view points) untuk menetapkan dasar pemahaman terhadap filsafat ilmu sebagai berikut :
Pertama menyebutkan bahwa filsafat ilmu adalah perumusan world-views yang konsisten dengan, dan pada beberapa pengertian didasarkan atas, teori-teori ilmiah yang penting. Menurut pandangan ini, merupakan tugas dari filusuf ilmu (philosopher of science) untuk mengelaborasikan implikasi yang lebih luas dari ilmu.
Pandangan kedua menyebutkan bahwa filsafat ilmu adalah suatu eksposisi dari presuppositions dan predispositions dari para ilmuan. Filusuf ilmu mungkin mengemukakan bahwa para ilmuan menduga (presuppose) alam tidak berubah-ubah, dan terdapat suatu keteraturan di alam sehingga gejala-gejala alam yang tidak begitu kompleks cukup didapat oleh  peneliti. Sebagai tambahan, peneliti mungkin tidak menutup keinginan-keinginan deterministik para ilmuan lebih daripada hukum-hukum statistik, atau pandangan mekanistik lebih daripada penjelasan teologis. Pandangan ini cenderung mengasimilasikan filsafat ilmu dengan sosiologi.
Pandangan ketiga mengemukakan bahwa filsafat ilmu itu adalah suatu disiplin yang di dalamnya konsep-konsep dan teori-teori tentang ilmu dianalisis dan diklasifikasikan. Hal ini berarti memberikan kejelasan tentang makna dari berbagai konsep seperti partikel, gelombang, potensial dan komplek di dalam pemanfaatan ilmiahnya. Akan tetapi, Gilbert Ryle telah menunjukkan terdapat sesuatu yang pretensius (pretentious) tentang pandangan ini mengenai filsafat ilmu sehingga para ilmuan memerlukan filsafat ilmu untuk menjelaskan kepada mereka makna dari konsep-konsep ilmiah.
Filsafat ilmu erat hubungannya dengan logika dan metodologi, dan dalam hal ini kadang-kadang filsafat ilmu ditumbuhkan pengertiannya dengan metodologi. Jadi filsafat ilmu ialah penyelidikan filosofis tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperolehnya. Dengan kata lain filsafat ilmu sesungguhnya merupakan penyelidikan lainjutan. Akan tetapi, yang perlu untuk dipahami adalah bahwa filsafat ilmu itu pada dasarnya science of science.[4]

B. Hubungan antara Ilmu Pengetahuan dengan Filsafat Ilmu

Ilmu pengetahuan selalu memperbarui diri seiring dengan perkembangan zaman, dan itu berlangsung menurut hukum kemajuan.[5] Sampai saat ini, ilmu dianggap masih dalam keadaan antara kurang dan lengkap, antara keliru dan benar, antara terpencar dan padu dan lain sebagainya. Sehingga tidaklah aneh dalam kaedah ilmu pengetahuan bila ia mengalami goyah setelah pasti atau roboh setelah diyakini.
Pada mulanya ilmu bersifat perkiraan kemudian meningkat menjadi menyakinkan. Para peneliti masih terus melakukan eksperimen-eksperimennya terhadap pelbagai kaidah ilmu pengetahuan, yang selama berabad-abad dianggap sebagai kebenaran yang tak perlu dipersoalkan lagi.[6] Para peneliti akan memulai usaha penelitian baru untuk menemukan kaedah-kaedah ilmu yang baru yang diharapkan akan menjadi hukum-hukum atau teori-teori yang akan berlaku di zaman yang akan datang.[7]
Pada masa yang lalu ilmu pengetahuan identik dengan filsafat, sehingga pembatasannya bergantung pada sistem filsafat yang dianutnya. Perkembangan filsafat dapat mengantarkan suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan itu tumbuh dengan subur serta bercabang dengan mekar. Selanjutnya masing-masing cabang melepaskan diri dari batas filsafatnya dan berkembang mandiri yang masing-masing mengikuti metodologinya sendiri.
Setelah dilakukan gerakan demitologisasi yang di pelopori para filusuf pra-socrates, filsafat dengan kemampuan rasionalitasnya setapak demi setapak telah mencapai puncak perkembangannya sebagaimana ditunjukkan melalui Socrates, Plato dan Aristoteles. Semenjak itu filsafat yang semula bercorak metologik berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang meliputi berbagai macam bidang. Hal tersebut terbukti dengan pernyataan Aristoteles bahwa filsafat sebagai semua kegiatan yang dapat dipertanggung jawabkan secara akaliah, dan membaginya menjadi ilmu pengetahuan Poietis (terapan), ilmu pengetahuan praktis (dalam arti normatif seperti etika, politik) dan ilmu pengetahuan teoritik. Ilmu pengetahuan inilah yang dianggap sebagai yang terpenting dan membaginya menjadi ilmu alam, ilmu pasti dan filsafat pertama yang selanjutnyanya dikenal sebagai metafisika.
Setelah refleksi filsafat mengenai pengetahuan manusia menjadi menarik perhatian maka lahirlah cabang filsafat yang disebut sebagai filsafat pengetahuan, dimana komponen-komponen pendukungnya yakni logika, filsafat bahasa, matematika, dan metodologi. Dari cabang filsafat ini dijelaskan sumber dan sarana serta tata cara untuk menggunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan ilmiah. Dalam konteks pengetahuan ilmiah ini, maka lahirlah cabang filsafat yang disebut filsafat ilmu sebagai penerusan atau pengembangan filsafat pengetahuan.

C.  Ruang Lingkup dan Aspek-Aspek Filsafat Ilmu

Ruang lingkup filsafat ilmu dalam bidang filsafat sebagai keseluruhan pada dasarnya mencakup dua pokok bahasan, yaitu: pertama, membahas "sifat pengetahuan ilmiah", dan kedua menelaah "cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah".[8] Pokok bahasan yang pertama erat hubungannya dengan filsafat pengetahuan (epistemologi), yang secara umum menyelidiki syarat-syarat dan bentuk-bentuk pengetahuan manusia. Pada pokok bahasan kedua, terkait dengan cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah, filsafat ilmu berhubungan erat dengan logika serta metodologi, dan kadang-kadang pengertian filsafat ilmu ditumbuhkan dengan metodologi.
Filsafat ilmu dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1.  Filsafat ilmu umum, yang mencakup kajian tentang persoalan kesatuan, keragaman, serta hubungan diantara segenap ilmu. Kajian ini terkait dengan masalah hubungan antara ilmu dengan kenyataan, kesatuan, perjenjangan, susunan kenyataan, dan sebagainya.
2. Filsafat ilmu khusus, yaitu kajian filsafat ilmu yang membicarakan kategori-kategori serta metode-metode yang digunakan dalam ilmu-ilmu tertentu atau dalam kelompok-kelompok ilmu tertentu, seperti dalam kelompok ilmu alam, kelompok ilmu masyarakat, kelompok ilmu tehnik dan sebagainya (Beerling dkk, 1986:40).
Filsafat ilmu dapat pula dikelompokkan berdasarkan model pendekatan, yaitu :
1.  Filsafat ilmu terapan, yaitu filsafat ilmu yang mengkaji pikiran kefilsafatan yang melatarbelakangi pengetahuan normatif dunia ilmu. Pada kajian ini dunia ilmu bertemu dengan dunia filsafat. Jadi filsafat ilmu terapan tidak bertitik tolak dari dunia filsafat melainkan dari dunia ilmu. Dengan kata lain filsafat ilmu terapan merupakan deskripsi pengetahuan normatif. Filsafat ilmu terapan sebagai pengetahuan normatif mencakup :
a. Pengetahuan yang berupa pola pikir hakekat keilmuan.
b. Pengetahuan mengenai model praktek ilmiah yang diturunkan dari pola pikir.
c. Pengetahuan mengenai berbagai sarana ilmiah.
d. Serangkaian nilai yang bersifat etis yang terkait dengan pola pikir dengan model praktek yang khusus, misalnya: etika profesi.
2. Filsafat ilmu murni, yaitu bentuk kajian filsafat ilmu yang dilakukan dengan menelaah secara kritis dan eksploratif terhadap materi kefilsafatan, membuka cakrawala terhadap kemungkinan berkembangnya pengetahuan normatif yang baru. Bila filsafat ilmu terapan berangkat dari kajian filosof terhadap asumsi-asumsi dasar yang ada dalam ilmu, misalnya terkait dengan anggapan dasar tentang "realitas" dalam ilmu-ilmu khusus dan konsekuensinya pada pemahaman terhadap "realitas" secara keseluruhan.
Adapun mengenai bidang garapan filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu. Paling sedikit ada tiga aspek dari suatu filsafat ilmu: ontologis, epistemologis, dan akiologis.[9]
Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana yang "ada" itu. paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme, paham dualisme, pluralisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik yang pada akhirnya menentukan pendapat bahkan keyakinan kita masing-masing mengenai apa dan bagaimana yang ada sebagaimana menifestasi kebenaran yang kita cari.
Berlainan dengan agama, atau bentuk-bentuk pengetahuan lainnya, maka ilmu membatasi diri hanya kepada kejadian yang bersifat empiris ini. Obyek penelaahan ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Berdasarkan obyek yang ditelaahnya, maka ilmu dapat disebut sebagai suatu pengetahuan empiris, dimana obyek-obyek yang berbeda di luar jangkauan manusia tidak termasuk ke dalam bidang penelaahan keilmuan tersebut. Inilah yang merupakan salah satu ciri ilmu yakni orientasi kepada empiris.
Epistemologi ilmu, meliputi sumber, sarana, dan tata cara menggunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan ilmiah. Epistemologi, atau teori pengetahuan, membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Metode inilah yang membedakan ilmu dengan buah pemikiran yang lainnya.[10]
Epistemologi berusaha untuk memaparkan dan menjawab problem-problem yang muncul dalam area tertentu, misalnya: positivisme logis. Semua epistemologi meletakkan beberapa oposisi sebagai penyusun teori pengetahuan, tujuannya yaitu meletakkan yang memungkinkan bagi suatu pengetahuan.
Axiologi ilmu meliputi nilai-nilai (values) yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan simbolik ataupun fisik-material.
Filsafat ilmu dalam perkembangannya juga mengarahkan pandangannya pada strategi pengembangan ilmu, yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap bukan saja kemanfaatan, tetapi juga arti maknanya terhadap kehidupan umat manusia.
Salah satu pertanyaan Einstein; mengapa ilmu yang amat indah ini, yang menghemat kerja dan membuat hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit sekali kepada kita?. Kalau kita mengkaji pertanyaan ini, maka masalahnya terletak dalam hakekat ilmu itu sendiri. Seperti dicanangkan oleh Francis Bacon berabad abad yang silam: Pengetahuan adalah kekuasaan. Apakah kekuasaan itu akan merupakan berkah atau malapetaka bagi umat manusia, semua itu terletak pada orang yang menggunakan kekuasaan tersebut. Ilmu itu sendiri bersifat netral, ilmu tidak mengenal sifat baik atau buruk, dan si pemilik pengetahuan itulah yang harus mempunyai sikap.[11]

D.  Filsafat Ilmu Islami

Yang dimaksud dengan filsafat ilmu islami ialah penyelidikan filosofis mengenai masalah ilmu berdasarkan pandangan yang dibentuk oleh pemahaman akan ajaran Islam, dengan sumber utama Al-Qur'an dan Hadis Nabi.
Al-Qur'an adalah sumber seluruh pengetahuan, Al-Qur'an mencakup seluruh bentuk pengetahuan. Pandangan yang menganggap Al-Qur'an sebagai sebuah sumber seluruh pengetahuan ini bukanlah sesuatu yang baru, sebab para ulama kaum muslimin terdahulu juga berpandangan demikian. Di antaranya adalah Imam Al-Ghazali. Dalam bukunya Ihya 'Ulumul Al-Din, beliau mengutip kata-kata Ibnu Mas'ud: "Jika seseorang ingin memiliki pengetahuan masa lampau dan pengetahuan modern, selayaknya ia merenungkan Al-Qur'an". Selanjutnya beliau menambahkan: "Ringkasnya, seluruh ilmu tercakup di dalam karya-karya dan sifat-sifat Allah, dan Al-Qur'an adalah penjelasan esensi sifat-sifat dan perbuatannya".[12]
Mengapa suatu kehendak Allah, agar manusia dengan menggunakan indra dan akalnya dapat menemukan rahasia-rahasia alam. Sebab jika Al-Qur'an menjelaskan secara detail mengenai hal ini jelas akan kekurangan fungsinya. Sebagaimana Muhammad Abduh mengatakan: "Jika rasul itu harus menerangkan ilmu-ilmu kealaman dan astronomi, maka itu berarti akhir dari aktifitas indera dan akan manusia, dan akan merendahkan kebebasan manusia itu sendiri".[13]
Sehubungan dengan penjelasan di atas filsafat ilmu akan berbicara tentang fakultas-fakultas pengetahuan manusia secara lengkap sebagai satu kesatuan yang utuh potensi berilmu. Dimana pada pembahasan epistemologi filsafat ilmu islami berbicara mengenai indera lahir, indera batin, akal sebagai alat dari hati dan lain sebagainya.
                                                                 
 DAFTAR PUSTAKA

Suriasumantri, S. Jujun, Ilmu dalam Perspektif. Cet. XIII, (Jakarta, Yayasan Obor Indonesia 1997).

Ghulsyani, Mahdi, Filsafat Sains Menurut Al-Qur'an, Cet. V (Bandung: Mizan 1993).

Al-Aqqad, Mahmud, Abbas, Filsafat Al-Qur'an. Cet. II, (Jakarta: Pustaka Firdaus Tahun 1996).

Musa, Yusuf, Al-Qur'an dan Filsafat, Cet. I, (Jakarta: Bulan Bintang 1998).

I Setiawan, I Made Putrawan, Conny R, Semiawan, Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu, Cet. IV. (Bandung: Remaja Rosda Karya Tahun 1999).

Asmoro, Achmadi, Filsafat Umum, Cet. II, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada tahun 1997).

Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, Cet. I (Yogyakarta: Liberty Yogyakarta 2001)



[1]Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, (Cet.,I, Yogyakarta: Liberty Yogyakarta, 2001), h. 18. 
[2]Acmadi Asmoro, Filsafat Umum, (Cet. II, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997), h. 3.
[3]Ibid.
[4]Semiawan R. Conny, Putrawan Made, I dan Setiawan, I, TH., Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu, (Cet. IV, Bandung : Remaja Rosda Karya, 1999), h. 55.
[5]Abbas Mahmud Al-Aqqad, Filsafat Qur'an, (Cet. II, Jakarta : Pustaka Firdaus, 1996), h. 11.
[6]Ibid.
[7]Yusuf Musa, Al-Qur'an dan Filsafat, (Cet. I, Jakarta : Bulan Bintang, 1988), h. 66.
[8]
[9]Mahdi Ghulsyani, Filsafat Sains Menurut Al-Qur'an, (Cet. V, Bandung : Mizan, 1993), h. 32.
[10]Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif, (Cet. XIII, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia 1997), h. 9.
[11]Jujun S. Suriasumantri, Ibid. h. 35. 
[12]Mahdi Ghulsyani, Op.cit. h. 12. 
[13]Ibid. h. 142. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "FILSAFAT ILMU ISLAM"

Post a Comment