Kumpulan Berbagai Jenis Makalah

ASBABUN NUZUL

    A. Pengertian Asbabun Nuzul

Hasil gambar untuk asbabun nuzulAsbabun nuzul[5] secara etimologis (lughawi), “asbab al-nuzul” terdiri dari dua kata yaitu asbab dan al-nuzul. Kata asbab berasal dari kata (tunggal: sabab) yang berarti sebab, alasan atau illat[6]. Dan kata al-nuzul berarti as-su’ud[7], yakni turun.
Adapun pengertian “asbab al-Nuzul”  menurut terminologis (istilah) adalah pengetahuan tentang sebab-sebab diturunkannya suatu ayat. Menurut al-Zarqani, asbab al-nuzul ialah suatu kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat, atau suatu peristiwa yang dapat dijadikan petunjuk hukum berkenaan turunnya suatu ayat[8]. Shubhi al-Shalih juga memberikan suatu definisi yang hampir sama tentang asbab al-nuzul. Yaitu: Sesuatu yang dengan sebabnya turun suatu ayat atau beberapa ayat yang yang mengandung sebab itu, atau memberi jawaban terhadap sebab itu, atau menerangkan hukumnya pada masa terjadinya sebab tersebut.[9]
Definisi tersebut memberikan pengertian bahwa sebab turun suatu ayat adakalanya berbentuk peristiwa dan adakalanya berbentuk pertanyaan. Suatu ayat-ayat atau beberapa ayat turun untuk menerangkan hal yang berhubungan dengan peristiwa tertentu.
Unsur-unsur yang sangat penting diketahui tentang asbab al-nuzul adalah  adanya satu atau beberapa kasus yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat, dan ayat-ayat itu dimaksudkan untuk memberikan penjelasan terhadap kasus itu.
Jadi ada beberapa unsur yang tidak boleh diabaikan dalam menganalisis asbab al-nuzul, yaitu adanya suatu kasus atau peristiwa[10], adanya pelaku peristiwa, adanya tempat peristiwa, dan adanya waktu peristiwa. Kualitas peristiwa, pelaku, tempat, dan waktu perlu diidentifikasi dengan cermat guna menerapkan ayat-ayat itu pada kasus lain dan ditempat dan waktu yang berbeda.
Sebenarnya jika yang dimaksud asbab al-nuzul ialah hal-hal yang menyebabkan turunnya ayat-ayat al-Qur’an, semua ayat-ayat al-Qur’an mempunyai asbab al- nuzul[11]. Tujuan utama al-Qur’an adalah hendak mentransformasikan umat nabi Muhammad dari situasi yang lebih buruk ke situasi yang lebih baik menurut ukuran Tuhan. Kondisi objektif yang lebih buruk itulah yang menjadi sebab ayat-ayat al-Qur’an diturunkan bagaikan sebuah suatu paket, yang tak dapat dipisahkan antara satu ayat dengan lainnya.

B. Fungsi Asbabun Nuzul

Mempelajari dan mengetahui asbab al-nuzul mempunyai arti penting dalam menafsirkan al-Qur’an. Seseorang tidak akan mencapai pengertian yang baik jika tidak memahami ayat-ayat yang menyangkut hukum. Imam al-Wahidi (w. 468/1075), mengatakan: “tidak mungkin orang bisa mengetahui tafsir suatu ayat, tanpa mengetahui kisah dan penjelasan mengenai turunnya lebih dahulu”[12].
Pemahaman asbab al-nuzul akan sangat membantu dalam memahami konteks turunnya ayat. Ini sangat penting untuk menerapkan ayat-ayat pada kasus dan kesempatan yang berbeda. Peluang terjadinya kekeliruan akan semakin besar jika mengabaikan riwayat asbab al-nuzul.
Sebagai contoh tentang bahaya menafsirkan al-Qur’an tanpa mengetaui sebab turunnya ialah penafsiran Usman bin Mazun dan Amr bin Ma’addi  Kariba terhadap Q.S al-Maidah (5) : 93:
 Artinya:
“Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan saleh, kemudian mereka tetap bertakwa serta beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.

Mereka membolehkan minum khamar berdasarkan ayat ini. As-Suyuti berkomentar bahwa sekiranya mereka mengetahui sebab turun ayat ini, tentunya mereka tidak akan mengatakan demikian. Sebab, Ahmad, An-Nasai, dan lainnya meriwayatkan bahwa sebab turun ayat ini adalah orang-orang yang ketika khamar diharamkan mempertanyakannya nasib kaum muslimin yang terbunuh di jalan Allah sedang mereka dahulunya minum khamar.[13]
Adapun fungsi memahami asbab al-nuzul antara lain sebagai berikut:
a.       mengetahui hikmah dan rahasia diundangkannya suatu hukum dan perhatian syara’ terhadap kepentingan umum, tanpa membedakan etnik, jenis kelamin, dan agama. Jika dianalisis secara cermat, proses penetapan hukum berlangsung secara manusiawi, seperti penghapusan minuman keras, misalnya ayat-ayat al-Qur’an turun dalam empat kali tahapan, yaitu QS. al-Nahl (16): 67, QS. al-Baqarah (2): 219, QS. al-Nisa (4): 43, dan QS. Al-Maidah (5): 90-91.
b.      Mengetahui asbab al-nuzul membantu memberikan kejelasan terhadap beberapa ayat. Misalnya Urwah ibn Zubair kebingungan dalam memahami hukum fardhu sa’i antara Shafa dan Marwah, QS. al-Baqarah (2): 158.

Artinya:
“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebahagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Alla Maha mensyukuri kebaikan lagi Maha mengetahui.”

Urwah ibn Zubair kebingungan memahami “tidak ada dosa” di dalam ayat ini. Ia lalu menanyakan kepada Aisyah perihal ayat tersebut lalu Aisyah menjelaska bahwa peniadaan dosa di situ bukan peniadaan hukum fardhu. Peniadaan disitu dimaksudkan sebagai penolakan terhadap keyakinan yang telah mengakar di hati kaum muslimin ketika itu, bahwa melakukan sa’i di antara Shafa dan Marwah termasuk perbuatan jahiliyyah. Keyakinan ini didasarkan atas pandangan bahwa pada masa pra Islam di bukit Shafa terdapat sebuah patung yang disebut Isafa dan dibukit Marwah ada sebuah patung yang disebut Na’ilah. Jika melakukan sa’i di antara dua bukit itu orang-orang jahiliyyah sebelumnya mengusap kedua patung tersebut. Ketika orang-orang telah masuk Islam, maka sebahagian sahabat ada yang enggan melakukan sa’i di tempat itu. Karena takut ibadahnya itu serupa dengan peribadatan orang jahiliyyah. Kemudian turun ayat tadi untuk menolak anggapan berdosa itu. Dan sekaligus diwajibkan mereka bersa’i karena Allah. Bukan karena berhala.[14]
c.       Pengetahuan tentang asbab al-nuzul dapat menolak dugaan adanya hashr (pembatasan) dalam ayat yang menurut lahirnya mengandung hashr,  seperti firman Allah swt. Dalam QS. al-Anam (6): 145, yaitu:

Artinya:
“Katakanlah: Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkanbgai orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau daah yang mengalir atau daging babi. Karena sesungguhnya semua itukotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah…”

Imam Syafi’i berkata: ketika orang-orang kafir telah mengharamkan sesuatu yang di halalkan Allah dan menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah, maka datang ayat tersebut untuk membatalkan pendapat mereka. Seolah-olah Allah swt. Mengatakan : “yang halal justru yang telah kamu haramkan dan yang haram justru yang telah kamu halalkan“. Akan tetapi maksud ayat ini hanya menetapkan hukum halal. Imam Haramain berkata: “ini adalah (penjelasan) yang paling baik. Sekiranya Imam al-Syafi’i tidak lebih dahulu sampai kepada penjelasan yang demikian, tentunya kita tidak dapat menyalahi Imam Malik tentang pendapatnya yang membataskan segala yang haram pada apa yang disebutkan ayat itu”[15].
d.      pengetahuan asbab al-nuzul dapat mengkhususkan (takhshish) hukum terbatas pada sebab, terutama ulama yang menganut kaidah “sabab khusus”. Sebagai contoh turunnya ayat zhihar pada permulaan surat al-Mujadalah, yaitu dalam kasus Aus Ibn al-Shamit yang menzihar istrinya, Khaulah binti Hakam ibn Tsa’labah. Hukum yang terkandung dalam ayat-ayat ini khusus bagi keduanya dan tidak berlaku bagi orang lain.[16]
e.       Dengan mempelajari asbab al-nuzul diketahui pula bahwa sebab turunnya ayat tidak keluar dari hukum yang terkandung dalam ayat, apabila terdapat yang mengkhususkannya. Maksudnya adalah , bahwa suatu lafal kadang bersifat umum dan kadang dikhususkan oleh dalil-dalil tertentu, maka tidak dibolehkan mengeluarkan sebab dari hukum ayat dengan cara ijtihad dan ijma’. Karena, masuknya sebab berarti qath’i. dan keluarnya sebab dengan dalil khusus berarti ijtihad; pada hal ijtihad adalah adalah sesuatu yang zhanni (tidak pasti/tidak qath’i), maka tidak dibolehkan mengeluarkan yang qath’I bersama dengan yang zhanni. Sebagi contoh bisa disebutkan, yakni dalam firman Allah swt. QS. al-Nur (24): 23-25,
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriamn (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika), lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang benar, lagi yang menjelaskan(segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)”.

Ayat ini turun pada Aisyah secara khusus atau pada seluruh isteri nabi menurut riwayat ibn Abbas. Dari Ibn Abbas juga diriwayatkan bahwa ayat ini turun pada Aisyah dan isteri-isteri nabi lainnya. Allah tidak memberikan taubat kepada orang-orang yang melakukan demikian. Akan tetapi Allah memberikan taubat kepada orang yang menuduh perempuan mukmin selain isteri-isteri nabi. Kemudian Ibn Abbas membacakan ayat QS. Al-Nur (24): 4-5:

Artinya:
”dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka yang (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. Kecuali orang orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya) , maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang”.

Berdasarkan keterangan ini, diterimanya taubat seorang yang menuduh perempuan mukmin berzina sebagaimana yang dijelaskan ayat 4 dan 5 surat al-Nur tidak dapat mencakup orang yang menuduh Aisyah atau isteri-isteri nabi yang menjadi sebab turun ayat 23-25 dari surat al-Nur di atas. Bagi orang yang tersebut akhir ini tidak ada taubat karena masuknya sebab ke  dalam lafal umum ayat di atas qath’i (pasti). Sekiranya sebab turun ayat yang umum di atas tidak diketahui, tentunya ayat ini akan dipahami secara keliru. Bahkan ayat ini akan kehilangan maknanya dan hampa.
f.       Dengan asbab al nuzul, diketahui orang yang ayat tertentu turun padanya secara tepat sehingga tidak terjadi kesamaran. Kesamaran bisa membawa kepada penuduhan terhadap orang yang tidak bersalah dan pembebasan bagi orang yang bersalah. Berdasarkan pengetahuan tentang sabab al-nuzul, Aisyah dapat menolak tuduhanMarwan terhadap saudaranya, Abd al-Rahman ibn Abi Bakar. Marwan Mendakwahnya bahwaayat QS. al-Ahqaf (46): 17

Artinya:
“dan orang-orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “cis” bagi kamu keduanya….”
Ayat ini turun pada perihal Abd al-Rahman ibn Abi Bakar. Aisyah berkata: “Demi Allah, bukan dia itu, dan sekiranya saya mau menyebutnya saya dapat menyebutkan namanya”. Demikianlah seterusnya sampai akhir kisahnya.[17]
g. pengetahuan tentang sabab al-nuzul akan mempermudah orang menghafal ayat-ayat al Qur’an serta memperkuat keberadaan wahyu dalam ingatan orang yang mendengarnya jika ia mengetahui sebab turunnya. Sebab , pertalian antara sebab dan musabab (akibat), hukum dan peristiwanya, peristiwa dan pelakunya, masa dan tempatnya semua ini merupakan faktor-faktor yang menyebabkan mantapnya dan terlukisnya sesuatu dalam ingatan.[18]

C. Cara-cara Mengetahui Asbabun Nuzul

Asbab al-nuzul tidak mungkin diketahui  berdasarka pendapat. Melainkan diketahui melauli periwayatan yang sahih (absyah) dari orang yang telah menyaksikannya, orang yang ‘hadir’ pada saat itu[19]. Atau riwayat yang disandarkan kepada nabi Muhammad saw. Tetapi tidak semua riwayat yang disandarkan kepadanya dapat dipegang. Riwayat yang dapat dipegang ialah riwayat yang memenuhi syarat-syarat tertentu sebagaimana ditetapkan para ahli hadis. Secara khusus dari riwayat asbab al-nuzul ialah riwayat dari orang yang terlibat dan mengalami peristiwa yang diriwayatkan (yaitu pada saat wahyu diturunkan). Riwayat yang berasal dari para tabi’in yang tidak merujuk pada Rasulullah dan para sahabatnya, dianggap lemah (dha’if). Sebab itu, seseorang tidak dapat begitu saja menerima pendapat seorang penulis atua orang seperti itu bahwa suatu ayat diturunkan dalam keadaan tertentu. Karena itu, diharuskan mempunyai pengetahuan tentang siapa yang meriwayatkan peristiwa tersebut, dan apakah waktu itu ia memang sungguh-sungguh menyaksikan, dan kemudian siapa yang menyampaikan kepada kita.[20] 

D. Jenis-jenis Riwayat Asbabun Nuzul

Riwayat-riwayat asbab al-nuzul dapat digolongkan dalam dua kategori, yaitu riwayat-riwayat pasti dan tegas dari riwayat-riwayat yang tidak pasti (mumkin).[21]
Kategori pertama, para periwayat dengan tegas menunjukkan bahwa peristiwa yang diriwayatkannya berkaitan erat dengan asbab al-nuzul, misalnya ibn Abbas meriwayatkan tentang turunnya QS. al-Nisa (4): 59, yaitu:

Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan rasul-Nya, dan orang-orang yang memiliki kekuasaan (ulil amri) di antara kamu. Kemudian jika berbeda pendapat tentang sesuatu, maka  kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

Ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibn Hudzaifah ibn Qais ibn Adi ketika rasul menunjukkan sebagai panglima sariyya (detasemen, sebuah satuan tugas tentara). Sedangkan kategori kedua (mumkin) periwayat tidak menceritakan dengan jelas bahwa peristiwa yang diriwayatkan berkaitan erat dengan asbab al-nuzul, tetapi hanya menjelaskan kemungkinan-kemungkinannya, misalnya riwayat Urwah tentang kasus Zubair yang bertengkar dengan seorang dari kalangan Anshar, karena masalah aliran air (irigasi) di al-Harra. Rasulullah bersabda: “wahai Zubair, aliri air tanahmu, dan kemudian tanah-tanah di sekitarmu.” Sahabat Anshar tersebut kemudian memperotes: wahai rasullullah, apakah karena ia keponakanmu?” pada saat itu Rasullah dengan ronah wajah yang memerah kemudian berkata: “Wahai Zubair, alirkan ketanahnya hingga penuh, dan  kemudian biarkan selebihnya mengalir ke tanahnya tetanggamu,” tampak bahwa Rasulullah saw memungkinkan Zubair memperoleh sepenuh haknya, justru sesudah Anshar menunjukkan kemarahannya. Sebelumnya Rasulullah telah memberikan perintah yang adil bagi mereka berdua. Zubair berkata: “Saya tidak bisa memastikan, hanya agaknya ayat itu turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.” Ayat yang dimaksud adalah QS.al-Nisa’ (4):65, yaitu:

Artinya:
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

Mengenai jenis-jenis asbab al-nuzul  dapat dikategorikan dalam beberapa bentuk sebagai berikut:
a.      Sebagai tanggapan atas suatu peristiwa umum
Bentuk sebab turunnya ayat sebagai tanggapan terhadap suatu peristiwa, misalnya riwayat Ibn Abbas bahwa Rasulullah pernah ke al-Bathha, dan ketika turun dari gunung beliau berseru: “Wahai para sahabat, berkumpullah!” ketika melihat orang-orang Quraisy yang juga ikut mengelilinginya, maka beliau pun bersabda: “apakah engkau akan percaya, apabila aku katakana bahwa musuh tengah mengancam dari balik punggung gunung, dan mereka bersiap-siap menyerang, entah di pagi hari ataupun di petang hari?” mereka menjawab: Ya, kami percaya, wahai rasulullah! Kemudian nabi melanjutkan, “ dan aku akan jelaskan kepadamu tentang beberapa hukuman ,” maka Abu Lahab berkata: “apakah hanya beberapa masalah seperti ini engkau kumpulkan kami, wahai Muahammad?”[22] Maka Allah kemudian menurunkan QS. al-Lahab (111): 1-5, yaitu:

Artinya:
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasah. Tidaklah berpaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu  pula) istrinya, pembawa kayu baker. Yang dilehernya ada tali dari sabut.”

b.      Sebagai tanggapan atas suatu peristiwa Khusus
Sebagai sebab turunnya ayat sebagai tanggapan atas suatu peristiwa khusus adalah turunnya QS. al-Baqarah (2): sebagaimana telah diuraikan  terdahulu.
c.       Sebagai jawaban terhadap pertanyaan kepada Nabi
Asbab al-nuzul lainnya ada dalam bentuk pertanyaan kepada Rasulullah, seperti turunnya QS. al-Nisa’ (4): 11, yaitu:
Artinya:
“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian  dua orang anak perempuan dan jika itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan.”

Ayat tersebut turun untuk memberikan jawaban secara tuntas terhadap pertanyaan Jabir kepada Nabi, sebagaimana diriwayatkan Jabir:”Rasulullah dating bersama Abu Bakar, berjalan kaki mengunjungiku (karena sakit) di perkampungan Banu Salamah. Rasulullah saw menemukanku dalam keadaan tidak sadar, sehingga beliau meminta agar disediakan, kemudian berwudhu, dan memercikkan sebagian pada tubuhku. Lalu aku sadar, dan berkata : “Ya Rasulullah ! apakah yang Allah perintahkan bagiku berkenaan dengan harta benda milikku ?” Maka turunlah ayat diatas.
d.      Sebagai jawaban dari pertanyaan Nabi
Salah satu bentuk lain adalah Rasulullah saw. Mengajukan pertanyaan, seperti QS.Maryam (19) : 64, yaitu :
Artinya :
“Dan tidaklah kami (jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nyalah apa-apa yang ada dihadapan kita, apa-apa yang ada dibelakang kita dan apa-apa yang ada diantara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa”.
Ayat tersebut turun untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan nabi, sebagaimana diriwayatkan Ibn Abbas bahwa Rasululah bertanya kepada Malaikat Jibril, “Apa yang menghalangi kehadiranmu, sehingga lebih jarang muncul ketimbang masa-masa sebelumnya ?” Maka turunlah ayat diatas.
e.       Sebagai tanggapan atas pertanyaan yang bersifat umum
Dalam bentuk lain, ayat-ayat Alquran diturunkan dalam rangka memberi petunjuk perihal pernyataan bersifat umum, yang muncul dikalangan sahabat Nabi, seperti turunnya QS.Al-Baqarah (2):222, yaitu :
Artinya :
“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah : “ Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita diwaktu haidh: dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan  Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”.

Ayat ini turun perihal pertanyaan yang bersifat umum dari kalangan sahabat Nabi, sebagaimana diriwayatkan oleh Tsabit dari Anas bahwa dikalangan Yahudi, apabila wanita mereka sedang haid, mereka tidak akan bersama wanita tersebut, atau juga tidak tinggal serumah.Para sahabat yang mengetahui masalah itu kemudian bertanya kepada Rasulullah saw. Tentang hal ini, maka turunlah ayat diatas.[23]

f.        Sebagai tanggapan terhadap orang-orang tertentu
Kadangkala ayat-ayat Alquran turun untuk menanggapi keadaan tertentu atau orang-orang tertentu, seperti turunnya QS.Albaqarah (2):196, yaitu:
Artinya :
“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah Karen aAllah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai ditempat penyembelihannya. Jika ada diantaramu yang sakit atau ada gangguan dikepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah,yaitu : berpuasa atau bersedekah atau berkorban”.

Ka’b ibn Ujrah meriwayatkan bahwa ayat diatas turun berkenaan dengan pelaksanaan haji dan umrah. Jika ada seseorang yang merasa sakit aau ada gangguan dikepala, maka diberikan kemudahan baginnya. Ka’b ibn Ujrah sendiri merasakan ada masalah dengan kutu-kutu yang banyak kepalanya, lalu ia sampaikan kepada nabi, dan nabi mejawab : Cukurlah rambutmu dan gantikanlah dengan berpuasa tiga hari, atau menyembelih hewan kurban, atau memberi makan untuk enam orang miskin, untuk masing-masing orang miskin satu sha.

g.      Beberapa sebab tapi satu wahyu
Terkadang wahyu turun untuk menanggapi beberapa peristiwa atau sebab, misalnya turunnya QS.At-Taubah (9):113, yaitu :
Artinya :
“Tiadalah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi meraka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.”
Ayat di atas turun untuk menanggapi peristiwa peristiwa wafatnya paman Rasulullah saw. Abu Thalib, hingga Allah akan melarang  hal tersebut. Dalam kisah yang lain  di ceritakan bahwa pada suatu saat para sahabat khususnya Umar ibn al-Khattab menemukan Rasulullah meneteskan air mata ketika berziarah kubur. Rasul menerangkan bahwa beliau sedang mengziarahi makam ibundanya, dan memohon kepada Allah agar diperkenankan menziarahinya, dan memohon ampunan bagi ibunya. Sebab itulah sehingga ayat tersebut diturunkan.
h.      Beberapa wahyu tetapi satu sebab
Ada lagi beberapa ayat yang diturunkan untuk menanggapi satu peristiwa, misalnya ayat-ayat diturunkan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan Ummu Salamah, yakni mengapa hanya lelaki saja yang disebut dalam Alquran, yang diberi ganjaran. Menurut Al-hakim dan Tarmizi, pertanyaan itu menyebabkan turunnya tiga ayat.Yaitu QS.Al-Imran (3):195,QS.Al-Nisa (4):32, QS. Al-Ahzab (33):35.

E. Beberapa Pandangan tentang Asbabun Nuzul

Para ulama tidak sepakat mengenai kedudukan asbab al-nuzul. Mayoritas ulama tidak memberikan keistimewaan khusus kepada ayat-ayat yang mempunyai riwayat asbab al-nuzul, karena yang terpenting bagi mereka adalah apa yang tertera di dalam redaksi ayat. Jumhur ulama kemudian menetapkan suatu kaidah yaitu:

“Yang dijadikan pegangan ialah keumuman lafal, bukan kekhususan sebab”.[24]
Sedangkan minoritas ulama memandang penting keberadaan riwayat-riwayat asbab al-nuzul didalam memahami ayat. Golongan ini juga menetapkan suatu kaidah yaitu:
“Yang dijadikan pegangan adalah kekhususan sebab, bukan keumuman lafal”.
Jumhur ulama berpendapat bahwa ayat-ayat yang diturunkan berdasarkan sebab khusus tetapi diungkapkan dalam bentuk lafal umum, maka yang dijadikan pegangan adalah lafal umum. Az-Zarkasyi dalam menghubungkan kekhususan sebab turunnya suatu ayatdengan keumuman bentuk dan rumus kalimatnya. Dikatakan “adakalanya sebab turunnya ayat bersifat umum. Ini untuk mengingatkan bahwa didalam lafaz yang bersifat umum terdapat hal yang perlu diperhatikan. Sebagai contoh, turunnya QS.Al-Maidah (5):38.
Artinya :
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Ayat ini turun berkenaan dengan pencurian sejumlah perhiasan yang dilakukan seseorang pada masa nabi. Tetapi ayat ini menggunakan lafal am. Yaitu isim mufrad yang dita’rifkan dengan alif lam (al) jinsiyyah. Mayoritas ulama memahami ayat tersebut berlaku umum, tidak hanya kepada yang menjadi sebab turunnya ayat.
Sebaliknya, minoritas mempunyai sisi pandangan lain. Mereka berpegang kepada kaidah kedua dengan alasan bahwa kalau yang dimaksud Tuhan adalah kaidah lafal umum, bukan untuk menjelasakan suatu peristiwa  atau seba khusus, mengapa Tuhan menunda penjelasan-penjelasan hokum-Nya hingga terjadinya peristiwa tersebut.
Berbeda dengan pendapat mayoritas ulama yang menolak pendapat kedua dengan alasan bahwa lafal umum ialah kalimat baru, dan hukum yang terkandung didalamnya bukan merupakan hubungan kausal dengan peristiwa yang melatarbelanginya. Bagi kelompok ulama ini kedudukan asbab al-nuzul  tidak terlalu penting. Sebaliknya minoritas ulama menekankan pentingnya riwayat asbab al-nuzul  dengan memberikan contoh tentang Al-Baqarah (2):115, yaitu :

Artinya :
“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah maha luas (rahmat-Nya) lagi maha mengetahui”.
Jika hanya berpegang pada redaksi ayat, maka hukum yang dipahami dari ayat tersebut adalah tidak wajib menghadap kiblat pada waktu shalat, baik dalam keadaan musafir aatu tidak. Pemahaman seperti ini jelas keliru karena bertentangan dengan dalil lain dan ijma’ para ulama Akan tettapi dengan memperhatikan asbab al-nuzul ayat tersebut, maka dipahami bahwa ayat itu bukan ditujukan kepada orang-orang yang berada pada kondisi biasa atau bebas, tetapi kepada orang-orang yang karena sebab tertentu tidak dapat menentukan arah kiblat.[25]
Kaidah kedua lebih kontestual, tetapi persoalannya ialah tidak semua ayat-ayat alquran mempunyai asbab al-nuzul jumlahnya sangat terbatas. Sebagian diantaranya tidak shahih, ditambah lagi satu ayat kadang-kadang mempunyai dua atau lebih riwayat asbab al-nuzul.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Qathatan, Manna’, Mabahits fi Ulumil-Qur’an. Diterjemahkan oleh Subhi as-Shalih, dengan judul Membahas Ilmu-ilmu al-Qur’an Cet. XIX; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993.

Ash-Shabuni, Syekh Muhammad Ali, Attibyan fi Ulumi Qur’an. Diterjemahkan oleh Muhammmad Qadirun Nur, dengan judul IkhtisarUlumul Qur’an Praktis. Semarang: 1988.

As-Shuyuti, Jalaluddin Abdu ar-Rahman, al-Itqan Fi Ulumil  al-Qur’an, juz I, Cet.3; Darul Fikri, 1370 H. 1951 M

Az-Zarqani, Muhammad Abd al-Azim, Manahil al- Irfan  fi Ulumil  Al-Qur’an  Juz. I. t.t.: Dar Qutaibah, t.th

Al-Misri, Muhammad ibn Mukram ibn Manshur al-Afriqi al-Misri, Lisan al-Arab, Juz 11 Baerut: Dar an-Nasr, t.th
.
Ar-Rumi, Fahd bin Abdurrahman, Dirasat fi Ulum al-Qur’an. Cet,I; Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1997.

Ibrahim, Anis dkk., Mu’jam al-Wasith, jilid kedua Cet.II; Dar Ihya al-Turats al-Araby: Kairo-Mesir, 1392H/1972M

Munawwir Ahmad Warson, al-Munawwir: Kamus Arab Indonesia, Cet. 14; Surabaya: Pustaka Progressif, 1997.

Qardhawi,Yusuf,  Kaifa Nata’ amalu Ma’a Al-Qur’ani al-Azhim, Diterjemahkan oleh Abdul Hayyie Al-Kattani, dengan judul Berinteraksi dengan al-Qur’an Cet. I; Jakarta: Gema Insani press, 1999.

Qadir, Muhammad al-Aruzi abd, Masalah Takhsish al-‘Am bi al-Sabab, t.t.: Jamiah Umm Al-Qur’an, 1983.

Rrofi’i, Ahmad Syadali dan Ahmad, Uluml Qur’an I Cet; 2Bandung: Pustaka Setia, 2000.

Shihab, Muhammad Qurais, dkk., Sejarah dan Ulumul Qur’an, (Cet. 3; Jakarta Pustaka Firdaus, 2001.

Wahid, Ramli Abdul, Ulumul Qur’an I Wd. I, Cet. 2; Jakarta: Raja Grafindo Perdasa, 1994



[1]Manna’ al-qathatan, Mabahits fi Ulumil-Qur’an. Diterjemahkan oleh Subhi as-Shalih, dengan judul Membahas Ilmu-ilmu al-Qur’an (Cet. XIX; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993), h. 165.

[2]Yusuf  Qardhawi,  Kaifa Nata’ amalu Ma’a Al-Qur’ani al-Azhim, Diterjemahkan oleh Abdul Hayyie Al-Kattani, dengan judul Berinteraksi dengan al-Qur’an (Cet. I; Jakarta: Gema Insani press, 1999), h. 360.
[3]Jalaluddin Abdu ar-Rahman as-Shuyuti, al-Itqan Fi Ulumil  al-Qur’an, juz I, (Cet.3; Darul Fikri, 1370 H. 1951 M)., h. 28.

[4]Syekh Muhammad Ali ash-Shabuni, Attibyan fi Ulumi Qur’an. Diterjemahkan oleh Muhammmad Qadirun Nur, dengan judul IkhtisarUlumul Qur’an Praktis.(Semarang: 1988), h. 27.
[5]Asbabun nuzul, Asbab, adalah jama’ dari kata sabab yang berarti; sebab, sedangkan kata nuzul adalah bentukan masdar dari kata nazala yanzilu (bentuk fi’il) yang bermakna; Habatha min ulwen ila suflen dikatakan, nazala fulan an al-amri wa al-hak, artinya; tarakahu (meninggalkannya). Lih. Dr. Anis Ibrahim, dkk., Mu’jam al-Wasith, jilid kedua (Cet.II; Dar Ihya al-Turats al-Araby: Kairo-Mesir, 1392H/1972M), h. 915.

[6]Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir: Kamus Arab Indonesia, (Cet. 14; Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), h. 602.

[7]Muhammad ibn Mukram ibn Manshur al-Afriqi al-Misri, Lisan al-Arab, Juz 11 (Baerut: Dar an-Nasr, t.th), h. 77.

[8]Muhammad Qurais Shihab, dkk., Sejarah dan Ulumul Qur’an, (Cet. 3; Jakarta Pustaka Firdaus, 2001), h. 656.

[9]Ahmad Syadali dan Ahmad Rrofi’I, Uluml Qur’an I (Cet; 2Bandung: Pustaka Setia, 2000), h.8.
[10]M. Quraish Shihab, dkk., op. cit., h. 78.

[11]Ibid

[12]Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni, Op.Cit, h. 29
[13]Ramli Abdul Wahid, Ulumul Qur’an I Wd. I, (Cet. 2; Jakarta: Raja Grafindo Perdasa, 1994), h. 49-50.
[14]Muhammad al-Azim az-Zarqani, Manahil al-Irfan Ulumil Qur’an, Juz I. t.t; Dar Qutaibah, t.th. h. 149.
[15]Jalaluddin Abdu ar-Rahman as-shuyuti, op. cit., h. 29.

[16]Al-Zarkani, op.cit., h. 110-111.
[17]Muhammad Abd al-Azim az-Zarqani, Manahil al- Irfan  fi Ulumil  Al-Qur’an  Juz. I (t.t.: Dar Qutaibah, t.th.), h. 152.

[18] Ibid.

[19]Fahd bin Abdurrahman Ar-Rumi, Dirasat fi Ulum al-Qur’an. (Cet,I; Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1997), h. 152.

[20] M. Quraish Shihab, dkk., op. cit., h. 81.

[21]Ibid., h. 81-82.
[22]Muhammad Quraish Shihab, Tafsir Al-Qur’an al-Karim: Tafsir atas Surat-surat Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu. ( Cet. 3; Bandung: Pustaka Hidayah, 1999). H.366.
[23]Ramli Abdul wahid, op. cit., h. 68
[24]M. Quraish Shihab, dkk., op. cit., h. 89.
[25]Muhammad al-Aruzi abd Qadir, Masalah Takhsish al-‘Am bi al-Sabab, (t.t.: Jamiah Umm Al-Qur’an, 1983), h.23. 
Labels: MAKALAH PENDIDIKAN

Thanks for reading ASBABUN NUZUL. Please share...!

0 Comment for "ASBABUN NUZUL"

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak

Back To Top